masih soal hal yang sama

Semoga pembuat blogger ini nggak nge-banned saya gara-gara hanya menulis hal yang itu-itu saja dan isinya cuma curhat melulu. Oke, kemarin saya mendiskusikan dengan teman saya yang lain mengenai mengerti, menerima, dan memaafkan (oh ya, masih tentang ketiga hal ini). Hal yang paling membuat saya berpikir adalah ketika ia mencetuskan kalimat “sebenernya lo bisa loh melompati tahapan mengerti untuk bisa memaafkan“. Saya mikir, bagaimana saya bisa memaafkan suatu keadaan atau seseorang jika saya belum bisa mengerti alasan di balik semua hal itu terjadi?

Begini argumen dia, “Lo tau setan itu ada kan? Jin, hantu, dan sebagainya itu ada, lo tau kan? Maksud gue, lo nerima aja kan bahwa mereka ada di dunia ini bareng-bareng kita juga?” jengjengjeng, saya terdiam sebentar. “Yah, iya sih, percaya-percaya aja. Walaupun rada bingung juga sebetulnya konsep roh gentayangan atau jin itu bener apa nggak, atau gimana wujud mereka. Abis, ngga pernah liat juga sih” jawab saya. “Nah itu dia poin gue dhe. Lo nggak ngerti kan mereka itu kaya gimana sebetulnya, darimana asalnya, kenapa mereka muncul, apa mereka benar-benar ada, wujudnya seperti apa”. Saya mengangguk-angguk sementara ia melanjutkan omongannya, “Nah, lo nggak ngerti gimana mereka, tapi lo bisa kan menerima mereka? Menerima keadaan bahwa mereka ada bareng-bareng lo di dunia ini? Justru ketika lo menerima bahwa mereka ada makanya lo nggak terganggu dengan mereka, atau bisa dibilang nggak kaya yang di film-film itu loh, sangking penasarannya pingin ngebuktiin makanya nyari2 hantu dan ujung2nya malah pada mati semua”.

Saya kembali berpikir, memang iya sih, tapi apa hubungannya dengan masalah mengerti, menerima, dan memaafkan bila dikaitkan dengan masalah yang sedang saya hadapi? Teman saya melanjutkan argumennya dengan bilang bahwa mungkin saya sebetulnya tidak harus sebegitu kerasnya berusaha mengerti alasan di balik semua ini, atau alasan dia, atau bahkan berusaha mengerti dia. Teman saya mengatakan saya bisa gila dan paranoid kalau terus-terusan mempertanyakan masalah ini karena ini akan membuat saya diam di tempat dan tidak maju kemana-mana padahal orang itu sudah maju kemana-mana. Sekali lagi ia mengatakan “mungkin yang harus lo lakukan adalah berhenti bertanya-tanya, kasian otak lo dhe, bisa stres nanti. Udah brenti aja bertanya-tanya. Sekarang gini aja deh, terima aja deh apa yang dia bilang, terima aja kalau memang lo masih sayang sama dia, masih mau sama dia, dan di ENGGAK. Oke,kita gatau gimana perasaan dia ke elo, tapi yang jelas, dia udah gamau sama lo, that’s it. Terima aja kalo lo memang bertepuk sebelah tangan, terima aja kalo sekarang lo bukan siapa2nya dia lagi, lo nggak penting lagi, terima aja. Dan lo nggak perlu merubah diri lo dan nggak perlu merasa bersalah karena lo nggak sesuai sama apa yang dia mau dalam suatu hubungan”

Dia kembali melanjutknan dengan perkataan-perkataan bahwa saya harus memerima saja keadaannya dimana saya harus mengarungi kampus itu tanpa dia. Saya harus belajar menerima, dan menikmati apa yang ada. Menerima diri saya apa adanya dan bukan menyalahkan diri saya terus menerus karena tidak dapat memenuhi keinginan si cowok ini dalam sebuah hubungan hingga akhirnya cowo ini memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan saya. Tetap jadi diri saya sendiri dengan kekurangan-kekurangan saya yang bisa diperbaiki, ya diperbaiki, asal jangan merubah diri saya. Menerima keadaan dia tidak memperhatikan dan mempedulikan saya lagi, menerima keadaan bahwa dia memang sepertinya akan hidup lebih tenang kalau nggak ada saya. “Anggep aja lo hanya sebagian kecil dari rencana hidupnya, dia berencana dalam hidupnya untuk mutusin lo, yaudah, itu pilihan yang dia ambil, dan itu hak dia dhe” Ya, saya mengerti itu memang hak dia, saya paham.

Saya kembali berpikir, mungkin memang dari ketiga hal yang saya ungkapkan di postingan sebelumnya, yang paling susah dilaksanakan adalah ‘menerima’. Oleh karena itulah dalam agama Islam ada yang disebut proses bertawakal, yaitu menerima keadaan yang ada sebagai keputusan Allah sambil terus berdoa untuk yang terbaik dan melanjutkan hidup dan usaha.

Mungkin langkah terbesar yang harus saya lakukan adalah untuk menerima saja keadaan yang ada.

– D! –

One comment

  1. saskhyaauliaprima

    kalo gw dhe menerima setan daripada digangguin terima aja deh dhe..haha..iya stop asking stop dikritisi!!sudahlah sudahh haha kita ketawain aja rame2 dhe biar enakk lama2..ya lama sih tapi gapapa hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s