dheasekararum

Archive for 2009

Bukan Putri Raja, dan Juga Bukan Cinderella*

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on December 14, 2009 at 9:42 pm

Sore ini saya mengambil keputusan yang tepat.

Saya memutuskan untuk pulang ke rumah menumpang kendaraan umum, dan bukannya mencari tebengan atau minta dijemput, dan bukan pula menginap di kosan saya seperti biasanya. Entah kenapa rasanya hari ini saya merasa sedang bosan dengan suasana, pemandangan, dan rutinitas yang itu-itu saja, lebih tepatnya, muak. Akhirnya demikianlah, saya dan teman saya Mitun, menumpang Deborah untuk dapat tiba di rumah. Biasanya saya lebih memilih untuk menumpang Deborah AC dan turun di Pondok Indah Mall untuk kemudian minta dijemput orang rumah jika memang memungkinkan untuk dijemput. Karena selain tempat duduk dan suasananya lebih nyaman (pengamennya suaranya bagus-bagus), saya tidak perlu ganti angkutan sekali lagi di terminal Lebak Bulus seperti jika saya menumpang Deborah non-AC, plus saya tidak perlu mendengar ocehan dan omongan tidak pantas dari abang-abang yang kurang kerjaan menggoda setiap perempuan yang lewat di terminal Lebak Bulus. Sayangnya, Deborah AC ini kemunculannya seperti komet Hayley, dimana munculnya bisa sekitar 1 jam lebih sekali, dan sekali muncul lajunya cepat sekali. Saat itu hari sudah terlalu sore dan kami berdua sudah terlalu letih dan ingin cepat sampai rumah karena harus mempersiapkan diri untuk ujian sidang comprehension mata kuliah Pelatihan. Akhirnya begitu Deborah non-AC yang lewat terlihat agak kosong, kami pun segera naik.

Saya sebetulnya tidak termasuk yang sering naik bus atau yang sehari-harinya kemana-mana naik bus (karena saya seringkali berada di kosan dan penganut sejati paham menebeng, baik menebeng teman maupun orangtua, sejak mobil saya dijual dan gabisa dipakai latihan nyetir seenaknya). Namun saya sangat menikmati saat-saat saya menumpang bus, terutama di sore hari (kalau pagi biasanya penuh banget dan macet). Bagi saya, saat-saat menumpang bus kota adalah saat dimana saya bisa bengong-bengong sendirian dan mengobservasi sekeliling saya dan bisa berisitirahat sejenak menjadi penonton, bukan pelaku. Sore hari jadi waktu favorit saya untuk menumpang bus, karena pada waktu itulah semua orang pulang dari beraktivitas dan saya bisa memperhatikan berbagai jenis orang dengan busana dan bawaannya masing-masing, wajah-wajah capek dan sesekali obrolan ringan dengan teman yang duduk di sebelah mereka. Ada juga wajah-wajah yang sama bengongnya dengan saya, dengan earphone di telinga masing-masing, ada yang membaca komik, ada yang terlihat gusar mungkin karena ingin cepat pulang, dan sebagainya.

Selain para penumpang, jangan lupakan juga hal lain yang menarik perhatian kita, yaitu para pencari nafkah selain para supir dan kondektur. Mereka lah yang biasa kita sebut dengan pengamen.  Hari ini perhatian saya jatuh pada dua gadis pengamen Salah satunya sudah menginjak usia remaja dan tubuhnya juga sudah mulai tumbuh, dan yang satu lagi terlihat masih sepantaran anak kelas 4 SD kira-kira. Waktu menunjukkan pukul setengah 7 malam, dan mereka masih berkeliaran mencari uang sambil menyanyikan lagu The Potter, ” Kamu keterlaluan, kamu punya simpanan, maka maafin aku, i’m sorry say goodbye”. Hal-hal seperti ini, membuat saya merasa serba salah karena di satu sisi saya tahu kalau saya memberi mereka uang saya berarti semakin membuat bobrok moral anak bangsa dan saya tahu uang tersebut tidak lari ke kantung mereka, namun harus disetorkan kepada ‘koordinator’ daerah masing-masing untuk nanti kemudian dibagi-bagi, yang mana uang tersebut bisa mereka gunakan untuk hal lain yang saya tidak tahu apa, bisa baik, bisa juga buruk (entah ukuran baik dan buruk ini datangnya dari mana). Namun di sisi lain saya merasa mereka berhak mendapatkan sedikit dari saya yang sudah berkecukupan.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan semacam ini :

1. Bagaimana rasanya tumbuh sebagai remaja perempuan di lingkungan seperti yang mereka rasakan? Remaja adalah masa bergejolak ingin bersenang-senang dan mencari jati diri. Bagaimanakah cara mereka bersenang-senang? Bagaimana kegiatan mereka dalam mencari jati diri? Idealisme seperti apa yang mereka bangun di tengah-tengah pengalaman mereka selama ini?

2. Apa rasanya tidak dapat menikmati lagu anak-anak seperti sebagaimana anak-anak lain yang tidak perlu mencari uang seperti yang mereka lakukan?

3. Bagaimana rasanya sudah harus mencari uang untuk hidup sehari-hari, (kemungkinan besar) tanpa ada sisa untuk ditabungkan lagi? Hal ini membuat saya tertegun dan merasa malu karena akhir-akhir ini saya banyak sekali mengeluh masalah finansial, yang saya tidak bisa beli gadget ini lah, itu lah. Mau beli baju ini lah, itu lah. Mau pergi berlibur ke sini lah, situ lah. Terlalu banyak mengeluh dan egosentris. Padahal semua kebutuhan pokok saya selama ini selalu terpenuhi dengan baik.

4. Pertanyaan paling menggangu saya, apa imajinasi yang terbentuk dalam benak mereka sebagai anak perempuan tentang dunia ini? Kita semua tahu, sejak kita masih kecil, kebanyakan anak perempuan akan banyak sekali berkutat dengan imajinasi tentang dunia putri-putri raja yang cantik, dimana terdapat gaun-gaun indah dan suatu hari akan ada pangeran yang akan menjemput kita. Dunia terasa begitu mudah dan indah di mata kita waktu itu, setidak-tidaknya itulah yang saya rasakan. Lalu saya menjadi ingin tahu apakah mereka juga memiliki imajinasi yang kurang lebih sama walau dalam bentuk yang sedikit berbeda? Apa mereka juga berpikiran dunia adalah tempat yang indah seperti yang kita pikirkan sewaktu kita masih kecil dulu? Bagaimana dengan mimpi-mimpi yang mereka miliki?

Demikianlah. Mengapa saya mengatakan saya mengambil keputusan yang tepat sore hari ini?

Karena setelah sekian lama berkutat dalam suasana yang itu-itu saja, dengan teman dan gaya hidup orang-orang di sekitar saya yang itu-itu saja, dengan rasa iri yang akhir-akhir ini menumpuk tidak terkendali karena tidak bisa memiliki apa yang teman-teman saya bisa miliki. Setelah akhir-akhir ini merasa muak atas segala hal yang terasa semu dan tidak nyata di sekitar saya namun terasa mengkungkung dan menuntut saya. Setelah lelah luar biasa karena akhir-akhir ini saya merasa terlalu cemas akan masa depan saya, merasa dikejar-kejar segala sesuatu yang belum jelas. Setelah akhir-akhir ini bawaannya marah-marah terus karena merasa keadaan tidak adil dan banyak sekali goals yang tidak bisa  (atau belum bisa) saya raih, dan saya sangat letih akan semua itu. Setelah merasakan semua perasaan negatif akhir-akhir ini. Akhirnya, sore ini saya bisa sedikit beristirahat sejenak dan mencoba melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang mereka yang belum tentu memiliki apa yang selama ini saya punya. Namun bisa saja mereka memiliki apa yang tidak saya punya.

Dan itu, membuat saya terdiam.

Saya bukan putri raja, dan juga bukan Cinderella, mereka juga, sama saja. Dan saya tahu pertanyaan semacam ini tidak akan pernah terjawab, kecuali saya melakukan sesuatu untuk mencari tahu. Namun, pada akhirnya saya pun harus turun untuk ganti angkutan umum yang mengarah ke Pondok Pinang, rumah saya.

Pertanyaan saya, apakah teman-teman pernah mempertanyakan hal yang serupa dengan saya?

– D! -

*potongan lirik lagu The Potters-Keterlaluan hahahahaha

I wanted to

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi sisi melankolis on December 6, 2009 at 7:03 pm

I really wanted to believe that everything is going to be alright.

but it just seems so improbable (sigh)

- D! -

(Pre)Judging is Easy While Understanding is Not.

In Tentang berbagi isi kepala on December 4, 2009 at 9:15 pm

On November 30th, 2009, we heard this surprising  (yet sad) news about people who committed suicide in malls. With it, came along other people’s wide-ranging opinions. Some of them were sincere, telling their condolences, some of them were confused with the reasons, some of them did judge, even got irritated and mad for the news, and some of them are just insensitive enough to made fun of  it. For these kind of people, well, i don’t know, maybe they just don’t get it, maybe they just don’t understand.

But who does? I know, I’m don’t understand

The thing is, the incidents  (or whatever people may call it) put me back into a year ago. Reminds me of something, someone, who’s kinda special to me. Who’s special to most of psychology UI students, especially those who belong to the class of 2005, and some who did touched by this person; this very wonderful girl’s heart, and everything she did to us, while she were still around. So it was kinda sad for me to hear people saying those (pre)judging about the malls accidents.

I, myself, who use to be a psychology student, which usually judged by people to understand this kinda problem(s) better than other people who don’t take psychology as a subject to learn, don’t really have anything to say besides my deepest condolence for the family who’s being left. Since, hey, we don’t really know what was going on, right? Hence, we can’t and must not say much of it. At least, that’s what I think.

Well, this one, this heart-touching post came from my brilliant friend, Disa, tells about the incidents, and how she feels about it :

Stop judging dead people, will you?

Katanya mereka bunuh diri. Loncat dari lantai 5 dua buah mall besar ibukota, lalu mati. Cerita yang sama dengan seorang perempuan hebat yang meninggal kurang lebih setahun yang lalu. Kejadian yang serupa. Pertanyaan-pertanyaan yang serupa. Tuduhan yang serupa. Simpati yang serupa.

Hujatan yang serupa.

Kenapa harus bunuh diri? Bunuh diri itu dosa. Kenapa harus loncat di dalam mall? Kenapa tak atap gedung sekalian. Kenapa menyusahkan?

Mereka sudah mati. Tak akan ada jawabannya. Kenapa menyusahkan diri sendiri?

Orang hidup yang percaya Tuhan pasti tahu bunuh diri itu dosa. Mereka juga pernah hidup, berarti mereka tahu (kalau percaya Tuhan). Tapi manusia butuh orang lain. Untuk peduli, untuk membantu, untuk mencegah. Sebelum mati, bukan sesudah mati.

Kenapa tidak mencari tempat sepi supaya tak ada yang menyadari? Karena mereka ingin dihentikan, sadar atau tidak sadar. Mereka ingin mati, tapi lebih ingin mendapat keinginan hidup sebelum benar-benar mati. Begitu kata seorang ahli.

Biar Tuhan saja yang menghakimi. Toh nanti yang jadi terdakwa bukan mereka saja. Kita juga.

————————————————————————————————-

They wanted to be listened, to be cared, to be understood.

It doesn’t take any psychologist to care for our surroundings.

The thing is, would you care enough?

You could read more about ‘committing suicide’ on ruangpsikologi.com.

- D! -

The Least We Could Do

In Tentang berbagi isi kepala on December 3, 2009 at 12:53 am

Hemm, bagaimana memulai post yang ini ya. Sebenarnya ini hanya sedikit cerita mengenai pembicaraan saya dan teman dekat saya, salah satu teman terdekat saya bahkan, yang namanya Hario Iman Setyo, alias Pio.

Sekilas tentang Pio. Merupakan mahasiswa fakultas psikologi UI angkatan 2005, saat ini sedang (berusaha) menyelesaikan skripsinya  dan merencanakan lulus semester depan (mudah-mudahan kami bisa lulus bareng). Seorang pendengar yang luar biasa baik dan teman chatting yang tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Tingkat inteligensi di atas rata-rata, konon, terakhir kali mengikuti tes inteligensi, skor IQ-nya mencapai angka 140-an (mudah-mudahan bukan hoax semata) –> saya juga tidak tahu ini pakai tes apa dan skala-nya apa, dan normanya juga bagaimana, jadi samasekali tidak bisa digunakan sebagai data deskriptif apapun sebetulnya hahahaha.

Memiliki hobi main game sampai gila, nonton Discovery Channel dan National Geographic, buka-buka artikel tentang apapun di internet, menaruh minat yang besar terhadap fungsi otak manusia, proses berpikir, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu. Perbendaharaan kata bahasa inggrisnya luarbiasa, sudah seperti tidak perlu dipikir lagi. Tipe yang malas dan memang tidak bisa olahraga, namun sangat handal dalam bermain bowling.

Dengan wawasannya yang (sangat) luas, Pio merupakan teman yang sempurna untuk menghabiskan malam-malam begadang atau sebagai teman bengong. Pembicaraan dengan Pio bisa berloncatan dari topik paling ampas sampai topik paling penting sekalipun, mulai dari buka-buka YouTube, window chat, tempat duduk di kanlam, beranda rumah saya, atau rumahnya, sampai pelataran parkir Circle K (ditemani bir dan benda-benda lainnya). Yah, walaupun demikian, bung yang satu ini selalu merasa tidak punya kelebihan dalam bidang apapun dan merasa dirinya biasa-biasa saja. Yasudah, suka-suka dia saja lah ya.

si pio

Intinya, Pio apa ya? Yah, salah satu teman yang sangat penting buat saya lah. Dia ini orang kedua yang  saya telepon sambil nangis sesenggukan sewaktu saya diputusin duluuuuuu sekali (orang yang pertama adalah Mitun). Nah, paham kan posisi dia ini bagi saya sebagai teman yang seperti apa? Oh iya, tambahan, saya memanggil Pio dengan nama ‘Bebek Kribo, atau Beki‘, karena muka dan namanya kaya Piyo-Piyo. Dan Pio memanggil saya ‘Semir’, karena, yah, apalagi kalau bukan karena kulit saya yang cenderung gelap. Sial memang. Oh iya, Pio sudah punya pacar, namanya Eda, psikologi UI angkatan 2008.

Lanjut, satu hal yang akan menjadi topik perbincangan yang sangat panjang adalah jika kalian coba tanyakan ke Pio mengenai apa agama yang dipeluknya. Maka, sesuai dengan apa yang ia tuliskan di profile facebook-nya pada bagian Religious Views, ia akan menyatakan “in evidence we trust”. Dengan kata lain, ia tidak memeluk agama apapun, dan ya, keyakinannya terhadap Tuhan juga tidak bisa dipastikan. Jadi, antara bung yang satu ini agnostik, atau atheis.

Saya sendiri sering sekali bertukar pikiran dengan Pio masalah hal ini, dimana kami berusaha untuk menerima penalaran kami masing-masing tanpa harus memaksakan pendapat satu sama lain. Cukup mengerti alasan dibalik argumen masing-masing, buat kami itu sudah lebih dari cukup. Lagipula saya ini cenderung jauh lebih sederhana pemikirannya dibandingkan dengan Pio, mau adu argumen yang bener-bener adu argumen, pasti saya kalah. Kurang data.

Sebetulnya aktivitas ini cukup menyenangkan bagi kami, sepertinya, dimana yang terjadi adalah saya lebih banyak mendapatkan tambahan pengetahuan dari Pio hehehe. Lalu cerita dimulai di sini :

Suatu malam, di twitter :

@padrepijo : their delusion irritates me

@dubidupap @padrepijo : what delusion, mate?

@padrepijo @dubidupap : that particular delusion, i think you know what i mean. but eeee im just being a dick.

@dubidupap @padrepijo : ih kamu mah ih ko gitu kita kan harus saling toleransi kamuuu. tolerance, remember?

@padrepijo @dubidupap : engga, ada sisi ignorance dan egois yang luar biasa pada beberapa orang sih mir, itu yang bikin rada gmanaaa gitu.

@padrepijo @dubidupap : dan gw bilang, “im just being a dick”. hahahahh.

(pembicaraan terhenti)


Meja kantin lama, siang hari yang senggang, beberapa hari kemudian

dhea : Beki, kemarin maksudnya ignorance gimana sih eik kurang paham, yang di twitter itu lho

Pijo : gini lho, gue suka sebel kalau ada orang yang bilang, “terima kasih Tuhan, Engkau telah berikan kehidupan yang baik untukku, blalblabla, terimakasih Tuhan atas hari ini, hidup itu indah, blablablabla”

dhea : lha, dimana ignorance- nya meeen?

pijo : hemm gimana ya. mereka bicara kaya gitu seolah-olah terdengar sombong aja gitu di gue. Mereka nggak sadar apa bahwa di luar kehidupan mereka banyak yang sengsara. Anak-anak di Afrika misalnya? Gausah yang jauh deh, pengamen anak-anak jalanan itu deh.

dhea : Ok, now you’re making me dizzy. Slowly, mister, slowly. My brain is a little slow. Terus?

pijo : yah gue mikir, mereka nggak mau tahu tentang kehidupan orang-orang itu, yang penting hidup mereka udah enak. Titik. Dengan adanya keadaan seperti itu, kenapa mereka masih bilang kehidupan itu baik?

dhea : yah memangnya apa yang bisa mereka lakukan coba, Bekiiii? Sesat pikir lo. Fallacy!

pijo : ya nggak tahu juga sih hahahaha. i’ve told you before, i was just being a dick. Gue cuma mikir, kenapa mereka nggak pernah mempertanyakan, kenapa Tuhan yang kata mereka maha baik itu, menciptakan kelaparan dan kesengsaraan di sana? Mereka sih udah tenang hidupnya.

dhea : ah, kembali ke jalan kehidupan radikal, as always. Yah, Tuhan iseng aja kali (jawaban mulai ngaco karena sudah hampir masuk kelas)

pijo : tuh, udah melempar wacana, ngajakin ngomongin, tapi begitu sih

dhea : yah abis gue bingung, emang mereka, (atau kita), bisa apa Beki untuk membantu anak-anak di Afrika? Menurut gue sih ya, kalau kita nggak bisa mengubah keadaan orang lain, setidak-tidaknya yang bisa kita lakukan adalah tidak mengeluhkan keadaan kita sendiri.

pijo : yeah, you got a point. Tapi ya nggak usah gitu banget lah orang-orang itu. Ah, nggak tau lah, gue lagi rese aja nih.

(pembicaraan terhenti, berganti dengan topik curhatan)

Pembicaraan tadi nggak akan ada ujungnya, karena sudut pandangnya sendiri dari awal memang sudah beda. Hal ini sudah jadi makanan sehari-hari buat saya dan Pio, jadi kami sudah saling maklum. Saya tetap pada pendapat saya, terlepas dari kewajiban agama bahwa manusia memang diwajibkan untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhannya atas apa-apa saja yang telah diberikan (yang mana saya sangat bersyukur), sebetulnya, hal yang paling sederhana yang bisa kita lakukan jika kita memang tidak bisa membantu keadaan orang lain adalah tidak mengeluhkan keadaan kita sendiri. Mungkin itu yang dilakukan oleh orang-orang yang dimaksud oleh Pijo tersebut. Intinya ya, kalau belum bisa bantu apa-apa, minimal nggak usah banyak ngeluh dan banyak protes lah.

Soalnya,dunia akan jadi tempat yang sangat menyedihkan dan menyebalkan  jika kita sadar bahwa keadaan di luar sana tidak seberuntung kita, dan kita marah-marah akan hal itu, dan kemudian merembet juga ke kehidupan sehari-hari kita.

Kalau begitu caranya, apalagi yang tersisa buat kita?

Hemm, mungkin, sebagai tambahan, if we care enough, kita bisa mulai mendoakan keselamatan orang-orang selain diri kita sendiri, mulai dari orang-orang yang ada di sekitar kita saja, baru mungkin ke lingkup yang lebih luas.

Bagaimana pendapat kalian?

- D! -

“Jangan Lupa Berdoa”

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on December 2, 2009 at 12:37 am

When everybody is so busy minding their own business,

When everything around bumped to each other,

When there are so much to do, yet it always seems like there are so little time I have

And I feel like very tired,

And when control is something that I lack of,

And I know that I have to fix this,

But I just don’t seem to know where to start,

“Sabar.

Kalau butuh sesuatu, gue masih ada lho.

Jangan lupa berdoanya ya”


A friend came up with that.

I feel somehow a bit better in a sudden

Well, thank you, Mr. Aldia Thirzady H.

semoga enteng jodoh.

- D! -

 

Hello December

In Uncategorized on December 1, 2009 at 9:42 am

may this December gives this to us, all of us

I have so many prayers for this month.

- D! -

Pesimis.

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on November 29, 2009 at 11:11 pm

Tidak biasa-biasanya saya merasa seperti ini

Saya memang kurang percaya diri pada beberapa hal

Namun, tidak pernah seperti ini

Biasanya minimal saya bisa mencari rasionalisasi dari ketidakpercayaan diri

Atau mungkin mencari kompensasi dalam hal lain

Yang ini agak aneh

Pesimis.

Bikin lemes, ternyata.

Bikin malas mau mengerjakan apa-apa, ternyata.

Enaknya kalau lagi pesimis begini ngapain ya?

- D! -

I’m bored (I don’t need any of that)

In Tentang berbagi sisi melankolis on November 29, 2009 at 10:22 pm

I’m tired with all of the same pattern(s) these people gave me. Well, not tired maybe, I’m just perfectly bored with these kinda things.

I’m not a kite runner, nor a kite player. I can’t read where the wind blows.

I don’t really like to go fishing , not even on those sunny days. And I’m pretty sure I’m not a fish, not even close. I don’t have any fin to bring me back and forth. I don’t use any gill to breathe.

I’m so bored with all of this butterfly thingies that keep coming in, one by one, and then fly themselves away.

Sometimes it’s red, sometimes it’s yellow, sometimes it looks like it’s green. Green, red, yellow, green again, suddenly it became red again, then it turned out to be more like yellow, oh wait, was that a green? What so ever. The traffic light have already broken for a very long time I guess.

Sometimes the road is just too long and slippery to walked on, yet with a very beautiful scenery in the end. Sometimes I feel like I wanted to stop or park somewhere, but I couldn’t. In fact, I got bumped until it hurt. Then I had to move on, took another turn to another road, once again, I ever had any chance to get to the end of the road.

Sometimes I just have to realized that I was this little girl inside this traveling bus trying to figure out what those beautiful scenery really looks like, but then I got stuck. I couldn’t get out. Everything seems so far, and I have this window glasses surrounding me, preventing me from getting closer to everything.

Is it me, or is it everything around?

I’m bored of sailing another voyage that leads to nowhere.

I don’t need more flings for I get (too) easily attracted with many things.

I don’t need any of that.

I need something new.

I need you, the one I haven’t met (yet).

I am taking on my chances, so why don’t you?

 

*sorry for the bad grammar, my bad, indeed.*

- D! -

Why Am I Keep Doing It Anyway?

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on November 29, 2009 at 7:47 pm

I get irritated,

when I found out that I have just told someone about myself, things that I like, things that I do, my concerns, my past, my love life, my favourite books, my favourite movies, or anything that has something to do with me;

AND

it happened that the person didn’t even seem to care.


Well, i couldn’t blame he/she. He/she might merely a stranger for me after all.

The only person to be blamed for this was me.

I’ve already know that i’d be irritated for this,

why am I keep doing it anyway?


Go away, self-disclosure, just go.

You’re not helping me.

- D! -

Balada Iedul Adha

In Tentang beragam hari, Tentang bersaudara dan keluarga on November 27, 2009 at 9:37 pm

Di pagi yang indah setelah shalat Ied, saat saya sekeluarga sedang menyantap bubur ayam Pak Atmo (yang ada telur setengah matangnya itu lho) yang sedap, adik pertama saya, yang kebetulan namanya Tya , mengemukakan sesuatu :

“eh, eh, serius nih, aku ada tebak-tebakan. Kalau kapal api tenggelam, ikan-ikannya pada gimana?”

Lalu saya dan adik terakhir saya, Dinda mulai berpikir dan berusaha menjawab tebakan ampas ini,

Saya : hemm. mungkin ikannya terbakar. atau justru ga terpengaruh sama sekali, karena ga ada ikan dalam cangkir kopi!

Dinda : hemm. ikannya jadi mengandung kafein.

dan jawaban sebenarnya : ikannya pada begadang, gabisa tidur. kasian ya?

si tya (yang meringis)

 

si dinda

 

apakah keampasan di pagi hari sudah selesai? belum saudara-saudara.

Setelah kembali sampai rumah, ayah saya tiba-tiba berkata, “Bapak punya lagu buat kalian!”

berikut lagu tersebut saya sertakan :

(dinyanyikan dengan nada Nowhere Man-The Beatles)

mbak Dhea makan singkong

tidak dipotong-potong

mbak Dhea suka bengong

mukanya kaya kingkong

 

Mbak Tya makan bubur

tidak dicampur semur

 mbak tya kumur-kumur

tampangnya mirip lemur

 

Dek Dinda makan tempe

tidak dicampur pete

Dek Dinda kadang kece

mukanya seperti ketombe

 

Si Bapak minum sekoteng

yah mukanya memang ganteng

saya dan adik – adik : (….)

saya curiga beliau membuat lirik tersebut selama perjalanan dari Pertok ke rumah sembari mendengarkan CD The Beatles.

foto ayah saya lain kali saja ya :p

————————————————————————————————————————————————-

Sekian pengalaman pagi di hari Iedul Adha ini, kami sekeluarga mengucapkan

Selamat Hari Raya Iedul Adha 1430H

bagi siapapun yang juga merayakannya

semoga masing-masing dari kita semakin menghayati makna ikhlas, berkorban, dan berbagi dengan sesama.

(semoga arwah para hewan kurban diberikan tempat terbaik di sisi-Nya)

- D! -

Mencoba Melihat Lebih Dekat

In Tentang beragam hari on November 26, 2009 at 4:43 am

suatu potongan pembicaraan di sore hari yang agak absurd :

Dhea : jadi ini This Is It atau Let It Be Dis?

Disa : Yah Let It Be aja. Kita tuh sebetulnya nggak akan bisa betul-betul memutuskan untuk This Is It, entah itu positif atau negatif.

Dhea : Iyalah ya hehehe.

Disa : Ini seperti lo melihat pemandangan yang kelihatan sangat bagus, tapi terasa jauh, udah gitu ternyata ada kaca penghalangnya lagi

Dhea : Ah iya, kacanya berfilter pula. Jadi gelap deh.

Disa : Iya, jadi belum tentu pemandangan yang lo lihat bagus itu betul-betul bagus sebenernya. Jadi ya, liatin aja dulu lah

Dhea : ah, iya. The Future is not ours to see. Que sera sera.

Dhea & Disa : (senyum-senyum nanggung)

- D! -

nemu.

In Tentang beragam hari, Tentang bersaudara dan keluarga on November 15, 2009 at 2:28 pm

jaman dulu
foto ini bertanggal 17 Maret 2007

Menemukan foto ini dan entah kenapa ingin memasukkan ke blog hahaha. Ini foto saya dan adik pertama saya, namanya Tya. Di foto ini saya masih berusia 17 tahun (tanggal 25 maret baru berulangtahun ke 18). Adik saya berusia 15 tahun (12 Mei baru berusia 16 tahun). Masih sangat muda belia :)

Foto dengan pose super nggak jelas maunya apa.

Pertanyaan: Kalau saya sekarang potong rambut sependek itu lagi bagus nggak ya?

 

- D! -

Tentang keluarga

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi, Tentang bersaudara dan keluarga on November 15, 2009 at 1:44 pm

08/11/2009 | 22.17|rumah

*wall-eeeeee ! (bunyi sms masuk)*

tell me how does it feel to have a family, would you, please? i think i forgot that feeling..”

(terdiam, memutuskan tidak membalas apa-apa)

Sebuah sms dari seorang teman (yang sangat) dekat.

Saya juga kurang mengerti kenapa saya tidak membalasnya. Alasan yang paling mudah sih tentu karena mungkin saya juga tidak begitu paham maksud pertanyaannya. Mungkin saya juga merasa tidak cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan ini. Mungkin saya sendiri juga tidak pernah menghayati apa rasanya memiliki sebuah keluarga. Mungkin saya juga tidak begitu mengerti yang dimaksud oleh teman saya dengan keluarga itu yang seperti apa?

Apakah yang dimaksud dengan keluarga itu adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak? Ataukah keluarga besar yang termasuk juga di dalamnya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, dan sebagainya? Ataukah definisi keluarga justru lebih luas lagi? Karena saya bingung, maka saya tidak jawab sms itu.

13/11/09| malam| 2 jam di dalam mobil terjebak macet dan hujan deras di daerah Wijaya

teman : hahaha kita terjebak macet dan nyasar gini malah jadi terlibat deep talk gini ya Kak

saya : hahah iya nih norak banget, padahal sebenernya kita ga akrab-akrab banget nih ya. thai boxing mempersatukan kita lah ini mah namanya

teman : iyanih. ngomonginnya tentang keluarga ini itu segala macem hahaaha

saya : aneh banget yah mana kita kebelet pipis, gue gapunya pulsa pula

teman : aduh iya nih kebelet banget, pulsa gue cuma pulsa sms hahaha. Tapi gue butuh nih kak pembicaraan-pembicaraan kaya gini

saya : becoming twenty ya? hahahha. i think twenty sumthin is just crazy, it’s kinda freak. but one thing at a time, we just have to take it easy.

teman : iya nih, becoming twenty soon. Butuh banget pembicaraan kaya gini, biar tahu kalo yang diurusin tuh masih banyak.

saya : eh, gue juga taun ini baru 20 lho

teman : serius? ah, masa sih? lo kelahiran 89 Kak?

saya : he eh. hehehe.

teman : ohh hahaha yayaya. Gue seneng banget nih pembicaraan kaya gini, biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu. Kaya tadi abis gue denger cerita-cerita lo tadi. Yah emang masih harus banyak belajar sih.

saya : yah, tergantung kita liatnya gimana sih.

Sekian cuplikan pembicaraan saya dengan seorang teman, lagi-lagi tentang keluarga. Kalau dikaitkan dengan sms teman dekat saya yang sebelumnya itu tentang makna keluarga. Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya yang dimaksud keluarga itu yang seperti apa. Kemudian kalau saya mengingat kembali kata-kata teman saya yang bilang “biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu” saya jadi berpikir.

Sangat berpikir.

Kalau yang dimaksud oleh sms teman saya dengan keluarga adalah keadaan dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, keluarga saya jelas samasekali tidak utuh. Seorang ayah, dengan 3 anak perempuan, tanpa ibu, jelas tidak utuh kalau dilihat dengan kasat mata. Ibu saya sudah tidak ada sejak saya lulus dari SMA, bertepatan dengan berakhirnya UAN SMA. Sudah 3 tahun lebih lamanya, dan sejak saat itu entah kenapa ayah saya belum menunjukkan tanda-tanda ingin memiliki pasangan lagi. Saya, sebagai seorang anak pertama dari 3 bersaudara perempuan semua, otomatis mengalami perubahan peran sejak saya lulus SMA. Walaupun peran tersebut memang tidak terlalu berubah secara signifikan sih, tapi terasa perbedannya.

Lalu muncul pertanyaan : apakah lantas *tsaaaah* hal ini membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Sekali lagi, saya memutuskan untuk menjawab, tergantung kita lihatnya dari mana.

Kalau dari masalah keutuhan keluarga, mungkin saya memang memiliki kekurangan dalam hal itu. Ada banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan dan oleh seorang ibu, tapi nyatanya tidak bisa saya dapatkan dalam keluarga saya. Banyak hal pula yang seringkali harus dilakukan oleh saya, atau justru ayah saya, bahkan harus kami lakukan bersama-sama melibatkan adik-adik saya juga.

Mungkin teman-teman berpikir, saya tidak punya teman bercerita mengenai hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan, seperti yang teman-teman bisa lakukan kepada ibu masing-masing. Saya tidak bisa meminta pendapat soal laki-laki yang ada dalam kehidupan saya dari sudut pandang seorang wanita dewasa yang paling mengerti saya. Saya tidak bisa minta pendapat kalau ingin belanja bahan kain, bahan masakan, atau jahit kebaya, beli baju, belanja, dan sebagainya. Saya tidak punya mentor pribadi dalam hal mengurus rumah, misalnya belajar memasak menu-menu baru, mengurus kerapihan rumah, mengurus administratif rumah tangga (hal-hal yang sebagian besar orang anggap sepele di jaman sekarang, namun buat saya masih penting untuk bekal menjadi seorang istri suatu hari nanti). Saya seringkali bingung bagaimana menghadapi adik-adik saya, mulai dari prestasi sekolah, mengambil rapot, mendengarkan mereka curhat, menghadapi emosi remaja mereka, mencoba meningkatkan rasa percaya diri mereka setiap kali mereka menghadapi kesulitan, dan pelajaran-pelajaran hidup lain yang mereka butuhkan untuk tumbuh dewasa.

Selain hal-hal teknis itu, terkadang ada juga perasaan-perasaan khawatir yang mungkin tidak dimiliki teman-teman yang mempunyai orangtua yang lengkap. Perasaan khawatir terhadap ayah saya yang tidak terbiasa menceritakan perasaan-perasaan maupun kesulitannya kecuali kepada ibu saya. Rasa khawatir yang seringkali berlebihan terhadap rencana pensiun ayah yang tidak kunjung jelas (yah mungkin karena beliau memang tidak terbiasa membicarakannya dengan anaknya). Rasa khawatir yang berlebihan terhadap kesehatan ayah yang tidak kunjung berhenti merokok dan malas berolahraga, sehingga untuk jogging saja harus setengah dipaksa (itu pun belum tentu berhasil). Perasaan tidak cukup berhasil menjadi contoh yang baik ataupun tempat bercerita bagi adik-adik. Dan kekhawatiran lain yang saya sebetulnya juga tahu bahwa seringkali munculnya secara berlebihan.

Apakah kondisi itu membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Saya kurang setuju. Walaupun kadang keadaan bisa berbeda dengan yang dialami oleh teman-teman saya, saya tahu saya tidak boleh mengeluh, dan memang saya juga tidak ingin mengeluh. Karena mengeluh justru menjustifikasi bahwa keadaannya memang buruk, padahal toh tidak buruk.

Saya selalu berusaha memandang posisinya seperti ini, anggap saja saya ini sedang latihan dalam menghadapi kehidupan *tsaaah*. Seperti yang teman-teman tahu, yang namanya kehidupan itu kan semakin lama akan menemui halangan yang semakin riweuh. Dulu, waktu SMP yang dipikir hanya gimana teman-teman bisa dapat nilai ulangan yang bagus atau bisa menang main CS waktu deadmatch lawan teman yang jago, sekarang harus mulai berpikir jenjang karir yang diminati dan menghidupi diri sendiri, belum lagi masalah cari jodoh. Semua itu adalah proses yang bertahap, dimana setiap tahapan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Namun, di sisi lain, dengan adanya latihan dari pengalaman yang sudah dilewati, disitulah persenjataan dan kemampuan kita juga semakin meningkat. Nah saya ini sedang latihan dengan program latihan yang agak sedikit berbeda dengan teman-teman yang memiliki orangtua yang lengkap. Otomatis, jenis pengalaman dan pelajaran yang didapat mungkin akan berbeda pula.

