Tentang Melepaskan Sesuatu (pt. 1)

Apa teman-teman sekalian pernah merasakan rasanya bersemangat dalam mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus? Apa teman-teman pernah merasakan nikmatnya perasaan puas setelah berhasil menyelesaikan suatu karya dan dihargai karena karya tersebut? Apa teman-teman tau rasanya bertemu orang-orang baru dan mengerjakan suatu pekerjaan baru yang berpotensi menjadi sesuatu yang dapat menambah pengalaman dan pengetahuan diri sendiri serta dapat menjadi sesuatu yang besar di masa yang akan datang?  Demikianlah perasaan saya 2 minggu terakhir ini.

Kebetulan, sejak menjelang masuk masa perkuliahan semester 7, saya tiba-tiba begitu banyak kesempatan yang disodorkan kepada saya. Kesempatan-kesempatan tersebut sangat menggiurkan baik dari aspek manapun, selain ada beberapa yang memiliki imbalan kongkrit, pekerjaan lain yang ditawarkan juga dapat meningkatkan kemampuan saya secara keseluruhan, baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan ini juga melibatkan kegiatan-kegiatan yang saya sukai pada umumnya. Saya juga bisa belajar banyak dari kegiatan-kegiatan yang ditawarkan kepada saya ini. Nah, berhubung saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk mencoba kesempatan-kesempatan baru yang datang pada saya dan tidak membatasi diri saya, maka saya cenderung untuk menyanggupi hampir semuanya. Selain karena saya tahu bahwa saya akan ketemu dengan banyak orang dan pengalaman dan kemampuan baru kalau saya ambil tawaran-tawaran ini, harus saya akui mungkin terselip juga sedikit gengsi dan rasa bangga terhadap diri sendiri bila terlibat dalam suatu komunitas yang berpotensi akan menjadi besar dan berhasil menghasilkan sesuatu yang berguna.

Idealnya sih memang begitu.

Namun, seminggu terakhir ini saya agak dibuat pusing oleh semua pekerjaan yang datang kepada saya tersebut. Rasa hati ingin mengerjakan dan menyelesaikan semuanya. Apa daya kemampuan saya tidak mencukupi. Di sini saya mulai merasakan timbulnya permasalahan. Terutama dalam hal membuat skala prioritas. Saya mulai tidak tahu mana yang harus saya dahulukan, mana yang paling penting bagi saya, dan mana yang harus saya tinggalkan. Semuanya terasa begitu menarik dan menggiurkan untuk ditinggalkan, dan ini menekan kehidupan sosial saya sejujurnya.

Dampaknya tidak begitu bagus buat saya, kali ini saya harus mengakui bahwa saya kewalahan. Mengakui saya kewalahan dengan semua ini terasa sangat berat bagi ego saya, karena teman-teman saya biasa mengenal saya sebagai orang yang cukup seimbang dalam menjalani setiap aspek kehidupan saya, dalam hal ini yang mereka maksud mungkin akademis, pekerjaan, keluarga, dan hubungan sosial. Sejauh ini saya juga tidak pernah menemui permasalahan yang menggangu dalam hal menjaga keseimbangan ini. Walaupun tugas akademis nyaris membunuh, walaupun kepanitiaan membuat saya tertekan, walaupun keluarga sedang dalam titik kerewelan luar biasa, walaupun semua sedang huruhara, saya tetap bisa menyeimbangkan semuanya, Insya Allah. Ya tentu saja dengan bantuan teman-teman dan curhatan di sana sini, namun pada akhirnya toh semua baik-baik saja dan saya selalu bisa meyakinkan diri saya bahwa “saya bisa, semua pasti beres”.

Kali ini, entah kenapa semuanya tidak berjalan lancar. Segalanya bertubrukan dan bertumpuk-tumpuk, dan tertukar-tukar. Berikut beberapa akibat yang ditimbulkan dari tindakan impulsif saya dalam menerima tawaran-tawaran yang datang :

1. Saya seringkali harus berada di beberapa tempat sekaligus dalam satu waktu, yang mana itu menyulitkan kehidupan

2. Saya jadi suka lupa balesin sms orang yang penting-penting, jangankan balesin, buat buka dan baca menyimak isi sms orang aja akhir-akhir ini jadi susah. Jadi kalo sms yang panjang2 saya suka bingung bacanya

3. Kalau diajak ngobrol orang jadi nggak nyambung dan seringkali bengong karena dalam otak saya harus menyusun kegiatan apa-apa saja yang harus saya selesaikan pada hari itu.

4. Karena kemampuan berkomunikasi terganggu, otomatis hubungan sosial dengan teman juga terbengkalai. Parah, saya membutuhkan waktu untuk duduk duduk gajelas di kantin seperti biasanya.

5. Saya selalu merasa lelah di malam harinya dan selalu merasa kekurangan waktu untuk kemudian mengerjakan tugas-tugas akademis (which is very bad, according to me).

6. dan lain-lain.

Melelahkan, sekaligus membingungkan. Saya sampai pada tahapan ketika saya mulai panik. Oleh karena itu saya merasa bahwa ini saatnya bagi saya untuk meminta bantuan dari seorang profesional. Tadinya saya bisa aja minta bantuan ke teman-teman saya sih, hanya saja mereka ini saking suportifnya yang ada malah seringkali jadi terjebak manas-manasin saya untuk mengambil pekerjaan-pekerjaan yang ada ini. Kalimat-kalimat seperti “ayo dhe, lo bisa kok, selama ini aja lo beres ngerjainnya”, atau “lo tuh kompeten di bidang ini, dan lo suka kan ngerjainnya”, dan kawan-kawannya adalah jenis kalimat yang seringkali bikin saya menjebakkan diri dalam jurang kenistaan pekerjaan. Berhubung saya anaknya diam-diam ambisius, dan sulit meregulasi emosi, jadinya dipanasin sedikit aja langsung deh penasaran pengen nyoba.

Sangat tidak sehat.

bersambuuuung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s