dheasekararum

Archive for September, 2008

Disukai karena biasa-biasa aja

In Tentang beragam hari on September 26, 2008 at 9:07 am

Pernah merasa rendah diri nggak? Perasaan dimana kita merasa diri kita begitu kecil, biasa-biasa aja dan nggak punya kelebihan yang bisa dibanggain ke orang lain karena toh udah ada orang lain yang bisa melakukan hal itu dan bahkan lebih baik daripada kita.Hal ini kemudian membuat kita tidak cukup percaya diri untuk merasa diri kita cukup menarik, unik, dan cukup berharga. Saya pernah, sering bahkan, saya beberapa kali mengutarakan hal ini kepada orang lain dan mendapatkan beberapa masukan yang tidak bisa saya tuliskan satu persatu di sini karena semuanya bagus-bagus. Cuma baru-baru ini saya terlibat pembicaraan sederhana yang sangat menyentuh saya. Berikut ceritanya

Siang-siang, cuaca agak panas-panas pengap, saya dan seorang teman saya,ika makan siang di kancil karena kami berdua sedang tidak berpuasa. Siang itu seperti biasa, saya menjebakkan diri dalam pembicaraan curhat dan sedikit membicarakan hal-hal yang menjadi pemikiran saya. Pembicaraan disiang itu berkisar seputar saya yang seringkali merasa tidak percaya diri karena merasa saya adalah orang yang biasa-biasa saja dan tidak memiliki kelebihan yang unik yang bisa membuat orang tertarik pada saya.

Dhea : iya Ka, yah gue tuh suka nggak pede sebenernya orangnya

Ika   : masa sih Dhe? Nggak begitu keliatan kok

Dhea : Oh iya? yah baguslah kalo gitu. Gue merasa gue nggak punya kelebihan yang unik dan menarik gitu kadang-kadang

Ika : tapi semua orang kan punya kelebihannya masing-masing yang nggak dimiliki orang lain

Dhea : iya, tapi kayanya semua orang juga bisa melakukan apa-apa yang gue lakukan deh. Biasa banget aja gue kayanya. Nggak menarik ah

Ika  : bukannya lebih indah kalo kita disukain karena apa adanya kita ya Dhe? Walaupun kita biasa-biasa aja tapi ternyata masih ada yang bisa nemuin hal indah dalam diri kita terus suka sama kita, itu kan lebih oke. Kalo kaya artis gitu mah udah jelas dong semua orang suka sama dia. Gue pingin liat ada orang yang suka gue yang kaya gini dan bertahan sama gue (senyum manis)

Dhea : (mikir)

- D! -

Masih banyak hal lain yang harus dilakukan

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on September 26, 2008 at 7:22 am

Posting ini masih berkaitan erat dengan posting-an (curhat )  sebelumnya

Akhir-akhir ini (sumpah, benci banget deh memulai posting-an dengan kata-kata ‘akhir-akhir ini’, kesannya kaya mau pidato) entah mengapa saya banyak sekali menggunakan waktu-waktu saya di malam hari untuk berpikir (atau ngelamun?). Saya juga heran, bagaimana di akhir hari-hari saya yang sudah melelahkan dengan tugas-tugas, perkuliahan, kuis,  tugas di luar akademis yang ber-orientasi uang (hehe), kepanitiaan, dan kegiatan lain saya masih punya waktu dan tenaga untuk memikirkan hal-hal kecil. Sebagian sangat tidak penting untuk saya pikirkan namun sangat mengganggu, namun sebagian sisanya menurut saya cukup penting untuk dipikirkan, untuk kemudian dilakukan. Teman-teman saya bilang hal ini cukup wajar untuk orang-orang yang memasuki usia awal 20-an.

