Tentang Ketidakpedulian Jakarta & Macet di Pondok Pinang

(saya kurang paham penyempitan ide yang saya ambil untuk tulisan yang ini, jauh sekali antara ketidakpedulian Jakarta dan situasi lalu lintas di Pondok Pinang, for God sake)

Tulisan dibuat pada 12 Desember 2006

Jakarta Oh Jakarta

“Jakarta : The City of Ignorance”,  itulah judul tulisan salah seorang senior saya yang membuat saya ingin membuat tulisan ini. Saya langsung tertarik untuk tahu isi tulisannya begitu saya membaca judul tulisan tersebut. Benar saja, menurut saya tulisannya tersebut sangat menarik untuk disimak. Di situ ia menuliskan tentang betapa jelasnya ketimpangan sosial yang tampak di kota metropolitan ini. Dimana dapat terlihat jelas adanya pemukiman kumuh yang tampaknya masih sangat membutuhkan bantuan di sebelah sebuah pusat perbelanjaan yang besar dan elite serta memang ditujukan untuk kalangan orang-orang kelas atas. Dengan ketimpangan yang jelas terlihat itu pun masayarakat tidak juga terasah kepekaannya untuk melakukan sesuatu. Hampir semua orang di kota Jakarta ini tidak menunjukkan kepedulian mereka terhadap orang lain, terutama bila orang tersebut dianggap tidak memiliki hubungan secara langsung dengan mereka. Setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing, sibuk berkutat dalam dunia masing-masing yang seolah memiliki sekat satu sama lain. Nilai-nilai individual pun dijunjung tinggi dan nilai kepedulian seperti terlupakan begitu saja.

Saya mungkin tidak akan menulis mengenai hal yang sama dengan yang telah ditulis oleh senior saya tersebut. Namun, saya ingin mengangkat tema yang sama seperti yang dia angkat, yaitu ketidakpedulian masyarakat Jakarta. Ketidakpedulian yang saya coba tuliskan di sini berkenaan dengan situasi jalan di kota Jakarta ini yang tampaknya selalu diliputi kemacetan tanpa adanya pemecahan masalah apapun yang dapat dilakukan.

Saya juga tidak ingin menuliskan tentang keadaan lalulintas Jakarta secara luas dan menganalisa hampir semua daerah Jakarta yang diliputi masalah kemacetan. Saya akan mempersempit lingkup pembahasan saya. Saya akan membahas jalan raya Pondok Pinang yang memang saya lewati setiap hari dan selalu berhasil membuta saya mengerutkan dahi dan sedikit mengomel setiap kali saya melewatinya.

Situasinya begini, setiap harinya saya harus melewati jalan raya pondok pinang terlebih dahulu untuk mencapai jalan tol bila akan pergi ke kampus. Rumah saya memang terletak di daerah pondok pinang, jadi tidak ada jalan lain selain melewati jalan tersebut kecuali bila saya mau mengambil jalan yang lebih panjang lagi melewati pondok indah, namun tentunya itu akan lebih menyusahkan saya.

Saya biasa berangkat sekitar pukul 07.00wib atau terkadang pukul tujuh lewat. Biasanya pada waktu-waktu itu jalan sudah mulai padat. Saya juga sudah terbiasa akan hal tersebut dan tidak mengeluh lagi. Permasalahannya adalah, jalan menjadi semakin ramai ketika sudah melewati perempatan Deplu yang biasanya diatur oleh dua orang polisi karena lampu lalu lintas yang terdapat di situ mati total. Situasi makin buruk karena di jalan dua arah tersebut terdapat ketidakberesan yang dilakukan oleh para pengendara motor.  Jalur dua arah yang sudah diatur untuk dilewati oleh pengguna jalan sesuai dengan arah mereka masing-masing dikacaukan oleh para pengendara motor yang menggunakannya dengan tidak semestinya.

Di sisi jalan yang seharusnya dipergunakan oleh pengguna jalan yang datang dari Pondok Pinang hendak menuju ke arah Fatmawati atau ke arah jalan tol seperti saya ternyata juga dipergunakan oleh para pengendara motor dari arah yang sebaliknya. Padahal mereka toh sebetulnya sudah disediakan jalurnya sendiri bersebelahan dengan jalur yang mereka pergunakan dengan tidak sepertinya tersebut. Hal ini berlangsung setiap hari dan tidak ada yang mempedulikan hal ini sehingga hal ini dianggap benar untuk dilakukan.

Hal ini mungkin terjadi karena jalur yang seharusnya dipergunakan oleh para pengguna motor tersebut sudah terlalu padat untuk dilewati sedangkan semua orang sedang terburu-buru, ditambah lagi dengan kenyataan lampu lalu lintas di perempatan Deplu yang mati membuat keadaan jalan semakin buruk. Saya tidak begitu yakin sejak kapan hal ini berlangsung namun seingat saya sebelum-sebelumnya tidak seperti ini.

