Saya (buruk) dalam Mempupuk Pertemanan?

Bulan lalu saya baru saja menyampaikan keluhan saya kepada salah satu temen saya (sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya, nama sebenarnya Cantika hehehe) mengenai betapa dia begitu sulit meluangkan waktunya untuk teman-temannya, dalam hal ini untuk pergi main sama temen-temennya berhubung dia begitu sibuk luar biasa. Sebetulnya bukan cuma saya yang sebel sama kebiasaannya membatalkan janji main karena dia sibuk, beberapa temen deket yang lain juga sempat mengeluhkan mengenai hal itu, hanya saja belum menemukan cara yang pas untuk bicara langsung dengannya. Berhubung saya tipe orang yang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang mengganjal dari orang-orang terdekat saya, (apalagi kalau hal itu cenderung gak enak dan bisa mengganggu jalannya hubungan pertemanan) maka saya berusaha menyuarakannya. Dalam penyampaiannya tentu saja saya berusaha se-asertif mungkin dan tidak meledak ledak (ini juga satu hal yang sedang berusaha saya perbaiki).

Saya berkata pada temen saya itu, kalau terus begitu dia bisa membuat temen-temennya merasa tidak dihargai, dampak paling buruk adalah dia bisa menjadi workaholic yang akan ditinggalkan oleh temen-temennya (oke ini berlebihan sih, biar beneran ‘ngeh’ aja sih hehe).

Alhamdulillah sih, sepertinya maksud saya tersampaikan dengan baik dan mudah-mudahan teman saya tidak tersinggung, karena pada dasarnya ini demi kepentingan bersama. Prinsipnya saling mengingatkan. Saya lihat juga semakin ke sini temen saya itu sudah mulai meluangkan banyak waktu untuk temen-temennya, walaupun tentu saja dia masih sibuk luar biasa hehehe.

Sebetulnya seberapa penting sih hal-hal seperti itu? Maksudnya, meluangkan waktu untuk temen, berbagi cerita dan berempati serta memiliki quality time dengan temen-temen terdekat kita? Saya tidak tahu pasti jawabannya, tapi ada temen saya (sebut saja Saski, bukan nama sebenernya, soalnya nama sebenernya panjang bener kalo ditulis semua) yang memiliki prinsip “temen itu kaya tanaman, jadi harus dijaga, dipupuk, dan dirawat”. Saya sih setuju-setuju aja dengan prinsipnya ini, dan saya selama ini merasa cukup nyaman dengan pertemanan saya secara umum. Saya selama ini merasa sudah cukup baik membagi waktu dan menjaga agar semua aspek kehidupan saya tetap seimbang  sehingga tidak ada pihak-pihak yang merasa ditinggalkan dan kecewa sehingga kemudian semuanya berjalan buruk. Hal ini berlaku baik dalam kehidupan akademis, kepanitiaan, organisasi, keluarga, pertemanan, sampai percintaan (walaupun aspek yang terakhir ini akhir2 ini lagi saya cuekin berat).

Tapi, ternyata itu semua hanya perasaan saya aja sodara-sodara!

Kenapa begitu?

Jadi, ceritanya begini. Baru-baru ini saya baru saja menerima keluhan dari salah seorang temen yang disampaikan secara tidak langsung (jadi ceritanya saya taunya dari temen saya yang lain, orangnya nggak ngomong langsung gitu). Katanya salah seorang temen saya merasa sebel sama saya (sebut saja inisialnya AD) dan dia curhat sama temen saya yang lain (sebut saja inisialnya PM). Sebetulnya sampai hari ini saya juga kurang begitu paham keluhan pastinya apa, karena toh saya dapetnya bukan dari orangnya langsung. PM sebelumnya sudah mendiskusikan dengan 2 orang temen saya yang lain (NF dan MG) apakah sebaiknya saya diberitahu mengenai hal ini atau tidak, ujungnya saya dikasih tau juga. Bingung banget sih saya karena informasinya simpang siur. Ketika saya bertanya ke PM, NF dan MG sebetulnya AD sebelnya kenapa, eehh ketiganya memberikan jawaban yang berbeda-beda.

Saya semakin bingung, lama-lama sebel sendiri soalnya AD nggak ngomong langsung ke saya. Gimana saya bisa tau apa salah saya kalo dia nggak mau kasih tau ke saya? Terus saya harus gimana ya? Huff, tarik napas sedikit curhat ke orang yang lebih tenang dari saya, lalu saya ingat, oh iya, mungkin AD juga nggak tahu gimana cara ngomongnya ke saya, mungkin juga AD berpikir itu cuma perasaan sesaat jadi nggak perlu sesegera itu juga diomongin nanti juga ilang sendiri, tetep aja saya takut banget sama sesuatu yang nggak diomongin kaya gini tau-tau DHUAAARRRR meledak aja gitu, tamat deh saya. Walaupun cuek, saya kan juga bisa berasa bersalah dan nggak enak-an.