Lewat pikiran-pikiran itu saya jadi menyadari poin-poin penting tentang diri saya, tentang lingkungan saya, dan tentang betapa banyak tugas yang masih harus saya lakukan untuk mencapai diri saya yang seutuhnya, atau minimal, dalam bahasa psikologi, untuk mencapai virtue dari tugas perkembangan saya menurut tahapan perkembangan psiko-sosial Erik Erikson, identity vs. identity confusion. Di buku Papalia (2007), seingat saya disebutkan pada akhir tahapan ini seseorang akan mendapatkan konsep diri yang matang, mengembangkan kemandirian, mampu berpikir tentang orang lain, lebih stabil, dan memiliki hal-hal yang akan ia butuhkan untuk kemudian mencapai tahapan berikutnya intimacy vs. isolation dimana mereka mulai membangun sebuah hubungan yang lebih serius dan persisten dengan orang lain yang nantinya.

Berdasarkan hal tersebut saya menyadari bahwa masih banyak hal dalam diri saya yang masih harus saya perbaiki dan itu menjadi semacam janji saya untuk diri saya sendiri, dan bagi orang lain yang bersangkutan dengan saya. Saya berharap dengan begitu saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih berguna untuk diri saya dan juga orang lain.

1. Saya berharap saya memiliki regulasi emosi yang lebih baik lagi dari sekarang

2. Saya berharap saya bisa menahan diri untuk tidak menceritakan semua perasaan saya begitu saja

3. Saya berharap saya bisa lebih menghargai waktu

4. Saya berharap saya bisa lebih menerima diri saya sendiri dan menghargai diri saya lebih baik

5. Saya berharap saya bisa lebih perhatian dan tidak lupa terhadap hal-hal kecil

6. Saya berharap untuk bisa lebih asertif dalam berkomunikasi dengan orang lain

Untuk sementara segitu dulu, terlihat mudah untuk dituliskan, tapi sangat sulit untuk diterapkan, dan saya masih berusaha untuk meraih itu semua, pelan-pelan saja, dan mungkin juga tidak sempurna, karena saya manusia.

Tumbuh Dewasa Itu SESAK

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on September 19, 2008 at 4:06 am

“Growing up into an adult doesn’t seem so cool as it was when I was a little girl”

Di suatu siang dimana saya sedang duduk kedinginan di pojok kiri barisan kedua dari depan kelas psikometri yang terkesan tidak akan berakhir, saya menemukan kata-kata di atas, bisa dikatakan sebuah kalimat, hasil pemikiran ngalor ngidul selama 2 minggu terakhir tentang 2 tahun terakhir, 2006-2008.

Waktu masih kecil saya sangat ingin cepat tumbuh dewasa. Menurut saya, orang dewasa sangat keren dan kehidupan mereka menyenangkan. Orang dewasa boleh melakukan banyak hal yang saat itu tidak bisa dan tidak boleh saya lakukan. Mereka bisa memakai barang-barang keren dan berkilauan. Mereka bisa bepergian ke tempat-tempat yang mereka inginkan, dan sebagai-nya dan sebagainya. Hal-hal itulah yang membuat saya ingin cepat jadi dewasa, setidaknya itu yang saya rasakan sampai tahun 2006.

Banyak yang terjadi pada saya dan kehidupan saya sepanjang tahun 2006 sampai sekarang, 2008. Semuanya dimulai ketika saya menginjak usia 17 tahun. Kehidupan saya luar biasa berubah. Saya mengalami kehilangan, perjuangan, keberhasilan, penyesuaian diri, dan sebagainya. Saat itulah saya menyadari bahwa menjadi dewasa sama sekali tidak keren, bahkan cenderung melelahkan dan menakutkan di titik-titik tertentu. Beberapa hal yang saya petik dari pemikiran ngalor ngidul saya kemarin di antaranya adalah :

#1.

Jadi dewasa berarti tahu apa yang saya mau, apa yang baik dan apa yang tidak cukup baik untuk saya.

