#Pengakuan : Waktu SMA saya mengalami krisis PD yg mengganggu (pt.3)

Sebetulnya sih teman-teman saya yang lain juga tidak menuntut secara langsung untuk saya menjadi sama dengan mereka. Hanya saya saja yang merasa perlu mengikuti mereka. Walaupun saya sendiri tidak mengerti apakah hal itu baik atau tidak bagi saya dan orang-orang terdekat saya, biasalah anak remaja labil, dimana teman lebih penting dari keluarga.Selain masalah tampilan dan pembicaraan yang tidak nyambung, saya juga merasa seumur hidup saya di SMA saya tidak pernah bebas menjadi diri saya sendiri (yang pada saat itu juga saya tidak yakin diri saya seperti apa ya?). Yah walaupun saya sendiri juga belum tau diri saya sebenernya seperti apa, minimal saya tau kebiasaan-kebiasaan kampungan saya udah ada dari dulu. Kebiasaan saya komentar-komentar asal yang suka disalahartikan sebagai ngelawak, kebiasaan saya untuk nge-dubbing telenovela di TV, kebiasaan saya untuk beli baju di pasar, kebiasaan saya untuk ngemilin es batu, kebiasaan saya untuk beli jajan pasar atau makan di rumah makan tradisional dari pada makan di restoran mahal, yah kebiasaan sederhana seperti itu.

Belum lagi pembicaraan yang terjadi biasanya seputar baju, mode, dan hal-hal semacam itu yang bagi saya saat itu sebetulnya tidak menarik. Hal lain yang membuat saya merasa berbeda dengan teman-teman saya saat itu adalah kenyataan bahwa saya tidak menganggap ngerjain adik kelas adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan. Entah saya yang terlalu cuek, entah apa, yang jelas saya merasa itu bukan urusan saya dalam hal mengatur seperti apa seharusnya adik kelas berpakaian atau bertingkah laku, walaupun saya sebenarnya mengikuti aturan yang dibuat oleh senior saya, dalam hal berpakaian misalnya. Pokoknya jaman SMA saya merasa sikap saya ambivalen terhadap keadaan yang ada. Saya sebetulnya nggak memandang suatu hal sebagai suatu yang positif tapi saya ikut-ikutan aja dalam rangka diakui eksitensinya. Kalau dapet undangan pesta-pesta gitu saya sebetulnya suka bingung harus dating atau nggak kalau orang yang mengundang sebetulnya nggak deket-deket amat. Saya juga menganggap bahwa kedatangan saya di pesta yang dimaksud juga sebetulnya tidak signifikan, lha ya wong deket aja enggak kok ya. Saya juga menyembunyikan fakta bahwa saya suka beberapa band indie, yang teman-teman saya bilang mereka nggak ngerti musiknya. Sebenernya ada sih sekelompok temen-temen lain yang menyukai band-band yang sama seperti saya, Cuma mereka ini juga ternyata hobi clubbing, sementara saya enggak. Saya biasa aja sama clubbing, jadi ya nggak mungkin main bareng juga lah. Sudah beberapa kali rasanya saya ingin ganti teman bergaul aja, yang lebih sepaham dengan saya, Cuma apa mau dikata, gengsi saya sudah menang. SAya merasa kalau ganti temen, temen-temen baru saya nanti nggak akan se-eksis temen-temen saya yang populer ini. Pokoknya saya anak yang biasa-biasa aja waktu SMA lah.

Baru ketika duduk di kelas 3 saya mulai merasa benar-benar nyaman. Sejak duduk di kelas 2 saya mulai berani sedikit-sedikit mengemukakan pendapat saya. Ketika saya keterima di jurusan IPA, saya minta kepada Ibu saya untuk mengurus kepindahan saya ke jurusan IPS saja, karena saya nggak punya minat samasekali dalam Fisika dan MAtematika. Sejak kelas 2 saya belajar untuk memilih teman, mulai berani untuk jujur sama diri sendiri bahwa saya sebenernya nggak cocok dengan gaya hidup seperti itu, mulai berani untuk mengeluarkan komentar-komentar saya dan bukannya Cuma diem aja.

Pada kelas 3 saya berhasil menemukan beberapa teman yang membuat saya nyaman berada di antara mereka, teman-teman yang bisa diajak naik bus, teman-teman yang bisa diajak menggembel, temen-temen yang mau makan di pinggir jalan tapi juga teman-teman dengan pengetahuan yang sama luasnya dengan teman-teman saya yang sebelumnya, dan saya sedikit bisa lega. Tidak, saya tidak pernah menyalahkan teman-teman lama saya, saya juga tidak begitu saja meninggalkan mereka. Hanya saja, waktu sendiri yang membuktikan kedekatan kami sejauh apa. Sekarang, di tahun terakhir (Insya Allah) saya kuliah, saya masih berhubungan cukup baik dengan mereka, setidak-tidaknya kami masih berkirim info mengenai acara yang diadakan kampus masing-masing, atau saling mengucapkan ulang tahun dan lebaran. Bagi saya itu sudah cukup. Asal saya bisa merasa nyaman.

Apa diantara teman-teman pernah mengalami isu yang sama?

– D! –

3 comments

  1. smita prathita

    Ahhh been there done that. Cuma gue pas SMP and it was a shitty moment for me. Sampe sekarang gue merasa SMP adalah masa-masa hidup gue gelap gulita. Dan emang bukan salah orang lain, tapi hanya gue gue dan gue yang menjalaninya dgn payah, dgn minder, dgn tidak menjadi diri sendiri.

    Gue bersyukur banget akhirnya gue dikasih kesempatan ke Singapur, karna disanalah akhirnya gue mulai mendapatkan kenyamanan gue terutama dgn diri gue.

    Well said, dhe :)

    Kayaknya smua orang emang pasti menjalani masa insecurity dan minderan parah dalam hidupnya (ada gak yg nggak ngerasain? Gileee sotoy bgt tu orang) but I learned a lot from those moments. Bahwa akhirnya pertemanan yang sebatas imej, uang, atau keterpaksaan gak bisa langgeng. Bahwa selama kita gak nyaman sama diri kita, mau sebaik apapun orang / keadaan smua akan jadi gak enak pada akhirnya, dll dll.

    Yah, its the path to find ourselves aja. Minderan gue masih kebawa kok sampe sekarang, cuma ya kadang ketutup sama kesongongan gue aja (atau songong itu untuk nutupin minder gue? Bisa jadi)

    Ahhh love your writings! :)

  2. guekiller

    Pernah koq, bahkan gue merasa baru punya teman yang bener-bener bisa diajak susah senang (purely) baru di jaman kuliah…
    Selama SD, SMP, SMA gue merasa temen-temen gue tidak sepenuhnya ‘berteman’ ke gue (atau mungkin gue yang begitu ke mereka? i don’t know)
    Tapi tulisan lo itu bener adanya, ada era industry vs inferiority yang berlanjut ke masa identity vs confusion, yang mana elo mestinya sudah tau klo masa2 ini saling mempengaruhi satu sama lain (sukses dicapai, ataupun gagal dilalui).
    Gue? hehe, kayaknya industriously identified…setelah bergelut 4 tahun di kampus…stage 6 aja nih gue bermasalah…
    *numpang nge-link blog lo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s