Mind Your Own Business

Halo, pagi ini saya yang kelaparan sambil menunggu bubur ayam pesenan yang tidak kunjung datang diantar membuka-buka sebuah majalah. Majalah yang saya bolak balik itu adalah ‘Provoke’ nomor 18 edisi April 2008. Saya suka banget sama majalah ini, soalnya isinya tidak seperti majalah remaja pada umumnya karena bahasanya lugas dan isu yang diangkat sederhana tapi ‘menohok’. Saya boleh dong menyebut Provoke sebagai majalah remaja karena majalah ini didistribusikan secara gratis di sebagian besar SMA-SMA Jakarta (anak SMA itu masih dalam tahapan usia remaja kan?).

Oke, Provoke edisi ini mengangkat isu tentang “Mind Your Own Business !” yang memaparkan bahwa banyak sekali kebiasaan-kebiasaan orang di sekitar kita, dan mungkin juga kita sendiri yang ternyata kalo ditilik lebih lanjut sebetulnya bisa melanggar batas-batas zona privasi orang lain loh. Jujur aja saya sendiri tadinya berpikiran yang akan dibahas adalah mengenai tentang infotainment, papparazi, kehidupan artis yang selalu tersoroti, dan sebagainya. Ternyata pembahasan terus berlangsung sampai ke kebiasaan yang kecil-kecil sekalipun.

Pernahkah terpikir bahwa sapaan ringan kita terhadap seorang teman yang nggak dekat-dekat amat yang tadinya bertujuan sekedar beramah-tamah ternyata bisa saja membuat orang itu sedikit terganggu, misalnya seperti “Hei, darimana aja lo?” atau “Kok buru-buru emang mau kemana?”. Pada situasi normal orang tersebut mungkin akan menjawab dengan jawaban yang sebenarnya, kalo lagi rada males mungkin menjawab sekenanya, atau kalo lagi males beneran orang yang ditanya mungkin akan menjawab dengan senyum senyum bajing. Jujur, saya sendiri tidak pernah berpikir ke arah situ, saya kaget loh. Kemudian saya ingat ada suatu kejadian yang berkaitan dengan seorang teman laki-laki saya di kampus, sebut saja namanya F. Saat saya sedang berjalan dengan dia di lorong kampus dia disapa oleh beberapa orang yang kami lewati (oh yeah, ia memang cukup populer hihihi..). Setelah melewati orang-orang tersebut dia berkata pelan pada saya, “Sebetulnya gue suka rada gimana gitu kalo disapa orang-orang gitu kalo pas gue lagi jalan” lalu saya bingung tidak mengerti maksud kata-kata ‘suka-rada-gimana-gitu’ dan menanyakan maksudnya. Dia menjawab, “abis gimana ya? Gue suka bingung jawab apaan soalnya gue juga tau mereka Cuma basa basi. Apalagi kalo gue lagi rada buru-buru gitu, paling gue jawab sekenanya aja” JENGJENGJENG.

Ya, ramah tamah dapat mengganggu orang lain! Saya jadi mulai berpikir jangan-jangan sapaan saya seperti “eh baju baru ya, lucu deh, belinya dimana?” ternyata bisa membuat orang sebel sama saya. Sebenernya kalo dipikir-pikir iya juga sih, kalau di luar negeri sana akan aneh sekali kalau kita menyapa orang dengan kalimat “Where are you going?” atau “Where have you been?” atau “Your dress looks nice, where did you buy it?”, kecuali kalau kalimat itu ditanyakan ke teman-teman dekat ya. Kenapa kita nggak menyapa orang dengan sapaan “good morning, have a nice day!” yang kalau diterjemahkan menjadi “Pagi! Semoga hari lo menyenangkan” atau “Mataharinya lagi cerah ya? Bikin semangat” yah hal-hal seperti itu.

Dari majalah Provoke itu juga saya baru tahu tentang istilah curiosity killed the cat yang menunjukkan bahwa bagaimana keingintahuan kita bisa jadi sangat berbahaya, inget kasus kematian Putri Diana dari Inggris yang diduga kecelakaannya disebabkan karena gangguan dari Papparazzi? Wah saya jadi berpikir untuk lebih berhati-hati ngomong dengan orang. Kalau mau dilihat-lihat lagi, kayaknya pada dasarnya manusia akan selalu ingin tahu tentang orang lain deh, karena itulah banyak yang menyebut manusia sebagai makhluk sosial. Hal inilah yang menyebabkan kita senang membaca berita di koran tentang apa yang terjadi di dunia luar, hal ini yang membuat infotainment merajalela dimana-mana, hal ini yang membuat reality show di TV memiliki rating yang tinggi, and so on.

Menurut saya ingin tahu tentang orang lain itu hal yang wajar, karena keingintahuan merupakan wujud rasa peduli terhadap orang tersebut. Rasanya senang untuk mengetahui alur hidup seseorang, terutama orang yang kita sayangi, bahkan kalau bisa kita ingin ikut terlibat di dalamnya. Majalah Provoke tersebut juga mengemukakan bahwa hal yang lucu adalah, nggak banyak diantara kita yang senang kalau yang terjadi justru sebaliknya, maksudnya ketika orang-orang ingin tahu banyak hal tentang kehidupan kita bisa saja kita jadi terganggu, terutama kalau orang tersebut tidak terlalu dekat hubungannya dengan kita.

