Naik Transjakarta? Siapa Takut!

Halo, beberapa minggu lalu saya sempet baca berita di Antaranews.com mengenai tingkat polusi udara  Jakarta yang semakin meningkat dan termasuk yang tertinggi kalau dibandingkan dengan kota-kota besar di negara-negara Asia lainnya (saya nggak bisa cantumin link, soalnya nggak disave beritanya, agak bodoh memang). 80% penyumbang polusi udara itu adalah asap kendaraan sedangkan 20% sisanya berasal dari hasil industri, sampah rumah tangga, dan sebagainya. Yah kalau dilihat-lihat sih ya wajar aja berhubung pengguna kendaraan pribadi di Jakarta ini kan luarbiasa banyaknya. Berdasarkan keprihatinan saya mengenai hal ini, maka saya bertekad akan meningkatkan frekuensi penggunaan kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi (nebeng tuh kendaraan pribadi juga bukan ya? hehe). Yah bukannya saya nggak pernah naik kendaraan umum samasekali sih, cuma seringnya naik kendaraan pribadi, berhubung bapak saya itu orangnya parnoan sampe saya suka kesel sendiri.

Contoh bentuk kendaraan yang sering saya gunakan adalah bus cantik berwarna ungu bernama Deborah, angkot-angkot manis, dan bus TransJakarta yang elegan. Kali ini saya tidak akan membahas mengenai Deborah cantik dan angkot-angkot manis manja tersebut, namun saat ini saya akan membahas tentang bus TransJakarta karena dibandingkan kedua jenis angkutan lain yang saya sebut di atas bus inilah yang paling sering saya tumpangi.

TransJakarta, memulai operasinya pada 15 Januari 2004, (saat itu DKI Jakarta berada di bawah pemerintahan Gubernur Sutiyoso) dengan tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta. Untuk mencapai hal tersebut, bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta). Agar terjangkau oleh masyarakat, maka harga tiket disubsidi oleh pemerintah daerah (keterangan ini didapatkan dari “Wikipedia” )

bus Transjakarta yang ciamik

bus Transjakarta yang ciamik

Berdasarkan keterangan di atas, ada dua hal yang patut diperhatikan disini,

pertama, tujuan memberikan jasa angkutan yang lebih cepat, nyaman, namun terjangkau bagi warga Jakarta,

dan

kedua, bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya dan lajur tersebut tidak boleh dilewati kendaraan lainnya (termasuk bus umum selain Transjakarta)

Pada kenyataannya, ternyata kedua hal ini belum dapat diwujudkan dengan baik dengan adanya bus TransJakarta. Saya mengakui bahwa dengan adanya TransJakarta, saya mendapatkan kemudahan dalam mengakses lokasi-lokasi tertentu yang letaknya sangat jauh dari rumah saya. Saya juga dapat merasakan kenyamanan yang lebih jika dibandingkan dengan kalau saya harus menumpang bis lain, metromini, atau angkot. Namun, kenyamanan ini berkurang karena beberapa hal yang patut disayangkan, salah satunya yang paling membuat saya jengkel, adalah pelanggaran atas peraturan sterilisasi jalur busway. Sudah disebutkan bahwa bus TransJakarta diberikan lajur khusus di jalan-jalan yang menjadi bagian dari rutenya, dan lajur tersebut TIDAK BOLEH dilewati oleh kendaraan lain. Namun hal ini tampaknya seringkali diabaikan oleh para pengguna jalan, terutama mobil pribadi. Memang sih, ada beberapa jalur yang tetap diperbolehkan untuk dilewati oleh keadaan lain, namun bukan jalur yang telah disterilisasi dan telah diberi pembatas jalan khusus bus TransJakarta.

Ketika pengendara mobil pribadi berbondong-bondong lewat jalur busway, akhirnya bus TransJakarta-nya sendiri jadi tersendat jalannya, ikut-ikutan kena macet. Padahal misi utama dan mumpuni dari adanya program bus TransJakarta ini sendiri kan untuk mengurangi kemacetan ibukota. Diharapkan, dengan kehadiran bus ini warga Jakarta akan mengurangi pemakaian mobil pribadi dan beralih ke TransJakarta. Oleh karena itu pula TransJakarta sekarang sudah memiliki rute yang aksesnya luar biasa, 10 koridor bung! Belum lagi ditambah beberapa koridor khusus yang hanya beroperasi di waktu-waktu tertentu (misalnya saat akhir minggu), tapi kalo gini caranya, sama aja bohong, karena toh para pengguna mobil pribadi itu tetap tidak berpaling ke TransJakarta dan justru mengeluh bahwa jalanan semakin sempit dengan adanya jalur busway dan berdalih ini akan membuat macet. Lalu, apakah keluhan ini yang membuat mereka merasa berhak untuk lewat jalur busway yang sudah disterilisasi? Halooooo?? Sadar dong orang-orang, pemerintah sendiri sudah berusaha untuk memberikan sarananya, tinggal kesadaran masyarakatnya yang perlu ditingkatkan. Bayar ongkos TransJakarta lebih murah lho daripada bayar bensin.

