dheasekararum

Archive for the ‘Tentang bertugas’ Category

I am from..(Saya adalah dari..)

In Tentang bertugas on November 4, 2009 at 12:07 am

sebelumnya, mari saya jelaskan dahulu bahwa tulisan di bawah ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah psikologi konseling. Berikut instruksi tugasnya :

Tujuan dari latihan ini adalah agar anda dapat melakukan self-disclosure sambil mengembangkan kreativitas emosi anda.
Ceritakanlah keadaan diri/ penghayatan anda sendiri dengan memakai kata-kata deskriptif yang menggambarkan perasaan dan penginderaan anda (sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa) dalam hal-hal berikut:

Paragraf 1: makanan favorit
Paragraf 2: pesan yang terus-menerus anda dengar dari orang tua
Paragraf 3: tradisi/ kejadian istimewa
Paragraf 4: seseorang yang menarik/ spesial yang anda kenal
Paragraf 5: suatu tempat di mana anda merasa aman dan damai
Paragraf 6: sesuatu item/ barang spesial yang tidak pernah akan anda berikan kepada
orang lain dan yang akan anda simpan sepanjang masa
Paragraf 7: sesuatu yang terjadi setiap hari
Paragraf 8: pemandangan yang selalu anda lihat setiap dalam perjalanan anda ke kampus/
tempat kerja
Paragraf 9: suatu tempat yang ingin anda datangi kembali (misalnya tempat berlibur, mal,
negara lain,dll)
Paragraf 10: sisi positif diri anda
Paragraf 11: sisi negatif diri anda
Paragraf 12: yang anda inginkan dalam hidup

Contoh paragraf 1 dalam bahasa Inggris:

I am from the sweet aroma of cranberry sauce that sits beside soft mashed
potatoes with tender seasoned turkey, and steaming stir-fried vegetables, drizzled
in warm gravy

Saya adalah dari harumnya fish and chips yang membuat perutkeruyukan.
Tekstur ikan halibut yang lembut warnanya yang putih membuat air liur
bercucuran. Ketang goreng yang crispy tetapi digigit lembut di dalam, membuat
pikiran melayang-layang untuk segera menikmatinya.

Contoh paragraf 9:

Saya adalah dari birunya langit yan disinari matahari lembut dan tiupan angin segar di pagi hari di Banff – suatu kota kecil yang sangat cantik di dalam lembah di antara bukit-bukit hijau. Jalanannya yang bersih dengan pot-pot bunga warna-warni menyentuh hati, memberikan rasa kedamaian dan ketentraman yang mendalam di hati.
———————————————————————————————————————————————–

Ini hasilnya :

Saya adalah dari lembutnya kue tiramisu yang dibuat oleh patissier dengan komposisi adonan yang seksama sehingga bentuknya yang unik pasti akan menggoda siapapun untuk mencicipinya. Paduan coklat yang manis dengan krimnya yang lembut akan membuat lidah siapapun bergoyang saat akhirnya memutuskan untuk mencicipinya. Saat mencicipi pun perlahan akan ditemukan rasa baru, pahitnya taburan bubuk kopi dan segarnya campuran susu yang menambah rasa baru dalam kue tersebut, menghadirkan kombinasi yang tepat untuk dikonsumsi.

Saya adalah dari kemandirian yang ada untuk tidak bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Rasa aman ketika dapat melakukan sesuatu tanpa harus tergantung atas kehadiran orang lain tersebut pada titik-titik tertentu member kepercayaan diri dan ketenangan. Melangkah kemana saja terasa mantap, namun tentu saja tidak dibiarkan terbawa dengan rasa takabur. Perasaan ringan tanpa harus membebani orang lain selama masih bisa dikerjakan sendiri.

Saya adalah dari membuncahnya smangat dan rasa ingin tahu saat menerima kado di hari ulang tahun kita. Melihat bentuk-bentuk yang tersamar dalam warna-warni bungkusnya yang menyenangkan dan semakin menggemaskan untuk dibuka agar segera tahu apa isinya. Lalu tiba saatnya membuka bungkusannya. Saat tangan berhati-hati untuk membuka kertas kado tersebut, selapis demi selapis. Pada robekan pertama mulai menebak apa isinya, namun tidak dapat terburu-buru agar tidak merusak yang ada di dalamnya. Pada robekan berikutnya, kita mulai mengintip apa yang ada di baliknya. Membuat rasa ingin tahu semakin meningkat untuk segera menguak seutuhnya walau terkadang bentuk awal bungkusan dapat menipu mata kita mengenai apa yang sebenarnya ada di dalamnya.