Kalau teman-teman bisa bertanya semua hal yang tadi saya sebutkan di atas itu kepada satu orang (ibu masing-masing), mungkin saya harus berusaha sedikit lebih keras dan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, misalnya tanya-tanya teman yang lebih berpengalaman, tanya ke orangtuanya teman, tanya ke saudara, tanya ke ayah (dengan cara yang sedemikian rupa), atau ya sok kreatif aja menyelesaikan sendiri. Lagipula, saya merasa banyak hal yang saya dapatkan kok dari pengalaman-pengalaman saya yang seperti ini. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu sifat ayah saya itu seperti apa, namun sekarang, kurang lebih saya mulai paham sedikit-demi sedikit. Sebelumnya saya tidak pernah tahu rasanya stres melihat nilai orang lain jelek, sekarang saya bisa tahu rasa cemasnya kalau adik saya dapat nilai jelek. Sebelumnya, saya tidak tahu administrasi rumah tangga, sekarang sedikit-sedikit saya mulai tahu, walaupun belum mampu menerapkan.

Sebelumnya, saya selalu menganggap ayah saya adalah pahlawan yang bisa melakukan semua hal, saya tidak pernah tahu bahwa beliau hanya manusia biasa yang bisa bingung juga seperti saya, seorang laki-laki dewasa yang sudah jadi ayah ternyata bisa minta diurusin juga, dan saya yang harus belajar untuk sabar dan mengalah. Walaupun seringkali saya masih sering mengomel dan mengeluh di belakangnya. Selain itu, saya juga jadi bisa (dan harus) tahu dimana ibu saya menyimpan semua perabot rumah tangga, seperti piring, kristal-kristal, dan sebagainya.

Perlahan, saya mulai belajar untuk lebih menghargai keluarga. Saya yang dulu tidak peduli dengan ritual keluarga dan selalu menganggap itu hanya bagian dari tradisi keluarga yang sebetulnya tidak penting-penting amat kemudian (harus) belajar untuk melihat lebih dalam apa makna dalam setiap tradisi keluarga tersebut. Saya yang sebelumnya jauh lebih egois dalam berkeinginan, belajar untuk lebih empati (terutama terhadap adik2) dan bersabar dalam pemenuhan kebutuhan pribadi saya dan dunia tidak berputar di sekeliling saya saja. Selalu ada orang lain, dengan kebutuhannya masing-masing.

Intinya, saya merasa saya banyak belajar hal-hal yang tidak akan bisa ditemukan dalam text-book kuliah manapun. Pelajaran yang hanya tumbuh dari pengalaman. Sesuatu yang mengajarkan saya untuk selalu berusaha bersyukur seperti apapun keadaannya. Dengan begitu saya percaya bahwa semakin banyak kita bersyukur, entah kenapa sebetulnya semakin banyak yang datang ke kita. Terdengar klise mungkin, tapi yang saya rasakan sih seperti itu. Mungkin semacam self fulfilling prophecy?

Selain itu, saya merasa orang-orang di sekitar saya selalu baik sekali sama saya. Saya dikelilingi orang-orang yang mengerti saya, dan sabar menghadapi saya. Keluarga inti saya contohnya, saya tahu, bahwa walaupun kami semua terkesan cuek satu sama lain dan becandaan orang rumah selalu absurd dan aneh, namun masing-masing dari kami memiliki misi untuk berusaha melakukan yang terbaik, dan mengeluarkan yang terbaik dari kami. Entah untuk siapa, mungkin bagi ayah saya, mungkin bagi adik-adik saya, mungkin bagi kita semua, mungkin bagi diri sendiri juga. Saya sendiri merasakan ikatannya semakin kuat antara satu sama lain, saya tidak tahu deh apakah adik-adik saya merasakan hal yang sama atau tidak.

Orang-orang yang baik ada di sekitar saya, saya ada di tengah-tengah teman-teman yang sangat menyenangkan, baik di saat susah maupun senang. Saya tergabung dalam PoPS dan SUMA, yang walaupun iklimnya berbeda, namun orang- orang di dalamnya  memberi saya pelajaran-pelajaran yang berharga. Bukan hanya soal teknis, namun juga konsep, dan juga soal hidup. Belum lagi keluarga besar saya, dan orang-orang lain yang nggak bisa saya sebut satu-satu.

Setiap keadaan hanyalah variasi bentuk yang ada di dunia. Di luar sana, masih ada teman-teman yang memiliki keadaan yang berbeda-beda dengan saya, dengan usaha yang berbeda-beda pula, lebih sedikit, maupun lebih banyak usaha yang dikeluarkan oleh mereka. Lagi pula sedikit atau banyak itu ukurannya siapa?

Pada akhirnya, saya bertanya pada diri sendiri, kenapa saya harus merasa tidak utuh?

Ketika saya ditanya bagaimana rasanya memiliki keluarga? Menurut saya, rasanya ya utuh saja, seperti apapun bentuk keluarga kita. Optimalkan saja apa yang sudah ada, raih kesempatan yang ada, buat kesempatan itu datang, kalau perlu (sebuah kalimat yang sampai saat ini masih saya coba pelajari dan terapkan dalam kehidupan nyata).

Mengingat usia saya dan teman-teman saya yang menginjak 20 tahun-an ini, saya hanya ingin bilang, jika kalian punya sebuah keluarga yang lengkap, utuh, dengan kedua orangtua dan adem ayem saja, just please, be grateful for that. For not every one of us gets the opportunity to do so.

with love,

- D! -

Kelakuan

In Tentang beragam hari on November 15, 2009 at 10:22 am

Insiden di tengah2 pertunjukan dance+psikusi psikologi UI di piastro 2009

terluka!

itu jari saya lho.

Setelah membuat beberapa orang bertanya-tanya di twitter (foto ini disebar ke twitter),

paku-pakuan2

wujud si paku yang menancap

wujud aslinya

itu adalah hasil temuan saya waktu nemenin Hario Iman Setyo, alias Pijo muter-muter Blok M Plaza

Harganya Rp.6000,00 saja di toko semacam valus2 gitu.

Barang yang ini tinggal satu-satunya, jadi saya merasa harus membelinya.

Maaf ya Silmy, Bila, Himsky, Shanna, Davin, Sistha, dan yang lain-lain.

ini semua adalah keisengan semata.

- D! -

Minggu 151109.

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi sisi melankolis on November 15, 2009 at 9:59 am

Pembicaraan pagi hari di twitter, setelah semalamnya menari dan menyanyi dengan puas di closing Piastro 2009 :

dubidupap : selamat pagi :)

DisaTannos @dubidupap : pagi mbak dhea.

mituuuuuun @DisaTannos @dubidupap : pagi cici disa dan mbak dhea

dubidupap : pagi cici @DisaTannos dan mbak @mituuuuuun. selamat kembali di dunia nyata

DisaTannos : 2006, tugas etika tuh soalnya apa ya?

muelita : pagi mbak @dubidupap mbak @mituuuuuun dan cici @DisaTannos. masih pagi udah etika aja auranya.

mituuuuuun @DisaTannos : si amir etis apa engga, sama hubungan moral sama agama kalo gak salah *males ambil binder*

dubidupap @muelita : aura gue konseling pagi ini.

DisaTannos : pagi mbak @muelita dan mbak @mituuuuuun. saya besok mau mengasingkan diri dari peradaban selama seminggu, makanya harus dikerjain sekarang.

(jeda sebentar)

 

dubidupap @mituuuuuun @DisaTannos : morning thought : seriously, do you guys don’t have any attractive male friend to  introduce to me?

mituuuuuun @dubidupap : hem. mmmmm. ngngng.

dubidupap @mituuuuuun : that means a NO, doesn’t it? (sigh)

DisaTannos @dubidupap : RT @mituuuuuun: @dubidupap hem. mmmmm. ngngng.

mituuuuun @dubidupapwell. you knew all my (male) friends and i guess you know that you knew all of ‘em, and you cant put any interest of ‘em i guess.

dubidupap @mituuuuuun : and you know that i get attracted to guy(s) (too) easily. so, who knows? i might get attracted to one of them hahaha.

(jeda sebentar)

 

dubidupap : pagi ini saya agak melankolis dan sendu knp ya? utk menanggulanginya, saya mau mengerjakan tugas saja (terdengar lbh menyedihkan)

DisaTannos @dubidupap : sesungguhnya saya juga mbak dhea, dari semalam tepatnya. kenapa ya?

dubidupap : rasanya ingin spt @DisaTannos & @nentii, seminggu penuh mengasingkan diri ke hutan utk siap2 psycamp. tanpa koneksi internet = damai

dubidupap @DisaTannos : mungkin karena kita tahu layangannya putus, tapi kita gatau harus diapain. mungkinkah?

DisaTannos @dubidupap : mungkin karena kita berpura2 jadi pihak yang mutusin layangan, padahal sebenernya bukan kita. mungkinkah?

mituuuuuun @dubidupap @DisaTannos : mungkin karena (menganggap) layangannya sudah (di)putus(kan) makanya jadi agak melankolis.

dubidupap RT @DisaTannos @dubidupap : mungkin kita berpura2 jadi pihak yg mutusin layangan, padahal sebenernya bukan kita.

dubidupap @DisaTannos : mungkin kita hanya sekedar kentang2 patah hati.

mituuuuuun : ngajar jam setengah 10 tapi jam segini masih di depan komputer. saya harus berangkat. semoga sukses dengan pagi ini, @dubidupap, @DisaTannos

mituuuuuun @dubidupap : yakin masih mau coba2 buat (siapa tau) get attracted sama temen gue? yakin?

DisaTannos @mituuuuuun : terimakasih bu guru. iya, mungkin aja begitu @dubidupap. *sigh*

(jeda sebentar)

 

dubidupap : mungkin saya harus bikin layangan baru, mungkin saya harus ganti tempat main, mungkin saya tdk butuh layangan sm sekali.

dubidupap : mungkin saya harus jadi eksportir bawang atau tukang ikan di muara karang saja (dapat untungnya banyak lho, saya pernah baca)

—————————————————————————————————————————————————

Sepertinya semua ini dampak bernyanyi dan menari terlalu semangat mengikuti alunan musik lagu-lagu The Banery malam sebelumnya di closing Piastro. Terutama lagu ‘Cemburuisme’ dan ‘Dia’. Belum lagi ditambah-tambah mereka membawakan lagu The Beatles ‘Twist and Shout’. Dilanjutkan di rumah kembali mendengarkan ulang lagu ‘Cemburuisme’ sampai tertidur.

Jangan sekali-kali dicoba. Dampaknya berbahaya.

- D! -

tentang unconsciousness

In Tentang beragam hari on November 12, 2009 at 3:28 pm

cuplikan chat log dengan Disa :

Dhea : hmm iyanih gue mulai merasa terganggu deh. Counter productive nih. Lagian, nggak seru aja kan di judge gara-gara tweet lo kan.

Disa : hmm iya sih ya

Dhea : coba deh Dis, gue mau coba nih nggak tweeting atau plurking atau gitu2 selama 2 hari besok

Disa : ahahaha yakin lo?

Dhea : yah biar sehat, tweet gue mulai ga sehat nih. i tweet not merely to express but to impress, and that’s not good.

Disa : ok

Dhea : Oke gue 2 hari ya. Kalo gue melanggar, lo yang tentuin hubungannya deh

Disa : ha?

Dhea : astaga maksud gue hukumannya, kenapa gue ngetiknya jadi HUBUNGANNYA sih? what is wrong with me??

Disa : huahahahhahahahahaha

Cuplikan pembicaraan tersebut saya tulis gara-gara baca tulisan smita yang ini.  Saya jadi ingat pembicaraan saya dengan Disa Tannos melalui media YM. Waktu itu kami bicara mengenai betapa situs-situs microblogging mulai merajahi kami dan membuat kami merasa itu adalah sebuah kebutuhan, dan kami (setidak-tidaknya saya) merasa terganggu dengan hal ini. Kan nggak lucu banget rasanya setiap hari harus tweeting, kalau nggak rasanya ada yang kurang, belum lagi kalau dipikir lagi, kegiatan tweeting yang saya lakukan bisa jadi sangat counter productive di tengah gegap gempitanya tugas dan kepanitiaan dan berbagai acara di bulan November bagi mahasiswa/i fakultas psikologi UI.

Lalu kami membuat sebuah pertaruhan, dalam hal ini, saya, karena sayalah yang paling merasa terganggu dengan kebiasaan tweeting ini, akan berusaha tidak tweeting, atau plurking, selama dua hari penuh. Saya juga tidak diperbolehkan mengganti status YM atau status Facebook. Intinya, saya tidak boleh melakukan kegiatan self disclosure apapun melalui situs social networking apapun. Namun saya masih diperbolehkan melihat2 tweets dari orang-orang maupun plurks dari orang-orang lain.

cuplikan ini dan tulisan Smita sebelumnya semakin meyakinkan saya, bahwa walaupun saya jatuh cinta dengan aliran psikologi  Humanistik, namun yang namanya Psikoanalisa itu tidak bisa ditinggalkan.

Sesuai yang dikatakan Smita , moral of the story:  your unconsciousness is WAY stronger than you could imagined. And it will make sure it’ll find its way out! Ah!

omong-omong, saya menang lho taruhannya.

- D! -

So?

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on November 12, 2009 at 2:55 pm

and after all the excitement’s gone,

i’m terribly scared.

i need to spill, for i don’t know what.

i need to weep, for i don’t know why.

- D! -

Ah, Layangannya Putus (?)

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on November 11, 2009 at 9:19 pm
s.3.web

ah, layangannya putus.

 

- D! -

I am from..(Saya adalah dari..)

In Tentang bertugas on November 4, 2009 at 12:07 am

sebelumnya, mari saya jelaskan dahulu bahwa tulisan di bawah ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah psikologi konseling. Berikut instruksi tugasnya :

Tujuan dari latihan ini adalah agar anda dapat melakukan self-disclosure sambil mengembangkan kreativitas emosi anda.
Ceritakanlah keadaan diri/ penghayatan anda sendiri dengan memakai kata-kata deskriptif yang menggambarkan perasaan dan penginderaan anda (sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa) dalam hal-hal berikut:

Paragraf 1: makanan favorit
Paragraf 2: pesan yang terus-menerus anda dengar dari orang tua
Paragraf 3: tradisi/ kejadian istimewa
Paragraf 4: seseorang yang menarik/ spesial yang anda kenal
Paragraf 5: suatu tempat di mana anda merasa aman dan damai
Paragraf 6: sesuatu item/ barang spesial yang tidak pernah akan anda berikan kepada
orang lain dan yang akan anda simpan sepanjang masa
Paragraf 7: sesuatu yang terjadi setiap hari
Paragraf 8: pemandangan yang selalu anda lihat setiap dalam perjalanan anda ke kampus/
tempat kerja
Paragraf 9: suatu tempat yang ingin anda datangi kembali (misalnya tempat berlibur, mal,
negara lain,dll)
Paragraf 10: sisi positif diri anda
Paragraf 11: sisi negatif diri anda
Paragraf 12: yang anda inginkan dalam hidup

Contoh paragraf 1 dalam bahasa Inggris:

I am from the sweet aroma of cranberry sauce that sits beside soft mashed
potatoes with tender seasoned turkey, and steaming stir-fried vegetables, drizzled
in warm gravy

Saya adalah dari harumnya fish and chips yang membuat perutkeruyukan.
Tekstur ikan halibut yang lembut warnanya yang putih membuat air liur
bercucuran. Ketang goreng yang crispy tetapi digigit lembut di dalam, membuat
pikiran melayang-layang untuk segera menikmatinya.

Contoh paragraf 9:

Saya adalah dari birunya langit yan disinari matahari lembut dan tiupan angin segar di pagi hari di Banff – suatu kota kecil yang sangat cantik di dalam lembah di antara bukit-bukit hijau. Jalanannya yang bersih dengan pot-pot bunga warna-warni menyentuh hati, memberikan rasa kedamaian dan ketentraman yang mendalam di hati.
———————————————————————————————————————————————–

Ini hasilnya :

Saya adalah dari lembutnya kue tiramisu yang dibuat oleh patissier dengan komposisi adonan yang seksama sehingga bentuknya yang unik pasti akan menggoda siapapun untuk mencicipinya. Paduan coklat yang manis dengan krimnya yang lembut akan membuat lidah siapapun bergoyang saat akhirnya memutuskan untuk mencicipinya. Saat mencicipi pun perlahan akan ditemukan rasa baru, pahitnya taburan bubuk kopi dan segarnya campuran susu yang menambah rasa baru dalam kue tersebut, menghadirkan kombinasi yang tepat untuk dikonsumsi.

Saya adalah dari kemandirian yang ada untuk tidak bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Rasa aman ketika dapat melakukan sesuatu tanpa harus tergantung atas kehadiran orang lain tersebut pada titik-titik tertentu member kepercayaan diri dan ketenangan. Melangkah kemana saja terasa mantap, namun tentu saja tidak dibiarkan terbawa dengan rasa takabur. Perasaan ringan tanpa harus membebani orang lain selama masih bisa dikerjakan sendiri.

Saya adalah dari membuncahnya smangat dan rasa ingin tahu saat menerima kado di hari ulang tahun kita. Melihat bentuk-bentuk yang tersamar dalam warna-warni bungkusnya yang menyenangkan dan semakin menggemaskan untuk dibuka agar segera tahu apa isinya. Lalu tiba saatnya membuka bungkusannya. Saat tangan berhati-hati untuk membuka kertas kado tersebut, selapis demi selapis. Pada robekan pertama mulai menebak apa isinya, namun tidak dapat terburu-buru agar tidak merusak yang ada di dalamnya. Pada robekan berikutnya, kita mulai mengintip apa yang ada di baliknya. Membuat rasa ingin tahu semakin meningkat untuk segera menguak seutuhnya walau terkadang bentuk awal bungkusan dapat menipu mata kita mengenai apa yang sebenarnya ada di dalamnya.

Saya adalah dari kuatnya rasa pantang menyerah (almarhumah) ibu saya. Walaupun terkesan keras dalam bicara dan cenderung temperamental, sbetulnya pesan yang ingin coba ditunjukkan adalah benar halnya dalam menjalankan hidup. Celotehan cerewetnya mengantarkan anak-anaknya mencapai mimpi-mimpi mereka. Sikap paniknya membuat kita semua terhibur walau sempat senewen juga.

Saya adalah dari luruhnya semua rasa dan rahasia ketika bersimpuh di atas sajadah untuk  bersujud di hadapan yang maha kuasa. Ketika itulah kesunyian adalah satu-satunya cara selain doa untuk mengungkap semua emosi dan sesuatu yang tidak dapat disampaikan lewat kata lewat berbagai media. Harapan demi harapan dengan segala kerendahan hati diutarakan kepada yang maha kuasa, saat itulah rasa bebas untuk bercerita, mengeluh, tertawa, bahkan menangis saat di tempat lain hal-hal semacam ini belum tentu dengan bebas dapat dilakukan.

Saya adalah dari heningnya sebuah lembaran foto, yang didalamnya menyimpan begitu banyak cerita. Begitu banyak hal yang tidak bisa disampaikan lewat kata, atau setidak-tidaknya belum mampu untuk disampaikan. Ketika foto menyampaikan cerita dan sejumlah emosi berharga, tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Ketika sebuah lembaran foto tanpa sadar membuat anda kembali mengenang, kembali menguak cerita dan mengungkapkan diri anda, sekali lagi tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Karena sesungguhnya dalam diamnya selembar foto, tersembunyi banyak pula informasi yang terkandung di dalamnya.

Saya juga adalah dari sinar matahari yang selalu hadir di setiap pagi. Mencoba menyapa setiap manusia sambil mengantarkan secercah semangat untuk menjalani hari. Walaupun terkadang dalam keadaan tertentu sinarnya terlalu panas, namun dengan hangatnya ia mencoba untuk meraih semua makhluk, bercengkrama dengan ramah mencari celah untuk menelisip masuk hingga ke balik bayangan-bayangan gelap. Namun, ada pula saatnya sinar matahari harus beristirahat, karena lelah mengelilingi hari dan berganti peran dengan sang bulan.

Saya adalah dari cepatnya laju kereta listrik yang setiap harinya hillir mudik pada jalurnya sendiri. Setiap harinya singgah dari satu tempat ke tempat lain, walau sesungguhnya polanya telah ditentukan. Meski polanya sudah ditentukan setiap harinya, namun petualangan yang dibawa tentu selalu berbeda karena penumpang yang dibawanya berbeda-beda dengan cerita yang beragam pula. Dinamisnya kereta tersebut tidak luput dari usahanya untuk senantiasa memelihara kerendahan hati dan kesederhanaan di dalamnya, saat kereta dengan setia mengantarkan mereka yang berkepentingan mencapai tempat tujuannya, demikian pula saat kereta menyediakan tempat bagi mereka yang membutuhkan rupiah untuk mengisi perut masing-masing, saat kereta menjadi obsever yang baik dan menyajikan potret kehidupan paling actual tentang hiruk pikuk kehidupan kota.

Saya adalah dari indahnya pantai dengan semilir anginnya yang membius. Riak-riak ombak kecil yang dengan riang menyapu bibir pantai seolah-olah membujuk kita untuk bermain-main bersama terlepas dari penatnya diri atas segala kesibukan yang ada di sekitar. Berjalan di atas pasir putihnya dengan kaki telanjang tentu menenangkan dan berbeda dengan rutinitas sehari-hari berlari-lari mengejar bis kota atau duduk dibalik kemudi dan menempuh perjalanan ke tempat kerja. Cuacanya yang terik juga mengajak kita untuk menikmati hari hingga senja dan tiba saatnya untuk memperhatikan tenggelamnya matahari di cakrawala.

Saya adalah dari luasnya rasa ingin tahu dan keterbukaan diri terhadap sesuatu yang baru. Fleksibilitas dalam penerimaan sesuatu yang baru yang mengantarkan manusia ke tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh individu itu sendiri. Membuat jantung berdebar dan otak bergrak cepat, kritis dalam menganalisis, sekaligus takjub terhadap segala sesuatunya yang terjadi di sekitar. Mengandung sedikit rasa takut dan berdebar-debar mengingat banyak sekali hal di luar sana yang menunggu untuk disingkap.

Saya adalah dari mengganggunya rasa tidak percaya diri yang seringkali membatasi diri dalam meraih mimpi-mimpi. Kecemasan tidak beralasan dan perasaan ketidakmampuan diri yang membuat orang kemudian menyembunyikan diri dari sesuatu yang mereka sebut diri sendiri. Rasa lemah yang mngecilkan diri sendiri dan tidak berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membuat rentang antara tempat tujuan dan dimana kita berdiri menjadi semakin jauh dan terhalangi.

Saya adalah dari tidak terdefinisikannya sebuah perasaan bahagia. Saat semuanya terasa cukup, tidak kurang tidak lebih. Saat senyum mengalir dari dalam dada, bersyukur terhadap semua yang ada, tanpa perlu merasa terlalu khawatir tentang hari esok. Rasa ringan saat memandang dan menghadapi segala sesuatu dengan ikhlas. Ketika damainya individu dapat berkata, rintangan selalu ada, oleh karena itu Tuhan ciptakan pula jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita mencarinya untuk mencapai bahagia.

jangan pada pingsan ya

- D! -

Silly thing(s) to fall for

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on November 1, 2009 at 11:39 pm

Atau, dalam bahasa indonesia, diterjemahkan menjadi ‘hal konyol untuk ditaksir’.

Teman-teman pernah punya pengalaman naksir atau setidak-tidaknya tertarik dengan lawan jenis karena hal-hal sederhana? Hal-hal yang biasanya bukan merupakan variabel yang penting dalam pertimbangan mencari pasangan; Bukan hal-hal seperti keahlian yang dapat dilakukan oleh lawan jenis tersebut, bukan pula kepintarannya, bukan pula latar belakang pendidikannya, bahkan bukan pula latar belakang ekonomi orangtuanya (yah setidaknya setahu saya hal-hal inilah yang umumnya menjadi pertimbangan kita dalam memilih pasangan, atau setidak-tidaknya untuk naksir dengan lawan jenis).

Hal-hal sederhana yang saya maksud di sini merupakan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak terpikirkan oleh kita, dan biasanya terjadi begitu saja. Oleh karena itu seringkali merupakan sesuatu yang konyol, nyaris bodoh. Hal-hal serupa seperti yang ada dalam adegan film The Ugly Truth ketika pemeran utama wanita terperangah dan tergelitik sedikit hatinya saat pemeran utama pria memesan ‘air keran’ di sebuah rumah makan, yang mana hal tersebut sama seperti kebiasaannya, dan sebelumnya ia selalu dianggap aneh karena mempermasalahkan bahwa memesan air keran pada dasarnya sama saja dengan memesan air mineral dalam kemasan karena air keran sudah melalui proses penyaringan yang menjamin higienitasnya blablablabla dan blablablabla. Hal-hal semacam ini.

Saya pernah.

Setidak-tidaknya sepanjang yang saya ingat saya pernah mengalami hal semacam ini satu kali. Saya naksir (atau setidak-tidaknya tertarik) pada satu orang laki-laki karena hal yang sangat sederhana, dan ditaksir karena hal yang sangat sederhana (oleh orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula). Berikut cerita singkatnya :

# Saya pernah tertarik sama cowok karena ia menuliskan nama panggilan saya dengan ejaan yang tepat.

Beberapa dari teman-teman saya yang kenal cukup dekat dengan saya mungkin tahu bahwa saya sangat jengkel jika ada orang yang menuliskan nama saya dengan ejaan ‘Dea’ tanpa huruf ‘H’ di antara huruf D dan huruf E. Mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hal yang sepele, namun tidak demikian halnya bagi saya. Bagi saya, nama adalah pemberian orangtua, sehingga harus dihargai. Oleh karena itu, saya juga berusaha untuk selalu menuliskan nama orang lain dengan ejaan yang benar. Saya mungkin bisa paham jika seseorang yang sebelumnya belum pernah melihat ejaan nama saya kemudian menuliskannya dengan kurang tepat, tapi ada juga lho orang-orang yang sudah jelas-jelas tahu seperti apa tulisannya masih saja salah menuliskannya. Bahkan beberapa orang masih tetap salah saat saya sudah terang-terangan bilang “Dhea ya Mbak, pakai H”.

Oke, saya mungkin terdengar neurotik jika membicarakan masalah ini.

Lalu suatu hari ada seorang cowok yang belum terlalu saya kenal, tepatnya kami baru berkenalan sehari sebelumnya demi sebuah kepanitiaan acara kampus. Saat itu, bagi saya, ia hanyalah senior saya di kampus, dan saya hanyalah mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa dan diajak untuk bergabung ke dalam suatu kepanitiaan. Tidak ada kesan yang spesial bagi saya mengenai cowok itu selain saya pikir orangnya (terlalu) banyak bicara dan penampilannya seperti anak gaul kebanyakan. Sepertinya orangnya seru untuk diajak berbincang lebih lanjut karena ia membuat saya tertawa atas lelucon-lelucon garingnya sore itu. Lalu ia bilang “besok nama lo berdua gue tulis di pakom ya langsung”. Saat itu yang ia maksud ‘lo berdua’ adalah saya dan teman saya yang justru awalnya diajak bergabung dan baru kemudian mengajak saya. Intinya, saya awalnya hanya embel2 saja.

Keesokan harinya, saya kebetulan bertemu dengan cowok ini saat ia menuliskan nama kami di pakom kepanitiaan. Dia menulis “Dhea” dengan sempurna. Spontan saya tersenyum luar biasa senang entah kenapa. Lalu dengan spontannya berujar “Haaah! Lo nulis nama guenya beneeeerr! Pakai huruf ‘H’! Seneng deh hehehe”. Dia hanya tertawa, “hahahah iya ya? bukannya emang biasanya gitu tulisannya?”. Lalu saya mengangkat bahu, saya bilang nggak banyak orang yang nulisnya langsung bener seperti itu, apalagi sebelumnya toh dia belum pernah melihat tulisan nama saya.

Saat itulah saya tahu bahwa oke, saya tertarik dengan cowok ini. Bahasa berlebihannya, he has something. Kemudian, saya tidak tahu seperti apa prosesnya, yang jelas saya sangat terkesan dengannya hari itu dan kemudian saya jadi banyak mengobrol dengannya karena kebetulan saya dan dia juga memiliki  kesamaan dalam beberapa hal.

Demikianlah salah satu contoh bagaimana saya bisa semudah itu tertarik dengan orang lain. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga bahwa kemudian banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemenarikan diri dari cowok ini. Namun awalnya semua bermula dari penulisan nama yang tepat. Cerita selanjutnya? Hemm saya rasa akan keluar konteks kalau saya tuliskan di sini hehe.

# Ada cowok yang pernah tertarik sama saya karena  saya suka komentar soal gambarnya dan saya meminjamkan pensil mekanik milik saya waktu dia nggak punya pensil

Nah, kalau cerita yang ini lain lagi. Kejadiannya waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Cowok ini adalah salah satu dari sekian teman les bahasa inggris saya. Sebetulnya, awalnya saya rasa saya yang tertarik sama cowok ini, karena memang menarik saja di mata, terus tipe cowok yang pendiam lucu gitu, menarik sekali. Selain itu, dia suka menggambar di meja kelas, yah termasuk tindakan vandalisme sih memang, cuma gambarnya sangat menarik dan saya suka curi-curi lihat kalau dia lagi gambar diam gitu tidak menyimak apa yang disampaikan di depan kelas. Sekali waktu saya berkesempatan duduk di sebelahnya dan mengintip gambarnya dan berkomentar “wah gue suka deh liat gambar lo. menarik!”. Sudah, interaksi selanjutnya hanya perbincangan mengenai hal-hal yang ada di permukaan, seringkali hanya seputar tempat les itu sendiri. Kalau bertemu juga hanya bertegur sapa saja, tidak ada sesuatu yang signifikan selama kami les.

Saya duduk di sebelah dia hanya dua kali selama kami les berbulan-bulan lamanya. Pertama, waktu saya mengomentari gambarnya. Kedua, waktu sedang berlangsung tes pertengahan tingkat. Pada saat inilah dia terlihat kelimpungan tidak membawa alat tulis. Saya sebagai manusia normal yang juga makhluk sosial, yang juga kebetulan pada saat itu punya alat tulis lebih, akhirnya menyodorkan pensil mekanik milik saya “nih. pakai aja”. Demikian, interaksi tatap muka saya memang sangat terbatas. Interaksi selanjutnya, yang juga merupakan interaksi tatap muka yang terakhir antara saya dan dia adalah saat ia mengatakan bahwa ia akan berhenti les, karena ingin konsentrasi ke bimbel untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi (saat itu ia kelas 3 SMA). Ketika ia bilang begitu, saya spontan berkata “ah serius? yah ga seru dong gabisa ketemu2 lo lagi sambil liatin lo gambar hehehe”.

Kemudian, sudah begitu saja. Saya pun tidak memikirkannya lagi sama sekali, lewat begitu saja selama beberapa bulan setelahnya. Sampai suatu hari ia mengirimkan sms kepada saya, menceritakan bahwa ia sudah punya kampus, menanyakan kabar dan bincang-bincang ringan lainnya. Saya kira ia memang menanyakan kabar semua teman sekelasnya waktu les dulu, tapi ternyata tidak. Kami lalu sms dan sms, sampai suatu hari dia bilang “lo tau kapan gue mulai merasa tertarik dan enak ngobrol sama lo?” Saya jelas tidak tahu. Lalu ia bilang “Gara-gara lo dulu secuek itu, dengan santainya komentarin gambar orang yang lo gak deket2 amat hahaha, terus tau2 sok2an mau pinjemin pensil lagi. kocak banget tau. itu menarik”.

Terus terang saya agak bengong juga dengarnya.

Nah, demikian sedikit cerita dari saya. Hal-hal seperti ini bisa terjadi dan datang kapan saja dan dimana saja. Saat dimana kita justru tidak kepikiran, saat kita lengah dengan perhitungan variabel-variabel yang menjadi tolak ukur dalam mencari tambatan hati, ada aja hal-hal yang ga diduga dan tiba-tiba bisa membuat kita sebegitu terkesannya akan hal-hal kecil yang terlupakan. Lucu memang.

Nah, bagaimana dengan kalian? Apa kalian pernah memiliki pengalaman yang kurang lebih sama? Saya ingin tahu, karena cerita-cerita seperti ini akan jadi unik sekali. Bagi-bagi cerita ya :)

- D! -

Take the (bloody) risk?

In Tentang bermacam sumber inspirasi on November 1, 2009 at 9:09 pm

I don’t do reblog actually, but this one is interesting. At least, for me.

This one came from Nadia Ikayanti :

 

Our brain’s got two hemispheres : left and right. We use our left brain to think objectively, focusing on logical/rational analysiscalculation, etc while right brain does its role on imagination, intuition, aesthetics, creativity, and feeling. Everyone’s got their preference in using which part of their brain.

As individuals grow up and get to face this so-called “Reality” everyday, they tend to use their left brain while downplaying the right-one. Schools teaching system also got its role on this preference.

SO ANYWAY. . .

Do you remember when you’re in JHS or HS? Dating is as simple as ABC. You guys like each other and decide to be an item. If you don’t feel like one anymore, then it’s over. That’s that. We use our right brain this case

It’s totally different nowadays. When it comes to our ages now, we use many calculation in choosing partners. Oh she’s a Ph.D from Oxford, his annual salary’s IDR 500 mio, he’s got his own company, I could have a steady life with him, what? her GPA’s only 2,5?? blah blah.

It’s definitely not a sin to have those kinda thoughts. I mean, we all know love can’t pay the bills rite? ;p

But what if it’s like this :

You waste a good chance with someone that makes you feel comfortable and peaceful just because he/she hasn’t finished his/her degree? Or you try so hard to stay in a weary relationship with someone who disrespect you for he/she’s good looking and (probably) got a promising future compared to others?

Can you say “I’m happy” ? Go ask yourself.

We, sometimes, forget to “listen to our heart” or (I may define) “think with our right-brain”.

Just follow your feeling and intuition

. . . and take the bloody risk.

———————————————————————————————————

I responded with this :

I use my corpus callosum which connects both hemispheres to find love (ok i know, i read to much on neuropsychology). Just kidding.

ah senang sekali di-tag! Hahahaha. I would love to take chance on love though, Nad.
Thankyou for the inspiration :)

what about you guys?

- D! -

spill of the toughts

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on October 31, 2009 at 12:50 pm

I just have to say this in all of a sudden :

finding (new) love in my campus is nearly impossible


WHY?

since they keep switching lover(s) with each other.

which is crazy,

in my humble opinion.

there, said and done.

