dheasekararum

Archive for August, 2008

Susahnya berbahasa Indonesia di jaman sekarang

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on August 31, 2008 at 10:18 am

“Aduh, gue lagi boring nih”.

Pernah nggak denger salah seorang selebriti Indonesia yang muncul di infotainment atau temen-temen kita mengucapkan kalimat itu? Atau bahkan kita sendiri pernah mengucapkan kalimat itu? Coba kalau dilihat-lihat lagi, maksud dari kalimat ini sebenernya apa sih? Sebetulnya yang dimaksud adalah orang yang ngomong itu lagi bosen sama keadaan sekitarnya, gitu kan? Tapi kalo mau dilihat lagi arti kata boring sendiri dalam bahasa Indonesia itu kan membosankan kan? Jadi arti dari kalimat di atas sebener-benernya adalah “Aduh, gue lagi MEMBOSANKAN nih” HAH jauh banget dari tujuan semula bilang kalimat itu kan? Ujungnya malah kita menyebut diri kita sendiri membosankan, padahal yang kita maksudkan adalah keadaan sekitar kita yang membosankan.

Yah begitulah hasil obrolan malam minggu saya dengan anak-anak yang merasa kesenangan akan segera berakhir karena kesibukan yang sebenarnya akan dimulai. Saya menulis ini karena terinspirasi seorang teman saya bung Davin.

Bung yang satu ini bersikeras untuk tidak mencampuradukkan setiap omongan yang keluar dari dia dengan bahasa asing, dia berusaha keras. Kenapa ia melakukan hal tersebut sebetulnya saya tidak begitu paham alasannya. Apakah ini sindroma bosan dengan bahasa Inggris karena di tempatnya berkuliah di Taiwan sana ia harus terus menerus menggunakan bahasa Inggris setiap harinya? Ataukah ini sekedar usaha untuk mengingat kembali kosakata bahasa Indonesia yang sudah banyak dilupakan oleh anak seumuran kami yang lebih sering mencampur aduk bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris supaya terdengar canggih? Atau jangan-jangan ini semata-mata usaha untuk membuat seorang gadis yang ia senangi terkesan (ups!)?

Saya cukup menyetujui usahanya ini tanpa saya harus mencari tau alasan dibalik ia melakukan usahanya itu. Soalnya seperti yang kita tahu, banyak orang jaman sekarang yang mencampur kata-kata sedemikian rupa dan ujungnya malah menjadikan kalimat yang ia ucapkan salah. Seperti orang yang mengucapkan kata dalam bahasa Inggris event namun diucapkan sebagai even dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang sebetulnya kecil tapi kalo terus-terusan bisa bertumpuk dan bisa mempermalukan diri sendiri. Bahkan saya dan di antara teman-teman saya sudah seringkali kesulitan menemukan kata-kata dalam bahasa Indonesia untuk menyampaikan maksud kami dan justru menggantinya dengan bahasa Inggris yang kami sendiri juga tidak tahu apakah bahasa Inggris tersebut betul-betul tepat untuk menyampaikan maksud kami.

Mengkhawatirkan.

Jadi, mulai sekarang saya akan mengikuti jejak teman saya itu untuk mulai berbahasa Indonesia dengan utuh, dan berbahasa Inggris dengan utuh pula jika memang dari awal ingin berbahasa Inggris. Jadi tidak mencampur adukkan keduanya, AMIN.

Pameran foto ‘Identitas Untuk Kebangkitan’

In Tentang bergelut dengan fotografi, Tentang bertamasya on August 28, 2008 at 5:24 pm

