dheasekararum

Archive for July, 2008

my other blog

In Tentang beragam hari on July 25, 2008 at 10:29 am

untuk yang kira-kira berminat membaca dan menilik kebodohan saya yang lain mungkin bisa meng-klik yang satu ini

silahkeun dinikmati dan ditertawakan. Ngomong-ngomong, saya sudah berhenti menulis di sana. Blog saya tinggal satu ini saja, terimakasih hehe :)

Experiment really can make you cry

In Tentang bertugas on July 25, 2008 at 6:22 am

huaaaaaa. 2 bulan terakhir ini kening saya kembali berkerut karena berkutat dengan tugas eksperimen saya yang mana saya harus mengurusi itu variabel sekunder.

variabel bebas : kehadiran expert endorser
variabel terikat : consumer decision making

variabel sekunder : BANYAK.

huhu.

subjek belom dapet, field belom terlaksana

deadline tanggal 28. AAAAAAH

- D! -

Jangan Jadikan Orang lain Motivasi Utama Untuk Bergerak

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on July 17, 2008 at 7:09 am

Hari Selasa, tanggal 15 Juli 2008, di tengah panasnya siang hari di Jakarta yang membara saya dan teman saya, Disa pergi ke Cilandak Townsquare. Lalu kami ngendon di toko buku ak.sa.ra, tempat yang wajib dikunjungi kalo pergi ke Citos. Sebenernya niat utamanya adalah untuk mencari inspirasi untuk membuat poster acara PIASTRO yang harusnya minggu ini adalah deadline memberikan desain kasarnya, tapi tentu saja kami justru membuka-buka buku-buku untuk sekedar melihat-lihat atau mendengarkan sekeping dua keping CD baru yang ada di sana.

Lalu Saya tertarik kepada satu buku yang berjudul ‘The Missing Piece” yang ditulis oleh Shel Silverstein. Ilustrasinya sangat sederhana seperti buku cerita anak-anak. Namun semakin sama membaca isinya saya semakin menduga bahwa buku ini sebetulnya tidak ditujukan bagi anak-anak saja karena ceritanya mengandung pelajaran yang sangat mendalam, khususnya bagi saya.

Ceritanya tentang perjalanan seorang lingkaran yang tidak utuh yang mencari bagian untuk melengkapi dirinya. Dalam perjalanannya itu ia menemui banyak rintangan namun juga menemukan bahan hal indah yang ia nikmati serta teman-teman kecil. Beberapa kali ia berhasil menemukan ‘pieces’ yang dia cari, ada yang pas untuk dirinya, ada yang terlalu besar ada yang pas namun terlalu longgar, ada yang terlalu ketat ia jaga sehingga ujungnya kembali terlepas darinya. Akhirnya ada satu piece yang pas sekali dengannya dan menemaninya cukup lama sehingga membuatnya dapat menggelinding lebih cepat. dan semakin cepat. Terlalu cepat hingga ia tidak sempat lagi untuk berbincang sejenak dengan teman-temannya yang lain seperti kumbang kecil dan kupu-kupu, membuat ia tidak sempat menikmati hal-hal yang lain.

Akhirnya, lingkaran itu melepaskan piece itu dan mencoba untuk nyaman menggelinding sendiri, sampai akhirnya ia bisa nyaman menggelinding sendiri dan motivasinya tidak lagi untuk mencari-cari missing piece-nya. Di sebelah buku ini juga terdapat beberapa buku karya Shel Silverstein yang lain, salah satunya berjudul ‘The Missing Piece Meets The Big O’ yang menceritakan tentang segitiga (piece) yang mencari lingkaran yang dapat dilengkapinya karena ia tidak mampu menggelinding sendiri. Cerita terus berlanjut sampai akhirnya segitiga mampu menggelinding sendiri sehingga bentuknya pun melunak dan semakin melunak hingga berubah bnetuk menjadi lingkaran kecil dan mampu menggelinding sendiri. Buku ini sebetulnya memang merupakan buku pasangan ‘The Missing piece’ , oleh karena itu ilustrasinya juga sama dan memiliki gaya bercerita yang juga sederhana

Saya tertegun.

ilustrasi dan bahasa yg sederhana

Saya tersadar bahwa selama ini motivasi saya pada umumnya salah, oleh karena itu hubungan terdahulu saya juga jadi salah. Seluruhnya selalu tentang dia, dia dan dia. Saya nyaris tidak punya kehidupan lain di luar dia oleh karena itu menjadi semakin penuntut dan manja. Motivasi saya selalu tentang membuat diri saya cocok baginya, saya berusaha mengimbangi dirinya namun dengan cara melupakan kelebihan-kelebihan yang saya miliki, itulah mengapa saya selalu merasa minder dan paranoid dan cemburu. Saya lupa bahwa saya memiliki target-target saya sendiri dan lingkaran kehidupan lain yang masih harus saya urus.

