Bahkan sampah pun bisa didaur ulang

Berulang kali saya menghela napas, entah kenapa itu pun belum bisa membuat saya lega. Ingin menangis namun juga sudah terlalu letih dan tidak berguna, hanya mengeluh menyumpah serapah juga membuat semua tambah parah. Jadi sekarang saya hanya diam dan menikmati. Mencoba menghadapi semua perubahan dengan senyuman dan berbesar hati.

Saya mencoba ikhlas, walau semua itu tidak mudah, tentu tidak mudah. Bagaimana bisa jadi mudah ketika sesuatu yang sangat kamu sukai sekarang tidak bisa dijangkau lagi? Sesuatu, atau seseorang yang biasanya selalu ada sekarang sudah tidak ada lagi. Oke, tetap ada walau bentuk dan keadaannya yang mungkin berbeda.

Semua rasa itu harus saya telan bulat-bulat walau saya sudah terlalu penuh dan seringkali tumpah, belum sampai muntah. Rasa bersalah itu menggelayuti saya sampai saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan itu semua. Rasa marah dan kecewa menggerogoti saya, menusuk-nusuk dari dalam hingga saya berharap tangan kaki kepala saya saja yang terluka, asal bukan di dalam situ yang merana. Rasa sedih yang selalu ada karena menyadari semuanya telah hilang dan tidak ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi. Rasa hampa karena semua tidak akan pernah sama lagi. Rasa takut karena tahu dia telah pergi dan akan mendapatkan tempat berlabuhnya sendiri. Rasa bingung, karena tidak tahu harus melangkah kemana karena tiba-tiba ditinggalkan. Rasa rindu, yang amat amat sangat, namun harus saya simpan dalam-dalam. Semuanya menusuk saya perlahan tapi tajam.

Saya terlalu letih, tapi saya harus berdiri. Tidak ada yang menolong saya jika bukan saya sendiri. Ada hal-hal yang tetap harus berjalan walau kau merasa semuanya tidak penting lagi dan kau hanya ingin duduk diam meratapi semua. Namun, itu bukan hidup. Hidup tidak diam di tempat, hidup selalu bergerak, dan kita manusia tidak pernah tahu akan dibawa bergerak kemana walau sebisa mungkin kita berusaha memprediksi apa yang ada di depan sana.

Malam menjadi musuh saya, pagi menjadi tamparan untuk saya, siang terasa begitu lama, dan sore adalah waktu saya merasa begitu lelah.

Malam, yang gelap dan tenang selalu berhasil membuat saya meneteskan airmata. Malam manghadirkan memori, memori yang dengan egoisnya menyeruak masuk meronta-ronta di dalam benak saya, tanpa toleransi menggaruk-garuk hati saya. Menghadirkan potongan-potongan cerita yang sudah lalu, meninggalkan saya dengan perasaan bersalah dan bingung.

Pagi, dengan cerianya membuka mata saya dan memberi tamparan keras bahwa satu hari lagi yang harus saya lalui. Pagi, yang selalu menyadarkan saya bahwa mimpi selalu lebih indah dari kenyataan. Pagi menyeret saya untuk bangun dan memerintahkan saya untuk berdiri, membuat saya ingat ada hal-hal lain yang harus saya lakukan walau di tengah hari saya harus menghadapinya, sang penguasa hati saya.

Siang, dengan teriknya sangat lihai membuat saya merasa hari berjalan begitu lama. Membuat saya harus menyaksikan dia yang sudah bukan siapa-siapa saya berjalan hliri mudik di dekat saya tanpa setitik menaruh kepedulian pada saya, ah memang saya siapa. Jadi saya pun hanya diam, memandang tersenyum ke arahnya, sambil perlahan mengucap doa di dalam hati. Doa untuk apa, saya juga tidak tahu. Dia tertawa dengan gembira dalam dunianya yang menyenangkan, dan saya harus paham bahwa dia lebih baik tanpa saya. Dia akan lebih senang tanpa saya. Saya harus paham. Siang terasa begitu lama.

Sore, adalah saat saya merebahkan seluruh badan saya, terduduk dan mengobrol dengan beberapa teman. Teman-teman yang perlahan saya dekati kembali setelah sebelumnya saya tidak sempat mengenal mereka lebih dekat karena terlalu sibuk dengan dia yang selalu ada di pikiran saya. Sore adalah saat saya menarik napas dalam-dalam dan menghitung apa yang sudah saya lakukan hari ini, sekedar mengevaluasi. Lalu jika sore agak panjang saya akan diijinkan sibuk dengan hal-hal yang harus saya lakukan, walau berat dan penuh penolakan. Namun sore yang indah melahirkan kepahitan juga ketika saya harus dihadapkan pada kenyataan ketika malam datang saya harus pulang kepada siapa?

Lalu kembali lagi ke hadapan malam.

Saya merasa terbuang, saya merasa saya gagal, tidak mampu menyenangkan orang yang saya sayangi, dan merasa tidak berguna, sempat juga saya merasa seperti sampah yang sudah tidak diinginkan lagi. Sudah cukup masa saya bercerita, sekarang hanya tinggal diam. Diam dan tersenyum sambil mengurut dada. Saya merasa asing di lingkungan dimana saya harusnya biasa bergerak, entah mengapa saya merasa saya menghadapi ini semua sendirian, walau saya tahu itu hanya perasaan saya.

Hanya doa, doa dan senyuman yang saya punya.
saya tidak tahu cukup atau tidak untuk melewatinya.
Doa untuk saya, doa untuk dia.
Kata maaf untuk dia
Terima kasih untuk dia

Bahkan sampah yang sudah tidak diinginkan lagi di suatu tempat bisa didaur ulang dan disukai di tempat lain. Hanya tinggal itu harapan yang saya miliki, bahwa saya bisa berkembang, bahwa saya bisa berubah. Pada saat itu, saya harap semuanya sudah lebih baik dan saya tidak harus mengurut dada lagi. Hingga seorang datang mengambil saya suatu hari :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s