Saya adalah dari kuatnya rasa pantang menyerah (almarhumah) ibu saya. Walaupun terkesan keras dalam bicara dan cenderung temperamental, sbetulnya pesan yang ingin coba ditunjukkan adalah benar halnya dalam menjalankan hidup. Celotehan cerewetnya mengantarkan anak-anaknya mencapai mimpi-mimpi mereka. Sikap paniknya membuat kita semua terhibur walau sempat senewen juga.

Saya adalah dari luruhnya semua rasa dan rahasia ketika bersimpuh di atas sajadah untuk  bersujud di hadapan yang maha kuasa. Ketika itulah kesunyian adalah satu-satunya cara selain doa untuk mengungkap semua emosi dan sesuatu yang tidak dapat disampaikan lewat kata lewat berbagai media. Harapan demi harapan dengan segala kerendahan hati diutarakan kepada yang maha kuasa, saat itulah rasa bebas untuk bercerita, mengeluh, tertawa, bahkan menangis saat di tempat lain hal-hal semacam ini belum tentu dengan bebas dapat dilakukan.

Saya adalah dari heningnya sebuah lembaran foto, yang didalamnya menyimpan begitu banyak cerita. Begitu banyak hal yang tidak bisa disampaikan lewat kata, atau setidak-tidaknya belum mampu untuk disampaikan. Ketika foto menyampaikan cerita dan sejumlah emosi berharga, tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Ketika sebuah lembaran foto tanpa sadar membuat anda kembali mengenang, kembali menguak cerita dan mengungkapkan diri anda, sekali lagi tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Karena sesungguhnya dalam diamnya selembar foto, tersembunyi banyak pula informasi yang terkandung di dalamnya.

Saya juga adalah dari sinar matahari yang selalu hadir di setiap pagi. Mencoba menyapa setiap manusia sambil mengantarkan secercah semangat untuk menjalani hari. Walaupun terkadang dalam keadaan tertentu sinarnya terlalu panas, namun dengan hangatnya ia mencoba untuk meraih semua makhluk, bercengkrama dengan ramah mencari celah untuk menelisip masuk hingga ke balik bayangan-bayangan gelap. Namun, ada pula saatnya sinar matahari harus beristirahat, karena lelah mengelilingi hari dan berganti peran dengan sang bulan.

Saya adalah dari cepatnya laju kereta listrik yang setiap harinya hillir mudik pada jalurnya sendiri. Setiap harinya singgah dari satu tempat ke tempat lain, walau sesungguhnya polanya telah ditentukan. Meski polanya sudah ditentukan setiap harinya, namun petualangan yang dibawa tentu selalu berbeda karena penumpang yang dibawanya berbeda-beda dengan cerita yang beragam pula. Dinamisnya kereta tersebut tidak luput dari usahanya untuk senantiasa memelihara kerendahan hati dan kesederhanaan di dalamnya, saat kereta dengan setia mengantarkan mereka yang berkepentingan mencapai tempat tujuannya, demikian pula saat kereta menyediakan tempat bagi mereka yang membutuhkan rupiah untuk mengisi perut masing-masing, saat kereta menjadi obsever yang baik dan menyajikan potret kehidupan paling actual tentang hiruk pikuk kehidupan kota.

Saya adalah dari indahnya pantai dengan semilir anginnya yang membius. Riak-riak ombak kecil yang dengan riang menyapu bibir pantai seolah-olah membujuk kita untuk bermain-main bersama terlepas dari penatnya diri atas segala kesibukan yang ada di sekitar. Berjalan di atas pasir putihnya dengan kaki telanjang tentu menenangkan dan berbeda dengan rutinitas sehari-hari berlari-lari mengejar bis kota atau duduk dibalik kemudi dan menempuh perjalanan ke tempat kerja. Cuacanya yang terik juga mengajak kita untuk menikmati hari hingga senja dan tiba saatnya untuk memperhatikan tenggelamnya matahari di cakrawala.

Saya adalah dari luasnya rasa ingin tahu dan keterbukaan diri terhadap sesuatu yang baru. Fleksibilitas dalam penerimaan sesuatu yang baru yang mengantarkan manusia ke tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh individu itu sendiri. Membuat jantung berdebar dan otak bergrak cepat, kritis dalam menganalisis, sekaligus takjub terhadap segala sesuatunya yang terjadi di sekitar. Mengandung sedikit rasa takut dan berdebar-debar mengingat banyak sekali hal di luar sana yang menunggu untuk disingkap.