Baru-baru ini saya diundang untuk menghadiri pembukaan pameran foto yang dilangsungkan oleh Galeri Antara di Pasar Baru, berhubung saya secara kebetulan tidak pernah bisa datang ke undangan-undangan pembukaan pameran-pameran foto tersebut (jujur, saya agak minder datang ke sana karena nggak kenal siapa-siapa juga di sana), maka saya hanya mampu sebisa mungkin menyempatkan diri menyimak pamerannya karena pameran di Antara adalah sesuatu yang sulit untuk saya lewatkan. Pameran ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan hari jadi negara Indonesia sendiri serta untuk memperingati ditandatanganinya perjanjian damai dengan negara Malaysia yang juga merayakan kemerdekaannya pada bulan Agustus. Oleh karena itulah pameran dengan materi foto serupa juga dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pameran kali ini agak berbeda dari pameran-pameran di Galeri Antara yang pernah saya lihat sebelumnya walaupun memang tidak setiap pameran di Galeri Antara saya datangi sih. Pameran kali ini bekerja sama dengan Kantor Berita IPPHOS, yang merupakan perintis jurnalisme foto di Indonesia sewaktu menjelang masa-masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Walaupun kantor berita IPPHOS sendiri sudah tidak hidup lagi, namun roll film foto yang mendokumentasikan bagaimana keadaan bangsa Indonesia di sekitar tahun 1945 masih ada dan konon (tsaaahh konon..) foto-foto yang diterbitkan dalam surat kabar yang ada saat itu hanya 1% dari semua foto-foto yang telah dijepret oleh fotografer IPPHOS waktu itu. Selain foto-foto yang dimiliki fotografer IPPHOS (dalam hal ini maksudnya adalah Menur bersaudara), terdapat juga foto-foto hasil jepretan seorang fotografer asing yang berasal dari Belanda dan datang ke Indonesia pada tahun 1947, Cas Oorthyus.

Foto-foto yang ditampilkan membuat saya terdiam dan terkagum-kagum, karena biasanya saya hanya berkesempatan melihat foto-foto dokumentasi keadaan di seputar jaman kemerdekaan melalui buku-buku sejarah yang saya pelajari sewaktu saya masih sekolah ataupun di buku-buku lain yang pada umumnya menyoroti dua titik ekstrem. Pada satu titik akan disoroti kehidupan Bung Karno sebagai presiden yang flamboyan dan serba mewah sedang berada dalam sebuah pertemuan kenegaraan, sedang ber-orasi, atau sedang dikelilingi istri-istrinya. Sedangkan titik yang lain foto-foto yang biasanya saya lihat akan menyoroti bagaimana keadaan rakyat kecil dengan pakaian yang lusuh sendang mengantri sembako, atau foto-foto yang memperlihatkan betapa timpangnya keadaan itu. Selain itu foto yang banyak ditampilkan adalah foto prajurit yang sedang berperang. Satu hal lagi, sebelumnya saya tidak pernah melihat foto-foto dokumentasi pada jaman kemerdekaan yang menampilkan sosok orang Belanda atau dari sudut pandang Belanda.

Mungkin masalahnya memang ada pada saya yang kurang referensi sih, jadi saya tidak pernah melihat cukup banyak foto yang dapat memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai keadaan pada masa itu. Lalu kemudian saya datang ke pameran foto ini dan saya bisa melihat gambaran keadaan dari berbagai sudut pandang. Rakyat tidak hanya digambarkan lusuh dan tersiksa, namun juga ditampilkan sedang bercanda dan senang melakukan pekerjaannya, dan Bung Karno seringkali ditampilkan dikerubuti oleh rakyat, bahkan ada pula wajah Bung Karno sebagai presiden saat itu dengan mimik muka konyol menjulurkan lidah. Saya juga melihat bahwa rakyat pada jaman dulu memiliki gaya berpakaian yang khas dan menggoda saya untuk mencoba belt tipis yang menarik yang dipakai para wanita muda jaman dulu selain kebayanya.