Hal yang membuat saya heran adalah bagaimana bisa tidak ada yang peduli akan hal ini sama sekali. Saya yakin para pengendara sepeda motor tersebut menyadari bahwa perbuatan mereka tersebut salah, namun setiap dari mereka berpikir bahwa bila orang lain dapat melakukan hal itu lalu mengapa mereka tidak?  Pemikiran semacam  inilah yang membuat hampir seluruh peraturan yang diterapkan di kota Jakarta ini dilanggar. Seolah peraturan-peraturan tersebut memang sengaja dibuat untuk dilanggar, rules are made to be broken.

Para polisi yang berada di sekitar situ juga seperti tidak peduli dan tidak mau ambil pusing tentang hal ini, memang saya perhatikan mereka sudah teramat sibuk mengatur kendaraan-kendaraan yang melintasi perempatan tersebut. Biar begitu, seharusnya keadaan ini juga menjadi tanggung jawab mereka dalam mengatur tertib berlalu lintas. Karena tidak adanya sikap tegas dari polisi yang ada di situ, para pengendara sepeda motor tersebut pun semakin merasa apa yang mereka perbuat tersebut bukanlah merupakan suatu kesalahan.

Hal utama yang patut dipertanyakan di sini adalah kemana perginya kesadaran kita masing-masing? Apakah bila semua orang melakukan hal tersebut maka hal yang sebetulnya salah untuk dilakukan pun dapat menjadi benar? Padahal jelas sekali bahwa perbuatan tersebut merugikan banyak orang dan mengganggu terciptanya ketertiban umum. Jika saja dari masing-masing kita masih memiliki sedikit kesadaran dan rasa peduli akan kepentingan sesama tentunya pelanggaran seperti ini maupun pelkanggaran-pelanggaran lain yang biasanya terjadi di kota Jakarta tidak akan terjadi.

Saya rasa kepedulian itu datangnya dari diri kita masing-masing. Mungkin kita bisa belajar peduli dengan melihat orang lain, dengan perintah orang lain, dan sebagainya namun tetap saja kesadaran diri dan kepedulian itu datangnya dari diri sendiri. Bila semua orang tidak lagi memiliki kepedulian maka untuk apa kita hidup bersama-sama dalam sebuah masyarakat? Masing-masing dari kita seharusnya belajar memupuk kepedulian diri dengan menyadari sepenuhnya bahwa bukan kita saja yang memiliki kepentingan, orang lain juga memiliki kepentingan mereka masing-masing dan untuk itulah kita harus saling bertoleransi sehingga ketertiban dapat tercipta dan kepentingan semua orang dapat terlakasana. Bila bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?

Terinspirasi dari tulisan Khrisnaresa Adytia.

12 Desember 2006

– D! –

2 comments

  1. azzam

    pas banget kebetulan tinggal di pondok pinang(teruusss…..?)

    tinggal di p.pinang seperti tinggal di sebuah jembatan,di ambang batas.yang menyalurkan antara yang bukan ibukota menuju keramaian pusat kota.sebut saja masyarakat bintaro,tanggerang,ciputat,dan sebagainya.

    coba bayangkan setiap pagi ingin berangkat kuliah.pagar dibuka,belum 10 meter roda berjalan.sudah harus bergabung dengan macet yang biadab.

    dulu yang paling laris macet hanya tanah kusir dan deplu.kemudian telah bergabung jalan hj.muhi pemukiman tempat gw tinggal.sebagai alternatif kata mereka.

    sekarang semua sudah padat mendesak,macet setiap waktu.amarah yang tidak akan lagi terdengar gaung keluhanya.hiduplah seperti mesin.yang kehilangan rasa.

    dan memang aktifitas kota selalu menarik,penuh selera,pokoknya tidak desa.pak gubernur di meja kerja nya akan berkata “jakarta adalah kemegahan besar”. dan gw,lo,bahkan semua yang masih merayap di jalan hanya bisa menyimpan sebuah kecewa.bahwa jakarta sepanjang hari adalah raksasa yang tidak pernah ramah.

    maaf ya banyak bacot hehehe

  2. dheasekararum

    haa kebetulan warga pondok pinang juga ya? ya memang nasib kita ini sebagai warga daerah pertengahan yang menjadi penghubung kemana-mana, mulai dari penghubung ke luar kota (melalui akses bintaro) bahkan ke pusat pergaulan ibukota (pondok indah, sampai daerah blok m).

    apalagi hj. Muhi sekarang sudah jadi akses kemana-mana juga semakin makin deh macetnya.

    sebetulnya kalau gue mau mengeluhkan terlalu banyaknya mobil atau kendaraan di jakarta juga rasanya akan percuma, tapi masa iya kesadaran kecil seperti yang gue sebutkan di atas itu juga susah dicerna? ck menjengkelkan sekali *maaf emosi*

    pada akhirnya kita kemudian terbiasa, dan cuma bisa senyumin aja zzzz.

    salam kenal! alumnus SMA 70 juga kah? saya sempat mampir ke blognya :)

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s