Mengolah ~emo tweet agar enak dibaca.

Oke, pertama-tama saya beritahukan bahwa tulisan ini lagi-lagi ada hubungannya dengan beberapa tulisan saya sebelumnya, yaitu “Social Site’s Disclosure itu Adiktif dan Bisa Jadi Destruktif” dan juga tulisan saya yang “Panggung Sandiwara”. Jadi kalau teman-teman sebelumnya sudah pernah mampir dan membaca tulisan saya itu mungkin sedikit banyak sudah mengerti bagaimana saya memandang fenomena yang menurut saya menarik ini. Kalau yang belum pernah mampir, saya pikir nggak ada buruknya untuk menilik-nilik supaya agak berkesinambungan gitu lho isunya hehe.

Oke, di kedua tulisan saya tersebut intinya saya menggambarkan bagaimana cara orang menuliskan update status mereka dalam situs yang menyediakan fasilitas microblogging itu memiliki beberapa dampak yang ‘lucu’ terhadap diri mereka maupun lingkungannya (yah, dalam hal ini, tentu saja saya juga). Lalu berikutnya saya akan menjelaskan situasi saya. Begini, lingkungan saya, (baca: teman-teman yang biasa menjadi teman saya dalam berinteraksi sehari-hari) adalah sekelompok orang yang menganggap fenomena ini ‘lucu’, dalam artian, jika saya melakukan update status semacam itu di beberapa situs microblogging, mereka nggak akan segan-segan menertawakan saya atau membuat saya menjadi bahan olok-olok daripada kemudian menunjukkan sisi afeksi mereka dan  sekedar bertanya “ada apa dhea? cerita dong sini yuk”. Jangankan di status microblogging sites, bahkan beberapa teman saya yang laki-laki tidak segan-segan untuk langsung tertawa lebar-lebar dengan jumawa jika melihat status Yahoo Messenger saya agak cenderung menuju ke arah sedikit melankolis. Mereka memang kasar. Maksud mereka tentu saja baik, bukan sekedar mengolok-olok saya. Pesan yang mereka coba sampaikan adalah, lebih baik curhat in person saja, dibandingkan curhat colongan (yang kemudian jelas-jelas ketauan) di social networking sites yang mana kita tidak bisa mengontrol siapa-siapa saja yang akan membacanya dan juga interpretasi macam apa yang bisa disimpulkan oleh orang yang membaca tersebut. Terlalu banyak variabel yang tidak bisa dikontrol yang nantinya bisa menjadi senjata makan tuan kalau disalahgunakan.

Kemudian, disini saya akan memperkenalkan sebuah istilah baru, yang biasa saya dan teman-teman saya sebut sebagai “~emo tweet”. Jika kalian lihat sebelum kata emo ada buntutnya di depan, kenapa begitu? Karena pengucapan frase ini dilakukan dengan cara yang paling mengganggu dengan suara yang paling mengganggu juga, suara sok-sok bindeng radio gitu. Frase ini biasanya akan tercetus jika salah satu dari kami kedapatan menuliskan tweet yang bernada curhat colongan, dan cenderung ketahuan siapa yang dimaksud alam curhatan tersebut. Nada pengucapannya adalah panjang dan naik di ujung frase, ingat dengan suara sok di bindeng2in, “~emo tweeeeeeet” gitu. Seperti ikut kuis lalu jawaban anda salah dan bel pun berbunyi ~TETOOOOT!. selanjutnya, mari kita kupas lebih lanjut mengenai apa emo tweet ini. Saya akan mencoba untuk menggunakan gaya pembahasan 5W1H supaya lebih semarak.

SEPERTI APA YANG DIKATEGORIKAN SEBAGAI ~EMO TWEET ITU? (WHAT)

Membicarakan ~emo tweet tentu kita perlu tahu sejauh mana batasannya sebuah tweet dikategorikan sebagai ~emo tweet. Seringkali sulit untuk membuat batasan operasional mengenai ~emo tweet ini. Selain karena cara orang dalam menuliskan tweet– nya memang luarbiasa beragam, tentu saya dan teman-teman saya juga tidak memiliki waktu luang sebanyak itu untuk kemudian merumuskan behavior indicator lalu membuat operasionalisasi dari konsep ini (emangnya kuliah KAUP? hahaha). Hemm kalau menelisik dari istilah harfiahnya saja, sebenernya saya dan teman-teman mencetuskan konsep ini terinspirasi dari musik emo. Suatu aliran musik yang lirik maupun iramanya berisikan emosi yang meluap-luap dan dibawakan dengan tidak kalah ekspresifnya pula. Menurut Wikipedia, Emo (pengucapan /ˈiːmoʊ/, singkatan untuk emotional music[1]) adalah gaya musik rock dengan ciri khas musik yang melodius, disertai lirik yang ekspresif dan berisi pengakuan. Dengan demikian, yang dimaksud dengan ~emo tweet disini adalah tweet yang dipenuhi muatan emosi yang berisikan pengakuan. Intinya sih curhatan di depan publik melalui media situs microblogging.

