dheasekararum

Archive for March, 2009

Worth to try

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on March 30, 2009 at 1:36 am

i got this from one of my friend’s blog. She said her mom sent this to her. While I think it’s good, so I copy it in mine, so that I will remember these

Health:

1. Drink plenty of water.

2. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar

3. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.

4. Live with the 3 E’s — Energy, Enthusiasm, and Empathy.

5. Make time to practice meditation, yoga, and prayer.

6. Play more games.

7. Read more books than you did in 2008.

8. Sit in silence for at least 10 minutes each day.

9. Sleep for 7 hours.

10. Take a 10-30 minutes walk every day. And while you walk, smile.

Personality:

11. Don’t compare your life to others’. You have no idea what their journey is all about.

12. Don’t have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.

13. Don’t over do. Keep your limits.

14. Don’t take yourself so seriously. No one else does.

15. Don’t waste your precious energy on gossip.

16. Dream more while you are awake.

17. Envy is a waste of time. You already have all you need.

18. Forget issues of the past. Don’t remind yourself, your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.

19. Life is too short to waste time hating anyone. Don’t hate others.

20. Make peace with your past so it won’t spoil the present.

21. No one is in charge of your happiness except you.

22. Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like Algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.

23. Smile and laugh more.

24. You don’t have to win every argument. Agree to disagree.

Society:

25. Call your family often.

26. Each day give something good to others.

27. Forgive everyone for everything.

28. Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.

29. Try to make at least three people smile each day.

30. What other people think of you is none of your business.

31. Your job won’t take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

Life:

32. Do the right thing!

33. Get rid of anything that isn’t useful, beautiful or joyful.

34. GOD heals everything.

35. However good or bad a situation is, it will change.

36. No matter how you feel, get up, dress up and show up.

37. The best is yet to come.

38. When you awake alive in the morning, thank GOD for it.

39. Your Inner most is always happy. So, be happy.

Last but not the least:

40. Do it now!!!!

I think it’s worth to try

- D! -

Kata Soe Hok Gie mati muda itu yang paling enak?

In Tentang berbagi isi kepala on March 27, 2009 at 1:48 pm

Saya adalah tipe orang yang jika sangat terkesan terhadap suatu hal, baik itu merupakan lagu, film, kejadian, maupun orang, maka saya cenderung sulit lupa dengan hal itu. Demikian hal yang terjadi pada saya ketika menonton film “GIE” beberapa tahun silam. Saya ingat pada adegan terakhir, ketika tokoh utama dikisahkan telah berpulang ke rahmatullah lalu ditampilkan visualisasi ia yang berjalan di pantai, invoice yang muncul adalah pendapat Soe Hok Gie mengenai ‘anugrah yang terbaik adalah mati muda‘ dan memang demikian yang terjadi padanya, beliau meninggal pada usia yang masih muda, tentu dengan meninggalkan sesuatu.

Dalam hal ini entah mengapa saya kurang setuju dengan pendapat Soe Hok Gie. Meninggal pada usia muda, katakanlah usia remaja atau dewasa muda menurut saya merupakan sesuatu yang tidak begitu menyenangkan (walaupun tentu kita tidak dapat menentukan apakah mati itu menyenangkan atau tidak, karena tidak ada orang yang mampu mengemukakan pendapat lebih enak hidup atau mati setelah mereka meninggal kan?).  Saya tidak pintar bicara tentang kematian, namun menurut saya pribadi mati muda itu ‘kentang’ atau ‘kena tanggung’.

Begini, dalam usia remaja maupun memasuki awal dewasa muda kita memasuki masa dimana kita ingin menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. Di usia remaja kita melakukan banyak sekali pemberontakan, terhadap orangtua, terhadap aturan-aturan yang ada, terhadap skema yang telah kita miliki sebelumnya, intinya kita berada pada masa bimbang dan huru-hara. Kita seringkali merasa sebal dan marah, diperlakukan tidak adil, tidak bisa mengekspresikan diri dan idealisme karena norma- norma maupun aturan yang ada. Seringkali kita tidak mengerti mengapa peraturan ini dibuat, mengapa orangtua kita berbuat hal seperti itu kepada kita, dan sebagainya dan sebagainya.

Saya kemudian membayangkan, jika seseorang meninggal pada usia muda, atau katakanlah usia remaja atau memasuki dewasa awal, maka orang tersebut tidak akan pernah tahu kenapa orangtuanya melakukan hal seperti itu, kenapa ada peraturan ini dan itu dan mengapa sebagai remaja kita ’selalu’ memberontak. Kita tidak pernah tahu betapa sulitnya menjadi orangtua, dan sebagainya dan sebagainya. Kita mungkin juga belom bisa melihat prestasi apa yang bisa kita buat untuk mengukir eksistensi kita di dunia, untuk membalas budi kepada orangtua (saya termasuk orang yang percaya bahwa kita harus membalas budi orangtua), dan masih banyak hal lain. Mungkin yang paling tidak mengenakkan ketika meninggalkan dunia dalam usia yang masih remaja (atau muda) adalah kita masih belum menemukan jawaban dari sebagian besar keresahan yang ada dalam diri kita. Seperti itulah yang saya pikir terjadi pada Soe Hok gie.