Terkesan mudah untuk dilakukan jika saja dunia ini betul-betul di antara hitam dan putih dan tidak ada keinginan orang lain yang tercampur baur di dalamnya. Kadang saya jadi tidak tahu apa yang memang baik untuk saya dan memang saya butuhkan, atau yang sekedar saya inginkan. Kadang saya juga tidak tahu apakah yang baik untuk saya itu juga cukup baik untuk orang lain yang ada di sekitar saya. Bahkan kadang, saya hanya tidak tahu apa yang saya inginkan.

#3. Menjadi dewasa berarti menerima bahwa tidak semua yang kita mau bisa kita dapatkan

YEAH. nggak perlu dijelaskan kan? Karena orang lain juga punya keinginan, yang seringkali bertentangan dengan keinginan kita.

#4. Jadi dewasa berarti mau menerima diri apa adanya

Yap, menerima diri sendiri terkadang bisa jadi sangat berat. Menemukan kelebihan-kelebihan diri sendiri dan mengakui kekurangan diri sendiri, kelemahan diri sendiri, dan menerimanya sebagai satu kesatuan yang disebut diri sendiri adalah tugas yang masih sampai saat ini masih berusaha saya selesaikan. Sampai saat ini pun saya bahkan belum menemukan diri saya sendiri.

#5. Jadi dewasa berarti mau menghargai orang lain

#6. Jadi dewasa berarti menghargai uang dan waktu

#7. Jadi dewasa berarti bisa dan mau untuk menyembunyikan perasaan dan mengeluarkannya pada saat yang tepat

#8. Jadi dewasa berarti paham dan melaksanakan tanggung jawabnya

dan lain-lain, dan lain-lain yang bisa membuat seorang anak usia 19 tahun pusing tujuh keliling.

“Growing up into an adult doesn’t seem so cool as it was when I was a little girl, in FACT it could be tiring and terrifying in some points, but hey that’s why it is called LIFE. So I just have to live it and love it”

- D! -

Tidak ada orang yang bisa melakukan semua hal

In Tentang beragam hari on September 17, 2008 at 11:49 am

Di suatu siang yang cukup terik, terdapatlah tiga orang laki-laki dewasa muda dan satu orang perempuan remaja akhir (19 tahun itu masih remaja deh kalo nggak salah menurut Papalia) yang sedang tidak tahu mau melakukan apa-apa karena memang tidak ada kuliah lagi dan tidak ada kewajiban untuk diselesaikan. 3 orang laki-laki dewasa muda ini mengaku sedang merasa suntuk dan kesal tanpa alasan yang jelas.

3 orang ini adalah Rama, Haryo, dan Khresna (bukan nama sebenarnya). Rama merasa ingin minum supaya mabok dan menghilangkan semua perasaan, Haryo merasa ingin sekali berantem dan nonjok orang padahal lagi nggak ada apa-apa yang membuat dia kesal, Khresna sedang merasa kesal karena suatu kejadian semalam tapi dia tidak mau menceritakan kejadian apa itu. Jadi, semua alasannya tidak jelas, kecuali si satu orang perempuan remaja akhir yang kebetulan bernama Ning (juga bukan nama sebenarnya). Siang ini ia merasa mood-nya baik-baik saja dan tidak ada yang mengganggu hatinya.

Selanjutnya Khresna mengambil gitar dan mulai menggenjreng-genjrengkannya tanpa juntrungan. Lagu yang dimainkan sepotong-sepotong, di antaranya lagu Moldy Peaches yang berjudul ‘Anyone Else But You’. Setelah beberapa lagu yang tidak jelas dan suara-suara para laki-laki yang sungguh tidak layak didengar itu membahana ke seluruh akademos akhirnya keempat orang itu memindahkan posisi mereka ke kantin lama karena takut membuat maba 2008 sakit perut. Di kanlam adegan sendu kembali berlanjut, namun Rama dan Haryo merasa bosan lalu mencari aktivitas lain. Tinggallah Ning dan Khresna yang masih berusaha menyamakan irama dan nada dari lagu-lagu yang mereka nyanyikan.

