Di Balik Sanguinis, Phlegmatis, Koleris, dan Melankolis

Sebetulnya tulisan mengenai tipe ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis ini merupakan kumpulan twit saya pada  tanggal 29 Juli 2012. Berawal dari kebingungan saya setiap kali ditanya mengenai empat tipe kepribadian tersebut oleh teman-teman yang memiliki latar belakang pendidikan non-psikologi. Selama 6 tahun kuliah, saya sebetulnya tidak pernah ‘ngeh’ dari mana asalnya tipe2 ‘kepribadian’ sanguinis, phlegmatis, koleris dan melankolis.

Di buku manapun yang saya pelajari pun sepertinya tidak membahas mengenai teori ini. Sebetulnya secara samar-samar saya ingat sempat disinggungnya mengenai teori ini saat mempelajari mata kuliah Sejarah Aliran Psikologi di semester pertama, namun demikian saya tidak ingat ada uraian yang cukup lengkap mengenai teori ini (atau jangan-jangan saya-lah yang tidak dapat memahami bahasa buku tersebut yang memang agak ‘njelimet’ dibandingkan bahasa buku teks lain selama saya berkuliah. Buku tersebut memang cuma bisa tertandingi oleh buku teks mata kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan dalam hal keruwetan bahasa).

Setelah saya membaca The Psychology Book, akhirnya saya tahu bahwa istilah 4 tipe kepribadian sanguin, phlegmatis, koleris, dan melankolis ternyata datang dari Claudius Galen, seorang filsuf sekaligus dokter yang hidup pada tahun 129-200 Masehi. Ide Galen untuk menjelaskan mengenai kepribadian manusia berangkat dari teori Yunani kuno tentang mekanisme tubuh berdasarkan distribusi cairan tubuh (humourism) yang dikemukakan seorang filsuf yang  juga cukup familiar namanya di buku teks mahasiswa psikologi, yaitu Empedocles. Apabila kita tarik mundur sedikit, kita akan tahu bahwa Empedocles pernah mengemukakan bahwa distribusi cairan tubuh kita merupakan representasi dari proporsi 4 elemen dasar (earth, air, fire, dan water) dalam tubuh. Memang terdengar agak absurd, namun orang-orang pada masa tersebut menerima teori yang berpendapat bahwa tubuh kita mengandung elemen-elemen dasar tersebut.

Namanya juga filsuf, apabila kita bayangkan di jaman tersebut kan kita tidak punya pedoman dalam menjelaskan fenomena alam. Ini justru cikal bakal munculnya pola berpikir ilmiah, dimana seseorang dapat berpendapat didasarkan argumentasi-argumentasi tertentu dan orang lain dapat membuktikan atau justru mengembangkan hipotesis orang tersebut lewat pencarian fakta. Hippocrates, yang juga lebih dikenal sebagai “Father of Medicine” melakukan hal ini, ia bahkan mengembangkan model medis dan anatomi dari teori Empedocles tersebut.

Berangkat dari teori tersebut, 200 tahun kemudian Galen mengemukakan bahwa ada hubungan langsung antara proporsi banyaknya cairan tubuh tertentu dengan aspek-aspek kepribadian manusia. Aspek kepribadian yang dimaksud misalnya seperti kecenderungan emosi dan tingkah laku kita dalam berbagai konteks peristiwa, atau ia sebut juga sebagai “temperamen”. Menurut Galen, kalau salah satu cairan tubuh (humour) porsinya lebih banyak dalam tubuh, maka salah satu tipe kepribadian juga akan tampil dominan pada orang tersebut.

