Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca (bagian 2).

(lanjutan ~emo tweet)

SIAPA SAJA YANG TERLIBAT DALAM PEMBUATAN ~EMO TWEET (WHO)

Pertanyaan berikutnya adalah, siapa saja orang yang bisa terlibat dalam produksi ~emo tweet ini? Apakah dari kalangan usia tertentu? Ataukah dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi tertentu? Apakah ada karakteristik tertentu dimana ada orang dengan kepribadian tertentu lebih cenderung untuk memproduksi ~emo tweet? Ataukah pengaruhnya terletak pada gender? Apa perempuan lebih produktif dalam menghasilkan ~emo tweet bila dibandingkan dengan laki-laki? Sejauh ini memang belum ada penelitian yang meneliti hal ini (atau setidak-tidaknya saya belum berhasil menemukan jurnalnya), namun berdasarkan hasil observasi kecil-kecilan saya, semua orang bisa saja membuat ~emo tweet.

Dengan adanya kenyataan bahwa semua orang bisa saja memproduksi ~emo tweet apa lantas pantas menyebut ~emo tweet ini sesuatu yang salah? Hei, saya tidak pernah bilang ~emo tweet ini salah lho teman-teman. Saya disini hanya mencoba mendeskripsikan sebuah fenomena dan mencoba menguliknya dari sudut pandang saya. Tidak ada yang salah dengan ~emo tweet karena sekali lagi, cara orang mengekspresikan dirinya itu berbeda-beda dan sangat beragam.

Kembali pada kenyataan bahwa ~emo tweet dapat diproduksi oleh siapa saja, maka teman-teman sekalian, termasuk juga saya mungkin (atau pasti?) pernah membuat ~emo tweet karena pada dasarnya toh manusia memiliki berbagai emosi dan makhluk sosial yang membutuhkan tanggapan orang lain, ~emo tweet juga salah satu bentuk komunikasi lho. Yang berbeda adalah kuantitas masing-masing orang dalam menghasilkan ~emo tweet ini.


BAGAIMANA CARA MENGOLAH ~EMO TWEET? (HOW)

Melihat maraknya fenomena ~emo tweet ini, saya jadi penasaran. Apakah ada cara-cara tertentu untuk mengolah ~emo tweet ini menjadi sesuatu yang lain, atau menarik, sehingga pola di timeline kita tidak itu-itu saja (dan dalam kasus saya, supaya saya tidak ditertawakan oleh teman-teman saya jika ketahuan curcol di situs microblogging). Akhirnya setelah mengulik-ulik dan berdasarkan beberapa kali observasi mendalam sekaligus percobaan langsung di timeline twitter, saya menemukan beberapa cara yang mungkin bisa teman-teman coba untuk membuat variasi terhadap ~emo tweet saat sedang penuh emosi dan di depan mata ada fasilitas online. Jangan sampai terjebak untuk selalu konsisten memprouksi ~emo tweet teman-teman! Berikut cara-cara alternatif ~emo tweet. Jika anda ingin membuat ~emo tweet, maka :

1. Jangan online sama sekali (jauhkan semua fasilitas yang memungkinkan anda untuk online)

Prinsip utama menghindari munculnya ~emo tweet tentu saja dengan tidak online sama sekali. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, ketika sedang diliputi emosi yang luar biasa dan dihadapkan pada fasilitas online, yang ada saya rasanya ingin memaki-maki dan menumpahkan saja semua yang ada ke dalam situs jejaring sosial tersebut. Keadaan ini tentu saja sesuatu yang dapat merugikan dan dalam titik-titik tertentu ketika emosi kita sudah mereda lalu membaca ulang apa yang kita tuliskan sebelumnya, tidak jarang kita akan merasa menyesal dan malu telah berlaku gegabah seperti itu. Akan sangat lebih baik jika sedang dirundung emosi, sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu, luapkan dulu emosi di tempat lain, lampiaskan pada bantal misalnya (saya kalau lagi marah sekali atau sedih sekali biasanya nangis beralaskan bantal sampai tertidur, menghindari agresivitas terhadap orang lain). jauhkan laptop, hanphone, BB, dan segala fasilitas online lainnya. Atau, supaya masalahnya bisa cepat selesai ya langsung saja dihampiri itu sumber permasalahannya jikalau memungkinkan.

Jika memang terpaksanya teman-teman sekalian tetap harus online saat sedang dirundung emosi, katakanlah saja kegiatan pembelajaran atau pekerjaan teman-teman memang diharuskan berhubungan dengan internet senantiasa, maka sebisa mungkin jauhkan diri dari godaan untuk membuka situs-situs microblogging atau social network apapun. Jauh lebih aman untuk segera membuka blog teman-teman masing-masing, atau curhat lah secara in person kepada teman-teman melalui fasilitas YM, MSN, dan BBM.

