dheasekararum

Archive for the ‘Tentang bermacam sumber inspirasi’ Category

Tentang keluarga

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi, Tentang bersaudara dan keluarga on November 15, 2009 at 1:44 pm

08/11/2009 | 22.17|rumah

*wall-eeeeee ! (bunyi sms masuk)*

tell me how does it feel to have a family, would you, please? i think i forgot that feeling..”

(terdiam, memutuskan tidak membalas apa-apa)

Sebuah sms dari seorang teman (yang sangat) dekat.

Saya juga kurang mengerti kenapa saya tidak membalasnya. Alasan yang paling mudah sih tentu karena mungkin saya juga tidak begitu paham maksud pertanyaannya. Mungkin saya juga merasa tidak cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan ini. Mungkin saya sendiri juga tidak pernah menghayati apa rasanya memiliki sebuah keluarga. Mungkin saya juga tidak begitu mengerti yang dimaksud oleh teman saya dengan keluarga itu yang seperti apa?

Apakah yang dimaksud dengan keluarga itu adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak? Ataukah keluarga besar yang termasuk juga di dalamnya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, dan sebagainya? Ataukah definisi keluarga justru lebih luas lagi? Karena saya bingung, maka saya tidak jawab sms itu.

13/11/09| malam| 2 jam di dalam mobil terjebak macet dan hujan deras di daerah Wijaya

teman : hahaha kita terjebak macet dan nyasar gini malah jadi terlibat deep talk gini ya Kak

saya : hahah iya nih norak banget, padahal sebenernya kita ga akrab-akrab banget nih ya. thai boxing mempersatukan kita lah ini mah namanya

teman : iyanih. ngomonginnya tentang keluarga ini itu segala macem hahaaha

saya : aneh banget yah mana kita kebelet pipis, gue gapunya pulsa pula

teman : aduh iya nih kebelet banget, pulsa gue cuma pulsa sms hahaha. Tapi gue butuh nih kak pembicaraan-pembicaraan kaya gini

saya : becoming twenty ya? hahahha. i think twenty sumthin is just crazy, it’s kinda freak. but one thing at a time, we just have to take it easy.

teman : iya nih, becoming twenty soon. Butuh banget pembicaraan kaya gini, biar tahu kalo yang diurusin tuh masih banyak.

saya : eh, gue juga taun ini baru 20 lho

teman : serius? ah, masa sih? lo kelahiran 89 Kak?

saya : he eh. hehehe.

teman : ohh hahaha yayaya. Gue seneng banget nih pembicaraan kaya gini, biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu. Kaya tadi abis gue denger cerita-cerita lo tadi. Yah emang masih harus banyak belajar sih.

saya : yah, tergantung kita liatnya gimana sih.

Sekian cuplikan pembicaraan saya dengan seorang teman, lagi-lagi tentang keluarga. Kalau dikaitkan dengan sms teman dekat saya yang sebelumnya itu tentang makna keluarga. Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya yang dimaksud keluarga itu yang seperti apa. Kemudian kalau saya mengingat kembali kata-kata teman saya yang bilang “biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu” saya jadi berpikir.

Sangat berpikir.

Kalau yang dimaksud oleh sms teman saya dengan keluarga adalah keadaan dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, keluarga saya jelas samasekali tidak utuh. Seorang ayah, dengan 3 anak perempuan, tanpa ibu, jelas tidak utuh kalau dilihat dengan kasat mata. Ibu saya sudah tidak ada sejak saya lulus dari SMA, bertepatan dengan berakhirnya UAN SMA. Sudah 3 tahun lebih lamanya, dan sejak saat itu entah kenapa ayah saya belum menunjukkan tanda-tanda ingin memiliki pasangan lagi. Saya, sebagai seorang anak pertama dari 3 bersaudara perempuan semua, otomatis mengalami perubahan peran sejak saya lulus SMA. Walaupun peran tersebut memang tidak terlalu berubah secara signifikan sih, tapi terasa perbedannya.

Lalu muncul pertanyaan : apakah lantas *tsaaaah* hal ini membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Sekali lagi, saya memutuskan untuk menjawab, tergantung kita lihatnya dari mana.

Kalau dari masalah keutuhan keluarga, mungkin saya memang memiliki kekurangan dalam hal itu. Ada banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan dan oleh seorang ibu, tapi nyatanya tidak bisa saya dapatkan dalam keluarga saya. Banyak hal pula yang seringkali harus dilakukan oleh saya, atau justru ayah saya, bahkan harus kami lakukan bersama-sama melibatkan adik-adik saya juga.

Mungkin teman-teman berpikir, saya tidak punya teman bercerita mengenai hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan, seperti yang teman-teman bisa lakukan kepada ibu masing-masing. Saya tidak bisa meminta pendapat soal laki-laki yang ada dalam kehidupan saya dari sudut pandang seorang wanita dewasa yang paling mengerti saya. Saya tidak bisa minta pendapat kalau ingin belanja bahan kain, bahan masakan, atau jahit kebaya, beli baju, belanja, dan sebagainya. Saya tidak punya mentor pribadi dalam hal mengurus rumah, misalnya belajar memasak menu-menu baru, mengurus kerapihan rumah, mengurus administratif rumah tangga (hal-hal yang sebagian besar orang anggap sepele di jaman sekarang, namun buat saya masih penting untuk bekal menjadi seorang istri suatu hari nanti). Saya seringkali bingung bagaimana menghadapi adik-adik saya, mulai dari prestasi sekolah, mengambil rapot, mendengarkan mereka curhat, menghadapi emosi remaja mereka, mencoba meningkatkan rasa percaya diri mereka setiap kali mereka menghadapi kesulitan, dan pelajaran-pelajaran hidup lain yang mereka butuhkan untuk tumbuh dewasa.

