Saya, konsumtif? (pt.2)

Di tulisan sebelumnya saya sudah mengungkapkan sedikit keresahan dan kegundahgulanahan yang menyita waktu, pikiran, hati, dan energi saya akhir-akhir ini. Saya juga telah mengungkapkan bahwa saya sedang berusaha untuk mencari pemecahan dari kegundahgulanahan tersebut, dan saya sudah sampai pada poin pertama, yaitu mencoba menelusuri kembali apa yang sebenarnya terjadi, sehingga saya merasa ada sesuatu yang salah dengan pola hidup saya akhir-akhir ini.

Poin pertama,

Memangnya ada apa sih?

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa kira-kira dua tahun yang lalu saya adalah anak yang nggak peduli merk ataupun gadget. Selama saya merasa nyaman, maka saya akan pakai, dan bila saya tidak merasa butuh maka saya tidak akan ambil pusing. Sekedar melirik pun tidak sama sekali. Cuek Bebek. Namun sekarang saya tidak seperti itu lagi.

Untuk beberapa item, saya mulai tahu bahwa barang-barang dengan merk tertentu (dengan harga tertentu pula) ternyata memberikan kenyamanan tersendiri jika dipakai. Misalnya saja, sepatu. Sejak itu, saya mulai lebih pemilih dalam membeli beberapa barang. Awalnya semua berjalan lancar, tapi lama kelamaan saya jadi berlebihan, tiba-tiba merk menjadi sesuatu yang penting bagi saya.

Oh, iya merk yang saya bicarakan di sini tentu belum sampai kelas Vuitton, Channel, dan kawan-kawan ya, cuma yang lumrah-lumrah dan berceceran di mal-mal Jakarta aja kok, cuma sebenernya kalau diliat lagi ada beberapa item yang diberi harga diluar akal sehat seorang mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri.

Entah kenapa untuk beberapa barang saya mulai merasakan adanya tuntutan untuk membelinya di suatu toko tertentu, dengan berbagai alasan tentunya. Padahal kalau saya mau lebih jeli membeli, barang-barang dengan model serupa bisa didapatkan dengan harga lebih murah di tempat lain, ITC misalnya. Tidak jauh berbeda keadaannya dengan gadget, oke, mungkin saya belum sampai sejauh itu tergoda untuk dengan lekas membeli ini itu karena semua orang pakai ini itu. Hanya saja yang jelas, ada tekanan tersendiri untuk menggunakan gadget ini dan itu ketika saya melihat teman-teman saya menggunakannya. Ada semacam perasaan ‘ditinggalkan’ kalau saya nggak ikut-ikutan beli ini itu, tanpa saya benar-benar tahu apa urgensinya semua ini bagi saya. Semacam gengsi, malu, takut tidak diterima dalam kelompok, atau rasa-rasa semacam itu mungkin?

Sungguh menyedihkan dan sangatlah dangkal keadaan saya tersebut. Dimana seharusnya hal-hal tersebut muncul saat saya masih dalam masa remaja saya, ketika saya masih duduk di bangku SMA, secara mengherankannya justru muncul di usia saya yang ke-20 tahun ini. Aneh, sekaligus menyebalkan. Saya jadi sebel banget sama keadaan kalau keinginan saya nggak terpenuhi, sungguh sangat frik.

Poin kedua,

Kenapa bisa begitu ya?

Saya mikir, mikir, dan menduga-duga. Kira-kira kenapa saya bisa begini ya. Lalu dugaan awal tentu adalah informasi yang saya dapatkan. Pada usia saya ini saya semakin terbuka untuk segala bentuk informasi dan semakin terbuka untuk berteman dengan segala jenis orang, bahkan jenis yang tadinya tidak terbayang buat saya. Dengan banyaknya akses informasi ini tentu saja pengetahuan saya tentang barang-barang dan kualitasnya juga semakin bertambah, dimana hal ini dapat membuat keinginan saya untuk memiliki barang-barang tersebut muncul.

Sebagai tambahan, sehari-harinya saya dipaparkan dengan orang-orang terdekat saya yang memiliki gaya hidup yang berbeda dengan saya, yang nggak cuek dan buta merk kaya saya. Orang-orang di sekitar saya justru sangat sadar merk dan tentunya kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh-jauh dari situ, pembicaraannya juga nggak bakal jauh-jauh dari situ. Saya pun sedikit demi sedikit terpengaruh. Berhubung iman saya lemah, saya pun mulai tergoda, padahal kalau saja saya mau sedikit lebih cerdik, belum tentu itu semua saya butuhkan. Saya yang malang.

Poin Ketiga

Terus, kenapa jadi pusing dan tertekan segala?

Keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa ayah saya akan segera memasuki masa pensiunnya. Dimana ayah saya adalah orang yang sangat sulit untuk berbagi mengenai hal-hal yang ada dalam pikirannya, sehingga menyangkut perencanaan memasuki masa pensiun juga saya buta samasekali, kalau ditanya juga beliau hanya menjawab sekenanya. Ini semakin membuat perubahan keadaan sangat terasa, namun tidak pasti berubah ke mana. Hal-hal tambahan seperti kenyataan bahwa orangtua yang saya miliki ya tinggal ayah saya ini aja, dan saya anak pertama, dimana saya masih memilii dua orang adik perempuan yang masih muda belia semakin membuat saya berpikiran bahwa kebutuhan saya tambah tidak mungkin terpenuhi.

Keadaan saya berubah, padahal keadaan di sekitar saya, seperti teman-teman saya, dan sebagainya, tidak berubah, tetap berjalan dengan santai.

Saya jadi pusing.

(bersambung~lagi? Iya, lagi)

– D! –

One comment

  1. sarah

    Kalo menurut gue, dhe, harga emang ga pernah bohong. Tapi merk belom tentu jujur juga. Cuma untuk hal2 tertentu aja tapinya.

    Misalnya untuk ukuran sepatu. Gue pernah beli sepatu di melawai dengan harga murah, ga sampe seminggu udah rusak. Bulan depannya gue beli model yang serupa di PIM dg harga hampir 3 kali lipatnya, dan kebukti bgt kualitasnya. Lebih pewe, ga sakit juga kalo dipake.

    Ada hal2 yg bukannya ga boleh beli yg murah, tapi kalo bisa sih jgn murahan. Hehe. Drpd lo beli sepatu di melawai/itc dan cpt rusak, trs malah jd bolak balik beli, mending beli skali lumayan pricey tp awet ga sih, dhe? Ga buang2 duit juga. Hehe tp itu menurut gue sihh :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s