2. Samarkan ~emo tweet dengan mengutip lirik lagu atau quote(s) inspiratif

Oke, saya akui, tips yang pertama memang agak sulit untuk direalisasikan mengingat masing-masing dari kita sekarang ini selalu dikelilingi oleh internet dimanapun dan kapanpun kita berada. Oleh karena itulah saya menghadirkan tips berikutnya dalam menghindari jebakan ~emo tweet. Tips yang ini cukup mudah dan elegan, dalam beberapa kesempatan bahkan dapat menghadirkan kesan bijak  dan cerdas. Carilah lagu yang sesuai dengan keadaan emosi saat itu, lalu segera tuliskan potongan liriknya di timeline twitter atau plurk teman-teman sekalian. Misalnya, saat saya sedang bingung ngga tahu lagi apa yang harus saya lakukan dan semangatnya agak-agak menurun, maka saya akan tuliskan potongan lirik ‘Let It Be’ dari The Beatles.

Selanjutnya adalah dengan cara mencari quote-quote inspiratif. Ah kalau yang satu ini saya yakin teman-teman juga sudah lihai alam melakukannya. Quote ini bisa diambil dari mana saja, baik filsuf jaman dahulu kala ataupun dari film dan buku terbaru abad ini. Saya sendiri juga senang mengutip kata-kata yang diucapkan oleh teman-teman saya, misalnya saja salah satunya dari Smita Prathita, yang mengatakan gampang cinlok boleh, gampang mentok jangan“. Menurut saya pribadi, dibandingkan tips-tips berikutnya yang akan saya berikutnya, tips nomor dua ini adalah yang tingkat kesulitannya paling mudah untuk dikerjakan karena tinggal ‘gunting tempel’ dari berbagai sumber. Jangan lupa untuk senantiasa mencantumkan sumbernya.


3. Jangan lupakan prinsip, ‘less is always more’

Tips selanjutnya ini sebetulnya cukup mudah dan sangat ringkas untuk dilakukan. Hanya saja, kita seringkali terjebak dengan sesuatu yang sangat singkat ini sehingga kata-kata yang sangat singkat seringkali mengandung muatan emosi yang berlebih. Prinsip less is always more ini dapat diterapkan dengan cara sekedar menuliskan smiley yang menggambarkan perasaan saat itu, atau sepatah dua patah kata yang menggambarkan kondisi emosi saat itu. Misalnya kalau lagi marah, ya cantumkanlah smiley marah atau memble (tapi kece) seperti :( atau kalau sedih :'(

Sedangkan untuk penggunaan sepatah dua patah kata juga sebaiknya perhatikan pemilihan katanya. Seringkali karena terlalu emosi, kita menggunakan pilihan kata yang tidak enak dilihat, misalnya kata-kata kasar. Hal ini mengurangi ke-eleganitas-an dari tweet kita teman-teman (serius ya, saya bahkan nggak tahu apakah benar-benar ada istilah ‘eleganitas’). Saya sendiri, berhubung memiliki resolusi tahun 2009 untuk mengurangi penggunaan kata-kata kasar dalam interaksi sehari-hari, lebih suka mencari subtitusi dari kata-kata kasar yang sering digunakan orang sebagai makian. Misalnya, kata-kata seperti “a***ng!” atau “b**i!” akan saya subtitusi menjadi “kecebong!” atau “kardus!”. Tips ini terinspirasi oleh kebiasaan interaksi beberapa teman saya yang polanya aneh, tapi menyenangkan, seperti Muhammad Nuradi Akhsan psikologi 2002 dan Nova Jono psikologi 2004. Selain itu, salah satu cara penggunaan prinsip kata-kata singkat ini yang menarik juga datang dari seorang teman saya, Ramda Yanurzha, yang menggunakan hanya huruf ‘F’ saja untuk memperhalus ‘F**k’. Walaupun sebetulnya toh kita semua juga tahu maksudnya apa, setidaknya kan terdengarnya lebih santun ( tadinya saya mau pilih kata-kata ‘manis’, takut orangnya protes). Kata-kata lain yang bisa dipilih antara lain : “ah gempa deh ini” atau “badai”. Oke, saya akui yang kata-kata yang terakhir itu luar biasa,

norak.