Selain hal-hal teknis itu, terkadang ada juga perasaan-perasaan khawatir yang mungkin tidak dimiliki teman-teman yang mempunyai orangtua yang lengkap. Perasaan khawatir terhadap ayah saya yang tidak terbiasa menceritakan perasaan-perasaan maupun kesulitannya kecuali kepada ibu saya. Rasa khawatir yang seringkali berlebihan terhadap rencana pensiun ayah yang tidak kunjung jelas (yah mungkin karena beliau memang tidak terbiasa membicarakannya dengan anaknya). Rasa khawatir yang berlebihan terhadap kesehatan ayah yang tidak kunjung berhenti merokok dan malas berolahraga, sehingga untuk jogging saja harus setengah dipaksa (itu pun belum tentu berhasil). Perasaan tidak cukup berhasil menjadi contoh yang baik ataupun tempat bercerita bagi adik-adik. Dan kekhawatiran lain yang saya sebetulnya juga tahu bahwa seringkali munculnya secara berlebihan.

Apakah kondisi itu membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Saya kurang setuju. Walaupun kadang keadaan bisa berbeda dengan yang dialami oleh teman-teman saya, saya tahu saya tidak boleh mengeluh, dan memang saya juga tidak ingin mengeluh. Karena mengeluh justru menjustifikasi bahwa keadaannya memang buruk, padahal toh tidak buruk.

Saya selalu berusaha memandang posisinya seperti ini, anggap saja saya ini sedang latihan dalam menghadapi kehidupan *tsaaah*. Seperti yang teman-teman tahu, yang namanya kehidupan itu kan semakin lama akan menemui halangan yang semakin riweuh. Dulu, waktu SMP yang dipikir hanya gimana teman-teman bisa dapat nilai ulangan yang bagus atau bisa menang main CS waktu deadmatch lawan teman yang jago, sekarang harus mulai berpikir jenjang karir yang diminati dan menghidupi diri sendiri, belum lagi masalah cari jodoh. Semua itu adalah proses yang bertahap, dimana setiap tahapan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Namun, di sisi lain, dengan adanya latihan dari pengalaman yang sudah dilewati, disitulah persenjataan dan kemampuan kita juga semakin meningkat. Nah saya ini sedang latihan dengan program latihan yang agak sedikit berbeda dengan teman-teman yang memiliki orangtua yang lengkap. Otomatis, jenis pengalaman dan pelajaran yang didapat mungkin akan berbeda pula.

Kalau teman-teman bisa bertanya semua hal yang tadi saya sebutkan di atas itu kepada satu orang (ibu masing-masing), mungkin saya harus berusaha sedikit lebih keras dan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, misalnya tanya-tanya teman yang lebih berpengalaman, tanya ke orangtuanya teman, tanya ke saudara, tanya ke ayah (dengan cara yang sedemikian rupa), atau ya sok kreatif aja menyelesaikan sendiri. Lagipula, saya merasa banyak hal yang saya dapatkan kok dari pengalaman-pengalaman saya yang seperti ini. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu sifat ayah saya itu seperti apa, namun sekarang, kurang lebih saya mulai paham sedikit-demi sedikit. Sebelumnya saya tidak pernah tahu rasanya stres melihat nilai orang lain jelek, sekarang saya bisa tahu rasa cemasnya kalau adik saya dapat nilai jelek. Sebelumnya, saya tidak tahu administrasi rumah tangga, sekarang sedikit-sedikit saya mulai tahu, walaupun belum mampu menerapkan.

Sebelumnya, saya selalu menganggap ayah saya adalah pahlawan yang bisa melakukan semua hal, saya tidak pernah tahu bahwa beliau hanya manusia biasa yang bisa bingung juga seperti saya, seorang laki-laki dewasa yang sudah jadi ayah ternyata bisa minta diurusin juga, dan saya yang harus belajar untuk sabar dan mengalah. Walaupun seringkali saya masih sering mengomel dan mengeluh di belakangnya. Selain itu, saya juga jadi bisa (dan harus) tahu dimana ibu saya menyimpan semua perabot rumah tangga, seperti piring, kristal-kristal, dan sebagainya.

Perlahan, saya mulai belajar untuk lebih menghargai keluarga. Saya yang dulu tidak peduli dengan ritual keluarga dan selalu menganggap itu hanya bagian dari tradisi keluarga yang sebetulnya tidak penting-penting amat kemudian (harus) belajar untuk melihat lebih dalam apa makna dalam setiap tradisi keluarga tersebut. Saya yang sebelumnya jauh lebih egois dalam berkeinginan, belajar untuk lebih empati (terutama terhadap adik2) dan bersabar dalam pemenuhan kebutuhan pribadi saya dan dunia tidak berputar di sekeliling saya saja. Selalu ada orang lain, dengan kebutuhannya masing-masing.

Intinya, saya merasa saya banyak belajar hal-hal yang tidak akan bisa ditemukan dalam text-book kuliah manapun. Pelajaran yang hanya tumbuh dari pengalaman. Sesuatu yang mengajarkan saya untuk selalu berusaha bersyukur seperti apapun keadaannya. Dengan begitu saya percaya bahwa semakin banyak kita bersyukur, entah kenapa sebetulnya semakin banyak yang datang ke kita. Terdengar klise mungkin, tapi yang saya rasakan sih seperti itu. Mungkin semacam self fulfilling prophecy?

Selain itu, saya merasa orang-orang di sekitar saya selalu baik sekali sama saya. Saya dikelilingi orang-orang yang mengerti saya, dan sabar menghadapi saya. Keluarga inti saya contohnya, saya tahu, bahwa walaupun kami semua terkesan cuek satu sama lain dan becandaan orang rumah selalu absurd dan aneh, namun masing-masing dari kami memiliki misi untuk berusaha melakukan yang terbaik, dan mengeluarkan yang terbaik dari kami. Entah untuk siapa, mungkin bagi ayah saya, mungkin bagi adik-adik saya, mungkin bagi kita semua, mungkin bagi diri sendiri juga. Saya sendiri merasakan ikatannya semakin kuat antara satu sama lain, saya tidak tahu deh apakah adik-adik saya merasakan hal yang sama atau tidak.

Orang-orang yang baik ada di sekitar saya, saya ada di tengah-tengah teman-teman yang sangat menyenangkan, baik di saat susah maupun senang. Saya tergabung dalam PoPS dan SUMA, yang walaupun iklimnya berbeda, namun orang- orang di dalamnya  memberi saya pelajaran-pelajaran yang berharga. Bukan hanya soal teknis, namun juga konsep, dan juga soal hidup. Belum lagi keluarga besar saya, dan orang-orang lain yang nggak bisa saya sebut satu-satu.

