dheasekararum

Archive for May, 2008

Apa anda percaya konsep jodoh?

In Tentang berbagi isi kepala on May 22, 2008 at 2:29 pm
Sebagian besar agama, terutama agama saya sendiri mungkin mengemukakan bahwa manusia diciptakan pada dasarnya berpasang-pasangan. Hal ini membuat orang berasumsi bahwa setiap dari kita memiliki seseorang yang entah siapa dan ada di mana yang akan menjadi pasangan hidup kita kelak, dan memang ditakdirkan untuk bersama kita. Seseorang inilah yang kita sebut sebagai ‘jodoh’ kita. Saya juga sering mendengar ungkapan ‘kalau memang jodoh toh nggak akan kemana-mana’ terutama akhir-akhir ini berhubunga saya baru saja diputuskan oleh pacar saya.

Apakah konsep jodoh itu benar pengertiannya? Apakah memang benar ada seseorang yang sekarang entah ada dimana yang memang diperuntukkan untuk saya seorang? Ataukah memang hanya manusia yang memang pada dasarnya memiliki kebutuhan akan afeksi (dan memiliki hasrat tentunya) yang menciptakan sendiri pengertian ini dan mencoba membuat diri mereka percaya? Apakah kata-kata ‘kalau jodoh tidak akan kemana-mana‘ hanya sekedar penghiburan karena tidak tahu harus berkata apa lagi kepada saya yang sedang patah hati?

Saya melihat banyak hal yang membingungkan disini.

Pertama, jika merujuk kepada pernyataan jodoh sama dengan pasangan hidup, maka coba definisikan pada saya apa pasangan hidup itu? Apakah orang yang pada akhirnya menikah dengan kita? Jika begitu adanya, bagaimana dengan orang yang telah menikah belasan atau puluhan tahun lalu pasangannya meninggalkannya duluan (dalam artian meninggal dunia) dan kemudian ia menikah lagi dengan seseorang dan hidup tenang dengan orang itu hingga akhir hayatnya. Jika begitu keadaannya lalu pasangan yang manakah yang merupakan ‘jodoh’ orang tersebut? Apakah pasangannya yang pertama yang kemudian meninggal, atau justru pasangannya yang kedua yang menemaninya hingga akhir hayatnya?

Kedua, pernyataan dalam agama saya sendiri juga sudah cukup membuat saya kebingungan. dalam agama saya setiap laki-laki diijinkan memiliki istri lebih dari satu (batasannya adalah maksimal 4 orang istri, saya belum mendapatkan pengetahuan lebih lanjut kenapa batasannya 4 orang.) jika keadaannya memang mengharuskan demikian dan laki-laki tersebut harus bisa bersikap adil terhadap istri-istrinya. Jika dalam agama sendiri disebutkan demikian berarti pengertian akan konsep jodoh yang kita percaya selama ini tidak dapat dikenakan pada keadaan seperti ini. Apakah jika seorang laki-laki memiliki 4 orang istri maka keempat istrinya tersebut adalah ‘jodoh’ yang diperuntukkan baginya? Jika begitu keadaannya, apakah ‘jodoh’ kita bukan hanya satu orang di dunia ini? (hal ini berlaku juga untuk kebingungan yang pertama)

Ketiga, kembali ke definisi pasangan hidup. Bagaimana dengan pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (disebut juga cohabitation)? Saya tahu dalam agama saya tentu saja cohabitation dikatakan sebagai dosa dan di Indonesia sendiri mungkin tidak terlalu lazim dan memang dilarang oleh hukum dan adat adanya, namun konsep ‘jodoh’ di sini kan semestinya universal bagi semua orang, dengan agama, ras, kewarganegaraan maupun tingkat sosial ekonomi jadi semestinya bisa diterapkan dimana saja. Apakah orang yang tinggal bersama hingga akhir hayat mereka walau tanpa ikatan pernikahan juga disebut ’saling berjodoh’ ?

Keempat, bagaimana halnya dengan pasangan yang sudah menikah puluhan tahun lalu kemudian bercerai? Apakah sebuah pernikahan yang berujung kepada perceraian berarti keduanay ‘memaksakan’ untuk menikah dengan orang yang sebetulnya bukan ‘jodoh’ yang diperuntukkan mereka? Apakah perkawinan mereka hanya merupakan sebuah kesalahan semata? Saya sih memiliki asumsi bahwa setiap pasangan yang bercerai tentu pernah saling menyayangi dan sebelum memutuskan bercerai mereka melakukan segala sesuatu yang dapat mempertahankan pernikahan mereka namun ternyata memang tidak dapat dipertahankan lagi. Lalu bagaimana penjelasan konsep ‘jodoh’ tadi akan kejadian seperti ini?

