dheasekararum

Archive for July, 2009

Saya, konsumtif? (pt.2)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 25, 2009 at 4:49 pm

Di tulisan sebelumnya saya sudah mengungkapkan sedikit keresahan dan kegundahgulanahan yang menyita waktu, pikiran, hati, dan energi saya akhir-akhir ini. Saya juga telah mengungkapkan bahwa saya sedang berusaha untuk mencari pemecahan dari kegundahgulanahan tersebut, dan saya sudah sampai pada poin pertama, yaitu mencoba menelusuri kembali apa yang sebenarnya terjadi, sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah dengan pola hidup saya akhir-akhir ini.

Poin pertama,

Memangnya ada apa sih?

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa kira-kira dua tahun yang lalu saya adalah anak yang nggak peduli merk ataupun gadget. Selama saya merasa nyaman, maka saya akan pakai, dan bila saya tidak merasa butuh maka saya tidak akan ambil pusing. Sekedar melirik pun tidak sama sekali. Cuek Bebek. Namun sekarang saya tidak seperti itu lagi.

Untuk beberapa item, saya mulai tahu bahwa barang-barang dengan merk tertentu (dengan harga tertentu pula) ternyata memberikan kenyamanan tersendiri jika dipakai. Misalnya saja, sepatu. Sejak itu, saya mulai lebih pemilih dalam membeli beberapa barang. Awalnya semua berjalan lancar, tapi lama kelamaan saya jadi berlebihan, tiba-tiba merk menjadi sesuatu yang penting bagi saya.

Oh, iya merk yang saya bicarakan di sini tentu belum sampai kelas Vuitton, Channel, dan kawan-kawan ya, cuma yang lumrah-lumrah dan berceceran di mal-mal Jakarta aja kok, cuma sebenernya kalau diliat lagi ada beberapa item yang diberi harga diluar akal sehat seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Entah kenapa untuk beberapa barang saya mulai merasakan adanya tuntutan untuk membelinya di suatu toko tertentu, dengan berbagai alasan tentunya. Padahal kalau saya mau lebih jeli membeli, barang-barang dengan model serupa bisa didapatkan dengan harga lebih murah di tempat lain, ITC misalnya. Tidak jauh berbeda keadaannya dengan gadget, oke, mungkin saya belum sampai sejauh itu tergoda untuk dengan lekas membeli ini itu karena semua orang pakai ini itu. Hanya saja yang jelas, ada tekanan tersendiri untuk menggunakan gadget ini dan itu ketika saya melihat teman-teman saya menggunakannya. Ada semacam perasaan ‘ditinggalkan’ kalau saya nggak ikut-ikutan beli ini itu, tanpa saya benar-benar tahu apa urgensinya semua ini bagi saya. Semacam gengsi, malu, takut tidak diterima dalam kelompok, atau rasa-rasa semacam itu mungkin?

Sungguh menyedihkan dan sangatlah dangkal keadaan saya tersebut. Dimana seharusnya hal-hal tersebut muncul saat saya masih dalam masa remaja saya, ketika saya masih duduk di bangku SMA, secara mengherankannya justru muncul di usia saya yang ke-20 tahun ini. Aneh, sekaligus menyebalkan. Saya jadi sebel banget sama keadaan kalau keinginan saya nggak terpenuhi, sungguh sangat frik.

Poin kedua,

Kenapa bisa begitu ya?

Saya mikir, mikir, dan menduga-duga. Kira-kira kenapa saya bisa begini ya. Lalu dugaan awal tentu adalah informasi yang saya dapatkan. Pada usia saya ini saya semakin terbuka untuk segala bentuk informasi dan semakin terbuka untuk berteman dengan segala jenis orang, bahkan jenis yang tadinya tidak terbayang buat saya. Dengan banyaknya akses informasi ini tentu saja pengetahuan saya tentang barang-barang dan kualitasnya juga semakin bertambah, dimana hal ini dapat membuat keinginan saya untuk memiliki barang-barang tersebut muncul.