Selama ini saya selalu seperti lingkaran yang merasa tidak utuh kalau tidak ada dia sebagai missing piece saya, dan saya juga seperti si segitiga kecil yang selalu mencari lingkaran untuk saya lengkapi sehingga saya mampu menggelinding. Padahal jika saja saya mau mengubah sudut pandang saya sedikit saja maka saya akan menemukan fakta bahwa saya sebetulnya tidak perlu bergantung untuk dapat ‘menggelinding’ dengan nyaman.

Setelah itu saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Jangan pernah menjadikan orang lain sebagai motivasi utama kita dalam melakukan segala sesuatu. Saya menyadari betul hal itu, segala seuatunya akan menjadi kacau ketika poros hidupmu dan aktivitasmu adalah orang lain, bukan keinginan dirimu sendiri. Ketika kita mulai menyadari apa saja kelebihan yang kita miliki juga apa saja kekurangan yang kita miliki dan kita bisa menerima serta berdamai dengan hal itu, saat itulah kita baru bisa berjalan dengan nyaman tanpa harus bergantung pada orang lain. Di sini pepatah lama seperti cintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain sangat memegang peranan. Saya mulai betul-betul memahaminya, ketika saya mencintai diri saya sendiri saat itulah saya tahu apa yang mau dan akan saya lakukan pada hidup saya dan orang-orang yang ada di dalamnya. Tujuan saya berputar di sekitar saya, tujuan saya adalah mencapai target saya, BUKAN karena orang lain. Dengan begini keadaan akan lebih terkendali.Semoga di hubungan saya selanjutnya (bukan hanya dengan pacar, namun dengan orang-orang yang lain juga) motivasi saya tidak lagi berporos pada orang lain, sehingga saya pun dapat mengendalikan diri saya sendiri.

ngomong-ngomong,kalau ada yang bertanay-tanya apakah akhirnya saya membeli buku yang tadi saya bicarakan di atas,. Sayangnya, saya tidak jadi membeli bukunya karena harganya di atas Rp.150.000,00 for each, dan saya lagi bnagkrut.

- D! -

Rumah bersimbah kotoran !

In Tentang bersaudara dan keluarga on July 15, 2008 at 5:21 am

Oke, bilang saya neurotik atau obsessive compulsive, tapi akhir-akhir ini saya lagi nggak tahan banget sama keadaan rumah saya yang selalu porak poranda dan selalu membuat pusing kepala hingga rasanya tidak mampu lagi tertawa hahaha.

Dimulai dari ruang tengah, atau biasa disebut juga sebagai ruang keluarga dimana tempat keluarga aneh saya berkumpul setiap malam untuk sekedar berkelakar sembari menonton serial Friends, Ugly Betty, dan serial-serial lainnya itulah. Ruangan yang berisi 3 sofa besar yang selalu dijadikan tempat ayah saya yang ketiduran setiap kali menonton The Sporanos itu keadaannya benar-benar ruwet. Kenapa ruwet? Karena mau dibereskan berapa kali pun tetap saja kembali ke keadaan porak poranda yang semula hingga membuat saya putus asa dan membuat ayah saya tidak berhenti merepet bicara.

Berlanjut ke kamar-kamar, yaitu kamar saya dan adik saya, kamar ayah saya, kamar untuk tamu. Saya tidak sanggup menggambarkan kesesakan kamar saya yang lemari-lemarinya sudah sangat sulit ditutup itu karena baju-baju yang mendesak melesak keluar minta dibebaskan. Belum lagi majalah dan komik-komik yang huru-hara bertebaran dimana-mana membuat saya merana sehingga tidak mau mencoba membereskannya.

Yang paling membuat saya pusing kepala adalah dapur yang bersimbah debu dan kotoran dimana-mana. Sungguh sungguh menjengkelkan. Mungkin ini salah saya juga karena tidak pernah menengok dan membersihkannya. Duh kasian saya, saya harus menyediakan waktu khusus untuk berberes.

