Memberi jawaban sesuai dengan pertanyaannya.

Hari ini hari kuliah ke-4 di semester 5 (buat saya sih hari ke-3 karena pada hari Selasa saya tidak ada jadwal berkuliah). Mata kuliah hari ini adalah Psikometri, mata kuliah yang cukup saya cemaskan karena saya belajar dari pengalaman saya sebelumnya dimana saya tidak bersahabat baik dengan mata kuliah statistik yang saya lewati dan (untungnya) berhasil lulus dengan serta merta di semester 3 dan 4. Psikometri ini denger-denger banyak berhubungan dengan statistik dan banyak membahas mengenai validitas dan realibilitas. Sebut saja saya mahasiswi yang aneh, karena jujur aja saya sendiri tidak begitu menikmati mata kuliah yang berhubungan dengan membentuk sebuah penelitian.

Demikianlah saya berada di ruang H.215 dari jam 8 (padahal kelas baru mulai jam 9 tapi anak-anak kelas A yang kerajinan *sebetulnya sih salah informasi* sudah ada di kelas dari sejak jam 8) dan harus bertahan sampai jam setengah 1. Saya yang sudah bertekad semester ini akan belajar mati-matian dan mengurangi semua hal yang berkaitan dengan kesenangan hedonisme kampus *tsaaah* berusaha mendengarkan apa yang diucapkan oleh dosen saya, ibu Angga dengan seksama. Kelas berlanjut dengan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 hingga 5 orang. Di bulan puasa ini saya agak heran kenapa baru sekitar jam 10 tapi perut saya sudah meronta minta makan yang membuat saya cuma bisa senyum-senyum garing.

Diskusi berkisar seputar pertanyaan yang ditanyakan seperti, apa pengukuran psikologis itu?, apa bedanya  pengukuran fisik dan pengukuran psikologis?, apa jenis-jenis pengukuran psikologis? dan sebagainya. Kemudian pertanyaan tersebut dibahas satu persatu oleh tiap kelompok dengan dibimbing oleh ibu dosen. Pertanyaan yang menarik bagi saya adalah pertanyaan

“apa fungsi dari pengukuran psikologis?”

Lalu salah satu kelompok melontarkan jawaban

“Untuk mengukur variabel-variabel psikologis dalam setiap individu”

Pertanyaan itu bagi saya sekilas terdengar seperti ” Kenapa kamu makan keju?” yang dijawab dengan jawaban “Karena saya lapar”. Terdengar aneh, singkat, namun lucu. Karena begitu ditanyakan ” Jika kamu lapar mengapa tidak makan yang lain?” Akan muncul jawaban ” Karena saya tidak mau” ahahahha.

Setelah itu Bu Anggadewi sibuk menjelaskan konsep mengenai menjawab pertanyaan dengan akurat dan tepat seperti apa yang ditanyakan. Tidak kurang, tidak lebih, apa lagi melenceng. Di situ saya mengangguk paham, dan setuju.

Teman-teman mengerti maksud saya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s