Perbincangan sore dan eklektisme

Saya sangat suka (sore) hari ini.

Hari ini saya memiliki banyak waktu luang untuk berbincang-bincang santai dengan beberapa orang. Kesempatan berbincang-bincang santai ini sangat jarang saya miliki dengan semua hiruk-pikuk kuliah dan kerjaan-kerjaan yang saya miliki. Perbincangan saya dimulai dengan berbagi cerita dengan teman saya Pijo, dan Ramadion, yang mana sangat saya nikmati. Kedua orang ini sudah sangat jarang sekali ketemu dengan saya, kebetulan keduanya sedang sibuk mengerjakan skripsinya demi lulus semester ini.

Pembicaraan berlanjut ke curhat salah satu dari kami mengenai pasangannya (yang jelas bukan saya, berhubung saya sedang tidak terlibat dalam sebuah hubungan romantis pun, seperti yang kalian ketahui). Setelah curhat panjang lebar, akhirnya saya mengambil kesimpulan bahwa ketika kalian sudah berada di luar hubungan romantis dan melihatnya dari kacamata orang luar, segalanya terasa lebih mudah. Seperti yang saya lakukan tadi, enak aja gitu kasih saran ini itu. Padahal saya sendiri sadar, bahwa situasinya yang sedang dibicarakan teman saya tersebut, sama persis seperti yang saya rasakan dulu, dalam hubungan saya sebelumnya. Jadi saya hanya lebih banyak tertawa, dan ditertawakan oleh Pijo dan Ramadion. “Dasar menye-menye lo Cupu!!” demikian katanya. Yasudah saya memang cupu, apa mau dikata, yang penting saya sudah belajar sesuatu.

“The most crucial mistake(s) of a relationship is being insecure and lack of communication”

Yeah. Tell me about it.

Setelah selesai curhat, akhirnya teman-teman saya bubar, lokasi perbincangan berpindah ke kantin lama. Kali ini teman berbincangnya adalah Cantika Marlangen, teman seperjuangan saya, dan Mas Ivan Sudjana dosen saya yang memang jadi teman berdiskusi kalau lagi ingin duduk berlama-lama di kantin. Karena saya baru saja mendapatkan insight dari pembicaraan sebelumnya, saya langsung berbagi dengan mereka. Mas Ivan hanya senyum-senyum saja waktu saya bilang dengan gamblang “ah, pacaran itu sulit ya Mas, banyak yang mesti dikompromikan, dibicarakan, ditoleransi, ditahan, mesti banyak sabar dan dewasa”.

Pembicaraan kemudian berloncatan, sampai akhirnya masuk ke suatu pembahasan mengenai skripsi dan proses penelitian. Hingga kemudian saya mencetuskan pertanyaan berdasarkan bahan ujian konseling kemarin,

Lho, jadi eklektisme dan sintesis itu sama atau beda Mas?”

Sebelumnya, saya jelaskan dulu bahwa eklektisme ini kaitannya dengan penggunaan teori oleh seorang konselor. Seorang konselor dapat menggunakan satu teori tunggal alam pendekatannya mengahadapi klien, tetapi dapat juga menggunakan teori yang eklektik, berarti mencampurkan beberapa pendekatan, mengintegrasikan beberapa pendekatan (Lesmana, 2006).

Saya sendiri masih bingung dengan konsep ini karena menurut saya agak rancu dengan konsep sintesis. Namun, Mas Ivan menolak bahwa sintesis dan eklektisme merupakan suatu proses yang sama. Menurut Mas Ivan, dalam sintesis yang dilakukan adalah mengambil beberapa bagian dari beberapa teori lalu menggabungkannya menjadi satu, namun, kita masih dapat melihat bagian-bagian dari masing-masing unsur asal teori itu, misalnya konsep dasarnya, dan sebagainya.

