dheasekararum

I am from..(Saya adalah dari..)

In Tentang bertugas on November 4, 2009 at 12:07 am

sebelumnya, mari saya jelaskan dahulu bahwa tulisan di bawah ini merupakan tugas saya untuk mata kuliah psikologi konseling. Berikut instruksi tugasnya :

Tujuan dari latihan ini adalah agar anda dapat melakukan self-disclosure sambil mengembangkan kreativitas emosi anda.
Ceritakanlah keadaan diri/ penghayatan anda sendiri dengan memakai kata-kata deskriptif yang menggambarkan perasaan dan penginderaan anda (sentuhan, penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa) dalam hal-hal berikut:

Paragraf 1: makanan favorit
Paragraf 2: pesan yang terus-menerus anda dengar dari orang tua
Paragraf 3: tradisi/ kejadian istimewa
Paragraf 4: seseorang yang menarik/ spesial yang anda kenal
Paragraf 5: suatu tempat di mana anda merasa aman dan damai
Paragraf 6: sesuatu item/ barang spesial yang tidak pernah akan anda berikan kepada
orang lain dan yang akan anda simpan sepanjang masa
Paragraf 7: sesuatu yang terjadi setiap hari
Paragraf 8: pemandangan yang selalu anda lihat setiap dalam perjalanan anda ke kampus/
tempat kerja
Paragraf 9: suatu tempat yang ingin anda datangi kembali (misalnya tempat berlibur, mal,
negara lain,dll)
Paragraf 10: sisi positif diri anda
Paragraf 11: sisi negatif diri anda
Paragraf 12: yang anda inginkan dalam hidup

Contoh paragraf 1 dalam bahasa Inggris:

I am from the sweet aroma of cranberry sauce that sits beside soft mashed
potatoes with tender seasoned turkey, and steaming stir-fried vegetables, drizzled
in warm gravy

Saya adalah dari harumnya fish and chips yang membuat perutkeruyukan.
Tekstur ikan halibut yang lembut warnanya yang putih membuat air liur
bercucuran. Ketang goreng yang crispy tetapi digigit lembut di dalam, membuat
pikiran melayang-layang untuk segera menikmatinya.

Contoh paragraf 9:

Saya adalah dari birunya langit yan disinari matahari lembut dan tiupan angin segar di pagi hari di Banff – suatu kota kecil yang sangat cantik di dalam lembah di antara bukit-bukit hijau. Jalanannya yang bersih dengan pot-pot bunga warna-warni menyentuh hati, memberikan rasa kedamaian dan ketentraman yang mendalam di hati.
———————————————————————————————————————————————–

Ini hasilnya :

Saya adalah dari lembutnya kue tiramisu yang dibuat oleh patissier dengan komposisi adonan yang seksama sehingga bentuknya yang unik pasti akan menggoda siapapun untuk mencicipinya. Paduan coklat yang manis dengan krimnya yang lembut akan membuat lidah siapapun bergoyang saat akhirnya memutuskan untuk mencicipinya. Saat mencicipi pun perlahan akan ditemukan rasa baru, pahitnya taburan bubuk kopi dan segarnya campuran susu yang menambah rasa baru dalam kue tersebut, menghadirkan kombinasi yang tepat untuk dikonsumsi.

Saya adalah dari kemandirian yang ada untuk tidak bergantung kepada orang lain dalam hal apapun. Rasa aman ketika dapat melakukan sesuatu tanpa harus tergantung atas kehadiran orang lain tersebut pada titik-titik tertentu member kepercayaan diri dan ketenangan. Melangkah kemana saja terasa mantap, namun tentu saja tidak dibiarkan terbawa dengan rasa takabur. Perasaan ringan tanpa harus membebani orang lain selama masih bisa dikerjakan sendiri.

Saya adalah dari membuncahnya smangat dan rasa ingin tahu saat menerima kado di hari ulang tahun kita. Melihat bentuk-bentuk yang tersamar dalam warna-warni bungkusnya yang menyenangkan dan semakin menggemaskan untuk dibuka agar segera tahu apa isinya. Lalu tiba saatnya membuka bungkusannya. Saat tangan berhati-hati untuk membuka kertas kado tersebut, selapis demi selapis. Pada robekan pertama mulai menebak apa isinya, namun tidak dapat terburu-buru agar tidak merusak yang ada di dalamnya. Pada robekan berikutnya, kita mulai mengintip apa yang ada di baliknya. Membuat rasa ingin tahu semakin meningkat untuk segera menguak seutuhnya walau terkadang bentuk awal bungkusan dapat menipu mata kita mengenai apa yang sebenarnya ada di dalamnya.

