<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>my ups and downs</title>
	<atom:link href="http://dheasekararum.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dheasekararum.wordpress.com</link>
	<description>laughs, love, life, lesson learned.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2009 17:07:43 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dheasekararum.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0b624b81be408ecc248479906ad90db1?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>my ups and downs</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>I am from..(Saya adalah dari..)</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/04/i-am-from-saya-adalah-dari/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/04/i-am-from-saya-adalah-dari/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 17:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang bertugas]]></category>
		<category><![CDATA[assignment]]></category>
		<category><![CDATA[counseling]]></category>
		<category><![CDATA[self disclosure]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=407</guid>
		<description><![CDATA[sebelumnya, mari saya jelaskan dahulu bahwa tulisan di bawah ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah psikologi konseling. Berikut instruksi tugasnya : 
Tujuan dari latihan ini adalah agar anda dapat melakukan self-disclosure sambil mengembangkan kreativitas emosi anda.
Ceritakanlah keadaan diri/ penghayatan anda sendiri dengan memakai kata-kata deskriptif yang menggambarkan perasaan dan penginderaan anda (sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=407&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>sebelumnya, mari saya jelaskan dahulu bahwa tulisan di bawah ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah psikologi konseling. Berikut instruksi tugasnya : </strong></p>
<p><strong><span style="font-weight:normal;">Tujuan dari latihan ini adalah agar anda dapat melakukan self-disclosure sambil mengembangkan kreativitas emosi anda.<br />
Ceritakanlah keadaan diri/ penghayatan anda sendiri dengan memakai kata-kata deskriptif yang menggambarkan perasaan dan penginderaan anda (sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa) dalam hal-hal berikut:</p>
<p>Paragraf 1: makanan favorit<br />
Paragraf 2: pesan yang terus-menerus anda dengar dari orang tua<br />
Paragraf 3: tradisi/ kejadian istimewa<br />
Paragraf 4: seseorang yang menarik/ spesial yang anda kenal<br />
Paragraf 5: suatu tempat di mana anda merasa aman dan damai<br />
Paragraf 6: sesuatu item/ barang spesial yang tidak pernah akan anda berikan kepada<br />
orang lain dan yang akan anda simpan sepanjang masa<br />
Paragraf 7: sesuatu yang terjadi setiap hari<br />
Paragraf 8: pemandangan yang selalu anda lihat setiap dalam perjalanan anda ke kampus/<br />
tempat kerja<br />
Paragraf 9: suatu tempat yang ingin anda datangi kembali (misalnya tempat berlibur, mal,<br />
negara lain,dll)<br />
Paragraf 10: sisi positif diri anda<br />
Paragraf 11: sisi negatif diri anda<br />
Paragraf 12: yang anda inginkan dalam hidup</p>
<p><strong>Contoh paragraf 1 dalam bahasa Inggris:</strong></p>
<p>I am from the sweet aroma of cranberry sauce that sits beside soft mashed<br />
potatoes with tender seasoned turkey, and steaming stir-fried vegetables, drizzled<br />
in warm gravy</p>
<p>Saya adalah dari harumnya fish and chips yang membuat perutkeruyukan.<br />
Tekstur ikan halibut yang lembut warnanya yang putih membuat air liur<br />
bercucuran. Ketang goreng yang crispy tetapi digigit lembut di dalam, membuat<br />
pikiran melayang-layang untuk segera menikmatinya.</p>
<p><strong>Contoh paragraf 9:</strong></p>
<p>Saya adalah dari birunya langit yan disinari matahari lembut dan tiupan angin segar di pagi hari di Banff &#8211; suatu kota kecil yang sangat cantik di dalam lembah di antara bukit-bukit hijau. Jalanannya yang bersih dengan pot-pot bunga warna-warni menyentuh hati, memberikan rasa kedamaian dan ketentraman yang mendalam di hati.<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</span></strong></p>
<p><strong>Ini hasilnya : </strong></p>
<p>Saya adalah dari lembutnya kue tiramisu yang dibuat oleh <em>patissier </em>dengan komposisi adonan yang seksama sehingga bentuknya yang unik pasti akan menggoda siapapun untuk mencicipinya. Paduan coklat yang manis dengan krimnya yang lembut akan membuat lidah siapapun bergoyang saat akhirnya memutuskan untuk mencicipinya. Saat mencicipi pun perlahan akan ditemukan rasa baru, pahitnya taburan bubuk kopi dan segarnya campuran susu yang menambah rasa baru dalam kue tersebut, menghadirkan kombinasi yang tepat untuk dikonsumsi.</p>
<p>Saya adalah dari kemandirian yang ada untuk tidak bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Rasa aman ketika dapat melakukan sesuatu tanpa harus tergantung atas kehadiran orang lain tersebut pada titik-titik tertentu member kepercayaan diri dan ketenangan. Melangkah kemana saja terasa mantap, namun tentu saja tidak dibiarkan terbawa dengan rasa takabur. Perasaan ringan tanpa harus membebani orang lain selama masih bisa dikerjakan sendiri.</p>
<p>Saya adalah dari membuncahnya smangat dan rasa ingin tahu saat menerima kado di hari ulang tahun kita. Melihat bentuk-bentuk yang tersamar dalam warna-warni bungkusnya yang menyenangkan dan semakin menggemaskan untuk dibuka agar segera tahu apa isinya. Lalu tiba saatnya membuka bungkusannya. Saat tangan berhati-hati untuk membuka kertas kado tersebut, selapis demi selapis. Pada robekan pertama mulai menebak apa isinya, namun tidak dapat terburu-buru agar tidak merusak yang ada di dalamnya. Pada robekan berikutnya, kita mulai mengintip apa yang ada di baliknya. Membuat rasa ingin tahu semakin meningkat untuk segera menguak seutuhnya walau terkadang bentuk awal bungkusan dapat menipu mata kita mengenai apa yang sebenarnya ada di dalamnya.</p>
<p>Saya adalah dari kuatnya rasa pantang menyerah (almarhumah) ibu saya. Walaupun terkesan keras dalam bicara dan cenderung temperamental, sbetulnya pesan yang ingin coba ditunjukkan adalah benar halnya dalam menjalankan hidup. Celotehan cerewetnya mengantarkan anak-anaknya mencapai mimpi-mimpi mereka. Sikap paniknya membuat kita semua terhibur walau sempat senewen juga.</p>
<p>Saya adalah dari luruhnya semua rasa dan rahasia ketika bersimpuh di atas sajadah untuk  bersujud di hadapan yang maha kuasa. Ketika itulah kesunyian adalah satu-satunya cara selain doa untuk mengungkap semua emosi dan sesuatu yang tidak dapat disampaikan lewat kata lewat berbagai media. Harapan demi harapan dengan segala kerendahan hati diutarakan kepada yang maha kuasa, saat itulah rasa bebas untuk bercerita, mengeluh, tertawa, bahkan menangis saat di tempat lain hal-hal semacam ini belum tentu dengan bebas dapat dilakukan.</p>
<p>Saya adalah dari heningnya sebuah lembaran foto, yang didalamnya menyimpan begitu banyak cerita. Begitu banyak hal yang tidak bisa disampaikan lewat kata, atau setidak-tidaknya belum mampu untuk disampaikan. Ketika foto menyampaikan cerita dan sejumlah emosi berharga, tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Ketika sebuah lembaran foto tanpa sadar membuat anda kembali mengenang, kembali menguak cerita dan mengungkapkan diri anda, sekali lagi tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Karena sesungguhnya dalam diamnya selembar foto, tersembunyi banyak pula informasi yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Saya juga adalah dari sinar matahari yang selalu hadir di setiap pagi. Mencoba menyapa setiap manusia sambil mengantarkan secercah semangat untuk menjalani hari. Walaupun terkadang dalam keadaan tertentu sinarnya terlalu panas, namun dengan hangatnya ia mencoba untuk meraih semua makhluk, bercengkrama dengan ramah mencari celah untuk menelisip masuk hingga ke balik bayangan-bayangan gelap. Namun, ada pula saatnya sinar matahari harus beristirahat, karena lelah mengelilingi hari dan berganti peran dengan sang bulan.</p>
<p>Saya adalah dari cepatnya laju kereta listrik yang setiap harinya hillir mudik pada jalurnya sendiri. Setiap harinya singgah dari satu tempat ke tempat lain, walau sesungguhnya polanya telah ditentukan. Meski polanya sudah ditentukan setiap harinya, namun petualangan yang dibawa tentu selalu berbeda karena penumpang yang dibawanya berbeda-beda dengan cerita yang beragam pula. Dinamisnya kereta tersebut tidak luput dari usahanya untuk senantiasa memelihara kerendahan hati dan kesederhanaan di dalamnya, saat kereta dengan setia mengantarkan mereka yang berkepentingan mencapai tempat tujuannya, demikian pula saat kereta menyediakan tempat bagi mereka yang membutuhkan rupiah untuk mengisi perut masing-masing, saat kereta menjadi obsever yang baik dan menyajikan potret kehidupan paling actual tentang hiruk pikuk kehidupan kota.</p>
<p>Saya adalah dari indahnya pantai dengan semilir anginnya yang membius. Riak-riak ombak kecil yang dengan riang menyapu bibir pantai seolah-olah membujuk kita untuk bermain-main bersama terlepas dari penatnya diri atas segala kesibukan yang ada di sekitar. Berjalan di atas pasir putihnya dengan kaki telanjang tentu menenangkan dan berbeda dengan rutinitas sehari-hari berlari-lari mengejar bis kota atau duduk dibalik kemudi dan menempuh perjalanan ke tempat kerja. Cuacanya yang terik juga mengajak kita untuk menikmati hari hingga senja dan tiba saatnya untuk memperhatikan tenggelamnya matahari di cakrawala.</p>
<p>Saya adalah dari luasnya rasa ingin tahu dan keterbukaan diri terhadap sesuatu yang baru. Fleksibilitas dalam penerimaan sesuatu yang baru yang mengantarkan manusia ke tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh individu itu sendiri. Membuat jantung berdebar dan otak bergrak cepat, kritis dalam menganalisis, sekaligus takjub terhadap segala sesuatunya yang terjadi di sekitar. Mengandung sedikit rasa takut dan berdebar-debar mengingat banyak sekali hal di luar sana yang menunggu untuk disingkap.</p>
<p>Saya adalah dari mengganggunya rasa tidak percaya diri yang seringkali membatasi diri dalam meraih mimpi-mimpi. Kecemasan tidak beralasan dan perasaan ketidakmampuan diri yang membuat orang kemudian menyembunyikan diri dari sesuatu yang mereka sebut diri sendiri. Rasa lemah yang mngecilkan diri sendiri dan tidak berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membuat rentang antara tempat tujuan dan dimana kita berdiri menjadi semakin jauh dan terhalangi.</p>
<p>Saya adalah dari tidak terdefinisikannya sebuah perasaan bahagia. Saat semuanya terasa cukup, tidak kurang tidak lebih. Saat senyum mengalir dari dalam dada, bersyukur terhadap semua yang ada, tanpa perlu merasa terlalu khawatir tentang hari esok. Rasa ringan saat memandang dan menghadapi segala sesuatu dengan ikhlas. Ketika damainya individu dapat berkata, rintangan selalu ada, oleh karena itu Tuhan ciptakan pula jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita mencarinya untuk mencapai bahagia.</p>
<p><strong>jangan pada pingsan ya</strong></p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
Posted in Tentang bertugas Tagged: assignment, counseling, self disclosure <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/407/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/407/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/407/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=407&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/04/i-am-from-saya-adalah-dari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Silly thing(s) to fall for</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/silly-things-to-fall-for/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/silly-things-to-fall-for/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 16:39:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang beragam hari]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[crush]]></category>
		<category><![CDATA[silly things]]></category>
		<category><![CDATA[simple]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=403</guid>
		<description><![CDATA[Atau, dalam bahasa indonesia, diterjemahkan menjadi &#8216;hal konyol untuk ditaksir&#8217;. 