Setiap keadaan hanyalah variasi bentuk yang ada di dunia. Di luar sana, masih ada teman-teman yang memiliki keadaan yang berbeda-beda dengan saya, dengan usaha yang berbeda-beda pula, lebih sedikit, maupun lebih banyak usaha yang dikeluarkan oleh mereka. Lagi pula sedikit atau banyak itu ukurannya siapa?

Pada akhirnya, saya bertanya pada diri sendiri, kenapa saya harus merasa tidak utuh?

Ketika saya ditanya bagaimana rasanya memiliki keluarga? Menurut saya, rasanya ya utuh saja, seperti apapun bentuk keluarga kita. Optimalkan saja apa yang sudah ada, raih kesempatan yang ada, buat kesempatan itu datang, kalau perlu (sebuah kalimat yang sampai saat ini masih saya coba pelajari dan terapkan dalam kehidupan nyata).

Mengingat usia saya dan teman-teman saya yang menginjak 20 tahun-an ini, saya hanya ingin bilang, jika kalian punya sebuah keluarga yang lengkap, utuh, dengan kedua orangtua dan adem ayem saja, just please, be grateful for that. For not every one of us gets the opportunity to do so.

with love,

- D! -

Take the (bloody) risk?

In Tentang bermacam sumber inspirasi on November 1, 2009 at 9:09 pm

I don’t do reblog actually, but this one is interesting. At least, for me.

This one came from Nadia Ikayanti :

 

Our brain’s got two hemispheres : left and right. We use our left brain to think objectively, focusing on logical/rational analysiscalculation, etc while right brain does its role on imagination, intuition, aesthetics, creativity, and feeling. Everyone’s got their preference in using which part of their brain.

As individuals grow up and get to face this so-called “Reality” everyday, they tend to use their left brain while downplaying the right-one. Schools teaching system also got its role on this preference.

SO ANYWAY. . .

Do you remember when you’re in JHS or HS? Dating is as simple as ABC. You guys like each other and decide to be an item. If you don’t feel like one anymore, then it’s over. That’s that. We use our right brain this case

It’s totally different nowadays. When it comes to our ages now, we use many calculation in choosing partners. Oh she’s a Ph.D from Oxford, his annual salary’s IDR 500 mio, he’s got his own company, I could have a steady life with him, what? her GPA’s only 2,5?? blah blah.

It’s definitely not a sin to have those kinda thoughts. I mean, we all know love can’t pay the bills rite? ;p

But what if it’s like this :

You waste a good chance with someone that makes you feel comfortable and peaceful just because he/she hasn’t finished his/her degree? Or you try so hard to stay in a weary relationship with someone who disrespect you for he/she’s good looking and (probably) got a promising future compared to others?

Can you say “I’m happy” ? Go ask yourself.

We, sometimes, forget to “listen to our heart” or (I may define) “think with our right-brain”.

Just follow your feeling and intuition

. . . and take the bloody risk.

———————————————————————————————————

I responded with this :

I use my corpus callosum which connects both hemispheres to find love (ok i know, i read to much on neuropsychology). Just kidding.

ah senang sekali di-tag! Hahahaha. I would love to take chance on love though, Nad.
Thankyou for the inspiration :)

what about you guys?

- D! -

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu (pt.3)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:33 pm

Sebetulnya sih teman-teman saya yang lain juga tidak menuntut secara langsung untuk saya menjadi sama dengan mereka. Hanya saya saja yang merasa perlu mengikuti mereka. Walaupun saya sendiri tidak mengerti apakah hal itu baik atau tidak bagi saya dan orang-orang terdekat saya, biasalah anak remaja labil, dimana teman lebih penting dari keluarga.Selain masalah tampilan dan pembicaraan yang tidak nyambung, saya juga merasa seumur hidup saya di SMA saya tidak pernah bebas menjadi diri saya sendiri (yang pada saat itu juga saya tidak yakin diri saya seperti apa ya?). Yah walaupun saya sendiri juga belum tau diri saya sebenernya seperti apa, minimal saya tau kebiasaan-kebiasaan kampungan saya udah ada dari dulu. Kebiasaan saya komentar-komentar asal yang suka disalahartikan sebagai ngelawak, kebiasaan saya untuk nge-dubbing telenovela di TV, kebiasaan saya untuk beli baju di pasar, kebiasaan saya untuk ngemilin es batu, kebiasaan saya untuk beli jajan pasar atau makan di rumah makan tradisional dari pada makan di restoran mahal, yah kebiasaan sederhana seperti itu.

Belum lagi pembicaraan yang terjadi biasanya seputar baju, mode, dan hal-hal semacam itu yang bagi saya saat itu sebetulnya tidak menarik. Hal lain yang membuat saya merasa berbeda dengan teman-teman saya saat itu adalah kenyataan bahwa saya tidak menganggap ngerjain adik kelas adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Entah saya yang terlalu cuek, entah apa, yang jelas saya merasa itu bukan urusan saya dalam hal mengatur seperti apa seharusnya adik kelas berpakaian atau bertingkah laku, walaupun saya sebenarnya mengikuti aturan yang dibuat oleh senior saya, dalam hal berpakaian misalnya. Pokoknya jaman SMA saya merasa sikap saya ambivalen terhadap keadaan yang ada. Saya sebetulnya nggak memandang suatu hal sebagai suatu yang positif tapi saya ikut-ikutan aja dalam rangka diakui eksitensinya. Kalau dapet undangan pesta-pesta gitu saya sebetulnya suka bingung harus dating atau nggak kalau orang yang mengundang sebetulnya nggak deket-deket amat. Saya juga menganggap bahwa kedatangan saya di pesta yang dimaksud juga sebetulnya tidak signifikan, lha ya wong deket aja enggak kok ya. Saya juga menyembunyikan fakta bahwa saya suka beberapa band indie, yang teman-teman saya bilang mereka nggak ngerti musiknya. Sebenernya ada sih sekelompok temen-temen lain yang menyukai band-band yang sama seperti saya, Cuma mereka ini juga ternyata hobi clubbing, sementara saya enggak. Saya biasa aja sama clubbing, jadi ya nggak mungkin main bareng juga lah. Sudah beberapa kali rasanya saya ingin ganti teman bergaul aja, yang lebih sepaham dengan saya, Cuma apa mau dikata, gengsi saya sudah menang. SAya merasa kalau ganti temen, temen-temen baru saya nanti nggak akan se-eksis temen-temen saya yang populer ini. Pokoknya saya anak yang biasa-biasa aja waktu SMA lah.