- D! -

Mind Your Own Business

In Tentang berbagi isi kepala on July 14, 2008 at 3:10 am

Halo, pagi ini saya yang kelaparan sambil menunggu bubur ayam pesenan yang tidak kunjung datang diantar membuka-buka sebuah majalah. Majalah yang saya bolak balik itu adalah ‘Provoke’ nomor 18 edisi April 2008. Saya suka banget sama majalah ini, soalnya isinya tidak seperti majalah remaja pada umumnya karena bahasanya lugas dan isu yang diangkat sederhana tapi ‘menohok’. Saya boleh dong menyebut Provoke sebagai majalah remaja karena majalah ini didistribusikan secara gratis di sebagian besar SMA-SMA Jakarta (anak SMA itu masih dalam tahapan usia remaja kan?).

Oke, Provoke edisi ini mengangkat isu tentang “Mind Your Own Business !” yang memaparkan bahwa banyak sekali kebiasaan-kebiasaan orang di sekitar kita, dan mungkin juga kita sendiri yang ternyata kalo ditilik lebih lanjut sebetulnya bisa melanggar batas-batas zona privasi orang lain loh. Jujur aja saya sendiri tadinya berpikiran yang akan dibahas adalah mengenai tentang infotainment, papparazi, kehidupan artis yang selalu tersoroti, dan sebagainya. Ternyata pembahasan terus berlangsung sampai ke kebiasaan yang kecil-kecil sekalipun.

Pernahkah terpikir bahwa sapaan ringan kita terhadap seorang teman yang nggak dekat-dekat amat yang tadinya bertujuan sekedar beramah-tamah ternyata bisa saja membuat orang itu sedikit terganggu, misalnya seperti “Hei, darimana aja lo?” atau “Kok buru-buru emang mau kemana?”. Pada situasi normal orang tersebut mungkin akan menjawab dengan jawaban yang sebenarnya, kalo lagi rada males mungkin menjawab sekenanya, atau kalo lagi males beneran orang yang ditanya mungkin akan menjawab dengan senyum senyum bajing. Jujur, saya sendiri tidak pernah berpikir ke arah situ, saya kaget loh. Kemudian saya ingat ada suatu kejadian yang berkaitan dengan seorang teman laki-laki saya di kampus, sebut saja namanya F. Saat saya sedang berjalan dengan dia di lorong kampus dia disapa oleh beberapa orang yang kami lewati (oh yeah, ia memang cukup populer hihihi..). Setelah melewati orang-orang tersebut dia berkata pelan pada saya, “Sebetulnya gue suka rada gimana gitu kalo disapa orang-orang gitu kalo pas gue lagi jalan” lalu saya bingung tidak mengerti maksud kata-kata ‘suka-rada-gimana-gitu’ dan menanyakan maksudnya. Dia menjawab, “abis gimana ya? Gue suka bingung jawab apaan soalnya gue juga tau mereka Cuma basa basi. Apalagi kalo gue lagi rada buru-buru gitu, paling gue jawab sekenanya aja” JENGJENGJENG.

Ya, ramah tamah dapat mengganggu orang lain! Saya jadi mulai berpikir jangan-jangan sapaan saya seperti “eh baju baru ya, lucu deh, belinya dimana?” ternyata bisa membuat orang sebel sama saya. Sebenernya kalo dipikir-pikir iya juga sih, kalau di luar negeri sana akan aneh sekali kalau kita menyapa orang dengan kalimat “Where are you going?” atau “Where have you been?” atau “Your dress looks nice, where did you buy it?”, kecuali kalau kalimat itu ditanyakan ke teman-teman dekat ya. Kenapa kita nggak menyapa orang dengan sapaan “good morning, have a nice day!” yang kalau diterjemahkan menjadi “Pagi! Semoga hari lo menyenangkan” atau “Mataharinya lagi cerah ya? Bikin semangat” yah hal-hal seperti itu.

Dari majalah Provoke itu juga saya baru tahu tentang istilah curiosity killed the cat yang menunjukkan bahwa bagaimana keingintahuan kita bisa jadi sangat berbahaya, inget kasus kematian Putri Diana dari Inggris yang diduga kecelakaannya disebabkan karena gangguan dari Papparazzi? Wah saya jadi berpikir untuk lebih berhati-hati ngomong dengan orang. Kalau mau dilihat-lihat lagi, kayaknya pada dasarnya manusia akan selalu ingin tahu tentang orang lain deh, karena itulah banyak yang menyebut manusia sebagai makhluk sosial. Hal inilah yang menyebabkan kita senang membaca berita di koran tentang apa yang terjadi di dunia luar, hal ini yang membuat infotainment merajalela dimana-mana, hal ini yang membuat reality show di TV memiliki rating yang tinggi, and so on.