Akhirnya, Khresna mengusulkan untuk membuat lagu. Percayalah, jangan membayangkan lagu ini adalah sebuah lagu yang indah mengalun dan diaransemen dengan seksama. Lagu ini semata-mata hanyalah lagu ‘Anyone Else But You’ yang diganti liriknya. Gosipnya, lagu ini suatu hari akan dipasarkan demi membuat nama mereka berdua sedikit lebih tenar. Saat itu Ning, si remaja akhir yang berusia 19 tahun itu menyadari sesuatu! Khresna yang selama ini merupakan seorang sosok yang diidam-idamkan oleh banyak wanita karena konon mukanya yang ganteng dan kemampuan menulis, kepintarannya, serta yang lain-lainnya (penulis tidak tahu lagi apa yang bikin orang-orang pada suka sama si Khresna) itu ternyata memiliki suara yang *********. Percayalah, bukan jenis suara yang bisa dinikmati sambil minum teh di sore yang indah.

Setelah itu berjam-jam berlalu dan Ning telah pergi ke tempat lain untuk beberapa saat. Ketika dia kembali, fenomena apa yang ia lihat? Khresna sedang kursus kilat menyanyi dengan seseorang yang menyebut dirinya Longor Siha (dia adalah salah seorang mahasiswa di kampus yang sama dengan 4 orang tokoh cerita ini, hanya saja ia ‘jauh lebih senior’). Khresna diajarkan cara mengikuti nada per nada dari dentingan gitar yang dimainkan oleh Longor Siha. Bila tidak berhasil maka Khresna harus mengulanginya berulang kali, sungguh pemandangan yang asik.

Ning tertegun dan ia berpikir, “Wah, untuk orang seperti Khresna yang terlihat sangat oke punya ternyata juga memiliki hal yang tidak dapat ia lakukan dan ia tidak malu karenanya!”. Demikianlah, Ning mendapatkan pelajaran yang cukup menggugah hatinya. Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang tidak bisa ia lakukan dan tidak perlu merasa malu karenanya. Hal yang paling penting adalah bagaimana orang tersebut mau mengakuinya dan mau belajar untuk terus memperbaiki dirinya. Walaupun pada akhirnya suara Khresna pun tidak bisa mencapai apa yang bisa disebut sebagai enak, namun setidaknya ia berusaha.

Demikianlah, penulis menyudahi kisah singkat ini. Semoga pembaca mendapat pesan sederhana yang terselip di dalamnya. hehe

Tolong biarkan saya istirahat sejenak!

In Tentang berbagi sisi melankolis on September 9, 2008 at 3:56 pm

Wahai otak, berapa kali saya harus memerintahkan kamu untuk berhenti melakukan upward comparison dan berhenti bertanya-tanya tolong saya bisa gila. Saya kadang berpikir untuk apa saya melakukan perbandingan-perbandingan yang hanya membuat saya terus-terusan merasa kecil dan merasa hina bahkan untuk hal yang SEHARUSNYA tidak lagi penting untuk saya. Saya curiga jangan-jangan hormon serotonin yang ada dalam otak gue sudah terlalu sedikit dan membawa saya ke arah jurang depresi.

Puasa, iya bukan September bulan puasa. Saya mencermati dan menghayati bulan ini sebagai bulan perjuangan. Bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi menahan segala keletihan saya baik otak, badan, maupun hati. Saya lelah mengeluh setiap hari, setiap jam pergantian kuliah, setiap sore menuju malam, dan malam menjelang tidur. Saya sebetulnya tidak begitu paham dengan tujuan saya di bulan puasa kali ini. Saya nyaris merasa semua yang saya lakukan sia-sia karena saya belum melihat manfaatnya dan hasilnya.

1.

Sejauh ini yang saya rasakan hanyalah usaha untuk membuat perut saya meronta tanpa tau tujuannya apa. Selain itu masalah menahan emosi, tolong, semua orang yang kenal baik dengan saya mengetahui bahwa menahan emosi, ups, ralat, meregulasi emosi bukanlah keahlian saya. Kalaupun ya, saya berhasil menahannya di permukaan semua akan percuma karena dalam hati saya terus mengumpat dan mencerca.