Baru ketika duduk di kelas 3 saya mulai merasa benar-benar nyaman. Sejak duduk di kelas 2 saya mulai berani sedikit-sedikit mengemukakan pendapat saya. Ketika saya keterima di jurusan IPA, saya minta kepada Ibu saya untuk mengurus kepindahan saya ke jurusan IPS saja, karena saya nggak punya minat samasekali dalam Fisika dan MAtematika. Sejak kelas 2 saya belajar untuk memilih teman, mulai berani untuk jujur sama diri sendiri bahwa saya sebenernya nggak cocok dengan gaya hidup seperti itu, mulai berani untuk mengeluarkan komentar-komentar saya dan bukannya Cuma diem aja.

Pada kelas 3 saya berhasil menemukan beberapa teman yang membuat saya nyaman berada di antara mereka, teman-teman yang bisa diajak naik bus, teman-teman yang bisa diajak menggembel, temen-temen yang mau makan di pinggir jalan tapi juga teman-teman dengan pengetahuan yang sama luasnya dengan teman-teman saya yang sebelumnya, dan saya sedikit bisa lega. Tidak, saya tidak pernah menyalahkan teman-teman lama saya, saya juga tidak begitu saja meninggalkan mereka. Hanya saja, waktu sendiri yang membuktikan kedekatan kami sejauh apa. Sekarang, di tahun terakhir (Insya Allah) saya kuliah, saya masih berhubungan cukup baik dengan mereka, setidak-tidaknya kami masih berkirim info mengenai acara yang diadakan kampus masing-masing, atau saling mengucapkan ulang tahun dan lebaran. Bagi saya itu sudah cukup. Asal saya bisa merasa nyaman.

Apa diantara teman-teman pernah mengalami isu yang sama?

- D! -

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu (pt.2)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:31 pm

Saya tidak akan bicara lingkup yang terlalu luas tentang SMA saya yang mana sebetulnya sudah banyak orang yang kurang lebih tau gambarannya seperti apa kultur di SMA saya, SMA Negeri 70 BUlungan itu. Saya juga bukannya bilang bahwa SMA saya tidak keren dan tidak menyenangkan, secara umum, saya merasa SMA saya sangat keren dan secara umum kejadian yang saya alami di SMA cukup menyenangkan, hanya saja tidak saya nikmati benar-benar dan tidak membuat saya merasa seperti saya yang sekarang ini. Disini saya akan lebih banyak bicara tentang teman-teman saya waktu SMA.

Bicara tentang teman-teman saya sewaktu SMA, tidak ada yang salah dengan mereka, mereka semua baik terhadap saya dengan teman-teman saya pula saya merasakan banyak pengalaman baru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, hanya saja saya bingung, apakah mereka benar-benar teman-teman saya? Kehidupan yang paling tidak nyaman di SMA saya terjadi ketika saya duduk di kelas 1 SMA dimana semuanya baru dan butuh penyesuaian diri ekstra dari saya. Bagi saya, itu adalah sebuah perubahan yang sangat besar. Saya berasal dari sebuah SMP kecil di dekat rumah dan kebetulan bisa masuk ke sebuah SMA unggulan yang saat itu peminatnya berasal dari mana-mana, baik dari SMP Negeri atau SMP Swasta terkemuka di Jakarta. Saya punya beberapa teman yang semuanya cantik-cantik dan baik hati. Kalau saya bilang cantik, berarti benar-benar cantik-cantik ya. Sebenernya semuanya baik-baik aja. Sampai beberapa lama, saya mulai merasa berbeda dari mereka.

Saya begitu berbedanya, saya merasa bahwa saya sangat jelek dan tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Mereka semua begitu cantik, pintar, keren, GAYA, dan KAYA. Flawless deh pokoknya. HIdup mereka begitu sempurna. Dari orang-orang inilah saya kemudian tau bahwa anak kelas 1 SMA bisa dibeliin jam tangan seharga 600ribu sama ayahnya, dari orang-orang ini lah saya tau bahwa ada orang-orang di dunia ini yang merayakan ulang tahunnya dengan mengeluarkan orangtuanya sampai menginjak angka 40juta rupiah, saya juga tau bahwa ada orang-orang yang menghabiskan long- weekend mereka dengan cara jalan-jalan ke luar negeri,  dan bagi saya semua itu adalah dunia yang jauh dari saya, jauh sekali.Tidak ada yang salah dengan itu semua, karena itu memang masalah gaya hidup yang berbeda, gaya hidup, alias kebiasaan.

Lalu mereka pun mulai membicarakan hal-hal yang tidak saya mengerti, artis-artis yang belum pernah saya ketahui, tempat-tempat yang bahkan tidak pernah saya bayangkan ada tempat seperti itu di muka bumi. Terus terang saya mulai tertekan. Saya jadi banyak bertanya ke orangtua saya. Kemudian ayah saya menjawab “ya, kamu mau bapak kasih ini dan itu? Bapak sih sebenernya bisa aja kasih kalian masing-masing ini dan itu, tapi terus kalau bapak udah kasih emang kenapa?”.  Saya kemudian terdiam, demikianlah, orangtua saya tidak mengerti tekanan sosial jaman SMA berat sekali. Atau mungkin mereka mengerti, hanya saja mereka tau bahwa isu tersebut sebaiknya tidak dibesar-besarkan dengan cara mengikuti semua keinginan gue. Yah, karena saya adalah anak yang cenderung pasrahan pada waktu itu akhirnya saya pun menuruti saja.

#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on September 24, 2009 at 7:27 pm

Mumpung twitter lagi heboh dengan trending topic #pengakuan, saya pikir nggak ada salahnya juga kalau saya ikut-ikutan bikin pengakuan tentang beberapa hal yang belum pernah saya bagi kepada siapapun. Tidak dengan orangtua, tidak dengan adik-adik saya, tidak dengan pacar (oiya, saya kan nggak punya pacar ya?), tidak dengan gebetan saya, tidak dengan mantan saya, tidak pula dengan teman-teman terdekat saya saat ini. Yah, setidaknya tidak selengkap ini.