Yang paling memukau buat saya adalah bagaimana si fotografer bisa menangkap sorot mata dari para objek fotonya. Sorot mata yang berbicara, sorot mata yang tidak mau percaya lagi pada janji-janji damai dari pemerintah, namun masih menaruh harapan dan tekad yang saat itu mereka sendiri mungkin tidak tahu mau dibawa kemana.Semangat saya tergugah saat saya membaca kalimat per kalimat yang ada dalam buku katalog yang saya dapatkan dengan gratis dari sana. Hati saya merasa malu dan kecil menyadari betapa sedikit kontribusi saya untuk negeri yang setiap harinya saya hirup udaranya yang penuh polusi ini, yang padi dari tanahnya saya kunyah setiap hari, dan lain lain dan lain lain. Saya berharap ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya sendiri. agak berlebihan sih, tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Aahh, saya jatuh cinta pada fotografi jurnalistik. Terimakasih Antara.

- D! -

The Runaway (UN)Bride(ED)

In Tentang beragam hari on August 28, 2008 at 4:22 pm

Pada umumnya wanita-wanita dewasa di Asia, khususnya Indonesia mulai mengalami banyak tekanan mulai usia 25 tahunan.  Tekanan-tekanan tersebut berkisar di seputar perkembangan kehidupan mereka menyangkut karir mereka, jabatan mereka, dan yang utama adalah mengenai pernikahan. Setahu saya wanita-wanita Indonesia menikah pada usia yang relatif muda (di bawah 30 tahun). Dulu, wanita-wanita (kalau tidak lebih pantas disebutkan gadis-gadis Indonesia) sudah dinikahkah sejak usia mereka masih belasan tahun. Asal mereka sudah memasuki menstruasi pertama mereka berarti mereka dianggap dewasa dan siap menikah. Hal ini masih berlangsung pada jaman sekarang walaupun mungkin sudah banyak berkurang dan hanya berlaku pada wanita yang tinggal di daerah pedesaan.

Dugaan saya, hal ini disebabkan karena adanya pepatah yang menyebutkan ‘banyak anak banyak rejeki’ sehingga jika para wanita menikah lebih awal, otomatis masa produktif mereka dalam menghasilkan anak tentu lebih lama, dan anak pada jaman dulu merupakan aset berharga yang dapat ‘dimanfaatkan’ sebagai tenaga kerja yang membantu orangtuanya mencari nafkah, terutama anak laki-laki. Anak perempuan juga bisa menjadi sumber nafkah yaitu dengan cara menikahkan mereka dengan orang yang cukup berada sehingga keluarga anak perempuan tersebut bisa meningkatkan derajat kesejahteraan mereka walau hanya sedikit.  Selain itu, ada pandangan bahwa kewajiban orangtua sebagai pengasuh dan pembimbing anak mereka akan usai setelah mereka menikahkan anak mereka karena dengan begitu anak mereka (terutama anak perempuan) telah ‘diambil’ oleh orang dan akan diurus oleh orang lain. Mau tidak mau pernikahan merupakan hal yang bercampur dengan kepentingan ekonomi tiap keluarga pada masa itu.

Lalu bagaimana dengan jaman sekarang? walaupun usia pernikahan wanita Indonesia sudah bergeser menjadi lebih tua (sekitar usia 20an pada umumnya) namun tetap saja tekanan untuk menikah akan datang meneror dan hidup melajang pada usia 30 terdengar seperti sebuah abnormalitas dalam masyarakat kita. Sang wanita bisa merasa ‘tidak laku’ dan keluarga yang kurang terbuka akan semakin menyuruh anaknya untuk segera mendapatkan pasangan. Padahal pernikahan adalah hal yang pelik dan membutuhkan komitmen serta pemikiran yang luar biasa. Coba bayangkan bagaimana bisa memutuskan untuk menghabiskan hidup dengan seorang saja berpuluh-puluh tahun! That must be something HUGE.

Jadi demikianlah. pemikiran ini tidak datang begitu saja. Semua dimulai ketika saya dan kedua teman saya yang berinisial SC dan M yang sedang menuju ke Rumah Sakit Hewan di Ragunan untuk memeriksakan kucing M. Pada sore itu SC sedang memikirkan jam-jam terakhirnya ia sebagai remaja karena keesokan harinya ia akan berusia 20 tahun dan mulailah kami memikirkan tekanan-tekanan yang akan dialami wanita berusia twenty something.