Teman-teman pernah punya pengalaman naksir atau setidak-tidaknya tertarik dengan lawan jenis karena hal-hal sederhana? Hal-hal yang biasanya bukan merupakan variabel yang penting dalam pertimbangan mencari pasangan; Bukan hal-hal seperti keahlian yang dapat dilakukan oleh lawan jenis tersebut, bukan pula kepintarannya, bukan pula latar belakang pendidikannya, bahkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=403&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Atau, dalam bahasa indonesia, diterjemahkan menjadi &#8216;<strong>hal konyol untuk ditaksir&#8217;. </strong></p>
<p>Teman-teman pernah punya pengalaman naksir atau setidak-tidaknya tertarik dengan lawan jenis karena hal-hal sederhana? Hal-hal yang biasanya bukan merupakan variabel yang penting dalam pertimbangan mencari pasangan; Bukan hal-hal seperti keahlian yang dapat dilakukan oleh lawan jenis tersebut, bukan pula kepintarannya, bukan pula latar belakang pendidikannya, bahkan bukan pula latar belakang ekonomi orangtuanya (yah setidaknya setahu saya hal-hal inilah yang umumnya menjadi pertimbangan kita dalam memilih pasangan, atau setidak-tidaknya untuk <em>naksir </em>dengan lawan jenis).</p>
<p>Hal-hal sederhana yang saya maksud di sini merupakan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak terpikirkan oleh kita, dan biasanya terjadi begitu saja. Oleh karena itu seringkali merupakan sesuatu yang konyol, nyaris bodoh. Hal-hal serupa seperti yang ada dalam adegan film <em><strong>The Ugly Truth </strong><span style="font-style:normal;">ketika pemeran utama wanita terperangah dan tergelitik sedikit hatinya saat pemeran utama pria memesan &#8216;air keran&#8217; di sebuah rumah makan, yang mana hal tersebut sama seperti kebiasaannya, dan sebelumnya ia selalu dianggap aneh karena mempermasalahkan bahwa memesan air keran pada dasarnya sama saja dengan memesan air mineral dalam kemasan karena air keran sudah melalui proses penyaringan yang menjamin higienitasnya blablablabla dan blablablabla. Hal-hal semacam ini.</span></em></p>
<p><strong>Saya pernah.</strong></p>
<p>Setidak-tidaknya sepanjang yang saya ingat saya pernah mengalami hal semacam ini satu kali. Saya naksir (atau setidak-tidaknya tertarik) pada satu orang laki-laki karena hal yang sangat sederhana, dan ditaksir karena hal yang sangat sederhana (oleh orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula). Berikut cerita singkatnya :</p>
<p><em><strong><span style="text-decoration:underline;"># Saya pernah tertarik sama cowok karena ia menuliskan nama panggilan saya dengan ejaan yang tepat.</span></strong></em></p>
<p>Beberapa dari teman-teman saya yang kenal cukup dekat dengan saya mungkin tahu bahwa saya sangat jengkel jika ada orang yang menuliskan nama saya dengan ejaan <strong>&#8216;Dea&#8217; </strong>tanpa huruf <strong>&#8216;H&#8217; </strong>di antara huruf <strong>D</strong> dan huruf <strong>E. </strong>Mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hal yang sepele, namun tidak demikian halnya bagi saya. Bagi saya, nama adalah pemberian orangtua, sehingga harus dihargai. Oleh karena itu, saya juga berusaha untuk selalu menuliskan nama orang lain dengan ejaan yang benar. Saya mungkin bisa paham jika seseorang yang sebelumnya belum pernah melihat ejaan nama saya kemudian menuliskannya dengan kurang tepat, tapi ada juga lho orang-orang yang sudah jelas-jelas tahu seperti apa tulisannya masih saja salah menuliskannya. Bahkan beberapa orang masih tetap salah saat saya sudah terang-terangan bilang <strong><em>&#8220;Dhea ya Mbak, pakai H&#8221;.</em><span style="font-weight:normal;"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight:normal;">Oke, saya mungkin terdengar neurotik jika membicarakan masalah ini. </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight:normal;">Lalu suatu hari ada seorang cowok yang belum terlalu saya kenal, tepatnya kami baru berkenalan sehari sebelumnya demi sebuah kepanitiaan acara kampus. Saat itu, bagi saya, ia hanyalah senior saya di kampus, dan saya hanyalah mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa dan diajak untuk bergabung ke dalam suatu kepanitiaan. Tidak ada kesan yang spesial bagi saya mengenai cowok itu selain saya pikir orangnya (terlalu) banyak bicara dan penampilannya seperti anak gaul kebanyakan. Sepertinya orangnya seru untuk diajak berbincang lebih lanjut karena ia membuat saya tertawa atas lelucon-lelucon garingnya sore itu. Lalu ia bilang &#8220;<em>besok nama lo berdua gue tulis di pakom ya langsung&#8221;. </em>Saat itu yang ia maksud &#8216;lo berdua&#8217; adalah saya dan teman saya yang justru awalnya diajak bergabung dan baru kemudian mengajak saya. Intinya, saya awalnya hanya embel2 saja.</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight:normal;">Keesokan harinya, saya kebetulan bertemu dengan cowok ini saat ia menuliskan nama kami di pakom kepanitiaan. Dia menulis </span>&#8220;Dhea&#8221; </strong>dengan sempurna. Spontan saya tersenyum luar biasa senang entah kenapa. Lalu dengan spontannya berujar <em>&#8220;Haaah! Lo nulis nama guenya beneeeerr! Pakai huruf &#8216;H&#8217;! Seneng deh hehehe&#8221;. </em>Dia hanya tertawa, &#8220;<em>hahahah iya ya? bukannya emang biasanya gitu tulisannya?&#8221;. </em>Lalu saya mengangkat bahu, saya bilang nggak banyak orang yang nulisnya langsung bener seperti itu, apalagi sebelumnya toh dia belum pernah melihat tulisan nama saya.</p>
<p>Saat itulah saya tahu bahwa oke, saya tertarik dengan cowok ini. Bahasa berlebihannya, <em>he has something. </em>Kemudian, saya tidak tahu seperti apa prosesnya, yang jelas saya sangat terkesan dengannya hari itu dan kemudian saya jadi banyak mengobrol dengannya karena kebetulan saya dan dia juga memiliki  kesamaan dalam beberapa hal.</p>
<p>Demikianlah salah satu contoh bagaimana saya bisa semudah itu tertarik dengan orang lain. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga bahwa kemudian banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemenarikan diri dari cowok ini. Namun awalnya semua bermula dari penulisan nama yang tepat. Cerita selanjutnya? Hemm saya rasa akan keluar konteks kalau saya tuliskan di sini hehe.</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration:underline;"># Ada cowok yang pernah tertarik sama saya karena  saya suka komentar soal gambarnya dan saya meminjamkan pensil mekanik milik saya waktu dia nggak punya pensil </span></em></strong></p>
<p>Nah, kalau cerita yang ini lain lagi. Kejadiannya waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Cowok ini adalah salah satu dari sekian teman les bahasa inggris saya. Sebetulnya, awalnya saya rasa saya yang tertarik sama cowok ini, karena memang menarik saja di mata, terus tipe cowok yang pendiam lucu gitu, menarik sekali. Selain itu, dia suka menggambar di meja kelas, yah termasuk tindakan vandalisme sih memang, cuma gambarnya sangat menarik dan saya suka curi-curi lihat kalau dia lagi gambar diam gitu tidak menyimak apa yang disampaikan di depan kelas. Sekali waktu saya berkesempatan duduk di sebelahnya dan mengintip gambarnya dan berkomentar <em>&#8220;wah gue suka deh liat gambar lo. menarik!&#8221;. </em>Sudah, interaksi selanjutnya hanya perbincangan mengenai hal-hal yang ada di permukaan, seringkali hanya seputar tempat les itu sendiri. Kalau bertemu juga hanya bertegur sapa saja, tidak ada sesuatu yang signifikan selama kami les.</p>
<p>Saya duduk di sebelah dia hanya dua kali selama kami les berbulan-bulan lamanya. Pertama, waktu saya mengomentari gambarnya. Kedua, waktu sedang berlangsung tes pertengahan tingkat. Pada saat inilah dia terlihat kelimpungan tidak membawa alat tulis. Saya sebagai manusia normal yang juga makhluk sosial, yang juga kebetulan pada saat itu punya alat tulis lebih, akhirnya menyodorkan pensil mekanik milik saya &#8220;<em>nih. pakai aja&#8221;. </em>Demikian, interaksi tatap muka saya memang sangat terbatas. Interaksi selanjutnya, yang juga merupakan interaksi tatap muka yang terakhir antara saya dan dia adalah saat ia mengatakan bahwa ia akan berhenti les, karena ingin konsentrasi ke bimbel untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi (saat itu ia kelas 3 SMA). Ketika ia bilang begitu, saya spontan berkata &#8220;<em>ah serius? yah ga seru dong gabisa ketemu2 lo lagi sambil liatin lo gambar hehehe&#8221;. </em></p>
<p>Kemudian, sudah begitu saja. Saya pun tidak memikirkannya lagi sama sekali, lewat begitu saja selama beberapa bulan setelahnya. Sampai suatu hari ia mengirimkan sms kepada saya, menceritakan bahwa ia sudah punya kampus, menanyakan kabar dan bincang-bincang ringan lainnya. Saya kira ia memang menanyakan kabar semua teman sekelasnya waktu les dulu, tapi ternyata tidak. Kami lalu sms dan sms, sampai suatu hari dia bilang &#8220;<em>lo tau kapan gue mulai merasa tertarik dan enak ngobrol sama lo?&#8221; </em>Saya jelas tidak tahu. Lalu ia bilang <em>&#8220;Gara-gara lo dulu secuek itu, dengan santainya komentarin gambar orang yang lo gak deket2 amat hahaha, terus tau2 sok2an mau pinjemin pensil lagi. kocak banget tau. itu menarik&#8221;. </em></p>