Saya adalah dari mengganggunya rasa tidak percaya diri yang seringkali membatasi diri dalam meraih mimpi-mimpi. Kecemasan tidak beralasan dan perasaan ketidakmampuan diri yang membuat orang kemudian menyembunyikan diri dari sesuatu yang mereka sebut diri sendiri. Rasa lemah yang mngecilkan diri sendiri dan tidak berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membuat rentang antara tempat tujuan dan dimana kita berdiri menjadi semakin jauh dan terhalangi.

Saya adalah dari tidak terdefinisikannya sebuah perasaan bahagia. Saat semuanya terasa cukup, tidak kurang tidak lebih. Saat senyum mengalir dari dalam dada, bersyukur terhadap semua yang ada, tanpa perlu merasa terlalu khawatir tentang hari esok. Rasa ringan saat memandang dan menghadapi segala sesuatu dengan ikhlas. Ketika damainya individu dapat berkata, rintangan selalu ada, oleh karena itu Tuhan ciptakan pula jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita mencarinya untuk mencapai bahagia.

jangan pada pingsan ya

- D! -

Tentang Melepaskan Sesuatu (pt. 1)

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala, Tentang bertugas on October 9, 2009 at 1:46 am

Apa teman-teman sekalian pernah merasakan rasanya bersemangat dalam mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus? Apa teman-teman pernah merasakan nikmatnya perasaan puas setelah berhasil menyelesaikan suatu karya dan dihargai karena karya tersebut? Apa teman-teman tau rasanya bertemu orang-orang baru dan mengerjakan suatu pekerjaan baru yang berpotensi menjadi sesuatu yang dapat menambah pengalaman dan pengetahuan diri sendiri serta dapat menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang?  Demikianlah perasaan saya 2 minggu terakhir ini.

Kebetulan, sejak menjelang masuk masa perkuliahan semester 7, saya tiba-tiba begitu banyak kesempatan yang disodorkan kepada saya. Kesempatan-kesempatan tersebut sangat menggiurkan baik dari aspek manapun, selain ada beberapa yang memiliki imbalan kongkrit, pekerjaan lain yang ditawarkan juga dapat meningkatkan kemampuan saya secara keseluruhan, baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan ini juga melibatkan kegiatan-kegiatan yang saya sukai pada umumnya. Saya juga bisa belajar banyak dari kegiatan-kegiatan yang ditawarkan kepada saya ini. Nah, berhubung saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk mencoba kesempatan-kesempatan baru yang datang pada saya dan tidak membatasi diri saya, maka saya cenderung untuk menyanggupi hampir semuanya. Selain karena saya tahu bahwa saya akan ketemu dengan banyak orang dan pengalaman dan kemampuan baru kalau saya ambil tawaran-tawaran ini, harus saya akui mungkin terselip juga sedikit gengsi dan rasa bangga terhadap diri sendiri bila terlibat dalam suatu komunitas yang berpotensi akan menjadi besar dan berhasil menghasilkan sesuatu yang berguna.

Idealnya sih memang begitu.

Namun, seminggu terakhir ini saya agak dibuat pusing oleh semua pekerjaan yang datang kepada saya tersebut. Rasa hati ingin mengerjakan dan menyelesaikan semuanya. Apa daya kemampuan saya tidak mencukupi. Di sini saya mulai merasakan timbulnya permasalahan. Terutama dalam hal membuat skala prioritas. Saya mulai tidak tahu mana yang harus saya dahulukan, mana yang paling penting bagi saya, dan mana yang harus saya tinggalkan. Semuanya terasa begitu menarik dan menggiurkan untuk ditinggalkan, dan ini menekan kehidupan sosial saya sejujurnya.

Dampaknya tidak begitu bagus buat saya, kali ini saya harus mengakui bahwa saya kewalahan. Mengakui saya kewalahan dengan semua ini terasa sangat berat bagi ego saya, karena teman-teman saya biasa mengenal saya sebagai orang yang cukup seimbang dalam menjalani setiap aspek kehidupan saya, dalam hal ini yang mereka maksud mungkin akademis, pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial. Sejauh ini saya juga tidak pernah menemui permasalahan yang menggangu dalam hal menjaga keseimbangan ini. Walaupun tugas akademis nyaris membunuh, walaupun kepanitiaan membuat saya tertekan, walaupun keluarga sedang dalam titik kerewelan luar biasa, walaupun semua sedang huruhara, saya tetap bisa menyeimbangkan semuanya, Insya Allah. Ya tentu saja dengan bantuan teman-teman dan curhatan di sana sini, namun pada akhirnya toh semua baik-baik saja dan saya selalu bisa meyakinkan diri saya bahwa “saya bisa, semua pasti beres”.