- D! -

konspirasi (pt.2)

In Tentang beragam hari on October 23, 2009 at 10:56 am

“SORRY YOU ARE LOOKING FOR SOMETHING THAT ISN’T HERE”

tulisan yang muncul pas klik-klik link sewaktu blog-walking pagi-pagi

bahkan html pun berkonspirasi.

hehehe.

- D! -

chat facebook

In Tentang beragam hari on October 22, 2009 at 10:14 pm

(waktu lagi cari-cari jurnal online)

puk!

*bunyi chat facebook*

A : Dhe

D : Ya? *sambil melihat, ohh teman lama, tapi lupa ini teman yang mana ya*

A : pakbr Dhe?

D : Baik. Lo apakabar? *sudah mulai tahu orangnya*

A : Baik hehe. gy dmana ni?

D : Kosan nih

A : Hehe. Klo kuliah suka bawa bekal sndiri ky jaman SD nggak Dhe?

D : Hehehehe ya nggak juga sih Nji, sekarang makannya di warteg *memutar bola mata*

A : ohh masa ciih Dhea makan warteg?

D : Hehe

A : Lagi chat sama O*** jg Dhe?

D : Hemm. Enggak tuh

A : Lho kenapa? Kan dy lagi sm2 online. Sekalian silahturahmi

D : Hehe. Lagi ngerjain tugas nih Nji, ini sebentar lagi off facebook *berpikir: salah banget ini online facebook*

A : Ohh tugas y. Calon y, obatnya orang stres apa sih Dhe?

D : *shit ini paling nyebelin* Hemm gue nggak bisa kasih resep, bukan psikiater soalnya, psikolog.

A : Oh beda y?

(lama nggak jawab, nemu jurnal yang menarik)


A : wah kmna ini orang ketiduran ya, woy Dhe

D : ohh sori Nji, ini koneksi internet nya jelek banget putus-putus nih

A : Oh gitu. Bapuk sih wkwkwkwk

D : Hehe

A : Dhe,mo dbantu tgas na?

D : Tugas yang mana ya? *oke, dia bahkan tak tahu beda psikolog dan psikiater*

A : Lh,emg gy ksong? Udahan tgas na?

D : ya ini sambil sih haha

A : nh tu dya.

A : Rajin kale ibu yg satu ini..
Hahaha..

D : hahaha mau gimana lagi dong kan namanya tugas *mencoba seramah mungkin*

A : haha iy d

D : :D *gatau mau ngomong apa lagi*

dengan ini, saya berjanji tidak akan mengajak orang chat secara random lagi,

karena rasanya bisa jadi sangat tidak enak kalau kalimat pembukanya JELEK.

- D! -

Perbincangan sore dan eklektisme

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on October 22, 2009 at 8:46 pm

Saya sangat suka (sore) hari ini.

Hari ini saya memiliki banyak waktu luang untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang. Kesempatan berbincang-bincang santai ini sangat jarang saya miliki dengan semua hiruk-pikuk kuliah dan kerjaan-kerjaan yang saya miliki. Perbincangan saya dimulai dengan berbagi cerita dengan teman saya Pijo, dan Ramadion, yang mana sangat saya nikmati. Kedua orang ini sudah sangat jarang sekali ketemu dengan saya, kebetulan keduanya sedang sibuk mengerjakan skripsinya demi lulus semester ini.

Pembicaraan berlanjut ke curhat salah satu dari kami mengenai pasangannya (yang jelas bukan saya, berhubung saya sedang tidak terlibat dalam sebuah hubungan romantis pun, seperti yang kalian ketahui). Setelah curhat panjang lebar, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa ketika kalian sudah berada di luar hubungan romantis dan melihatnya dari kacamata orang luar, segalanya terasa lebih mudah. Seperti yang saya lakukan tadi, enak aja gitu kasih saran ini itu. Padahal saya sendiri sadar, bahwa situasinya yang sedang dibicarakan teman saya tersebut, sama persis seperti yang saya rasakan dulu, dalam hubungan saya sebelumnya. Jadi saya hanya lebih banyak tertawa, dan ditertawakan oleh Pijo dan Ramadion. “Dasar menye-menye lo Cupu!!” demikian katanya. Yasudah saya memang cupu, apa mau dikata, yang penting saya sudah belajar sesuatu.

“The most crucial mistake(s) of a relationship is being insecure and lack of communication”

Yeah. Tell me about it.

Setelah selesai curhat, akhirnya teman-teman saya bubar, lokasi perbincangan berpindah ke kantin lama. Kali ini teman berbincangnya adalah Cantika Marlangen, teman seperjuangan saya, dan Mas Ivan Sudjana dosen saya yang memang jadi teman berdiskusi kalau lagi ingin duduk berlama-lama di kantin. Karena saya baru saja mendapatkan insight dari pembicaraan sebelumnya, saya langsung berbagi dengan mereka. Mas Ivan hanya senyum-senyum saja waktu saya bilang dengan gamblang “ah, pacaran itu sulit ya Mas, banyak yang mesti dikompromikan, dibicarakan, ditoleransi, ditahan, mesti banyak sabar dan dewasa”.

Pembicaraan kemudian berloncatan, sampai akhirnya masuk ke suatu pembahasan mengenai skripsi dan proses penelitian. Hingga kemudian saya mencetuskan pertanyaan berdasarkan bahan ujian konseling kemarin,

Lho, jadi eklektisme dan sintesis itu sama atau beda Mas?”

Sebelumnya, saya jelaskan dulu bahwa eklektisme ini kaitannya dengan penggunaan teori oleh seorang konselor. Seorang konselor dapat menggunakan satu teori tunggal alam pendekatannya mengahadapi klien, tetapi dapat juga menggunakan teori yang eklektik, berarti mencampurkan beberapa pendekatan, mengintegrasikan beberapa pendekatan (Lesmana, 2006).

Saya sendiri masih bingung dengan konsep ini karena menurut saya agak rancu dengan konsep sintesis. Namun, Mas Ivan menolak bahwa sintesis dan eklektisme merupakan suatu proses yang sama. Menurut Mas Ivan, dalam sintesis yang dilakukan adalah mengambil beberapa bagian dari beberapa teori lalu menggabungkannya menjadi satu, namun, kita masih dapat melihat bagian-bagian dari masing-masing unsur asal teori itu, misalnya konsep dasarnya, dan sebagainya.

Namun, sintesis sendiri lebih terintegrasi jika dibandingkan dengan sekedar membuat kombinasi. Karena kombinasi sendiri pada dasarnya tidak menggabungkan menjadi satu, namun lebih kepada mengelompokkan beberapa unsur berbeda untuk kemudian berfungsi bersama. Dalam kombinasi justru unsur-unsur yang ada masih jelas terlihat, hanya dipadu padankan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik.

Sedangkan eklektisme tidak begitu.

Menurut Mas Ivan, eklektisme tidak terikat terhadap suatu landasan konsep tertentu, sehingga ketika ada beberapa unsur dari berbagai konsep diintegrasikan menjadi satu, bagian-bagian dari masing-masing unsur tersebut sudah tidak dapat dilihat lagi saking sudah menyatunya menjadi sesuatu yang baru dan berdiri sendiri. Tanpa terikat kepada unsur-unsur asalnya. Dengan tambahan, kita, yang melakukan eklektisme ini sendiri sudah harus paham betul terhadap seluk beluk dari tiap teori yang hendak kita integrasikan, sudah mengevaluasi sampai sangat dalam dalam setiap komponen teori tersebut, positif dan negatifnya, penerapannya, serta segala sesuatunya. Bahasa gampangnya, sudah ngelotok. Sehingga kita tahu mana yang harus kita integrasikan, mana yang tidak.

Ketika usaha saya dalam mencari penjelasan mengenai eklektisme ini dengan menggunakan istilah antropologi akulturasi dan asimilasi, ternyata konsepnya tidak bisa disamakan. Lebih-lebih lagi ketika mencoba menjelaskannya dengan konsep kimia atau eksakta, sekaligus pula ujungnya akan semakin membingungkan saya. Saya, dengan kemampuan kognitif sederhana, akhirnya mencari cara yang lebih sederhana :

“hemm, gini deh ya Mas, misalnya kombinasi yang tadi Mas Ivan bilang itu adalah sejenis cemilan sore hari, maka dia itu adalah pisang gencet coklat keju menurut gue. Itu kan nama suatu makanan, tapi masing-masing komponennya masih kelihatan jelas lho, kita bisa lihat pisangnya, cokelatnya, dan juga kejunya. Mereka dipadu padankan menjadi suatu jenis makanan baru yang enak lho.”

Mas Ivan mengangguk-angguk.

Saya melanjutkan,

” oke, kalau gitu sintesis, kalau gue bayangkan dia sebagai cemilan sore hari, maka dia itu adalah pancake Mas! Karena pancake kan sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang mana kita nggak bisa lihat komponen-komponen adonan aslinya kan? Kita nggak bisa lihat telurnya, tepungnya, susunya, dan adonan lainnya. Cuma, kita masih tetap merasakan masing-masing komponen itu, kita masih bisa merasa bahwa ada kandungan susu di dalamnya karena manis, lalu ada sedikit serat dari tepungnya, nah yang bikin ia mengembang dan itu kita tahu adalah telur”.

Mas Ivan tampak setuju. Kemudian saya kembali bertanya

“Terus, kalau eklektisme itu cemilan sore hari, maka dia itu apa dong Mas? Masih nggak ngerti nih”

Mas Ivan kemudian berpikir agak lama. Cantika tidak bisa membantu.

Akhirnya, setelah terdiam agak lama, mas Ivan angkat bicara

“Susah juga kalau makanan ya. Gini aja deh, lo tadi bilang pacaran itu susah, butuh toleransi lah, kompromi lah, komunikasi lah, buat menyatukan dua orang yang sama sekali beda, iya kan? Nah, coba bayangkan bahwa orang yang pacaran itu adalah kombinasi, kemudian yang sudah sampai tingkat bertunangan itu adalah sintesis, dan orang yang sudah menikah sekian tahun itu adalah eklektisme“.


Saya bengong.

Lalu kemudian pembicaraan segera meloncat ke Bruce Lee.

dan saya pun masih kepikiran sampai malam ini.

- D! -

Daftar Pustaka :

Lesmana, Jeanette Murad. 2006. Dasar Dasar Konseling. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)

Deep thoughts (or what’s left from it)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bersaudara dan keluarga on October 22, 2009 at 2:09 am

Saya berpikir agak dalam malam ini. Tentang banyak hal, tentang konsep diri, tentang teman-teman, tentang kuliah, keluarga, sampai akhirnya, tentu saja masa depan saya nantinya.

Kemampuan berpikir mendalam adalah kemampuan yang tidak pernah saya miliki dari dulu sampai sekarang, menurut saya. Karena berpikir secara mendalam, terutama tentang diri saya, dan masa depan, membuat saya paranoid.

The future freaks me out, yes it is.

Hasil dari pemikiran mendalam saya malam ini hanya satu :

Saya kangen sekali dengan Ibu.

- D! -

Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca (bagian 2).

In Tentang berbagi isi kepala on October 21, 2009 at 8:48 pm

(lanjutan ~emo tweet)

SIAPA SAJA YANG TERLIBAT DALAM PEMBUATAN ~EMO TWEET (WHO)

Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja orang yang bisa terlibat dalam produksi ~emo tweet ini? Apakah dari kalangan usia tertentu? Ataukah dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi tertentu? Apakah ada karakteristik tertentu dimana ada orang dengan kepribadian tertentu lebih cenderung untuk memproduksi ~emo tweet? Ataukah pengaruhnya terletak pada gender? Apa perempuan lebih produktif dalam menghasilkan ~emo tweet bila dibandingkan dengan laki-laki? Sejauh ini memang belum ada penelitian yang meneliti hal ini (atau setidak-tidaknya saya belum berhasil menemukan jurnalnya), namun berdasarkan hasil observasi kecil-kecilan saya, semua orang bisa saja membuat ~emo tweet.

Dengan adanya kenyataan bahwa semua orang bisa saja memproduksi ~emo tweet apa lantas pantas menyebut ~emo tweet ini sesuatu yang salah? Hei, saya tidak pernah bilang ~emo tweet ini salah lho teman-teman. Saya disini hanya mencoba mendeskripsikan sebuah fenomena dan mencoba menguliknya dari sudut pandang saya. Tidak ada yang salah dengan ~emo tweet karena sekali lagi, cara orang mengekspresikan dirinya itu berbeda-beda dan sangat beragam.

Kembali pada kenyataan bahwa ~emo tweet dapat diproduksi oleh siapa saja, maka teman-teman sekalian, termasuk juga saya mungkin (atau pasti?) pernah membuat ~emo tweet karena pada dasarnya toh manusia memiliki berbagai emosi dan makhluk sosial yang membutuhkan tanggapan orang lain, ~emo tweet juga salah satu bentuk komunikasi lho. Yang berbeda adalah kuantitas masing-masing orang dalam menghasilkan ~emo tweet ini.


BAGAIMANA CARA MENGOLAH ~EMO TWEET? (HOW)

Melihat maraknya fenomena ~emo tweet ini, saya jadi penasaran. Apakah ada cara-cara tertentu untuk mengolah ~emo tweet ini menjadi sesuatu yang lain, atau menarik, sehingga pola di timeline kita tidak itu-itu saja (dan dalam kasus saya, supaya saya tidak ditertawakan oleh teman-teman saya jika ketahuan curcol di situs microblogging). Akhirnya setelah mengulik-ulik dan berdasarkan beberapa kali observasi mendalam sekaligus percobaan langsung di timeline twitter, saya menemukan beberapa cara yang mungkin bisa teman-teman coba untuk membuat variasi terhadap ~emo tweet saat sedang penuh emosi dan di depan mata ada fasilitas online. Jangan sampai terjebak untuk selalu konsisten memprouksi ~emo tweet teman-teman! Berikut cara-cara alternatif ~emo tweet. Jika anda ingin membuat ~emo tweet, maka :

1. Jangan online sama sekali (jauhkan semua fasilitas yang memungkinkan anda untuk online)

Prinsip utama menghindari munculnya ~emo tweet tentu saja dengan tidak online sama sekali. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, ketika sedang diliputi emosi yang luar biasa dan dihadapkan pada fasilitas online, yang ada saya rasanya ingin memaki-maki dan menumpahkan saja semua yang ada ke dalam situs jejaring sosial tersebut. Keadaan ini tentu saja sesuatu yang dapat merugikan dan dalam titik-titik tertentu ketika emosi kita sudah mereda lalu membaca ulang apa yang kita tuliskan sebelumnya, tidak jarang kita akan merasa menyesal dan malu telah berlaku gegabah seperti itu. Akan sangat lebih baik jika sedang dirundung emosi, sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu, luapkan dulu emosi di tempat lain, lampiaskan pada bantal misalnya (saya kalau lagi marah sekali atau sedih sekali biasanya nangis beralaskan bantal sampai tertidur, menghindari agresivitas terhadap orang lain). jauhkan laptop, hanphone, BB, dan segala fasilitas online lainnya. Atau, supaya masalahnya bisa cepat selesai ya langsung saja dihampiri itu sumber permasalahannya jikalau memungkinkan.

Jika memang terpaksanya teman-teman sekalian tetap harus online saat sedang dirundung emosi, katakanlah saja kegiatan pembelajaran atau pekerjaan teman-teman memang diharuskan berhubungan dengan internet senantiasa, maka sebisa mungkin jauhkan diri dari godaan untuk membuka situs-situs microblogging atau social network apapun. Jauh lebih aman untuk segera membuka blog teman-teman masing-masing, atau curhat lah secara in person kepada teman-teman melalui fasilitas YM, MSN, dan BBM.

2. Samarkan ~emo tweet dengan mengutip lirik lagu atau quote(s) inspiratif

Oke, saya akui, tips yang pertama memang agak sulit untuk direalisasikan mengingat masing-masing dari kita sekarang ini selalu dikelilingi oleh internet dimanapun dan kapanpun kita berada. Oleh karena itulah saya menghadirkan tips berikutnya dalam menghindari jebakan ~emo tweet. Tips yang ini cukup mudah dan elegan, dalam beberapa kesempatan bahkan dapat menghadirkan kesan bijak  dan cerdas. Carilah lagu yang sesuai dengan keadaan emosi saat itu, lalu segera tuliskan potongan liriknya di timeline twitter atau plurk teman-teman sekalian. Misalnya, saat saya sedang bingung ngga tahu lagi apa yang harus saya lakukan dan semangatnya agak-agak menurun, maka saya akan tuliskan potongan lirik ‘Let It Be’ dari The Beatles.

Selanjutnya adalah dengan cara mencari quote-quote inspiratif. Ah kalau yang satu ini saya yakin teman-teman juga sudah lihai alam melakukannya. Quote ini bisa diambil dari mana saja, baik filsuf jaman dahulu kala ataupun dari film dan buku terbaru abad ini. Saya sendiri juga senang mengutip kata-kata yang diucapkan oleh teman-teman saya, misalnya saja salah satunya dari Smita Prathita, yang mengatakan gampang cinlok boleh, gampang mentok jangan“. Menurut saya pribadi, dibandingkan tips-tips berikutnya yang akan saya berikutnya, tips nomor dua ini adalah yang tingkat kesulitannya paling mudah untuk dikerjakan karena tinggal ‘gunting tempel’ dari berbagai sumber. Jangan lupa untuk senantiasa mencantumkan sumbernya.


3. Jangan lupakan prinsip, ‘less is always more’

Tips selanjutnya ini sebetulnya cukup mudah dan sangat ringkas untuk dilakukan. Hanya saja, kita seringkali terjebak dengan sesuatu yang sangat singkat ini sehingga kata-kata yang sangat singkat seringkali mengandung muatan emosi yang berlebih. Prinsip less is always more ini dapat diterapkan dengan cara sekedar menuliskan smiley yang menggambarkan perasaan saat itu, atau sepatah dua patah kata yang menggambarkan kondisi emosi saat itu. Misalnya kalau lagi marah, ya cantumkanlah smiley marah atau memble (tapi kece) seperti :( atau kalau sedih :’(

Sedangkan untuk penggunaan sepatah dua patah kata juga sebaiknya perhatikan pemilihan katanya. Seringkali karena terlalu emosi, kita menggunakan pilihan kata yang tidak enak dilihat, misalnya kata-kata kasar. Hal ini mengurangi ke-eleganitas-an dari tweet kita teman-teman (serius ya, saya bahkan nggak tahu apakah benar-benar ada istilah ‘eleganitas’). Saya sendiri, berhubung memiliki resolusi tahun 2009 untuk mengurangi penggunaan kata-kata kasar dalam interaksi sehari-hari, lebih suka mencari subtitusi dari kata-kata kasar yang sering digunakan orang sebagai makian. Misalnya, kata-kata seperti “a***ng!” atau “b**i!” akan saya subtitusi menjadi “kecebong!” atau “kardus!”. Tips ini terinspirasi oleh kebiasaan interaksi beberapa teman saya yang polanya aneh, tapi menyenangkan, seperti Muhammad Nuradi Akhsan psikologi 2002 dan Nova Jono psikologi 2004. Selain itu, salah satu cara penggunaan prinsip kata-kata singkat ini yang menarik juga datang dari seorang teman saya, Ramda Yanurzha, yang menggunakan hanya huruf ‘F’ saja untuk memperhalus ‘F**k’. Walaupun sebetulnya toh kita semua juga tahu maksudnya apa, setidaknya kan terdengarnya lebih santun ( tadinya saya mau pilih kata-kata ‘manis’, takut orangnya protes). Kata-kata lain yang bisa dipilih antara lain : “ah gempa deh ini” atau “badai”. Oke, saya akui yang kata-kata yang terakhir itu luar biasa,

norak.


4. Buatlah analogi dan pantun

Ha, yang satu ini adalah sesuatu yang sedang saya pelajari lebih lanjut, karena menarik sekali. Tips ini tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan tips-tips sebelumnya karena memerlukan kemampuan abstraksi dari masing-masing orang. Teman-teman saya sendiri sepertinya sangat lihai untuk menggunakan hal ini. Saya mungkin tidak dapat menuliskan semuanya, namun beberapa bisa teman-teman simak di tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Demam Analogi” untuk melihat bagaimana contoh penggunaan analogi yang piawai dan mengandung humor-humor segar yang menghibur. Dengan menggunakan analogi, curhatan kalian tidak akan terlihat gamblang dan polos, namun mengandung sedikit ambiguitas. Menurut saya sendiri ambiguitas ini bisa menguntungkan, biasanya yang bikin penasaran itu yang asik :p

Masalah pantun ini juga sebetulnya menarik, namun penggunaan pantun ini digunakan jika kalian ingin mengubah sesuatu yang menekan menjadi sesuatu yang berlandaskan humor (walau terkadang norak dan kampungan). Saya sendiri beberapa kali menggunakan cara-cara ini. Misalnya, untuk stressor UTS, saya membuat pantun “jalan ke magelang sambil kayang, UTS menjelang semua mabuk kepayang”. Percayalah, saya juga tahu bahwa ini garing luar biasa. The name so called effort (namanya juga usahaaaaa). Mungkin teman-teman yang tidak sekampungan saya bisa mempunyai pasokan pantun yang jauh lebih berkualitas daripada punya saya.


5. Buatlah sebuah karya sastra

Karya sastra yang saya maksud disini bukanlah suatu novel atau puisi yang sangat berbobot. Namun lebih kepada sesuatu yang mengandung kata-kata yang berima, enak dibaca, dan analogi-analogi yang menggunakan majas-majas. Saya sendiri merasa saya tidak terlalu pintar bermain dengan kata-kata seperti ini, saya rasa adik saya yang kuliah di fakultas sastra mungkin lebih fasih bermain dengan kata-kata. Sebetulnya tidak perlu kata-kata yang terlalu rumit juga, tapi sesuatu yang bisa membuat orang agak terdiam waktu membacanya. Sekali lagi, sedikit berpikir dan mencerna ambiguitasnya. Karena untuk yang satu ini dibutuhkan kemampuan yang cukup tinggi, saya rasa tidak banyak orang yang bisa membuat curhat colongan dengan kata-kata indah tanpa terdengar terlalu murahan. Ada satu yang bisa saya jadikan contoh yang berasal dari teman saya Ayura Pramadhita, Psikologi Atmajaya, 2006. Ia membuat kata-kata yang membuat saya kaget saat ia membicarakan soal pacarnya Davin Fabian , yang sedang menuntut ilmu IT di Taiwan dengan giatnya. Pasalnya, (tsaaah), teman saya yang satu ini sangat cuek dan tidak pernah bergelut dengan dunia ‘kemenye-menyean’.

Berikut kata-katanya saya kutip : “He, the color-blind man, has colored my world so brilliantly.”

Saya pikir ini sangat manis, tanpa terkesan murahan. Maksudnya pun tersampaikan. Pacarnya pasti senang :)


5. Buatlah penyebab ~emo tweet kalian itu sebagai suatu games atau permainan

Nah, buat saya yang tips yang terakhir ini sangatlah menghibur. Selain bisa menyalurkan emosi dan meringankan tekanan yang dialami, cara yang terakhir ini menurut saya juga menyenangkan sekali, karena melibatkan partisipasi dari orang lain. Buatlah sumber tekanan yang kalian alami menjadi sesuatu yang menyenangkan walaupun sulit. Kalau masih belum terbayangkan juga caranya, mari saya coba berikan contoh dari pengalaman saya sendiri. Waktu itu saya sedang pusing-pusingnya dengan skripsi karena siang sebelumnya saya habis bertemu dengan pembimbing skripsi dan jalan berpikir yang saya pikir sudah cukup saya rancang sedemikian rupa ternyata harus diputar balik dan diulang lagi kerangka berpikirnya dari awal. Belum lagi tambahan tugas membaca begitu banyak literatur yang saya sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Ini masalah klise, kalau kata orang yang sudah pernah menyusun skripsi. Saya pun bingung harus curhat ke siapa, dan bagaimana mulainya. Karena saya juga tahu teman-teman sepenanggungan saya juga pasti sama pusingnya dengan saya.

Jadi, daripada berpusing-pusing tanpa ada juntrungannya, saya pun melakukan sebuah permainan kecil dengan teman-teman di twitter. Hanya dengan melontarkan pertanyaan “setelah skripshit, skripsay, dan skriptease, menurut kalian nama apa lagi yang bisa kita gunakan untuk menyebut dia-yang-namanya-tak boleh-disebut?”. Selanjutnya, saya luarbiasa terhibur dengan jawaban teman-teman saya :

Nahlia, alias Ai menjawab : SkripSIP! supaya SIP ngerjainnya!

Muelita, alias Muel menjawab : Skripililii *dengan logat Dulce Maria* kemudian disambung dengan SkriPLONG (plong kalau udah selesai)

CatjaCatja, alias Caca menjawab : Skripik singkong! *garing ya gue? hehe..*

Keindafauri, alias Keinda menjawab : Skripping, untuk Skipping sekaligus Tripping

dan Devaina, alias Devina menjawab : SkriPEACE! biar damai selama ngerjain :)

Menghibur bukan?

selain meringankan beban pribadi, mudah-mudahan juga bisa menghibur hari orang lain. hahaha.

Sekian dulu tips mengolah ~emo tweet dari saya. Sejauh ini saya hanya bisa menemukan 5 alternatif bentuk dari ~emo tweet. Kalau sekiranya teman-teman bisa menemukan alternatif-alternatif lain yang menghibur dan kreatif, ditunggu lho sumbangsih ide-nya.


MENGAPA ~EMO TWEET SEBAIKNYA DIOLAH TERLEBIH DAHULU? (WHY)

Saya tahu dalam jurnalistik pertanyaan WHY muncul sebelum pertanyaan HOW. Dalam kehidupan akademis saya sehari-hari membuat laporan penelitian atau pembuatan suatu asesmen tertentu pertanyaan utama yang selalu diungkapkan adalah WHY? atau kenapa saya harus membuat penelitian ini, apa urgensinya, apa gunanya. Berkaitan dengan topik ~emo tweet ini perlu dipertanyakan juga kenapa ~emo tweet harus diolah sedemikian rupa. Yah, selain supaya menambah variasi supaya tidak bosan, alasan kenapa ~emo tweet harus diolah terlebih dahulu sebetulnya sudah saya ungkapkan di tulisan saya sebelumnya yang saya cantumkan di atas. Karena menurut saya tetap saja, “mulut-mu harimau-mu” dalam hal ini tentu saja update status-mu, harimau-mu”.

Selain itu, biasanya setelah kita ngomong sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, mulailah reinforcement sosial yang bertindak. Dimana jika lingkungan sosial kita menyatakan pembenaran dan persetujuan terhadap hal ini, kita bisa saja semakin tersugesti untuk menganggap bahwa apa yang kita ungkapkan, atau kita rasakan itu benar, tanpa kita telaah dulu lebih lanjut. Dalam hal ini, emosi negatif yang kita tuangkan dalam situs jejaring sosial yang kemudian direspon oleh teman-teman kita, walaupun sekedar respon kecil seperti bertanya “ada apa?” dapat menjadi suatu penguatan bagi kita untuk kemudian terus mengadu, dan mengeluh mengenai emosi negatif tersebut. Akhirnya, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu buruk akan terasa lebih buruk daripada yang seharusnya. Sekali lagi, ~emo tweet itu sangatlah manusiawi, namun kita perlu juga memikirkan perkembangan diri kita dan mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang lain untuk meringankan itu semua.

Saya sendiri, masih berlatih untuk memilih curhat in person saja.

Bagaimana dengan kalian?

- D! -

Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca.

In Tentang berbagi isi kepala on October 21, 2009 at 6:04 pm

Oke, pertama-tama saya beritahukan bahwa tulisan ini lagi-lagi ada hubungannya dengan beberapa tulisan saya sebelumnya, yaitu “Social Site’s Disclosure itu Adiktif dan Bisa Jadi Destruktif” dan juga tulisan saya yang “Panggung Sandiwara”. Jadi kalau teman-teman sebelumnya sudah pernah mampir dan membaca tulisan saya itu mungkin sedikit banyak sudah mengerti bagaimana saya memandang fenomena yang menurut saya menarik ini. Kalau yang belum pernah mampir, saya pikir nggak ada buruknya untuk menilik-nilik supaya agak berkesinambungan gitu lho isunya hehe.

Oke, di kedua tulisan saya tersebut intinya saya menggambarkan bagaimana cara orang menuliskan update status mereka dalam situs yang menyediakan fasilitas microblogging itu memiliki beberapa dampak yang ‘lucu’ terhadap diri mereka maupun lingkungannya (yah, dalam hal ini, tentu saja saya juga). Lalu berikutnya saya akan menjelaskan situasi saya. Begini, lingkungan saya, (baca: teman-teman yang biasa menjadi teman saya dalam berinteraksi sehari-hari) adalah sekelompok orang yang menganggap fenomena ini ‘lucu’, dalam artian, jika saya melakukan update status semacam itu di beberapa situs microblogging, mereka nggak akan segan-segan menertawakan saya atau membuat saya menjadi bahan olok-olok daripada kemudian menunjukkan sisi afeksi mereka dan  sekedar bertanya “ada apa dhea? cerita dong sini yuk”. Jangankan di status microblogging sites, bahkan beberapa teman saya yang laki-laki tidak segan-segan untuk langsung tertawa lebar-lebar dengan jumawa jika melihat status Yahoo Messenger saya agak cenderung menuju ke arah sedikit melankolis. Mereka memang kasar. Maksud mereka tentu saja baik, bukan sekedar mengolok-olok saya. Pesan yang mereka coba sampaikan adalah, lebih baik curhat in person saja, dibandingkan curhat colongan (yang kemudian jelas-jelas ketauan) di social networking sites yang mana kita tidak bisa mengontrol siapa-siapa saja yang akan membacanya dan juga interpretasi macam apa yang bisa disimpulkan oleh orang yang membaca tersebut. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dikontrol yang nantinya bisa menjadi senjata makan tuan kalau disalahgunakan.

Kemudian, disini saya akan memperkenalkan sebuah istilah baru, yang biasa saya dan teman-teman saya sebut sebagai “~emo tweet”. Jika kalian lihat sebelum kata emo ada buntutnya di depan, kenapa begitu? Karena pengucapan frase ini dilakukan dengan cara yang paling mengganggu dengan suara yang paling mengganggu juga, suara sok-sok bindeng radio gitu. Frase ini biasanya akan tercetus jika salah satu dari kami kedapatan menuliskan tweet yang bernada curhat colongan, dan cenderung ketahuan siapa yang dimaksud alam curhatan tersebut. Nada pengucapannya adalah panjang dan naik di ujung frase, ingat dengan suara sok di bindeng2in, “~emo tweeeeeeet” gitu. Seperti ikut kuis lalu jawaban anda salah dan bel pun berbunyi ~TETOOOOT!. selanjutnya, mari kita kupas lebih lanjut mengenai apa emo tweet ini. Saya akan mencoba untuk menggunakan gaya pembahasan 5W1H supaya lebih semarak.

SEPERTI APA YANG DIKATEGORIKAN SEBAGAI ~EMO TWEET ITU? (WHAT)

Membicarakan ~emo tweet tentu kita perlu tahu sejauh mana batasannya sebuah tweet dikategorikan sebagai ~emo tweet. Seringkali sulit untuk membuat batasan operasional mengenai ~emo tweet ini. Selain karena cara orang dalam menuliskan tweet- nya memang luarbiasa beragam, tentu saya dan teman-teman saya juga tidak memiliki waktu luang sebanyak itu untuk kemudian merumuskan behavior indicator lalu membuat operasionalisasi dari konsep ini (emangnya kuliah KAUP? hahaha). Hemm kalau menelisik dari istilah harfiahnya saja, sebenernya saya dan teman-teman mencetuskan konsep ini terinspirasi dari musik emo. Suatu aliran musik yang lirik maupun iramanya berisikan emosi yang meluap-luap dan dibawakan dengan tidak kalah ekspresifnya pula. Menurut Wikipedia, Emo (pengucapan /ˈiːmoʊ/, singkatan untuk emotional music[1]) adalah gaya musik rock dengan ciri khas musik yang melodius, disertai lirik yang ekspresif dan berisi pengakuan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ~emo tweet disini adalah tweet yang dipenuhi muatan emosi yang berisikan pengakuan. Intinya sih curhatan di depan publik melalui media situs microblogging.

Sebagai gambaran lebih jelasnya lagi, berikut beberapa contoh ~emo tweet yang bisa saya rangkum untuk anda, beberapanya adalah tweet-tweet yang :

a. menyuarakan amarah dan cenderung memasukkan unsur kata makian, dan tidak lupa tanda baca imperatif : “ah babi. nyebelin banget sih itu orang dasar gatau diri!!

b. menyuarakan rasa kangen atau emosi melankolis lainnya : “ohh i wish my dearest was here, i can blalalala”

c. menyuarakan rasa putus asa dan lelah dalam menjalankan segala sesuatunya, biasanya disertai penambahan simptom-simptom penyakit : “rasanya sesek kaya nggak bisa napas, gatau harus gimana lagi” atau sesuatu yang lebih singkat, seperti “mau mati aja! kenapa semuanya salah gue??!!”

d. menyuarakan rasa protes terhadap keadaan sekitar (seringkali disuarakan dengan bahasa asing) : “God! I thought you alway know the best for me, do you consider this as the best for me??!” atau kadang rasa protes disuarakan dengan kalimat-kalimat pengandaian “seandainya gue punya kesempatan kedua untuk perbaikin semuanya”

Oke, segitu dulu contoh yang paling sering muncul. Sudah mulai dapat gambarannya? Kalau sudah, bagus. Kalau belum juga, mari saya bantu sederhanakan polanya. Intinya, tweet-tweet ini adalah jenis tweet yang mengundang perhatian orang dan ‘minta ditanya’, butuh dukungan sosial dan asupan afeksi dari pembacanya. Baik sengaja ataupun tidak, tweet2 seperti ini pada umumnya mengundang pertanyaan seperti “ada apa sih ? cerita2 dong yuk. nanti dibantuin deh”. Sebagai tambahan, ~emo tweet seringkali muncul dalam konteks hubungan romantis antar pasangan. Nah, makin seru kan.

DIMANA SAJA ~EMO TWEET DAPAT BERMUNCULAN? (WHERE)

Pertanyaan selanjutnya, dimanakah biasanya ~emo tweet ini berceceran? Saya sendiri berpendapat bahwa walaupun namanya ~emo tweet, namun hal ini tidak lantas khusus berlaku hanya pada situs twitter saja, namun juga berlaku di semua situs social network manapun, khususnya yang menyediakan fasilitas micro blogging dan menstimulasi kita untuk membuka diri kita, menyampaikan pikiran, kegiatan sehari-hari kita, sekaligus pula perasaan kita. Status facebook, plurk, koprol, dan sebagainya adalah beberapa situs yang rentan sekali terhadap kemunculan fenomena ini. Kalau di plurk kita bisa sebut sebagai ~emo thread kali ya? Hehe. Mungkin teman-teman bisa mencermati lebih lanjut.