<p>Terus terang saya agak bengong juga dengarnya.</p>
<p>Nah, demikian sedikit cerita dari saya. Hal-hal seperti ini bisa terjadi dan datang kapan saja dan dimana saja. Saat dimana kita justru tidak kepikiran, saat kita lengah dengan perhitungan variabel-variabel yang menjadi tolak ukur dalam mencari tambatan hati, ada aja hal-hal yang ga diduga dan tiba-tiba bisa membuat kita sebegitu terkesannya akan hal-hal kecil yang terlupakan. Lucu memang.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kalian? Apa kalian pernah memiliki pengalaman yang kurang lebih sama? Saya ingin tahu, karena cerita-cerita seperti ini akan jadi unik sekali. Bagi-bagi cerita ya <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala Tagged: crush, silly things, simple <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/403/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/403/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/403/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=403&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/silly-things-to-fall-for/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Take the (bloody) risk?</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/take-the-bloody-risk/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/take-the-bloody-risk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 14:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang bermacam sumber inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[risk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[I don&#8217;t do reblog actually, but this one is interesting. At least, for me. 
This one came from  Nadia Ikayanti :
&#160;
Our brain&#8217;s got two hemispheres : left and right. We use our left brain to think objectively, focusing on logical/rational analysis, calculation, etc while right brain does its role on imagination, intuition, aesthetics, creativity, and feeling. Everyone&#8217;s got [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=401&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>I don&#8217;t do reblog actually, but this one is interesting. At least, for me. </strong></p>
<p><strong>This one came from </strong><a href="http://www.facebook.com/nadia.ikayanti"><strong> Nadia Ikayanti</strong></a><strong> :</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Our brain&#8217;s got two hemispheres : left and right. We use our left brain to think objectively, focusing on <strong>logical/rational analysis</strong>, <strong>calculation</strong>, etc while right brain does its role on imagination, <strong>intuition</strong>, aesthetics, creativity, and <strong>feeling</strong>. Everyone&#8217;s got their preference in using which part of their brain.</p>
<p>As individuals grow up and get to face this so-called &#8220;Reality&#8221; everyday, they tend to use their left brain while downplaying the right-one. Schools teaching system also got its role on this preference.</p>
<p>SO ANYWAY. . .</p>
<p>Do you remember when you&#8217;re in JHS or HS? Dating is as simple as ABC. You guys like each other and decide to be an item. If you <strong>don&#8217;t feel</strong> like one anymore, then it&#8217;s over. That&#8217;s that. We use our right brain this case</p>
<p>It&#8217;s totally different nowadays. When it comes to our ages now, we use many calculation in choosing partners. <em>Oh she&#8217;s a Ph.D from Oxford, his annual salary&#8217;s IDR 500 mio, he&#8217;s got his own company, I could have a steady life with him, what? her GPA&#8217;s only 2,5?? blah blah</em>.</p>
<p>It&#8217;s definitely not a sin to have those kinda thoughts. I mean, we all know love can&#8217;t pay the bills rite? ;p</p>
<p>But what if it&#8217;s like this :</p>
<p>You waste a good chance with someone that makes you feel comfortable and peaceful just because he/she hasn&#8217;t finished his/her degree? Or you try so hard to stay in a weary relationship with someone who disrespect you for he/she&#8217;s good looking and (probably) got a promising future compared to others?</p>
<p>Can you say &#8220;I&#8217;m happy&#8221; ? Go ask yourself.</p>
<p>We, sometimes, forget to &#8220;listen to our heart&#8221; or (I may define) &#8220;think with our right-brain&#8221;.</p>
<p>Just follow your feeling and intuition</p>
<p><em>. . . and take the bloody risk.</em></p>
<p><em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</em></p>
<p>I responded with this :</p>
<p>I use my corpus callosum which connects both hemispheres to find love (ok i know, i read to much on neuropsychology). Just kidding.</p>
<p>ah senang sekali di-tag! Hahahaha. I would love to take chance on love though, Nad.<br />
Thankyou for the inspiration <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>what about you guys?</strong></p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang bermacam sumber inspirasi Tagged: love, risk <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/401/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/401/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/401/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=401&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/11/01/take-the-bloody-risk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>spill of the toughts</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/31/spill-of-the-toughts/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/31/spill-of-the-toughts/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:50:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang berbagi sisi melankolis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[I just have to say this in all of a sudden :

finding (new) love in my campus is nearly impossible


WHY?
since they keep switching lover(s) with each other.
which is crazy,
in my humble opinion.

there, said and done.
- D! -
Posted in Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=397&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;">I just have to say this in all of a sudden :</p>
<p style="text-align:center;">
<h2 style="text-align:center;"><em>finding (new) love in my campus is nearly impossible</em></h2>
<h2 style="text-align:center;"><em><br />
</em></h2>
<p style="text-align:center;"><strong>WHY?</strong></p>
<p style="text-align:center;">since they keep switching lover(s) with each other.</p>
<h2 style="text-align:center;">which is crazy,</h2>
<p style="text-align:center;">in my humble opinion.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;">there, said and done.</p>
<p style="text-align:left;"><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/397/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=397&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/31/spill-of-the-toughts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>konspirasi (pt.2)</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/23/konspirasi-pt-2/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/23/konspirasi-pt-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 03:56:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang beragam hari]]></category>
		<category><![CDATA[blog walking]]></category>
		<category><![CDATA[konspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;SORRY YOU ARE LOOKING FOR SOMETHING THAT ISN&#8217;T HERE&#8221;
tulisan yang muncul pas klik-klik link sewaktu blog-walking pagi-pagi
bahkan html pun berkonspirasi.
hehehe.

- D! -
Posted in Tentang beragam hari Tagged: blog walking, konspirasi      <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=394&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 style="font-size:1.5em;text-align:center;"><strong>&#8220;SORRY YOU ARE LOOKING FOR SOMETHING THAT ISN&#8217;T HERE&#8221;</strong></h2>
<p style="text-align:center;">tulisan yang muncul pas klik-klik link sewaktu <em>blog-walking</em> pagi-pagi</p>
<p style="text-align:center;">bahkan html pun berkonspirasi.</p>
<p style="text-align:center;">hehehe.</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:left;"><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang beragam hari Tagged: blog walking, konspirasi <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/394/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/394/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/394/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=394&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/23/konspirasi-pt-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>chat facebook</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/chat-facebook/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/chat-facebook/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 15:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang beragam hari]]></category>
		<category><![CDATA[chat]]></category>
		<category><![CDATA[pickup line]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[(waktu lagi cari-cari jurnal online)
puk!
