Kamu, yang bersedia turun dari kapalmu

Ini sudah bulan kesekian, saya menunggu di dermaga ini

Berpuluh kerikil sudah saya lemparkan ke air,

saking bosannya menunggu sendiri

seluruh area sudah saya jelajahi

sampai saya merasa tidak ada lagi yang perlu dipelajari dari sini

lalu apa lagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu

Saya sudah menumpang, sedikit banyak perahu, atau kapal, jika kalian lebih suka menyebutnya begitu

Terkadang nahkoda kapal yang mengajak saya ikut serta

Ada waktunya saya inisiatif angkat bicara

Saya sudah pergi ke cukup banyak tempat, belajar cukup banyak hal

Namun, itu pun saya rasa belum cukup

Lalu apa lagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu.

Berlayar dengan kapal terkadang berlangsung singkat

Walau tetap saja ada yang membuat saya tercekat

Perjalanan yang lain kadang berlangsung lama

Beberapa diantaranya lebih lama dibanding yang lainnya

Hingga saya kemudian begitu ingin menetap di satu area

Sebelum kemudian akhirnya kecewa

Lalu apa yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak Tahu

Di beberapa titik tertentu saya meminta turun dari kapal

Beberapa titik lain, saya yang diminta untuk turun

Beberapa kali perjalanan membuat saya limbung dan tersengal

Beberapa membuat saya banyak tersenyum

Hingga akhirnya saya tetap duduk di sini, di dermaga ini

sesekali sambil bernyanyi

Lalu apa yang ditunggu? Orang bertanya.

Saya menggeleng. Tidak tahu.

Mungkin saya tidak menunggu kapal apapun.

Saya juga tidak menunggu nahkoda manapun

Tidak, saya tidak menunggu sampai berlumut.

Tidak, saya tidak menunggu untuk dijemput.

Yang saya tunggu, kamu.

Yang bersedia turun dari kapalmu.

Saya tidak butuh pergi ke tempat seru

Saya tidak butuh kapal baru.

Saya ingin kita mencoba membangun sesuatu

Saya ingin kita membangun sesuatu yang kemudian dapat melaju

Saya ingin kita berkomunikasi

Saya ingin kita belajar berkompromi.

Lalu apalagi yang ditunggu? Orang bertanya.

Apa yang saya butuhkan untuk bergerak maju.

Saya menunggu kamu

Yang bersedia turun dari kapalmu.

– D! –

6 comments

  1. dheasekararum

    yada yada yada. pengen nulis kaya gini sudah lama sekali, tapi malu ja. Gue kan anaknya cengeng, takut kalo nulis yang agak menyentuh sisi afektif sedikit kerannya luber hahaha. Thanks for coming :)

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s