Mulai dari kami yang menyadari bahwa kami semua belum selesai kuliah dan tidak tahu setelah kuliah akan melakukan apa, entah bekerja atau melanjutkan S2. Kemudian sampai pada topik maha penting, yaitu tentang menikah. Menyadari kami sama-sama belum memiliki pacar, jadi jangankan memikirkan pasangan yang berprospek untuk mengajak kami menikah, calon pacar untuk senang-senang saja belum ada, akhirnya kami membuat semacam perjanjian asal-asalan. Begini bunyi perjanjiannya :

“Kalo pada umur 27 tahun belum keliatan tanda-tanda munculnya calon suami yang potensial maka kami akan bertemu untuk membahas rencana untuk pergi menetap ke luar negeri. Lalu, jika pada usia 28 kami BELUM JUGA kelihatan akan menikah, kami akan segera mengaburkan diri ke luar negeri dan bersenang-senang di sana

Terdengar menyedihkan dan seperti kabur dari kenyataan ya? Tapi siapa yang tahu sih kalau ternyata di sana justru muncul kenyataan yang sebenarnya? Haha. At least it would be better to be single and to live with your dozen single friends than living with dozen cats to feed, right?

Ada yang mau bergabung? Hihi.

- D! -

Last Holiday

In Tentang belajar dari film, Tentang berbagi isi kepala on August 28, 2008 at 3:31 pm

Oke, saya baru saja menonton film ini sekitar 2 jam yang lalu sebelum saya menuliskan ini. Awalnya saya menonton film ini karena tertarik oleh celotehan bapak saya yang menggembargemborkan resensi filmnya yang terdapat di indovision. Begini katanya, “Toeng, ada film yang resensinya ’seorang wanita yang sangat besar mengetahui hidupnya tinggal 3 minggu lagi lalu kemudian memutuskan untuk pergi berlibur untuk menghabiskan masa hidupnya’ ” dengan muka sumringah nan berbinar-binar. Saya yang sore tadi sedang males-malesan POL jadi tertarik dan beranjak ke depan tv.

Ternyata film berjudul ‘Last Holiday’ ini dibintangi oleh Queen Latifah sebagai karakter utama, Georgia Byrd, atau yang disebut-sebut sebagai ‘wanita yang sangat besar’ tadi. Jadi ceritanya si wanita ini adalah seorang salesperson biasa di bagian peralatan masak. Wanita ini diceritakan sebagai orang yang baik hati dan suka menolong, jujur dan lugas, terlalu jujur bahkan namun seringkali tidak berani meraih mimpi-mimpinya jadi ia hanya menyimpan mimpi-mimpinya itu di dalam sebuah album bertuliskan ‘possibilities’ termasuk impiannya tentang laki-laki yang disukainya. haha. terdengar klise, tapi cukup memberi harapan lah si tokoh utama ini.

Kemudian diceritakan si Miss Georgia ini harus datang ke dokter karena jatuh pingsan, dan disitulah ia didiagnosis kena penyakit parah yang menyebabkan sisa waktu hidupnya tinggal tiga minggu saja. Dari situlah cerita dimulai bagaimana cara dia menggunakan waktunya yang singkat itu untuk mewujudkan keinginan-keinginannya untuk melakukan hal-hal yang selama ini nggak pernah dia lakukan sebelumnya.

Georgia menghabiskan uangnya untuk menyewa kamar di suatu hotel yang bertarif 4000 dolar per-malamnya, mencoba ski, base jumping, mencoba semua layanan spa di hotel itu, makan semua makanan yang luar biasa enak dan mahal sampai-sampai sang chef restoran hotel tersebut merasa tersanjung dan justru mulai berteman dengannya. Ia juga berkenalan dengan sekelompok politikus seperti senator dan anggota kongres lain yang berada di hotel itu semata-mata karena berusaha saling mengambil hati demi urusan bisnis dan pengumpulan dana kemudian ia mengubah hidup mereka semua, dan hidupnya sendiri tentunya.