*bunyi chat facebook*
A : Dhe
D : Ya? *sambil melihat, ohh teman lama, tapi lupa ini teman yang mana ya*
A : pakbr Dhe?
D : Baik. Lo apakabar? *sudah mulai tahu orangnya*
A : Baik hehe. gy dmana ni?
D : Kosan nih
A : Hehe. Klo kuliah suka bawa bekal sndiri ky jaman SD nggak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=389&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>(waktu lagi cari-cari jurnal online)</strong></p>
<p><strong>puk!</strong></p>
<p><strong>*bunyi chat facebook*</strong></p>
<p>A : Dhe</p>
<p>D : Ya? *sambil melihat, ohh teman lama, tapi lupa ini teman yang mana ya*</p>
<p>A : pakbr Dhe?</p>
<p>D : Baik. Lo apakabar? *sudah mulai tahu orangnya*</p>
<p>A : Baik hehe. gy dmana ni?</p>
<p>D : Kosan nih</p>
<p>A : Hehe. Klo kuliah suka bawa bekal sndiri ky jaman SD nggak Dhe?</p>
<p>D : Hehehehe ya nggak juga sih Nji, sekarang makannya di warteg *memutar bola mata*</p>
<p>A : ohh masa ciih Dhea makan warteg?</p>
<p>D : Hehe</p>
<p>A : Lagi chat sama O*** jg Dhe?</p>
<p>D : Hemm. Enggak tuh</p>
<p>A : Lho kenapa? Kan dy lagi sm2 online. Sekalian silahturahmi</p>
<p>D : Hehe. Lagi ngerjain tugas nih Nji, ini sebentar lagi off facebook *berpikir: salah banget ini online facebook*</p>
<p>A : Ohh tugas y. Calon y, obatnya orang stres apa sih Dhe?</p>
<p>D : *shit ini paling nyebelin* Hemm gue nggak bisa kasih resep, bukan psikiater soalnya, psikolog.</p>
<p>A : Oh beda y?</p>
<p><strong>(lama nggak jawab, nemu jurnal yang menarik)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>A : wah kmna ini orang ketiduran ya, woy Dhe</p>
<p>D : ohh sori Nji, ini koneksi internet nya jelek banget putus-putus nih</p>
<p>A : Oh gitu. Bapuk sih wkwkwkwk</p>
<p>D : Hehe</p>
<p>A : Dhe,mo dbantu tgas na?</p>
<p>D : Tugas yang mana ya? *oke, dia bahkan tak tahu beda psikolog dan psikiater*</p>
<p>A : Lh,emg gy ksong? Udahan tgas na?</p>
<p>D : ya ini sambil sih haha</p>
<p>A : nh tu dya.</p>
<p>A : Rajin kale ibu yg satu ini..<br />
Hahaha..</p>
<p>D : hahaha mau gimana lagi dong kan namanya tugas *mencoba seramah mungkin*</p>
<p>A : haha iy d</p>
<p>D : <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  *gatau mau ngomong apa lagi*</p>
<p><strong>dengan ini, saya berjanji tidak akan mengajak orang chat secara random lagi, </strong></p>
<p><strong>karena rasanya bisa jadi sangat tidak enak kalau kalimat pembukanya JELEK.</strong></p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang beragam hari Tagged: chat, pickup line <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=389&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/chat-facebook/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbincangan sore dan eklektisme</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/perbincangan-sore-dan-eklektisme/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/perbincangan-sore-dan-eklektisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 13:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang beragam hari]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[diskusi]]></category>
		<category><![CDATA[eklektisme]]></category>
		<category><![CDATA[quality time]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Saya sangat suka (sore) hari ini. 
Hari ini saya memiliki banyak waktu luang untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang. Kesempatan berbincang-bincang santai ini sangat jarang saya miliki dengan semua hiruk-pikuk kuliah dan kerjaan-kerjaan yang saya miliki. Perbincangan saya dimulai dengan berbagi cerita dengan teman saya Pijo, dan Ramadion, yang mana sangat saya nikmati. Kedua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=385&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Saya sangat suka (sore) hari ini. </strong></p>
<p>Hari ini saya memiliki banyak waktu luang untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang. Kesempatan berbincang-bincang santai ini sangat jarang saya miliki dengan semua hiruk-pikuk kuliah dan kerjaan-kerjaan yang saya miliki. Perbincangan saya dimulai dengan berbagi cerita dengan teman saya Pijo, dan Ramadion, yang mana sangat saya nikmati. Kedua orang ini sudah sangat jarang sekali ketemu dengan saya, kebetulan keduanya sedang sibuk mengerjakan skripsinya demi lulus semester ini.</p>
<p>Pembicaraan berlanjut ke curhat salah satu dari kami mengenai pasangannya (yang jelas bukan saya, berhubung saya sedang tidak terlibat dalam sebuah hubungan romantis pun, seperti yang kalian ketahui). Setelah curhat panjang lebar, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa ketika kalian sudah berada di luar hubungan romantis dan melihatnya dari kacamata orang luar, segalanya terasa lebih mudah. Seperti yang saya lakukan tadi, enak aja gitu kasih saran ini itu. Padahal saya sendiri sadar, bahwa situasinya yang sedang dibicarakan teman saya tersebut, sama persis seperti yang saya rasakan dulu, dalam hubungan saya sebelumnya. Jadi saya hanya lebih banyak tertawa, dan ditertawakan oleh Pijo dan Ramadion. &#8220;Dasar menye-menye lo Cupu!!&#8221; demikian katanya. Yasudah saya memang cupu, apa mau dikata, yang penting saya sudah belajar sesuatu.</p>
<p><em><strong>&#8220;The most crucial mistake(s) of a relationship is being insecure and lack of communication&#8221;</strong></em></p>
<p>Yeah. Tell me about it.</p>
<p>Setelah selesai curhat, akhirnya teman-teman saya bubar, lokasi perbincangan berpindah ke kantin lama. Kali ini teman berbincangnya adalah Cantika Marlangen, teman seperjuangan saya, dan Mas Ivan Sudjana dosen saya yang memang jadi teman berdiskusi kalau lagi ingin duduk berlama-lama di kantin. Karena saya baru saja mendapatkan <em>insight </em>dari pembicaraan sebelumnya, saya langsung berbagi dengan mereka. Mas Ivan hanya senyum-senyum saja waktu saya bilang dengan gamblang <em>&#8220;ah, pacaran itu sulit ya Mas, banyak yang mesti dikompromikan, dibicarakan, ditoleransi, ditahan, mesti banyak sabar dan dewasa&#8221;</em>.</p>
<p>Pembicaraan kemudian berloncatan, sampai akhirnya masuk ke suatu pembahasan mengenai skripsi dan proses penelitian. Hingga kemudian saya mencetuskan pertanyaan berdasarkan bahan ujian konseling kemarin,</p>
<p>&#8220;<em>Lho, jadi eklektisme dan sintesis itu sama atau beda Mas?&#8221;</em></p>
<p>Sebelumnya, saya jelaskan dulu bahwa eklektisme ini kaitannya dengan penggunaan teori oleh seorang konselor. Seorang konselor dapat menggunakan satu teori tunggal alam pendekatannya mengahadapi klien, tetapi dapat juga menggunakan teori yang eklektik, berarti mencampurkan beberapa pendekatan, mengintegrasikan beberapa pendekatan (Lesmana, 2006).</p>
<p>Saya sendiri masih bingung dengan konsep ini karena menurut saya agak rancu dengan konsep sintesis. Namun, Mas Ivan menolak bahwa sintesis dan eklektisme merupakan suatu proses yang sama. Menurut Mas Ivan, dalam sintesis yang dilakukan adalah mengambil beberapa bagian dari beberapa teori lalu menggabungkannya menjadi satu, namun, kita masih dapat melihat bagian-bagian dari masing-masing unsur asal teori itu, misalnya konsep dasarnya, dan sebagainya.</p>
<p>Namun, sintesis sendiri lebih terintegrasi jika dibandingkan dengan sekedar membuat kombinasi. Karena kombinasi sendiri pada dasarnya tidak menggabungkan menjadi satu, namun lebih kepada mengelompokkan beberapa unsur berbeda untuk kemudian berfungsi bersama. Dalam kombinasi justru unsur-unsur yang ada masih jelas terlihat, hanya dipadu padankan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik.</p>
<p>Sedangkan eklektisme tidak begitu.</p>
<p>Menurut Mas Ivan, eklektisme tidak terikat terhadap suatu landasan konsep tertentu, sehingga ketika ada beberapa unsur dari berbagai konsep diintegrasikan menjadi satu, bagian-bagian dari masing-masing unsur tersebut sudah tidak dapat dilihat lagi saking sudah menyatunya menjadi sesuatu yang baru dan berdiri sendiri. Tanpa terikat kepada unsur-unsur asalnya. Dengan tambahan, kita, yang melakukan eklektisme ini sendiri sudah harus paham betul terhadap seluk beluk dari tiap teori yang hendak kita integrasikan, sudah mengevaluasi sampai sangat dalam dalam setiap komponen teori tersebut, positif dan negatifnya, penerapannya, serta segala sesuatunya. Bahasa gampangnya, sudah <em>ngelotok. </em>Sehingga kita tahu mana yang harus kita integrasikan, mana yang tidak.</p>
<p>Ketika usaha saya dalam mencari penjelasan mengenai eklektisme ini dengan menggunakan istilah antropologi akulturasi dan asimilasi, ternyata konsepnya tidak bisa disamakan. Lebih-lebih lagi ketika mencoba menjelaskannya dengan konsep kimia atau eksakta, sekaligus pula ujungnya akan semakin membingungkan saya. Saya, dengan kemampuan kognitif sederhana, akhirnya mencari cara yang lebih sederhana :</p>
<p><em>&#8220;hemm, gini deh ya Mas, misalnya kombinasi yang tadi Mas Ivan bilang itu adalah sejenis cemilan sore hari, maka dia itu adalah </em><strong><em>pisang gencet coklat keju</em></strong><em> menurut gue. Itu kan nama suatu makanan, tapi masing-masing komponennya masih kelihatan jelas lho, kita bisa lihat pisangnya, cokelatnya, dan juga kejunya. Mereka dipadu padankan menjadi suatu jenis makanan baru yang enak lho.&#8221;</em></p>
<p>Mas Ivan mengangguk-angguk.</p>
<p>Saya melanjutkan,</p>