Saya adalah dari kuatnya rasa pantang menyerah (almarhumah) ibu saya. Walaupun terkesan keras dalam bicara dan cenderung temperamental, sbetulnya pesan yang ingin coba ditunjukkan adalah benar halnya dalam menjalankan hidup. Celotehan cerewetnya mengantarkan anak-anaknya mencapai mimpi-mimpi mereka. Sikap paniknya membuat kita semua terhibur walau sempat senewen juga.

Saya adalah dari luruhnya semua rasa dan rahasia ketika bersimpuh di atas sajadah untuk  bersujud di hadapan yang maha kuasa. Ketika itulah kesunyian adalah satu-satunya cara selain doa untuk mengungkap semua emosi dan sesuatu yang tidak dapat disampaikan lewat kata lewat berbagai media. Harapan demi harapan dengan segala kerendahan hati diutarakan kepada yang maha kuasa, saat itulah rasa bebas untuk bercerita, mengeluh, tertawa, bahkan menangis saat di tempat lain hal-hal semacam ini belum tentu dengan bebas dapat dilakukan.

Saya adalah dari heningnya sebuah lembaran foto, yang didalamnya menyimpan begitu banyak cerita. Begitu banyak hal yang tidak bisa disampaikan lewat kata, atau setidak-tidaknya belum mampu untuk disampaikan. Ketika foto menyampaikan cerita dan sejumlah emosi berharga, tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Ketika sebuah lembaran foto tanpa sadar membuat anda kembali mengenang, kembali menguak cerita dan mengungkapkan diri anda, sekali lagi tanpa harus terlalu banyak berkata-kata. Karena sesungguhnya dalam diamnya selembar foto, tersembunyi banyak pula informasi yang terkandung di dalamnya.

Saya juga adalah dari sinar matahari yang selalu hadir di setiap pagi. Mencoba menyapa setiap manusia sambil mengantarkan secercah semangat untuk menjalani hari. Walaupun terkadang dalam keadaan tertentu sinarnya terlalu panas, namun dengan hangatnya ia mencoba untuk meraih semua makhluk, bercengkrama dengan ramah mencari celah untuk menelisip masuk hingga ke balik bayangan-bayangan gelap. Namun, ada pula saatnya sinar matahari harus beristirahat, karena lelah mengelilingi hari dan berganti peran dengan sang bulan.

Saya adalah dari cepatnya laju kereta listrik yang setiap harinya hillir mudik pada jalurnya sendiri. Setiap harinya singgah dari satu tempat ke tempat lain, walau sesungguhnya polanya telah ditentukan. Meski polanya sudah ditentukan setiap harinya, namun petualangan yang dibawa tentu selalu berbeda karena penumpang yang dibawanya berbeda-beda dengan cerita yang beragam pula. Dinamisnya kereta tersebut tidak luput dari usahanya untuk senantiasa memelihara kerendahan hati dan kesederhanaan di dalamnya, saat kereta dengan setia mengantarkan mereka yang berkepentingan mencapai tempat tujuannya, demikian pula saat kereta menyediakan tempat bagi mereka yang membutuhkan rupiah untuk mengisi perut masing-masing, saat kereta menjadi obsever yang baik dan menyajikan potret kehidupan paling actual tentang hiruk pikuk kehidupan kota.

Saya adalah dari indahnya pantai dengan semilir anginnya yang membius. Riak-riak ombak kecil yang dengan riang menyapu bibir pantai seolah-olah membujuk kita untuk bermain-main bersama terlepas dari penatnya diri atas segala kesibukan yang ada di sekitar. Berjalan di atas pasir putihnya dengan kaki telanjang tentu menenangkan dan berbeda dengan rutinitas sehari-hari berlari-lari mengejar bis kota atau duduk dibalik kemudi dan menempuh perjalanan ke tempat kerja. Cuacanya yang terik juga mengajak kita untuk menikmati hari hingga senja dan tiba saatnya untuk memperhatikan tenggelamnya matahari di cakrawala.

