Tentang Merokok

(ah, sayang sekali yang ini tidak ada tanggal penulisannya)

Merokok, Iya atau Tidak

Apakah di antara kalian ada yang tidak menyukai rokok? Atau bolehlah saya katakan tidak menyukai orang yang merokok? Tidak menyukai perempuan yang  merokok dengan alasan perempuan yang merokok pasti memiliki reputasi yang buruk? Ataukah justru biasa-biasa saja dalam menanggapai orang yang merokok? Cenderung cuek atau bahkan tidak peduli sama sekali? Atau justru anda sebagai seorang perokok dan anda merasa bahwa orang yang tidak menyukai rokok –atau tidak menyukai anda sebag ai perokok- itu mengganggu bahkan menyebalkan? Atau justru anda cuek saja dalam menanggapi semua itu?

Saya sendiri tidak sedang mencoba membuat sebuah tulisan yang terkesan menghakimi salah satu sisi dalam hal ini. Saya bukanlah seorang perokok. Mungkin saya akui saya pernah mencoba  merokok sehisap dua hisap, namun memang tidak pernah bisa sampai habis satu batang karena saya tidak begitu menyukai rasanya. Lingkungan sekitar saya juga bukanlah lingkungan yang bersih dari asap rokok, ayah saya sendiri adalah seorang perokok, bahkan salah satu dari sekian banyak perokok berat. Teman-teman saya, teman-teman yang bersama mereka saya ingin menhabiskan waktu bersama atau melakukan aktivitas bersama dan bergaul sehari-hari, juga banyak yang merokok, laki-laki maupun perempuan.

Bohong kalau saya mengatakan bahwa saya samsekali tidak terganggu dengan asap rokok, karena pada kenyataannya saya beberapa kali terbatuk bila ada orang yang merokok di dekat saya. Walaupun begitu, saya sendiri dapat mengatakan bahwa saya tidak bermasalah dengan orang yang merokok, saya tidak merasa sebal, terganggu, dan lain-lain. Perokok perempuan yang oleh sebagian besar orang dianggap tidak pantas pun saya anggap biasa-biasa saja. Saya tidak berpikiran bahwa kebiasaan merokok yang dimiliki seorang perempuan merupakan suatu cerminan dari reputasi yang buruk karena toh banyak teman-teman perempuan saya yang merokok. Saya tetap berpendapat bahwa kepribadian dan reputasi seseorang tidak dapat dinilai semata-mata hanya dari satu sisi saja, dalam hal ini apakah orang itu merokok atau tidak. Bahkan bila kita mau memperhatikan dengan lebih seksama, ada beberapa orang, khusunya perempuan, yang berpenampilan dengan apa yang biasa orang sebut dengan ‘baik-baik’ dan meiliki kepribadian yang baik, pada kenyaataannya merokok. Apakah lantas nilai orang itu jatuh seketika semata-mata karena ia merokok? Tentu itu tidak dapat disebut adil bagi orang tersebut, karena setiap orang pasti punya alasan sendiri untuk memutuskan menjadi perokok.

Alasan orang merokok pun bermacam-macam. Ada orang yang pada awalnya mencontoh orang lain karena rasa ingin tahu yang besar dan kemudian jsutru menjadi perokok betulan. Ada yang merokok karena ajakan –atau paksaaan– teman-temannya. Ada yang kemudian menjadi perokok aktif karena memang menyukai rasa rokok itu sendiri. Ada pula beberapa yang merokok untuk melepaskan rasa penat, rasa gugup, depresi dalam diri karena sedang menghadapi masalah tertentu dan mengatakan dengan merokok mereka dapat meredakan ketegangan yang mereka rasa dan mereka merasa lebih relaks dari sebelumnya. Bahkan ada orang-orang yang sengaja merokok –bahkan memaksakan diri untuk merokok, padahal awalnya tidak suka rokok– hanya untuk bergaya, karena adanya dorongan dari dalam diri untuk dianggap hebat karena lingkungan sekitar mereka semua merokok dan merokok dianggap suatu trend atau gaya hidup. Di antara orang-orang dari golongan yang ini ada yang benar-benar hanya merokok bila mereka bepergian bersama teman-teman mereka ke suatu tempat umum dan sebaliknya bila mereka sedang sendirian (tidak bersama teman-temannya)  mereka tidak merokok, jadi rokok digunakan seperti aksesoris mereka untuk tampil keren, mereka ini yang biasanya disebut sebagai ‘social smoker’. Sebaliknya dari social smoker ada juga golongan yang justru menutup-nutupi kebiasaan merokok mereka karena beranggapan orang akan memandang jelek atau menganggap buruk mereka; selain itu masih ada alasan-alasan lain kenapa orang merokok.