<p><em>&#8221; oke, kalau gitu sintesis, kalau gue bayangkan dia sebagai cemilan sore hari, maka dia itu adalah </em><strong><em>pancake </em></strong><em>Mas! Karena pancake kan sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang mana kita nggak bisa lihat komponen-komponen adonan aslinya kan? Kita nggak bisa lihat telurnya, tepungnya, susunya, dan adonan lainnya. Cuma, kita masih tetap merasakan masing-masing komponen itu, kita masih bisa merasa bahwa ada kandungan susu di dalamnya karena manis, lalu ada sedikit serat dari tepungnya, nah yang bikin ia mengembang dan itu kita tahu adalah telur&#8221;.</em></p>
<p>Mas Ivan tampak setuju. Kemudian saya kembali bertanya</p>
<p><em>&#8220;Terus, kalau eklektisme itu cemilan sore hari, maka dia itu apa dong Mas? Masih nggak ngerti nih&#8221;</em></p>
<p>Mas Ivan kemudian berpikir agak lama. Cantika tidak bisa membantu.</p>
<p>Akhirnya, setelah terdiam agak lama, mas Ivan angkat bicara</p>
<p><em>&#8220;Susah juga kalau makanan ya. Gini aja deh, lo tadi bilang pacaran itu susah, butuh toleransi lah, kompromi lah, komunikasi lah, buat menyatukan dua orang yang sama sekali beda, iya kan? Nah, coba bayangkan bahwa orang yang pacaran itu adalah kombinasi, kemudian yang sudah sampai tingkat bertunangan itu adalah sintesis, dan </em><strong><em>orang yang sudah menikah sekian tahun itu adalah eklektisme</em></strong><strong><em>&#8220;.</em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p>Saya bengong.</p>
<p>Lalu kemudian pembicaraan segera meloncat ke Bruce Lee.</p>
<p>dan saya pun masih kepikiran sampai malam ini.</p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
<p>Daftar Pustaka :</p>
<p>Lesmana, Jeanette Murad. 2006. <em>Dasar Dasar Konseling. </em>Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)</p>
Posted in Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala Tagged: diskusi, eklektisme, quality time <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/385/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/385/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/385/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=385&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/perbincangan-sore-dan-eklektisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deep thoughts (or what&#8217;s left from it)</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/deep-thoughts-or-whats-left-from-it/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/deep-thoughts-or-whats-left-from-it/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 19:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang berbagi sisi melankolis]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang bersaudara dan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Saya berpikir agak dalam malam ini. Tentang banyak hal, tentang konsep diri, tentang teman-teman, tentang kuliah, keluarga, sampai akhirnya, tentu saja masa depan saya nantinya.
Kemampuan berpikir mendalam adalah kemampuan yang tidak pernah saya miliki dari dulu sampai sekarang, menurut saya. Karena berpikir secara mendalam, terutama tentang diri saya, dan masa depan, membuat saya paranoid.
The future [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=382&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saya berpikir agak dalam malam ini. Tentang banyak hal, tentang konsep diri, tentang teman-teman, tentang kuliah, keluarga, sampai akhirnya, tentu saja masa depan saya nantinya.</p>
<p>Kemampuan berpikir mendalam adalah kemampuan yang tidak pernah saya miliki dari dulu sampai sekarang, menurut saya. Karena berpikir secara mendalam, terutama tentang diri saya, dan masa depan, membuat saya paranoid.</p>
<p>The future freaks me out, yes it is.</p>
<p>Hasil dari pemikiran mendalam saya malam ini hanya satu :</p>
<p><strong> Saya kangen sekali dengan Ibu.</strong></p>
<p><strong>- D! -</strong></p>
Posted in Tentang berbagi isi kepala, Tentang berbagi sisi melankolis, Tentang bersaudara dan keluarga Tagged: thoughts <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/382/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/382/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/382/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=382&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/22/deep-thoughts-or-whats-left-from-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca (bagian 2).</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca-bagian-2/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 13:48:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[social networking sites]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[~emo tweet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[(lanjutan ~emo tweet)
SIAPA SAJA YANG TERLIBAT DALAM PEMBUATAN ~EMO TWEET (WHO)
Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja orang yang bisa terlibat dalam produksi ~emo tweet ini? Apakah dari kalangan usia tertentu? Ataukah dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi tertentu? Apakah ada karakteristik tertentu dimana ada orang dengan kepribadian tertentu lebih cenderung untuk memproduksi ~emo tweet? Ataukah pengaruhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=379&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:18.6pt;"><strong>(lanjutan ~emo tweet)</strong></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;color:black;">SIAPA SAJA YANG TERLIBAT DALAM PEMBUATAN ~EMO TWEET (<em>WHO</em>)</span></strong></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:medium;">Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja orang yang bisa terlibat dalam produksi ~emo tweet ini? Apakah dari kalangan usia tertentu? Ataukah dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi tertentu? Apakah ada karakteristik tertentu dimana ada orang dengan kepribadian tertentu lebih cenderung untuk memproduksi ~emo tweet? Ataukah pengaruhnya terletak pada gender? Apa perempuan lebih produktif dalam menghasilkan ~emo tweet bila dibandingkan dengan laki-laki? Sejauh ini memang belum ada penelitian yang meneliti hal ini (atau setidak-tidaknya saya belum berhasil menemukan jurnalnya), namun berdasarkan hasil observasi kecil-kecilan saya, <strong>semua orang bisa saja membuat ~emo tweet. </strong></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:medium;"><strong> </strong>Dengan adanya kenyataan bahwa semua orang bisa saja memproduksi ~emo tweet apa lantas pantas menyebut ~emo tweet ini sesuatu yang salah? Hei, saya tidak pernah bilang ~emo tweet ini salah lho teman-teman. Saya disini hanya mencoba mendeskripsikan sebuah fenomena dan mencoba menguliknya dari sudut pandang saya. Tidak ada yang salah dengan ~emo tweet karena sekali lagi, cara orang mengekspresikan dirinya itu berbeda-beda dan sangat beragam.</span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:medium;">Kembali pada kenyataan bahwa ~emo tweet dapat diproduksi oleh siapa saja, maka teman-teman sekalian, <strong>termasuk juga saya mungkin</strong> (atau pasti?) pernah membuat ~emo tweet karena pada dasarnya toh manusia memiliki berbagai emosi dan makhluk sosial yang membutuhkan tanggapan orang lain, ~emo tweet juga salah satu bentuk komunikasi lho. Yang berbeda adalah kuantitas masing-masing orang dalam menghasilkan ~emo tweet ini. </span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:medium;"><br />
</span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><strong></strong><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;color:black;">BAGAIMANA CARA MENGOLAH ~EMO TWEET? (<em>HOW</em>)</span></strong></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Melihat maraknya fenomena ~emo tweet ini, saya jadi penasaran. Apakah ada cara-cara tertentu untuk mengolah ~emo tweet ini menjadi sesuatu yang lain, atau menarik, sehingga pola di timeline kita tidak itu-itu saja (dan dalam kasus saya, supaya saya tidak ditertawakan oleh teman-teman saya jika ketahuan curcol di situs <em>microblogging</em>). Akhirnya setelah mengulik-ulik dan berdasarkan beberapa kali observasi mendalam sekaligus percobaan langsung di timeline twitter, saya menemukan beberapa cara yang mungkin bisa teman-teman coba untuk membuat variasi terhadap ~emo tweet saat sedang penuh emosi dan di depan mata ada fasilitas online. Jangan sampai terjebak untuk selalu konsisten memprouksi ~emo tweet teman-teman! Berikut cara-cara alternatif ~emo tweet. Jika anda ingin membuat ~emo tweet, maka :</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>1. Jangan online sama sekali (jauhkan semua fasilitas yang memungkinkan anda untuk online)</strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Prinsip utama menghindari munculnya ~emo tweet tentu saja dengan tidak online sama sekali. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, ketika sedang diliputi emosi yang luar biasa dan dihadapkan pada fasilitas online, yang ada saya rasanya ingin memaki-maki dan menumpahkan saja semua yang ada ke dalam situs jejaring sosial tersebut. Keadaan ini tentu saja sesuatu yang dapat merugikan dan dalam titik-titik tertentu ketika emosi kita sudah mereda lalu membaca ulang apa yang kita tuliskan sebelumnya, tidak jarang kita akan merasa menyesal dan malu telah berlaku gegabah seperti itu. Akan sangat lebih baik jika sedang dirundung emosi, sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu, luapkan dulu emosi di tempat lain, lampiaskan pada bantal misalnya (saya kalau lagi marah sekali atau sedih sekali biasanya nangis beralaskan bantal sampai tertidur, menghindari agresivitas terhadap orang lain). jauhkan laptop, hanphone, BB, dan segala fasilitas online lainnya. Atau, supaya masalahnya bisa cepat selesai ya langsung saja dihampiri itu sumber permasalahannya jikalau memungkinkan.