Kelima, jika dilihat-lihat (teman saya sempat menyebutkan data dari suatu survei tingkat internasional) proporsi manusia yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan jelas-jelas timpang dimana jumlah perempuan lebih banyak. Hal ini juga didukung fakta bahwa pada awalnya ketika masih janin yang berusia di bawah enam bulan kita semua berjenis kelamin perempuan (saya baca tentang ini di buku Physiological Psychology saat saya masih berada di semester 2 tapi nama penulisnya saya lupa). Dengan fakta tersebut tidak heran jika lebih banyak bayi perempuan yang lahir daripada bayi laki-laki (bisakah saya membuat kesimpulan begitu?). Intinya, jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Dengan keadaan seperti ini, bagaimana bisa konsep ‘jodoh’ dimana setiap orang memiliki satu orang yang memang diperuntukan menjadi pasangan hidup mereka kelak, dapat diterapkan?

Sebetulnya masih banyak pertanyaan pertanyaan saya yang lain, seperti bagaimana dengan pasangan homoseksual? Apakah memang pasangannya yang sekarang itulah yang menjadi ‘jodoh’ mereka? Bagaimana dengan orang yang memutuskan untuk tidak menikah? Apakah berarti mereka tidak punya jodoh? Atau mereka mengingkari jodoh mereka? Bagaimana dengan pasangan yang tidak bahagia namun tetap terikat dalam satu ikatan pernikahan? Apakah mereka betul-betul ‘berjodoh’?

Kebingungan saya ditutup dengan kebingungan terakhir saya yaitu jika memang sudah ada orang yang telah diperuntukkan untuk kita masing-masing, maka untuk apa manusia kesana kemari sulit mencari pasangan hidupnya bahkan ada yang sampai menggunakan jasa internet segala? Kemudian, jika memang konsep jodoh itu benar adanya maka saya tidak usah susah-susah berusaha membuat diri saya tampak baik atau susah payah menyesuaikan diri saya dengan seseorang ketika saya sedang menjalin hubungan dengan orang tersebut dong? Lalu, apakah pasangan suami istri yang dipertemukan melalui proses ta’aruf itu benar-benar ber’jodoh’?

Untuk sementara ini saya bisa mengatakan bahwa saya sangsi terhadap pengertian konsep ‘jodoh’ ini. Akhirnya saya mengambil pemikiran aman. Menurut saya, keadaannya bukanlah satu orang yang ‘disiapkan atau diperuntukkan’ sebagai pasangan hidup kita kelak, yang ada hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang akan membawa kita ke beberapa orang yang memiliki potensi paling cocok dengan kita dan kemudian menjadi pasangan hidup kita kelak. Beberapa orang inilah yang saya sebut sebagai ‘jodoh-jodoh’ kita masing-masing. Proses yang terjadi adalah, saat kita mengambil keputusan atau melakukan suatu tindakan tertentu dalam hidup, maka hal itu akan membuka kesempatan kita untuk bertemu dan menjalin hubungan dengan si A, namun jika kita melakukan tindakan lain, bisa saja kita dipertemukannya dengan si B atau si D.

Menurut saya itulah yang terjadi, karena bagi saya hidup ini penuh kemungkinan dan selalu dinamis (atau sebenarnya saya hanya cari aman saja?). Dengan penjelasan ini maka sedikit banyak saya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sendiri walaupun tentu saja saya masih membutuhkan jawaban yang benar-benar memuaskan saya. Ah, walaupun saya tidak percaya konsep jodoh, namun saya tetap berharap bahwa segala sesuatu yang saya lakukan pada akhirnya akan mempertemukan saya dengan seseorang yang memang betul-betul mengerti saya dan saya bisa merasa sangat cocok dengannya, AMIEEENN.

Lalu, bagaimana dengan anda?
Apa ada yang punya penjelasan lain mengenai konsep jodoh?
Please, feel free to share since I would love to know yours :)

- D! -

Bahkan sampah pun bisa didaur ulang

In Tentang berbagi sisi melankolis on May 17, 2008 at 5:20 am
Berulang kali saya menghela napas, entah kenapa itu pun belum bisa membuat saya lega. Ingin menangis namun juga sudah terlalu letih dan tidak berguna, hanya mengeluh menyumpah serapah juga membuat semua tambah parah. Jadi sekarang saya hanya diam dan menikmati. Mencoba menghadapi semua perubahan dengan senyuman dan berbesar hati.

Saya mencoba ikhlas, walau semua itu tidak mudah, tentu tidak mudah. Bagaimana bisa jadi mudah ketika sesuatu yang sangat kamu sukai sekarang tidak bisa dijangkau lagi? Sesuatu, atau seseorang yang biasanya selalu ada sekarang sudah tidak ada lagi. Oke, tetap ada walau bentuk dan keadaannya yang mungkin berbeda.

Semua rasa itu harus saya telan bulat-bulat walau saya sudah terlalu penuh dan seringkali tumpah, belum sampai muntah. Rasa bersalah itu menggelayuti saya sampai saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan itu semua. Rasa marah dan kecewa menggerogoti saya, menusuk-nusuk dari dalam hingga saya berharap tangan kaki kepala saya saja yang terluka, asal bukan di dalam situ yang merana. Rasa sedih yang selalu ada karena menyadari semuanya telah hilang dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi. Rasa hampa karena semua tidak akan pernah sama lagi. Rasa takut karena tahu dia telah pergi dan akan mendapatkan tempat berlabuhnya sendiri. Rasa bingung, karena tidak tahu harus melangkah kemana karena tiba-tiba ditinggalkan. Rasa rindu, yang amat amat sangat, namun harus saya simpan dalam-dalam. Semuanya menusuk saya perlahan tapi tajam.