Sebetulnya ceritanya sih sederhana ya karena film ini memang dipasarkan waktu mendekati tahun baru jadi memang dibuat happy ending. Buat saya yang menarik di sini justru adalah kenyataan bagaimana si Georgia ini menghabiskan sisa hidupnya yang (katanya) tinggal 3 minggu ini. Kemudian saya mulai membayangkan apa yang akan saya lakukan ya kalau tau-tau saya diberitahu bahwa hidup saya katakanlah tinggal beberapa minggu lagi. Apa saya akan meratap dan merasa depresi karena ada banyak sekali terget-target saya yang belum bisa tercapai, merasa sedih dan mengeluh kenapa hidup saya harus berakhir di usia yang bahkan belum mencapai 20 tahun, ATAU justru bersikap seperti Georgia yang menikmati setiap detik detik terakhir hidupnya dan melakukan semua yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tanpa rasa takut, tanpa merasa rugi, yang ada hanya senang dan menikmati.

Lalu bagaimana rasanya ya kalau kita hidup di dunia ini setiap harinya seolah-olah hidup kita di dunia ini hanya tinggal beberapa hari saja atau beberapa minggu saja? Saat itu saya teringat sepotong kata-kata yang menyatakan pentingnya the power of now atau kutipan kata-kata Master Oogway si kura-kura tua yang ada dalam film Kungfu Panda yang bilang ‘Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That’s why it is called present’. Poin utama disini adalah bagaimana kita menyadari bahwa yang nyata di depan mata kita adalah HARI INI yang sedang kita hadapi sekarang, menit ini, detik ini. Bukan kemarin, dulu, bahkan bukan pula besok atau rencana-rencana kita minggu depan. Karena kemarin dan masa lalu sudah berlalu, dan besok belumlah pasti.

Kalau saja kita bisa betul-betul menerapkan pandangan itu dalam hidup kita tentu kita akan menjadi manusia yang lebih positif karena tidak perlu mencemaskan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan, kita juga tidak perlu merasa sedih karena hal-hal buruk yang sudah terjadi pada diri kita, karena yang paling utama adalah bagaimana kita menjalankan hari ini dan menikmati setiap detiknya seperti hari esok nggak ada lagi.

Kadang-kadang pengen juga deh merasakan hidup tanpa kekhawatiran seperti itu. Ya nggak sih? Apa cuma saya aja yang merasa seperti itu ya?

hhh

In Tentang berbagi sisi melankolis on August 20, 2008 at 10:50 am

saya capek

saya takut menyambut semester baru

walaupun saya excited dengan pio-klinis

tapi saya takut keadaan akan lebih menyebalkan buat saya

lebih dari ini.

sebel kemaren nulis banyak2 trus ilang

In Tentang beragam hari on August 14, 2008 at 7:33 am

sebeeeeeeel. kemaren udah nulis banyak tapi gatau kenapa kok gaada ya? bahakan gak ke-save juga di draftnya. HUH.

kemaren saya berpanas-panas pergi ke pasar baru mau ngebenerin kamera analog saya. PErginya sama neng ijah. trus ternyata cucui lensa membuat saya berkorban Rp.125.000,00 dan ditambah lagi cuci prisma (kamera saya DLR) Rp.50.000,00. Trus udah gitu saya mesti beli batere baru Rp.30.000,00 yah kalo itu saya masih seneng-seneng aja.

 

Yang rese *ah dhe, udah tau kan kata-kata ‘yang’ itu nggak boleh ditaro di awal kalimat? BODO AMAT* adalah saya tergoda oleh suatu toko baju langganan di lantai dua yang menyebabkan gadis lugu dan lucu ini mengeluarkan uang Rp.140.000,00 ! haduh, kapan sih saya mau berhenti jadi impulsive buyer?  *sigh*

Ya, sekian cerita saya. Sebel soalnya kmaren udah nulis banyak tapi ilang

- D! -

Being single is (quite) good for your financial state

In Tentang beragam hari on August 7, 2008 at 2:48 pm

Salah satu kalimat penghiburan paling menyebalkan waktu sedang (di)putus cinta setelah ” he’s not worth it, masih banyak cowo yg lebih oke buat lo”  adalah kata-kata “eh malah bagus kalo gapunya pacar, malah jadi lebih hemat!”. Reaksi pertama saya adalah tambah sebel, ‘penting banget jadi lebih hemat’ begitu pikir saya waktu itu. Yaiyalah dong ya, gimana saya bisa merasa lebih baik kalo lagi puncak-puncaknya sedih tapi malah denger kata-kata seperti itu dari orang yang nggak jomblo pula hahhah.