Kali ini, entah kenapa semuanya tidak berjalan lancar. Segalanya bertubrukan dan bertumpuk-tumpuk, dan tertukar-tukar. Berikut beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindakan impulsif saya dalam menerima tawaran-tawaran yang datang :

1. Saya seringkali harus berada di beberapa tempat sekaligus dalam satu waktu, yang mana itu menyulitkan kehidupan

2. Saya jadi suka lupa balesin sms orang yang penting-penting, jangankan balesin, buat buka dan baca menyimak isi sms orang aja akhir-akhir ini jadi susah. Jadi kalo sms yang panjang2 saya suka bingung bacanya

3. Kalau diajak ngobrol orang jadi nggak nyambung dan seringkali bengong karena dalam otak saya harus menyusun kegiatan apa-apa saja yang harus saya selesaikan pada hari itu.

4. Karena kemampuan berkomunikasi terganggu, otomatis hubungan sosial dengan teman juga terbengkalai. Parah, saya membutuhkan waktu untuk duduk duduk gajelas di kantin seperti biasanya.

5. Saya selalu merasa lelah di malam harinya dan selalu merasa kekurangan waktu untuk kemudian mengerjakan tugas-tugas akademis (which is very bad, according to me).

6. dan lain-lain.

Melelahkan, sekaligus membingungkan. Saya sampai pada tahapan ketika saya mulai panik. Oleh karena itu saya merasa bahwa ini saatnya bagi saya untuk meminta bantuan dari seorang profesional. Tadinya saya bisa aja minta bantuan ke teman-teman saya sih, hanya saja mereka ini saking suportifnya yang ada malah seringkali jadi terjebak manas-manasin saya untuk mengambil pekerjaan-pekerjaan yang ada ini. Kalimat-kalimat seperti “ayo dhe, lo bisa kok, selama ini aja lo beres ngerjainnya”, atau “lo tuh kompeten di bidang ini, dan lo suka kan ngerjainnya”, dan kawan-kawannya adalah jenis kalimat yang seringkali bikin saya menjebakkan diri dalam jurang kenistaan pekerjaan. Berhubung saya anaknya diam-diam ambisius, dan sulit meregulasi emosi, jadinya dipanasin sedikit aja langsung deh penasaran pengen nyoba.

Sangat tidak sehat.

bersambuuuung.

dead on duty

In Tentang bertugas on December 31, 2008 at 7:40 pm

Duh, ini kenapa sih tugas nggak selesai-selesai bagaikan tiada akhir? Tadinya semangat jadi males kalo kebanyakan gini”

Demikian keluhan yang seringkali saya keluarkan di semester yang akan segera berakhir ini. Semester lima ini sebetulnya merupakan semester yang sangat menantang dan menarik buat saya. Mulai dari peminatan PIO-Klinis yang membuat saya penasaran, PIASTRO yang sangat menguras mental dan hati, sampai tugas-tugas terbengkalai yang sebetulnya sangat menarik dan menginspirasi. Di samping segala sesuatu yang baru dan menarik tersebut banyak sekali hal-hal yang saya sesalkan di semester ini soalnya saya mengerjakan semuanya ini dengan kurang optimal, atau kurang maksimal. Di sini saya mau mengaku dosa dan membeberkan hal-hal yang tidak saya kerjakan dengan sepenuh hati :

1. Tugas Psikologi Konsumen : Designing Consumer Experience

Pada tugas ini mahasiswa secara berkelompok diminta untuk membuat desain (atau merenovasi) desain kantin-kantin  fakultas-fakultas yang ada di UI (satu kelompok menciptakan desain perbaikan untuk satu kantin). Renovasi ini mencakup aspek fisik, seperti interior, fasilitas, dan sebagainya; mencakup pula aspek fungsi, seperti variasi dan cara penyediaan menu, sebagai tempat mengobrol atau mengerjakan tugas, dan sebagainya; menyangkut juga aspek yang dapat membuat konsumen senang seperti pelayanan, esetetika, dan hal kecil lainnya. Desain renovasi ini dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan konsumen yang nantinya akan mempengaruhi kesetiaan konsumen kepada kantin. Kalau teman-teman tau, misalnya kalau teman-teman pergi ke Starbucks gitu kan bukan cuma beli kopi kan, namun juga ngobrol-ngobrol berlama-lama di sana dan menikmati suasana. Namanya menjadikan kantin sebagai third place, dimana orang tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan utama dari tempat itu (dalam hal ini kantin, tentu saja tempat makan), tapi juga fungsi-fungsi lain (seperti mengerjakan tugas, ngobrol, menggunakan fasilitas wifi), yah begitulah.