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Jika memang terpaksanya teman-teman sekalian tetap harus online saat sedang dirundung emosi, katakanlah saja kegiatan pembelajaran atau pekerjaan teman-teman memang diharuskan berhubungan dengan internet senantiasa, maka sebisa mungkin jauhkan diri dari godaan untuk membuka situs-situs <em>microblogging </em>atau <em>social network </em>apapun. Jauh lebih aman untuk segera membuka blog teman-teman masing-masing, atau curhat lah secara <em>in person </em>kepada teman-teman melalui fasilitas YM, MSN, dan BBM.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>2. Samarkan ~emo tweet dengan mengutip lirik lagu atau <em>quote(s) </em>inspiratif</strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Oke, saya akui, tips yang pertama memang agak sulit untuk direalisasikan mengingat masing-masing dari kita sekarang ini selalu dikelilingi oleh internet dimanapun dan kapanpun kita berada. Oleh karena itulah saya menghadirkan tips berikutnya dalam menghindari jebakan ~emo tweet. Tips yang ini cukup mudah dan elegan, dalam beberapa kesempatan bahkan dapat menghadirkan kesan bijak  dan cerdas. Carilah lagu yang sesuai dengan keadaan emosi saat itu, lalu segera tuliskan potongan liriknya di timeline twitter atau plurk teman-teman sekalian. Misalnya, saat saya sedang bingung ngga tahu lagi apa yang harus saya lakukan dan semangatnya agak-agak menurun, maka saya akan tuliskan potongan lirik &#8216;Let It Be&#8217; dari The Beatles.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Selanjutnya adalah dengan cara mencari <em>quote-quote </em>inspiratif. Ah kalau yang satu ini saya yakin teman-teman juga sudah lihai alam melakukannya. <em>Quote </em>ini bisa diambil dari mana saja, baik filsuf jaman dahulu kala ataupun dari film dan buku terbaru abad ini. Saya sendiri juga senang mengutip kata-kata yang diucapkan oleh teman-teman saya, misalnya saja salah satunya dari <a href="http://ssaturdaysunday.wordpress.com/">Smita Prathita</a>, yang mengatakan <em>&#8220;<strong>gampang cinlok boleh, gampang mentok jangan</strong>&#8220;. </em>Menurut saya pribadi, dibandingkan tips-tips berikutnya yang akan saya berikutnya, tips nomor dua ini adalah yang tingkat kesulitannya paling mudah untuk dikerjakan karena tinggal &#8216;gunting tempel&#8217; dari berbagai sumber. Jangan lupa untuk senantiasa mencantumkan sumbernya.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><em><br />
</em></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>3. Jangan lupakan prinsip, &#8216;<em>less is always more&#8217;</em></strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Tips selanjutnya ini sebetulnya cukup mudah dan sangat ringkas untuk dilakukan. Hanya saja, kita seringkali terjebak dengan sesuatu yang sangat singkat ini sehingga kata-kata yang sangat singkat seringkali mengandung muatan emosi yang berlebih. Prinsip <em>less is always more </em>ini dapat diterapkan dengan cara sekedar menuliskan smiley yang menggambarkan perasaan saat itu, atau sepatah dua patah kata yang menggambarkan kondisi emosi saat itu. Misalnya kalau lagi marah, ya cantumkanlah smiley marah atau memble (tapi kece) seperti <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  atau kalau sedih :&#8217;( </span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-size:small;">Sedangkan u</span><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:small;">ntuk penggunaan sepatah dua patah kata juga sebaiknya perhatikan pemilihan katanya. Seringkali karena terlalu emosi, kita menggunakan pilihan kata yang tidak enak dilihat, misalnya kata-kata kasar. Hal ini mengurangi ke-eleganitas-an dari tweet kita teman-teman (serius ya, saya bahkan nggak tahu apakah benar-benar ada istilah &#8216;eleganitas&#8217;). Saya sendiri, berhubung memiliki resolusi tahun 2009 untuk mengurangi penggunaan kata-kata kasar dalam interaksi sehari-hari, lebih suka mencari subtitusi dari kata-kata kasar yang sering digunakan orang sebagai makian. Misalnya, kata-kata seperti &#8220;a***ng!&#8221; atau &#8220;b**i!&#8221; akan saya subtitusi menjadi &#8220;kecebong!&#8221; atau &#8220;kardus!&#8221;. Tips ini terinspirasi oleh kebiasaan interaksi beberapa teman saya yang polanya aneh, tapi menyenangkan, seperti <a href="http://www.continuetosurrender.blogspot.com/"> Muhammad Nuradi Akhsan</a> psikologi 2002 dan Nova Jono psikologi 2004. Selain itu, salah satu cara penggunaan prinsip kata-kata singkat ini yang menarik juga datang dari seorang teman saya, <a href="http://ramdaffe.wordpress.com/">Ramda Yanurzha</a>, yang menggunakan hanya huruf &#8216;F&#8217; saja untuk memperhalus &#8216;F**k&#8217;. Walaupun sebetulnya toh kita semua juga tahu maksudnya apa, setidaknya kan terdengarnya lebih santun ( tadinya saya mau pilih kata-kata &#8216;manis&#8217;, takut orangnya protes). Kata-kata lain yang bisa dipilih antara lain : <em>&#8220;ah gempa deh ini&#8221;</em> atau &#8220;<em>badai&#8221;. </em>Oke, saya akui yang kata-kata yang terakhir itu luar biasa,</span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:small;">norak.</span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:small;"><br />
</span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>4. Buatlah analogi dan pantun</strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Ha, yang satu ini adalah sesuatu yang sedang saya pelajari lebih lanjut, karena menarik sekali. Tips ini tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan tips-tips sebelumnya karena memerlukan kemampuan abstraksi dari masing-masing orang. Teman-teman saya sendiri sepertinya sangat lihai untuk menggunakan hal ini. Saya mungkin tidak dapat menuliskan semuanya, namun beberapa bisa teman-teman simak di tulisan saya sebelumnya yang berjudul <a href="http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/16/demam-analogi/"> &#8220;Demam Analogi&#8221;</a> untuk melihat bagaimana contoh penggunaan analogi yang piawai dan mengandung humor-humor segar yang menghibur. Dengan menggunakan analogi, curhatan kalian tidak akan terlihat gamblang dan polos, namun mengandung sedikit ambiguitas. Menurut saya sendiri ambiguitas ini bisa menguntungkan, biasanya yang bikin penasaran itu yang asik :p</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif;font-size:small;">Masalah pantun ini juga sebetulnya menarik, namun penggunaan pantun ini digunakan jika kalian ingin mengubah sesuatu yang menekan menjadi sesuatu yang berlandaskan humor (walau terkadang norak dan kampungan). Saya sendiri beberapa kali menggunakan cara-cara ini. Misalnya, untuk <em>stressor </em>UTS, saya membuat pantun <em><strong>&#8220;jalan ke magelang sambil kayang, UTS menjelang semua mabuk kepayang&#8221;. </strong><span style="font-style:normal;">Percayalah, saya juga tahu bahwa ini garing luar biasa. </span>The name so called effort (</em>namanya juga usahaaaaa). Mungkin teman-teman yang tidak sekampungan saya bisa mempunyai pasokan pantun yang jauh lebih berkualitas daripada punya saya.</span></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:x-small;"><span style="font-family:Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif;font-size:small;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>5. Buatlah sebuah karya sastra</strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Karya sastra yang saya maksud disini bukanlah suatu novel atau puisi yang sangat berbobot. Namun lebih kepada sesuatu yang mengandung kata-kata yang berima, enak dibaca, dan analogi-analogi yang menggunakan majas-majas. Saya sendiri merasa saya tidak terlalu pintar bermain dengan kata-kata seperti ini, saya rasa adik saya yang kuliah di fakultas sastra mungkin lebih fasih bermain dengan kata-kata. Sebetulnya tidak perlu kata-kata yang terlalu rumit juga, tapi sesuatu yang bisa membuat orang agak terdiam waktu membacanya. Sekali lagi, sedikit berpikir dan mencerna ambiguitasnya. Karena untuk yang satu ini dibutuhkan kemampuan yang cukup tinggi, saya rasa tidak banyak orang yang bisa membuat curhat colongan dengan kata-kata indah tanpa terdengar terlalu murahan. Ada satu yang bisa saya jadikan contoh yang berasal dari teman saya Ayura Pramadhita, Psikologi Atmajaya, 2006. Ia membuat kata-kata yang membuat saya kaget saat ia membicarakan soal pacarnya <a href="http://davinfabian.blogspot.com/"> Davin Fabian </a>, yang sedang menuntut ilmu IT di Taiwan dengan giatnya. Pasalnya, (tsaaah), teman saya yang satu ini sangat cuek dan tidak pernah bergelut dengan dunia &#8216;<em>kemenye-menyean&#8217;. </em></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><em> </em>Berikut kata-katanya saya kutip : &#8220;<em>He, the color-blind man, has colored my world so brilliantly.&#8221;</em></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Saya pikir ini sangat manis, tanpa terkesan murahan. Maksudnya pun tersampaikan. Pacarnya pasti senang <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><br />