Sore ini saya bangun dari tidur siang karena mimpi yang tumben-tumbenan. Kenapa tumben-tumbenan? Karena saya mimpi tentang orang-orang yang udah lama banget tidak saya temui, beberapa cewek-cewek teman SMA saya, dan dalam mimpi itu kami merencanakan untuk pergi ke Malaysia untuk menyaksikan seniman modern dance dan kemudian mempelajari gerakannya. Aneh banget mimpinya. Pertama, saya nggak bisa nge-dance. Kedua, saya nggak mungkin banget ke Malaysia hanya untuk melihat pertunjukan modern dance (saya lebih memilih untuk pergi ke Malaysia untuk menyaksikan penari Indonesia membawakan sebuah tari tradisional). Ketiga, saya nggak mungkin banget bepergian lama-lama sama teman-teman saya yang ini, saya nggak bakalan merasa nyaman.  Saya kategorikan mimpi ini sebagai salah satu mimpi yang nggak enak, tidak sampai menjadi mimpi buruk memang, tapi tetap tidak enak.

Munculnya mimpi ini membuat saya teringat terhadap kehidupan dan teman-teman saya sewaktu SMA, yang sejujurnya, tidak begitu saya nikmati. Kenapa? Waktu SMA saya mengalami sebuah krisis percaya diri yang lumayan mengganggu. Saya tidak pernah sedikitpun menyukai diri saya waktu itu. Kalau beberapa teman saya kemudian bilang, “ah tapi lo sekarang juga suka minderan”, percayalah, waktu saya SMA keadaannya lebih parah lagi. Memang sekarang pun saya suka berkelakar dan bilang bahwa “ah gue nggak bisa apa-apa” atau “ah gue sama sekali nggak punya hal yang menarik dalam diri gue” dan seterusnya dan seterusnya. Percayalah bahwa sebetulnya saya tidak seminder itu, sebetulnya saya cukup bangga dengan diri saya, dalam artian saya cukup nyaman dengan diri saya yang sekarang ini, dengan kemampuan yang saya miliki, dengan tampilan saya, dan lain-lain. Walaupun saya merasa masih banyak kekurangan di sana-sini dan seharusnya saya bisa lebih dari ini, saya merasa saya sudah cukup nyaman mengkespresikan diri saya seperti saya yang sekarang ini. WAktu SMA, jangan harap saya bisa melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri saya, milih main sama siapa aja bingung, milih kesukaan saya aja bingung.

Oke, pengalaman SMA saya bukannya diisi dengan kegiatan saya di-bully oleh sekelompok senior sepanjang saya bersekolah, atau di-bully oleh teman-teman saya, atau tidak punya teman sama sekali, tidak, masa SMA saya tidak diisi dengan hal-hal seperti itu. Hanya saja pengalaman yang saya hayati, lingkungan di sekitar saya, dan semua tradisinya membuat saya tidak nyaman dengan diri saya sendiri, tidak suka dengan keadaan saya, dan selalu merasa berbeda dari kebanyakan teman-teman saya. Sewaktu saya SMA, saya terlalu banyak membohongi diri saya sendiri.

(bersambung)

First Time We Meet Someone (and days after)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on August 25, 2009 at 9:44 pm

I got this from Paulo Coleho’s internet books (which I think you guys should check out). This one comes from the ‘Stories for Parents, Children, and Grandchildren’ which titled “Epictetus reflects on meetings”. So, apparently it’s extracting Epictetu’s (one of Roman’s great philosophers) Art of Living. It said that :

‘Two things may happen when we meet someone: either we become
friends or we try to convince that person to accept our beliefs. The same
thing happens when a hot coal meets another piece of coal: it either
shares its fire with it or is overwhelmed by the other’s size and is
extinguished.
But, since, generally speaking, we feel insecure when we first meet
someone, we are more likely to affect indifference, arrogance or excessive
humility. The result is that we cease being who we are, and matters
move into a strange world that does not belong to us.
In order to avoid this happening, make your good feelings immediately
apparent. Arrogance may only be a banal mask for cowardice, but
it prevents important things from flourishing in your life.’
Two things may happen when we meet someone: either we become
friends or we try to convince that person to accept our beliefs. The same
thing happens when a hot coal meets another piece of coal: it either
shares its fire with it or is overwhelmed by the other’s size and is
extinguished.

But, since, generally speaking, we feel insecure when we first meet
someone, we are more likely to affect indifference, arrogance or excessive
humility. The result is that we cease being who we are, and matters
move into a strange world that does not belong to us.

In order to avoid this happening, make your good feelings immediately
apparent. Arrogance may only be a banal mask for cowardice, but
it prevents important things from flourishing in your life.’

There we go.
I myself experience this kind of  phenomenon when I’m being introduced to someone new or merely said, new environment. The feeling of  ’you have to be accepted by everybody, by means having the same perceptions as everybody has, OR else you will feel like you’re being left by your surroundings’. More often, to get accepted by our surroundings, we tend to show (sometimes too hard) that we do have something cool  -according to everybody there (the environment you live in)- so that they will recognize us as someone  ’important’  to be joining the environment or group, even more, we tend to show people we’re about to hang out that we’re even more cool than anybody else.
This is what I assume as the beginning of arrogancy or excessive humility. When we feel like pushed by our circumstances and insecurities we tend to tell stories to ourselves that “we are great enough, even more great than anybody in the room” to gain confidence to face the environment. We keep repeating that stories over and over again that eventually we believe that we ARE greater than anybody else. The tiring part of this is that we have to maintain this kind of sense thorough our relationship with people from this new environment. This what makes us forget who we really are and get confused in the middle of the relationship. Because all we ought to do is about maintaining our what- so-called ‘masks’ than to show our-(considered)-weak and small-selves.
Eventually, like once Epictetus said, we ourselves who prevent the most important thing(s) in our life(s) from flourishing to its best.
Kinda sad, isn’t it?

- D! -

She got some talent.

