Tentang Memilih

(sumpah, ini saya juga nemu lagi, kali ini ditulis tanggal 5 Oktober 2006. Komentar saya cuma satu : LABIL SEKALI. Shit, saya makan apa sih dulu. Sumpah nggak tahan ketawa melulu bacanya)

Tentang Memilih

Hidup kita selalu tentang memilih sesuatu. Dalam semua aspek kehidupan kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Memilih dapat menjadi mudah, dapat pula menjadi sulit, kesemuanya itu tergantung kepada pilihan-pilihan apakah yang tersedia dan tergantung pula terhadap situasi yang ada saat itu. Pilihan-pilihan yang ada bisa jadi sama menggiurkannya, sama baiknya sehingga kita sulit menentukan pilihan mana yang terbaik di antara semua. Pilihan juga dapat menjadi sama tidak baiknya, sama buruknya, sehingga membuat kita harus memilih mana di antara pilihan-pilihan tersebut yang –setidaknya-  lebih baik dibandingkan dengan yang lain.

Memilih atau dapat dikatakan pula memutuskan untuk melakukan sesuatu atau memilih untuk tidak melakukan sesuatu itu, memilih untuk mendekat atau memilih untuk menghindari, menjauhi dan meninggalkan sesuatu. Semuanya berpulang kepada diri kita sendiri, ego kita masing-masing dan bagaimana cara kita mengatasi ego kita tersebut. Seringkali kita dihadapkan pada dua atau lebih pilihan yang diantaranya ada yang lebih penting atau lebih mendesak untu dilakukan, namun di lain pihak pilihan lainnya begitu menggoda untuk diambil walaupun kita tahu akan lebih baik bila kita memilih pilihan yang sebelumnya karena lebih penting. Dalam keadaan seperti inilah masing-masing dari kita harus berurusan dengan ego kita masing-masing lalu kemudian memilih untuk mengikuti ego kita atau tidak.

Kita tentu akan menemui banyak kesulitan bila selalu mengikuti ego kita karena dalam hidup ini kita harus selalu berhubungan dengan orang lain. Kita berhubungan satu dengan satu, berhubungan dengan banyak orang sekaligus, berhubungan dengan lingkungan dan sebagainya sehingga kita seringkali tidak dapat menentukan pilihan mana yang sebetulnya memang benar-benar ingin kita pilih. Di balik semua itu kita tetaplah tokoh utama yang harus menjalani semua itu, merasakan semua itu, dan yang terpenting, memilih di antara kesemuanya itu.

Memilih itu tidaklah mudah karena setiap pilihan akan membawa dampak dan konsekuensi masing-masing. Kita sebagai manusia terkadang (atau justru sering?)  tidak mengetahui –atau tidak mau mengetahui dan tidak peduli-  terhadap konsekuensi dari pilihan yang diambilnya.

Salah seorang teman saya mengatakan bahwa “meraut pensil itu sulit sekali, tingkat kesulitannya cukup sulit”. Pernyataannya ini membuat saya bertanya-tanya apa maksudnya. Ia lalu menjelaskan bahwa banyak hal sulit dalam meraut sebuah pensil yang kelihatannya begitu sederhana. Misalnya saja dapat muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “Bagaimana jika saya meraut pensilnya terlalu runcing sehingga tidak enak dipakai?” atau pertanyaan “Bagaimana jika pensilnya terlalu runcing sehingga patah sebelum selesai diraut?” “Bagaimana jika terlalu tumpul?” ”Bagaimana jika saya terlalu bersemangat meraut sampai pensilnya terlalu pendek?” begitu seterusnya ‘bagaimana-bagaimana’ yang lain akan muncul.

Lalu ia juga mengatakan bahwa ia menganalogikan meraut pensil dengan memilih segala sesuatu dalam hidupnya. Saya jadi berpikir bahwa perkataan teman saya tersebut ada benarnya juga. Hidup itu serba tidak pasti, dan kegiatan memilih yang sebetulnya dapat mempermudah kita dalam membuat hidup sedikit lebih jelas menjadi cukup memusingkan, juga bagi sebagian besar orang, dalam hal ini khususnya saya.

Masih begitu banyak hal yang tidak saya mengerti, masih banyak sekali pilihan-pilihan yang membuat saya bimbang. Dalam kasus pensil tadi contohnya, saya bisa saja memilih meraut pensil tersebut sampai runcing sekali, atau saya memilih untuk merautnya tidak terlalu runcing, atau bahkan bisa saja saya justru memilih untuk mengganti pensil tersebut dengan pensil lain, bahkan pulpen atau spidol. Bila mengingat pernyataan teman saya, saya pikir bagaimana bila saya justru memilih untuk tidak memikirkan masalah sulit atau tidaknya meraut pensil tersebut samasekali?

Jadi, saya menyimpulkan, seperti yang telah saya tulis sebelumnya, bahwa hidup memang selalu tentang memilih dan kita –manusia yang masih hidup- akan terus dihadapkan terhadap pilihan-pilihan sepanjang hidup kita. Kita selalu punya hak untuk memilih, bahkan kita juga punya hak memilih untuk tidak menentukan suatu pilihan.

– D! –

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s