tentang unconsciousness

cuplikan chat log dengan Disa :

Dhea : hmm iyanih gue mulai merasa terganggu deh. Counter productive nih. Lagian, nggak seru aja kan di judge gara-gara tweet lo kan.

Disa : hmm iya sih ya

Dhea : coba deh Dis, gue mau coba nih nggak tweeting atau plurking atau gitu2 selama 2 hari besok

Disa : ahahaha yakin lo?

Dhea : yah biar sehat, tweet gue mulai ga sehat nih. i tweet not merely to express but to impress, and that’s not good.

Disa : ok

Dhea : Oke gue 2 hari ya. Kalo gue melanggar, lo yang tentuin hubungannya deh

Disa : ha?

Dhea : astaga maksud gue hukumannya, kenapa gue ngetiknya jadi HUBUNGANNYA sih? what is wrong with me??

Disa : huahahahhahahahahaha

Cuplikan pembicaraan tersebut saya tulis gara-gara baca tulisan smita yang ini.  Saya jadi ingat pembicaraan saya dengan Disa Tannos melalui media YM. Waktu itu kami bicara mengenai betapa situs-situs microblogging mulai merajahi kami dan membuat kami merasa itu adalah sebuah kebutuhan, dan kami (setidak-tidaknya saya) merasa terganggu dengan hal ini. Kan nggak lucu banget rasanya setiap hari harus tweeting, kalau nggak rasanya ada yang kurang, belum lagi kalau dipikir lagi, kegiatan tweeting yang saya lakukan bisa jadi sangat counter productive di tengah gegap gempitanya tugas dan kepanitiaan dan berbagai acara di bulan November bagi mahasiswa/i fakultas psikologi UI.

Lalu kami membuat sebuah pertaruhan, dalam hal ini, saya, karena sayalah yang paling merasa terganggu dengan kebiasaan tweeting ini, akan berusaha tidak tweeting, atau plurking, selama dua hari penuh. Saya juga tidak diperbolehkan mengganti status YM atau status Facebook. Intinya, saya tidak boleh melakukan kegiatan self disclosure apapun melalui situs social networking apapun. Namun saya masih diperbolehkan melihat2 tweets dari orang-orang maupun plurks dari orang-orang lain.

cuplikan ini dan tulisan Smita sebelumnya semakin meyakinkan saya, bahwa walaupun saya jatuh cinta dengan aliran psikologi  Humanistik, namun yang namanya Psikoanalisa itu tidak bisa ditinggalkan.

Sesuai yang dikatakan Smita , moral of the story:  your unconsciousness is WAY stronger than you could imagined. And it will make sure it’ll find its way out! Ah!

omong-omong, saya menang lho taruhannya.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s