In Tentang beragam hari, Tentang bercengkrama dengan komik dan anime, Tentang bermacam sumber inspirasi, Tentang bersaudara dan keluarga on August 3, 2009 at 12:01 pm

I always envy my sister’s ability to draw.

Check this out :

for people who like Michael Jackson AFTER he's dead

for people who like Michael Jackson AFTER he's dead

and this one

can't buy me love (Beatles), BUT you can buy me everything else

can't buy me love (Beatles), BUT you can buy me everything else

She makes cartoon!

- D! -

Saya, konsumtif? (pt.2)

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 25, 2009 at 4:49 pm

Di tulisan sebelumnya saya sudah mengungkapkan sedikit keresahan dan kegundahgulanahan yang menyita waktu, pikiran, hati, dan energi saya akhir-akhir ini. Saya juga telah mengungkapkan bahwa saya sedang berusaha untuk mencari pemecahan dari kegundahgulanahan tersebut, dan saya sudah sampai pada poin pertama, yaitu mencoba menelusuri kembali apa yang sebenarnya terjadi, sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah dengan pola hidup saya akhir-akhir ini.

Poin pertama,

Memangnya ada apa sih?

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa kira-kira dua tahun yang lalu saya adalah anak yang nggak peduli merk ataupun gadget. Selama saya merasa nyaman, maka saya akan pakai, dan bila saya tidak merasa butuh maka saya tidak akan ambil pusing. Sekedar melirik pun tidak sama sekali. Cuek Bebek. Namun sekarang saya tidak seperti itu lagi.

Untuk beberapa item, saya mulai tahu bahwa barang-barang dengan merk tertentu (dengan harga tertentu pula) ternyata memberikan kenyamanan tersendiri jika dipakai. Misalnya saja, sepatu. Sejak itu, saya mulai lebih pemilih dalam membeli beberapa barang. Awalnya semua berjalan lancar, tapi lama kelamaan saya jadi berlebihan, tiba-tiba merk menjadi sesuatu yang penting bagi saya.

Oh, iya merk yang saya bicarakan di sini tentu belum sampai kelas Vuitton, Channel, dan kawan-kawan ya, cuma yang lumrah-lumrah dan berceceran di mal-mal Jakarta aja kok, cuma sebenernya kalau diliat lagi ada beberapa item yang diberi harga diluar akal sehat seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Entah kenapa untuk beberapa barang saya mulai merasakan adanya tuntutan untuk membelinya di suatu toko tertentu, dengan berbagai alasan tentunya. Padahal kalau saya mau lebih jeli membeli, barang-barang dengan model serupa bisa didapatkan dengan harga lebih murah di tempat lain, ITC misalnya. Tidak jauh berbeda keadaannya dengan gadget, oke, mungkin saya belum sampai sejauh itu tergoda untuk dengan lekas membeli ini itu karena semua orang pakai ini itu. Hanya saja yang jelas, ada tekanan tersendiri untuk menggunakan gadget ini dan itu ketika saya melihat teman-teman saya menggunakannya. Ada semacam perasaan ‘ditinggalkan’ kalau saya nggak ikut-ikutan beli ini itu, tanpa saya benar-benar tahu apa urgensinya semua ini bagi saya. Semacam gengsi, malu, takut tidak diterima dalam kelompok, atau rasa-rasa semacam itu mungkin?

Sungguh menyedihkan dan sangatlah dangkal keadaan saya tersebut. Dimana seharusnya hal-hal tersebut muncul saat saya masih dalam masa remaja saya, ketika saya masih duduk di bangku SMA, secara mengherankannya justru muncul di usia saya yang ke-20 tahun ini. Aneh, sekaligus menyebalkan. Saya jadi sebel banget sama keadaan kalau keinginan saya nggak terpenuhi, sungguh sangat frik.

Poin kedua,

Kenapa bisa begitu ya?

Saya mikir, mikir, dan menduga-duga. Kira-kira kenapa saya bisa begini ya. Lalu dugaan awal tentu adalah informasi yang saya dapatkan. Pada usia saya ini saya semakin terbuka untuk segala bentuk informasi dan semakin terbuka untuk berteman dengan segala jenis orang, bahkan jenis yang tadinya tidak terbayang buat saya. Dengan banyaknya akses informasi ini tentu saja pengetahuan saya tentang barang-barang dan kualitasnya juga semakin bertambah, dimana hal ini dapat membuat keinginan saya untuk memiliki barang-barang tersebut muncul.

Sebagai tambahan, sehari-harinya saya dipaparkan dengan orang-orang terdekat saya yang memiliki gaya hidup yang berbeda dengan saya, yang nggak cuek dan buta merk kaya saya. Orang-orang di sekitar saya justru sangat sadar merk dan tentunya kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh-jauh dari situ, pembicaraannya juga nggak bakal jauh-jauh dari situ. Saya pun sedikit demi sedikit terpengaruh. Berhubung iman saya lemah, saya pun mulai tergoda, padahal kalau saja saya mau sedikit lebih cerdik, belum tentu itu semua saya butuhkan. Saya yang malang.

Poin Ketiga

Terus, kenapa jadi pusing dan tertekan segala?

Keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa ayah saya akan segera memasuki masa pensiunnya. Dimana ayah saya adalah orang yang sangat sulit untuk berbagi mengenai hal-hal yang ada dalam pikirannya, sehingga menyangkut perencanaan memasuki masa pensiun juga saya buta samasekali, kalau ditanya juga beliau hanya menjawab sekenanya. Ini semakin membuat perubahan keadaan sangat terasa, namun tidak pasti berubah ke mana. Hal-hal tambahan seperti kenyataan bahwa orangtua yang saya miliki ya tinggal ayah saya ini aja, dan saya anak pertama, dimana saya masih memilii dua orang adik perempuan yang masih muda belia semakin membuat saya berpikiran bahwa kebutuhan saya tambah tidak mungkin terpenuhi.

Keadaan saya berubah, padahal keadaan di sekitar saya, seperti teman-teman saya, dan sebagainya, tidak berubah, tetap berjalan dengan santai.

Saya jadi pusing.

(bersambung~lagi? Iya, lagi)

- D! -

When life gets a lil’ bit harder.

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 15, 2009 at 4:43 pm

Since I entered this twentieth age of mine, i really feel life gets a lil’ bit harder from it was before. There are so many things i have to accomplished myself, many things to catch up, many things to reach, many things to decide, and yes, many things to change, or has changed, or changing. Whatever.

