Silly thing(s) to fall for

Atau, dalam bahasa indonesia, diterjemahkan menjadi ‘hal konyol untuk ditaksir’.

Teman-teman pernah punya pengalaman naksir atau setidak-tidaknya tertarik dengan lawan jenis karena hal-hal sederhana? Hal-hal yang biasanya bukan merupakan variabel yang penting dalam pertimbangan mencari pasangan; Bukan hal-hal seperti keahlian yang dapat dilakukan oleh lawan jenis tersebut, bukan pula kepintarannya, bukan pula latar belakang pendidikannya, bahkan bukan pula latar belakang ekonomi orangtuanya (yah setidaknya setahu saya hal-hal inilah yang umumnya menjadi pertimbangan kita dalam memilih pasangan, atau setidak-tidaknya untuk naksir dengan lawan jenis).

Hal-hal sederhana yang saya maksud di sini merupakan hal-hal yang sebetulnya sama sekali tidak terpikirkan oleh kita, dan biasanya terjadi begitu saja. Oleh karena itu seringkali merupakan sesuatu yang konyol, nyaris bodoh. Hal-hal serupa seperti yang ada dalam adegan film The Ugly Truth ketika pemeran utama wanita terperangah dan tergelitik sedikit hatinya saat pemeran utama pria memesan ‘air keran’ di sebuah rumah makan, yang mana hal tersebut sama seperti kebiasaannya, dan sebelumnya ia selalu dianggap aneh karena mempermasalahkan bahwa memesan air keran pada dasarnya sama saja dengan memesan air mineral dalam kemasan karena air keran sudah melalui proses penyaringan yang menjamin higienitasnya blablablabla dan blablablabla. Hal-hal semacam ini.

Saya pernah.

Setidak-tidaknya sepanjang yang saya ingat saya pernah mengalami hal semacam ini satu kali. Saya naksir (atau setidak-tidaknya tertarik) pada satu orang laki-laki karena hal yang sangat sederhana, dan ditaksir karena hal yang sangat sederhana (oleh orang yang berbeda, dalam waktu yang berbeda pula). Berikut cerita singkatnya :

# Saya pernah tertarik sama cowok karena ia menuliskan nama panggilan saya dengan ejaan yang tepat.

Beberapa dari teman-teman saya yang kenal cukup dekat dengan saya mungkin tahu bahwa saya sangat jengkel jika ada orang yang menuliskan nama saya dengan ejaan ‘Dea’ tanpa huruf ‘H’ di antara huruf D dan huruf E. Mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah hal yang sepele, namun tidak demikian halnya bagi saya. Bagi saya, nama adalah pemberian orangtua, sehingga harus dihargai. Oleh karena itu, saya juga berusaha untuk selalu menuliskan nama orang lain dengan ejaan yang benar. Saya mungkin bisa paham jika seseorang yang sebelumnya belum pernah melihat ejaan nama saya kemudian menuliskannya dengan kurang tepat, tapi ada juga lho orang-orang yang sudah jelas-jelas tahu seperti apa tulisannya masih saja salah menuliskannya. Bahkan beberapa orang masih tetap salah saat saya sudah terang-terangan bilang “Dhea ya Mbak, pakai H”.

Oke, saya mungkin terdengar neurotik jika membicarakan masalah ini.

Lalu suatu hari ada seorang cowok yang belum terlalu saya kenal, tepatnya kami baru berkenalan sehari sebelumnya demi sebuah kepanitiaan acara kampus. Saat itu, bagi saya, ia hanyalah senior saya di kampus, dan saya hanyalah mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa dan diajak untuk bergabung ke dalam suatu kepanitiaan. Tidak ada kesan yang spesial bagi saya mengenai cowok itu selain saya pikir orangnya (terlalu) banyak bicara dan penampilannya seperti anak gaul kebanyakan. Sepertinya orangnya seru untuk diajak berbincang lebih lanjut karena ia membuat saya tertawa atas lelucon-lelucon garingnya sore itu. Lalu ia bilang “besok nama lo berdua gue tulis di pakom ya langsung”. Saat itu yang ia maksud ‘lo berdua’ adalah saya dan teman saya yang justru awalnya diajak bergabung dan baru kemudian mengajak saya. Intinya, saya awalnya hanya embel2 saja.