Menurut saya ingin tahu tentang orang lain itu hal yang wajar, karena keingintahuan merupakan wujud rasa peduli terhadap orang tersebut. Rasanya senang untuk mengetahui alur hidup seseorang, terutama orang yang kita sayangi, bahkan kalau bisa kita ingin ikut terlibat di dalamnya. Majalah Provoke tersebut juga mengemukakan bahwa hal yang lucu adalah, nggak banyak diantara kita yang senang kalau yang terjadi justru sebaliknya, maksudnya ketika orang-orang ingin tahu banyak hal tentang kehidupan kita bisa saja kita jadi terganggu, terutama kalau orang tersebut tidak terlalu dekat hubungannya dengan kita.

Saya sendiri bukannya tidak pernah merasa terganggu bila ada orang yang tiba-tiba saya tahu ngomongin tentang saya di belakang saya, apalagi yang bernada negatif. Saya ingat waktu SMA saya pernah merasa terganggu sekali karena saya tahu dari teman saya bahwa ada seorang anak laki-laki yang mengatakan bahwa saya Cuma mau main sama orang yang itu-itu aja dan terkesan eksklusif serta berlebihan. Baru-baru ini juga saya tahu dari teman saya bahwa beberapa orang membicarakan mengenai berakhirnya hubungan saya dengan si mantan dan bagaimana keadaan saya pasca putus dilihat dari comment-comment saya yang ‘sangat curhat’ di Facebook.

Namun dari situ saya belajar sesuatu, pertama (dan yang terpenting) adalah saya tidak harus disukai oleh SEMUA orang karena bakalan capek banget kalau mempertimbangkan semua omongan-omongan orang di belakang sana dan mengikutinya padahal saya merasa itu bukanlah keadaan yang membuat saya nyaman. Kedua, lock your mouth, keep the key, only open it for your nearest and dearest one(s). Oh ya, rasanya ketika baru patah hati karena diputusin adalah saya seperti mau mati, apalagi itu adalah putus pertama buat saya. Shock, panik, kaget, bingung, sedih, semua perasaan negatif jadi satu dan saya hanya ingin menceritakan kemalangan yang saya alami ini ke semua orang sampai ke detail-detailnya berharap dapat pengobatan instant dan jalan keluar karena saat itu saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dampaknya, tentu saja baik dan buruk, yang jelas orang jadi tahu kalau saya segitu remuk redamnya dan lemah. Sekarang, perlahan-lahan saya sudah mulai bisa menutup mulut saya dan hanya berkeluh kesah pada beberapa orang terdekat saya saja. Sahabat-sahabat saya berkata “Don’t let this hit you that much. Do whatever you need to do to make you feel better, but please stop whinning too much because it won’t make anything better, it’ll only make you ugly and even uglier. You don’t want that, do you?” atau “keep your words, or else they’ll against you someday” (thanks to myla and dichil, geez, I don’t know what would I be without you girls). Pelajaran ketiga yang saya dapat adalah kalau saya tidak suka apa yang orang lakukan pada saya, maka saya tidak akan melakukan itu pada orang lain. Jangan membicarakan orang di belakang mereka, jangan bergosip. Saya berusaha keras untuk tidak memperbincangkan tentang orang lain, makanya saya selalu bilang, masih sedikit lebih baik curhat daripada gosip.

Tapi yah, sekali lagi, saya juga manusia, berarti saya juga makhluk sosial dong? Oleh karena itu saya mengaku kalo saya sendiri juga nggak tahan untuk melihat-lihat ada apa aja di News Feed Facebook hari ini, membuka-buka profile orang lain di facebook atau friendster untuk melihat update-an terbaru dari mereka. Saya masih suka cerita-cerita kehidupan saya di blog dan membuka-buka blog orang lain. Saya juga masih sering memiliki rasa ingin tahu mengenai siapa yang jadian dan siapa yang putus di kampus, saya juga masih suka nonton acara infotainment dan reality show, dan melakukan hal-hal rese lain yang menjadikan saya manusia yang jauh dari sempurna. Menjadi tidak sempurna itu bukan masalah, karena kita manusia. Ingin tahu urusan orang itu masih wajar, karena itu menunjukkan kita masih peduli. Buat saya, kalo saya ingin tahu tentang orang lain saya berusaha sebisa mungkin bahwa yang saya lakukan itu dengan niat baik dan bukan untuk menjelek-jelekkan orang itu. Sekedar ingin tahu itu saja sudah lebih dari cukup, jangan ditambah-tambahin lagi ya Dhe!

- D! -

Hello world!

In Uncategorized on July 11, 2008 at 5:20 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!