Lately, i’ve been dealing with trouble sleeping, I have so many thoughts in my mind that I can’t share, not even to my closest friends, not even to the keyboard. Why? Since I was too afraid to deal with reality. With the world lately. With myself.

But yesterday, and today, I spill one of them to couple friends, and I feel relieved for that. I did cry along the story, it was tiring, and frightening, but it was pretty enlighting. I feel grateful for that. Grateful for having such great friends around me, that understand me, when I thought they wouldn’t, or couldn’t.

For this, I know they will help me when I’m in need. They’ll be there.

And  I think, I will be fine.

For the direct message on twitter, for the video, for the chat, for the words, for the text, for the hot chocolate, for the wisdom.

Thankyou.

- D! -

about having faith

In Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on July 12, 2009 at 1:26 pm

I cited this from one of my friend’s, Silmy Risman note :

” No matter how out of control, suffocating, and misreable situations get, just remember this :

There’s a reason why they call it happy endings.

So, if  it’s not happy, then it’s not the end YET.

Just have faith.

God never sleeps, and God KNOWS BEST.

picture taken from craneox.deviantart.com

picture taken from craneox.deviantart.com

I couldn’t agree more.

- D! -

about failure

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 29, 2009 at 3:44 pm

I don’t have something particular in mind, just want to share random things. Yesterday I had coffee with my juniorhigh friends,  it was the four of us and we had this random chitchat about love, family, college activities, basically about life itself . I had a very great time. I also got this wisdom that

“Failure is something we need, to give ourselves time to learn more, and gain more”

I agree with it.

What about you?

- D! -

Uniquely Beautiful

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 11, 2009 at 5:49 pm

this is what I call uniquely beautiful

and this one also

can’t get enough of it

ok, I promise this is the last one

Zooey Deschanel was born in Los Angeles, California,and is the daughter of Academy Award-nominated cinematographer and director Caleb Deschanel and actress Mary Jo Deschanel (née Weir). She is of Irish and French descent.

She was named after Zooey Glass, the male protagonist of J. D. Salinger’s 1961 novella Franny and Zooey. Her older sister Emily Deschanel is also an actress and stars in the TV series Bones.

Zooey Deschanel.

Cute :)

Pictures and test taken from http://zooeydeschanel.tumblr.com/

- D! -

Kecewa, tapi bangga

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bermacam sumber inspirasi on June 11, 2009 at 4:23 pm

Postingan yang sebelumnya sebetulnya merupakan bagian dari obrolan antara saya dan teman saya mengenai apa arti keberanian, obrolan itu berasal dari pengalaman saya sebelumnya. Berikut ceritanya :

Sabtu, 30 Mei 2009 adalah hari yang bersejarah buat saya. Sejak jam setengah 8 pagi saya sudah berdiri di Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Gedung Mandala, Kuningan, dengan memakai blazer dan rok sepan selutut berwarna hitam serta kemeja berwarna kuning gading (atau putih butek), ditambah lagi dengan sepatu berhak 7cm, dan wajah yang dipoles make up tipis. Sambil menengok ke kiri dan ke kanan saya mengantri sambil menunggu giliran untuk diberi nomor urut dan dicatat tinggi serta berat badannya. Demikianlah, hari itu saya menjadi salah seorang peserta audisi sebuah ajang yang berkaitan dengan pariwisata dan budaya (bagi yang memiliki dugaan, silahkan menduga-duga) hehe.

Hari itu saya diliputi perasaan deg-degan luarbiasa sekaligus juga sangat antusias terhadap apa yang akan saya alami. Padahal, pada awalnya saya ikut hanya untuk iseng aja berhubung nggak pernah tau prosedur atau apa yang dibutuhin untuk ikutan ajang seperti ini. Keikutsertaan saya kali ini pun sebenernya hasil dari ajakan temen saya yang sangat semangat, persiapan pun hampir semuanya dibantu dan diurus oleh temen saya itu. Mulai dari urusan foto sampai bahan pengetahuan yang butuh untuk diketahui untuk ikutan ajang itu. Pada hari H-nya saya nggak tau kenapa saya disergap rasa antusias begitu melihat banyak sekali orang-orang baru. Selain iming-iming jalan-jalan gratis saya justru lebih tertarik kepada hal baru apa aja yang bisa saya dapetin dan saya pelajari lewat keikutsertaan saya (kalau lolos jadi finalis tentu saja).

Rasa antusias dengan cepat bercampur menjadi rasa deg-degan, terutama ketika memasuki ruangan audisi untuk menerima pertanyaan. Saya merasa cukup yakin bahwa pengetahuan saya sudah cukup baik dan saya siap menerima pertanyaan yang berupa pendapat berkaitan dengan kota Jakarta. Pertama-tama naik dulu ke podium dan kasi salam ke juri. Setelah memperkenalkan diri, saya mengambil satu gulungan kertas di fishbowl. Pertanyaan nomor 5

“Apa makna persahabatan bagi Anda ?” *DOEEENNGG!* saya agak kaget mendengar pertanyaannya, tarik napas dikit, yak dijawab aja

Terima kasih atas pertanyaannya, bagi saya persahabatan sangatlah penting. Dengan sahabat, saya bisa saling jujur untuk saling membangun dan melengkapi dimana jika sahabat saya melakukan kesalahan atau kekurangan saya bisa mengingatkannya untuk memperbaikinya, dan demikian juga sebaliknya. Terimakasih (senyum)

Ya demikian cuplikan pengalaman saya pada hari itu, pada akhirnya toh saya gagal dan tidak lolos bahkan ke semifinal sekalipun. Kecewa? Pasti. Saya sendiri cukup kaget mendapati diri saya kecewa seperti itu karena pada awalnya toh saya ikutan ajang ini cuma untuk iseng dan rasa ingin tahu akan ajakan teman. Namun, dari 6 orang yang saya temui disana 2 diantaranya berhasil lolos ke semifinal dan hal itu cukup mengusik harga diri saya. Mulai deh saya mencari cari dimana letak kesalahan saya. Mau berapa kali dipikir pun saya nggak nemu juga, dan itu sedikit menghibur saya karena saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Setelah menelepon seorang teman dan akhirnya bisa terhibur saya akhirnya bisa ketawa-ketawa tolol lagi.