KAPAN BIASANYA ~EMO TWEET BERMUNCULAN/WAKTU EFEKTIF MUNCULNYA (WHEN)

Hal yang menarik lagi untuk dicermati adalah bahwa ~emo tweet ini memiliki waktu-waktu produktifnya untuk bermunculan. Kalau saya perhatikan, ~emo tweet sangat jarang muncul di atas jam 10 pagi, jarang juga muncul di siang hari (kecuali saat udaranya betul-betul panas dan memang secara objektif memancing munculnya berbagai emosi). Waktu-waktu produktif kemunculan ~emo tweet seringkali adalah di atas jam 12 malam, atau dini hari. Dimana ketika suasana mulai sepi, mulai jarang yang tweeting atau plurking disitulah waktu produktif ~emo tweet muncul. Waktu-waktu lainnnya mungkin adalah menjelang jam subuh, ketika ayam pada umumnya berkokok (ayam di rumah saya sih seringnya berkokok jam setengah 3 pagi, dia memang anomali, jadi jangan dihitung). Oh, iya. Waktu lain yang sangat signifikan untuk diperhatikan sebagai waktu produktif munculnya ~emo tweet adalah malam minggu sodara-sodara. Entah kenapa malam minggu ini menyebabkan semacam atmosfer dan wabah untuk menjadi resah gelisah dan gundah gulanah, oleh karena inilah ~emo tweet di malam minggu semakin bertebaran. Seperti panen raya.

(bersambung ke posting selanjutnya)


di sela-sela belajar konseling

In Tentang beragam hari on October 20, 2009 at 2:38 pm

Berikut ini adalah sekilas perbincangan sms antara saya dan teman saya, Mitun di tengah kegiatan belajar bahan UTS Konseling dan Etika yang memabukkan di siang hari yang semilir.

D : Gimana itung-itungan jam belajar konseling lo tadi?

M : Gue baca 1 jam tanpa gangguan cuma dapet 1,5 bab konseling. it means, kalo mau slesein konseling doang gue butuh sekitar 11 jam tanpa gangguan. etika? Wallahualam..

(saya berpikir sejenak, dan lalu membalas sms)

D : Jadi sekarang ini udah bab 5? gue baru sampai bab 3 HAHAHAHAHA

M : Belom gilaaaa. Baru bab 2 karna dapet gangguan

(terus terang saya bingung menanggapi balasan smsnya, lalu saya balas lagi)

D : Lho kita ini smp bab berapa sih? bukan bab 16? yang Gladding bab berapa aja?

M  : Ini gue masih buku bu Jeanette. Gladding bab 3 sama 6 doang tauu..

D : Yang bu Jeanette bukannya sampai bab 16? Kok luh olang tadi bilang sampai bab 11?

M : Kapan deeehh gue bilang sampe bab 11?

(saya kebingungan, sungguh)

D : (memforward balik sms mitun yang sebelumnya) Gue baru baca 1 jam tanpa gangguan cuma dapet 1,5 bab konseling. it means, kalo mau slesein konseling doang gue butuh sekitar 11 jam tanpa gangguan. –> sms lo ini gue asumsikan ada 11 bab, yang mana masing bab masing 1,5 jam kurang lebih.

M : Logika matematikamu parah, nak. Gini, gue 1 jam dapet 1,5 bab, berarti kalo 11 jam gue dapet 11 x 1 jam x 1,5 bab = 16,5 berdasarkan kalkulator. Artinya, untuk dapat membabat habis baca 16 bab, gue butuh 11 jam penuh tanpa gangguan. Dengan asumsi 1 jam gue dapet 1,5 bab gue baca..

D : ~pasrah aja deh. You should find me a husband-to-be-material-guy with an excellent mathematical skill for a boyfriend.

M : For your-very-low-mathematical-understanding sake, i will. mending lo cek dulu deh, 11 x 1,5 beneran 16 gak, daripada gue salah hahaha

D : thankyou, that is very kind of you. no need to check it, i believe you with all of my heart. (baca : males mikir)

math by taylorw1995

math by taylorw1995

Jadi, intinya saya salah mempersepsikan hitung-hitungan mitun. Saya pikir, 1,5 bab itu tadi sebagai 1,5 jam. Kemudian mitun bilang masih bilang dia masih butuh 11 bab lagi yang harus dipelajari. Terus gatau gimana kenapa tiba-tiba saya kira mitun sudah sampai pada bab 5. Kayanya emang saya skip banget aja ini gara-gara UTS malah gabisa mikir.

Menilik hasi perbincangan sms di atas, saya semakin yakin, seharusnya “jembatan Teksas” (jembatan yang menghubungkan antara Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra di UI seharusnya tidak perlu dibangun, yang diperlukan adalah jembatan penghubung antara Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknik). Atau, yang menghubungkan Fakultas Psikologi dengan Fakultas MIPA.

Jadi namanya “jembatan Psiknik” atau “jembatan Migi” (yang terakhir ini kurang cute kedengarannya)

Untuk memfasilitasi orang-orang seperti saya, yang ingin memperbaiki keturunan.

- D! -

demam analogi

In Tentang beragam hari, Tentang berusaha dengan prosa dan rima on October 16, 2009 at 10:03 pm

Teman 1 dan analogi-nya :

anggep saja seperti angin semilir yang ada di puncak. Dimana-mana, puncak itu udaranya udah sejuk dan enak untuk dinikmati kan, ada atau nggak ada angin pun

(tentang bagaimana menghadapi tarik ulur)

Gue sih nggak terlalu suka kupu-kupu. Mereka itu proses metamorfosisnya aja yang lama, begitu udah jadi kupu-kupu, hobinya terbang dari satu bunga ke bunga yang lain. Udah gitu matinya cepet lagi!

(tentang butterfly effect di perut)

Teman 2, dan analoginya :

“Mundur bukan berarti balik kanan bubar jalan, mundur berarti yang di depan masih kelihatan”

yang kemudian saya lanjutkan

“Mundur dengan penuh perhitungan. Jangan lupa pakai spion sekalian, siapa tahu di belakang ada juga yang kelihatan”

(tentang menyusun strategi)

Teman 3, dan analoginya :

ryz_g4: oke, gw beri analogi terakhir tentang kehidupan gw:
gazzlebee70: cool banget mas ramda ini curhat saja pakai analogi
gazzlebee70: mari coba saya simak
ryz_g4: gw petualang yang sudah terlalu sering ditolak masuk ke negara2
ryz_g4: sekalipun gw hanya ingin singgah dan belum tentu menetap
gazzlebee70: okay
ryz_g4: jadi ya kalau mau menyombong, gw sudah melihat dunia tapi sebatas sekilas saja
gazzlebee70: tsaah.
ryz_g4: hahaha
ryz_g4: pas masuk imigrasi langsung disuruh pulang =))
gazzlebee70: hahaha mungkinkah anda ditolak masuk karena pemerintahan negara ini tau anda tidak berminat untuk menetap?
gazzlebee70: itu bisa jadi begitu
ryz_g4: nggak juga, rata2 mereka memang hanya peduli dengan program pariwisata mereka saja
ryz_g4: asumsi mereka, turis pasti cuma sebentar
ryz_g4: dan mereka selalu minta turis yang ganteng dan kaya untuk menjaga image pariwisata mereka
ryz_g4: they don’t like backpackers who fall in love with them
gazzlebee70: ah gue benci banget kata-kata ” cari pacar yang kaya “
gazzlebee70: cih.
gazzlebee70: *maaf terbawa sesaat
ryz_g4: or rather, they don’t want to take any chances
ryz_g4: “yang aman2 saja”
ryz_g4: kenapa begitu?
gazzlebee70: kenapa begitu apa?
gazzlebee70: kenapa gue gasuka kalimat itu?
ryz_g4: yup
gazzlebee70: ya gasuka aja, parasit kesannya
gazzlebee70: dan betul deh, berdasarkan pengalaman, pacaran dengan orang yang kelas sosial ekonominya lebih tinggi belum tentu juga menyenangkan
ryz_g4: gw sudah menerima kalau sometimes it matters sih haha
ryz_g4: fair enough for me
ryz_g4: :p
B : gw petualang yang sudah terlalu sering ditolak masuk ke negara2
B : sekalipun gw hanya ingin singgah dan belum tentu menetap
D: okay
B: jadi ya kalau mau menyombong, gw sudah melihat dunia tapi sebatas sekilas saja
D: tsaah.
B: hahaha
B: pas masuk imigrasi langsung disuruh pulang =))
D: hahaha mungkinkah anda ditolak masuk karena pemerintahan negara ini tau anda tidak berminat untuk menetap?
D: itu bisa jadi begitu
B: nggak juga, rata2 mereka memang hanya peduli dengan program pariwisata mereka saja
B: asumsi mereka, turis pasti cuma sebentar
B: dan mereka selalu minta turis yang ganteng dan kaya untuk menjaga image pariwisata mereka
B: they don’t like backpackers who fall in love with them
D: ah gue benci banget kata-kata ” cari pacar yang kaya “
D: cih.
D: *maaf terbawa sesaat
B: or rather, they don’t want to take any chances
B: “yang aman2 saja”

(tentang percintaannya selama ini)


Teman 4, dan analoginya :

K: yang pasti loe ngga kliatan males, kaya orang lagi mau nyemplung ke kolam air panas, nah loe tuh masih nyelup2 kaki loe ke kolam, kaya ngeraba2, masih di situ aja,.

D: cari masalah banget deh gue. ck.

D: maksudnya gimana sih

K: yah gt, loe di kolam bernang air panas, loe ngliat nih

K: kolam mana yg asik ya??

K: pas nemu kolam ini,

K: loe tuh udah ngeliat kalo yang ada di dalem kolam itu ada org aneh lg ngerendem,

K: tapi bukannya cabut cari kolam lain, loe malah nyelup2 kaki ke kolam itu, pnasaran, angetnya pas ngga ya buat gw,.

K: asik ngga ya ni kolam buat gw, ya elo tuh ada di situ,.’

D: ck cari2 masalah aja gue deh

D: oke

D: jadi saran lo apa

K: saran gw, ngga pa2 si nyelup2 kaki ke situ, kali aja tu kolam emang asik buat loe,. tapi kalo ternyata kaki loe aja bilang kalo tu kolam terlalu panas ato terlalu dingin buat loe,

K: ya, langsung cabut

K: jangan nyoba2 nyelup2 pake tangan,.

K: :) )


(tentang mengambil resiko)


Teman 5, dan analoginya:


Kalau lagi nyetir dan udah punya satu tujuan tertentu, ya lo harus tetep stick di jalur lo. Jangan terus-terusan pindah-pindah jalur. Apalagi sampai ngambil jalur orang lain. Bisa dimaki-maki orang tuh”

(tentang berkomitmen pada tujuan awal)


Saya heran. Akhir-akhir ini entah kenapa orang-orang di sekitar saya hobi sekali menggunakan analogi, mulai dari dosen, teman jalan, teman curhat, sampai kegiatan chatting pun senantiasa diisi dengan analogi.  Saya mulai merasa saya harus meningkatkan kemampuan abstraksi saya dan mulai memahami sastra.

Menyenangkan sebetulnya

Siapa tahu bisa meningkatkan inteligensi :p

- D! -

Serba Salah.

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi sisi melankolis on October 13, 2009 at 2:59 pm

Pengaruh lingkungan sosial itu kadang suka bikin serba salah ya.

Contohnya seperti yang sedang saya alami sekarang ini.

Ketika interaksi saya sedang buruk dengan seseorang ini, dan terlihat di mata orang lain.

Mereka berkomentar, mereka bergunjing, mereka tertawa, terkadang mencemooh, seringkali mengasihani.

Ketika interaksi saya sedang baik dengan seseorang ini, dan terlihat di mata orang lain.

Mereka berkomentar, mereka bergunjing, mereka mempengaruhi, seringkali menyayangkan.

Saya sendiri kemudian bingung harus bersikap apa

Selama ini saya hanya menjadi saya yang apa adanya

Kalau nyaman ya saya sapa

Kalau tidak saya saya hanya menghela

Mereka tidak pernah tahu apa yang saya lakukan demi mempertahankan dinamika interaksi agar tetap sehat.

Dengan semua hal yang berputar-putar di sekitar saya.

Mereka hanya berkomentar, mereka bergunjing.

- D! -

Kamu, yang bersedia turun dari kapalmu

In Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang berusaha dengan prosa dan rima on October 12, 2009 at 7:16 pm

Ini sudah bulan kesekian, saya menunggu di dermaga ini

Berpuluh kerikil sudah saya lemparkan ke air,

saking bosannya menunggu sendiri

seluruh area sudah saya jelajahi

sampai saya merasa tidak ada lagi yang perlu dipelajari dari sini

lalu apa lagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu

Saya sudah menumpang, sedikit banyak perahu, atau kapal, jika kalian lebih suka menyebutnya begitu

Terkadang nahkoda kapal yang mengajak saya ikut serta

Ada waktunya saya inisiatif angkat bicara

Saya sudah pergi ke cukup banyak tempat, belajar cukup banyak hal

Namun, itu pun saya rasa belum cukup

Lalu apa lagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu.

Berlayar dengan kapal terkadang berlangsung singkat

Walau tetap saja ada yang membuat saya tercekat

Perjalanan yang lain kadang berlangsung lama

Beberapa diantaranya lebih lama dibanding yang lainnya

Hingga saya kemudian begitu ingin menetap di satu area

Sebelum kemudian akhirnya kecewa

Lalu apa yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak Tahu

Di beberapa titik tertentu saya meminta turun dari kapal

Beberapa titik lain, saya yang diminta untuk turun

Beberapa kali perjalanan membuat saya limbung dan tersengal

Beberapa membuat saya banyak tersenyum

Hingga akhirnya saya tetap duduk di sini, di dermaga ini

sesekali sambil bernyanyi

Lalu apa yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu.

Mungkin saya tidak menunggu kapal apapun.

Saya juga tidak menunggu nahkoda manapun

Tidak, saya tidak menunggu sampai berlumut.

Tidak, saya tidak menunggu untuk dijemput.

Yang saya tunggu, kamu.

Yang bersedia turun dari kapalmu.

Saya tidak butuh pergi ke tempat seru

Saya tidak butuh kapal baru.

Saya ingin kita mencoba membangun sesuatu

Saya ingin kita membangun sesuatu yang kemudian dapat melaju

Saya ingin kita berkomunikasi

Saya ingin kita belajar berkompromi.

Lalu apalagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Apa yang saya butuhkan untuk bergerak maju.

Saya menunggu kamu

Yang bersedia turun dari kapalmu.

- D! -

Tentang Melepaskan Sesuatu (pt. 1)

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bertugas on October 9, 2009 at 1:46 am

Apa teman-teman sekalian pernah merasakan rasanya bersemangat dalam mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus? Apa teman-teman pernah merasakan nikmatnya perasaan puas setelah berhasil menyelesaikan suatu karya dan dihargai karena karya tersebut? Apa teman-teman tau rasanya bertemu orang-orang baru dan mengerjakan suatu pekerjaan baru yang berpotensi menjadi sesuatu yang dapat menambah pengalaman dan pengetahuan diri sendiri serta dapat menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang?  Demikianlah perasaan saya 2 minggu terakhir ini.

Kebetulan, sejak menjelang masuk masa perkuliahan semester 7, saya tiba-tiba begitu banyak kesempatan yang disodorkan kepada saya. Kesempatan-kesempatan tersebut sangat menggiurkan baik dari aspek manapun, selain ada beberapa yang memiliki imbalan kongkrit, pekerjaan lain yang ditawarkan juga dapat meningkatkan kemampuan saya secara keseluruhan, baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan ini juga melibatkan kegiatan-kegiatan yang saya sukai pada umumnya. Saya juga bisa belajar banyak dari kegiatan-kegiatan yang ditawarkan kepada saya ini. Nah, berhubung saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk mencoba kesempatan-kesempatan baru yang datang pada saya dan tidak membatasi diri saya, maka saya cenderung untuk menyanggupi hampir semuanya. Selain karena saya tahu bahwa saya akan ketemu dengan banyak orang dan pengalaman dan kemampuan baru kalau saya ambil tawaran-tawaran ini, harus saya akui mungkin terselip juga sedikit gengsi dan rasa bangga terhadap diri sendiri bila terlibat dalam suatu komunitas yang berpotensi akan menjadi besar dan berhasil menghasilkan sesuatu yang berguna.

Idealnya sih memang begitu.

Namun, seminggu terakhir ini saya agak dibuat pusing oleh semua pekerjaan yang datang kepada saya tersebut. Rasa hati ingin mengerjakan dan menyelesaikan semuanya. Apa daya kemampuan saya tidak mencukupi. Di sini saya mulai merasakan timbulnya permasalahan. Terutama dalam hal membuat skala prioritas. Saya mulai tidak tahu mana yang harus saya dahulukan, mana yang paling penting bagi saya, dan mana yang harus saya tinggalkan. Semuanya terasa begitu menarik dan menggiurkan untuk ditinggalkan, dan ini menekan kehidupan sosial saya sejujurnya.

Dampaknya tidak begitu bagus buat saya, kali ini saya harus mengakui bahwa saya kewalahan. Mengakui saya kewalahan dengan semua ini terasa sangat berat bagi ego saya, karena teman-teman saya biasa mengenal saya sebagai orang yang cukup seimbang dalam menjalani setiap aspek kehidupan saya, dalam hal ini yang mereka maksud mungkin akademis, pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial. Sejauh ini saya juga tidak pernah menemui permasalahan yang menggangu dalam hal menjaga keseimbangan ini. Walaupun tugas akademis nyaris membunuh, walaupun kepanitiaan membuat saya tertekan, walaupun keluarga sedang dalam titik kerewelan luar biasa, walaupun semua sedang huruhara, saya tetap bisa menyeimbangkan semuanya, Insya Allah. Ya tentu saja dengan bantuan teman-teman dan curhatan di sana sini, namun pada akhirnya toh semua baik-baik saja dan saya selalu bisa meyakinkan diri saya bahwa “saya bisa, semua pasti beres”.

Kali ini, entah kenapa semuanya tidak berjalan lancar. Segalanya bertubrukan dan bertumpuk-tumpuk, dan tertukar-tukar. Berikut beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindakan impulsif saya dalam menerima tawaran-tawaran yang datang :

1. Saya seringkali harus berada di beberapa tempat sekaligus dalam satu waktu, yang mana itu menyulitkan kehidupan

2. Saya jadi suka lupa balesin sms orang yang penting-penting, jangankan balesin, buat buka dan baca menyimak isi sms orang aja akhir-akhir ini jadi susah. Jadi kalo sms yang panjang2 saya suka bingung bacanya

3. Kalau diajak ngobrol orang jadi nggak nyambung dan seringkali bengong karena dalam otak saya harus menyusun kegiatan apa-apa saja yang harus saya selesaikan pada hari itu.

4. Karena kemampuan berkomunikasi terganggu, otomatis hubungan sosial dengan teman juga terbengkalai. Parah, saya membutuhkan waktu untuk duduk duduk gajelas di kantin seperti biasanya.

5. Saya selalu merasa lelah di malam harinya dan selalu merasa kekurangan waktu untuk kemudian mengerjakan tugas-tugas akademis (which is very bad, according to me).

6. dan lain-lain.

Melelahkan, sekaligus membingungkan. Saya sampai pada tahapan ketika saya mulai panik. Oleh karena itu saya merasa bahwa ini saatnya bagi saya untuk meminta bantuan dari seorang profesional. Tadinya saya bisa aja minta bantuan ke teman-teman saya sih, hanya saja mereka ini saking suportifnya yang ada malah seringkali jadi terjebak manas-manasin saya untuk mengambil pekerjaan-pekerjaan yang ada ini. Kalimat-kalimat seperti “ayo dhe, lo bisa kok, selama ini aja lo beres ngerjainnya”, atau “lo tuh kompeten di bidang ini, dan lo suka kan ngerjainnya”, dan kawan-kawannya adalah jenis kalimat yang seringkali bikin saya menjebakkan diri dalam jurang kenistaan pekerjaan. Berhubung saya anaknya diam-diam ambisius, dan sulit meregulasi emosi, jadinya dipanasin sedikit aja langsung deh penasaran pengen nyoba.

Sangat tidak sehat.

bersambuuuung.

Tentang Ketidakpedulian Jakarta & Macet di Pondok Pinang

In Tentang berbagi isi kepala on October 4, 2009 at 9:43 am

(saya kurang paham penyempitan ide yang saya ambil untuk tulisan yang ini, jauh sekali antara ketidakpedulian Jakarta dan situasi lalu lintas di Pondok Pinang, for God sake)

Tulisan dibuat pada 12 Desember 2006

Jakarta Oh Jakarta

“Jakarta : The City of Ignorance”,  itulah judul tulisan salah seorang senior saya yang membuat saya ingin membuat tulisan ini. Saya langsung tertarik untuk tahu isi tulisannya begitu saya membaca judul tulisan tersebut. Benar saja, menurut saya tulisannya tersebut sangat menarik untuk disimak. Di situ ia menuliskan tentang betapa jelasnya ketimpangan sosial yang tampak di kota metropolitan ini. Dimana dapat terlihat jelas adanya pemukiman kumuh yang tampaknya masih sangat membutuhkan bantuan di sebelah sebuah pusat perbelanjaan yang besar dan elite serta memang ditujukan untuk kalangan orang-orang kelas atas. Dengan ketimpangan yang jelas terlihat itu pun masayarakat tidak juga terasah kepekaannya untuk melakukan sesuatu. Hampir semua orang di kota Jakarta ini tidak menunjukkan kepedulian mereka terhadap orang lain, terutama bila orang tersebut dianggap tidak memiliki hubungan secara langsung dengan mereka. Setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing, sibuk berkutat dalam dunia masing-masing yang seolah memiliki sekat satu sama lain. Nilai-nilai individual pun dijunjung tinggi dan nilai kepedulian seperti terlupakan begitu saja.

Saya mungkin tidak akan menulis mengenai hal yang sama dengan yang telah ditulis oleh senior saya tersebut. Namun, saya ingin mengangkat tema yang sama seperti yang dia angkat, yaitu ketidakpedulian masyarakat Jakarta. Ketidakpedulian yang saya coba tuliskan di sini berkenaan dengan situasi jalan di kota Jakarta ini yang tampaknya selalu diliputi kemacetan tanpa adanya pemecahan masalah apapun yang dapat dilakukan.

Saya juga tidak ingin menuliskan tentang keadaan lalulintas Jakarta secara luas dan menganalisa hampir semua daerah Jakarta yang diliputi masalah kemacetan. Saya akan mempersempit lingkup pembahasan saya. Saya akan membahas jalan raya Pondok Pinang yang memang saya lewati setiap hari dan selalu berhasil membuta saya mengerutkan dahi dan sedikit mengomel setiap kali saya melewatinya.

Situasinya begini, setiap harinya saya harus melewati jalan raya pondok pinang terlebih dahulu untuk mencapai jalan tol bila akan pergi ke kampus. Rumah saya memang terletak di daerah pondok pinang, jadi tidak ada jalan lain selain melewati jalan tersebut kecuali bila saya mau mengambil jalan yang lebih panjang lagi melewati pondok indah, namun tentunya itu akan lebih menyusahkan saya.

Saya biasa berangkat sekitar pukul 07.00wib atau terkadang pukul tujuh lewat. Biasanya pada waktu-waktu itu jalan sudah mulai padat. Saya juga sudah terbiasa akan hal tersebut dan tidak mengeluh lagi. Permasalahannya adalah, jalan menjadi semakin ramai ketika sudah melewati perempatan Deplu yang biasanya diatur oleh dua orang polisi karena lampu lalu lintas yang terdapat di situ mati total. Situasi makin buruk karena di jalan dua arah tersebut terdapat ketidakberesan yang dilakukan oleh para pengendara motor.  Jalur dua arah yang sudah diatur untuk dilewati oleh pengguna jalan sesuai dengan arah mereka masing-masing dikacaukan oleh para pengendara motor yang menggunakannya dengan tidak semestinya.

Di sisi jalan yang seharusnya dipergunakan oleh pengguna jalan yang datang dari Pondok Pinang hendak menuju ke arah Fatmawati atau ke arah jalan tol seperti saya ternyata juga dipergunakan oleh para pengendara motor dari arah yang sebaliknya. Padahal mereka toh sebetulnya sudah disediakan jalurnya sendiri bersebelahan dengan jalur yang mereka pergunakan dengan tidak sepertinya tersebut. Hal ini berlangsung setiap hari dan tidak ada yang mempedulikan hal ini sehingga hal ini dianggap benar untuk dilakukan.

Hal ini mungkin terjadi karena jalur yang seharusnya dipergunakan oleh para pengguna motor tersebut sudah terlalu padat untuk dilewati sedangkan semua orang sedang terburu-buru, ditambah lagi dengan kenyataan lampu lalu lintas di perempatan Deplu yang mati membuat keadaan jalan semakin buruk. Saya tidak begitu yakin sejak kapan hal ini berlangsung namun seingat saya sebelum-sebelumnya tidak seperti ini.

Hal yang membuat saya heran adalah bagaimana bisa tidak ada yang peduli akan hal ini sama sekali. Saya yakin para pengendara sepeda motor tersebut menyadari bahwa perbuatan mereka tersebut salah, namun setiap dari mereka berpikir bahwa bila orang lain dapat melakukan hal itu lalu mengapa mereka tidak?  Pemikiran semacam  inilah yang membuat hampir seluruh peraturan yang diterapkan di kota Jakarta ini dilanggar. Seolah peraturan-peraturan tersebut memang sengaja dibuat untuk dilanggar, rules are made to be broken.

Para polisi yang berada di sekitar situ juga seperti tidak peduli dan tidak mau ambil pusing tentang hal ini, memang saya perhatikan mereka sudah teramat sibuk mengatur kendaraan-kendaraan yang melintasi perempatan tersebut. Biar begitu, seharusnya keadaan ini juga menjadi tanggung jawab mereka dalam mengatur tertib berlalu lintas. Karena tidak adanya sikap tegas dari polisi yang ada di situ, para pengendara sepeda motor tersebut pun semakin merasa apa yang mereka perbuat tersebut bukanlah merupakan suatu kesalahan.

Hal utama yang patut dipertanyakan di sini adalah kemana perginya kesadaran kita masing-masing? Apakah bila semua orang melakukan hal tersebut maka hal yang sebetulnya salah untuk dilakukan pun dapat menjadi benar? Padahal jelas sekali bahwa perbuatan tersebut merugikan banyak orang dan mengganggu terciptanya ketertiban umum. Jika saja dari masing-masing kita masih memiliki sedikit kesadaran dan rasa peduli akan kepentingan sesama tentunya pelanggaran seperti ini maupun pelkanggaran-pelanggaran lain yang biasanya terjadi di kota Jakarta tidak akan terjadi.

Saya rasa kepedulian itu datangnya dari diri kita masing-masing. Mungkin kita bisa belajar peduli dengan melihat orang lain, dengan perintah orang lain, dan sebagainya namun tetap saja kesadaran diri dan kepedulian itu datangnya dari diri sendiri. Bila semua orang tidak lagi memiliki kepedulian maka untuk apa kita hidup bersama-sama dalam sebuah masyarakat? Masing-masing dari kita seharusnya belajar memupuk kepedulian diri dengan menyadari sepenuhnya bahwa bukan kita saja yang memiliki kepentingan, orang lain juga memiliki kepentingan mereka masing-masing dan untuk itulah kita harus saling bertoleransi sehingga ketertiban dapat tercipta dan kepentingan semua orang dapat terlakasana. Bila bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?

Terinspirasi dari tulisan Khrisnaresa Adytia.

12 Desember 2006

- D! -

Tentang Merokok

In Tentang berbagi isi kepala on October 4, 2009 at 9:24 am

(ah, sayang sekali yang ini tidak ada tanggal penulisannya)

Merokok, Iya atau Tidak

Apakah di antara kalian ada yang tidak menyukai rokok? Atau bolehlah saya katakan tidak menyukai orang yang merokok? Tidak menyukai perempuan yang  merokok dengan alasan perempuan yang merokok pasti memiliki reputasi yang buruk? Ataukah justru biasa-biasa saja dalam menanggapai orang yang merokok? Cenderung cuek atau bahkan tidak peduli sama sekali? Atau justru anda sebagai seorang perokok dan anda merasa bahwa orang yang tidak menyukai rokok –atau tidak menyukai anda sebag ai perokok- itu mengganggu bahkan menyebalkan? Atau justru anda cuek saja dalam menanggapi semua itu?

Saya sendiri tidak sedang mencoba membuat sebuah tulisan yang terkesan menghakimi salah satu sisi dalam hal ini. Saya bukanlah seorang perokok. Mungkin saya akui saya pernah mencoba  merokok sehisap dua hisap, namun memang tidak pernah bisa sampai habis satu batang karena saya tidak begitu menyukai rasanya. Lingkungan sekitar saya juga bukanlah lingkungan yang bersih dari asap rokok, ayah saya sendiri adalah seorang perokok, bahkan salah satu dari sekian banyak perokok berat. Teman-teman saya, teman-teman yang bersama mereka saya ingin menhabiskan waktu bersama atau melakukan aktivitas bersama dan bergaul sehari-hari, juga banyak yang merokok, laki-laki maupun perempuan.

Bohong kalau saya mengatakan bahwa saya samsekali tidak terganggu dengan asap rokok, karena pada kenyataannya saya beberapa kali terbatuk bila ada orang yang merokok di dekat saya. Walaupun begitu, saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya tidak bermasalah dengan orang yang merokok, saya tidak merasa sebal, terganggu, dan lain-lain. Perokok perempuan yang oleh sebagian besar orang dianggap tidak pantas pun saya anggap biasa-biasa saja. Saya tidak berpikiran bahwa kebiasaan merokok yang dimiliki seorang perempuan merupakan suatu cerminan dari reputasi yang buruk karena toh banyak teman-teman perempuan saya yang merokok. Saya tetap berpendapat bahwa kepribadian dan reputasi seseorang tidak dapat dinilai semata-mata hanya dari satu sisi saja, dalam hal ini apakah orang itu merokok atau tidak. Bahkan bila kita mau memperhatikan dengan lebih seksama, ada beberapa orang, khusunya perempuan, yang berpenampilan dengan apa yang biasa orang sebut dengan ‘baik-baik’ dan meiliki kepribadian yang baik, pada kenyaataannya merokok. Apakah lantas nilai orang itu jatuh seketika semata-mata karena ia merokok? Tentu itu tidak dapat disebut adil bagi orang tersebut, karena setiap orang pasti punya alasan sendiri untuk memutuskan menjadi perokok.

Alasan orang merokok pun bermacam-macam. Ada orang yang pada awalnya mencontoh orang lain karena rasa ingin tahu yang besar dan kemudian jsutru menjadi perokok betulan. Ada yang merokok karena ajakan –atau paksaaan– teman-temannya. Ada yang kemudian menjadi perokok aktif karena memang menyukai rasa rokok itu sendiri. Ada pula beberapa yang merokok untuk melepaskan rasa penat, rasa gugup, depresi dalam diri karena sedang menghadapi masalah tertentu dan mengatakan dengan merokok mereka dapat meredakan ketegangan yang mereka rasa dan mereka merasa lebih relaks dari sebelumnya. Bahkan ada orang-orang yang sengaja merokok –bahkan memaksakan diri untuk merokok, padahal awalnya tidak suka rokok– hanya untuk bergaya, karena adanya dorongan dari dalam diri untuk dianggap hebat karena lingkungan sekitar mereka semua merokok dan merokok dianggap suatu trend atau gaya hidup. Di antara orang-orang dari golongan yang ini ada yang benar-benar hanya merokok bila mereka bepergian bersama teman-teman mereka ke suatu tempat umum dan sebaliknya bila mereka sedang sendirian (tidak bersama teman-temannya)  mereka tidak merokok, jadi rokok digunakan seperti aksesoris mereka untuk tampil keren, mereka ini yang biasanya disebut sebagai ‘social smoker’. Sebaliknya dari social smoker ada juga golongan yang justru menutup-nutupi kebiasaan merokok mereka karena beranggapan orang akan memandang jelek atau menganggap buruk mereka; selain itu masih ada alasan-alasan lain kenapa orang merokok.

Di luar semua alasan itu, rokok tetaplah benda yang berbahaya, terutama bagi kesehatan. Rokok mengandung zat-zat yang dapat menimbulkan efek jangka pendek maupun jangka panjang bagi si perokok sendiri dan orang-orang di sekitarnya yang juga menghirup asap rokok tersebut. Orang-orang ini disebut juga para perokok pasif. Selain menimbulkan berbagai penyakit yang mengancam hidup manusia, tentunya tidak perlu dijelaskan lagi penyakit apa saja, karena setiap tayangan iklan rokok manapun telah disertai peringatan tentang penyakit-penyakit tersebut. Rokok juga dapat membahayakan lingkungan, seperti yang telah kita ketahui beberapa kasus kebakaran besar yang menyebabkan kerugian-kerugian besar bahkan jatuhnya korban jiwa berasal dari sepuntung rokok yang dibuang oleh pemiliknya tanpa menyadari bahwa api rokok tersebut belum benar-benar padam.

Lalu kenapa pemerintah membiarkan pabrik rokok untuk tetap beroperasi bila mengetahui dampak dari rokok sebegitu merugikannya? Alasan yang terkuat adalah karena pabrik-pabrik rokok tersebut merupakan penyumbang terbesar bagi negara, karena pemerintah sendiri menetapkan tarif pajak yang sangat tinggi bagi pabrik-pabrik itu, menyadari mereka memiliki konsumen yang sangat luas cakupannya dan tentu tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu pemerintah akan menerima protes hebat dari setiap kalangan orang –terutama yang merokok– apabila pemerintah tiba-tiba melarang semua pabrik rokok untuk beroperasi. Hal itu nyaris mustahil untuk dilakukan, karena bukankah di antara orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan sendiri banyak yang perokok?

Namun, bukan berarti pemerintah tidak mempedulikan kesehatan warganya. Dalam hal merokok ini pemerintah telah mengeluarkan sebuah peraturan tentang dilarang merokok di tempat umum, walaupun saat ini baru di Jakarta saja yang telah dikeluarkan Perda-nya. Namun peraturan ini direncanakan akan berlaku di seluruh Indonesia. Dengan begini, pemerintah berharap akan berkurangnya perokok pasif yang merasa dirugikan oleh perokok aktif. Jadi perokok aktif menanggung sendiri resiko dari merokok dan tidak merugikan orang yang tidak merokok.

Saya sendiri, memutuskan untuk bertahan tidak menjadi perokok, bahkan saya berusaha untuk seminimal mungkin menghisap rokok, jenis apapun. Walaupun sangat sulit bagi saya karena orang-orang terdekat saya banyak yang merokok, namun saya akan mencoba. Bukan karena saya benci rokok, bukan karena saya tidak suka perokok, bukan karena saya ingin menjaga ‘image’ saya di depan orang, bahkan bukan pula karena saya ingin menjaga kesehatan –walaupun itu menjadi salah satu alasan–, tetapi alasan saya yang paling kuat adalah karena ego saya.

Saya telah berjanji pada diri saya dan kepada beberapa teman saya bahwa saya tidak akan menjadi seorang perokok dan saya terlalu gengsi untuk mengingkari janji sederhana itu. Dangkal memang kedengarannya, tapi entah mengapa lama kelamaan itu seolah menjadi prinsip saya dan terlepas dari semua, bagi saya itu sudah cukup untuk membuat saya tidak menjadi perokok, setidaknya sampai saat ini dan –mudah-mudahan– seterusnya.