</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>5. Buatlah penyebab ~emo tweet kalian itu sebagai suatu games atau permainan</strong></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Nah, buat saya yang tips yang terakhir ini sangatlah menghibur. Selain bisa menyalurkan emosi dan meringankan tekanan yang dialami, cara yang terakhir ini menurut saya juga menyenangkan sekali, karena melibatkan partisipasi dari orang lain. Buatlah sumber tekanan yang kalian alami menjadi sesuatu yang menyenangkan walaupun sulit. Kalau masih belum terbayangkan juga caranya, mari saya coba berikan contoh dari pengalaman saya sendiri. Waktu itu saya sedang pusing-pusingnya dengan skripsi karena siang sebelumnya saya habis bertemu dengan pembimbing skripsi dan jalan berpikir yang saya pikir sudah cukup saya rancang sedemikian rupa ternyata harus diputar balik dan diulang lagi kerangka berpikirnya dari awal. Belum lagi tambahan tugas membaca begitu banyak literatur yang saya sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Ini masalah klise, kalau kata orang yang sudah pernah menyusun skripsi. Saya pun bingung harus curhat ke siapa, dan bagaimana mulainya. Karena saya juga tahu teman-teman sepenanggungan saya juga pasti sama pusingnya dengan saya.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Jadi, daripada berpusing-pusing tanpa ada juntrungannya, saya pun melakukan sebuah permainan kecil dengan teman-teman di twitter. Hanya dengan melontarkan pertanyaan <em>&#8220;setelah skripshit, skripsay, dan skriptease, menurut kalian nama apa lagi yang bisa kita gunakan untuk menyebut dia-yang-namanya-tak boleh-disebut?&#8221;. </em>Selanjutnya, saya luarbiasa terhibur dengan jawaban teman-teman saya :</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Nahlia, alias Ai menjawab :</strong> SkripSIP! supaya SIP ngerjainnya!</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Muelita, alias Muel menjawab :</strong> Skripililii *dengan logat Dulce Maria* kemudian disambung dengan SkriPLONG (plong kalau udah selesai)</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>CatjaCatja, alias Caca menjawab </strong>: Skripik singkong! *garing ya gue? hehe..*</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;"><strong>Keindafauri, alias Keinda menjawab : </strong>Skripping, untuk Skipping sekaligus Tripping</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">dan <strong>Devaina, alias Devina menjawab : </strong>SkriPEACE! biar damai selama ngerjain <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">Menghibur bukan?</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:small;">selain meringankan beban pribadi, mudah-mudahan juga bisa menghibur hari orang lain. hahaha.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;">
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span><span style="font-family:Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif;">Sekian dulu tips mengolah ~emo tweet dari saya. Sejauh ini saya hanya bisa menemukan 5 alternatif bentuk dari ~emo tweet. Kalau sekiranya teman-teman bisa menemukan alternatif-alternatif lain yang menghibur dan kreatif, ditunggu lho sumbangsih ide-nya.</span></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span><span style="font-family:Georgia, 'Times New Roman', 'Bitstream Charter', Times, serif;"><br />
</span></span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><strong></strong><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:&quot;color:black;">MENGAPA ~EMO TWEET SEBAIKNYA DIOLAH TERLEBIH DAHULU? (<em>WHY</em>)</span></strong></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;font-size:medium;">Saya tahu dalam jurnalistik pertanyaan <em>WHY </em>muncul sebelum pertanyaan <em>HOW</em>. Dalam kehidupan akademis saya sehari-hari membuat laporan penelitian atau pembuatan suatu asesmen tertentu pertanyaan utama yang selalu diungkapkan adalah <em>WHY? </em>atau kenapa saya harus membuat penelitian ini, apa urgensinya, apa gunanya. Berkaitan dengan topik ~emo tweet ini perlu dipertanyakan juga kenapa ~emo tweet harus diolah sedemikian rupa. Yah, selain supaya menambah variasi supaya tidak bosan, alasan kenapa ~emo tweet harus diolah terlebih dahulu sebetulnya sudah saya ungkapkan di tulisan saya sebelumnya yang saya cantumkan di atas. Karena menurut saya tetap saja, &#8220;<strong><em>mulut-mu harimau-mu&#8221; </em><span style="font-weight:normal;">dalam hal ini tentu saja <em>&#8220;</em></span><em>update status-mu, harimau-mu&#8221;. </em></strong></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Selain itu, biasanya setelah kita ngomong sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, mulailah <em>reinforcement </em>sosial yang bertindak. Dimana jika lingkungan sosial kita menyatakan pembenaran dan persetujuan terhadap hal ini, kita bisa saja semakin tersugesti untuk menganggap bahwa apa yang kita ungkapkan, atau kita rasakan itu benar, tanpa kita telaah dulu lebih lanjut. Dalam hal ini, emosi negatif yang kita tuangkan dalam situs jejaring sosial yang kemudian direspon oleh teman-teman kita, walaupun sekedar respon kecil seperti bertanya &#8220;ada apa?&#8221; dapat menjadi suatu penguatan bagi kita untuk kemudian terus mengadu, dan mengeluh mengenai emosi negatif tersebut. Akhirnya, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu buruk akan terasa lebih buruk daripada yang seharusnya. Sekali lagi, ~emo tweet itu sangatlah manusiawi, namun kita perlu juga memikirkan perkembangan diri kita dan mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang lain untuk meringankan itu semua.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;">
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Saya sendiri, masih berlatih untuk memilih curhat <em>in person </em>saja.</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;">Bagaimana dengan kalian?</span></span></p>
<p style="line-height:18.6pt;">
<p style="line-height:18.6pt;"><span style="font-family:Georgia, serif;"><span style="font-size:medium;"><strong>- D! -</strong></span></span></p>
Posted in Tentang berbagi isi kepala Tagged: social networking sites, twitter, ~emo tweet <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/379/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/379/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/379/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=379&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca.</title>
		<link>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca/</link>
		<comments>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 11:04:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheasekararum</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang berbagi isi kepala]]></category>
		<category><![CDATA[microblogging]]></category>
		<category><![CDATA[social networking sites]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>
		<category><![CDATA[~emo tweet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dheasekararum.wordpress.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[Oke, pertama-tama saya beritahukan bahwa tulisan ini lagi-lagi ada hubungannya dengan beberapa tulisan saya sebelumnya, yaitu &#8220;Social Site&#8217;s Disclosure itu Adiktif dan Bisa Jadi Destruktif&#8221; dan juga tulisan saya yang  &#8220;Panggung Sandiwara&#8221;. Jadi kalau teman-teman sebelumnya sudah pernah mampir dan membaca tulisan saya itu mungkin sedikit banyak sudah mengerti bagaimana saya memandang fenomena yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=376&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oke, pertama-tama saya beritahukan bahwa tulisan ini lagi-lagi ada hubungannya dengan beberapa tulisan saya sebelumnya, yaitu<a href="http://dheasekararum.wordpress.com/2009/07/13/social-sites-self-disclosure-itu-adiktif-dan-bisa-jadi-destruktif/"> &#8220;Social Site&#8217;s Disclosure itu Adiktif dan Bisa Jadi Destruktif&#8221;</a> dan juga tulisan saya yang <a href="http://dheasekararum.wordpress.com/2009/08/30/panggung-sandiwara/"> &#8220;Panggung Sandiwara&#8221;</a>. Jadi kalau teman-teman sebelumnya sudah pernah mampir dan membaca tulisan saya itu mungkin sedikit banyak sudah mengerti bagaimana saya memandang fenomena yang menurut saya menarik ini. Kalau yang belum pernah mampir, saya pikir nggak ada buruknya untuk menilik-nilik supaya agak berkesinambungan gitu lho isunya hehe.</p>