Beberapa hari kemudian, teman saya yang menjadi panitia ajang tersebut memberi tau saya mengapa saya tidak lolos, katanya masalah ada pada postur tubuh saya yang sedikit bungkuk dan gestur yang kurang yakin. Baiklah, itu masuk akal. Setidaknya masalahnya bukan pada jawaban saya. Yah apapun permasalahannya, di sini saya memperoleh beberapa pelajaran yang penting.

Pertama, tentu aja menyangkut postur dan gestur itu tadi, saya jadi sadar bahwa postur bisa sangat mempengaruhi persepsi orang lain terhadap saya.

Kedua, dan yang lebih penting lagi, adalah kenyataan bahwa dengan keikutsertaan saya di ajang ini membawa saya keluar dari pintu kungkungan yang selama ini saya buat sendiri. Selama ini saya selalu merasa diri saya tidak cukup mampu untuk melakukan apapun yang sebetulnya ingin saya coba, tepatnya ini kerasa banget waktu saya SMA dimana saya membatasi diri untuk tidak ikut ekskul yang saya minati, tidak berani mendaftarkan diri untuk pertukaran pelajar, tidak terus ikut serta kegiatan LDK untuk penyaringan BPH PK OSIS, dan masih banyak lagi. Hal ini terus berlangsung sampai di bangku perkuliahan. Sebetulnya waktu ditawarin ikutang ajang ini juga saya merasa buat apa? Toh saya tidak cantik, tidak pintar, dan tidak memiliki kemampuan bicara di depan umum, tidak, kurang, tidak, kurang, dan tidak. Akhirnya sih nekat aja, walaupun gagal juga.

Ketiga, saya belajar bahwa sebuah kegagalan memberikan banyak sekali pelajaran dan gatau kenapa justru memberikan keberanian baru buat saya. Dengan hal ini saya merasa bahwa sebetulnya saya tidak memiliki alasan samasekali untuk membatasi diri saya selama saya serius dalam menjalankannya. Gatau kenapa saya seperti tersadarkan bahwa sebetulnya banyak kesempatan yang datang pada diri saya dalam hal apapun, tapi saya yang terlalu malas atau terlalu takut untuk mencoba. Berdasarkan pengalaman ini saya berpikir saya sebetulnya punya kemampuan, cuma kurang keberanian. Dengan kegagalan juga saya jadi tahu di bagian mana saya salahnya, sehingga bisa saya perbaiki di lain kesempatan (dimana tentu kesempatan itu masih banyak banget di luar sana).

Dunia tidak selebar daun kelor dan hidup cuma sekali. Sayang banget kalau saya cuma duduk duduk diam dan mengeluh aja disini tanpa mencoba membuka diri (dan menawarkan diri) pada dunia. Pengalaman-pengalaman seperti ini mengajarkan saya untuk lebih menghargai setiap kesempatan yang datang pada saya dan lebih menyayangi diri saya, dengan demikian saya harap juga saya dapat lebih mencintai hidup. Karena mau gimana juga, sebenernya cuma diri kita sendiri yang kita punya kan, dan hidup kita ada di tangan kita.

Gitu deh, walaupun saya gagal dan kecewa dalam pengalaman ini, tapi ada sedikit rasa bangga yang terselip karena saya sudah berani mencoba sesuatu yang baru dan berani untuk percaya pada diri saya bahwa saya mampu melakukannya. Saya berharap, dengan ini saya lebih berani menyambut apapun yang ditawarkan hidup kepada saya. God is always around, anyway :)

- D! -

about courage (at 2.17AM)

In Tentang bermacam sumber inspirasi on June 1, 2009 at 7:17 pm

“berarti skrg lo lg ditantang untuk lebih berani. berani menghadapi kekalahan dan bangun lagi, berani maintain percaya diri lo, berani meyakinkan diri lo sendiri untuk maju terus”

courage is not something u can claim in one try kan, u can only be called brave when u have several attempts and still attempt to have more

(Anindita Surachmad, 2009)

Thankyou dear :)

Worth to try

In Tentang beragam hari, Tentang bermacam sumber inspirasi on March 30, 2009 at 1:36 am

i got this from one of my friend’s blog. She said her mom sent this to her. While I think it’s good, so I copy it in mine, so that I will remember these

Health:

1. Drink plenty of water.

2. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar

3. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.

4. Live with the 3 E’s — Energy, Enthusiasm, and Empathy.

5. Make time to practice meditation, yoga, and prayer.

6. Play more games.

7. Read more books than you did in 2008.

8. Sit in silence for at least 10 minutes each day.

9. Sleep for 7 hours.

10. Take a 10-30 minutes walk every day. And while you walk, smile.

Personality:

11. Don’t compare your life to others’. You have no idea what their journey is all about.

12. Don’t have negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.

13. Don’t over do. Keep your limits.

14. Don’t take yourself so seriously. No one else does.

15. Don’t waste your precious energy on gossip.

16. Dream more while you are awake.

17. Envy is a waste of time. You already have all you need.

18. Forget issues of the past. Don’t remind yourself, your partner with his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.

19. Life is too short to waste time hating anyone. Don’t hate others.

20. Make peace with your past so it won’t spoil the present.

21. No one is in charge of your happiness except you.

22. Realize that life is a school and you are here to learn. Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like Algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.

23. Smile and laugh more.

24. You don’t have to win every argument. Agree to disagree.

Society:

25. Call your family often.

26. Each day give something good to others.

27. Forgive everyone for everything.

28. Spend time with people over the age of 70 & under the age of 6.

29. Try to make at least three people smile each day.

30. What other people think of you is none of your business.

31. Your job won’t take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.

Life:

32. Do the right thing!

33. Get rid of anything that isn’t useful, beautiful or joyful.

34. GOD heals everything.

35. However good or bad a situation is, it will change.

36. No matter how you feel, get up, dress up and show up.

37. The best is yet to come.

38. When you awake alive in the morning, thank GOD for it.

39. Your Inner most is always happy. So, be happy.

Last but not the least:

40. Do it now!!!!

I think it’s worth to try

- D! -