Tentang Politik di kampus

(Saya sedang membuka-buka arsip lama dan menemukan beberapa tulisan lama yang saya kira lucu untuk saya pajang di sini. Coba bandingkan dengan cara saya menulis akhir-akhir ini)

Tulisan ini dibuat pada tanggal 19 April 2007


Kapan ini semua berakhir yaa?

Wew, sudah lama juga ga nulis tentang apa-apa lagi samasekali. Malahan sudah lama sekali gue tidak menghasilkan sesuatu, baik dalam bentuk tulisan, gambar, puisi, apalah yang biasa gue kerjakan. Akhir-akhir ini segala sesuatu yang gue hasilkan muncul karena keharusan, ngerti kan? Bukan sesuatu yang gue emang pingin hasilkan, bukan ide yang tiba-tiba muncul, bukan sesuatu yang gue hasilkan di waktu luang gue. Waktu luang yang sangat sedikit itu lebih banyak gue pergunakan  untuk main.

Akhir-akhir ini ide-ide yang gue produksi keluar memang pada saatnya ide itu diminta. Simply, ide itu digunakan buat kerjaan. Semenjak tergabung dalam magang humania senat kampus udah makin dikit aja waktu buat iseng-iseng, karena semua ide yang keluar dipergunakan dalam humania itu sendiri. Ditambah lagi sekarang gue menjadi salah seorang tim di antara tim sukses salah satu calon ketua BEM. Semakin aneh-aneh aja yang gue kerjain.

Ngomong-ngomong masalah ketua BEM, memang udah hampir 1 bulan ini kampus lagi heboh-hebohnya sama pemilu, atau panitia menyebutnya ‘suksesi’. Di antara semua kehebohan itu adalah gue, seorang anak polos yang tidak mengerti apa-apa ucluk-ucluk tergabung dalam tim sukses dan mulai menghasilkan ide-ide maupun karya-karya sederhana yang sekiranya bisa membantu kandidat yang gue dukung menuju menang.

Jujur aja, awalnya gue ikut tim sukses itu gue samasekali gak ngira bahwa semuanya akan serumit itu, dimana kerjaannya juga gak sebanyak itu, pressure-nya gak setinggi itu. Tapi ternyata dugaan gue tersebut salah tuan-tuan nyonya-nyonya, salah besar. Seperti politik yang ada dimana-mana, politik kampus pun bukanlah sesuatu yang sederhana.

Otak gue yang polos dan lugu ini tentu saja belum sampai disitu. Pikiran pertama gue ketika gue menerima ajakan dari salah satu kandidat adalah gue sekedar bantuin aja, gitu-gitu doang, itung-itung nambah pengalaman. Seiring dengan berjalannya waktu, kurang lebih udah dua minggu lah sekarang masa kampanye berlangsung, gue mulai merasakan apa yang gue sebut dengan ‘ketidaknyamanan’. Banyak sekali desain, produk media, ide untuk souvenir dan sebagainya yang telah dibuat oleh anak-anak media demi suksesnya kampanye kandidat. Mungkin sebetulnya kerjaan gue disitu nggak sebanyak itu juga, tapi gue juga nggak ngerti kenapa, setiap kali gue sampai rumah pasti udah pegel-pegel aja bawaannya, apa emang gue yang manja aja kali ya?

Mungkin juga karena gue nggak ngekos jadi yah capek dan repot musti bolak balik ke kampus kalo ada apa-apa yang harus dikerjain? Yang jelas, gue yang time management-nya parah dan badannya gampang capek ini jadi agak sulit membagi-bagi semua bagian hidup gue dan peran gue di dalamnya. Tugas-tugas kuliah masih bisa gue kerjakan, sampai rumah juga gue masih mengusahakan untuk belajar, tapi frekwensi gue ga masuk mata kuliah jadi meningkat somehow.

Waktu yang gue habiskan bersama keluarga dan ngurusin rumah juga jadi berkurang. Begitu pulang kerumah udah dalam keadaan cape gue uda gamau tau apa-apa lagi tentang apa yang ada di rumah. Maunya tinggal makan, ngurusin urusan gue sendiri, trus tidur. Sangat Egois. Gue jadi merasa super tidak enak sama si bapak karena seharusnya kan gue lebih menghabiskan waktu dirumah dan lebih pergatian sama keadaan rumah biar bagaimanapun toh gue anak pertama yang semenjak ibu tidak ada semestinya memiliki tanggung jawab yang lebih atas keadaan rumah. Karena adanya bulan suksesi ini perhatian gue jadi terpecah dan gue jadi bingung menetapkan prioritas gue yang mana dan itu bikin gue jadi capek sendiri.

Itu yang pertama, ada hal lain lagi yang mengganjal di hati gue, yaitu dikarenakan teman-teman se-peer gue gak semuanya berada di kubu yang sama komunikasi kami pun jadi terasa agak-agak gimana begitu. Sebetulnya gue dan teman-teman gue sama-sama santai mengenai hal ini tapi tetap saja ada hal-hal yang terasa bedanya semenjak adanya suksesi ini terutama dalam hal pembicaraan karena mau tidak mau ada beberapa bagian dari pembicaraan kami yang harus kami batasi demi kepentingan kampanye masing-masing kandidat.

Begitulah hal-hal yang mengganjal hatiku, kenyataan itu ditambah-tambah lagi dengan sangat sedikitnya informasi yang gue miliki tentang keseluruhan politik kampus ini. Bagaimana keadaan yang sebetulnya sedang terjadi, permasalahan apa yang sebetulnya terjadi di dalam badan Senat itu sendiri, bahkan perkembangan berita-berita ataupun gosip mengenai kandidat yang gue dukung sangat sedikit yang gue ketahui. Disini gue jadi bingung, apakah ini memang guenya yang tidak pernah mencari informasi ataukah informasi itu yang tidak pernah tersampaikan?

Terus terang karena keadaannya seperti ini gue mulai merasa tidak yakin dengan apa yang gue lakukan. Yah gimana coba ketika lo bekerja tanpa lo tau apa hasil ataupun kegunaan dari pekerjaan lo itu. Sepertinya gue Cuma bekerja, membuat dan menghasilkan sesuatu tanpa gue tahu perkembangan sesuatu itu akan menjadi apa.

Hhh..gataulah. Yang gue pertanyakan disini cuma satu, kapan yah ini semua akan berakhir? Supaya gue bisa kuliah dengan tenang, pacaran dengan senang dan melakukan fungsi gue sebagaimana mestinya.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s