Saya sendiri bukannya tidak pernah merasa terganggu bila ada orang yang tiba-tiba saya tahu ngomongin tentang saya di belakang saya, apalagi yang bernada negatif. Saya ingat waktu SMA saya pernah merasa terganggu sekali karena saya tahu dari teman saya bahwa ada seorang anak laki-laki yang mengatakan bahwa saya Cuma mau main sama orang yang itu-itu aja dan terkesan eksklusif serta berlebihan. Baru-baru ini juga saya tahu dari teman saya bahwa beberapa orang membicarakan mengenai berakhirnya hubungan saya dengan si mantan dan bagaimana keadaan saya pasca putus dilihat dari comment-comment saya yang ‘sangat curhat’ di Facebook.

Namun dari situ saya belajar sesuatu, pertama (dan yang terpenting) adalah saya tidak harus disukai oleh SEMUA orang karena bakalan capek banget kalau mempertimbangkan semua omongan-omongan orang di belakang sana dan mengikutinya padahal saya merasa itu bukanlah keadaan yang membuat saya nyaman. Kedua, lock your mouth, keep the key, only open it for your nearest and dearest one(s). Oh ya, rasanya ketika baru patah hati karena diputusin adalah saya seperti mau mati, apalagi itu adalah putus pertama buat saya. Shock, panik, kaget, bingung, sedih, semua perasaan negatif jadi satu dan saya hanya ingin menceritakan kemalangan yang saya alami ini ke semua orang sampai ke detail-detailnya berharap dapat pengobatan instant dan jalan keluar karena saat itu saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dampaknya, tentu saja baik dan buruk, yang jelas orang jadi tahu kalau saya segitu remuk redamnya dan lemah. Sekarang, perlahan-lahan saya sudah mulai bisa menutup mulut saya dan hanya berkeluh kesah pada beberapa orang terdekat saya saja. Sahabat-sahabat saya berkata “Don’t let this hit you that much. Do whatever you need to do to make you feel better, but please stop whinning too much because it won’t make anything better, it’ll only make you ugly and even uglier. You don’t want that, do you?” atau “keep your words, or else they’ll against you someday” (thanks to myla and dichil, geez, I don’t know what would I be without you girls). Pelajaran ketiga yang saya dapat adalah kalau saya tidak suka apa yang orang lakukan pada saya, maka saya tidak akan melakukan itu pada orang lain. Jangan membicarakan orang di belakang mereka, jangan bergosip. Saya berusaha keras untuk tidak memperbincangkan tentang orang lain, makanya saya selalu bilang, masih sedikit lebih baik curhat daripada gosip.

Tapi yah, sekali lagi, saya juga manusia, berarti saya juga makhluk sosial dong? Oleh karena itu saya mengaku kalo saya sendiri juga nggak tahan untuk melihat-lihat ada apa aja di News Feed Facebook hari ini, membuka-buka profile orang lain di facebook atau friendster untuk melihat update-an terbaru dari mereka. Saya masih suka cerita-cerita kehidupan saya di blog dan membuka-buka blog orang lain. Saya juga masih sering memiliki rasa ingin tahu mengenai siapa yang jadian dan siapa yang putus di kampus, saya juga masih suka nonton acara infotainment dan reality show, dan melakukan hal-hal rese lain yang menjadikan saya manusia yang jauh dari sempurna. Menjadi tidak sempurna itu bukan masalah, karena kita manusia. Ingin tahu urusan orang itu masih wajar, karena itu menunjukkan kita masih peduli. Buat saya, kalo saya ingin tahu tentang orang lain saya berusaha sebisa mungkin bahwa yang saya lakukan itu dengan niat baik dan bukan untuk menjelek-jelekkan orang itu. Sekedar ingin tahu itu saja sudah lebih dari cukup, jangan ditambah-tambahin lagi ya Dhe!

– D! –

2 comments

  1. saskhyaauliaprima

    haha yasudahlah dhe..kalo kemana2 bilang aja,”HALO!!”, kalo diomongin ya anggep aja lagi terkenal..yaudahlahh senyum aja hehe..

    tp dhe ada gitu quote-nya long road to heaven : “saya mengerti, pasti menyakitkan untuk dikenang. Tapi membicarakannya termasuk proses penyembuhan..”

    haha nice dhe detail-nya

  2. dheasekararum

    makasih Sas comment-nya!

    iya. tapi dari buku yang gue baca, membicarakannya termasuk proses penyembuhan memang, tapi dibicarakan terus menerus justru mengingatkan kita pada rasanya (yang kita berdua sama-sama tahu nggak terlalu mengenakkan heheh..)

    di buku yang gue baca itu juga dibilang gini “if you keep mentioning his name, your friend will break up with you too!” HAHAHA. serem gila.

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s