Sebagai gambaran lebih jelasnya lagi, berikut beberapa contoh ~emo tweet yang bisa saya rangkum untuk anda, beberapanya adalah tweet-tweet yang :

a. menyuarakan amarah dan cenderung memasukkan unsur kata makian, dan tidak lupa tanda baca imperatif : “ah babi. nyebelin banget sih itu orang dasar gatau diri!!

b. menyuarakan rasa kangen atau emosi melankolis lainnya : “ohh i wish my dearest was here, i can blalalala”

c. menyuarakan rasa putus asa dan lelah dalam menjalankan segala sesuatunya, biasanya disertai penambahan simptom-simptom penyakit : “rasanya sesek kaya nggak bisa napas, gatau harus gimana lagi” atau sesuatu yang lebih singkat, seperti “mau mati aja! kenapa semuanya salah gue??!!”

d. menyuarakan rasa protes terhadap keadaan sekitar (seringkali disuarakan dengan bahasa asing) : “God! I thought you alway know the best for me, do you consider this as the best for me??!” atau kadang rasa protes disuarakan dengan kalimat-kalimat pengandaian “seandainya gue punya kesempatan kedua untuk perbaikin semuanya”

Oke, segitu dulu contoh yang paling sering muncul. Sudah mulai dapat gambarannya? Kalau sudah, bagus. Kalau belum juga, mari saya bantu sederhanakan polanya. Intinya, tweet-tweet ini adalah jenis tweet yang mengundang perhatian orang dan ‘minta ditanya’, butuh dukungan sosial dan asupan afeksi dari pembacanya. Baik sengaja ataupun tidak, tweet2 seperti ini pada umumnya mengundang pertanyaan seperti “ada apa sih ? cerita2 dong yuk. nanti dibantuin deh”. Sebagai tambahan, ~emo tweet seringkali muncul dalam konteks hubungan romantis antar pasangan. Nah, makin seru kan.

DIMANA SAJA ~EMO TWEET DAPAT BERMUNCULAN? (WHERE)

Pertanyaan selanjutnya, dimanakah biasanya ~emo tweet ini berceceran? Saya sendiri berpendapat bahwa walaupun namanya ~emo tweet, namun hal ini tidak lantas khusus berlaku hanya pada situs twitter saja, namun juga berlaku di semua situs social network manapun, khususnya yang menyediakan fasilitas micro blogging dan menstimulasi kita untuk membuka diri kita, menyampaikan pikiran, kegiatan sehari-hari kita, sekaligus pula perasaan kita. Status facebook, plurk, koprol, dan sebagainya adalah beberapa situs yang rentan sekali terhadap kemunculan fenomena ini. Kalau di plurk kita bisa sebut sebagai ~emo thread kali ya? Hehe. Mungkin teman-teman bisa mencermati lebih lanjut.

KAPAN BIASANYA ~EMO TWEET BERMUNCULAN/WAKTU EFEKTIF MUNCULNYA (WHEN)

Hal yang menarik lagi untuk dicermati adalah bahwa ~emo tweet ini memiliki waktu-waktu produktifnya untuk bermunculan. Kalau saya perhatikan, ~emo tweet sangat jarang muncul di atas jam 10 pagi, jarang juga muncul di siang hari (kecuali saat udaranya betul-betul panas dan memang secara objektif memancing munculnya berbagai emosi). Waktu-waktu produktif kemunculan ~emo tweet seringkali adalah di atas jam 12 malam, atau dini hari. Dimana ketika suasana mulai sepi, mulai jarang yang tweeting atau plurking disitulah waktu produktif ~emo tweet muncul. Waktu-waktu lainnnya mungkin adalah menjelang jam subuh, ketika ayam pada umumnya berkokok (ayam di rumah saya sih seringnya berkokok jam setengah 3 pagi, dia memang anomali, jadi jangan dihitung). Oh, iya. Waktu lain yang sangat signifikan untuk diperhatikan sebagai waktu produktif munculnya ~emo tweet adalah malam minggu sodara-sodara. Entah kenapa malam minggu ini menyebabkan semacam atmosfer dan wabah untuk menjadi resah gelisah dan gundah gulanah, oleh karena inilah ~emo tweet di malam minggu semakin bertebaran. Seperti panen raya.

(bersambung ke posting selanjutnya)


2 comments

  1. dheasekararum

    terimakasih, ini hanya sedikit anekdot pandangan saya tentang demam twitter. bagus sekali kalau bisa merangkai kata-kata seperti barisan puisi dalam setiap tweet kita, kalau saya sendiri seringkali ya terjebak dalam ~emotweet ini hehehe

    – D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s