Tapiiii, setelah saya sudah menjomblo selama kurang lebih 4 bulan saya baru menyadari betapa keadaan finansial saya lebih baik! HOREEEE. Bukan maksudnya uang saya sekarang jadi lebih banyak juga sih, tapi setidak-tidaknya uang yang tadinya saya keluarkan untuk beli pulsa demi menghubungi pacar saya (yang waktu itu) tercinta sekarang bisa saya alihkan untuk melakukan banyak hal lain seperti :

1. makan lebih banyak dan mencoba tempat makan baru

2. ke salon (baru pertama kalinya saya mencoba pedicure dan krimbat loreal yang seharga 80rb !)

3. nabung untuk daftar les bahasa atau les nyetir

4. ngurusin kamera analog saya

5. beli sampo mahal

6. dll.

dan saya masih punya beberapa ide kemana uang saya bisa tersalurkan untuk sesuatu yang bermanfaat.

ada ide lain?

betapa saya iri

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on August 1, 2008 at 4:04 pm

Coba perhatikan video dari youtube ini

atau yang ini

apa yang terlintas di pikiran saya waktu saya pertama kali lihat video – video ini adalah SAYA IRI, oke pertama kali tentu saja saya akan merasa si bayi sangatlah lucu menggemaskan dan saya sangat terhibur luar biasa melihat caranya tertawa. Namun setelah itu yang muncul kemudian adalah rasa sedikit iri. Kenapa saya iri?

Coba saja perhatikan bagaimana mudahnya mereka tertawa terbahak-bahak karena hal yang sangat-sangat sederhana. Hanya karena efek suara sederhana dan karena merobek kertas majalah mereka bisa tertawa terbahak-bahak. Oke, mungkin saya tidak tahu apa yang ada dalam pikiran para bayi tersebut saat mereka tertawa dan saya juga tidak begitu mengerti apa yang begitu lucu dari hal-hal tersebut bagi mereka, namun kalau kita berpikir, di usia seperti saya atau orang-orang yang lebih tua dari saya kegiatan tertawa terbahak-bahak menjadi begitu sulit dilakukan dan hal yang yang segitu lucunya menjadi sangat sulit untuk didapatkan.

Kalau dilihat-lihat, berapa banyak sih orang yang berlomba-lomba untuk menjadi lucu? Berapa banyak acara televisi yang dipikirkan untuk mendapatkan sisi lucu dan sangat berusaha untuk membuat orang tertawa? Berapa banyak uang yang orang keluarkan untuk memperoleh hal yang dapat menghibur mereka dan membuat mereka sekedar tertawa sembari melepas beban pikiran?Berapa banyak lelucon yang agresif dan terkadang justru cenderung menjurus kepada pelecehan seksual yang dilontarkan di media hanya untuk membuat orang tertawa?

haha.

bagaimana dengan anda? apa hal2 yang membuat anda banyak tertawa dengan lepas?

- D! -

wish

In Tentang berusaha dengan prosa dan rima on August 1, 2008 at 6:40 am

silently wish upon the star

blank stare to the sky, there I am

for I don’t know who you are

and I don’t know where you are

but yes, I hope you’ll soon be come

-D! -

go away

In Tentang berusaha dengan prosa dan rima on August 1, 2008 at 6:31 am

go away,

don’t give me this feeling

since I know you’ll walk away

don’t show me your face smiling

for it will torn my heart away

let me enjoy the sinking

thus make you fade away

- D! -

Experiment really can make you cry (part.2)

In Tentang bertugas on August 1, 2008 at 4:59 am

SELESAI JUGA!

yeay! Laporan tugas eksperimen saya yang selama sebulan ini lumayan menyita waktu saya dan teman-teman selesai dan sudah sampai dengan selamat di meja Mbak Dewi sebagai dosen saya. Yah karena laporannya juga sudah selesai disusun saya bisa membeberkan sebetulnya apa yang selama ini saya kerjakan.