Oke, akhirnya saya menarik kesimpulan yang paling logis dari kesebelan si AD, yaitu :

1. Si AD sebel karena merasa saya tidak sepeduli itu ke dia, setidaknya tidak sepeduli dia kepada saya

2. Gaya pertemanannya berbeda

3. Saya emang tipe yang tidak terlalu terikat pada beberapa orang temen aja

4. Saya terlalu cuek dan kurang empatik

picture taken from deviantart.com

picture taken from deviantart.com

Kesimpulan lebih lanjut adalah, sepertinya saya kurang memupuk pertemanan saya dengan orang-orang terdekat saya. Sejujurnya, saya memang bukan tipe yang bisa perhatian ke temen-temen saya gitu, misalnya, saya tidak mungkin bisa segera menyadari temen saya memiliki kesulitan, saya bukan tipe yang baik dalam mengingat tanggal ulang tahun temen dan keluarganya, saya tidak perhatian dan tidak mengayomi, saya tidak rajin memberi hadiah-hadiah kecil yang imut ke temen-temen saya, saya bukan tipe yang suka memberi hadiah ulangtahun, bukan tipe yang kalau pergi makan ke luar terus pulang-pulang ngebawain makanan buat temen atau keluarga saya, bukan tipe yang kalo lagi jalan-jalan terus inget temennya lagi butuh apa terus kalo kebetulan liat dibeliin dulu, samasekali bukan.

Di lain pihak saya juga bukan tipe temen yang mengikat, saya tipe yang cuek kalo temen saya mau main sama orang lain, bukan tipe temen yang harus selalu diajak kalo temen saya mau main kemana sama siapa, tipe yang santai kalo temen nggak bales sms, tipe yang nggak cuma main sama beberapa orang aja, tipe yang pada umumnya nggak selalu mau tau kalo temen saya lagi punya urusan sama orang lain, tipe yang santai-santai aja lah pokoknya.

*tiba-tiba saya membandingkan dengan ketika saya punya pacar, semuanya terbalik, saya tipe yang pencemburu dan perhatian berlebihan kalo punya pacar* (info kurang penting yang agak aneh)

Berdasarkan keluhan AD saya akhirnya mulai berpikir mengenai hal-hal tersebut. Sebelumnya saya tidak pernah kepikiran bahwa hal-hal seperti itu bisa mengganggu hubungan pertemanan ataupun hubungan interpersonal apapun yang ada dalam kehidupan saya, nyatanya dampaknya bisa cukup besar ya? Saya jadi berpikir, mungkin meluangkan waktu untuk main dan ngobrol sama temen dekat aja belum cukup ya, mungkin rasa empati saya harus lebih dipupuk, mungkin saya harus lebih membagikan afeksi kepada orang-orang terdekat saya.

Singkatnya sih, saya merasa bersalah. Lalu saya ingin berubah untuk memperbaiki diri saya, walaupun tentu saja tidak sedrastis itu, berhubung yang mengeluh baru satu orang saja, namun kritik dan keluhan tentu saja saya hargai sebagai bahan evaluasi dan refleksi saya.Walaupun ada kutipan yang mengatakan ” Your friend is someone who knows all about you, and still likes you” – Elbert Hubbard, namun saya percaya segala bentuk hubungan interpersonal itu harus  dua arah, ketika saya mendengar keluhan, maka saya harus melihat terlebih dahulu ke dalam diri saya sendiri, apa yang bisa saya perbaiki, mengkomunikasikannya, dan mengambil jalan tengah supaya kedua belah pihak juga enak dalam menjalankannya.

“I get by with a little help from my friends.”
– John Lennon

Ada yang punya ide saya harus mulai darimana?

– D! –

3 comments

  1. saskhyaauliaprima

    ahahahha dhea sayanggg yah mungkin pertama hal yang paling mendasar.semua orang berbeda..input apapun yang lo berikan interpretasinya masing-masing pasti berbeda..jadi ga salah dhe kalo cuek..hm mungkin ya kenali dengan baik teman-temanmu ya..jadi dikau tau harus gimana ke a,b,c, dan d..tapi senyamannya aja bebi..tp kayak taneman emang jangan dicuekkin segawat itu juga hehe..tika si anak sibuk..semoga mendapat pencerahan yaaa darling :)

  2. devina

    Gw juga orgnya gt dhe, ga bisa yg menye2 kalo ke temen (tapi kok ke pacar beda ya) :p
    Seperti yg kita bicarakan di kancil dulu sih..
    Sebenernya ya mgkn krn tiap org emg beda2. Tp sekarang gw udah nyoba buat lebih sensitif sama hal2 ky gt dan lebih memperlakukan org sesuai dengan tipe mereka. :)

  3. dheasekararum

    @devina : hehe iya, gue juga akhir2 ini mencoba untuk berkompromi kok dev, yah gue pikir, teman gue mau menerima pola pertemanan gue yang seperti ini ya menurut gue gada yang salah juga kalau gue mulai memahami pola pertemanan mereka hehehe

    @saski : iya gue sekarang jadi gardener, seringnya berkebun. supaya gada tanaman-tanaman yang terlantar, insya allah :D

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s