Saya adalah dari luasnya rasa ingin tahu dan keterbukaan diri terhadap sesuatu yang baru. Fleksibilitas dalam penerimaan sesuatu yang baru yang mengantarkan manusia ke tempat-tempat baru yang bahkan belum pernah terbayangkan oleh individu itu sendiri. Membuat jantung berdebar dan otak bergrak cepat, kritis dalam menganalisis, sekaligus takjub terhadap segala sesuatunya yang terjadi di sekitar. Mengandung sedikit rasa takut dan berdebar-debar mengingat banyak sekali hal di luar sana yang menunggu untuk disingkap.

Saya adalah dari mengganggunya rasa tidak percaya diri yang seringkali membatasi diri dalam meraih mimpi-mimpi. Kecemasan tidak beralasan dan perasaan ketidakmampuan diri yang membuat orang kemudian menyembunyikan diri dari sesuatu yang mereka sebut diri sendiri. Rasa lemah yang mngecilkan diri sendiri dan tidak berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Membuat rentang antara tempat tujuan dan dimana kita berdiri menjadi semakin jauh dan terhalangi.

Saya adalah dari tidak terdefinisikannya sebuah perasaan bahagia. Saat semuanya terasa cukup, tidak kurang tidak lebih. Saat senyum mengalir dari dalam dada, bersyukur terhadap semua yang ada, tanpa perlu merasa terlalu khawatir tentang hari esok. Rasa ringan saat memandang dan menghadapi segala sesuatu dengan ikhlas. Ketika damainya individu dapat berkata, rintangan selalu ada, oleh karena itu Tuhan ciptakan pula jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita mencarinya untuk mencapai bahagia.

jangan pada pingsan ya

- D! -

Silly thing(s) to fall for

In Tentang beragam hari, Tentang berbagi isi kepala on November 1, 2009 at 11:39 pm

Atau, dalam bahasa indonesia, diterjemahkan menjadi ‘hal konyol untuk ditaksir’.

Teman-teman pernah punya pengalaman naksir atau setidak-tidaknya tertarik dengan lawan jenis karena hal-hal sederhana? Hal-hal yang biasanya bukan merupakan variabel yang penting dalam pertimbangan mencari pasangan; Bukan hal-hal seperti keahlian yang dapat dilakukan oleh lawan jenis tersebut, bukan pula kepintarannya, bukan pula latar belakang pendidikannya, bahkan bukan pula latar belakang ekonomi orangtuanya (yah setidaknya setahu saya hal-hal inilah yang umumnya menjadi pertimbangan kita dalam memilih pasangan, atau setidak-tidaknya untuk naksir dengan lawan jenis).

Hal-hal sederhana yang saya maksud di sini merupakan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak terpikirkan oleh kita, dan biasanya terjadi begitu saja. Oleh karena itu seringkali merupakan sesuatu yang konyol, nyaris bodoh. Hal-hal serupa seperti yang ada dalam adegan film The Ugly Truth ketika pemeran utama wanita terperangah dan tergelitik sedikit hatinya saat pemeran utama pria memesan ‘air keran’ di sebuah rumah makan, yang mana hal tersebut sama seperti kebiasaannya, dan sebelumnya ia selalu dianggap aneh karena mempermasalahkan bahwa memesan air keran pada dasarnya sama saja dengan memesan air mineral dalam kemasan karena air keran sudah melalui proses penyaringan yang menjamin higienitasnya blablablabla dan blablablabla. Hal-hal semacam ini.

Saya pernah.

Setidak-tidaknya sepanjang yang saya ingat saya pernah mengalami hal semacam ini satu kali. Saya naksir (atau setidak-tidaknya tertarik) pada satu orang laki-laki karena hal yang sangat sederhana, dan ditaksir karena hal yang sangat sederhana (oleh orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula). Berikut cerita singkatnya :

# Saya pernah tertarik sama cowok karena ia menuliskan nama panggilan saya dengan ejaan yang tepat.

Beberapa dari teman-teman saya yang kenal cukup dekat dengan saya mungkin tahu bahwa saya sangat jengkel jika ada orang yang menuliskan nama saya dengan ejaan ‘Dea’ tanpa huruf ‘H’ di antara huruf D dan huruf E. Mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hal yang sepele, namun tidak demikian halnya bagi saya. Bagi saya, nama adalah pemberian orangtua, sehingga harus dihargai. Oleh karena itu, saya juga berusaha untuk selalu menuliskan nama orang lain dengan ejaan yang benar. Saya mungkin bisa paham jika seseorang yang sebelumnya belum pernah melihat ejaan nama saya kemudian menuliskannya dengan kurang tepat, tapi ada juga lho orang-orang yang sudah jelas-jelas tahu seperti apa tulisannya masih saja salah menuliskannya. Bahkan beberapa orang masih tetap salah saat saya sudah terang-terangan bilang “Dhea ya Mbak, pakai H”.