- D! -

Tentang Memilih

In Tentang berbagi isi kepala on October 4, 2009 at 9:00 am

(sumpah, ini saya juga nemu lagi, kali ini ditulis tanggal 5 Oktober 2006. Komentar saya cuma satu : LABIL SEKALI. Shit, saya makan apa sih dulu. Sumpah nggak tahan ketawa melulu bacanya)

Tentang Memilih

Hidup kita selalu tentang memilih sesuatu. Dalam semua aspek kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Memilih dapat menjadi mudah, dapat pula menjadi sulit, kesemuanya itu tergantung kepada pilihan-pilihan apakah yang tersedia dan tergantung pula terhadap situasi yang ada saat itu. Pilihan-pilihan yang ada bisa jadi sama menggiurkannya, sama baiknya sehingga kita sulit menentukan pilihan mana yang terbaik di antara semua. Pilihan juga dapat menjadi sama tidak baiknya, sama buruknya, sehingga membuat kita harus memilih mana di antara pilihan-pilihan tersebut yang –setidaknya-  lebih baik dibandingkan dengan yang lain.

Memilih atau dapat dikatakan pula memutuskan untuk melakukan sesuatu atau memilih untuk tidak melakukan sesuatu itu, memilih untuk mendekat atau memilih untuk menghindari, menjauhi dan meninggalkan sesuatu. Semuanya berpulang kepada diri kita sendiri, ego kita masing-masing dan bagaimana cara kita mengatasi ego kita tersebut. Seringkali kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang diantaranya ada yang lebih penting atau lebih mendesak untu dilakukan, namun di lain pihak pilihan lainnya begitu menggoda untuk diambil walaupun kita tahu akan lebih baik bila kita memilih pilihan yang sebelumnya karena lebih penting. Dalam keadaan seperti inilah masing-masing dari kita harus berurusan dengan ego kita masing-masing lalu kemudian memilih untuk mengikuti ego kita atau tidak.

Kita tentu akan menemui banyak kesulitan bila selalu mengikuti ego kita karena dalam hidup ini kita harus selalu berhubungan dengan orang lain. Kita berhubungan satu dengan satu, berhubungan dengan banyak orang sekaligus, berhubungan dengan lingkungan dan sebagainya sehingga kita seringkali tidak dapat menentukan pilihan mana yang sebetulnya memang benar-benar ingin kita pilih. Di balik semua itu kita tetaplah tokoh utama yang harus menjalani semua itu, merasakan semua itu, dan yang terpenting, memilih di antara kesemuanya itu.

Memilih itu tidaklah mudah karena setiap pilihan akan membawa dampak dan konsekuensi masing-masing. Kita sebagai manusia terkadang (atau justru sering?)  tidak mengetahui –atau tidak mau mengetahui dan tidak peduli-  terhadap konsekuensi dari pilihan yang diambilnya.

Salah seorang teman saya mengatakan bahwa “meraut pensil itu sulit sekali, tingkat kesulitannya cukup sulit”. Pernyataannya ini membuat saya bertanya-tanya apa maksudnya. Ia lalu menjelaskan bahwa banyak hal sulit dalam meraut sebuah pensil yang kelihatannya begitu sederhana. Misalnya saja dapat muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “Bagaimana jika saya meraut pensilnya terlalu runcing sehingga tidak enak dipakai?” atau pertanyaan “Bagaimana jika pensilnya terlalu runcing sehingga patah sebelum selesai diraut?” “Bagaimana jika terlalu tumpul?” ”Bagaimana jika saya terlalu bersemangat meraut sampai pensilnya terlalu pendek?” begitu seterusnya ‘bagaimana-bagaimana’ yang lain akan muncul.

Lalu ia juga mengatakan bahwa ia menganalogikan meraut pensil dengan memilih segala sesuatu dalam hidupnya. Saya jadi berpikir bahwa perkataan teman saya tersebut ada benarnya juga. Hidup itu serba tidak pasti, dan kegiatan memilih yang sebetulnya dapat mempermudah kita dalam membuat hidup sedikit lebih jelas menjadi cukup memusingkan, juga bagi sebagian besar orang, dalam hal ini khususnya saya.

Masih begitu banyak hal yang tidak saya mengerti, masih banyak sekali pilihan-pilihan yang membuat saya bimbang. Dalam kasus pensil tadi contohnya, saya bisa saja memilih meraut pensil tersebut sampai runcing sekali, atau saya memilih untuk merautnya tidak terlalu runcing, atau bahkan bisa saja saya justru memilih untuk mengganti pensil tersebut dengan pensil lain, bahkan pulpen atau spidol. Bila mengingat pernyataan teman saya, saya pikir bagaimana bila saya justru memilih untuk tidak memikirkan masalah sulit atau tidaknya meraut pensil tersebut samasekali?

Jadi, saya menyimpulkan, seperti yang telah saya tulis sebelumnya, bahwa hidup memang selalu tentang memilih dan kita –manusia yang masih hidup- akan terus dihadapkan terhadap pilihan-pilihan sepanjang hidup kita. Kita selalu punya hak untuk memilih, bahkan kita juga punya hak memilih untuk tidak menentukan suatu pilihan.

- D! -

Tentang Politik di kampus

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on October 4, 2009 at 8:49 am

(Saya sedang membuka-buka arsip lama dan menemukan beberapa tulisan lama yang saya kira lucu untuk saya pajang di sini. Coba bandingkan dengan cara saya menulis akhir-akhir ini)

Tulisan ini dibuat pada tanggal 19 April 2007


Kapan ini semua berakhir yaa?

Wew, sudah lama juga ga nulis tentang apa-apa lagi samasekali. Malahan sudah lama sekali gue tidak menghasilkan sesuatu, baik dalam bentuk tulisan, gambar, puisi, apalah yang biasa gue kerjakan. Akhir-akhir ini segala sesuatu yang gue hasilkan muncul karena keharusan, ngerti kan? Bukan sesuatu yang gue emang pingin hasilkan, bukan ide yang tiba-tiba muncul, bukan sesuatu yang gue hasilkan di waktu luang gue. Waktu luang yang sangat sedikit itu lebih banyak gue pergunakan  untuk main.

Akhir-akhir ini ide-ide yang gue produksi keluar memang pada saatnya ide itu diminta. Simply, ide itu digunakan buat kerjaan. Semenjak tergabung dalam magang humania senat kampus udah makin dikit aja waktu buat iseng-iseng, karena semua ide yang keluar dipergunakan dalam humania itu sendiri. Ditambah lagi sekarang gue menjadi salah seorang tim di antara tim sukses salah satu calon ketua BEM. Semakin aneh-aneh aja yang gue kerjain.

Ngomong-ngomong masalah ketua BEM, memang udah hampir 1 bulan ini kampus lagi heboh-hebohnya sama pemilu, atau panitia menyebutnya ‘suksesi’. Di antara semua kehebohan itu adalah gue, seorang anak polos yang tidak mengerti apa-apa ucluk-ucluk tergabung dalam tim sukses dan mulai menghasilkan ide-ide maupun karya-karya sederhana yang sekiranya bisa membantu kandidat yang gue dukung menuju menang.

Jujur aja, awalnya gue ikut tim sukses itu gue samasekali gak ngira bahwa semuanya akan serumit itu, dimana kerjaannya juga gak sebanyak itu, pressure-nya gak setinggi itu. Tapi ternyata dugaan gue tersebut salah tuan-tuan nyonya-nyonya, salah besar. Seperti politik yang ada dimana-mana, politik kampus pun bukanlah sesuatu yang sederhana.

Otak gue yang polos dan lugu ini tentu saja belum sampai disitu. Pikiran pertama gue ketika gue menerima ajakan dari salah satu kandidat adalah gue sekedar bantuin aja, gitu-gitu doang, itung-itung nambah pengalaman. Seiring dengan berjalannya waktu, kurang lebih udah dua minggu lah sekarang masa kampanye berlangsung, gue mulai merasakan apa yang gue sebut dengan ‘ketidaknyamanan’. Banyak sekali desain, produk media, ide untuk souvenir dan sebagainya yang telah dibuat oleh anak-anak media demi suksesnya kampanye kandidat. Mungkin sebetulnya kerjaan gue disitu nggak sebanyak itu juga, tapi gue juga nggak ngerti kenapa, setiap kali gue sampai rumah pasti udah pegel-pegel aja bawaannya, apa emang gue yang manja aja kali ya?

Mungkin juga karena gue nggak ngekos jadi yah capek dan repot musti bolak balik ke kampus kalo ada apa-apa yang harus dikerjain? Yang jelas, gue yang time management-nya parah dan badannya gampang capek ini jadi agak sulit membagi-bagi semua bagian hidup gue dan peran gue di dalamnya. Tugas-tugas kuliah masih bisa gue kerjakan, sampai rumah juga gue masih mengusahakan untuk belajar, tapi frekwensi gue ga masuk mata kuliah jadi meningkat somehow.

Waktu yang gue habiskan bersama keluarga dan ngurusin rumah juga jadi berkurang. Begitu pulang kerumah udah dalam keadaan cape gue uda gamau tau apa-apa lagi tentang apa yang ada di rumah. Maunya tinggal makan, ngurusin urusan gue sendiri, trus tidur. Sangat Egois. Gue jadi merasa super tidak enak sama si bapak karena seharusnya kan gue lebih menghabiskan waktu dirumah dan lebih pergatian sama keadaan rumah biar bagaimanapun toh gue anak pertama yang semenjak ibu tidak ada semestinya memiliki tanggung jawab yang lebih atas keadaan rumah. Karena adanya bulan suksesi ini perhatian gue jadi terpecah dan gue jadi bingung menetapkan prioritas gue yang mana dan itu bikin gue jadi capek sendiri.

Itu yang pertama, ada hal lain lagi yang mengganjal di hati gue, yaitu dikarenakan teman-teman se-peer gue gak semuanya berada di kubu yang sama komunikasi kami pun jadi terasa agak-agak gimana begitu. Sebetulnya gue dan teman-teman gue sama-sama santai mengenai hal ini tapi tetap saja ada hal-hal yang terasa bedanya semenjak adanya suksesi ini terutama dalam hal pembicaraan karena mau tidak mau ada beberapa bagian dari pembicaraan kami yang harus kami batasi demi kepentingan kampanye masing-masing kandidat.

Begitulah hal-hal yang mengganjal hatiku, kenyataan itu ditambah-tambah lagi dengan sangat sedikitnya informasi yang gue miliki tentang keseluruhan politik kampus ini. Bagaimana keadaan yang sebetulnya sedang terjadi, permasalahan apa yang sebetulnya terjadi di dalam badan Senat itu sendiri, bahkan perkembangan berita-berita ataupun gosip mengenai kandidat yang gue dukung sangat sedikit yang gue ketahui. Disini gue jadi bingung, apakah ini memang guenya yang tidak pernah mencari informasi ataukah informasi itu yang tidak pernah tersampaikan?

Terus terang karena keadaannya seperti ini gue mulai merasa tidak yakin dengan apa yang gue lakukan. Yah gimana coba ketika lo bekerja tanpa lo tau apa hasil ataupun kegunaan dari pekerjaan lo itu. Sepertinya gue Cuma bekerja, membuat dan menghasilkan sesuatu tanpa gue tahu perkembangan sesuatu itu akan menjadi apa.

Hhh..gataulah. Yang gue pertanyakan disini cuma satu, kapan yah ini semua akan berakhir? Supaya gue bisa kuliah dengan tenang, pacaran dengan senang dan melakukan fungsi gue sebagaimana mestinya.

- D! -

Satu lagi pelajaran tentang Hubungan Romantis

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on September 26, 2009 at 10:32 am

Kemarin saya terlibat pembicaraan cukup seru dengan beberapa orang tentang (lagi-lagi) hubungan romantis. Satu hal lagi yang saya pelajari dari sebuah hubungan romantis adalah bahwa :

Dalam sebuah hubungan, kedua belah pihak tidak harus memiliki hobi yang sama, kesukaan yang sama, ataupun passion yang sama terhadap suatu hal. Hal yang paling penting justru bagaimana kedua belah pihak saling menyesuaikan irama satu sama lain, di antara semua kesibukan, semua aktivitas, semua kesukaan dan hobi yang berbeda tersebut. Sehingga, tidak ada pihak yang merasa tertinggal. Jadi, pada dasarnya, kita nggak perlu tuh berusaha (terlihat) menyukai apa yang pasangan kita suka kalau memang menurut kita nggak keren atau nggak bisa kita nikmati.

basically, here goes the same old preposition,

JUST BE YOURSELF.


Yah, sedikit meminjam istilah dari Smita Prathita, and for you: the one that I belong with, the one I haven’t met.

Semoga kita sama-sama tangguh ya dalam saling menyesuaikan irama masing-masing, sehingga tidak ada pihak yang merasa tertinggal, apalagi ditinggalkan.

;)

- D! -


Hidup, di mata saya.

In Tentang berbagi isi kepala on September 24, 2009 at 11:00 pm

Pertanyaan saya tentang hidup  datang ketika saya masih duduk di bangku SMP tingkat akhir, apa benar hidup ini tergantung nasib? Saya selalu bertanya-tanya, kalau hidup sudah digariskan dari sananya (dari Tuhan), maka apa benar orang yang jahat sudah ditakdirkan menjadi jahat? Kalau memang begitu keadaannya, sungguh tidak adil buat dia dong bahwa dia dihujat dan dihukum oleh masyarakat padahal garis hidup yang ditentukan untuknya memang menjadi orang jahat? (seperti apapun definisi orang jahat itu sendiri). Lalu bagaimana pula dengan nasib orang-prang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan sengsara selama hidupnya? Apakah benar bahwa memang ada orang yang ditakdirkan menjadi kaya dan bahagia, lalu ada orang-orang yang sepanjang hidupnya hidup di bawah garis kemiskinan?

Biasanya saya berhenti pada suatu titik, karena untuk yang satu ini entah kenapa saya tahu jawabannya tidak akan saya dapatkan.

Ada yang bilang hidup kita bukan tergantung pada nasib, namun justru nasib yang bergantung pada kemauan kita menjalankan hidup itu sendiri. Dalam Islam, salah satu dari 6 rukun iman adalah percaya kepada Qada dan Qadar, atau takdir kecil dan takdir besar. Jadi sebetulnya nasib bisa diubah?

Saya tidak tahu bagaimana detail dari semua itu, yang jelas, hidup bagi saya adalah suatu kesempatan, dalam artian sempit, kita adalah manusia-manusia yang berhasil terlahir untuk ‘mencicipi’ dunia dari sekian banyak sel sperma yang berusaha membuahi indung telur dalam rahim, berarti kita adalah yang terpilih. Terpilih untuk apa? Entahlah. Bagi saya, setiap makhluk hidup ada di dunia ini dengan suatu tujuan, bukan sebuah kebetulan.

Mengenai nasib dalam hidup, bisa diubah atau tidak? Saya juga kurang tahu.

Saya membayangkan hidup seperti buku cerita yang kamu harus pilih sendiri alur ceritanya, tau nggak buku cerita itu? Jenis buku cerita anak-anak yang meminta kita untuk memilih, dengan aturan jika-maka. Jika kamu ingin begini, maka pergi ke halaman ini, jika kamu ingin begitu bukalah halaman ini, begitu. Kita  yang memilih petualangan kita sendiri. Hidup juga seperti itu. Sama seperti pendapat saya mengenai jodoh yang bukan hanya 1, nasib juga begitu. Nasib, atau jodoh, atau beberapa hal lain yang berkaitan (umur seseorang, dsb) memang sudah ditentukan, tapi bukan hanya satu. Ada beberapa kemungkinan-kemungkinan yang sudah Tuhan siapkan untuk kita, tergantung kita yang memilih.

Pilihan mana yang paling efektif, optimal, menguntungkan, dan sebagainya.

Bedanya dengan buku cerita, kita nggak bisa curang untuk mengintip akhirnya.

(Terinspirasi setelah membaca pendapat nik.e di blognya, tentang hidup, yang mana mengingatkan saya sendiri tentang pendapat saya tentang hidup)

- D! -

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu (pt.3)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:33 pm

Sebetulnya sih teman-teman saya yang lain juga tidak menuntut secara langsung untuk saya menjadi sama dengan mereka. Hanya saya saja yang merasa perlu mengikuti mereka. Walaupun saya sendiri tidak mengerti apakah hal itu baik atau tidak bagi saya dan orang-orang terdekat saya, biasalah anak remaja labil, dimana teman lebih penting dari keluarga.Selain masalah tampilan dan pembicaraan yang tidak nyambung, saya juga merasa seumur hidup saya di SMA saya tidak pernah bebas menjadi diri saya sendiri (yang pada saat itu juga saya tidak yakin diri saya seperti apa ya?). Yah walaupun saya sendiri juga belum tau diri saya sebenernya seperti apa, minimal saya tau kebiasaan-kebiasaan kampungan saya udah ada dari dulu. Kebiasaan saya komentar-komentar asal yang suka disalahartikan sebagai ngelawak, kebiasaan saya untuk nge-dubbing telenovela di TV, kebiasaan saya untuk beli baju di pasar, kebiasaan saya untuk ngemilin es batu, kebiasaan saya untuk beli jajan pasar atau makan di rumah makan tradisional dari pada makan di restoran mahal, yah kebiasaan sederhana seperti itu.

Belum lagi pembicaraan yang terjadi biasanya seputar baju, mode, dan hal-hal semacam itu yang bagi saya saat itu sebetulnya tidak menarik. Hal lain yang membuat saya merasa berbeda dengan teman-teman saya saat itu adalah kenyataan bahwa saya tidak menganggap ngerjain adik kelas adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Entah saya yang terlalu cuek, entah apa, yang jelas saya merasa itu bukan urusan saya dalam hal mengatur seperti apa seharusnya adik kelas berpakaian atau bertingkah laku, walaupun saya sebenarnya mengikuti aturan yang dibuat oleh senior saya, dalam hal berpakaian misalnya. Pokoknya jaman SMA saya merasa sikap saya ambivalen terhadap keadaan yang ada. Saya sebetulnya nggak memandang suatu hal sebagai suatu yang positif tapi saya ikut-ikutan aja dalam rangka diakui eksitensinya. Kalau dapet undangan pesta-pesta gitu saya sebetulnya suka bingung harus dating atau nggak kalau orang yang mengundang sebetulnya nggak deket-deket amat. Saya juga menganggap bahwa kedatangan saya di pesta yang dimaksud juga sebetulnya tidak signifikan, lha ya wong deket aja enggak kok ya. Saya juga menyembunyikan fakta bahwa saya suka beberapa band indie, yang teman-teman saya bilang mereka nggak ngerti musiknya. Sebenernya ada sih sekelompok temen-temen lain yang menyukai band-band yang sama seperti saya, Cuma mereka ini juga ternyata hobi clubbing, sementara saya enggak. Saya biasa aja sama clubbing, jadi ya nggak mungkin main bareng juga lah. Sudah beberapa kali rasanya saya ingin ganti teman bergaul aja, yang lebih sepaham dengan saya, Cuma apa mau dikata, gengsi saya sudah menang. SAya merasa kalau ganti temen, temen-temen baru saya nanti nggak akan se-eksis temen-temen saya yang populer ini. Pokoknya saya anak yang biasa-biasa aja waktu SMA lah.

Baru ketika duduk di kelas 3 saya mulai merasa benar-benar nyaman. Sejak duduk di kelas 2 saya mulai berani sedikit-sedikit mengemukakan pendapat saya. Ketika saya keterima di jurusan IPA, saya minta kepada Ibu saya untuk mengurus kepindahan saya ke jurusan IPS saja, karena saya nggak punya minat samasekali dalam Fisika dan MAtematika. Sejak kelas 2 saya belajar untuk memilih teman, mulai berani untuk jujur sama diri sendiri bahwa saya sebenernya nggak cocok dengan gaya hidup seperti itu, mulai berani untuk mengeluarkan komentar-komentar saya dan bukannya Cuma diem aja.

Pada kelas 3 saya berhasil menemukan beberapa teman yang membuat saya nyaman berada di antara mereka, teman-teman yang bisa diajak naik bus, teman-teman yang bisa diajak menggembel, temen-temen yang mau makan di pinggir jalan tapi juga teman-teman dengan pengetahuan yang sama luasnya dengan teman-teman saya yang sebelumnya, dan saya sedikit bisa lega. Tidak, saya tidak pernah menyalahkan teman-teman lama saya, saya juga tidak begitu saja meninggalkan mereka. Hanya saja, waktu sendiri yang membuktikan kedekatan kami sejauh apa. Sekarang, di tahun terakhir (Insya Allah) saya kuliah, saya masih berhubungan cukup baik dengan mereka, setidak-tidaknya kami masih berkirim info mengenai acara yang diadakan kampus masing-masing, atau saling mengucapkan ulang tahun dan lebaran. Bagi saya itu sudah cukup. Asal saya bisa merasa nyaman.

Apa diantara teman-teman pernah mengalami isu yang sama?

- D! -

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu (pt.2)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:31 pm

Saya tidak akan bicara lingkup yang terlalu luas tentang SMA saya yang mana sebetulnya sudah banyak orang yang kurang lebih tau gambarannya seperti apa kultur di SMA saya, SMA Negeri 70 BUlungan itu. Saya juga bukannya bilang bahwa SMA saya tidak keren dan tidak menyenangkan, secara umum, saya merasa SMA saya sangat keren dan secara umum kejadian yang saya alami di SMA cukup menyenangkan, hanya saja tidak saya nikmati benar-benar dan tidak membuat saya merasa seperti saya yang sekarang ini. Disini saya akan lebih banyak bicara tentang teman-teman saya waktu SMA.

Bicara tentang teman-teman saya sewaktu SMA, tidak ada yang salah dengan mereka, mereka semua baik terhadap saya dengan teman-teman saya pula saya merasakan banyak pengalaman baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, hanya saja saya bingung, apakah mereka benar-benar teman-teman saya? Kehidupan yang paling tidak nyaman di SMA saya terjadi ketika saya duduk di kelas 1 SMA dimana semuanya baru dan butuh penyesuaian diri ekstra dari saya. Bagi saya, itu adalah sebuah perubahan yang sangat besar. Saya berasal dari sebuah SMP kecil di dekat rumah dan kebetulan bisa masuk ke sebuah SMA unggulan yang saat itu peminatnya berasal dari mana-mana, baik dari SMP Negeri atau SMP Swasta terkemuka di Jakarta. Saya punya beberapa teman yang semuanya cantik-cantik dan baik hati. Kalau saya bilang cantik, berarti benar-benar cantik-cantik ya. Sebenernya semuanya baik-baik aja. Sampai beberapa lama, saya mulai merasa berbeda dari mereka.

Saya begitu berbedanya, saya merasa bahwa saya sangat jelek dan tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Mereka semua begitu cantik, pintar, keren, GAYA, dan KAYA. Flawless deh pokoknya. HIdup mereka begitu sempurna. Dari orang-orang inilah saya kemudian tau bahwa anak kelas 1 SMA bisa dibeliin jam tangan seharga 600ribu sama ayahnya, dari orang-orang ini lah saya tau bahwa ada orang-orang di dunia ini yang merayakan ulang tahunnya dengan mengeluarkan orangtuanya sampai menginjak angka 40juta rupiah, saya juga tau bahwa ada orang-orang yang menghabiskan long- weekend mereka dengan cara jalan-jalan ke luar negeri,  dan bagi saya semua itu adalah dunia yang jauh dari saya, jauh sekali.Tidak ada yang salah dengan itu semua, karena itu memang masalah gaya hidup yang berbeda, gaya hidup, alias kebiasaan.

Lalu mereka pun mulai membicarakan hal-hal yang tidak saya mengerti, artis-artis yang belum pernah saya ketahui, tempat-tempat yang bahkan tidak pernah saya bayangkan ada tempat seperti itu di muka bumi. Terus terang saya mulai tertekan. Saya jadi banyak bertanya ke orangtua saya. Kemudian ayah saya menjawab “ya, kamu mau bapak kasih ini dan itu? Bapak sih sebenernya bisa aja kasih kalian masing-masing ini dan itu, tapi terus kalau bapak udah kasih emang kenapa?”.  Saya kemudian terdiam, demikianlah, orangtua saya tidak mengerti tekanan sosial jaman SMA berat sekali. Atau mungkin mereka mengerti, hanya saja mereka tau bahwa isu tersebut sebaiknya tidak dibesar-besarkan dengan cara mengikuti semua keinginan gue. Yah, karena saya adalah anak yang cenderung pasrahan pada waktu itu akhirnya saya pun menuruti saja.

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:27 pm

Mumpung twitter lagi heboh dengan trending topic #pengakuan, saya pikir nggak ada salahnya juga kalau saya ikut-ikutan bikin pengakuan tentang beberapa hal yang belum pernah saya bagi kepada siapapun. Tidak dengan orangtua, tidak dengan adik-adik saya, tidak dengan pacar (oiya, saya kan nggak punya pacar ya?), tidak dengan gebetan saya, tidak dengan mantan saya, tidak pula dengan teman-teman terdekat saya saat ini. Yah, setidaknya tidak selengkap ini.

Sore ini saya bangun dari tidur siang karena mimpi yang tumben-tumbenan. Kenapa tumben-tumbenan? Karena saya mimpi tentang orang-orang yang udah lama banget tidak saya temui, beberapa cewek-cewek teman SMA saya, dan dalam mimpi itu kami merencanakan untuk pergi ke Malaysia untuk menyaksikan seniman modern dance dan kemudian mempelajari gerakannya. Aneh banget mimpinya. Pertama, saya nggak bisa nge-dance. Kedua, saya nggak mungkin banget ke Malaysia hanya untuk melihat pertunjukan modern dance (saya lebih memilih untuk pergi ke Malaysia untuk menyaksikan penari Indonesia membawakan sebuah tari tradisional). Ketiga, saya nggak mungkin banget bepergian lama-lama sama teman-teman saya yang ini, saya nggak bakalan merasa nyaman.  Saya kategorikan mimpi ini sebagai salah satu mimpi yang nggak enak, tidak sampai menjadi mimpi buruk memang, tapi tetap tidak enak.

Munculnya mimpi ini membuat saya teringat terhadap kehidupan dan teman-teman saya sewaktu SMA, yang sejujurnya, tidak begitu saya nikmati. Kenapa? Waktu SMA saya mengalami sebuah krisis percaya diri yang lumayan mengganggu. Saya tidak pernah sedikitpun menyukai diri saya waktu itu. Kalau beberapa teman saya kemudian bilang, “ah tapi lo sekarang juga suka minderan”, percayalah, waktu saya SMA keadaannya lebih parah lagi. Memang sekarang pun saya suka berkelakar dan bilang bahwa “ah gue nggak bisa apa-apa” atau “ah gue sama sekali nggak punya hal yang menarik dalam diri gue” dan seterusnya dan seterusnya. Percayalah bahwa sebetulnya saya tidak seminder itu, sebetulnya saya cukup bangga dengan diri saya, dalam artian saya cukup nyaman dengan diri saya yang sekarang ini, dengan kemampuan yang saya miliki, dengan tampilan saya, dan lain-lain. Walaupun saya merasa masih banyak kekurangan di sana-sini dan seharusnya saya bisa lebih dari ini, saya merasa saya sudah cukup nyaman mengkespresikan diri saya seperti saya yang sekarang ini. WAktu SMA, jangan harap saya bisa melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri saya, milih main sama siapa aja bingung, milih kesukaan saya aja bingung.

Oke, pengalaman SMA saya bukannya diisi dengan kegiatan saya di-bully oleh sekelompok senior sepanjang saya bersekolah, atau di-bully oleh teman-teman saya, atau tidak punya teman sama sekali, tidak, masa SMA saya tidak diisi dengan hal-hal seperti itu. Hanya saja pengalaman yang saya hayati, lingkungan di sekitar saya, dan semua tradisinya membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri, tidak suka dengan keadaan saya, dan selalu merasa berbeda dari kebanyakan teman-teman saya. Sewaktu saya SMA, saya terlalu banyak membohongi diri saya sendiri.

(bersambung)

Lebaran and lesson learned

In Uncategorized on September 20, 2009 at 9:44 pm

I have several things to share about this Lebaran (1430 H). this year Lebaran feels a bit different for me. So, wait for the updates yaaa.

- D! -

Last sunrise before Ied Mubarak 1430H

In Tentang bergelut dengan fotografi, Tentang bertamasya on September 20, 2009 at 6:19 pm
last sunrise on 1429 H

last sunrise on 1429 H

Foto diambil dalam perjalanan mudik ke Semarang. Saat itu saya sedang tidur dengan nikmat plus mulut menganga, tiba-tiba bapak saya, selaku nahkoda perjalanan, menggoncang-goncang badan saya dengan antusias, sambil mengatakan “Dhe! Objek foto bagus tuh!”. Saya hanya mampu mengerjap-ngerjapkan mata tanda belum sadarkan diri sepenuhnya. Komentar selanjutnya yang keluar dari bapak saya, “ahh, katanya mau jadi fotografer, ada objek bagus kok malah tidur aja sih?”.

Hal selanjutnya yang saya tahu adalah, beliau meminggirkan mobil, berhenti dan mengambil kamera di kursi paling belakang (kedua adik saya masih tidur dengan damai sambil saling bertumpukan). “Nih foto nih!” kata bapak seraya menyerahkan kamera pada saya. Terhuyung-huyung saya keluar mobil, dan beginilah jadinya, foto yang saya ambil setengah sadar.

Pertanyaan saya : Kenapa bapak saya nggak motret sendiri aja sih ya? hehe.

- D! -

About the Unproductivity

In Tentang beragam hari on September 7, 2009 at 10:51 pm

Hey all, been unproductive in writing lately, due to betrayal of hormones, or so called PMS  :p

It seemed that I have so many thougths wandering through my head, I just can’t get it out right, in words I mean. Maybe i’ll just post some pictures that attracted me lately, so that you guys won’t get bored with this blog of mine. This is my blog anyway, I can do whatever I want to do with it, hehe, kidding though.

I’ll be back writing as I get my brain back to where its belong, soon I hope.

Promise you.

Catch you guys later!

- D! -

Solitude.

In Tentang bergelut dengan fotografi, Tentang bertamasya on September 7, 2009 at 10:36 pm

Everytime I feel that everythin around is getting crazy and even crazier, I look at this picture I took at Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, several months ago.

solitude

solitude

-D! -

Konspirasi

In Tentang berbagi sisi melankolis on September 5, 2009 at 12:45 pm

Kalau hati lagi sedih, lagi sakit, mood lagi berantakan, seakan-akan seluruh alam berkonspirasi untuk mendukung hari itu.

Seperti yang satu ini

IMG_0951

IMG_0950

NO MORE TEARS

Yes, please

- D! -

hari pertama kuliah (lagi)

In Tentang beragam hari on September 1, 2009 at 10:32 am

Halo teman-teman! Kemarin (Senin, 31/08/09) adalah hari pertama saya kembali berkuliah setelah liburan selama 3 bulan lamanya. Atmosfer ‘kembali ke sekolah’ sangat terasa di sekitar saya, baik negatif mau positif. Pada hari itu banyak teman-teman yang mengomel di twitter maupun plurk mengenai betapa mereka masih belum rela untuk memulai perkuliahan. Sementara itu, atmosfer excited (saya tidak berhasil menemukan padanan kata yang tepat utk kata ini dalam bahasa Indonesia) untuk beberapa orang lainnya, sebut saja misalnya bagi para mahasiswa baru (baik mahasiswa baru S1 dan S2), juga terasa dimana-mana.

Saya sendiri termasuk kelompok mahasiswa yang excited menyambut kembalinya hari-hari perkuliahan. Bukan karena sudah kangen dengan atmosfer kampus, bukan pula kangen dengan orang-orangnya, apalagi kangen dengan tugas-tugasnya. Saya excited menyambut kembalinya hari perkuliahan saya tak lain dan tak bukan adalah karena saya sudah bosan dengan kegiatan sehari-hari yang ujung-ujungnya sama sekali nggak produktif dan cuma ngabisin duit aja selama liburan.

Demikianlah, begitu kembali ke kampus, waw! Pemandangannya sangat segar dan berwarna-warni. Cewek-cewek angkatan 2008 ternyata pada janjian pake rok, cewek-cewek 2007 (tadinya) janjian pada mau pake sepatu wedges, tapi ternyata cuma dua orang diantara mereka yang konsekuen pake sepatu yang dimaksud. Ah, mereka toh sudah pada kinclong dan manis-manis seperti biasanya. Selain itu juga banyak mahasiswa baru 2009 yang bersliweran dengan muka bingung pakai jaket kuning bergerombol berbisik-bisik mencoba mencari senior yang kira-kira cukup murah(an) hati untuk diwawancara. Juga tak lupa teman-teman angkatan saya, 2006, yang duduk bergerombol di kanlam, atau yang bergerombol di depan papan komunikasi akademis untuk mengecek pengumuman pembimbing skripsi. Semuanya sangat menyegarkan di hari yang luarbiasa panas kemarin.

Aktivitas pertama dibuka dengan kuliah Pelatihan II, dimana pada mata kuliah ini nantinya kami para mahasiswa akan dituntut untuk membuat sebuah program pelatihan softskill sebagai tugas akhir semseter. Kuliah berjalan menyenangkan dan sangat menarik walaupun letak kelasnya sangat tidak berperikemanusiaan (Gedung C lantai 4).

Aktivitas kedua adalah bengong di kanlam sambil mengomentarin orang lewat (pahala puasa dipastikan berkurang banyak)

Aktivitas terakhir di kampus pada hari itu adalah kuliah Neuropsikologi yang menurut saya sangat keren. Di mata kuliah ini akan dibahas mengenai kaitan fungsi otak dan dampaknya terhadap perilaku sehari-hari, mencakup juga perilaku abnormalitas dan berbagai penyakit dalam. How cool is that?

Tampaknya saya akan menikmati semester 7 saya ini dan menjalankan semua aktivitas saya dengan semangat.

AMIEN.

Bagaimana hari kalian?

- D! -

Panggung Sandiwara

In Tentang berbagi isi kepala on August 30, 2009 at 10:39 pm

Postingan ini berkaitan erat dengan posting-an sebelumnya tentang social networking sites juga

Suatu hari sempat ada pembicaraan singkat antara saya dan teman saya Ijah mengenai rasa sirik terhadap kebahagiaan orang lain (maksudnya lagi gosip dan nyerempet ke curhat).

Waktu itu kebetulan mood lagi nggak karuan rasanya, bawaannya lagi sirik berat sama orang yang kelihatannya kehidupannya bahagia dan nggak pernah susah. Padahal waktu itu kalau ditilik lebih dekat lagi saya juga menyimpulkan dengan semena-mena bahwa orang yang dimaksud tersebut berbahagia hanya dari status-statusnya yang ada di twitter, dan sepenglihatan sehari-hari aja tanpa kenal lebih dekat dengan (beberapa) orang tersebut.