Sebagai tambahan, sehari-harinya saya dipaparkan dengan orang-orang terdekat saya yang memiliki gaya hidup yang berbeda dengan saya, yang nggak cuek dan buta merk kaya saya. Orang-orang di sekitar saya justru sangat sadar merk dan tentunya kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh-jauh dari situ, pembicaraannya juga nggak bakal jauh-jauh dari situ. Saya pun sedikit demi sedikit terpengaruh. Berhubung iman saya lemah, saya pun mulai tergoda, padahal kalau saja saya mau sedikit lebih cerdik, belum tentu itu semua saya butuhkan. Saya yang malang.

Poin Ketiga

Terus, kenapa jadi pusing dan tertekan segala?

Keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa ayah saya akan segera memasuki masa pensiunnya. Dimana ayah saya adalah orang yang sangat sulit untuk berbagi mengenai hal-hal yang ada dalam pikirannya, sehingga menyangkut perencanaan memasuki masa pensiun juga saya buta samasekali, kalau ditanya juga beliau hanya menjawab sekenanya. Ini semakin membuat perubahan keadaan sangat terasa, namun tidak pasti berubah ke mana. Hal-hal tambahan seperti kenyataan bahwa orangtua yang saya miliki ya tinggal ayah saya ini aja, dan saya anak pertama, dimana saya masih memilii dua orang adik perempuan yang masih muda belia semakin membuat saya berpikiran bahwa kebutuhan saya tambah tidak mungkin terpenuhi.

Keadaan saya berubah, padahal keadaan di sekitar saya, seperti teman-teman saya, dan sebagainya, tidak berubah, tetap berjalan dengan santai.

Saya jadi pusing.

(bersambung~lagi? Iya, lagi)

- D! -

Saya, konsumtif? (pt.1)

In Tentang berbagi isi kepala on July 21, 2009 at 3:44 pm

(berhubung tulisan ini akan menjadi tulisan yang agak panjang, maka saya berinisiatif untuk menjadikannya menjadi dua postingan, biar enak dibacanya)

Pada hari Senin malam (20/07/09) yang lalu saya dibuat terpana oleh sebuah artikel yang saya baca di Majalah bulanan Intisari edisi Juli 2009. Artikel yang ditulis oleh Muhammad Sulhi tersebut menyoroti mengenai kebiasaan berbelanja masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah perkotaan. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa ‘menentukan prioritas dan proporsi pengeluaran yang seimbang merupakan kelemahan bagi sebagian besar dari kita. Hal ini berangkat dari hasil survey yang dilaksanakan oleh tim Litbang Intisari terhadap sebagian pembaca majalah dan tabloid yang tergabung dalam GRAMEDIA MAJALAH terpilih (dengan rentang usia 25-40 tahun) pada Maret 2009 yang lalu. Walaupun hasil survey ini tidak dimaksudkan untuk mewakili seluruh pembaca majalah dan tabloid yang tergabung dalam GRAMEDIA MAJALAH dan masih terdapat sampling error maupun non-sampling error sehingga hasil survey-nya bisa dikritisi lebih lanjut, namun hasil survey ini lumayan memberikan gambaran mengenai gaya hidup masyarakat perkotaan yang ada di sekitar kita (yang mungkin tidak berbeda dengan kita-kita ini dengan usia yang sedikit lebih muda dari usia peserta survey).