Galen mengemukakan, orang Sanguinis adalah mereka yang punya kadar darah lebih banyak dalam tubuh[1] Orang dengan tipe kepribadian Sanguinis cenderung hangat (warm-hearted), ceria, optimis, PD, namun juga egois. Sedangkan orang Phlegmatis adalah mereka yang punya lebih banyak kadar lendir dalam tubuh[2]. Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung tenang, cool, rasional, dan konsisten namun juga lamban dan pemalu. Orang Koleris adalah mereka yang punya kadar cairan empedu lebih banyak dalam tubuh[3]. Karakteristik orang Koleris menurut Galen adalah bersemangat, antusias, enerjik, dan passionate. Terakhir, orang Melankolis adalah mereka yang punya kadar black bile lebih banyak dalam tubuh[4]. Orang dengan tipe kepribadian melankolis cenderung lebih mudah sedih dan depresi (mood-nya lebih gloomy), artistik dan puitis.

Dengan adanya pandangan dasar bahwa keseimbangan cairan tubuh mempengaruhi kepribadian manusia, maka Galen percaya permasalahan kepribadian/temperamental manusia bisa diatasi dengan pendekatan fisik, seperti diet dan latihan fisik yang tepat.Galen bahkan beberapa kali menangani orang yang datang dengan keluhan sebagai orang yang ‘terlalu egois’ dengan cara mengeluarkan sejumlah darah orang tersebutkarena menurut Galen, ‘egois’ adalah salah satu karakteristik tipe temperamen Sanguinis yang disebabkan oleh terlalu banyaknya kadar darah dalam tubuh. Cara Galen waktu itu adalah dengan memotong daging orang tersebut atau mengambil darahnya lewat pembuluh darah (sama seperti sekarang saat kita ambil darah untuk cek laboratorium).Pandangan ini bertahan di dunia kedokteran sampai masa Reinassance, hingga ditemukan ada lebih dari 200 kesalahan Galen dalam menyusun sistem anatomi.

Meskipun agak absurd dan error, pandangan Galen ini menjadi awal berkembangnya teori kepribadian dalam psikologi modern. Misalnya, tahun 1947, Hans Eysenck menyimpulkan bahwa aspek temperamen dalam kepribadian seseorang memang memiliki dasar biologis. Dari situ Eysenck kemudian mengembangkan trait kepribadianneuroticism dan extraversion. Walau pendekatan Galen dianggap pseudo-science, ilmu psikologi modern sepakat dengannya soal adanya hubungan antara masalah mental dengan fisik. Hingga kini, sebagian besar ilmuwan psikologi modern juga berpendapat bahwa gangguan psikologis atau kecenderungan kepribadian orang memiliki landasan biologis.

Dengan demikian, saya harap pembaca juga mengerti mengapa saya seringkali jadi agak bingung juga jika ditanya atau diminta untuk memberikan diagnosis mengenai ‘aku ini tipe sanguinis, melankolis, koleris, atau phlegmatis?’. Alasan saya:

  Pertama,  saya tidak mungkin membedah sang penanya terlebih dahulu untuk tahu mana cairan tubuh yang lebih dominan dalam  tubuh sang penanya.

  Kedua, dasar pandangannya mengenai keseimbangan cairan tubuh juga sudah kurang tepat dan dibuktikan oleh sains pada masa itu.

Ketiga, saya pribadi agak kurang sreg dengan pengelompokan kepribadian manusia jika tujuannya belum jelas. Saya khawatir nantinya saat sudah mengetahui kecenderungan kepribadian dengan sejumlah traits-nya malah membuat orang yang bersangkutan membatasi diri sendiri. Contohnya, saat orang mengetahui kecenderungan kepribadiannya adalah pencemas dan ekspresif dalam emosi, orang tersebut bisa saja membenarkan segala perilakunya yang mungkin mengganggu orang lain dalam lingkungannya atau justru menghambat dirinya untuk berkembang dengan alasan bahwa perilaku tersebut sudah merupakan “sifat dasarnya” sehingga ia tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lebih baik.