Sangat sederhana, tapi bisa meracuni pikiran saya.

Kalau mau dilihat-lihat, apa sih sebenarnya yang orang (termasuk saya) tulis di status Twitter atau Plurk atau status-status situs microblogging yang lain (atau status YM juga boleh deh)? Hal yang banyak dituliskan antara lain seputar kegiatan sehari-hari, seperti “hari ini nggak ada kerjaan nih

lokasi dan kegiatan saat itu  ”lagi makan sour sally sama besties :)

mood hari itu “grr gue lagi pengen makan orang!”

curhat-curhat colongan yang seolah-olah mengutip lirik lagu atau dialog film tertentu

curhat terang-terangan

barang yang baru mereka beli “just got a new iPod Touch for only  (seharga berapa gitu)”

Lalu apakah status-status tersebut bisa benar-benar merepresentasikan siapa yang sebenarnya? Menurut saya tidak. Setidaknya tidak tepat, demikian pula menurut Ijah.

Apa yang kita bagi di situs microblogging merupakan sebagian dari diri dan kehidupan kita yang memang sengaja kita pilih untuk kita bagi kepada semua orang, yang berarti dilakukan dengan kesadaran penuh. Menurut saya, ini ‘hanya’ masalah manajemen kesan. Kita bisa membentuk kesan seperti apa yang kita tampilkan di hadapan orang lain berdasarkan apa yang kita tuliskan dalam situs-situs tersebut. Oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan kata-kata apa saja yang kita tuliskan dalam situs-situs tersebut.

Misalnya aja, kalau mau dianggap pintar dan cerdas nah boleh tuh mencantumkan kutipan-kutipan atau link-link soal berita terbaru atau informasi ilmiah terbaru. Kalau mau dianggap gaul dan punya banyak teman ya boleh lah mencantumkan kegiatan sehari-hari, tempat yang dikunjungi hari -perhari, dan dengan siapa perginya. Kalau mau dianggap bijak boleh tuh masukin kutipan-kutipan dari Confucius, misalnya. Kalau mau dianggap hightech boleh banget masukin link-link informasi seputar produksi gadget terbaru. Ya pokoknya kita bisa menciptakan sendiri kesan yang ingin kita tampilkan di hadapan orang lain.

Berhubung sebelumnya saya udah bilang kalo update status yang kita pilih untuk tampilkan itu dilakukan dengan kesadaran penuh, berarti kita juga harus lihat-lihat lagi nih apa aja yang udah kita tulis di status tersebut (waspadalah, waspadalah!) karena pepatah lama mulutmu harimau-mu sungguh sangat berlaku hukumnya dalam hal ini (atau dalam hal ini bisa disebut update statusmu harimau-mu? aneh bener kedengerannya).

Misalnya nih, kalau nggak mau dianggep suka pamer dan ingin terlihat tajir, sesekali kurangilah update status tentang barang-barang yang kita miliki dan yang baru kita dapatkan. Juga kurangilah menuliskan tentang nominal uang ataupun IPK yang kita miliki (emang ada yang nulis beginian di status ya?). Kalau nggak mau kelihatan jadi orang yang menye-menye ya tolonglah dikurangi update status tentang betapa remuk redamnya hatimu akibat cintamu ditolak atau digantungin. Kalau nggak mau keliatan nggak ada kerjaan karena nggak punya temen yang bisa ngajak bepergian coba dikurangi kegiatan update status setiap 5 menit sekali, atau justru update lah status 5 menit sekali dengan status-status serupa dengan “sekarang lagi di Sency sama besties, sebentar lagi pindah ke GrandIndo buat bukapuasa sama temen SMA” dengan nama tempat yang berbeda-beda setiap kali update.

Kadang (atau justru seringkali?) yang membuat bingung adalah orang yang  ingin dianggap memiliki tampilan kesan tertentu malah terjebak untuk melakukan hal-hal yang justru membuat mereka tampak memiliki tampilan kesan yang sebaliknya dari kesan yang ingin ditunjukkan. Contohnya? Ya temen-temen juga bisa menemukannya kok kalo mau lebih jeli sedikit menelisik.

Seperti kata grup band lawas papan atas God Bless, “Dunia ini panggung sandiwara” teman.  Sandiwara tersebut semakin dimudahkan dengan adanya berbagai media yang memungkinkan kita untuk melakukan yang saya bilang sebagai manajemen kesan itu tadi, sehingga kita nggak perlu ribet menunjukkan secara langsung kesan yang ingin kita tampilkan. Cukup dengan  mengetik di keyboard laptop ataupun keypad Blackberry anda, dan voila! Anda bisa jadi (nyaris) semua tipe orang dengan berbagai kepribadian yang anda mau.

ini kostum dan topengku untuk hari ini, kamu pakai yang mana hari ini?

ini kostum dan topengku untuk hari ini, kamu pakai yang mana hari ini?

Begitu mudahnya sehingga kadang kita lupa bahwa setiap drama, sependek apapun, sesederhana drama TK apapun tetap aja butuh plot cerita dan skenario yang bagus. Berarti, tergantung bagaimana kita membuat drama itu sendiri dan menampilkan diri kita yang seperti apa. Peran apa yang ingin kita mainkan serta kostum dan topeng seperti apa yang kita butuhkan. Tidak terlalu sedikit monolog di dalamnya, sampai kita tidak menunjukkan seperti apa diri kita, namun juga tidak terlalu banyak monolog di dalamnya sampai para penonton terlalu bosan menyaksikannya. Akhir-akhir ini film dengan genre action yang menggunakan efek khusus yang berlebihan tapi ceritanya minim makna juga bisa kurang digemari kok.

Dalam drama besar yang biasa kita sebut dengan kehidupan ini, para pelakon juga sekaligus para penonton. Bagi para penonton juga dianjurkan menjadi penonton yang cerdas dan bijak dalam menyikapi setiap suguhan yang ditampilkan. Hal ini juga berlaku pada saya. Jangan terus lihat status orang yang cerita tentang tempat-tempat yang dikunjungi atau barang-barang yang dibeli terus jadi sirik luar biasa sampai terganggu aktivitasnya. Atau lihat update status sepasang sejoli yang sedang kasmaran jadi depresi sekaligus frustasi karena hubungannya sendiri dengan pasangan tidak sebaik itu, dan atau-atau lainnya.

Sekali lagi, status updates hanyalah sebagian kecil dari hidup orang tersebut yang dia pilih untuk ditampilkan ke khalayak ramai dimana kita nggak tahu menahu sama sekali skenarionya seperti apa dan proses latihannya seperti apa. Siapa tahu si anak yang selalu menuliskan mal tempat bergaul dan semua barang mahal yang ada di dalamnya itu sebetulnya rumahnya emang deket situ jadi ya mau nggak mau mainnya emang ke mal yang itu-itu aja, meskipun mal-nya terkesan perlente. Belum lagi si update status si pasangan sejoli yang selalu tampak mesra berasik masyuk ini, kita nggak tahu kan ketika mereka berantem seperti apa? Kita nggak tahu bahwa mereka memiliki permasalahan yang bikin si cewek nangis-nangis atau si cowok sampai males main bola sama temannya (lebay banget ini cowok)?

Jadi, santai saja.

Lihat lebih dekat.

Semua ada porsinya masing-masing.

Bagi para pelakon yang sekaligus juga penonton, mari kita buat pertunjukkan yang bagus sambil sesekali menikmati suguhan yang ada sambil makan popcorn  :)

Ciao!

- D! -

A good way to enjoy your weekend

In Tentang beragam hari, Tentang bersaudara dan keluarga on August 30, 2009 at 2:50 pm

This is my last weekend before the hectic college day starts, so I think I want to spend it wise and nice.

So, this was my activity during the day.

I went to my cousin’s house to see their newlyborn baby. I also took some pictures of him and his mother, and oh not to forget his 2 years-old sister.

his name is Kenzie :)

his name is Kenzie :)

this is me, little Kenzie, and his mother Mbak Puti

this is me, little Kenzie, and his mother Mbak Puti

and don't forget little Fessya, Kenzie's sister

and don't forget little Fessya, Kenzie's sister

this kinda fun. I’d love to see them grow :)

and oh, when I’m becoming a Mom, I would like to be called ‘Ibu’ instead of ‘Mama’ by my children.

See you again soon little ones!

- D! -

First Time We Meet Someone (and days after)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on August 25, 2009 at 9:44 pm

I got this from Paulo Coleho’s internet books (which I think you guys should check out). This one comes from the ‘Stories for Parents, Children, and Grandchildren’ which titled “Epictetus reflects on meetings”. So, apparently it’s extracting Epictetu’s (one of Roman’s great philosophers) Art of Living. It said that :

‘Two things may happen when we meet someone: either we become
friends or we try to convince that person to accept our beliefs. The same
thing happens when a hot coal meets another piece of coal: it either
shares its fire with it or is overwhelmed by the other’s size and is
extinguished.
But, since, generally speaking, we feel insecure when we first meet
someone, we are more likely to affect indifference, arrogance or excessive
humility. The result is that we cease being who we are, and matters
move into a strange world that does not belong to us.
In order to avoid this happening, make your good feelings immediately
apparent. Arrogance may only be a banal mask for cowardice, but
it prevents important things from flourishing in your life.’
Two things may happen when we meet someone: either we become
friends or we try to convince that person to accept our beliefs. The same
thing happens when a hot coal meets another piece of coal: it either
shares its fire with it or is overwhelmed by the other’s size and is
extinguished.

But, since, generally speaking, we feel insecure when we first meet
someone, we are more likely to affect indifference, arrogance or excessive
humility. The result is that we cease being who we are, and matters
move into a strange world that does not belong to us.

In order to avoid this happening, make your good feelings immediately
apparent. Arrogance may only be a banal mask for cowardice, but
it prevents important things from flourishing in your life.’

There we go.
I myself experience this kind of  phenomenon when I’m being introduced to someone new or merely said, new environment. The feeling of  ’you have to be accepted by everybody, by means having the same perceptions as everybody has, OR else you will feel like you’re being left by your surroundings’. More often, to get accepted by our surroundings, we tend to show (sometimes too hard) that we do have something cool  -according to everybody there (the environment you live in)- so that they will recognize us as someone  ’important’  to be joining the environment or group, even more, we tend to show people we’re about to hang out that we’re even more cool than anybody else.
This is what I assume as the beginning of arrogancy or excessive humility. When we feel like pushed by our circumstances and insecurities we tend to tell stories to ourselves that “we are great enough, even more great than anybody in the room” to gain confidence to face the environment. We keep repeating that stories over and over again that eventually we believe that we ARE greater than anybody else. The tiring part of this is that we have to maintain this kind of sense thorough our relationship with people from this new environment. This what makes us forget who we really are and get confused in the middle of the relationship. Because all we ought to do is about maintaining our what- so-called ‘masks’ than to show our-(considered)-weak and small-selves.
Eventually, like once Epictetus said, we ourselves who prevent the most important thing(s) in our life(s) from flourishing to its best.
Kinda sad, isn’t it?

- D! -

Random Nonsense

In Tentang beragam hari on August 22, 2009 at 6:49 am

My Kind of Boy (I got this from facebook, because I don’t like to repost things on facebook, i repost it here)

Now, here’s what you’re supposed to do, and please do not spoil the fun. Copy and paste this into your notes, delete my answers, type in your answers and tag 20 of your friends here in facebook to answer this. Then see what happens.If you’re a guy – post this as “my kind of girl”If you’re a girl – post this as “my kind of boy”

1. Do you need him/her to be good looking?
Better be. He doesn’t have to be good looking, but he has to be attractive and unique. Well at least not ugly

2. Smart?
DEFINITELY. Knowledgeable at least.

3. Preferred age?
Older is better. But younger is okay though

4. Preferred height?
175cm and more

5. How about sense of humor?
this is the first quality I’d notice from a guy. Good sense of humor is a must.

6. How about piercings?
Better not, it would be not preferable for my father

7. Accepts you for who you are?
YES.

8. Pink hair?
Hell no.

9. Mushy or no?
NOPE. Im a mushy girl, I don’t need a mushy guy to get it all worse.

10. Thin or fat?
I prefer thin guy than fat.

11. Black, Brown or White (skin color)?
Brown.

12. Long hair or short hair?
Not a big deal for me.

13. Plastic or metal?
I don’t date robots

14. Smells good?
YES.

15. Smoker?
Better not.

16. Drinker?
On the right occasion and right place

17. Girl/Boy-next-door type?

Hmm? Let me think.

18. Muscular?
It’s okay, but not the kind of Ade Rai-look-alike guy

19. Plays piano?
Considered as a bonus.

20. Plays bass and/or acoustic guitar?
Same goes with the previous number

21. Plays violin ?
Same goes with the previous number

22. Sings very good?
I like guy(s) who has a good voice.

23. Vain?
hell no

24. With glasses?
Preferable. I have something with guys in glasses

25. With braces?
No problemo. Some of them looks even cuter with it.

26. Shy type?
Nope. Right attitude at the right time and the right place, please.

27. Rebel or good boy/girl?
Nope

28. Active or passive?
active

29. Tight or bomb?
I don’t get it.

30. Singer or dancer?
Singer is more preferable

31. Stunner?
On the right occasion.

32. Hiphop?
Nope.

33. Earrings?
nope

34. Mr/Ms. count-my-ex-girlfriends-until-you-drop?
Go to hell.

35. Dimples?
Not a big deal.

36. Bookworm?
I love guy(s) that reads (good) books!

37. Mr/Ms. love letter?
As long as it effective on me. *wink wink*

38. Playful?
YUP

39. Flirt?
As long as it nice

40. Poem writer??

it depends

41. Serious?
serious on what?
42. Campus crush?
Not preferable

43. Painter?
would be nice

44.Religious?
asal alirannya ga aneh2

45. Someone who likes to tease people?
As long he doesn’t make it as a hobby or sumthin.

46. Computer games geek? Or internet freak?
In the right dose

47. Speaks 20 languages?
No, thank youuuu.

48. Loyal or faithful?
Loyal, please.

49. Good kisser?
Yes please :)

50. Loves children?
Have to, or at least, he wants kids in the future

- D! -

Eksplorasi tanpa henti

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis on August 19, 2009 at 9:25 am

Kemarin sore saya pulang dengan Saski (maksudnya saya nebeng sampai Pondok Indah Mall), dan kami mengobrol ini itu, sedikit bergosip di sana-sini dan tentu saja berakhir dengan membicarakan permasalahan percintaan. Saya bertanya pada Saski mengenai kabar percintaannya, lalu dia mengatakan, baik-baik saja. Lalu Saski bertanya kepada saya, dan saya pun menjawab dengan jawaban yang kurang lebih sama, “baik-baik saja”. Lalu tiba-tiba muncul percakapan seperti ini,

Saski : Dhe, Lo diajarin apa di rumah sama orangtua lo?

Dhea : Hah? Ya diajarin banyak lah. Maksudnya dalam hal apa dulu sih ini?

Saski : Ya dalam semuanya, kegiatan, hidup, hubungan percintaan khususnya

Dhea: Hem, masih nggak ngerti

Saski: Lo diajarkan untuk selalu bereksplorasi sementara lo masih muda atau untuk berpegang dan berusaha mempertahankan satu hal? Kalo gue diajarkan untuk selalu bereksplorasi, jadi nggak buang-buang waktu dan selalu cari yang terbaik.

Lalu saya terdiam sejenak, apa nilai-nilai yang selalu diajarkan pada saya seperti apa ya? Kalau dipikir-pikir Bapak dan Ibu saya juga selalu mengajarkan untuk tidak terlalu cepat mengambil keputusan untuk selalu bersama-sama dengan satu orang dan memutuskan bahwa orang itu akan menjadi pendamping hidup saya sampai nanti. Bapak saya juga selalu bilang begitu dan sebetulnya sama sekali tidak apa-apa kalau masih jomblo di usia segini (saya bahkan baru 20 tahun).

Saski kemudian melanjutkan bahwa tidak ada yang salah dengan memiliki sebuah bentuk hubungan romantis dengan seseorang (dalam hal ini berpacaran), yang penting adalah bagaimana kita menempatkan diri kita dalam hubungan romantis tersebut. Disini saya mengakui bahwa saya sempat melakukan kesalahan yang cukup besar dalam hubungan romantis saya yang terdahulu. Sebuah hubungan romantis seharusnya tidak mengikat kedua belah pihak dan seharusnya membuat kedua belah pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut berkembang, bukannya justru ada pihak yang mendominasi (tanpa kesengajaan) atau pihak yang tenggelam eksistensinya. Sebuah hubungan harusnya memiliki bentuk komunikasi yang baik sehingga maksud kedua belah pihak tersampaikan dengan baik, tanpa ada yang memendam, dan tanpa ada yang terlalu menuntut. Kedua belah pihak seharusnya tidak membatasi diri dalam bergaul, dan juga tidak membatasi pasangan masing-masing dalam bergaul.

love is all around :)

love is all around :)

Pada waktu itu, saya lupa (atau tidak tahu) dengan hal itu.

Tapi itu dulu, saya tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Keledai aja nggak jatuh dua kali ke lubang yang sama, masa iya saya kalah sama keledai?

Saya belajar banyak hal dalam dua tahun belakangan, dan saya cukup setuju dengan kata-kata Saski. Dulu saya sempat sebel sama temen-temen saya yang kerjaannya gonta-ganti pacar. Saya selalu berpikir orang-orang tersebut tidak bisa berkomitmen dan menganggap komitmen adalah sebuah hal yang remeh. Akhir-akhir ini saya berubah pikiran. Masing-masing dari kita hanya mencoba mencari yang terbaik dengan cara masing-masing. Ada yang tidak takut untuk memutuskan hubungan yang sudah tidak nyaman, ada pula yang menghabiskan waktu untuk berteman dengan sebanyak mungkin orang baru kemudian memutuskan untuk menjadikan salah satunya sebagai pacar. Itu masalah pilihan.

Bagi saya, yang terpenting adalah saya selalu berusaha untuk melalukan yang terbaik dalam setiap hal yang saya lakukan. Jika saya sedang terlibat dalam sebuah hubungan romantis lagi, saya tidak akan mengulangi kesalahan. Sementara itu, dalam waktu jomblo saya ini, saya akan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk melakukan eksplorasi seluas-luasnya dan berkenalan dengan sebanyak mungkin orang.

Lagipula saya kurang apa sih?

Temen SMSan? Ada.

Temen diajak jalan? Ada.

Temen curhat? Ada.

Temen ngobrol masalah agak penting? Ada.

Temen nebeng (variabel tidak penting)? Ada.

Lengkap.

Ah, udah ah.  Semuanya dinikmati dan disyukurin aja semua yang ada. Pasti lebih asyik :)

- D! -

Sms Sore dengan Saski (SSS)

In Tentang beragam hari on August 16, 2009 at 8:31 pm

Di suatu sore yang indah agak hujan rintik rintik gimana gitu, sewaktu saya sedang tidur-tiduran, tiba-tiba terpikir untuk sms temen saya, Saskhya Aulia Prima. Isi sms-nya sebetulnya sama sekali nggak penting, semata-mata mau ngajak nona yang satu ini untuk kenalan sama salah seorang temen SMA saya, laki-laki tentunya. Karena salah seorang temen saya ternyata belum lama ini menjomblo, dan saya rasa cukup handal lah kalau dikenalin ke Saski. Siapa tahu cocok dan akhirnya bisa membantu nona yang satu ini menemukan tambatan hati. Saya anaknya emang suka menolong orang lain (bohong, padahal biar dikenalin sama temennya Saski juga).

Setelah sms dikirimkan, ternyata baru ketahuan kalo nona Saski ternyata sedang menderita gejala campak (pada waktu saya menuliskan ini sih dia udah sembuh). Akhirnya berbuntut kekecewaan karena nggak jadi ngenalin ke Saski, padahal kan buat seru-seruan aja. Hehe

Saski : (isi sms sebelumnya disamarkan karena menyangkut berbagai pihak) …ntar yasembari gw cari yang lain juga buat lo hahaha, lo tebar jala nggak anaknya?

Dhea : Hah? Tebar jala tuh maksudnya buat lo apa buat gue?

Saski: Buat lo tong, haha jadi jalo gw nemu lg ga si ***** doang. haha.

Dhea: Ohh, buat gue. Kalo gue sih, udah gak tebar jala lagi Sa. Sekarang jamannya pake pukat harimau.

Saski: Hahahah lo cool berat.

Saya cuma bisa ketawa ketawa nanggung.

- D! -

She got some talent.

In Tentang beragam hari, Tentang bercengkrama dengan komik dan anime, Tentang bermacam sumber inspirasi, Tentang bersaudara dan keluarga on August 3, 2009 at 12:01 pm

I always envy my sister’s ability to draw.

Check this out :

for people who like Michael Jackson AFTER he's dead

for people who like Michael Jackson AFTER he's dead

and this one

can't buy me love (Beatles), BUT you can buy me everything else

can't buy me love (Beatles), BUT you can buy me everything else

She makes cartoon!

- D! -

Naik Transjakarta? Siapa Takut!

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bertamasya on August 2, 2009 at 2:05 am

Halo, beberapa minggu lalu saya sempet baca berita di Antaranews.com mengenai tingkat polusi udara  Jakarta yang semakin meningkat dan termasuk yang tertinggi kalau dibandingkan dengan kota-kota besar di negara-negara Asia lainnya (saya nggak bisa cantumin link, soalnya nggak disave beritanya, agak bodoh memang). 80% penyumbang polusi udara itu adalah asap kendaraan sedangkan 20% sisanya berasal dari hasil industri, sampah rumah tangga, dan sebagainya. Yah kalau dilihat-lihat sih ya wajar aja berhubung pengguna kendaraan pribadi di Jakarta ini kan luarbiasa banyaknya. Berdasarkan keprihatinan saya mengenai hal ini, maka saya bertekad akan meningkatkan frekuensi penggunaan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi (nebeng tuh kendaraan pribadi juga bukan ya? hehe). Yah bukannya saya nggak pernah naik kendaraan umum samasekali sih, cuma seringnya naik kendaraan pribadi, berhubung bapak saya itu orangnya parnoan sampe saya suka kesel sendiri.

Contoh bentuk kendaraan yang sering saya gunakan adalah bus cantik berwarna ungu bernama Deborah, angkot-angkot manis, dan bus TransJakarta yang elegan. Kali ini saya tidak akan membahas mengenai Deborah cantik dan angkot-angkot manis manja tersebut, namun saat ini saya akan membahas tentang bus TransJakarta karena dibandingkan kedua jenis angkutan lain yang saya sebut di atas bus inilah yang paling sering saya tumpangi.

TransJakarta, memulai operasinya pada 15 Januari 2004, (saat itu DKI Jakarta berada di bawah pemerintahan Gubernur Sutiyoso) dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah (keterangan ini didapatkan dari “Wikipedia” )

bus Transjakarta yang ciamik

bus Transjakarta yang ciamik

Berdasarkan keterangan di atas, ada dua hal yang patut diperhatikan disini,

pertama, tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta,

dan

kedua, bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta)

Pada kenyataannya, ternyata kedua hal ini belum dapat diwujudkan dengan baik dengan adanya bus TransJakarta. Saya mengakui bahwa dengan adanya TransJakarta, saya mendapatkan kemudahan dalam mengakses lokasi-lokasi tertentu yang letaknya sangat jauh dari rumah saya. Saya juga dapat merasakan kenyamanan yang lebih jika dibandingkan dengan kalau saya harus menumpang bis lain, metromini, atau angkot. Namun, kenyamanan ini berkurang karena beberapa hal yang patut disayangkan, salah satunya yang paling membuat saya jengkel, adalah pelanggaran atas peraturan sterilisasi jalur busway. Sudah disebutkan bahwa bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya, dan lajur tersebut TIDAK BOLEH dilewati oleh kendaraan lain. Namun hal ini tampaknya seringkali diabaikan oleh para pengguna jalan, terutama mobil pribadi. Memang sih, ada beberapa jalur yang tetap diperbolehkan untuk dilewati oleh keadaan lain, namun bukan jalur yang telah disterilisasi dan telah diberi pembatas jalan khusus bus TransJakarta.

Ketika pengendara mobil pribadi berbondong-bondong lewat jalur busway, akhirnya bus TransJakarta-nya sendiri jadi tersendat jalannya, ikut-ikutan kena macet. Padahal misi utama dan mumpuni dari adanya program bus TransJakarta ini sendiri kan untuk mengurangi kemacetan ibukota. Diharapkan, dengan kehadiran bus ini warga Jakarta akan mengurangi pemakaian mobil pribadi dan beralih ke TransJakarta. Oleh karena itu pula TransJakarta sekarang sudah memiliki rute yang aksesnya luar biasa, 10 koridor bung! Belum lagi ditambah beberapa koridor khusus yang hanya beroperasi di waktu-waktu tertentu (misalnya saat akhir minggu), tapi kalo gini caranya, sama aja bohong, karena toh para pengguna mobil pribadi itu tetap tidak berpaling ke TransJakarta dan justru mengeluh bahwa jalanan semakin sempit dengan adanya jalur busway dan berdalih ini akan membuat macet. Lalu, apakah keluhan ini yang membuat mereka merasa berhak untuk lewat jalur busway yang sudah disterilisasi? Halooooo?? Sadar dong orang-orang, pemerintah sendiri sudah berusaha untuk memberikan sarananya, tinggal kesadaran masyarakatnya yang perlu ditingkatkan. Bayar ongkos TransJakarta lebih murah lho daripada bayar bensin.

Berkurangnya kenyamanan dalam menumpang TransJakarta adalah kurangnya armada bus TransJakarta itu sendiri atau biasa disebut juga bus pengumpan (feeder). Hal ini menyebabkan pada jam-jam sibuk, jumlah armada yang tersedia belum sebanding dengan jumlah penumpang menyebabkan antrian panjang di halte-halte (terutama untuk koridor 2 dan 3). Selain antrian yang sangat panjang dan waktu menunggu bus yang sangat lama, begitu berhasil mendapatkan bus para penumpang akan langsung berdesakan dan saling berhimpitan, sehingga tidak ada bedanya dengan menumpang bus Patas AC maupun Deborah ungu yang cantik. Dengan keadaan dimana penumpang penuh sesak seperti ini, yang terjadi adalah pengumuman yang diberikan mengenai halte berikutnya tidak dapat didengar dengan baik, kemudian informasi visual (tulisan) tentang halte berikutnya yang akan dituju -biasa terletak dekat dengan kursi supir dengan tulisan merah yang berjalan- jadi tidak terlihat. Hal ini sangat menyulitkan bagi pengguna TransJakarta, terutama untuk penumpang yang baru sekali naik TransJakarta untuk rute tertentu, dimana tentunya ia belum hapal halte-halte mana saya yang akan disinggahi.

Sebagai catatan penting, hal yang lebih mengganggu lagi adalah kriminalitas juga kerap terjadi pada jam-jam sibuk disaat bus penuh terisi sesak. Kriminalitas memang ada dimana-mana, namun seharusnya hal ini dapat diminimalisir seandainya kondisi bus TransJakarta yang ditumpangi lebih nyaman dan penumpang yang ikut dalam bus tidak melebihi kapasitas.

Hal ini dapat menjadi teguran untuk pemerintah, dengan begini dapat dilihat bahwa mungkin pengguna TransJakarta jumlahnya cukup besar (yang mana tentunya hal ini menjadi berita baik bagi pemerintah mengingat tujuan program ini). Untuk itu pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan jumlah armada bus TransJakarta itu sendiri. Yah, saya memang cuma warga, dan ngomong memang lebih gampang daripada melakukan, dan saya juga tahu pemerintah daerah pasti punya segudang urusan lain selain TransJakarta. Saya juga maklum bahwa bus-bus Mercedes -Benz dan Hino yang digunakan sebagai Transjakarta dibangun dengan menggunakan bahan-bahan pilihan.

“Untuk interior langit-langit bus, menggunakan bahan yang tahan api sehingga jika terjadi percikan api tidak akan menjalar. Untuk kerangkanya, menggunakan Galvanil, suatu jenis logam campuran seng dan besi yang kokoh dan tahan karat.
Desain bus Transjakarta juga berbeda dengan bus lain, bus ini memiliki pintu yang terletak lebih tinggi dibanding bus lain sehingga hanya dapat dinaiki dari halte khusus busway (juga dikenal dengan sebutan shelter). Pintu tersebut terletak di bagian tengah kanan dan kiri. Pintu bus menggunakan sistem lipat otomatis yang dapat dikendalikan dari konsol yang ada di panel pengemudi. Untuk bus koridor 2 dan 3, mekanisme pembukaan pintu telah diubah menjadi sistem geser untuk lebih mengakomodasi padatnya penumpang pada jam-jam tertentu, di dekat kursi-kursi penumpang yang bagian belakangnya merupakan jalur pergeseran pintu, dipasang pengaman yang terbuat dari gelas akrilik untuk menghindari terbenturnya bagian tubuh penumpang oleh pintu yang bergeser.” (Wikipedia)

Keren bukan? Wajar kalau pembuatan bus TransJakarta membutuhkan biaya yang besar dan tidak segampang itu menambah jumlah armada, belum lagi menggaji supirnya. Hanya saja, kalau mau dipikir lagi, jika saja keamanan dan kenyamanan bus Transjakarta ditingkatkan, pastinya penumpang juga semakin berminat untuk menumpang, sehingga ujungnya diharapkan akan memiliki dampak pengurangan jumlah pengguna kendaraan pribadi di jalanan ibukota. Untuk itu baik sekali kalau kerjasama pemerintah dan masyarakat semakin ditingkatkan, toh ini buat Jakarta kita juga kan?

Buat kita pribadi, apa yang dapat dilakukan?

salah satu yang paling mudah tentu saja mencoba TransJakarta dan mengurangi penggunaan mobil pribadi. Kalau itupun masih terlalu sulit untuk dilakukan karena belum terbiasa, atau karena rute yang kita lewati ternyata belum terjamah oleh TransJakarta, hal penting lain yang harus dilakukan saat berkendara dengan mobil pribadi adalah jangan menerobos dan seenaknya malang melintang di jalur busway, tolong jangan. Saya tahu jalanan macet, dan seringkali lewat jalur busway ternyata mempercepat laju kendaraan kita karena relatif lebih lancar, tapi itu egois namanya. Kalau semua orang berpikiran seperti itu, ujungnya jalur busway juga akan jadi ramai dan macet, akhirnya kehilangan fungsi yang sebenarnya.

Setidaknya saya sudah mencobanya, bagaimana dengan kalian?

- D! -

Saya, konsumtif? (pt.2)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 25, 2009 at 4:49 pm

Di tulisan sebelumnya saya sudah mengungkapkan sedikit keresahan dan kegundahgulanahan yang menyita waktu, pikiran, hati, dan energi saya akhir-akhir ini. Saya juga telah mengungkapkan bahwa saya sedang berusaha untuk mencari pemecahan dari kegundahgulanahan tersebut, dan saya sudah sampai pada poin pertama, yaitu mencoba menelusuri kembali apa yang sebenarnya terjadi, sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah dengan pola hidup saya akhir-akhir ini.

Poin pertama,

Memangnya ada apa sih?

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa kira-kira dua tahun yang lalu saya adalah anak yang nggak peduli merk ataupun gadget. Selama saya merasa nyaman, maka saya akan pakai, dan bila saya tidak merasa butuh maka saya tidak akan ambil pusing. Sekedar melirik pun tidak sama sekali. Cuek Bebek. Namun sekarang saya tidak seperti itu lagi.

Untuk beberapa item, saya mulai tahu bahwa barang-barang dengan merk tertentu (dengan harga tertentu pula) ternyata memberikan kenyamanan tersendiri jika dipakai. Misalnya saja, sepatu. Sejak itu, saya mulai lebih pemilih dalam membeli beberapa barang. Awalnya semua berjalan lancar, tapi lama kelamaan saya jadi berlebihan, tiba-tiba merk menjadi sesuatu yang penting bagi saya.

Oh, iya merk yang saya bicarakan di sini tentu belum sampai kelas Vuitton, Channel, dan kawan-kawan ya, cuma yang lumrah-lumrah dan berceceran di mal-mal Jakarta aja kok, cuma sebenernya kalau diliat lagi ada beberapa item yang diberi harga diluar akal sehat seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Entah kenapa untuk beberapa barang saya mulai merasakan adanya tuntutan untuk membelinya di suatu toko tertentu, dengan berbagai alasan tentunya. Padahal kalau saya mau lebih jeli membeli, barang-barang dengan model serupa bisa didapatkan dengan harga lebih murah di tempat lain, ITC misalnya. Tidak jauh berbeda keadaannya dengan gadget, oke, mungkin saya belum sampai sejauh itu tergoda untuk dengan lekas membeli ini itu karena semua orang pakai ini itu. Hanya saja yang jelas, ada tekanan tersendiri untuk menggunakan gadget ini dan itu ketika saya melihat teman-teman saya menggunakannya. Ada semacam perasaan ‘ditinggalkan’ kalau saya nggak ikut-ikutan beli ini itu, tanpa saya benar-benar tahu apa urgensinya semua ini bagi saya. Semacam gengsi, malu, takut tidak diterima dalam kelompok, atau rasa-rasa semacam itu mungkin?

Sungguh menyedihkan dan sangatlah dangkal keadaan saya tersebut. Dimana seharusnya hal-hal tersebut muncul saat saya masih dalam masa remaja saya, ketika saya masih duduk di bangku SMA, secara mengherankannya justru muncul di usia saya yang ke-20 tahun ini. Aneh, sekaligus menyebalkan. Saya jadi sebel banget sama keadaan kalau keinginan saya nggak terpenuhi, sungguh sangat frik.

Poin kedua,

Kenapa bisa begitu ya?

Saya mikir, mikir, dan menduga-duga. Kira-kira kenapa saya bisa begini ya. Lalu dugaan awal tentu adalah informasi yang saya dapatkan. Pada usia saya ini saya semakin terbuka untuk segala bentuk informasi dan semakin terbuka untuk berteman dengan segala jenis orang, bahkan jenis yang tadinya tidak terbayang buat saya. Dengan banyaknya akses informasi ini tentu saja pengetahuan saya tentang barang-barang dan kualitasnya juga semakin bertambah, dimana hal ini dapat membuat keinginan saya untuk memiliki barang-barang tersebut muncul.

Sebagai tambahan, sehari-harinya saya dipaparkan dengan orang-orang terdekat saya yang memiliki gaya hidup yang berbeda dengan saya, yang nggak cuek dan buta merk kaya saya. Orang-orang di sekitar saya justru sangat sadar merk dan tentunya kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh-jauh dari situ, pembicaraannya juga nggak bakal jauh-jauh dari situ. Saya pun sedikit demi sedikit terpengaruh. Berhubung iman saya lemah, saya pun mulai tergoda, padahal kalau saja saya mau sedikit lebih cerdik, belum tentu itu semua saya butuhkan. Saya yang malang.

Poin Ketiga

Terus, kenapa jadi pusing dan tertekan segala?

Keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa ayah saya akan segera memasuki masa pensiunnya. Dimana ayah saya adalah orang yang sangat sulit untuk berbagi mengenai hal-hal yang ada dalam pikirannya, sehingga menyangkut perencanaan memasuki masa pensiun juga saya buta samasekali, kalau ditanya juga beliau hanya menjawab sekenanya. Ini semakin membuat perubahan keadaan sangat terasa, namun tidak pasti berubah ke mana. Hal-hal tambahan seperti kenyataan bahwa orangtua yang saya miliki ya tinggal ayah saya ini aja, dan saya anak pertama, dimana saya masih memilii dua orang adik perempuan yang masih muda belia semakin membuat saya berpikiran bahwa kebutuhan saya tambah tidak mungkin terpenuhi.

Keadaan saya berubah, padahal keadaan di sekitar saya, seperti teman-teman saya, dan sebagainya, tidak berubah, tetap berjalan dengan santai.

Saya jadi pusing.

(bersambung~lagi? Iya, lagi)

- D! -

Saya, konsumtif? (pt.1)

In Tentang berbagi isi kepala on July 21, 2009 at 3:44 pm

(berhubung tulisan ini akan menjadi tulisan yang agak panjang, maka saya berinisiatif untuk menjadikannya menjadi dua postingan, biar enak dibacanya)

Pada hari Senin malam (20/07/09) yang lalu saya dibuat terpana oleh sebuah artikel yang saya baca di Majalah bulanan Intisari edisi Juli 2009. Artikel yang ditulis oleh Muhammad Sulhi tersebut menyoroti mengenai kebiasaan berbelanja masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa ‘menentukan prioritas dan proporsi pengeluaran yang seimbang merupakan kelemahan bagi sebagian besar dari kita. Hal ini berangkat dari hasil survey yang dilaksanakan oleh tim Litbang Intisari terhadap sebagian pembaca majalah dan tabloid yang tergabung dalam GRAMEDIA MAJALAH terpilih (dengan rentang usia 25-40 tahun) pada Maret 2009 yang lalu. Walaupun hasil survey ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh pembaca majalah dan tabloid yang tergabung dalam GRAMEDIA MAJALAH dan masih terdapat sampling error maupun non-sampling error sehingga hasil survey-nya bisa dikritisi lebih lanjut, namun hasil survey ini lumayan memberikan gambaran mengenai gaya hidup masyarakat perkotaan yang ada di sekitar kita (yang mungkin tidak berbeda dengan kita-kita ini dengan usia yang sedikit lebih muda dari usia peserta survey).

Dari hasil survey diketahui bahwa, bagi sebagian besar dari responden (yang sebagian besar sudah menikah dan berasal dari tingkatan ekonomi menengah/atas) aktivitas yang berhubungan dengan hobi, kegiatan hangout, merokok, dan gadget merupakan hal-hal yang memiliki aspek besar dalam pengeluaran per bulannya. Untuk hobi, misalnya, baik responden pria dan responden wanita mengeluarkan angka sebesar Rp.422.360,00 per bulannya, dimana angka tersebut hanya sedikit lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan anak. Selain itu, kebiasaan hangout, atau bahasa gampangnya nongkrong yang biasanya diungkapkan dengan dalih bersosialisasi, ternyata membutuhkan biaya sebesar Rp.257.318,00 setiap bulannya. Dimana biaya tersebut lebih besar daripada uang saku untuk anak. Belum lagi untuk hobi berganti gadget, per bulannya biaya yang dikeluarkan rata-rata adalah Rp.239.286,00, dimana biaya ini dua kali lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk kesehatan (Rp.125.000,00), atau setengahnya dari biaya pendidikan anak (Rp.500.000,00). Belum lagi menyangkut kegemaran mengikuti perkembangan dunia fashion dan menyangkut juga kebiasaan merokok.

Yang bikin saya tambah manggut-manggut kepala adalah persentase atau angka-angka tersebut muncul saat sebagian besar responden mengakui bahwa terdapat pengaruh krisis keuangan global terhadap keluarga mereka (86% dari responden menyatakan demikian) dan mereka harus memangkas beberapa pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak penting. Kalau sudah terpengaruh krisis saja pengeluarannya segini, bagaimana dengan keadaan sebelum krisis keuangan ya? Dalam artikel ini juga disebutkan bahwa tidak heran jika banyak perusahaan multinasional menjadikan konsumen Indonesia sebagai pangsa pasar yang menjanjikan untuk berbagai produk mereka. Artikel yang agak berhubungan juga baru-baru ini saya baca dari Koran Tempo (ah saya lupa penulisnya siapa dan tanggal terbitnya kapan), kaitannya dengan BlackBerry yang kabarnya mau dihentikan stoknya karena pihak perusahaan belum menyediakan layanan purna jual yang memadai di Indonesia, padahal pengguna BlackBerry sendiri sudah luar biasa membludak. Dalam artikel tersebut juga disinggung-singgung bahwa pasar Indonesia itu unik. Unik dalam hal orang-orangnya lebih cenderung mengutamakan penampilan, atau gaya, daripada fungsi. Ouch!


Lalu, kenapa sih saya tertarik dengan artikel-artikel ini?

Karena akhir-akhir ini saya bener-bener lagi merasakan ada sesuatu yang salah sama gaya hidup saya belakangan dan hal ini cukup membuat saya berpikir. Akhir-akhir ini saya selalu saja merasa saya tidak punya uang, uang yang saya miliki tidak pernah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan saya, dan saya sampai gemes bersumpah pingin jadi orang kaya kalau besar nanti. Hal ini cukup nyebelin buat saya di beberapa titik, karena saya jadi mengeluh terus kerjanya dan menyalahkan orangtua. Kenapa sih saya nggak kaya? Kenapa sih bapak saya bukannya pengusaha yang usahanya ada dimana-mana? Kenapa bapak saya nggak bisa memasuki masa pensiun dengan tenang dimana semuanya sudah tersedia?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Saya tertekan, takut, panik, dan gemes.

Hal-hal ini tidak bisa saya bicarakan dengan banyak orang, karena sulit menjelaskan kepada mereka bagaimana perasaan saya menghadapi hal ini, entah saya takut, entah saya malu karena jauh di dalam lubuk hati saya, saya merasa sangat dangkal untuk mementingkan hal-hal materiil seperti ini. Namun, saya juga tidak bisa bohong bahwa saya sangat takut dan khawatir. Akhirnya, suatu hari, semuanya luber juga, dan saya mengungkapkan semua sambil berkonsultasi kepada teman saya. Setelah berkonsultasi dengan teman saya (baca: curhat), saya dianjurkan untuk tidak berfokus kepada apa yang saya rasakan, namun lebih kepada apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi tekanan-tekanan tersebut. Jadi demikianlah, hal pertama yang bisa saya lakukan adalah mencari tahu sejak kapan mulai muncul perasaan-perasaan seperti itu dalam diri saya. Ketika saya mengurutkan kembali akhirnya didapatkan fakta bahwa, sebelumnya saya tidak begini, kira-kira dua atau setahun yang lalu saya sama sekali tidak begini.

Dua atau setahun yang lalu saya adalah anak yang cuek dan tidak kenal merk. Cuek dan tidak kenal merk disini dalam artian, saya tidak begitu peduli saya harus beli produk apa dimana (terutama dalam hal pakaian dan aksesoris, bukan makanan), saat itu yang saya pikirkan adalah apakah saya merasa nyaman dengan baju itu atau tidak, dan apakah saya memang membutuhkannya atau tidak. Untuk beberapa baju bahkan saya memilih untuk membuat desain sederhana sendiri dan membawanya ke tukang jahit, untuk menghindari biaya pembelian pakaian yang tidak masuk akal. Demikian pula soal gadget atau kegiatan nongkrong dan liburan, saat itu yang saya pikirkan adalah yang penting kebutuhan saya tercukupi. Tidak terpikir sama sekali mengenai prestise atau buat gaya-gayaan.

Tapi sekarang?

BEDA.

Saya kemudian bertanya-tanya darimana datangnya perbedaan dalam diri saya ini?


(bersambung)

- D! -

When life gets a lil’ bit harder.

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 15, 2009 at 4:43 pm

Since I entered this twentieth age of mine, i really feel life gets a lil’ bit harder from it was before. There are so many things i have to accomplished myself, many things to catch up, many things to reach, many things to decide, and yes, many things to change, or has changed, or changing. Whatever.

Lately, i’ve been dealing with trouble sleeping, I have so many thoughts in my mind that I can’t share, not even to my closest friends, not even to the keyboard. Why? Since I was too afraid to deal with reality. With the world lately. With myself.

But yesterday, and today, I spill one of them to couple friends, and I feel relieved for that. I did cry along the story, it was tiring, and frightening, but it was pretty enlighting. I feel grateful for that. Grateful for having such great friends around me, that understand me, when I thought they wouldn’t, or couldn’t.

For this, I know they will help me when I’m in need. They’ll be there.

And  I think, I will be fine.

For the direct message on twitter, for the video, for the chat, for the words, for the text, for the hot chocolate, for the wisdom.

Thankyou.

- D! -

Social Sites’ Self Disclosure itu adiktif dan bisa jadi destruktif

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on July 13, 2009 at 4:06 pm

Teman saya, Shanna, menuliskan kalimat ini sebagai salah satu postingan di page Tumblr-nya :

“I hate it when people share their relationship woes on Twitter”

Kalimat ini membuat saya berpikir, oh iya juga ya, akhir-akhir ini orang-orang (seenggaknya yang ada di sekitar saya) lagi hobi banget berbagi tentang hal-hal semacam ini di situs jejaring sosial yang mereka miliki, seperti di Twitter, Plurk, bahkan status Facebook. Sebetulnya saya sempet curiga, jangan-jangan tren ini memang sudah ada dari dulu, cuma sayanya aja yang cuek bebek, saya tidak tahu juga, yang jelas orang-orang di sekitar saya lagi huru hara banget tentang kehidupan percintaan mereka.

Mulai dari yang emosi berat sama mantannya, ada juga yang sakit hati karena peristiwa putus yang nggak baik-baik, yang emosi dan merasa ‘tergantung-gantung’ perasaannya oleh gebetan atau mantan gebetan,yang merasa sesak karena mantannya selalu ada di sekitarnya (ini tentang saya atau teman saya sih? haha), yang menjelek-jelekkan nama orang yang disamarkan tapi tetep aja ketauan siapa orangnya, juga sampai yang bikin lirik kesedihan hatinya segala.

Selain mengenai kesedihan, amarah, agresifitas terselubung tersebut, ternyata banyak juga yang lagi melankolis dan berbagi tentang percintaan dan kemesraan mereka di situs jejaring sosial. Mulai dari kata-kata manis manja, puisi-puisi rayuan maut, bahkan sampai ajakan jalan-jalan ke pacarnya juga ditulis di situs jejaring sosial.

Ada apa gerangan?

Menurut saya, ini fenomena yang sangat menarik. Saya disini nggak berbicara tentang curhatan yang dituliskan di blog atau notes masing-masing ya, saya lebih berbicara tentang situs jejaring sosial yang memberikan fasilitas kepada penggunanya untuk menuliskan aktivitas mereka dalam satu kalimat pendek, seperti Twitter, atau Plurk (oh iya, status Facebook juga, tapi bukan notes atau blog ya, ingat). Kalau sekedar berkeluh kesah atau marah marah sendiri sih itu masih nggak apa-apa. Saya cuma heran aja sama yang betul-betul menyebutkan nama atau ciri-ciri khas dari orang yang dibicarakan, sehingga mau nggak mau orangnya merasa tersindir (jika orang yang dimaksud memiliki account di situs jejaring yang sama).

Sebetulnya postingan-postingan semacam itu sengaja buat menyindir atau gimana, eh?

Saya sendiri bukannya nggak melakukan hal yang serupa, mungkin pernah juga beberapa kali, namun saya berusaha sebisa mungkin menyamarkan nama orang yang saya maksud, dan maksud saya bukan untuk menyindir, sekedar menuliskan saja. Karena saya sendiri juga pernah melakukan hal yang sama, maka saya berpikiran hal seperti ini bisa sangat adiktif.

Masalah mulai ketika orang yang melakukan hal tersebut sudah teradiksi terhadap kegiatan semacam itu dan akan bertambah runyam ketika kegiatan ini sudah mulai menjadi perang saling sindir menyindir dalam agresivitas yang terselubung. Hal semacam ini bukannya nggak mungkin terjadi loh, karena percaya deh, salah satu dari temen saya baru saja mengalaminya. Dampaknya? Buruk. Sekarang hubungan ‘pertemanan’ mereka menjadi tidak baik, jika boleh dikatakan buruk, di kehidupan nyata.

Belajar dari pengalaman tersebut, menurut saya sah-sah aja kalau orang ingin berbagi perasaan dan keluh kesahnya terhadap orang lain, jangan sampai lupa aja untuk menyaring siapa dan apa yang boleh disebutkan, dan apa-apa saja yang lebih baik disimpan dalam hati atau lebih baik disampaikan langsung ke orang yang bersangkutan. Karena kita nggak pernah tau siapa aja yang bisa mengakses curhatan, keluhan, atau umpatan kita melalui situs jejaring sosial kan? Yah, bukan berarti kemungkinan itu nggak bisa terjadi kalau kita curhat secara langsung ke orang lain saling berhadapan muka sih, karena yang namanya gosip pasti akan tetap jaya. Diminimalisir aja. Kecuali, kalau kita emang pingin banyak orang baca dan mengetahui masalah kita, untuk mendapatkan bantuan misalnya, bisa aja sih.

Asumsinya kita berkirim pesan untuk berkomunikasi dan bukan untuk menambah kerumitan masalah kan?

Apakah masing-masing dari kita sudah lupa caranya berkomunikasi secara langsung dan bicara baik-baik secara dewasa satu sama lain?

- D! -

about having faith

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 12, 2009 at 1:26 pm

I cited this from one of my friend’s, Silmy Risman note :

” No matter how out of control, suffocating, and misreable situations get, just remember this :

There’s a reason why they call it happy endings.

So, if  it’s not happy, then it’s not the end YET.

Just have faith.

God never sleeps, and God KNOWS BEST.

picture taken from craneox.deviantart.com

picture taken from craneox.deviantart.com

I couldn’t agree more.

- D! -

about failure

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 29, 2009 at 3:44 pm

I don’t have something particular in mind, just want to share random things. Yesterday I had coffee with my juniorhigh friends,  it was the four of us and we had this random chitchat about love, family, college activities, basically about life itself . I had a very great time. I also got this wisdom that

“Failure is something we need, to give ourselves time to learn more, and gain more”

I agree with it.

What about you?

- D! -

Akibat nekat.

In Tentang berbagi sisi melankolis on June 27, 2009 at 7:30 pm

eeng.

Saya udah lama banget nggak main-main ke blog punya temen-temen saya, bahkan saya juga nggak sesering itu buka blog saya sendiri, dan malam ini saya kepikiran untuk buka blog salah satu temen gara-gara threadnya dia di Plurk.com. Sebetulnya temen saya udah bilang blognya isinya lagi sedih, dan saya tetap nekat buka blognya.

Bener saja.

Saya emang cengeng.

Kalau dilihat-lihat saya udah lama banget nggak nulis curhatan saya di blog, saya bertanya-tanya kenapa?

Alasan pertama yang terlintas adalah karena saya tahu bahwa ‘ternyata’ yang baca blog saya cukup ‘ada’ (bukan ‘banyak’, cuma sekedar ‘ada’) dan saya nggak pingin beberapa diantara orang-orang tersebut tau bagaimana perasaan saya yang sebenernya tentang hal-hal yang terjadi di sekitar saya, nggak pengen aja, gengsi, malu, apapun itu namanya. Saya tidak mau dianggap ‘lemah’ atau ‘menyedihkan’ karena terus mengeluh tentang hal-hal yang menyedihkan. Alasan kedua adalah karena saya merasa nggak cukup pintar membuat kata-kata bagus menjadi sebuah tulisan yang berasal dari curhatan saya, atau setidaknya saya sudah lupa caranya.

Ternyata, kalau dilihat lagi, alasan utama saya sudah tidak pernah menumpahkan perasaan saya di blog saya sendiri, adalah karena saya penakut dan cengeng juga. Ketika saya menuliskan sesuatu tentang yang sedih-sedih, saya akan membukanya lagi suatu hari. Makanya akhir-akhir ini saya agak takut nonton film cinta, baca kisah cinta, atau apapun itu yang berbau sedih, karena saya tahu dampaknya buat saya agak frik. Contohnya hari ini, saya buka blog temen saya itu (yang isinya lagi sedih), dhueesss! Sensasi rasa itu rasanya menyergap saya seketika. Sesak meeen. Tiba-tiba jantung saya rasanya sakit, sakit sekali. Kemudian saya mulai teringat kembali hari hari menyedihkan itu, semua yang menyedihkan, dan menyenangkan (yang kemudian ujungnya jadi menyedihkan), dan rasanya sakit sekali. Saya bahkan meneteskan air mata saat menuliskan ini. Saya tidak tahu kenapa, hanya saja rasanya sakit.

Dan saya tidak mau merasa sakit lagi,

Setidak-tidaknya di salah satu artikel majalah Psychology Today (saya lupa edisi kapan) yang sempat saya baca ada mekanisme dimana setelah suatu kejadian buruk kita bisa ‘membuat diri kita’ atau ‘memaksa’ atau ‘berpura-pura’ untuk menjadi baik-baik saja, untuk kemudian menjadi betul-betul baik-baik saja. Saya berusaha berpegang kepada hal itu. Karena marah itu melelahkan, dan sedih itu menyebalkan, dan saya tidak mau memiliki dendam secuil apapun, saya nggak mau lagi bicara hal-hal buruk dan menyakitkan. Saya tidak mau lagi memikirkan hal-hal yang cuma bisa bikin saya sedih ujung-ujungnya tanpa yang dipikirkan pun merasa peduli, saya tidak mau tahu apa-apa lagi tentang itu semua. Ya, saya serius banget soal ini.

Saya cuma ingin hidup tenang.

Saya cuma ingin bahagia.

Karena saya sepenuhnya tidak memiliki hak untuk protes terhadap apapun lagi.

Kayanya gara-gara itu saya jadi nggak pernah nulis yang sedih-sedih lagi. Padahal ini blog saya sendiri. Saya tidak mau lagi banyak orang tahu apa yang  benar-benar sedang saya rasakan. Salah satu alternatifnya ya dengan begini, soalnya amygdala nggak bisa dicopot sih.

- D! -

GARAGE SALE di Sanggar Baca Kokeci

In Tentang beragam hari on June 17, 2009 at 2:16 am
Halo teman-teman semua, sebelumnya ijinkan saya menjelaskan sedikit tentang sanggar KoKeci (link untuk blog ada di blog roll saya)
Logo
Sanggar Kokeci adalah sebuah sanggar membaca, menulis, dan bermain yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai positif universal sedari dini pada anak-anak Indonesia. Nama Kokeci sendiri diambil sebagai singkatan dari tempat sanggar ini bernaung, yaitu di Komplek Keuangan Cilandak.
Selain itu, Sanggar Kokeci juga berusaha untuk  menjadi wadah bagi para remaja Indonesia yang ingin menjadi sukarelawan dengan terlibat dalam setiap kegiatannya. Saya sendiri mulai bergabung dengan sanggar Kokeci terhitung sejak bulan Maret dan setiap hari Sabtu sudah ikut ‘ngendon’ disana untuk bermain dan belajar sama adik-adik yang ada disana. Disini saya juga belajar banyak gimana cara untuk berinteraksi dengan adik-adik kecil supaya mereka bisa menangkap apa yang saya sampaikan, demikian juga sebaliknya.
Dalam kesempatan kali ini, kami ingin memberikan informasi bahwa :

Sanggar Kokeci is Proudly Present

“GARAGE SALE”..

Seluruh Penghasilan 100% AKan digunakan Untuk Penyelenggaraan Kegiatan-Kegiatan Sanggar Kokeci..

Acara Akan dilaksanakan pada

Minggu 28 Juni 2009,

Pukul 09.00 – Selesai,

bertempat di Sanggar Kokeci Jl. Keuangan Raya No 2 Jakarta Selatan 12430

Ayo ayo ramaikan Garage Sale-nya

Ayo ayo ramaikan Garage Sale-nya

Saat ini Kami Sedang mengumpulkan berbagai Barang yang Akan kami Jual di Garage Sale Tersebut.
Bagi Kakak-kakak dan temen-temen semua yang mau menyumbangkan barang2 layak pakai (dan layak jual,hehehe) Jangan Segan untuk

Hubungi Dhea (saya) di 08569029462 atau 02199264270.

Barang Kami Jemput Ke Tempat Anda :)
Mari Beramal sembari Berkontribusi Pada Pendidikan Anak Indonesia!
(Terbuka Kesempatan Juga Untuk BerVolunteer)
- D! -

Uniquely Beautiful

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 11, 2009 at 5:49 pm

this is what I call uniquely beautiful

and this one also

can’t get enough of it

ok, I promise this is the last one

Zooey Deschanel was born in Los Angeles, California,and is the daughter of Academy Award-nominated cinematographer and director Caleb Deschanel and actress Mary Jo Deschanel (née Weir). She is of Irish and French descent.

She was named after Zooey Glass, the male protagonist of J. D. Salinger’s 1961 novella Franny and Zooey. Her older sister Emily Deschanel is also an actress and stars in the TV series Bones.

Zooey Deschanel.

Cute :)

Pictures and test taken from http://zooeydeschanel.tumblr.com/

- D! -

Kecewa, tapi bangga

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 11, 2009 at 4:23 pm

Postingan yang sebelumnya sebetulnya merupakan bagian dari obrolan antara saya dan teman saya mengenai apa arti keberanian, obrolan itu berasal dari pengalaman saya sebelumnya. Berikut ceritanya :

Sabtu, 30 Mei 2009 adalah hari yang bersejarah buat saya. Sejak jam setengah 8 pagi saya sudah berdiri di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Gedung Mandala, Kuningan, dengan memakai blazer dan rok sepan selutut berwarna hitam serta kemeja berwarna kuning gading (atau putih butek), ditambah lagi dengan sepatu berhak 7cm, dan wajah yang dipoles make up tipis. Sambil menengok ke kiri dan ke kanan saya mengantri sambil menunggu giliran untuk diberi nomor urut dan dicatat tinggi serta berat badannya. Demikianlah, hari itu saya menjadi salah seorang peserta audisi sebuah ajang yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya (bagi yang memiliki dugaan, silahkan menduga-duga) hehe.

Hari itu saya diliputi perasaan deg-degan luarbiasa sekaligus juga sangat antusias terhadap apa yang akan saya alami. Padahal, pada awalnya saya ikut hanya untuk iseng aja berhubung nggak pernah tau prosedur atau apa yang dibutuhin untuk ikutan ajang seperti ini. Keikutsertaan saya kali ini pun sebenernya hasil dari ajakan temen saya yang sangat semangat, persiapan pun hampir semuanya dibantu dan diurus oleh temen saya itu. Mulai dari urusan foto sampai bahan pengetahuan yang butuh untuk diketahui untuk ikutan ajang itu. Pada hari H-nya saya nggak tau kenapa saya disergap rasa antusias begitu melihat banyak sekali orang-orang baru. Selain iming-iming jalan-jalan gratis saya justru lebih tertarik kepada hal baru apa aja yang bisa saya dapetin dan saya pelajari lewat keikutsertaan saya (kalau lolos jadi finalis tentu saja).

Rasa antusias dengan cepat bercampur menjadi rasa deg-degan, terutama ketika memasuki ruangan audisi untuk menerima pertanyaan. Saya merasa cukup yakin bahwa pengetahuan saya sudah cukup baik dan saya siap menerima pertanyaan yang berupa pendapat berkaitan dengan kota Jakarta. Pertama-tama naik dulu ke podium dan kasi salam ke juri. Setelah memperkenalkan diri, saya mengambil satu gulungan kertas di fishbowl. Pertanyaan nomor 5

“Apa makna persahabatan bagi Anda ?” *DOEEENNGG!* saya agak kaget mendengar pertanyaannya, tarik napas dikit, yak dijawab aja

Terima kasih atas pertanyaannya, bagi saya persahabatan sangatlah penting. Dengan sahabat, saya bisa saling jujur untuk saling membangun dan melengkapi dimana jika sahabat saya melakukan kesalahan atau kekurangan saya bisa mengingatkannya untuk memperbaikinya, dan demikian juga sebaliknya. Terimakasih (senyum)

Ya demikian cuplikan pengalaman saya pada hari itu, pada akhirnya toh saya gagal dan tidak lolos bahkan ke semifinal sekalipun. Kecewa? Pasti. Saya sendiri cukup kaget mendapati diri saya kecewa seperti itu karena pada awalnya toh saya ikutan ajang ini cuma untuk iseng dan rasa ingin tahu akan ajakan teman. Namun, dari 6 orang yang saya temui disana 2 diantaranya berhasil lolos ke semifinal dan hal itu cukup mengusik harga diri saya. Mulai deh saya mencari cari dimana letak kesalahan saya. Mau berapa kali dipikir pun saya nggak nemu juga, dan itu sedikit menghibur saya karena saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Setelah menelepon seorang teman dan akhirnya bisa terhibur saya akhirnya bisa ketawa-ketawa tolol lagi.

Beberapa hari kemudian, teman saya yang menjadi panitia ajang tersebut memberi tau saya mengapa saya tidak lolos, katanya masalah ada pada postur tubuh saya yang sedikit bungkuk dan gestur yang kurang yakin. Baiklah, itu masuk akal. Setidaknya masalahnya bukan pada jawaban saya. Yah apapun permasalahannya, di sini saya memperoleh beberapa pelajaran yang penting.

Pertama, tentu aja menyangkut postur dan gestur itu tadi, saya jadi sadar bahwa postur bisa sangat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap saya.

Kedua, dan yang lebih penting lagi, adalah kenyataan bahwa dengan keikutsertaan saya di ajang ini membawa saya keluar dari pintu kungkungan yang selama ini saya buat sendiri. Selama ini saya selalu merasa diri saya tidak cukup mampu untuk melakukan apapun yang sebetulnya ingin saya coba, tepatnya ini kerasa banget waktu saya SMA dimana saya membatasi diri untuk tidak ikut ekskul yang saya minati, tidak berani mendaftarkan diri untuk pertukaran pelajar, tidak terus ikut serta kegiatan LDK untuk penyaringan BPH PK OSIS, dan masih banyak lagi. Hal ini terus berlangsung sampai di bangku perkuliahan. Sebetulnya waktu ditawarin ikutang ajang ini juga saya merasa buat apa? Toh saya tidak cantik, tidak pintar, dan tidak memiliki kemampuan bicara di depan umum, tidak, kurang, tidak, kurang, dan tidak. Akhirnya sih nekat aja, walaupun gagal juga.

Ketiga, saya belajar bahwa sebuah kegagalan memberikan banyak sekali pelajaran dan gatau kenapa justru memberikan keberanian baru buat saya. Dengan hal ini saya merasa bahwa sebetulnya saya tidak memiliki alasan samasekali untuk membatasi diri saya selama saya serius dalam menjalankannya. Gatau kenapa saya seperti tersadarkan bahwa sebetulnya banyak kesempatan yang datang pada diri saya dalam hal apapun, tapi saya yang terlalu malas atau terlalu takut untuk mencoba. Berdasarkan pengalaman ini saya berpikir saya sebetulnya punya kemampuan, cuma kurang keberanian. Dengan kegagalan juga saya jadi tahu di bagian mana saya salahnya, sehingga bisa saya perbaiki di lain kesempatan (dimana tentu kesempatan itu masih banyak banget di luar sana).

Dunia tidak selebar daun kelor dan hidup cuma sekali. Sayang banget kalau saya cuma duduk duduk diam dan mengeluh aja disini tanpa mencoba membuka diri (dan menawarkan diri) pada dunia. Pengalaman-pengalaman seperti ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai setiap kesempatan yang datang pada saya dan lebih menyayangi diri saya, dengan demikian saya harap juga saya dapat lebih mencintai hidup. Karena mau gimana juga, sebenernya cuma diri kita sendiri yang kita punya kan, dan hidup kita ada di tangan kita.

Gitu deh, walaupun saya gagal dan kecewa dalam pengalaman ini, tapi ada sedikit rasa bangga yang terselip karena saya sudah berani mencoba sesuatu yang baru dan berani untuk percaya pada diri saya bahwa saya mampu melakukannya. Saya berharap, dengan ini saya lebih berani menyambut apapun yang ditawarkan hidup kepada saya. God is always around, anyway :)

- D! -

about courage (at 2.17AM)

In Tentang bermacam sumber inspirasi on June 1, 2009 at 7:17 pm

“berarti skrg lo lg ditantang untuk lebih berani. berani menghadapi kekalahan dan bangun lagi, berani maintain percaya diri lo, berani meyakinkan diri lo sendiri untuk maju terus”

courage is not something u can claim in one try kan, u can only be called brave when u have several attempts and still attempt to have more

(Anindita Surachmad, 2009)

Thankyou dear :)

Refleksi kadang bisa bikin repot

In Tentang berbagi isi kepala on June 1, 2009 at 3:02 pm

Halo halo,  rasanya udah lama banget saya nggak nulis di sini yah. hahaha tugas-tugas kuliah sialan itu memang luarbiasa menyita waktu deh. Yah baiklah, berhubung sekarang ini juga menjelang memasuki masa liburan, mungkin saya sudah memiliki waktu yang agak lebih longgar sehingga bisa mulai menulis lagi.

Sejak setahun belakangan, saya merasa saya menjadi orang yang jauh lebih reflektif dibandingkan sebelumnya. Yah, sebetulnya, sejak saya masuk di fakultas psikologi saya sudah mulai menjadi orang yangl ebih reflektif sih, tapi sejak setahun belakangan ini dosisnya meningkat lagi.

Sistem perilaku reflektif, ialah sistem yang menghasilkan tingkah laku yang didasarkan oleh pengetahuan seseorang mengenai kepercayaan ataupun nilai-nilai yang ada di lingkungannya (Fritz Strack & Roland Deutsch, 2004). Sesuai dengan hal tersebut, maka saya pun, dalam rangka bertingkah laku lebih reflektif, senantiasa melihat kembali apa-apa saja yang telah saya lakukan (dan katakan) dan kemudian menilainya, untuk melihat apakah tingkah laku saya tersebut sudah baik, memungkinkan untuk memberikan manfaat bagi diri saya maupun orang lain, ataukah justru menyakiti orang lain -bila dibandingkan dengan nilai maupun norma sosial yang sudah ada-.

Kebiasaan untuk menilai tingkah laku saya ini terjadi secara simultan sebelum saya melakukan sesuatu, saat saya sedang melakukan sesuatu, ataupun setelah saya telah selesai melakukan sesuatu. Namun, waktu-waktu dimana saya kembali memikirkan dan melihat apa-apa saja yang telah saya lakukan adalah malah hari. Ketika saya telah selesai menjalani satu hari itu, setelah saya sampai di kosan dan sudah mandi dan sudah makan, maka saya akan duduk diam di meja belajar saya sambil mengulang kembali kejadian apa saja yang saya jalankan dan saya lewatkan pada hari itu.

Biasanya, saat saya melakukan hal itu saya juga mencoba mengingat-ingat dengan siapa saja saya berinteraksi hari itu, apa saja yang sudah saya katakan, apakah saya mencela orang lain hari itu, apakah saya membicarakan kejelekan orang lain hari itu, apakah semua kegiatan yang saya rencanakan untuk hari itu berhasil terlaksana dengan baik, apakah saya menjalankan segala sesuatunya dengan tepat waktu, kebaikan dan keburukan apa yang telah saya lakukan pada satu hari itu, apa saya mampu mengendalikan emosi saya, dan sebagainya-dan sebagainya. Setelah saya selesai mengevaluasi tindakan saya, maka saya melanjutkan dengan membuat rencana untuk esok hari, kemudian solat dan mengerjakan tugas (atau sebaliknya, atau bisa juga langsung tidur semena-mena).

Untuk banyak hal, yang saya lakukan ini banyak gunanya, dimana yang jelas saya bisa melakukan semua hal yang saya anggap kurang dengan lebih baik di hari yang akan datang, karena saya tau bahwa hal itu bisa diperbaiki. Namun, selain menguntungkan, ternyata kebiasaan ini bisa jadi merepotkan. Kenapa merepotkan?

Seperti yang telah saya bilang sebelumnya, bahwa selain pada malam hari, saya juga mencoba mengevaluasi diri secara simultan saat saya sedang melakukan sesuatu atau saat saya sedang berbincang dengan seseorang. Ada waktu-waktu dimana sebetulnya saya tidak begitu menyukai lawan bicara saya, entah karena nada suaranya, topik yang dibicarakan, atau mungkin karena emang nggak cocok aja. Sebelumnya, kalau saya merasa tidak suka sama orang saya akan curhat kepada teman saya, atau curhat lewat tulisan, si ini begini si ini begitu, ‘ih dia tuh gatau ya bblalalalala’ gitu. Sekarang saya tidak bisa segampang itu lagi memberi komentar terhadap orang lain.

Akhir-akhir ini, kalau saya mulai merasa tidak suka atas perkataan orang kepada saya, atau saya sebel sama orang, yang saya lakukan adalah diem, terus mikir. Waktu saya diem itu, biasanya hal-hal yang saya mampir di pikiran saya adalah semacam penenangan diri, seperti “oh ya mungkin dia terbiasa bicara dengan nada seperti itu”. “oh ya, mungkin di rumahnya dia memang diajarin untuk bertindak seperti itu jadi emang udah biasa ya gak bisa disalahin dong”. Atau, yang paling jelek adalah “waduh, gue gabisa sebel sama orang ini nih, jangan-jangan gue juga pernah gini ke orang”.

Hal-hal seperti inilah yang kadang-kadang bisa saya repot dan capek. Masalahnya adalah, saya juga manusia biasa, yang masih bisa merasa sebel dan sakit hati, dendam dan tidak ikhlas, iri dan perasaan-perasaan lain yang menjadikan seseorang sebagai manusia. Dengan tingkah laku reflektif ini saya kadang merasa ‘tidak bebas’ untuk merasa marah terhadap orang lain, merasa sakit hati, atau merasa kesal, karena saya selalu mengingatkan diri saya bahwa mungkin aja orang yang bikin saya kesel atau sakit hati itu justru tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Atau ya, mungkin buat dia itu bukan suatu masalah. Hal-hal seperti ini yang kadang bikin saya cuma bisa diem dan menghela napas. Dalam waktu-waktu dimana saya sedang diliputi atmosfer dan mood positif, saya akan mencoba berdamai dengan emosi saya sendiri dan berpikir rasional, tapi di beberapa waktu yang buruk (misalnya ketika saya sedang capek, atau terlalu banyak kerjaan yang harus saya pikirkan) saya bisa saja melampiaskan emosi negatif saya ke sasaran yang salah.

Yah kalau temperamen neurotik saya mulai muncul saya suka iri dengan orang-orang yang santai, yang tidak terlalu sensitif seperti saya, yang bisa melakukan dan mengatakan segala sesuatunya dengan tenang tanpa khawatir bagaimana dampak komunikasi yang mereka sampaikan kepada lawan bicara mereka. Saya juga iri kepada orang-orang yang bisa menyembunyikan perasaan mereka, tidak seperti saya yang cenderung ekspresif, sebel mukanya keliatan sebel, sedih juga keliatan, marah juga keliatan. Kadang-kadang ke-ekspresif-an (atau ekspresivitas?) itu membuat repot kalau ditambahkan dengan perilaku reflektif ini.