sebenernya tugas ini sangat oke bukan? menarik banget. mendesain sesuatu gitu loh untuk menarik dan mempertahankan konsumen, tapi apa yang gue dan teman-teman gue lakukan? mengerjakannya dengan mode asal selesai, untung aja presentasinya berjalan lancar. Hanya saja, saya agak iri dengan kelompok teman yang lain yang niat banget ngerjainnya, sampai-sampai menggunakan the sims 2. Sangat menarik! huhu iri

2. Tugas Program Intervensi Klinis

Ini sebenarnya tugas yang supeeeerr menarik, dimana mahasiswa klinis diharuskan menyusun sebuah program intervensi psikologis untuk mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat. Diharapkan programnya sudah sangat operasional sehingga do-able. Banyak topik-topik menarik yang bermunculan pada saat pertama kami mencoba membuat tugas ini, diantaranya mengenai bullying, mengenai kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya, masalah mengatasi kemacetan, hingga masalah meningkatkan kepedulian sosial.  Akhirnya satu keputusan final pun diambil, kami mengangkat topik meningkatkan kepedulian sosial. Caranya?

Oke, begini rencananya. Kami menggunakan konsep Psikologi Positif, sebuah aliran psikologi yang diusung oleh oom Martin Seligman yang menekankan kebaikan dalam setiap diri manusia dan bukannya ‘penyakit’ atau kekurangan yang terdapat dalam diri mereka seperti yang terdapat pada aliran psikologi-psikologi lain, terutama psikoanalis. Nah, dalam psikologi positif itu dijelaskan bahwa dalam diri setiap manusia sebetulnya memiliki keutamaan-keutamaan positif (virtue) dimana dibawah setiap virtue tersebut juga terdapat character-character strength yang jika muncul dan digunakan secara optimal maka manusia bisa mencapai authentic happiness yang dicari-cari semua orang. Chararcter strength yang coba diangkat oleh kelompok saya adalah gratitude. Kenapa gratitude? Karena dalam teorinya, rasa syukur yang muncul ini kemudian bisa membuat orang memiliki kepedulian sosial yang lebih tinggi dan kemudian mau melakukan tingkah laku prososial.

Program yang akan dilaksanakan adalah program live in dimana peserta akan menginap di rumah warga Kampung Gege yang berlokasi di belakang Mal Taman Anggrek. Peserta merupakan remaja akhir dengan status sosial menengah ke atas. Peserta selama 3 hari dua malam akan ikut serta dalam setiap aktivitas yang dilakukan oleh warga, baik dalam kebiasaan sehari-hari, bekerja, berbincang dengan sesama warga, dan sebagainya. Diharapkan dengan ikut serta dalam aktivitas warga maka peserta dapat melihat kesulitan yang dialami dalam kehidupan sehari-hari warga (jika dibandingkan dengan kehidupan peserta tentunya) sehingga akan memunculkan atau meningkatkan rasa syukur. Kemudian secara tidak langsung rasa syukur tersebut diharapkan dapat membuat orang yang merasakannya ingin membagikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui melakukan tindakan prososial. Oh iya, nama programnya adalah “Greet Gege With Gratitude” bagus yah?

Kesalahan paling JELAS terletak pada kesalahan pengukuran perubahan yang terjadi akibat dilaksanakannya program intervensi ini dimana seharusnya dilihat dari perubahan tingkah laku dari para peserta, namun kami hanya berhenti pada meningkatnya tingkat gratitude dan tidak menjelaskan kesinambungan selanjutnya. huhu.

