Refleksi kadang bisa bikin repot

Halo halo,  rasanya udah lama banget saya nggak nulis di sini yah. hahaha tugas-tugas kuliah sialan itu memang luarbiasa menyita waktu deh. Yah baiklah, berhubung sekarang ini juga menjelang memasuki masa liburan, mungkin saya sudah memiliki waktu yang agak lebih longgar sehingga bisa mulai menulis lagi.

Sejak setahun belakangan, saya merasa saya menjadi orang yang jauh lebih reflektif dibandingkan sebelumnya. Yah, sebetulnya, sejak saya masuk di fakultas psikologi saya sudah mulai menjadi orang yangl ebih reflektif sih, tapi sejak setahun belakangan ini dosisnya meningkat lagi.

Sistem perilaku reflektif, ialah sistem yang menghasilkan tingkah laku yang didasarkan oleh pengetahuan seseorang mengenai kepercayaan ataupun nilai-nilai yang ada di lingkungannya (Fritz Strack & Roland Deutsch, 2004). Sesuai dengan hal tersebut, maka saya pun, dalam rangka bertingkah laku lebih reflektif, senantiasa melihat kembali apa-apa saja yang telah saya lakukan (dan katakan) dan kemudian menilainya, untuk melihat apakah tingkah laku saya tersebut sudah baik, memungkinkan untuk memberikan manfaat bagi diri saya maupun orang lain, ataukah justru menyakiti orang lain -bila dibandingkan dengan nilai maupun norma sosial yang sudah ada-.

Kebiasaan untuk menilai tingkah laku saya ini terjadi secara simultan sebelum saya melakukan sesuatu, saat saya sedang melakukan sesuatu, ataupun setelah saya telah selesai melakukan sesuatu. Namun, waktu-waktu dimana saya kembali memikirkan dan melihat apa-apa saja yang telah saya lakukan adalah malah hari. Ketika saya telah selesai menjalani satu hari itu, setelah saya sampai di kosan dan sudah mandi dan sudah makan, maka saya akan duduk diam di meja belajar saya sambil mengulang kembali kejadian apa saja yang saya jalankan dan saya lewatkan pada hari itu.

Biasanya, saat saya melakukan hal itu saya juga mencoba mengingat-ingat dengan siapa saja saya berinteraksi hari itu, apa saja yang sudah saya katakan, apakah saya mencela orang lain hari itu, apakah saya membicarakan kejelekan orang lain hari itu, apakah semua kegiatan yang saya rencanakan untuk hari itu berhasil terlaksana dengan baik, apakah saya menjalankan segala sesuatunya dengan tepat waktu, kebaikan dan keburukan apa yang telah saya lakukan pada satu hari itu, apa saya mampu mengendalikan emosi saya, dan sebagainya-dan sebagainya. Setelah saya selesai mengevaluasi tindakan saya, maka saya melanjutkan dengan membuat rencana untuk esok hari, kemudian solat dan mengerjakan tugas (atau sebaliknya, atau bisa juga langsung tidur semena-mena).

Untuk banyak hal, yang saya lakukan ini banyak gunanya, dimana yang jelas saya bisa melakukan semua hal yang saya anggap kurang dengan lebih baik di hari yang akan datang, karena saya tau bahwa hal itu bisa diperbaiki. Namun, selain menguntungkan, ternyata kebiasaan ini bisa jadi merepotkan. Kenapa merepotkan?

Seperti yang telah saya bilang sebelumnya, bahwa selain pada malam hari, saya juga mencoba mengevaluasi diri secara simultan saat saya sedang melakukan sesuatu atau saat saya sedang berbincang dengan seseorang. Ada waktu-waktu dimana sebetulnya saya tidak begitu menyukai lawan bicara saya, entah karena nada suaranya, topik yang dibicarakan, atau mungkin karena emang nggak cocok aja. Sebelumnya, kalau saya merasa tidak suka sama orang saya akan curhat kepada teman saya, atau curhat lewat tulisan, si ini begini si ini begitu, ‘ih dia tuh gatau ya bblalalalala’ gitu. Sekarang saya tidak bisa segampang itu lagi memberi komentar terhadap orang lain.

Akhir-akhir ini, kalau saya mulai merasa tidak suka atas perkataan orang kepada saya, atau saya sebel sama orang, yang saya lakukan adalah diem, terus mikir. Waktu saya diem itu, biasanya hal-hal yang saya mampir di pikiran saya adalah semacam penenangan diri, seperti “oh ya mungkin dia terbiasa bicara dengan nada seperti itu”. “oh ya, mungkin di rumahnya dia memang diajarin untuk bertindak seperti itu jadi emang udah biasa ya gak bisa disalahin dong”. Atau, yang paling jelek adalah “waduh, gue gabisa sebel sama orang ini nih, jangan-jangan gue juga pernah gini ke orang”.

Hal-hal seperti inilah yang kadang-kadang bisa saya repot dan capek. Masalahnya adalah, saya juga manusia biasa, yang masih bisa merasa sebel dan sakit hati, dendam dan tidak ikhlas, iri dan perasaan-perasaan lain yang menjadikan seseorang sebagai manusia. Dengan tingkah laku reflektif ini saya kadang merasa ‘tidak bebas’ untuk merasa marah terhadap orang lain, merasa sakit hati, atau merasa kesal, karena saya selalu mengingatkan diri saya bahwa mungkin aja orang yang bikin saya kesel atau sakit hati itu justru tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Atau ya, mungkin buat dia itu bukan suatu masalah. Hal-hal seperti ini yang kadang bikin saya cuma bisa diem dan menghela napas. Dalam waktu-waktu dimana saya sedang diliputi atmosfer dan mood positif, saya akan mencoba berdamai dengan emosi saya sendiri dan berpikir rasional, tapi di beberapa waktu yang buruk (misalnya ketika saya sedang capek, atau terlalu banyak kerjaan yang harus saya pikirkan) saya bisa saja melampiaskan emosi negatif saya ke sasaran yang salah.

Yah kalau temperamen neurotik saya mulai muncul saya suka iri dengan orang-orang yang santai, yang tidak terlalu sensitif seperti saya, yang bisa melakukan dan mengatakan segala sesuatunya dengan tenang tanpa khawatir bagaimana dampak komunikasi yang mereka sampaikan kepada lawan bicara mereka. Saya juga iri kepada orang-orang yang bisa menyembunyikan perasaan mereka, tidak seperti saya yang cenderung ekspresif, sebel mukanya keliatan sebel, sedih juga keliatan, marah juga keliatan. Kadang-kadang ke-ekspresif-an (atau ekspresivitas?) itu membuat repot kalau ditambahkan dengan perilaku reflektif ini.

Sekali lagi, mungkin saya lah yang masih butuh belajar.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s