4. Buatlah analogi dan pantun

Ha, yang satu ini adalah sesuatu yang sedang saya pelajari lebih lanjut, karena menarik sekali. Tips ini tingkat kesulitannya sedikit lebih tinggi bila dibandingkan dengan tips-tips sebelumnya karena memerlukan kemampuan abstraksi dari masing-masing orang. Teman-teman saya sendiri sepertinya sangat lihai untuk menggunakan hal ini. Saya mungkin tidak dapat menuliskan semuanya, namun beberapa bisa teman-teman simak di tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Demam Analogi” untuk melihat bagaimana contoh penggunaan analogi yang piawai dan mengandung humor-humor segar yang menghibur. Dengan menggunakan analogi, curhatan kalian tidak akan terlihat gamblang dan polos, namun mengandung sedikit ambiguitas. Menurut saya sendiri ambiguitas ini bisa menguntungkan, biasanya yang bikin penasaran itu yang asik :p

Masalah pantun ini juga sebetulnya menarik, namun penggunaan pantun ini digunakan jika kalian ingin mengubah sesuatu yang menekan menjadi sesuatu yang berlandaskan humor (walau terkadang norak dan kampungan). Saya sendiri beberapa kali menggunakan cara-cara ini. Misalnya, untuk stressor UTS, saya membuat pantun “jalan ke magelang sambil kayang, UTS menjelang semua mabuk kepayang”. Percayalah, saya juga tahu bahwa ini garing luar biasa. The name so called effort (namanya juga usahaaaaa). Mungkin teman-teman yang tidak sekampungan saya bisa mempunyai pasokan pantun yang jauh lebih berkualitas daripada punya saya.


5. Buatlah sebuah karya sastra

Karya sastra yang saya maksud disini bukanlah suatu novel atau puisi yang sangat berbobot. Namun lebih kepada sesuatu yang mengandung kata-kata yang berima, enak dibaca, dan analogi-analogi yang menggunakan majas-majas. Saya sendiri merasa saya tidak terlalu pintar bermain dengan kata-kata seperti ini, saya rasa adik saya yang kuliah di fakultas sastra mungkin lebih fasih bermain dengan kata-kata. Sebetulnya tidak perlu kata-kata yang terlalu rumit juga, tapi sesuatu yang bisa membuat orang agak terdiam waktu membacanya. Sekali lagi, sedikit berpikir dan mencerna ambiguitasnya. Karena untuk yang satu ini dibutuhkan kemampuan yang cukup tinggi, saya rasa tidak banyak orang yang bisa membuat curhat colongan dengan kata-kata indah tanpa terdengar terlalu murahan. Ada satu yang bisa saya jadikan contoh yang berasal dari teman saya Ayura Pramadhita, Psikologi Atmajaya, 2006. Ia membuat kata-kata yang membuat saya kaget saat ia membicarakan soal pacarnya Davin Fabian , yang sedang menuntut ilmu IT di Taiwan dengan giatnya. Pasalnya, (tsaaah), teman saya yang satu ini sangat cuek dan tidak pernah bergelut dengan dunia ‘kemenye-menyean’.

Berikut kata-katanya saya kutip : “He, the color-blind man, has colored my world so brilliantly.”

Saya pikir ini sangat manis, tanpa terkesan murahan. Maksudnya pun tersampaikan. Pacarnya pasti senang :)


5. Buatlah penyebab ~emo tweet kalian itu sebagai suatu games atau permainan

Nah, buat saya yang tips yang terakhir ini sangatlah menghibur. Selain bisa menyalurkan emosi dan meringankan tekanan yang dialami, cara yang terakhir ini menurut saya juga menyenangkan sekali, karena melibatkan partisipasi dari orang lain. Buatlah sumber tekanan yang kalian alami menjadi sesuatu yang menyenangkan walaupun sulit. Kalau masih belum terbayangkan juga caranya, mari saya coba berikan contoh dari pengalaman saya sendiri. Waktu itu saya sedang pusing-pusingnya dengan skripsi karena siang sebelumnya saya habis bertemu dengan pembimbing skripsi dan jalan berpikir yang saya pikir sudah cukup saya rancang sedemikian rupa ternyata harus diputar balik dan diulang lagi kerangka berpikirnya dari awal. Belum lagi tambahan tugas membaca begitu banyak literatur yang saya sendiri tidak tahu harus mulai dari mana. Ini masalah klise, kalau kata orang yang sudah pernah menyusun skripsi. Saya pun bingung harus curhat ke siapa, dan bagaimana mulainya. Karena saya juga tahu teman-teman sepenanggungan saya juga pasti sama pusingnya dengan saya.

Jadi, daripada berpusing-pusing tanpa ada juntrungannya, saya pun melakukan sebuah permainan kecil dengan teman-teman di twitter. Hanya dengan melontarkan pertanyaan “setelah skripshit, skripsay, dan skriptease, menurut kalian nama apa lagi yang bisa kita gunakan untuk menyebut dia-yang-namanya-tak boleh-disebut?”. Selanjutnya, saya luarbiasa terhibur dengan jawaban teman-teman saya :

Nahlia, alias Ai menjawab : SkripSIP! supaya SIP ngerjainnya!