Keesokan harinya, saya kebetulan bertemu dengan cowok ini saat ia menuliskan nama kami di pakom kepanitiaan. Dia menulis “Dhea” dengan sempurna. Spontan saya tersenyum luar biasa senang entah kenapa. Lalu dengan spontannya berujar “Haaah! Lo nulis nama guenya beneeeerr! Pakai huruf ‘H’! Seneng deh hehehe”. Dia hanya tertawa, “hahahah iya ya? bukannya emang biasanya gitu tulisannya?”. Lalu saya mengangkat bahu, saya bilang nggak banyak orang yang nulisnya langsung bener seperti itu, apalagi sebelumnya toh dia belum pernah melihat tulisan nama saya.

Saat itulah saya tahu bahwa oke, saya tertarik dengan cowok ini. Bahasa berlebihannya, he has something. Kemudian, saya tidak tahu seperti apa prosesnya, yang jelas saya sangat terkesan dengannya hari itu dan kemudian saya jadi banyak mengobrol dengannya karena kebetulan saya dan dia juga memiliki  kesamaan dalam beberapa hal.

Demikianlah salah satu contoh bagaimana saya bisa semudah itu tertarik dengan orang lain. Walaupun tidak bisa dipungkiri juga bahwa kemudian banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi kemenarikan diri dari cowok ini. Namun awalnya semua bermula dari penulisan nama yang tepat. Cerita selanjutnya? Hemm saya rasa akan keluar konteks kalau saya tuliskan di sini hehe.

# Ada cowok yang pernah tertarik sama saya karena  saya suka komentar soal gambarnya dan saya meminjamkan pensil mekanik milik saya waktu dia nggak punya pensil

Nah, kalau cerita yang ini lain lagi. Kejadiannya waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA. Cowok ini adalah salah satu dari sekian teman les bahasa inggris saya. Sebetulnya, awalnya saya rasa saya yang tertarik sama cowok ini, karena memang menarik saja di mata, terus tipe cowok yang pendiam lucu gitu, menarik sekali. Selain itu, dia suka menggambar di meja kelas, yah termasuk tindakan vandalisme sih memang, cuma gambarnya sangat menarik dan saya suka curi-curi lihat kalau dia lagi gambar diam gitu tidak menyimak apa yang disampaikan di depan kelas. Sekali waktu saya berkesempatan duduk di sebelahnya dan mengintip gambarnya dan berkomentar “wah gue suka deh liat gambar lo. menarik!”. Sudah, interaksi selanjutnya hanya perbincangan mengenai hal-hal yang ada di permukaan, seringkali hanya seputar tempat les itu sendiri. Kalau bertemu juga hanya bertegur sapa saja, tidak ada sesuatu yang signifikan selama kami les.

Saya duduk di sebelah dia hanya dua kali selama kami les berbulan-bulan lamanya. Pertama, waktu saya mengomentari gambarnya. Kedua, waktu sedang berlangsung tes pertengahan tingkat. Pada saat inilah dia terlihat kelimpungan tidak membawa alat tulis. Saya sebagai manusia normal yang juga makhluk sosial, yang juga kebetulan pada saat itu punya alat tulis lebih, akhirnya menyodorkan pensil mekanik milik saya “nih. pakai aja”. Demikian, interaksi tatap muka saya memang sangat terbatas. Interaksi selanjutnya, yang juga merupakan interaksi tatap muka yang terakhir antara saya dan dia adalah saat ia mengatakan bahwa ia akan berhenti les, karena ingin konsentrasi ke bimbel untuk persiapan masuk ke perguruan tinggi (saat itu ia kelas 3 SMA). Ketika ia bilang begitu, saya spontan berkata “ah serius? yah ga seru dong gabisa ketemu2 lo lagi sambil liatin lo gambar hehehe”.