3. Tugas Poster Informasional Abnormal

Pada tugas ini kelompok saya mendapatkan topik abnormalitas ‘gangguan cemas’, setelah dipilih dan di[ertimbangkan beberapa saat diambil keputusan untuk mengambil jenis gangguan cemas phobia, tepatnya phobia terhadap tumbuh menjadi tua atau biasa disebut Gerontophobia. Oke, ditekankan pada kata POSTER INFORMASIONAL, kenapa saya tekankan? Karena kelompok saya tidak mencerna hal ini dengan baik dan membuat poster yang sekedar ‘menarik’ namun kurang informasional. Sedih banget karena akhirnya nilai tugas poster kelompok saya menjadi buruk dan nggak bisa membantu mendongkrak nilai temen-temen sekelompok yang butuh diselamatkan dalam hal kelulusan.

4. Tugas Analisis verbatim Kualitatif

Sebetulnya saya pribadi sangat tertarik dan menaruh rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap metode penelitian kualitatif dalam mendapatkan gambaran keseluruhan terhadap fenomena yang diteliti karena metodenya bersenjatakan wawancara mendalam terhadap subjek. Oleh karena itu, harapan saya di mata kuliah ini sebetulnya sangat besar, hanya saja ternyata kami tidak diharuskan membuat penelitian kami sendiri, tapi menganalisa verbatim hasil penelitian orang lain (mahasiswa angkatan sebelumnya). Walaupun proses dan tahapan yang dijalankan sebetulnay sama aja seperti kalau kami membuat penelitian sendiri tetep aja rasanya beda karena kurangnya ketertarikan terhadap topik yang diteliti. Hasilnya, saya mengerjakan bagian landasan teori maupun analisis per subjek dengan males-malesan dan apa adanya banget. Pinginnya sih ada kesempatan lagi untuk mempelajari metode ini, siapa tahu kepake buat skripsi kan?

5. Tugas penelitian SDM dan Riset Organisasi

tugas ini sebetulnya sejenis karena tiap kelompok diharusnkan mengunjungi sebuah bagian dari sebuah perusahaan untuk kemudian melakukan penelitian per topik yang dipilih oleh masing-msing kelompok. Topik yang dipilih antara lain adalah kepuasan kerja, stres kerja karyawan, keberagaman karyawan, proses remunerasi, proses rekrutmen, dan sebagainya-dan sebagainya. Kurangnya waktu dan terbaginya pikiran dengan tugas-tugas lain yang membikin kami melakukan tugas dengan kurang maksimal. Parah banget, terutama untuk mata kuliah riset organisasi, revisi dari laporannya luar biasa banyak. Gimana enggak? Dari mulai teknik pengambilan data aja sebenernya udahkurang sesuai dengan subjek, makanya analisis statistiknya juga jadi kurang mendalam deeeehhh. Hoh

Demikianlah, saya rasa saya harus membuat resolusi untuk semester depan :(

- D! -

Experiment really can make you cry (part.2)

In Tentang bertugas on August 1, 2008 at 4:59 am

SELESAI JUGA!

yeay! Laporan tugas eksperimen saya yang selama sebulan ini lumayan menyita waktu saya dan teman-teman selesai dan sudah sampai dengan selamat di meja Mbak Dewi sebagai dosen saya. Yah karena laporannya juga sudah selesai disusun saya bisa membeberkan sebetulnya apa yang selama ini saya kerjakan.

Berangkat dari pengamatan saya dari iklan-iklan cetak maupun elektronik yang ada di sekitar saya yang banyak sekali menghadirkan tokoh ahli sebagai spokesperson produk yang disampaikan. Tokoh ahli yang saya bicarakan disini maksudnya adalah tokoh-tokoh yang memiliki pekerjaan yang ada hubungannya dengan produk yang dipasarkan dan tokoh-tokoh tersebut dikenal cukup ahli dalam pekerjaannya misalnya seperti menghadirkan seorang dokter kulit untuk iklan produk kosmetik, menghadirkan seorang binaragawan dalam iklan produk suplemen penambah tenaga, dsb. Hal yang menarik di sini adalah di antara tokoh ahli yang ditampilkan dlm iklan tersebut, katakanlah dokter, beberapa bukanlah dokter sungguhan namun seorang aktor atau aktris yang memakai jas putih dan diposisikan sebagai dokter. Hal ini membuat saya bertanya, apakah sebegitu besarnya pengaruh dari kehadiran tokoh yang (dianggap sebagai) ahli dalam menentukan laku tidaknya produk yang dipasarkan?