Sekali lagi, mungkin saya lah yang masih butuh belajar.

Saya (buruk) dalam Mempupuk Pertemanan?

In Tentang beragam hari on April 1, 2009 at 5:43 pm

Bulan lalu saya baru saja menyampaikan keluhan saya kepada salah satu temen saya (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya Cantika hehehe) mengenai betapa dia begitu sulit meluangkan waktunya untuk teman-temannya, dalam hal ini untuk pergi main sama temen-temennya berhubung dia begitu sibuk luar biasa. Sebetulnya bukan cuma saya yang sebel sama kebiasaannya membatalkan janji main karena dia sibuk, beberapa temen deket yang lain juga sempat mengeluhkan mengenai hal itu, hanya saja belum menemukan cara yang pas untuk bicara langsung dengannya. Berhubung saya tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang mengganjal dari orang-orang terdekat saya, (apalagi kalau hal itu cenderung gak enak dan bisa mengganggu jalannya hubungan pertemanan) maka saya berusaha menyuarakannya. Dalam penyampaiannya tentu saja saya berusaha se-asertif mungkin dan tidak meledak ledak (ini juga satu hal yang sedang berusaha saya perbaiki).

Saya berkata pada temen saya itu, kalau terus begitu dia bisa membuat temen-temennya merasa tidak dihargai, dampak paling buruk adalah dia bisa menjadi workaholic yang akan ditinggalkan oleh temen-temennya (oke ini berlebihan sih, biar beneran ‘ngeh’ aja sih hehe).

Alhamdulillah sih, sepertinya maksud saya tersampaikan dengan baik dan mudah-mudahan teman saya tidak tersinggung, karena pada dasarnya ini demi kepentingan bersama. Prinsipnya saling mengingatkan. Saya lihat juga semakin ke sini temen saya itu sudah mulai meluangkan banyak waktu untuk temen-temennya, walaupun tentu saja dia masih sibuk luar biasa hehehe.

Sebetulnya seberapa penting sih hal-hal seperti itu? Maksudnya, meluangkan waktu untuk temen, berbagi cerita dan berempati serta memiliki quality time dengan temen-temen terdekat kita? Saya tidak tahu pasti jawabannya, tapi ada temen saya (sebut saja Saski, bukan nama sebenernya, soalnya nama sebenernya panjang bener kalo ditulis semua) yang memiliki prinsip “temen itu kaya tanaman, jadi harus dijaga, dipupuk, dan dirawat”. Saya sih setuju-setuju aja dengan prinsipnya ini, dan saya selama ini merasa cukup nyaman dengan pertemanan saya secara umum. Saya selama ini merasa sudah cukup baik membagi waktu dan menjaga agar semua aspek kehidupan saya tetap seimbang  sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa ditinggalkan dan kecewa sehingga kemudian semuanya berjalan buruk. Hal ini berlaku baik dalam kehidupan akademis, kepanitiaan, organisasi, keluarga, pertemanan, sampai percintaan (walaupun aspek yang terakhir ini akhir2 ini lagi saya cuekin berat).

Tapi, ternyata itu semua hanya perasaan saya aja sodara-sodara!

Kenapa begitu?

Jadi, ceritanya begini. Baru-baru ini saya baru saja menerima keluhan dari salah seorang temen yang disampaikan secara tidak langsung (jadi ceritanya saya taunya dari temen saya yang lain, orangnya nggak ngomong langsung gitu). Katanya salah seorang temen saya merasa sebel sama saya (sebut saja inisialnya AD) dan dia curhat sama temen saya yang lain (sebut saja inisialnya PM). Sebetulnya sampai hari ini saya juga kurang begitu paham keluhan pastinya apa, karena toh saya dapetnya bukan dari orangnya langsung. PM sebelumnya sudah mendiskusikan dengan 2 orang temen saya yang lain (NF dan MG) apakah sebaiknya saya diberitahu mengenai hal ini atau tidak, ujungnya saya dikasih tau juga. Bingung banget sih saya karena informasinya simpang siur. Ketika saya bertanya ke PM, NF dan MG sebetulnya AD sebelnya kenapa, eehh ketiganya memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Saya semakin bingung, lama-lama sebel sendiri soalnya AD nggak ngomong langsung ke saya. Gimana saya bisa tau apa salah saya kalo dia nggak mau kasih tau ke saya? Terus saya harus gimana ya? Huff, tarik napas sedikit curhat ke orang yang lebih tenang dari saya, lalu saya ingat, oh iya, mungkin AD juga nggak tahu gimana cara ngomongnya ke saya, mungkin juga AD berpikir itu cuma perasaan sesaat jadi nggak perlu sesegera itu juga diomongin nanti juga ilang sendiri, tetep aja saya takut banget sama sesuatu yang nggak diomongin kaya gini tau-tau DHUAAARRRR meledak aja gitu, tamat deh saya. Walaupun cuek, saya kan juga bisa berasa bersalah dan nggak enak-an.

Oke, akhirnya saya menarik kesimpulan yang paling logis dari kesebelan si AD, yaitu :

1. Si AD sebel karena merasa saya tidak sepeduli itu ke dia, setidaknya tidak sepeduli dia kepada saya

2. Gaya pertemanannya berbeda

3. Saya emang tipe yang tidak terlalu terikat pada beberapa orang temen aja

4. Saya terlalu cuek dan kurang empatik

picture taken from deviantart.com

picture taken from deviantart.com

Kesimpulan lebih lanjut adalah, sepertinya saya kurang memupuk pertemanan saya dengan orang-orang terdekat saya. Sejujurnya, saya memang bukan tipe yang bisa perhatian ke temen-temen saya gitu, misalnya, saya tidak mungkin bisa segera menyadari temen saya memiliki kesulitan, saya bukan tipe yang baik dalam mengingat tanggal ulang tahun temen dan keluarganya, saya tidak perhatian dan tidak mengayomi, saya tidak rajin memberi hadiah-hadiah kecil yang imut ke temen-temen saya, saya bukan tipe yang suka memberi hadiah ulangtahun, bukan tipe yang kalau pergi makan ke luar terus pulang-pulang ngebawain makanan buat temen atau keluarga saya, bukan tipe yang kalo lagi jalan-jalan terus inget temennya lagi butuh apa terus kalo kebetulan liat dibeliin dulu, samasekali bukan.

Di lain pihak saya juga bukan tipe temen yang mengikat, saya tipe yang cuek kalo temen saya mau main sama orang lain, bukan tipe temen yang harus selalu diajak kalo temen saya mau main kemana sama siapa, tipe yang santai kalo temen nggak bales sms, tipe yang nggak cuma main sama beberapa orang aja, tipe yang pada umumnya nggak selalu mau tau kalo temen saya lagi punya urusan sama orang lain, tipe yang santai-santai aja lah pokoknya.

*tiba-tiba saya membandingkan dengan ketika saya punya pacar, semuanya terbalik, saya tipe yang pencemburu dan perhatian berlebihan kalo punya pacar* (info kurang penting yang agak aneh)

Berdasarkan keluhan AD saya akhirnya mulai berpikir mengenai hal-hal tersebut. Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran bahwa hal-hal seperti itu bisa mengganggu hubungan pertemanan ataupun hubungan interpersonal apapun yang ada dalam kehidupan saya, nyatanya dampaknya bisa cukup besar ya? Saya jadi berpikir, mungkin meluangkan waktu untuk main dan ngobrol sama temen dekat aja belum cukup ya, mungkin rasa empati saya harus lebih dipupuk, mungkin saya harus lebih membagikan afeksi kepada orang-orang terdekat saya.

Singkatnya sih, saya merasa bersalah. Lalu saya ingin berubah untuk memperbaiki diri saya, walaupun tentu saja tidak sedrastis itu, berhubung yang mengeluh baru satu orang saja, namun kritik dan keluhan tentu saja saya hargai sebagai bahan evaluasi dan refleksi saya.Walaupun ada kutipan yang mengatakan ” Your friend is someone who knows all about you, and still likes you” – Elbert Hubbard, namun saya percaya segala bentuk hubungan interpersonal itu harus  dua arah, ketika saya mendengar keluhan, maka saya harus melihat terlebih dahulu ke dalam diri saya sendiri, apa yang bisa saya perbaiki, mengkomunikasikannya, dan mengambil jalan tengah supaya kedua belah pihak juga enak dalam menjalankannya.

“I get by with a little help from my friends.”
- John Lennon

Ada yang punya ide saya harus mulai darimana?

- D! -

Worth to try

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on March 30, 2009 at 1:36 am

i got this from one of my friend’s blog. She said her mom sent this to her. While I think it’s good, so I copy it in mine, so that I will remember these

Health:

1. Drink plenty of water.

2. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar

3. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.

4. Live with the 3 E’s — Energy, Enthusiasm, and Empathy.

5. Make time to practice meditation, yoga, and prayer.

6. Play more games.

7. Read more books than you did in 2008.

8. Sit in silence for at least 10 minutes each day.

9. Sleep for 7 hours.

10. Take a 10-30 minutes walk every day. And while you walk, smile.

Personality:

11. Don’t compare your life to others’. You have no idea what their journey is all about.

12. Don’t have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.

13. Don’t over do. Keep your limits.

14. Don’t take yourself so seriously. No one else does.

15. Don’t waste your precious energy on gossip.

16. Dream more while you are awake.

17. Envy is a waste of time. You already have all you need.

18. Forget issues of the past. Don’t remind yourself, your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.

19. Life is too short to waste time hating anyone. Don’t hate others.

20. Make peace with your past so it won’t spoil the present.

21. No one is in charge of your happiness except you.

22. Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like Algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.

23. Smile and laugh more.

24. You don’t have to win every argument. Agree to disagree.

Society:

25. Call your family often.

26. Each day give something good to others.

27. Forgive everyone for everything.

28. Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.

29. Try to make at least three people smile each day.

30. What other people think of you is none of your business.

31. Your job won’t take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

Life:

32. Do the right thing!

33. Get rid of anything that isn’t useful, beautiful or joyful.

34. GOD heals everything.

35. However good or bad a situation is, it will change.

36. No matter how you feel, get up, dress up and show up.

37. The best is yet to come.

38. When you awake alive in the morning, thank GOD for it.

39. Your Inner most is always happy. So, be happy.

Last but not the least:

40. Do it now!!!!

I think it’s worth to try

- D! -

Kata Soe Hok Gie mati muda itu yang paling enak?

In Tentang berbagi isi kepala on March 27, 2009 at 1:48 pm

Saya adalah tipe orang yang jika sangat terkesan terhadap suatu hal, baik itu merupakan lagu, film, kejadian, maupun orang, maka saya cenderung sulit lupa dengan hal itu. Demikian hal yang terjadi pada saya ketika menonton film “GIE” beberapa tahun silam. Saya ingat pada adegan terakhir, ketika tokoh utama dikisahkan telah berpulang ke rahmatullah lalu ditampilkan visualisasi ia yang berjalan di pantai, invoice yang muncul adalah pendapat Soe Hok Gie mengenai ‘anugrah yang terbaik adalah mati muda‘ dan memang demikian yang terjadi padanya, beliau meninggal pada usia yang masih muda, tentu dengan meninggalkan sesuatu.

Dalam hal ini entah mengapa saya kurang setuju dengan pendapat Soe Hok Gie. Meninggal pada usia muda, katakanlah usia remaja atau dewasa muda menurut saya merupakan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan (walaupun tentu kita tidak dapat menentukan apakah mati itu menyenangkan atau tidak, karena tidak ada orang yang mampu mengemukakan pendapat lebih enak hidup atau mati setelah mereka meninggal kan?).  Saya tidak pintar bicara tentang kematian, namun menurut saya pribadi mati muda itu ‘kentang’ atau ‘kena tanggung’.

Begini, dalam usia remaja maupun memasuki awal dewasa muda kita memasuki masa dimana kita ingin menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Di usia remaja kita melakukan banyak sekali pemberontakan, terhadap orangtua, terhadap aturan-aturan yang ada, terhadap skema yang telah kita miliki sebelumnya, intinya kita berada pada masa bimbang dan huru-hara. Kita seringkali merasa sebal dan marah, diperlakukan tidak adil, tidak bisa mengekspresikan diri dan idealisme karena norma- norma maupun aturan yang ada. Seringkali kita tidak mengerti mengapa peraturan ini dibuat, mengapa orangtua kita berbuat hal seperti itu kepada kita, dan sebagainya dan sebagainya.

Saya kemudian membayangkan, jika seseorang meninggal pada usia muda, atau katakanlah usia remaja atau memasuki dewasa awal, maka orang tersebut tidak akan pernah tahu kenapa orangtuanya melakukan hal seperti itu, kenapa ada peraturan ini dan itu dan mengapa sebagai remaja kita ’selalu’ memberontak. Kita tidak pernah tahu betapa sulitnya menjadi orangtua, dan sebagainya dan sebagainya. Kita mungkin juga belom bisa melihat prestasi apa yang bisa kita buat untuk mengukir eksistensi kita di dunia, untuk membalas budi kepada orangtua (saya termasuk orang yang percaya bahwa kita harus membalas budi orangtua), dan masih banyak hal lain. Mungkin yang paling tidak mengenakkan ketika meninggalkan dunia dalam usia yang masih remaja (atau muda) adalah kita masih belum menemukan jawaban dari sebagian besar keresahan yang ada dalam diri kita. Seperti itulah yang saya pikir terjadi pada Soe Hok gie.

Yah, walaupun begitu, kita juga toh tidak bisa memilih waktu kematian kita kan?

- D! -

Terlalu Malas

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on March 17, 2009 at 8:31 am

Halo semua, sudah lama sejak terakhir kali saya menulis di sini. Sebenernya nggak terlalu banyak yang terjadi, cuma akhir-akhir ini saya memiliki cara baru dalam menulis, saya menyebutnya dengan “Grateful, Aren’t You?”. Semacam tulisan pendek aja, notulensi tentang hal-hal baik yang terjadi pada saya dalam sehari, disertai sedikit ilustrasi dan link-link yang saya pikir bagus untuk disimak. Saat ini sudah sampai nomor 6 dan saya biasa menuliskannya di notes profil Facebook saya, kalau tertarik mungkin bisa berkunjung :)

Akhir-akhir ini udara panas luar biasa di siang hari dan hujan badai di malam hari, bikin mood jadi ajut-ajutan banget. Saya jadi males mau ngapain-ngapain. Serius, MALES NGAPAIN – NGAPAIN. Saya males ngerjain tugas (siapa yang enggak?), males kuliah, males ujian, saya males melakukan hal-hal yang saya sukai, saya males motret, saya bahkan males nulis, yang paling parah adalah saya males bersosialisasi, males ngobrol-ngobrol sama orang gitu loh, saya males haha hihi sama temen- temen saya. Rasanya semuanya membosankan gatau kenapa. Saya pikir itu cuma faktor PMS aja, tapi nyatanya sampai hari saya mendapatkan period saya rasa bosan dan males itu nggak kunjung hilang juga *menghela napas*

Satu-satunya hal yang bikin saya tertarik akhir-akhir ini adalah buku yang sedang saya baca yaitu, Buku Harian Anne Frank. Buku ini merupakan terjemahan asli dari buku harian Anne Frank, seorang remaja yang hidup pada masa perang dunia kedua (eh perang dunia pertama apa kedua ya?), itu loh, jaman dimana Nazi menyingkirkan semua Yahudi dengan Hollocaust-nya itu (semua Yahudi dimasukkan dalam ruang tertutup dimana kemudian diberikan gas mematikan).

Saya trenyuh bacanya, walaupun belum sampai selesai. Membayangkan tinggal selama itu di persembunyian, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, tidak bisa bebas keluar, tidak bisa membeli ini itu, bahkan Anne Frank sendiri sempat menyebutkan bahwa satu-satunya hiburan baginya adalah belajar dan membaca buku. Ckckck. Menurut saya buku ini cukup bisa dinikmati walaupun sulit untuk menempatkan diri dengan latar pada saat itu karena deskripsi yang dituliskan oleh Ms.Frank memang tidak begitu detail, maklum saja ini kan buku harian.

Membayangkan diri saya berada di tengah kecemasan dan ketakutan seperti itu setipa harinya (bayangkan, setiap harinya mendengar bunyi bom dan ledakan), berita-bertia yang bisa didapatkan dari luar hanyalah berita tentang berapa banyak orang yang telah mati, makan ransum dan buncis hampir setiap hari, menikmati jatah mentega yang dibatasi, minum kopi palsu (saya bahkan nggak bisa membayangkan seperti apa wujud kopi palsu itu?). Betul-betul saya merasa bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang.

Belum lagi saat itu Anne Frank sedang menjalani masa remajanya, masa penuh pemberontakan, masa pertama kali mendapatkan menstruasi, masa-masa dimana kita lebh mempercayai teman-teman kita daripada keluarga kita sendiri, masa dimana kita merasa tidak dimengerti dan tidak bisa mengerti orangtua kita, masa-masa membingungkan kalau menurut saya. Bayangkan menjalani masa itu dalam ruangan tertutup setiap harinya, saya sampai tidak tahu harus berkomentar apa.

Betapa ia dan seluruh keluarganya menunggu-nunggu hari dimana mereka bisa berkeliaran dengan bebas dan melakukan segala hal yang mereka senangi (yang mana hari itu tidak pernah datang, karena mereka semua akhirnya tertangkap, dan yang bertahan hidup tinggal ayah Anne, Otto Frank, yang kemudian mempublikasikan buku harian ini). Anne bahkan menunggu saat-saat dimana ia kembali duduk di bangku sekolah! Saya menangis bacanya, tapi saya memang cengeng sih hehe.

inspiring teenage girl

inspiring teenage girl

Lalu saya search tentnag Anne Frank ini di google, dan saya menemukan banyak hal. Ternyata buku hariannya sudah pernah difilmkan (kaya apa filmnnya ya? Ngebosenin nggak ya?) Trus rupa-rupanya ada websitenya juga http://www.annefrank.com/

lain kali saya akan coba mengeksplorasi lebih lanjut tentang Anne Frank ini, sementara itu, sekarang saya harus ke kampus dulu. Tadi ada yang nelpon nyuruh saya ikut daftar jadi “Mahasiswa Berprestasi”. Saya mau cek, dia salah orang apa nggak ya? Hehe

- D! -

Oleh – Oleh Magang

In Tentang berbagi isi kepala on February 1, 2009 at 5:40 am

Aloha, sebelumnya saya bilang mau nulis tentang pengalaman magang saya kan? Nah berhubung taun ini saya mau mengurangi kebiasaan ‘omomg doang’ jadi baiklah, saya akan coba nulis ini hehehe.

//fonzation.com/blog

taken from http://fonzation.com/blog

Ehem, sebelumnya mungkin sudah pernah saya sebutkan bahwa saya magang di suatu perusahaan yang bergerak di bidang jasa berkaitan dengan pengeboran minyak dan gas, PT.Elnusa Tbk. Saya magang di sini sehubungan dengan tugas dari kampus (jadi semacam KP gitu kali ya jatohnya?).  Kontrak kerja saya dimulai dari tanggal 5 Januari 2009 dan akan berakhir tanggal 4 Februari 2009. Saya magang di bagian HRD perusahaan, singkatnya di bagian rekrutmen dan pelatihan (tapi saya lebih banyak berkutat di pelatihan). Oh iya, jam kantornya jam 8 pagi sampai jam 5 sore.

Hari pertama magang, rasanya deg-degan dan bersemangat sekaligus nggak nyaman (karena baju kerja yang saya pakai tentunya). Dikasih tau secara sekilas di HRD itu ada bagian apa aja dan tugas singkatnya apa, tentu saja saya masih belum bener-bener bisa nangkep apa yang dikasihtau. Dikasih laptop dan meja untuk kerja, dan dikasih kerjaan tentunya. Dengan malu-malu memberanikan diri menyapa temen sebelah meja yang ternyata juga anak magang. Selanjutnya lebih banyak diam dan mengerjakan kerjaan yang dikasih

Hari demi hari berlalu, dan inilah kesimpulan dan pelajaran yang saya dapatkan dari kegiatan magang selama kurang lebih sebulan :

1. Pekerjaan Rutin Bisa Menurunkan Kemampuan Kognitif

Oh iya, sebelum menulis lebih lanjut, semua tulisan ini semata-mata hanya opini saya dan samasekali nggak ditunjang oleh data-data terkait ya hehe.

Nah, lanjut. Berhubung saya hanya anak magang tentunya saya hanya mengerjakan apa yang diminta aja dong sama si penyelia saya. Kegiatan yang saya kerjakan itu kebanyakan administratif banget, seperti merekap evaluasi dari pelatihan, memasukkan data pelatihan 2008 ke data personal karyawan (satu persatu, FYI), merekap perencanaan pelatihan untuk tahun 2009 dari setiap divisi, yah semacam itulah.

Bisa dilihat itu adalah kerjaan rutin yang setiap harinya saya lakukan. Rasanya? Wah belum pernah otak saya rasanya seperti mati rasa gitu. Gatau kenapa itu aneh banget sampai-sampai waktu ditanya tanggal atau hari apa hari itu saya kayak yang bingung bengong sebentar sebelum akhirnya saya liat handphone sekedar untuk liat itu hari apa atau tanggal berapa, parah. Selain itu, kemampuan mengingat saya pun jadi menurun, saya juga jadi nggak bisa membuat perencanaan-perencanaan seperti saya yang biasanya. Saya merasa betul-betul nggak produktif dan jenuh.

Lalu saya berpikir, jangan-jangan saya nggak bisa kerja kantoran? Atau ini hanya karena saya semata-mata sebagai seorang anak magang jadi memang tidak diperlukan inisiatif dalam bekerja sehari-harinya? Mungkin temen-temen yang sudah bekerja bisa membantu menjawab?

bersambung . . .

Minggu terakhir magang

In Tentang beragam hari on January 31, 2009 at 7:56 am

Well, sebenernya bukan terakhir bener-bener terakhir sih berhubung kontrak kerja saya di sini masih sampai tanggal 4 Februari minggu depan. Cuma minggu depan kuliah sudah dimulai dan rencananya hari pertama kuliah (Senin, 2 Febuari 2009) saya cuma masuk kantor setengah hari karena pingin merasakan atmosfer kampus di hari pertama, pingin liat kelas dan temen-temennya siapa aja.

Dilanjut hari besoknya (Selasa, 3 Febuari 2009) secara menyedihkan angkatan saya ternyata harus mengikuti ujian awal mata kuliah Konstruksi Alat Ukur Psikologi, mata kuliah yang konon merupakan momok sekaligus tantangan terbesar bagi mahasiswa S1 psikologi UI, berhubung dalam mata kuliah tersebut semua ilmu yang (seharusnya) sudah terserapa akan dikeluarkan dalam rangka membuat sebuah alat ukur atau alat tes yang mumpuni yang kemudian nantinya akan disidang, kaya orang bikin skripsi deh intinya. Menurut saya ada benernya juga mata kuliah ini menjadi momok yang cukup mengerikan, bayangkan, di hari pertamanya aja langsung ujian. ckckck. Dengan ini hari Selasa saya resmi ijin tidak masuk dari kantor dengan kompensasi harus masuk di hari Jumat depannya (6 Febuari 2009).

Pagi ini kepala dipenuhi pikiran gak penting gara-gara pernyataan seorang temen yang bilang “jangan keasikan jomblo dhe, sambil cari-cari juga dong”. Serius, sangking bingungnya saya gatau mesti ngomong apalagi (geleng-geleng kepala). Selain itu secara umum kerjaan berjalan cukup lancar hari ini, kantor aman dan nyaman, dan tidak ada yang terlalu mengganggu, saya bahkan bisa membaca dua buku sekaligus (walaupun tentu keduanya belum selesai), satu novel Negara Kelima – Es Ito untuk hiburan, satunya lagi The Psychology and Biology of Emotion – Robert Plutchik, sekedar memenuhi rasa ingin tau kenapa ini buku udah saya beli tapi nggak pernah saya baca.

Oh iya, rambut baru saya agak mengganggu gatau kenapa susah diatur banget, dan lagi jerawat saya belum kunjung hilang.Selanjutnya mungkin saya akan menulis tentang pengalaman saya selama magang daripada sekedar menyampah seperti ini. See ya.

- D! -

You got the wrong person

In Tentang berbagi sisi melankolis on January 20, 2009 at 3:31 am

Yesterday I got this weird question from my friend whom asked a suggestion about dealing with his painful broken heart. He asked “how did you deal with it?”, which got me stared blank to my laptop monitor, amazed. What made him came up with such question, and (underlined) that question was intended to me. I mean, yes, it’s ME.

Well, do I look like someone who’s been dealing with my broken heart in a good way?

W R O N G  !

(with the sound of bells like in the quizes show as an effect)

picture taken from deviantart.com

picture taken from deviantart.com

Unless if you think

crying all over your friends for MONTHS;

babbling about the same pathetic story about how sad and hurt you are, over and over again;

feeling guilty for what you did in your previous relationship;

tormenting yourself for months;

thinking about a guy that HAS already got someone new;

questioning why and why while your ex has already moving on with his real yet HAPPY life;

having this insecure feelings about any romantic relationship, and so on;

IS a good way to handle a broken heart, then yes, just come to me, i’ll tell you how.

But if that were not what you’re looking for, well I guess you got the wrong person, dear. Because (let me tell you something), I am not good dealing with broken heart, I had never been good.

Things are getting better and better as the time goes, and it’s pretty good actually. But still, Im struggling my own battle with my self here too.

But yes, I do wish I can help you with everything I have and wish that’ll make you feel better. Good luck friend!

- D! -



Loneliness anyone?

In Tentang berbagi sisi melankolis on January 15, 2009 at 6:26 am

“Pray that your loneliness may spur you into finding something to live for,

great enough to die for.”


Geez, I found that when I surfed and wandered randomly through my friends blog. Pretty impressive, and inspirational actually. No need for more elaboration on this I guess.

- D! -

the rain keeps falling on my head

In Tentang beragam hari on January 15, 2009 at 5:27 am
picture taken from deviantart.com

picture taken from deviantart.com

I feel awful today due to the bad weather, at first it wasn’t bad at all, but slowly it became cold and much more cold till my fingers won’t move on the laptop keyboard. It makes me feel unproductive at the office while I was supposed to entry the employee-training-database for the whole previous year (and yes, they were many of them) but the internet just go on and off. I’m frozen and it doesn’t help at all when my face started to itched so bad. It feels like burned all over it. I hate these pimples. Shitty shit. Bad day. I got to see that dermatologist this Saturday. :(

- D! -

Liat aja nanti

In Tentang beragam hari on January 12, 2009 at 4:36 am

Kembali lagi di kantor! Seminggu sudah saya magang di corporate Human Resource PT Elnusa Tbk ini. Rasanya? Badan kaku –kaku dan bingung kapan mau mulai menyusun makalah laporan magang ini huhu. Sebetulnya banyak hal yang bisa digali di sini, Cuma semuanya lagi pada sibuk jadi mau nanya-nanya terlalu banyak juga gaenak.

Tidak ada keluhan secara spesifik terhadap tempat magang saya, keluhan utama sayadari sistem magang ini adalah saya jadi tidak merasakan yang namanya liburan. Tidak merasakan sinar matahari, tidak merasakan senang-senang seperti teman-teman yang tidak magang. Huhu. Keluhan kedua adalah, kayanya saya nggak cocok pakai baju kerja deh. Serius, terlihat dan terasa aneh. Tau kan setelan kemeja, celana bahan dan sepatu berhak itu. Semua baju kerja saya buat magang ini saya dapatkan dengan cukup terburu-buru alhasil celana saya masih kepanjangan, sepatu saya hak-nya kurang tinggi, dan masih banyak celana saya yang kebesaran. Koleksi kemeja formal saya juga terbatas. Ganggu banget deh pokoknya.

Keluhan ini akan terdengar sepele, dan ya memang sepele sih sebenernya, cuma ganggu aja. Duh, pokoknya saya akan membayar liburan yang hilang ini di liburan bulan JUNI. Hahahaha. Liat saja!

- D! -

Sekarang sudah 2009!

In Tentang berbagi isi kepala on January 7, 2009 at 10:19 am

Saya menuliskan postingan kali ini di sebuah sudut ruangan di lantai 7 wisma Elnusa. Ya, benar, saya sedang dalam masa magang wajib selama liburan, dimana sampai hari ini ( ini hari ketiga saya magang) sebetulnya saya lebih banyak magabutnya daripada kerjanya.

Sebelum mulai menulis lebih lanjut, saya ingin mengucapkan HAPPY HIPPY NEW ROCKIN YEAR everyone! Semoga tahun 2009 memberi kita lebih banyak hal lagi untuk dipelajari dan lebih lebih lebih banyak lagi kebahagiaan buat kita semua, AMIEN. Bagaimana malam tahun baru kalian semua? Malam tahun baru saya sederhana saja, dan memang selalu sederhana, namun menyenangkan. Entah kenapa saya belum berkesempatan dan memang nggak terlalu suka juga merayakan malam tahun baru dengan cara hiruk pikuk clubbing atau pergi rame-rame ke hotel atau gimana gitu. Saya memilih untuk menghabiskannnya dengan keluarga atau teman-teman terdekat, tapi saya juga tidak menutup kemungkinan kalau ada tawaran nonton apa gratis atau pergi kemana gratis hehehe. Oke, saya tidak akan banyak bicara ttg malam taun baru tapi saya akan bicara mengenai rencana di 2009. Apakah kalian terbiasa membuat resolusi tahun baru?

Sebetulnya, saya sendiri juga nggak begitu suka bikin resolusi-resolusi semacam itu karena ujung-ujungnya akan membuat saya tertekan kalau saya tidak mampu memenuhinya. Namun, tentu saja saya memiliki target untuk membangun diri saya ke depan agar menjadi orang yang (Insya Allah) lebih baik daripada saya yang sekarang.

Melihat kembali tahun 2008 yang LUARBIASA MENCENGANGKAN kemarin (bagi yang sering baca blog ini pasti udah sedikit banyak tau apa yang saya maksud mencengangkan di sini hehe), saya menemukan bahwa banyak sekali pelajaran berharga yang bisa saya petik dan mudah-mudahan bisa membuat saya lebih baik bila saya berhasil menerapkan pelajaran tersebut (Amien). Berkaca dari hal itu, saya kemudian tidak berani membuat resolusi atau target yang muluk-muluk di tahun 2009 ini karena toh ternyata memang masih banyak hal yang belum terlaksana di tahun 2008 kemarin. Beberapa hal tersebut antara lain :

1. Menyetir dengan lancar

2. Belajar 1 tarian tradisional dengan baik

3. Membuat portofolio perkembangan foto

4. Menguasai Adobe Photoshop

5. Bisa masak

 

Memang bukannya saya mengabaikan sama sekali hal-hal tersebut di tahun 2008, bahkan pad kenyataannya saya memang berkembang dalam hal-hal tersebut, hanya saja perkembangannya terasa begituuuuu lambat karena sepanjang 2008, waktu saya banyak teralihkan untuk hal lain (baca : menangis & memikirkan orang yang samasekali tidak berpikir tentang saya). Dengan demikian saya memutuskan di tahun 2009 ini saya akan meneruskan perjuangan saya untuk mengembangkan 5 hal di atas hingga mencapai titik yang saya inginkan.

 

Selain beberapa misi yang belum terselesaikan tersebut, saya juga mendapatkan banyak bahan pemikiran baru tentang banyak hal, dalam hal cinta misalnya, waw rasanya saya seperti dicekoki banyak sekali pelajaran secara sekaligus dengan tidak sukarela tentunya. Namun toh ujungnya semua itu justru saya rasa jadi berguna juga buat saya. Mengutip kata Megan Fox dalam majalah GoGirl! edisi terbaru (iya, saya baca majalah GoGirl!), yang kurang lebih seperti ini:

There was I, a little girl who didn’t know anything about love, untill a boy came and break her heart”

Kurang lebih seperti itulah saya. Yah, bukan berarti saya sekarang sudah mengerti tentang cinta, hanya saja pengetahuan saya tentang cinta sudah bertambah hihi.

 

Selanjutnya, selain tentang cinta terjadi juga banyak perubahan dalam diri saya, namun yang paling penting menurut saya adalah saya berani keluar dari zona nyaman saya. Tahun 2008 kemarin saya banyak melibatkan diri dalam aktivitas-aktivitas baru, menceburkan diri dalam komunitas baru, mengenal banyak orang baru, dan memiliki banyak teman-teman baru. Orang baru di sini tidak hanya orang yang baru saya temui aja, tapi juga orang-orang lama yang sebelumnya nggak begitu kenal jadi kenal lebih dekat.

Rasanya? Luarbiasa. Dengan kenal lebih dekat dengan banyak orang-orang baru saya banyak mendapat wawasan baru dan sudut pandang baru, dengan demikian mudah-mudahan saya juga bisa sedikit lebih pintar hehe. Saya baru tahu bahwa banyak sekali hal yang bisa didapatkan hanya dengan menambahkan sedikit keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Haha.

Saya belajar banyak tentang hubungan interpersonal di tahun 2008, selain itu saya juga belajar banyak tentang hubungan dengan diri saya sendiri terutama. Saya banyak dapat pelajaran berharga yang mudah-mudahan saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi (Amien). Berkaca dari hal-hal ini kemudian saya membuat resolusi 2009, yaitu menyayangi diri sendiri lebih dari sebelumnya. Kenapa menyayangi diri sendiri menjadi resolusi? Karena menurut saya sebelumnya saya tidak pernah cukup menghargai diri saya sendiri, saya seringkali membiarkan diri saya merasa jelek, saya sering melepaskan kesempatan baik di depan mata hanya karena rasa tidak percaya diri, saya menghukum diri saya berlarut-larut karena kesalahan yang manusiawi dan bisa diperbaiki, saya kurang merawat diri saya dengan baik, saya kurang sayang padanya. Di tahun ini saya pengennya bisa lebih menghargai diri saya, karena tidak ada orang lain ayng akan melakuikan itu sebaik yang harusnya saya lakukan bukan?

 

Lagipula, dengan resolusi ini berarti saya membiarkan pintu kesempatan yang ada terbuka SELEBAR-LEBARNYA di tahun 2009. KArena taun baru berarti tantangan dan masalah baru, namun juga berarti pelajaran baru dan kesempatan untuk mengembangkan diri lagi sebesar-besarnya. Jadi, SELAMAT DATANG 2009!

(dengan resolusi ini saya juga berdoa kepada Pak Bos Besar di ‘Atas’ agar memberikan hal-hal yang lebih baik lagi khususnya bagi keluarga dan orang-orang terdekat yang menyayangi saya. Semoga 2009 menjadi sesuatu yang lebih membahagiakan Amien).

 

You’ll know a nice wine after you tasted the bad one” (Brida – Paulo Coelho)

“It needs dust to be polished” (Life is Wonderful- Jason Mraz)

 

- D! -