Oke, saya mungkin terdengar neurotik jika membicarakan masalah ini.

Lalu suatu hari ada seorang cowok yang belum terlalu saya kenal, tepatnya kami baru berkenalan sehari sebelumnya demi sebuah kepanitiaan acara kampus. Saat itu, bagi saya, ia hanyalah senior saya di kampus, dan saya hanyalah mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa dan diajak untuk bergabung ke dalam suatu kepanitiaan. Tidak ada kesan yang spesial bagi saya mengenai cowok itu selain saya pikir orangnya (terlalu) banyak bicara dan penampilannya seperti anak gaul kebanyakan. Sepertinya orangnya seru untuk diajak berbincang lebih lanjut karena ia membuat saya tertawa atas lelucon-lelucon garingnya sore itu. Lalu ia bilang “besok nama lo berdua gue tulis di pakom ya langsung”. Saat itu yang ia maksud ‘lo berdua’ adalah saya dan teman saya yang justru awalnya diajak bergabung dan baru kemudian mengajak saya. Intinya, saya awalnya hanya embel2 saja.

Keesokan harinya, saya kebetulan bertemu dengan cowok ini saat ia menuliskan nama kami di pakom kepanitiaan. Dia menulis “Dhea” dengan sempurna. Spontan saya tersenyum luar biasa senang entah kenapa. Lalu dengan spontannya berujar “Haaah! Lo nulis nama guenya beneeeerr! Pakai huruf ‘H’! Seneng deh hehehe”. Dia hanya tertawa, “hahahah iya ya? bukannya emang biasanya gitu tulisannya?”. Lalu saya mengangkat bahu, saya bilang nggak banyak orang yang nulisnya langsung bener seperti itu, apalagi sebelumnya toh dia belum pernah melihat tulisan nama saya.

Saat itulah saya tahu bahwa oke, saya tertarik dengan cowok ini. Bahasa berlebihannya, he has something. Kemudian, saya tidak tahu seperti apa prosesnya, yang jelas saya sangat terkesan dengannya hari itu dan kemudian saya jadi banyak mengobrol dengannya karena kebetulan saya dan dia juga memiliki  kesamaan dalam beberapa hal.

Demikianlah salah satu contoh bagaimana saya bisa semudah itu tertarik dengan orang lain. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga bahwa kemudian banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemenarikan diri dari cowok ini. Namun awalnya semua bermula dari penulisan nama yang tepat. Cerita selanjutnya? Hemm saya rasa akan keluar konteks kalau saya tuliskan di sini hehe.

# Ada cowok yang pernah tertarik sama saya karena  saya suka komentar soal gambarnya dan saya meminjamkan pensil mekanik milik saya waktu dia nggak punya pensil

Nah, kalau cerita yang ini lain lagi. Kejadiannya waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Cowok ini adalah salah satu dari sekian teman les bahasa inggris saya. Sebetulnya, awalnya saya rasa saya yang tertarik sama cowok ini, karena memang menarik saja di mata, terus tipe cowok yang pendiam lucu gitu, menarik sekali. Selain itu, dia suka menggambar di meja kelas, yah termasuk tindakan vandalisme sih memang, cuma gambarnya sangat menarik dan saya suka curi-curi lihat kalau dia lagi gambar diam gitu tidak menyimak apa yang disampaikan di depan kelas. Sekali waktu saya berkesempatan duduk di sebelahnya dan mengintip gambarnya dan berkomentar “wah gue suka deh liat gambar lo. menarik!”. Sudah, interaksi selanjutnya hanya perbincangan mengenai hal-hal yang ada di permukaan, seringkali hanya seputar tempat les itu sendiri. Kalau bertemu juga hanya bertegur sapa saja, tidak ada sesuatu yang signifikan selama kami les.