Begitulah, penelitian kelompok saya yang berjudul “Pengaruh Kehadiran Expert Endorser terhadap Keputusan Membeli Konsumen (Consumer Decision Making) pun mulai disusun. Penyusunan proposal penelitian dilangsungkan dalam waktu yang serba kilat, hanya dalam H-1! Berjam-jam berkutat di perpustakaan untuk mengumpulkan teori dan menyusunnya jadi satu, akhirnya jadi juga proposal yang coreng moreng dimana-mana. Lalu selama 2 minggu saya berkutat dengan ADOBE PHOTOSHOP mustajab sampai mata saya njureng-njureng bikin iklan untuk ditampilkan kepada subjek, iklan yang ditampilkan sebagai berikut

ini untuk kelompok eksperimennya
ini buat kelompok kontrol

ini buat kelompok kontrol

Oiya, sebagai catatan iklan tersebut sempat berganti model, bentuk, background, dan warna baru kemudian disetujui iklan yang ini. Langkah selanjutnya adalah untuk menentukan sampel penelitian yang harusnya cukup representatif. Karena subjek penelitian kami adalah remaja yang berusia 16-20 tahun maka diputuskan untuk mengambil subjek di FAkultas Hukum UI angkatan 2007, namun ternyata birokrasinya cukup sulit dan mereka akan segera melaksanakan pekan UAS SP jadi agak susah buat mendapatkan ruangan. Selanjutnya kami mencoba ke FAkultas Teknik UI, dan menemui hasil yang sama. Setelah mencoba juga di SMA saya untuk mendapatkan izin untuk penelitian (dan birokrasinya juga ribet), akhirnya kami bisa melangsungkan penelitian di SMA Negeri 91 (SMA-nya Thq).
Fieldnya cukup seru karena anak-anak SMA tersebut cukup antusias (mungkin disebabkan karena kedatangan kami membebaskan mereka dari satu jam pelajaran Bimbingan Konseling yang agak membosankan *winwink*). Besoknya kami ngendon di rumah keinda dari jam 10 sampai lewat magrib untuk mengerjakan laporan.
Setelah mengorbankan berbungkusbungkus cemilan dan berlembar-lembar Nori, juga merepotkan mbaknya Keinda (karena kami semua mau makan gratis dong ahahah), dengan gegap gempita dan napas lega kami mengumumkan laporan pun selesai!!
(BERSAMBUNG)
- D! -

Experiment really can make you cry

In Tentang bertugas on July 25, 2008 at 6:22 am

huaaaaaa. 2 bulan terakhir ini kening saya kembali berkerut karena berkutat dengan tugas eksperimen saya yang mana saya harus mengurusi itu variabel sekunder.

variabel bebas : kehadiran expert endorser
variabel terikat : consumer decision making

variabel sekunder : BANYAK.

huhu.

subjek belom dapet, field belom terlaksana

deadline tanggal 28. AAAAAAH

- D! -

Uneg-uneg Esia dengan teori perilaku ekonomi

In Tentang bertugas on June 26, 2008 at 2:30 am

Tarif Telepon Rp.1000,00/jam dengan Esia, Lebih Menguntungkan atau Tidak?

(Marginal Analysis antara kerugian & keuntungan yang didapat apabila menggunakan Fasilitas tarif telepon per-jam dari Esia)

“Tugas Aplikasi PEREK Tahun 2008”

Keywords: Marginal Analysis, Tarif Telepon, Esia

Esia, sebagai salah satu operator CDMA memiliki fasilitas tarif telepon Rp.1000,00/jam ke sesama pengguna Esia, namun tarif telepon ini hanya bisa didapatkan apabila pelanggan menelepon selama tidak kurang dari satu jam. Tarif ini lebih ringan bila dibandingkan menelepon selama satu jam dengan tarif normal ke sesama pengguna Esia yang senilai Rp.50,00/menit, yang akan menyebabkan kita menghabiskan total Rp.3000,00. Awalnya penawaran ini terdengar menguntungkan bagi saya sebagai pelanggan. Dengan menghabiskan pulsa prabayar Rp.1000,00 saja saya sudah dapat berbincang panjang lebar dengan teman selama satu jam. Namun, setelah beberapa bulan menggunakan fasilitas ini saya tidak lagi merasa diuntungkan. Hal ini disebabkan karena seringkali saya harus menyudahi telepon sebelum durasi telepon mencapai satu jam justru karena tidak ada lagi yang dapat saya bicarakan dengan lawan bicara saya untuk menunggu sampai satu jam. Berdasarkan kejadian yang saya alami maka saya bertanya-tanya, mengapa saya tidak lagi merasa diuntungkan dengan tarif telepon tersebut?