Kemudian, sudah begitu saja. Saya pun tidak memikirkannya lagi sama sekali, lewat begitu saja selama beberapa bulan setelahnya. Sampai suatu hari ia mengirimkan sms kepada saya, menceritakan bahwa ia sudah punya kampus, menanyakan kabar dan bincang-bincang ringan lainnya. Saya kira ia memang menanyakan kabar semua teman sekelasnya waktu les dulu, tapi ternyata tidak. Kami lalu sms dan sms, sampai suatu hari dia bilang “lo tau kapan gue mulai merasa tertarik dan enak ngobrol sama lo?” Saya jelas tidak tahu. Lalu ia bilang “Gara-gara lo dulu secuek itu, dengan santainya komentarin gambar orang yang lo gak deket2 amat hahaha, terus tau2 sok2an mau pinjemin pensil lagi. kocak banget tau. itu menarik”.

Terus terang saya agak bengong juga dengarnya.

Nah, demikian sedikit cerita dari saya. Hal-hal seperti ini bisa terjadi dan datang kapan saja dan dimana saja. Saat dimana kita justru tidak kepikiran, saat kita lengah dengan perhitungan variabel-variabel yang menjadi tolak ukur dalam mencari tambatan hati, ada aja hal-hal yang ga diduga dan tiba-tiba bisa membuat kita sebegitu terkesannya akan hal-hal kecil yang terlupakan. Lucu memang.

Nah, bagaimana dengan kalian? Apa kalian pernah memiliki pengalaman yang kurang lebih sama? Saya ingin tahu, karena cerita-cerita seperti ini akan jadi unik sekali. Bagi-bagi cerita ya :)

– D! –

15 comments

  1. Disa

    gak tau dhe, waktu itu sih kayaknya gue gak menganggap itu cool tapi gue menganggap dia cool karena melakukan hal-hal yang gak wajar. hahahahaha.

  2. Shanti

    gw pernah jd tertarik sama seorang cowo karena dia manggil gw pake nama panggilan tertentu. dr semua temen gw, yg mangil gw kayak gitu cuma mantan gw yg pertama & abang gw. pas si cowo-baru-kenal ini manggil gt, gw langsung terpesona :D

  3. Melita Tarisa

    @ Disa : Huahahahaha. Disa, Maaf ya, gw numpang ketawa. Lagi lucu banget temen lo!! :P

    @ Dhea : Kayaknyah hal-hal lucu dan sederhana kayak gitu memang bikin cerita cinta jadi warna-warni. Tapi gak jarang, hal2 gak “penting” juga, Dhe, yang bikin ilfil. Hehehe. Kayak misalnya, gw pernah batal naksir cowok karena dia buang sampah sembarangan dan atau dia suka meludah sembarangan. Kata temen gw (cowok), itu “gak penting”, tapi buat gw itu penting. :P

  4. dheasekararum

    @Disa : huahuhaua astaga astaga dis tapi memang ya cowok-cowok jaman SD itu suka sok laku gitu kalau disukain sama cewek langsung besar kepala

    @Shanti: hihihi teh cune itu lucu banget deh

    @melita: nah iya tuh mel, gue pernah ilfeel sama cowok karena dia suka lagu emo

    @toso : no, no, nama panggilan gue dari bayi adalah dhea :)

    TERIMAKASIH SUDAH BERBAGI CERITA YAAAA hehe ayo ayo yang lain mana?

    – D! –

  5. roro

    gw pernah suka sama cowo karena dia bisa membuat gw berhenti berargumen, padahal yang dia ucapkan sama sekali ngga ada kaitannya dengan perbincangan kami.

  6. shanti

    wah! sebagai org yg nyolot *hehehe* gw pun sangat bisa langsung terpesona kalo ada cowo yang nge-skak gw. gw ga nulis itu krn itu mnrt gw penting, sampe gw jadiin kroteria calon suami gw.. hoho..

  7. roro

    masalahnya kenapa itu jadi silly karena di tengah perdebatan tentang suatu hal penting dia cuma ngomong: Kita debat panjang kaya gini, nanti kalo nikah jangan ngajak debat melulu ya. muka kamu dodol banget kalo lagi ngotot. *sialan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s