Dari hasil survey diketahui bahwa, bagi sebagian besar dari responden (yang sebagian besar sudah menikah dan berasal dari tingkatan ekonomi menengah/atas) aktivitas yang berhubungan dengan hobi, kegiatan hangout, merokok, dan gadget merupakan hal-hal yang memiliki aspek besar dalam pengeluaran per bulannya. Untuk hobi, misalnya, baik responden pria dan responden wanita mengeluarkan angka sebesar Rp.422.360,00 per bulannya, dimana angka tersebut hanya sedikit lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan anak. Selain itu, kebiasaan hangout, atau bahasa gampangnya nongkrong yang biasanya diungkapkan dengan dalih bersosialisasi, ternyata membutuhkan biaya sebesar Rp.257.318,00 setiap bulannya. Dimana biaya tersebut lebih besar daripada uang saku untuk anak. Belum lagi untuk hobi berganti gadget, per bulannya biaya yang dikeluarkan rata-rata adalah Rp.239.286,00, dimana biaya ini dua kali lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk kesehatan (Rp.125.000,00), atau setengahnya dari biaya pendidikan anak (Rp.500.000,00). Belum lagi menyangkut kegemaran mengikuti perkembangan dunia fashion dan menyangkut juga kebiasaan merokok.

Yang bikin saya tambah manggut-manggut kepala adalah persentase atau angka-angka tersebut muncul saat sebagian besar responden mengakui bahwa terdapat pengaruh krisis keuangan global terhadap keluarga mereka (86% dari responden menyatakan demikian) dan mereka harus memangkas beberapa pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak penting. Kalau sudah terpengaruh krisis saja pengeluarannya segini, bagaimana dengan keadaan sebelum krisis keuangan ya? Dalam artikel ini juga disebutkan bahwa tidak heran jika banyak perusahaan multinasional menjadikan konsumen Indonesia sebagai pangsa pasar yang menjanjikan untuk berbagai produk mereka. Artikel yang agak berhubungan juga baru-baru ini saya baca dari Koran Tempo (ah saya lupa penulisnya siapa dan tanggal terbitnya kapan), kaitannya dengan BlackBerry yang kabarnya mau dihentikan stoknya karena pihak perusahaan belum menyediakan layanan purna jual yang memadai di Indonesia, padahal pengguna BlackBerry sendiri sudah luar biasa membludak. Dalam artikel tersebut juga disinggung-singgung bahwa pasar Indonesia itu unik. Unik dalam hal orang-orangnya lebih cenderung mengutamakan penampilan, atau gaya, daripada fungsi. Ouch!


Lalu, kenapa sih saya tertarik dengan artikel-artikel ini?

Karena akhir-akhir ini saya bener-bener lagi merasakan ada sesuatu yang salah sama gaya hidup saya belakangan dan hal ini cukup membuat saya berpikir. Akhir-akhir ini saya selalu saja merasa saya tidak punya uang, uang yang saya miliki tidak pernah cukup untuk memenuhi semua kebutuhan saya, dan saya sampai gemes bersumpah pingin jadi orang kaya kalau besar nanti. Hal ini cukup nyebelin buat saya di beberapa titik, karena saya jadi mengeluh terus kerjanya dan menyalahkan orangtua. Kenapa sih saya nggak kaya? Kenapa sih bapak saya bukannya pengusaha yang usahanya ada dimana-mana? Kenapa bapak saya nggak bisa memasuki masa pensiun dengan tenang dimana semuanya sudah tersedia?

Kenapa? Kenapa? Kenapa?

Saya tertekan, takut, panik, dan gemes.

Hal-hal ini tidak bisa saya bicarakan dengan banyak orang, karena sulit menjelaskan kepada mereka bagaimana perasaan saya menghadapi hal ini, entah saya takut, entah saya malu karena jauh di dalam lubuk hati saya, saya merasa sangat dangkal untuk mementingkan hal-hal materiil seperti ini. Namun, saya juga tidak bisa bohong bahwa saya sangat takut dan khawatir. Akhirnya, suatu hari, semuanya luber juga, dan saya mengungkapkan semua sambil berkonsultasi kepada teman saya. Setelah berkonsultasi dengan teman saya (baca: curhat), saya dianjurkan untuk tidak berfokus kepada apa yang saya rasakan, namun lebih kepada apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi tekanan-tekanan tersebut. Jadi demikianlah, hal pertama yang bisa saya lakukan adalah mencari tahu sejak kapan mulai muncul perasaan-perasaan seperti itu dalam diri saya. Ketika saya mengurutkan kembali akhirnya didapatkan fakta bahwa, sebelumnya saya tidak begini, kira-kira dua atau setahun yang lalu saya sama sekali tidak begini.