Oleh sebab itu, saya sebisa mungkin menghindari memberikan label atau diagnosis terhadap orang lain kalau nantinya malah jadi membatasi atau tidak membantu orang tersebut ;)

Demikian sharing saya tentang tipe ‘kepribadian’ sanguinis, koleris, phlegmatis, dan melankolis-nya. Semoga dapat memberikan tambahan materi belajar bagi kita semua :)

Sumber :

Collin, Catherine, dkk. 2012. The Psychology Book– Big Ideas Simply Explained. London : Dorling Kindersley Limited

http://heyinishanti.blogspot.com/

http://chirpstory.com/li/15116

http://en.wikipedia.org/wiki/Galen

PS : Terima kasih Teh Cune yang sudah merangkum twit-ku dan menyusunnya dengan rapi dalam blog-nya

———————————————————————————————————————————————————————-

[1] “Sanguin” berasal dari bahasa Latin “sanguineus” yang artinya “yang berhubungandengan darah”

[2] “Phlegm” berasal dari bahasa Yunani kuno “phlegma” yang artinya “cairan lembab dan dingin dalam tubuh”

[3] “Choler” berasal dari bahasa Latin “cholera” yang artinya “cairan kuning-hijau dihasilkan liver (cairan empedu)”

[4] “Melancholy” berasal dari bahasa Yunani “melas chole” yang artinya “cairan yang dihasilkan oleh ginjal”. (Maap ga nemu padanannya dalam bahasa Indonesia -S)

About these ads

6 comments

  1. Kimi

    Waktu saya tes wawancara kerja, anehnya saya sempat ditanya begini. “Menurut kamu dia termasuk dalam tipe apa?” Saya bengong. Kemudian Mbaknya membantu memberikan clue dengan menyebutkan sanguinis, phlegmatis, koleris, dan melankolis. Dalam hati saya ingin membantah. Lima tahun kuliah, seingat saya, di kampus belum pernah saya diajarkan teori kepribadian macam ini. Cuma saya takut salah. Dan syukurlah kamu menulis ini. Jadi makin jelas deh saya. Thanks, Dhea. :)

  2. dheasekararum

    My pelasure Kimi :) Sangat mengherankan memang kalau sampai sekarang teori ini masih dipakai untuk mengklasifikasikan tipe kepribadian orang, mengingat usianya sudah tua sekali. Saya akan sangat senang kalau Kimi mau bantu share ke orang lain juga, agar yang lain tahu asalnya teori ini ;)

    • Tri Yordan Prakoso

      Dhea, jadi kalo setiap karakter manusia dipengaruhi oleh cairan yg ada di dalem tubuh berarti saya seorang sanguin yg “banyak darah” bisa jadi agak plegmatis dong kalo saya mengkonsumsi makanan yang bisa menghasilkan lendir tubuh? seperti susu, daging, dll..
      mohon jawabannya ya dhea,, biar saya jadi ngerti.. saya agak kesiksa gitu jadi seorang sanguin, soalnya sanguin kan emosinya Labil, gak kayak plegmatis ^^! hehehheheehe

  3. Tri Yordan Prakoso

    Saya bukan anak kuliah Psikologi, saya masih SMK, tapi saya penasaran dengan teori ini..
    saya seorang sanguin.. nah, kalau katanya karakter manusia disebabkan oleh cairan tubuh, berarti saya bisa meningkatkan lendir tubuh saya dengan mengonsumsi makanan yg meningkatkan kadar lendir dalam tubuh agar terproduksi lendir lebih banyak dalam tubuh saya sehingga saya bisa mempunyai 2 tipe kepribadian yaitu sanguineus dan plegmatis. ?! atau bagaimana? mohon jawabannya , Mbak DHEA ^^!

  4. Fenty

    saya selalu ingin tahu bagaimana kepribadian saya sebenarnya. beruang kali ikut tes 4 tipe ini. hasilnya saya adalah tiipe melancolis. Secara psikolok saya ingin tahu lebih dalam tentang diri saaya, yang saya rasa terlalu menahan diri… apa tipe org melancolis dapat memiliki sifat yang lebih berani.. dengan EQ yg bagus jg?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s