Berkurangnya kenyamanan dalam menumpang TransJakarta adalah kurangnya armada bus TransJakarta itu sendiri atau biasa disebut juga bus pengumpan (feeder). Hal ini menyebabkan pada jam-jam sibuk, jumlah armada yang tersedia belum sebanding dengan jumlah penumpang menyebabkan antrian panjang di halte-halte (terutama untuk koridor 2 dan 3). Selain antrian yang sangat panjang dan waktu menunggu bus yang sangat lama, begitu berhasil mendapatkan bus para penumpang akan langsung berdesakan dan saling berhimpitan, sehingga tidak ada bedanya dengan menumpang bus Patas AC maupun Deborah ungu yang cantik. Dengan keadaan dimana penumpang penuh sesak seperti ini, yang terjadi adalah pengumuman yang diberikan mengenai halte berikutnya tidak dapat didengar dengan baik, kemudian informasi visual (tulisan) tentang halte berikutnya yang akan dituju -biasa terletak dekat dengan kursi supir dengan tulisan merah yang berjalan- jadi tidak terlihat. Hal ini sangat menyulitkan bagi pengguna TransJakarta, terutama untuk penumpang yang baru sekali naik TransJakarta untuk rute tertentu, dimana tentunya ia belum hapal halte-halte mana saya yang akan disinggahi.

Sebagai catatan penting, hal yang lebih mengganggu lagi adalah kriminalitas juga kerap terjadi pada jam-jam sibuk disaat bus penuh terisi sesak. Kriminalitas memang ada dimana-mana, namun seharusnya hal ini dapat diminimalisir seandainya kondisi bus TransJakarta yang ditumpangi lebih nyaman dan penumpang yang ikut dalam bus tidak melebihi kapasitas.

Hal ini dapat menjadi teguran untuk pemerintah, dengan begini dapat dilihat bahwa mungkin pengguna TransJakarta jumlahnya cukup besar (yang mana tentunya hal ini menjadi berita baik bagi pemerintah mengingat tujuan program ini). Untuk itu pemerintah sebaiknya lebih memperhatikan jumlah armada bus TransJakarta itu sendiri. Yah, saya memang cuma warga, dan ngomong memang lebih gampang daripada melakukan, dan saya juga tahu pemerintah daerah pasti punya segudang urusan lain selain TransJakarta. Saya juga maklum bahwa bus-bus Mercedes -Benz dan Hino yang digunakan sebagai Transjakarta dibangun dengan menggunakan bahan-bahan pilihan.

“Untuk interior langit-langit bus, menggunakan bahan yang tahan api sehingga jika terjadi percikan api tidak akan menjalar. Untuk kerangkanya, menggunakan Galvanil, suatu jenis logam campuran seng dan besi yang kokoh dan tahan karat.
Desain bus Transjakarta juga berbeda dengan bus lain, bus ini memiliki pintu yang terletak lebih tinggi dibanding bus lain sehingga hanya dapat dinaiki dari halte khusus busway (juga dikenal dengan sebutan shelter). Pintu tersebut terletak di bagian tengah kanan dan kiri. Pintu bus menggunakan sistem lipat otomatis yang dapat dikendalikan dari konsol yang ada di panel pengemudi. Untuk bus koridor 2 dan 3, mekanisme pembukaan pintu telah diubah menjadi sistem geser untuk lebih mengakomodasi padatnya penumpang pada jam-jam tertentu, di dekat kursi-kursi penumpang yang bagian belakangnya merupakan jalur pergeseran pintu, dipasang pengaman yang terbuat dari gelas akrilik untuk menghindari terbenturnya bagian tubuh penumpang oleh pintu yang bergeser.” (Wikipedia)

Keren bukan? Wajar kalau pembuatan bus TransJakarta membutuhkan biaya yang besar dan tidak segampang itu menambah jumlah armada, belum lagi menggaji supirnya. Hanya saja, kalau mau dipikir lagi, jika saja keamanan dan kenyamanan bus Transjakarta ditingkatkan, pastinya penumpang juga semakin berminat untuk menumpang, sehingga ujungnya diharapkan akan memiliki dampak pengurangan jumlah pengguna kendaraan pribadi di jalanan ibukota. Untuk itu baik sekali kalau kerjasama pemerintah dan masyarakat semakin ditingkatkan, toh ini buat Jakarta kita juga kan?

Buat kita pribadi, apa yang dapat dilakukan?

salah satu yang paling mudah tentu saja mencoba TransJakarta dan mengurangi penggunaan mobil pribadi. Kalau itupun masih terlalu sulit untuk dilakukan karena belum terbiasa, atau karena rute yang kita lewati ternyata belum terjamah oleh TransJakarta, hal penting lain yang harus dilakukan saat berkendara dengan mobil pribadi adalah jangan menerobos dan seenaknya malang melintang di jalur busway, tolong jangan. Saya tahu jalanan macet, dan seringkali lewat jalur busway ternyata mempercepat laju kendaraan kita karena relatif lebih lancar, tapi itu egois namanya. Kalau semua orang berpikiran seperti itu, ujungnya jalur busway juga akan jadi ramai dan macet, akhirnya kehilangan fungsi yang sebenarnya.

Setidaknya saya sudah mencobanya, bagaimana dengan kalian?

– D! –

3 comments

  1. vienz

    setuju.. Transjakarta itu emang diadakan buat membudayakan naik transportasi umum di jakarta dan mengurangi pemakaian mobil pribadi. makanya dibuat senyaman mungkin.. tapi kok.. kayaknya Transjakarta yg make yaa orang2 tertentu aja, dan mobil pribadi makin banyak juga ya? fenomena yg aneh..

  2. yundanita

    aku udah coba bus transjakarta kak, menurut aku juga enak dan nyaman. tapi yang bikin kesel tiu, biasanya penumpang bus menumpuk di bagian deket pintu bus, makanya keliatannya penuh, padahal yang di dalem2 masih lowong, tapi mekera gak mau masuk ke dalem. alhasil penumpang yang terangkut di setiap halte kan sedikit *pengalaman soalnya* sama aja kayak naek bikun kak, kurang lesadaran penumpang buat berbagi tempat gitu. terus kadang supirnya juga nyupirnya serem banget deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s