Last Holiday

Oke, saya baru saja menonton film ini sekitar 2 jam yang lalu sebelum saya menuliskan ini. Awalnya saya menonton film ini karena tertarik oleh celotehan bapak saya yang menggembargemborkan resensi filmnya yang terdapat di indovision. Begini katanya, “Toeng, ada film yang resensinya ‘seorang wanita yang sangat besar mengetahui hidupnya tinggal 3 minggu lagi lalu kemudian memutuskan untuk pergi berlibur untuk menghabiskan masa hidupnya’ ” dengan muka sumringah nan berbinar-binar. Saya yang sore tadi sedang males-malesan POL jadi tertarik dan beranjak ke depan tv.

Ternyata film berjudul ‘Last Holiday’ ini dibintangi oleh Queen Latifah sebagai karakter utama, Georgia Byrd, atau yang disebut-sebut sebagai ‘wanita yang sangat besar’ tadi. Jadi ceritanya si wanita ini adalah seorang salesperson biasa di bagian peralatan masak. Wanita ini diceritakan sebagai orang yang baik hati dan suka menolong, jujur dan lugas, terlalu jujur bahkan namun seringkali tidak berani meraih mimpi-mimpinya jadi ia hanya menyimpan mimpi-mimpinya itu di dalam sebuah album bertuliskan ‘possibilities’ termasuk impiannya tentang laki-laki yang disukainya. haha. terdengar klise, tapi cukup memberi harapan lah si tokoh utama ini.

Kemudian diceritakan si Miss Georgia ini harus datang ke dokter karena jatuh pingsan, dan disitulah ia didiagnosis kena penyakit parah yang menyebabkan sisa waktu hidupnya tinggal tiga minggu saja. Dari situlah cerita dimulai bagaimana cara dia menggunakan waktunya yang singkat itu untuk mewujudkan keinginan-keinginannya untuk melakukan hal-hal yang selama ini nggak pernah dia lakukan sebelumnya.

Georgia menghabiskan uangnya untuk menyewa kamar di suatu hotel yang bertarif 4000 dolar per-malamnya, mencoba ski, base jumping, mencoba semua layanan spa di hotel itu, makan semua makanan yang luar biasa enak dan mahal sampai-sampai sang chef restoran hotel tersebut merasa tersanjung dan justru mulai berteman dengannya. Ia juga berkenalan dengan sekelompok politikus seperti senator dan anggota kongres lain yang berada di hotel itu semata-mata karena berusaha saling mengambil hati demi urusan bisnis dan pengumpulan dana kemudian ia mengubah hidup mereka semua, dan hidupnya sendiri tentunya.

Sebetulnya ceritanya sih sederhana ya karena film ini memang dipasarkan waktu mendekati tahun baru jadi memang dibuat happy ending. Buat saya yang menarik di sini justru adalah kenyataan bagaimana si Georgia ini menghabiskan sisa hidupnya yang (katanya) tinggal 3 minggu ini. Kemudian saya mulai membayangkan apa yang akan saya lakukan ya kalau tau-tau saya diberitahu bahwa hidup saya katakanlah tinggal beberapa minggu lagi. Apa saya akan meratap dan merasa depresi karena ada banyak sekali terget-target saya yang belum bisa tercapai, merasa sedih dan mengeluh kenapa hidup saya harus berakhir di usia yang bahkan belum mencapai 20 tahun, ATAU justru bersikap seperti Georgia yang menikmati setiap detik detik terakhir hidupnya dan melakukan semua yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, tanpa rasa takut, tanpa merasa rugi, yang ada hanya senang dan menikmati.

Lalu bagaimana rasanya ya kalau kita hidup di dunia ini setiap harinya seolah-olah hidup kita di dunia ini hanya tinggal beberapa hari saja atau beberapa minggu saja? Saat itu saya teringat sepotong kata-kata yang menyatakan pentingnya the power of now atau kutipan kata-kata Master Oogway si kura-kura tua yang ada dalam film Kungfu Panda yang bilang ‘Yesterday is history, tomorrow is mystery, but today is a gift. That’s why it is called present’. Poin utama disini adalah bagaimana kita menyadari bahwa yang nyata di depan mata kita adalah HARI INI yang sedang kita hadapi sekarang, menit ini, detik ini. Bukan kemarin, dulu, bahkan bukan pula besok atau rencana-rencana kita minggu depan. Karena kemarin dan masa lalu sudah berlalu, dan besok belumlah pasti.

Kalau saja kita bisa betul-betul menerapkan pandangan itu dalam hidup kita tentu kita akan menjadi manusia yang lebih positif karena tidak perlu mencemaskan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan, kita juga tidak perlu merasa sedih karena hal-hal buruk yang sudah terjadi pada diri kita, karena yang paling utama adalah bagaimana kita menjalankan hari ini dan menikmati setiap detiknya seperti hari esok nggak ada lagi.

Kadang-kadang pengen juga deh merasakan hidup tanpa kekhawatiran seperti itu. Ya nggak sih? Apa cuma saya aja yang merasa seperti itu ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s