2.

Kenapa sih saya tidak bisa belajar untuk bersyukur? Kenapa? Kenapa? Tuh dari pertanyaan itu aja sudah terliaht bahwa saya maunya hanya menuntut saja tanpa pernah mau sedikit lebih berusaha. Kenapa masa lalu tidak mudah untuk hilang begitu saja? Kadan hanya itu yang saya butuhkan, tapi itu semua sudah tidak bisa diapa-apakan, ambil saja pelajaran. Simpan airmata untuk kamu sendiri dan teman yang masih mau menerima. KEnapa saya memiliki rasa iri dan selalu melakukan upward comparison sialan saya nggak tahu lagi.

3.

Kegiatan saya semakin lama semakin aneh. Ikut ini itu tanpa dapet esensinya. Tolong selamatkan saya.

- D! -

Memberi jawaban sesuai dengan pertanyaannya.

In Tentang beragam hari on September 4, 2008 at 10:31 am

Hari ini hari kuliah ke-4 di semester 5 (buat saya sih hari ke-3 karena pada hari Selasa saya tidak ada jadwal berkuliah). Mata kuliah hari ini adalah Psikometri, mata kuliah yang cukup saya cemaskan karena saya belajar dari pengalaman saya sebelumnya dimana saya tidak bersahabat baik dengan mata kuliah statistik yang saya lewati dan (untungnya) berhasil lulus dengan serta merta di semester 3 dan 4. Psikometri ini denger-denger banyak berhubungan dengan statistik dan banyak membahas mengenai validitas dan realibilitas. Sebut saja saya mahasiswi yang aneh, karena jujur aja saya sendiri tidak begitu menikmati mata kuliah yang berhubungan dengan membentuk sebuah penelitian.

Demikianlah saya berada di ruang H.215 dari jam 8 (padahal kelas baru mulai jam 9 tapi anak-anak kelas A yang kerajinan *sebetulnya sih salah informasi* sudah ada di kelas dari sejak jam 8) dan harus bertahan sampai jam setengah 1. Saya yang sudah bertekad semester ini akan belajar mati-matian dan mengurangi semua hal yang berkaitan dengan kesenangan hedonisme kampus *tsaaah* berusaha mendengarkan apa yang diucapkan oleh dosen saya, ibu Angga dengan seksama. Kelas berlanjut dengan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 hingga 5 orang. Di bulan puasa ini saya agak heran kenapa baru sekitar jam 10 tapi perut saya sudah meronta minta makan yang membuat saya cuma bisa senyum-senyum garing.

Diskusi berkisar seputar pertanyaan yang ditanyakan seperti, apa pengukuran psikologis itu?, apa bedanya  pengukuran fisik dan pengukuran psikologis?, apa jenis-jenis pengukuran psikologis? dan sebagainya. Kemudian pertanyaan tersebut dibahas satu persatu oleh tiap kelompok dengan dibimbing oleh ibu dosen. Pertanyaan yang menarik bagi saya adalah pertanyaan

“apa fungsi dari pengukuran psikologis?”

Lalu salah satu kelompok melontarkan jawaban

“Untuk mengukur variabel-variabel psikologis dalam setiap individu”

Pertanyaan itu bagi saya sekilas terdengar seperti ” Kenapa kamu makan keju?” yang dijawab dengan jawaban “Karena saya lapar”. Terdengar aneh, singkat, namun lucu. Karena begitu ditanyakan ” Jika kamu lapar mengapa tidak makan yang lain?” Akan muncul jawaban ” Karena saya tidak mau” ahahahha.

Setelah itu Bu Anggadewi sibuk menjelaskan konsep mengenai menjawab pertanyaan dengan akurat dan tepat seperti apa yang ditanyakan. Tidak kurang, tidak lebih, apa lagi melenceng. Di situ saya mengangguk paham, dan setuju.

Teman-teman mengerti maksud saya?