Muelita, alias Muel menjawab : Skripililii *dengan logat Dulce Maria* kemudian disambung dengan SkriPLONG (plong kalau udah selesai)

CatjaCatja, alias Caca menjawab : Skripik singkong! *garing ya gue? hehe..*

Keindafauri, alias Keinda menjawab : Skripping, untuk Skipping sekaligus Tripping

dan Devaina, alias Devina menjawab : SkriPEACE! biar damai selama ngerjain :)

Menghibur bukan?

selain meringankan beban pribadi, mudah-mudahan juga bisa menghibur hari orang lain. hahaha.

Sekian dulu tips mengolah ~emo tweet dari saya. Sejauh ini saya hanya bisa menemukan 5 alternatif bentuk dari ~emo tweet. Kalau sekiranya teman-teman bisa menemukan alternatif-alternatif lain yang menghibur dan kreatif, ditunggu lho sumbangsih ide-nya.


MENGAPA ~EMO TWEET SEBAIKNYA DIOLAH TERLEBIH DAHULU? (WHY)

Saya tahu dalam jurnalistik pertanyaan WHY muncul sebelum pertanyaan HOW. Dalam kehidupan akademis saya sehari-hari membuat laporan penelitian atau pembuatan suatu asesmen tertentu pertanyaan utama yang selalu diungkapkan adalah WHY? atau kenapa saya harus membuat penelitian ini, apa urgensinya, apa gunanya. Berkaitan dengan topik ~emo tweet ini perlu dipertanyakan juga kenapa ~emo tweet harus diolah sedemikian rupa. Yah, selain supaya menambah variasi supaya tidak bosan, alasan kenapa ~emo tweet harus diolah terlebih dahulu sebetulnya sudah saya ungkapkan di tulisan saya sebelumnya yang saya cantumkan di atas. Karena menurut saya tetap saja, “mulut-mu harimau-mu” dalam hal ini tentu saja update status-mu, harimau-mu”.

Selain itu, biasanya setelah kita ngomong sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, mulailah reinforcement sosial yang bertindak. Dimana jika lingkungan sosial kita menyatakan pembenaran dan persetujuan terhadap hal ini, kita bisa saja semakin tersugesti untuk menganggap bahwa apa yang kita ungkapkan, atau kita rasakan itu benar, tanpa kita telaah dulu lebih lanjut. Dalam hal ini, emosi negatif yang kita tuangkan dalam situs jejaring sosial yang kemudian direspon oleh teman-teman kita, walaupun sekedar respon kecil seperti bertanya “ada apa?” dapat menjadi suatu penguatan bagi kita untuk kemudian terus mengadu, dan mengeluh mengenai emosi negatif tersebut. Akhirnya, sesuatu yang sebetulnya tidak terlalu buruk akan terasa lebih buruk daripada yang seharusnya. Sekali lagi, ~emo tweet itu sangatlah manusiawi, namun kita perlu juga memikirkan perkembangan diri kita dan mencoba untuk melihat dari sudut pandang yang lain untuk meringankan itu semua.

Saya sendiri, masih berlatih untuk memilih curhat in person saja.

Bagaimana dengan kalian?

– D! –

4 comments

    • dheasekararum

      hahahah thankyou sar, ini sih antara gue anaknya memang elaboratif atau kurang kerjaan aja hahaha. lagipula ini sih sebenernya kehidupan sehari-hari saja :)

      thanks for reading, mungkin tipsnya bisa dicoba hahaha :D

      – D! –

  1. devina

    Baguuuuussss!!!! 5 bintang buat dhea.. :) Kynya ini musti masuk di rubrik majalah remaja deh, biar org ga kebanyakan curhat di status *sambil ngaca* ;p

    Hayoo siapa yg punya link ke majalah terkemuka tolong tulisan ini direkomendasikan!

    *btw makasih looh itu ada nama gw disebut2. Hehehe…

    • dheasekararum

      bwahahahhaha macam hotel saja bintang 5. terimakasih, senang kalau lo suka bacanya :)

      sebenernya seperti yang gue bilang, ~emo tweet itu manusiawi, cuma kalau terlarut-larut yang rugi justru diri sendiri (gue masih belajar untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang lebih positif, dan gue ingin mengajak orang utk melakukan hal yang sama haha salah satunya dgn tips2 sampah ini)

      senang deh devina mau mampir
      thankyou :D

      – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s