Berangkat dari pengamatan saya dari iklan-iklan cetak maupun elektronik yang ada di sekitar saya yang banyak sekali menghadirkan tokoh ahli sebagai spokesperson produk yang disampaikan. Tokoh ahli yang saya bicarakan disini maksudnya adalah tokoh-tokoh yang memiliki pekerjaan yang ada hubungannya dengan produk yang dipasarkan dan tokoh-tokoh tersebut dikenal cukup ahli dalam pekerjaannya misalnya seperti menghadirkan seorang dokter kulit untuk iklan produk kosmetik, menghadirkan seorang binaragawan dalam iklan produk suplemen penambah tenaga, dsb. Hal yang menarik di sini adalah di antara tokoh ahli yang ditampilkan dlm iklan tersebut, katakanlah dokter, beberapa bukanlah dokter sungguhan namun seorang aktor atau aktris yang memakai jas putih dan diposisikan sebagai dokter. Hal ini membuat saya bertanya, apakah sebegitu besarnya pengaruh dari kehadiran tokoh yang (dianggap sebagai) ahli dalam menentukan laku tidaknya produk yang dipasarkan?

Begitulah, penelitian kelompok saya yang berjudul “Pengaruh Kehadiran Expert Endorser terhadap Keputusan Membeli Konsumen (Consumer Decision Making) pun mulai disusun. Penyusunan proposal penelitian dilangsungkan dalam waktu yang serba kilat, hanya dalam H-1! Berjam-jam berkutat di perpustakaan untuk mengumpulkan teori dan menyusunnya jadi satu, akhirnya jadi juga proposal yang coreng moreng dimana-mana. Lalu selama 2 minggu saya berkutat dengan ADOBE PHOTOSHOP mustajab sampai mata saya njureng-njureng bikin iklan untuk ditampilkan kepada subjek, iklan yang ditampilkan sebagai berikut

ini untuk kelompok eksperimennya
ini buat kelompok kontrol

ini buat kelompok kontrol

Oiya, sebagai catatan iklan tersebut sempat berganti model, bentuk, background, dan warna baru kemudian disetujui iklan yang ini. Langkah selanjutnya adalah untuk menentukan sampel penelitian yang harusnya cukup representatif. Karena subjek penelitian kami adalah remaja yang berusia 16-20 tahun maka diputuskan untuk mengambil subjek di FAkultas Hukum UI angkatan 2007, namun ternyata birokrasinya cukup sulit dan mereka akan segera melaksanakan pekan UAS SP jadi agak susah buat mendapatkan ruangan. Selanjutnya kami mencoba ke FAkultas Teknik UI, dan menemui hasil yang sama. Setelah mencoba juga di SMA saya untuk mendapatkan izin untuk penelitian (dan birokrasinya juga ribet), akhirnya kami bisa melangsungkan penelitian di SMA Negeri 91 (SMA-nya Thq).
Fieldnya cukup seru karena anak-anak SMA tersebut cukup antusias (mungkin disebabkan karena kedatangan kami membebaskan mereka dari satu jam pelajaran Bimbingan Konseling yang agak membosankan *winwink*). Besoknya kami ngendon di rumah keinda dari jam 10 sampai lewat magrib untuk mengerjakan laporan.
Setelah mengorbankan berbungkusbungkus cemilan dan berlembar-lembar Nori, juga merepotkan mbaknya Keinda (karena kami semua mau makan gratis dong ahahah), dengan gegap gempita dan napas lega kami mengumumkan laporan pun selesai!!
(BERSAMBUNG)
- D! -