Pameran foto ‘Identitas Untuk Kebangkitan’

Baru-baru ini saya diundang untuk menghadiri pembukaan pameran foto yang dilangsungkan oleh Galeri Antara di Pasar Baru, berhubung saya secara kebetulan tidak pernah bisa datang ke undangan-undangan pembukaan pameran-pameran foto tersebut (jujur, saya agak minder datang ke sana karena nggak kenal siapa-siapa juga di sana), maka saya hanya mampu sebisa mungkin menyempatkan diri menyimak pamerannya karena pameran di Antara adalah sesuatu yang sulit untuk saya lewatkan. Pameran ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan hari jadi negara Indonesia sendiri serta untuk memperingati ditandatanganinya perjanjian damai dengan negara Malaysia yang juga merayakan kemerdekaannya pada bulan Agustus. Oleh karena itulah pameran dengan materi foto serupa juga dilaksanakan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Pameran kali ini agak berbeda dari pameran-pameran di Galeri Antara yang pernah saya lihat sebelumnya walaupun memang tidak setiap pameran di Galeri Antara saya datangi sih. Pameran kali ini bekerja sama dengan Kantor Berita IPPHOS, yang merupakan perintis jurnalisme foto di Indonesia sewaktu menjelang masa-masa kemerdekaan Republik Indonesia.

Walaupun kantor berita IPPHOS sendiri sudah tidak hidup lagi, namun roll film foto yang mendokumentasikan bagaimana keadaan bangsa Indonesia di sekitar tahun 1945 masih ada dan konon (tsaaahh konon..) foto-foto yang diterbitkan dalam surat kabar yang ada saat itu hanya 1% dari semua foto-foto yang telah dijepret oleh fotografer IPPHOS waktu itu. Selain foto-foto yang dimiliki fotografer IPPHOS (dalam hal ini maksudnya adalah Menur bersaudara), terdapat juga foto-foto hasil jepretan seorang fotografer asing yang berasal dari Belanda dan datang ke Indonesia pada tahun 1947, Cas Oorthyus.

Foto-foto yang ditampilkan membuat saya terdiam dan terkagum-kagum, karena biasanya saya hanya berkesempatan melihat foto-foto dokumentasi keadaan di seputar jaman kemerdekaan melalui buku-buku sejarah yang saya pelajari sewaktu saya masih sekolah ataupun di buku-buku lain yang pada umumnya menyoroti dua titik ekstrem. Pada satu titik akan disoroti kehidupan Bung Karno sebagai presiden yang flamboyan dan serba mewah sedang berada dalam sebuah pertemuan kenegaraan, sedang ber-orasi, atau sedang dikelilingi istri-istrinya. Sedangkan titik yang lain foto-foto yang biasanya saya lihat akan menyoroti bagaimana keadaan rakyat kecil dengan pakaian yang lusuh sendang mengantri sembako, atau foto-foto yang memperlihatkan betapa timpangnya keadaan itu. Selain itu foto yang banyak ditampilkan adalah foto prajurit yang sedang berperang. Satu hal lagi, sebelumnya saya tidak pernah melihat foto-foto dokumentasi pada jaman kemerdekaan yang menampilkan sosok orang Belanda atau dari sudut pandang Belanda.

Mungkin masalahnya memang ada pada saya yang kurang referensi sih, jadi saya tidak pernah melihat cukup banyak foto yang dapat memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai keadaan pada masa itu. Lalu kemudian saya datang ke pameran foto ini dan saya bisa melihat gambaran keadaan dari berbagai sudut pandang. Rakyat tidak hanya digambarkan lusuh dan tersiksa, namun juga ditampilkan sedang bercanda dan senang melakukan pekerjaannya, dan Bung Karno seringkali ditampilkan dikerubuti oleh rakyat, bahkan ada pula wajah Bung Karno sebagai presiden saat itu dengan mimik muka konyol menjulurkan lidah. Saya juga melihat bahwa rakyat pada jaman dulu memiliki gaya berpakaian yang khas dan menggoda saya untuk mencoba belt tipis yang menarik yang dipakai para wanita muda jaman dulu selain kebayanya.

Yang paling memukau buat saya adalah bagaimana si fotografer bisa menangkap sorot mata dari para objek fotonya. Sorot mata yang berbicara, sorot mata yang tidak mau percaya lagi pada janji-janji damai dari pemerintah, namun masih menaruh harapan dan tekad yang saat itu mereka sendiri mungkin tidak tahu mau dibawa kemana.Semangat saya tergugah saat saya membaca kalimat per kalimat yang ada dalam buku katalog yang saya dapatkan dengan gratis dari sana. Hati saya merasa malu dan kecil menyadari betapa sedikit kontribusi saya untuk negeri yang setiap harinya saya hirup udaranya yang penuh polusi ini, yang padi dari tanahnya saya kunyah setiap hari, dan lain lain dan lain lain. Saya berharap ada hal lain yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya sendiri. agak berlebihan sih, tapi memang begitulah yang saya rasakan.

Aahh, saya jatuh cinta pada fotografi jurnalistik. Terimakasih Antara.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s