Saya duduk di sebelah dia hanya dua kali selama kami les berbulan-bulan lamanya. Pertama, waktu saya mengomentari gambarnya. Kedua, waktu sedang berlangsung tes pertengahan tingkat. Pada saat inilah dia terlihat kelimpungan tidak membawa alat tulis. Saya sebagai manusia normal yang juga makhluk sosial, yang juga kebetulan pada saat itu punya alat tulis lebih, akhirnya menyodorkan pensil mekanik milik saya “nih. pakai aja”. Demikian, interaksi tatap muka saya memang sangat terbatas. Interaksi selanjutnya, yang juga merupakan interaksi tatap muka yang terakhir antara saya dan dia adalah saat ia mengatakan bahwa ia akan berhenti les, karena ingin konsentrasi ke bimbel untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi (saat itu ia kelas 3 SMA). Ketika ia bilang begitu, saya spontan berkata “ah serius? yah ga seru dong gabisa ketemu2 lo lagi sambil liatin lo gambar hehehe”.

Kemudian, sudah begitu saja. Saya pun tidak memikirkannya lagi sama sekali, lewat begitu saja selama beberapa bulan setelahnya. Sampai suatu hari ia mengirimkan sms kepada saya, menceritakan bahwa ia sudah punya kampus, menanyakan kabar dan bincang-bincang ringan lainnya. Saya kira ia memang menanyakan kabar semua teman sekelasnya waktu les dulu, tapi ternyata tidak. Kami lalu sms dan sms, sampai suatu hari dia bilang “lo tau kapan gue mulai merasa tertarik dan enak ngobrol sama lo?” Saya jelas tidak tahu. Lalu ia bilang “Gara-gara lo dulu secuek itu, dengan santainya komentarin gambar orang yang lo gak deket2 amat hahaha, terus tau2 sok2an mau pinjemin pensil lagi. kocak banget tau. itu menarik”.

Terus terang saya agak bengong juga dengarnya.

Nah, demikian sedikit cerita dari saya. Hal-hal seperti ini bisa terjadi dan datang kapan saja dan dimana saja. Saat dimana kita justru tidak kepikiran, saat kita lengah dengan perhitungan variabel-variabel yang menjadi tolak ukur dalam mencari tambatan hati, ada aja hal-hal yang ga diduga dan tiba-tiba bisa membuat kita sebegitu terkesannya akan hal-hal kecil yang terlupakan. Lucu memang.

Nah, bagaimana dengan kalian? Apa kalian pernah memiliki pengalaman yang kurang lebih sama? Saya ingin tahu, karena cerita-cerita seperti ini akan jadi unik sekali. Bagi-bagi cerita ya :)

- D! -

Take the (bloody) risk?

In Tentang bermacam sumber inspirasi on November 1, 2009 at 9:09 pm

I don’t do reblog actually, but this one is interesting. At least, for me.

This one came from Nadia Ikayanti :

 

Our brain’s got two hemispheres : left and right. We use our left brain to think objectively, focusing on logical/rational analysiscalculation, etc while right brain does its role on imagination, intuition, aesthetics, creativity, and feeling. Everyone’s got their preference in using which part of their brain.

As individuals grow up and get to face this so-called “Reality” everyday, they tend to use their left brain while downplaying the right-one. Schools teaching system also got its role on this preference.

SO ANYWAY. . .

Do you remember when you’re in JHS or HS? Dating is as simple as ABC. You guys like each other and decide to be an item. If you don’t feel like one anymore, then it’s over. That’s that. We use our right brain this case

It’s totally different nowadays. When it comes to our ages now, we use many calculation in choosing partners. Oh she’s a Ph.D from Oxford, his annual salary’s IDR 500 mio, he’s got his own company, I could have a steady life with him, what? her GPA’s only 2,5?? blah blah.

It’s definitely not a sin to have those kinda thoughts. I mean, we all know love can’t pay the bills rite? ;p

But what if it’s like this :

You waste a good chance with someone that makes you feel comfortable and peaceful just because he/she hasn’t finished his/her degree? Or you try so hard to stay in a weary relationship with someone who disrespect you for he/she’s good looking and (probably) got a promising future compared to others?

Can you say “I’m happy” ? Go ask yourself.

We, sometimes, forget to “listen to our heart” or (I may define) “think with our right-brain”.

Just follow your feeling and intuition

. . . and take the bloody risk.

———————————————————————————————————

I responded with this :

I use my corpus callosum which connects both hemispheres to find love (ok i know, i read to much on neuropsychology). Just kidding.

ah senang sekali di-tag! Hahahaha. I would love to take chance on love though, Nad.
Thankyou for the inspiration :)

what about you guys?

- D! -