Saya terlalu letih, tapi saya harus berdiri. Tidak ada yang menolong saya jika bukan saya sendiri. Ada hal-hal yang tetap harus berjalan walau kau merasa semuanya tidak penting lagi dan kau hanya ingin duduk diam meratapi semua. Namun, itu bukan hidup. Hidup tidak diam di tempat, hidup selalu bergerak, dan kita manusia tidak pernah tahu akan dibawa bergerak kemana walau sebisa mungkin kita berusaha memprediksi apa yang ada di depan sana.

Malam menjadi musuh saya, pagi menjadi tamparan untuk saya, siang terasa begitu lama, dan sore adalah waktu saya merasa begitu lelah.

Malam, yang gelap dan tenang selalu berhasil membuat saya meneteskan airmata. Malam manghadirkan memori, memori yang dengan egoisnya menyeruak masuk meronta-ronta di dalam benak saya, tanpa toleransi menggaruk-garuk hati saya. Menghadirkan potongan-potongan cerita yang sudah lalu, meninggalkan saya dengan perasaan bersalah dan bingung.

Pagi, dengan cerianya membuka mata saya dan memberi tamparan keras bahwa satu hari lagi yang harus saya lalui. Pagi, yang selalu menyadarkan saya bahwa mimpi selalu lebih indah dari kenyataan. Pagi menyeret saya untuk bangun dan memerintahkan saya untuk berdiri, membuat saya ingat ada hal-hal lain yang harus saya lakukan walau di tengah hari saya harus menghadapinya, sang penguasa hati saya.

Siang, dengan teriknya sangat lihai membuat saya merasa hari berjalan begitu lama. Membuat saya harus menyaksikan dia yang sudah bukan siapa-siapa saya berjalan hliri mudik di dekat saya tanpa setitik menaruh kepedulian pada saya, ah memang saya siapa. Jadi saya pun hanya diam, memandang tersenyum ke arahnya, sambil perlahan mengucap doa di dalam hati. Doa untuk apa, saya juga tidak tahu. Dia tertawa dengan gembira dalam dunianya yang menyenangkan, dan saya harus paham bahwa dia lebih baik tanpa saya. Dia akan lebih senang tanpa saya. Saya harus paham. Siang terasa begitu lama.

Sore, adalah saat saya merebahkan seluruh badan saya, terduduk dan mengobrol dengan beberapa teman. Teman-teman yang perlahan saya dekati kembali setelah sebelumnya saya tidak sempat mengenal mereka lebih dekat karena terlalu sibuk dengan dia yang selalu ada di pikiran saya. Sore adalah saat saya menarik napas dalam-dalam dan menghitung apa yang sudah saya lakukan hari ini, sekedar mengevaluasi. Lalu jika sore agak panjang saya akan diijinkan sibuk dengan hal-hal yang harus saya lakukan, walau berat dan penuh penolakan. Namun sore yang indah melahirkan kepahitan juga ketika saya harus dihadapkan pada kenyataan ketika malam datang saya harus pulang kepada siapa?

Lalu kembali lagi ke hadapan malam.

Saya merasa terbuang, saya merasa saya gagal, tidak mampu menyenangkan orang yang saya sayangi, dan merasa tidak berguna, sempat juga saya merasa seperti sampah yang sudah tidak diinginkan lagi. Sudah cukup masa saya bercerita, sekarang hanya tinggal diam. Diam dan tersenyum sambil mengurut dada. Saya merasa asing di lingkungan dimana saya harusnya biasa bergerak, entah mengapa saya merasa saya menghadapi ini semua sendirian, walau saya tahu itu hanya perasaan saya.

Hanya doa, doa dan senyuman yang saya punya.
saya tidak tahu cukup atau tidak untuk melewatinya.
Doa untuk saya, doa untuk dia.
Kata maaf untuk dia
Terima kasih untuk dia

Bahkan sampah yang sudah tidak diinginkan lagi di suatu tempat bisa didaur ulang dan disukai di tempat lain. Hanya tinggal itu harapan yang saya miliki, bahwa saya bisa berkembang, bahwa saya bisa berubah. Pada saat itu, saya harap semuanya sudah lebih baik dan saya tidak harus mengurut dada lagi. Hingga seorang datang mengambil saya suatu hari :)

belajar menulis

In Uncategorized on May 14, 2008 at 6:42 am

hey, ini saya disini sekedar belajar menulis. belajar menulis apa apa yang ada dalam pikiran saya yang terkadang susunannya tidak begitu jelas.

I will take many posts from my previous blog, just to make a comparison whether my writing is getting better or going nowhere. I do appreciate if you come to stay and read mine and if it’s not too much give it some comments hahaha..

please, enjoy :)