Dua atau setahun yang lalu saya adalah anak yang cuek dan tidak kenal merk. Cuek dan tidak kenal merk disini dalam artian, saya tidak begitu peduli saya harus beli produk apa dimana (terutama dalam hal pakaian dan aksesoris, bukan makanan), saat itu yang saya pikirkan adalah apakah saya merasa nyaman dengan baju itu atau tidak, dan apakah saya memang membutuhkannya atau tidak. Untuk beberapa baju bahkan saya memilih untuk membuat desain sederhana sendiri dan membawanya ke tukang jahit, untuk menghindari biaya pembelian pakaian yang tidak masuk akal. Demikian pula soal gadget atau kegiatan nongkrong dan liburan, saat itu yang saya pikirkan adalah yang penting kebutuhan saya tercukupi. Tidak terpikir sama sekali mengenai prestise atau buat gaya-gayaan.

Tapi sekarang?

BEDA.

Saya kemudian bertanya-tanya darimana datangnya perbedaan dalam diri saya ini?


(bersambung)

- D! -

When life gets a lil’ bit harder.

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 15, 2009 at 4:43 pm

Since I entered this twentieth age of mine, i really feel life gets a lil’ bit harder from it was before. There are so many things i have to accomplished myself, many things to catch up, many things to reach, many things to decide, and yes, many things to change, or has changed, or changing. Whatever.

Lately, i’ve been dealing with trouble sleeping, I have so many thoughts in my mind that I can’t share, not even to my closest friends, not even to the keyboard. Why? Since I was too afraid to deal with reality. With the world lately. With myself.

But yesterday, and today, I spill one of them to couple friends, and I feel relieved for that. I did cry along the story, it was tiring, and frightening, but it was pretty enlighting. I feel grateful for that. Grateful for having such great friends around me, that understand me, when I thought they wouldn’t, or couldn’t.

For this, I know they will help me when I’m in need. They’ll be there.

And  I think, I will be fine.

For the direct message on twitter, for the video, for the chat, for the words, for the text, for the hot chocolate, for the wisdom.

Thankyou.

- D! -

Social Sites’ Self Disclosure itu adiktif dan bisa jadi destruktif

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on July 13, 2009 at 4:06 pm

Teman saya, Shanna, menuliskan kalimat ini sebagai salah satu postingan di page Tumblr-nya :

“I hate it when people share their relationship woes on Twitter”

Kalimat ini membuat saya berpikir, oh iya juga ya, akhir-akhir ini orang-orang (seenggaknya yang ada di sekitar saya) lagi hobi banget berbagi tentang hal-hal semacam ini di situs jejaring sosial yang mereka miliki, seperti di Twitter, Plurk, bahkan status Facebook. Sebetulnya saya sempet curiga, jangan-jangan tren ini memang sudah ada dari dulu, cuma sayanya aja yang cuek bebek, saya tidak tahu juga, yang jelas orang-orang di sekitar saya lagi huru hara banget tentang kehidupan percintaan mereka.

Mulai dari yang emosi berat sama mantannya, ada juga yang sakit hati karena peristiwa putus yang nggak baik-baik, yang emosi dan merasa ‘tergantung-gantung’ perasaannya oleh gebetan atau mantan gebetan,yang merasa sesak karena mantannya selalu ada di sekitarnya (ini tentang saya atau teman saya sih? haha), yang menjelek-jelekkan nama orang yang disamarkan tapi tetep aja ketauan siapa orangnya, juga sampai yang bikin lirik kesedihan hatinya segala.