Saya berusaha menjelaskan kejadian yang saya alami ini berdasarkan prinsip perilaku ekonomi marginal analysis. Marginal Analysis sendiri merupakan analisis perbandingan dari perubahan yang terjadi pada setiap variabel ekonomi dalam setiap tambahan unit dari aktivitas yang kita lakukan berkaitan dengan variabel tersebut. Perubahan yang terjadi pada setiap variabel ekonomi tersebut mencakup perubahan pada marginal cost dan marginal benefit yang dimiliki oleh variable tersebut. Marginal cost adalah tambahan biaya yang kita keluarkan setiap kali kita menambah satu unit dari aktivitas yang kita lakukan yang berkaitan dengan variabel tersebut. Sedangkan marginal benefit adalah tambahan keuntungan yang kita dapatkan setiap kali kita menambah satu unit dari aktivitas yang berkaitan dengan variabel. Benefit atau keuntungan yang kita dapatkan dari melakukan tiap unit aktivitas tidak hanya berupa uang, namun dapat juga berupa unit barang, utilitas tertentu yang bermakna bagi kita, bahkan dapat berupa tingkat kepuasan yang kita dapat setiap kali kita melakukan aktivitas.

Marginal analysis mengemukakan bahwa kita sebaiknya terus meningkatkan level aktivitas yang sedang kita lakukan selama marginal benefit yang kita dapatkan dari aktivitas tersebut masih melebihi marginal cost yang kita keluarkan. Namun hal ini tidak mudah diterapkan, karena kita tidak betul-betul dapat memperkirakan perbandingan antara marginal cost dan marginal benefit dari penambahan unit aktivitas yang kita lakukan, ditambah lagi marginal benefit biasanya cenderung semakin menurun setiap kali penambahan unit dari aktivitas yang kita lakukan.

Berdasarkan prinsip marginal analysis ini saya mencoba menganalisis pengalaman saya sendiri. Dalam kejadian yang saya alami maka yang disebut sebagai marginal benefit yang saya dapatkan adalah tambahan kepuasan setiap menitnya yang saya dapatkan dari berbicara di telepon dengan teman saya selama satu jam. Sedangkan marginal cost yang saya keluarkan adalah tambahan biaya setiap menit bicara di telepon selama durasi satu jam pembicaraan. Nilai marginal benefits yang kita dapatkan biasanya cenderung untuk berkurang setiap kalinya kita menambah satu unit dari aktivitas yang sedang kita lakukan (http://sorrel.humboldt.edu/~economic/econ104/marginal/), dalam hal ini berarti kepuasan yang saya dapatkan setiap menit saya menambah durasi telepon saya. Hal ini dapat terjadi karena pada menit-menit pertama saya menelepon saya masih bersemangat dan memang ingin mengobrol, sehingga saya masih merasakan kepuasan yang maksimal, namun seiring dengan berlanjutnya durasi telepon maka saya mulai bingung mau membicarakan apa. Saat itulah marginal benefits yang saya dapatkan mulai berkurang secara bertahap, namun marginal cost yang saya keluarkan tetap sama nilainya, tentu saja perbandingan antara biaya yang saya keluarkan dengan kepuasan yang saya dapatkna menjadi tidak sebanding. Hal inilah yang membuat saya sadar bahwa sebetulnya menelepon berlama-lama dengan Esia selama satu jam penuh sebetulnya tidak sebegitu menguntungkannya.

Tambahan lain, Esia seringkali mengalami masalah dengan sinyal dimana sambungan telepon bisa terputus begitu saja di tengah-tengah pembicaraan padahal hampir mencapai satu jam. Ketika hal ini terjadi, biaya yang harusnya kita keluarkan hanya Rp.1000,00 namun justru meningkat berlipat ganda karena durasi telepon tidak mencapai satu jam, sehingga hitungan tarifnya tetap Rp.50,00/menit. Katakan sambungan telepon telah terputus ketika kita baru mencapai durasi telepon sekitar 50 menit, maka biaya yang kita keluarkan adalah 50 menit x Rp.50,00 = Rp.2.500,00. Angka tersebut jelas lebih banyak daripada Rp.1000,00 bukan? Demikian saya sampaikan uneg-uneg saya terhadap Esia, semoga bisa ditindaklanjuti, setidak-tidaknya ada perbaikan sinyal sehingga sambungan telepon tidak terputus di tengah-tengah pembicaraan telepon yang sedang berlangsung.

Daftar Pustaka

Frank, R.H. 2008. Microeconomics and Behavior Seventh Edition. New York: Mcgraw-Hill.