Tumbuh Dewasa Itu SESAK

“Growing up into an adult doesn’t seem so cool as it was when I was a little girl”

Di suatu siang dimana saya sedang duduk kedinginan di pojok kiri barisan kedua dari depan kelas psikometri yang terkesan tidak akan berakhir, saya menemukan kata-kata di atas, bisa dikatakan sebuah kalimat, hasil pemikiran ngalor ngidul selama 2 minggu terakhir tentang 2 tahun terakhir, 2006-2008.

Waktu masih kecil saya sangat ingin cepat tumbuh dewasa. Menurut saya, orang dewasa sangat keren dan kehidupan mereka menyenangkan. Orang dewasa boleh melakukan banyak hal yang saat itu tidak bisa dan tidak boleh saya lakukan. Mereka bisa memakai barang-barang keren dan berkilauan. Mereka bisa bepergian ke tempat-tempat yang mereka inginkan, dan sebagai-nya dan sebagainya. Hal-hal itulah yang membuat saya ingin cepat jadi dewasa, setidaknya itu yang saya rasakan sampai tahun 2006.

Banyak yang terjadi pada saya dan kehidupan saya sepanjang tahun 2006 sampai sekarang, 2008. Semuanya dimulai ketika saya menginjak usia 17 tahun. Kehidupan saya luar biasa berubah. Saya mengalami kehilangan, perjuangan, keberhasilan, penyesuaian diri, dan sebagainya. Saat itulah saya menyadari bahwa menjadi dewasa sama sekali tidak keren, bahkan cenderung melelahkan dan menakutkan di titik-titik tertentu. Beberapa hal yang saya petik dari pemikiran ngalor ngidul saya kemarin di antaranya adalah :

#1.

Jadi dewasa berarti tahu apa yang saya mau, apa yang baik dan apa yang tidak cukup baik untuk saya.

Terkesan mudah untuk dilakukan jika saja dunia ini betul-betul di antara hitam dan putih dan tidak ada keinginan orang lain yang tercampur baur di dalamnya. Kadang saya jadi tidak tahu apa yang memang baik untuk saya dan memang saya butuhkan, atau yang sekedar saya inginkan. Kadang saya juga tidak tahu apakah yang baik untuk saya itu juga cukup baik untuk orang lain yang ada di sekitar saya. Bahkan kadang, saya hanya tidak tahu apa yang saya inginkan.

#3. Menjadi dewasa berarti menerima bahwa tidak semua yang kita mau bisa kita dapatkan

YEAH. nggak perlu dijelaskan kan? Karena orang lain juga punya keinginan, yang seringkali bertentangan dengan keinginan kita.

#4. Jadi dewasa berarti mau menerima diri apa adanya

Yap, menerima diri sendiri terkadang bisa jadi sangat berat. Menemukan kelebihan-kelebihan diri sendiri dan mengakui kekurangan diri sendiri, kelemahan diri sendiri, dan menerimanya sebagai satu kesatuan yang disebut diri sendiri adalah tugas yang masih sampai saat ini masih berusaha saya selesaikan. Sampai saat ini pun saya bahkan belum menemukan diri saya sendiri.

#5. Jadi dewasa berarti mau menghargai orang lain

#6. Jadi dewasa berarti menghargai uang dan waktu

#7. Jadi dewasa berarti bisa dan mau untuk menyembunyikan perasaan dan mengeluarkannya pada saat yang tepat

#8. Jadi dewasa berarti paham dan melaksanakan tanggung jawabnya

dan lain-lain, dan lain-lain yang bisa membuat seorang anak usia 19 tahun pusing tujuh keliling.

“Growing up into an adult doesn’t seem so cool as it was when I was a little girl, in FACT it could be tiring and terrifying in some points, but hey that’s why it is called LIFE. So I just have to live it and love it”

– D! –

3 comments

  1. smita prathita

    tapi ya dhe, katanya The Ataris:

    “being grown up isnt half as fun as growing up. these are the best days of our lives. the only thing that matters IS JUST FOLLOWING YOUR HEART and eventually you’ll finally get it right”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s