Selain mengenai kesedihan, amarah, agresifitas terselubung tersebut, ternyata banyak juga yang lagi melankolis dan berbagi tentang percintaan dan kemesraan mereka di situs jejaring sosial. Mulai dari kata-kata manis manja, puisi-puisi rayuan maut, bahkan sampai ajakan jalan-jalan ke pacarnya juga ditulis di situs jejaring sosial.

Ada apa gerangan?

Menurut saya, ini fenomena yang sangat menarik. Saya disini nggak berbicara tentang curhatan yang dituliskan di blog atau notes masing-masing ya, saya lebih berbicara tentang situs jejaring sosial yang memberikan fasilitas kepada penggunanya untuk menuliskan aktivitas mereka dalam satu kalimat pendek, seperti Twitter, atau Plurk (oh iya, status Facebook juga, tapi bukan notes atau blog ya, ingat). Kalau sekedar berkeluh kesah atau marah marah sendiri sih itu masih nggak apa-apa. Saya cuma heran aja sama yang betul-betul menyebutkan nama atau ciri-ciri khas dari orang yang dibicarakan, sehingga mau nggak mau orangnya merasa tersindir (jika orang yang dimaksud memiliki account di situs jejaring yang sama).

Sebetulnya postingan-postingan semacam itu sengaja buat menyindir atau gimana, eh?

Saya sendiri bukannya nggak melakukan hal yang serupa, mungkin pernah juga beberapa kali, namun saya berusaha sebisa mungkin menyamarkan nama orang yang saya maksud, dan maksud saya bukan untuk menyindir, sekedar menuliskan saja. Karena saya sendiri juga pernah melakukan hal yang sama, maka saya berpikiran hal seperti ini bisa sangat adiktif.

Masalah mulai ketika orang yang melakukan hal tersebut sudah teradiksi terhadap kegiatan semacam itu dan akan bertambah runyam ketika kegiatan ini sudah mulai menjadi perang saling sindir menyindir dalam agresivitas yang terselubung. Hal semacam ini bukannya nggak mungkin terjadi loh, karena percaya deh, salah satu dari temen saya baru saja mengalaminya. Dampaknya? Buruk. Sekarang hubungan ‘pertemanan’ mereka menjadi tidak baik, jika boleh dikatakan buruk, di kehidupan nyata.

Belajar dari pengalaman tersebut, menurut saya sah-sah aja kalau orang ingin berbagi perasaan dan keluh kesahnya terhadap orang lain, jangan sampai lupa aja untuk menyaring siapa dan apa yang boleh disebutkan, dan apa-apa saja yang lebih baik disimpan dalam hati atau lebih baik disampaikan langsung ke orang yang bersangkutan. Karena kita nggak pernah tau siapa aja yang bisa mengakses curhatan, keluhan, atau umpatan kita melalui situs jejaring sosial kan? Yah, bukan berarti kemungkinan itu nggak bisa terjadi kalau kita curhat secara langsung ke orang lain saling berhadapan muka sih, karena yang namanya gosip pasti akan tetap jaya. Diminimalisir aja. Kecuali, kalau kita emang pingin banyak orang baca dan mengetahui masalah kita, untuk mendapatkan bantuan misalnya, bisa aja sih.

Asumsinya kita berkirim pesan untuk berkomunikasi dan bukan untuk menambah kerumitan masalah kan?

Apakah masing-masing dari kita sudah lupa caranya berkomunikasi secara langsung dan bicara baik-baik secara dewasa satu sama lain?

- D! -

about having faith

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 12, 2009 at 1:26 pm

I cited this from one of my friend’s, Silmy Risman note :

” No matter how out of control, suffocating, and misreable situations get, just remember this :

There’s a reason why they call it happy endings.

So, if  it’s not happy, then it’s not the end YET.

Just have faith.

God never sleeps, and God KNOWS BEST.

picture taken from craneox.deviantart.com

picture taken from craneox.deviantart.com

I couldn’t agree more.

- D! -