<p>Oke, di kedua tulisan saya tersebut intinya saya menggambarkan bagaimana cara orang menuliskan update status mereka dalam situs yang menyediakan fasilitas <em>microblogging</em> itu memiliki beberapa dampak yang &#8216;lucu&#8217; terhadap diri mereka maupun lingkungannya (yah, dalam hal ini, tentu saja saya juga). Lalu berikutnya saya akan menjelaskan situasi saya. Begini, lingkungan saya, (baca: teman-teman yang biasa menjadi teman saya dalam berinteraksi sehari-hari) adalah sekelompok orang yang menganggap fenomena ini &#8216;lucu&#8217;, dalam artian, jika saya melakukan <em>update status </em>semacam itu di beberapa situs <em>microblogging, </em>mereka nggak akan segan-segan menertawakan saya atau membuat saya menjadi bahan olok-olok daripada kemudian menunjukkan sisi afeksi mereka dan  sekedar bertanya &#8220;ada apa dhea? cerita dong sini yuk&#8221;. Jangankan di status <em>microblogging sites, </em>bahkan beberapa teman saya yang laki-laki tidak segan-segan untuk langsung tertawa lebar-lebar dengan jumawa jika melihat status Yahoo Messenger saya agak cenderung menuju ke arah sedikit melankolis. Mereka memang kasar. Maksud mereka tentu saja baik, bukan sekedar mengolok-olok saya. Pesan yang mereka coba sampaikan adalah, lebih baik curhat <em>in person </em>saja, dibandingkan curhat colongan (yang kemudian jelas-jelas ketauan) di <em>social networking sites </em>yang mana kita tidak bisa mengontrol siapa-siapa saja yang akan membacanya dan juga interpretasi macam apa yang bisa disimpulkan oleh orang yang membaca tersebut. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dikontrol yang nantinya bisa menjadi senjata makan tuan kalau disalahgunakan.</p>
<p>Kemudian, disini saya akan memperkenalkan sebuah istilah baru, yang biasa saya dan teman-teman saya sebut sebagai <strong>&#8220;~emo tweet&#8221;. </strong>Jika kalian lihat sebelum kata <em>emo </em>ada buntutnya di depan, kenapa begitu? Karena pengucapan frase ini dilakukan dengan cara yang paling mengganggu dengan suara yang paling mengganggu juga, suara sok-sok bindeng radio gitu. Frase ini biasanya akan tercetus jika salah satu dari kami kedapatan menuliskan <em>tweet </em>yang bernada curhat colongan, dan cenderung ketahuan siapa yang dimaksud alam curhatan tersebut. Nada pengucapannya adalah panjang dan naik di ujung frase, ingat dengan suara sok di bindeng2in, &#8220;~emo tweeeeeeet&#8221; gitu. Seperti ikut kuis lalu jawaban anda salah dan bel pun berbunyi ~TETOOOOT!. selanjutnya, mari kita kupas lebih lanjut mengenai apa emo tweet ini. Saya akan mencoba untuk menggunakan gaya pembahasan 5W1H supaya lebih semarak.</p>
<p><strong>SEPERTI APA YANG DIKATEGORIKAN SEBAGAI ~EMO TWEET ITU? (<em>WHAT)</em></strong></p>
<p>Membicarakan ~emo tweet tentu kita perlu tahu sejauh mana batasannya sebuah tweet dikategorikan sebagai ~emo tweet. Seringkali sulit untuk membuat batasan operasional mengenai ~emo tweet ini. Selain karena cara orang dalam menuliskan <em>tweet</em>- nya memang luarbiasa beragam, tentu saya dan teman-teman saya juga tidak memiliki waktu luang sebanyak itu untuk kemudian merumuskan <em>behavior indicator </em>lalu membuat operasionalisasi dari konsep ini (emangnya kuliah KAUP? hahaha). Hemm kalau menelisik dari istilah harfiahnya saja, sebenernya saya dan teman-teman mencetuskan konsep ini terinspirasi dari musik emo. Suatu aliran musik yang lirik maupun iramanya berisikan emosi yang meluap-luap dan dibawakan dengan tidak kalah ekspresifnya pula. Menurut Wikipedia, <strong>Emo</strong> (pengucapan <span style="font-family:inherit;" title="Pronunciation in the International Phonetic Alphabet (IPA)">/ˈiːmoʊ/</span>, singkatan untuk <em>emotional music</em><sup><a style="text-decoration:none;color:#002bb8;background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;background-position:initial initial;" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Emo#cite_note-0">[1]</a></sup>) adalah gaya musik <a style="text-decoration:none;color:#002bb8;background-image:none;background-repeat:initial;background-attachment:initial;background-color:initial;background-position:initial initial;" title="Rock" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Rock">rock</a> dengan ciri khas musik yang melodius, disertai lirik yang ekspresif dan berisi pengakuan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ~emo tweet disini adalah tweet yang dipenuhi muatan emosi yang berisikan pengakuan. Intinya sih <strong>curhatan </strong>di depan publik melalui media situs <em>microblogging.</em></p>
<p>Sebagai gambaran lebih jelasnya lagi, berikut beberapa contoh ~emo tweet yang bisa saya rangkum untuk anda, beberapanya adalah tweet-tweet yang :</p>
<p><strong>a</strong>. menyuarakan amarah dan cenderung memasukkan unsur kata makian, dan tidak lupa tanda baca imperatif : &#8220;<em>ah babi. nyebelin banget sih itu orang dasar gatau diri!!</em>&#8220;</p>
<p><strong>b</strong>. menyuarakan rasa kangen atau emosi melankolis lainnya : &#8220;<em>ohh i wish my dearest was here, i can blalalala&#8221;</em></p>
<p><em><strong>c</strong>. </em>menyuarakan rasa putus asa dan lelah dalam menjalankan segala sesuatunya, biasanya disertai penambahan simptom-simptom penyakit : <em>&#8220;rasanya sesek kaya nggak bisa napas, gatau harus gimana lagi&#8221; </em>atau sesuatu yang lebih singkat, seperti &#8220;<em>mau mati aja! kenapa semuanya salah gue??!!&#8221;</em></p>
<p><strong>d</strong>. menyuarakan rasa protes terhadap keadaan sekitar (seringkali disuarakan dengan bahasa asing) : <em>&#8220;God! I thought you alway know the best for me, do you consider this as the best for me??!&#8221; </em>atau kadang rasa protes disuarakan dengan kalimat-kalimat pengandaian &#8220;<em>seandainya gue punya kesempatan kedua untuk perbaikin semuanya&#8221;</em></p>
<p>Oke, segitu dulu contoh yang paling sering muncul. Sudah mulai dapat gambarannya? Kalau sudah, bagus. Kalau belum juga, mari saya bantu sederhanakan polanya. Intinya, tweet-tweet ini adalah jenis tweet yang mengundang perhatian orang dan &#8216;minta ditanya&#8217;, butuh dukungan sosial dan asupan afeksi dari pembacanya. Baik sengaja ataupun tidak, tweet2 seperti ini pada umumnya mengundang pertanyaan seperti &#8220;<em>ada apa sih ? cerita2 dong yuk. nanti dibantuin deh&#8221;. </em>Sebagai tambahan, ~emo tweet seringkali muncul dalam konteks hubungan romantis antar pasangan. Nah, makin seru kan.</p>
<p><strong>DIMANA SAJA ~EMO TWEET DAPAT BERMUNCULAN? (<em>WHERE)</em></strong></p>
<p>Pertanyaan selanjutnya, dimanakah biasanya ~emo tweet ini berceceran? Saya sendiri berpendapat bahwa walaupun namanya ~emo tweet, namun hal ini tidak lantas khusus berlaku hanya pada situs twitter saja, namun juga berlaku di semua situs <em>social network </em>manapun, khususnya yang menyediakan fasilitas <em>micro blogging </em>dan menstimulasi kita untuk membuka diri kita, menyampaikan pikiran, kegiatan sehari-hari kita, sekaligus pula perasaan kita. Status facebook, plurk, koprol, dan sebagainya adalah beberapa situs yang rentan sekali terhadap kemunculan fenomena ini. Kalau di plurk kita bisa sebut sebagai ~emo thread kali ya? Hehe. Mungkin teman-teman bisa mencermati lebih lanjut.</p>
<p><strong>KAPAN BIASANYA ~EMO TWEET BERMUNCULAN/WAKTU EFEKTIF MUNCULNYA (<em>WHEN</em>)</strong></p>
<p>Hal yang menarik lagi untuk dicermati adalah bahwa ~emo tweet ini memiliki waktu-waktu produktifnya untuk bermunculan. Kalau saya perhatikan, ~emo tweet sangat jarang muncul di atas jam 10 pagi, jarang juga muncul di siang hari (kecuali saat udaranya betul-betul panas dan memang secara objektif memancing munculnya berbagai emosi). Waktu-waktu produktif kemunculan ~emo tweet seringkali adalah di atas jam 12 malam, atau dini hari. Dimana ketika suasana mulai sepi, mulai jarang yang <em>tweeting </em>atau <em>plurking </em>disitulah waktu produktif ~emo tweet muncul. Waktu-waktu lainnnya mungkin adalah menjelang jam subuh, ketika ayam pada umumnya berkokok (ayam di rumah saya sih seringnya berkokok jam setengah 3 pagi, dia memang anomali, jadi jangan dihitung). Oh, iya. Waktu lain yang sangat signifikan untuk diperhatikan sebagai waktu produktif munculnya ~emo tweet adalah <strong>malam minggu </strong>sodara-sodara. Entah kenapa malam minggu ini menyebabkan semacam atmosfer dan wabah untuk menjadi resah gelisah dan gundah gulanah, oleh karena inilah ~emo tweet di malam minggu semakin bertebaran. Seperti panen raya.</p>
<p><strong>(bersambung ke posting selanjutnya)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
Posted in Tentang berbagi isi kepala Tagged: microblogging, social networking sites, twitter, ~emo tweet <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dheasekararum.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dheasekararum.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dheasekararum.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dheasekararum.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dheasekararum.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dheasekararum.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dheasekararum.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dheasekararum.wordpress.com/376/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dheasekararum.wordpress.com/376/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dheasekararum.wordpress.com/376/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dheasekararum.wordpress.com&blog=4196760&post=376&subd=dheasekararum&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dheasekararum.wordpress.com/2009/10/21/mengolah-emo-tweet-agar-enak-dibaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/860744020146a81e3e0833599dc0171f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dheasekararum</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>