Namun, sintesis sendiri lebih terintegrasi jika dibandingkan dengan sekedar membuat kombinasi. Karena kombinasi sendiri pada dasarnya tidak menggabungkan menjadi satu, namun lebih kepada mengelompokkan beberapa unsur berbeda untuk kemudian berfungsi bersama. Dalam kombinasi justru unsur-unsur yang ada masih jelas terlihat, hanya dipadu padankan sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik.

Sedangkan eklektisme tidak begitu.

Menurut Mas Ivan, eklektisme tidak terikat terhadap suatu landasan konsep tertentu, sehingga ketika ada beberapa unsur dari berbagai konsep diintegrasikan menjadi satu, bagian-bagian dari masing-masing unsur tersebut sudah tidak dapat dilihat lagi saking sudah menyatunya menjadi sesuatu yang baru dan berdiri sendiri. Tanpa terikat kepada unsur-unsur asalnya. Dengan tambahan, kita, yang melakukan eklektisme ini sendiri sudah harus paham betul terhadap seluk beluk dari tiap teori yang hendak kita integrasikan, sudah mengevaluasi sampai sangat dalam dalam setiap komponen teori tersebut, positif dan negatifnya, penerapannya, serta segala sesuatunya. Bahasa gampangnya, sudah ngelotok. Sehingga kita tahu mana yang harus kita integrasikan, mana yang tidak.

Ketika usaha saya dalam mencari penjelasan mengenai eklektisme ini dengan menggunakan istilah antropologi akulturasi dan asimilasi, ternyata konsepnya tidak bisa disamakan. Lebih-lebih lagi ketika mencoba menjelaskannya dengan konsep kimia atau eksakta, sekaligus pula ujungnya akan semakin membingungkan saya. Saya, dengan kemampuan kognitif sederhana, akhirnya mencari cara yang lebih sederhana :

“hemm, gini deh ya Mas, misalnya kombinasi yang tadi Mas Ivan bilang itu adalah sejenis cemilan sore hari, maka dia itu adalah pisang gencet coklat keju menurut gue. Itu kan nama suatu makanan, tapi masing-masing komponennya masih kelihatan jelas lho, kita bisa lihat pisangnya, cokelatnya, dan juga kejunya. Mereka dipadu padankan menjadi suatu jenis makanan baru yang enak lho.”

Mas Ivan mengangguk-angguk.

Saya melanjutkan,

” oke, kalau gitu sintesis, kalau gue bayangkan dia sebagai cemilan sore hari, maka dia itu adalah pancake Mas! Karena pancake kan sudah merupakan suatu bentuk kesatuan yang mana kita nggak bisa lihat komponen-komponen adonan aslinya kan? Kita nggak bisa lihat telurnya, tepungnya, susunya, dan adonan lainnya. Cuma, kita masih tetap merasakan masing-masing komponen itu, kita masih bisa merasa bahwa ada kandungan susu di dalamnya karena manis, lalu ada sedikit serat dari tepungnya, nah yang bikin ia mengembang dan itu kita tahu adalah telur”.

Mas Ivan tampak setuju. Kemudian saya kembali bertanya

“Terus, kalau eklektisme itu cemilan sore hari, maka dia itu apa dong Mas? Masih nggak ngerti nih”

Mas Ivan kemudian berpikir agak lama. Cantika tidak bisa membantu.

Akhirnya, setelah terdiam agak lama, mas Ivan angkat bicara

“Susah juga kalau makanan ya. Gini aja deh, lo tadi bilang pacaran itu susah, butuh toleransi lah, kompromi lah, komunikasi lah, buat menyatukan dua orang yang sama sekali beda, iya kan? Nah, coba bayangkan bahwa orang yang pacaran itu adalah kombinasi, kemudian yang sudah sampai tingkat bertunangan itu adalah sintesis, dan orang yang sudah menikah sekian tahun itu adalah eklektisme“.


Saya bengong.

Lalu kemudian pembicaraan segera meloncat ke Bruce Lee.

dan saya pun masih kepikiran sampai malam ini.

– D! –

Daftar Pustaka :

Lesmana, Jeanette Murad. 2006. Dasar Dasar Konseling. Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s