Yah, walaupun begitu, kita juga toh tidak bisa memilih waktu kematian kita kan?

- D! -

Terlalu Malas

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on March 17, 2009 at 8:31 am

Halo semua, sudah lama sejak terakhir kali saya menulis di sini. Sebenernya nggak terlalu banyak yang terjadi, cuma akhir-akhir ini saya memiliki cara baru dalam menulis, saya menyebutnya dengan “Grateful, Aren’t You?”. Semacam tulisan pendek aja, notulensi tentang hal-hal baik yang terjadi pada saya dalam sehari, disertai sedikit ilustrasi dan link-link yang saya pikir bagus untuk disimak. Saat ini sudah sampai nomor 6 dan saya biasa menuliskannya di notes profil Facebook saya, kalau tertarik mungkin bisa berkunjung :)

Akhir-akhir ini udara panas luar biasa di siang hari dan hujan badai di malam hari, bikin mood jadi ajut-ajutan banget. Saya jadi males mau ngapain-ngapain. Serius, MALES NGAPAIN – NGAPAIN. Saya males ngerjain tugas (siapa yang enggak?), males kuliah, males ujian, saya males melakukan hal-hal yang saya sukai, saya males motret, saya bahkan males nulis, yang paling parah adalah saya males bersosialisasi, males ngobrol-ngobrol sama orang gitu loh, saya males haha hihi sama temen- temen saya. Rasanya semuanya membosankan gatau kenapa. Saya pikir itu cuma faktor PMS aja, tapi nyatanya sampai hari saya mendapatkan period saya rasa bosan dan males itu nggak kunjung hilang juga *menghela napas*

Satu-satunya hal yang bikin saya tertarik akhir-akhir ini adalah buku yang sedang saya baca yaitu, Buku Harian Anne Frank. Buku ini merupakan terjemahan asli dari buku harian Anne Frank, seorang remaja yang hidup pada masa perang dunia kedua (eh perang dunia pertama apa kedua ya?), itu loh, jaman dimana Nazi menyingkirkan semua Yahudi dengan Hollocaust-nya itu (semua Yahudi dimasukkan dalam ruang tertutup dimana kemudian diberikan gas mematikan).

Saya trenyuh bacanya, walaupun belum sampai selesai. Membayangkan tinggal selama itu di persembunyian, bertemu dengan orang yang itu-itu saja, tidak bisa bebas keluar, tidak bisa membeli ini itu, bahkan Anne Frank sendiri sempat menyebutkan bahwa satu-satunya hiburan baginya adalah belajar dan membaca buku. Ckckck. Menurut saya buku ini cukup bisa dinikmati walaupun sulit untuk menempatkan diri dengan latar pada saat itu karena deskripsi yang dituliskan oleh Ms.Frank memang tidak begitu detail, maklum saja ini kan buku harian.

Membayangkan diri saya berada di tengah kecemasan dan ketakutan seperti itu setipa harinya (bayangkan, setiap harinya mendengar bunyi bom dan ledakan), berita-bertia yang bisa didapatkan dari luar hanyalah berita tentang berapa banyak orang yang telah mati, makan ransum dan buncis hampir setiap hari, menikmati jatah mentega yang dibatasi, minum kopi palsu (saya bahkan nggak bisa membayangkan seperti apa wujud kopi palsu itu?). Betul-betul saya merasa bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang.

Belum lagi saat itu Anne Frank sedang menjalani masa remajanya, masa penuh pemberontakan, masa pertama kali mendapatkan menstruasi, masa-masa dimana kita lebh mempercayai teman-teman kita daripada keluarga kita sendiri, masa dimana kita merasa tidak dimengerti dan tidak bisa mengerti orangtua kita, masa-masa membingungkan kalau menurut saya. Bayangkan menjalani masa itu dalam ruangan tertutup setiap harinya, saya sampai tidak tahu harus berkomentar apa.

Betapa ia dan seluruh keluarganya menunggu-nunggu hari dimana mereka bisa berkeliaran dengan bebas dan melakukan segala hal yang mereka senangi (yang mana hari itu tidak pernah datang, karena mereka semua akhirnya tertangkap, dan yang bertahan hidup tinggal ayah Anne, Otto Frank, yang kemudian mempublikasikan buku harian ini). Anne bahkan menunggu saat-saat dimana ia kembali duduk di bangku sekolah! Saya menangis bacanya, tapi saya memang cengeng sih hehe.

inspiring teenage girl

inspiring teenage girl

Lalu saya search tentnag Anne Frank ini di google, dan saya menemukan banyak hal. Ternyata buku hariannya sudah pernah difilmkan (kaya apa filmnnya ya? Ngebosenin nggak ya?) Trus rupa-rupanya ada websitenya juga http://www.annefrank.com/

lain kali saya akan coba mengeksplorasi lebih lanjut tentang Anne Frank ini, sementara itu, sekarang saya harus ke kampus dulu. Tadi ada yang nelpon nyuruh saya ikut daftar jadi “Mahasiswa Berprestasi”. Saya mau cek, dia salah orang apa nggak ya? Hehe

- D! -