Di luar semua alasan itu, rokok tetaplah benda yang berbahaya, terutama bagi kesehatan. Rokok mengandung zat-zat yang dapat menimbulkan efek jangka pendek maupun jangka panjang bagi si perokok sendiri dan orang-orang di sekitarnya yang juga menghirup asap rokok tersebut. Orang-orang ini disebut juga para perokok pasif. Selain menimbulkan berbagai penyakit yang mengancam hidup manusia, tentunya tidak perlu dijelaskan lagi penyakit apa saja, karena setiap tayangan iklan rokok manapun telah disertai peringatan tentang penyakit-penyakit tersebut. Rokok juga dapat membahayakan lingkungan, seperti yang telah kita ketahui beberapa kasus kebakaran besar yang menyebabkan kerugian-kerugian besar bahkan jatuhnya korban jiwa berasal dari sepuntung rokok yang dibuang oleh pemiliknya tanpa menyadari bahwa api rokok tersebut belum benar-benar padam.

Lalu kenapa pemerintah membiarkan pabrik rokok untuk tetap beroperasi bila mengetahui dampak dari rokok sebegitu merugikannya? Alasan yang terkuat adalah karena pabrik-pabrik rokok tersebut merupakan penyumbang terbesar bagi negara, karena pemerintah sendiri menetapkan tarif pajak yang sangat tinggi bagi pabrik-pabrik itu, menyadari mereka memiliki konsumen yang sangat luas cakupannya dan tentu tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu pemerintah akan menerima protes hebat dari setiap kalangan orang –terutama yang merokok– apabila pemerintah tiba-tiba melarang semua pabrik rokok untuk beroperasi. Hal itu nyaris mustahil untuk dilakukan, karena bukankah di antara orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan sendiri banyak yang perokok?

Namun, bukan berarti pemerintah tidak mempedulikan kesehatan warganya. Dalam hal merokok ini pemerintah telah mengeluarkan sebuah peraturan tentang dilarang merokok di tempat umum, walaupun saat ini baru di Jakarta saja yang telah dikeluarkan Perda-nya. Namun peraturan ini direncanakan akan berlaku di seluruh Indonesia. Dengan begini, pemerintah berharap akan berkurangnya perokok pasif yang merasa dirugikan oleh perokok aktif. Jadi perokok aktif menanggung sendiri resiko dari merokok dan tidak merugikan orang yang tidak merokok.

Saya sendiri, memutuskan untuk bertahan tidak menjadi perokok, bahkan saya berusaha untuk seminimal mungkin menghisap rokok, jenis apapun. Walaupun sangat sulit bagi saya karena orang-orang terdekat saya banyak yang merokok, namun saya akan mencoba. Bukan karena saya benci rokok, bukan karena saya tidak suka perokok, bukan karena saya ingin menjaga ‘image’ saya di depan orang, bahkan bukan pula karena saya ingin menjaga kesehatan –walaupun itu menjadi salah satu alasan–, tetapi alasan saya yang paling kuat adalah karena ego saya.

Saya telah berjanji pada diri saya dan kepada beberapa teman saya bahwa saya tidak akan menjadi seorang perokok dan saya terlalu gengsi untuk mengingkari janji sederhana itu. Dangkal memang kedengarannya, tapi entah mengapa lama kelamaan itu seolah menjadi prinsip saya dan terlepas dari semua, bagi saya itu sudah cukup untuk membuat saya tidak menjadi perokok, setidaknya sampai saat ini dan –mudah-mudahan– seterusnya.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s