Tentang keluarga

08/11/2009 | 22.17|rumah

*wall-eeeeee ! (bunyi sms masuk)*

tell me how does it feel to have a family, would you, please? i think i forgot that feeling..”

(terdiam, memutuskan tidak membalas apa-apa)

Sebuah sms dari seorang teman (yang sangat) dekat.

Saya juga kurang mengerti kenapa saya tidak membalasnya. Alasan yang paling mudah sih tentu karena mungkin saya juga tidak begitu paham maksud pertanyaannya. Mungkin saya juga merasa tidak cukup kompeten untuk menjawab pertanyaan ini. Mungkin saya sendiri juga tidak pernah menghayati apa rasanya memiliki sebuah keluarga. Mungkin saya juga tidak begitu mengerti yang dimaksud oleh teman saya dengan keluarga itu yang seperti apa?

Apakah yang dimaksud dengan keluarga itu adalah keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak? Ataukah keluarga besar yang termasuk juga di dalamnya kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, dan sebagainya? Ataukah definisi keluarga justru lebih luas lagi? Karena saya bingung, maka saya tidak jawab sms itu.

13/11/09| malam| 2 jam di dalam mobil terjebak macet dan hujan deras di daerah Wijaya

teman : hahaha kita terjebak macet dan nyasar gini malah jadi terlibat deep talk gini ya Kak

saya : hahah iya nih norak banget, padahal sebenernya kita ga akrab-akrab banget nih ya. thai boxing mempersatukan kita lah ini mah namanya

teman : iyanih. ngomonginnya tentang keluarga ini itu segala macem hahaaha

saya : aneh banget yah mana kita kebelet pipis, gue gapunya pulsa pula

teman : aduh iya nih kebelet banget, pulsa gue cuma pulsa sms hahaha. Tapi gue butuh nih kak pembicaraan-pembicaraan kaya gini

saya : becoming twenty ya? hahahha. i think twenty sumthin is just crazy, it’s kinda freak. but one thing at a time, we just have to take it easy.

teman : iya nih, becoming twenty soon. Butuh banget pembicaraan kaya gini, biar tahu kalo yang diurusin tuh masih banyak.

saya : eh, gue juga taun ini baru 20 lho

teman : serius? ah, masa sih? lo kelahiran 89 Kak?

saya : he eh. hehehe.

teman : ohh hahaha yayaya. Gue seneng banget nih pembicaraan kaya gini, biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu. Kaya tadi abis gue denger cerita-cerita lo tadi. Yah emang masih harus banyak belajar sih.

saya : yah, tergantung kita liatnya gimana sih.

Sekian cuplikan pembicaraan saya dengan seorang teman, lagi-lagi tentang keluarga. Kalau dikaitkan dengan sms teman dekat saya yang sebelumnya itu tentang makna keluarga. Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya yang dimaksud keluarga itu yang seperti apa. Kemudian kalau saya mengingat kembali kata-kata teman saya yang bilang “biar gue tahu bahwa kondisi orang lain tuh ada yang lebih buruk dari gue, jadi gue tuh ga kerjaannya ngeluuuuh melulu” saya jadi berpikir.

Sangat berpikir.

Kalau yang dimaksud oleh sms teman saya dengan keluarga adalah keadaan dimana terdapat ayah, ibu, dan anak, keluarga saya jelas samasekali tidak utuh. Seorang ayah, dengan 3 anak perempuan, tanpa ibu, jelas tidak utuh kalau dilihat dengan kasat mata. Ibu saya sudah tidak ada sejak saya lulus dari SMA, bertepatan dengan berakhirnya UAN SMA. Sudah 3 tahun lebih lamanya, dan sejak saat itu entah kenapa ayah saya belum menunjukkan tanda-tanda ingin memiliki pasangan lagi. Saya, sebagai seorang anak pertama dari 3 bersaudara perempuan semua, otomatis mengalami perubahan peran sejak saya lulus SMA. Walaupun peran tersebut memang tidak terlalu berubah secara signifikan sih, tapi terasa perbedannya.

Lalu muncul pertanyaan : apakah lantas *tsaaaah* hal ini membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Sekali lagi, saya memutuskan untuk menjawab, tergantung kita lihatnya dari mana.

Kalau dari masalah keutuhan keluarga, mungkin saya memang memiliki kekurangan dalam hal itu. Ada banyak hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan dan oleh seorang ibu, tapi nyatanya tidak bisa saya dapatkan dalam keluarga saya. Banyak hal pula yang seringkali harus dilakukan oleh saya, atau justru ayah saya, bahkan harus kami lakukan bersama-sama melibatkan adik-adik saya juga.

Mungkin teman-teman berpikir, saya tidak punya teman bercerita mengenai hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh sesama perempuan, seperti yang teman-teman bisa lakukan kepada ibu masing-masing. Saya tidak bisa meminta pendapat soal laki-laki yang ada dalam kehidupan saya dari sudut pandang seorang wanita dewasa yang paling mengerti saya. Saya tidak bisa minta pendapat kalau ingin belanja bahan kain, bahan masakan, atau jahit kebaya, beli baju, belanja, dan sebagainya. Saya tidak punya mentor pribadi dalam hal mengurus rumah, misalnya belajar memasak menu-menu baru, mengurus kerapihan rumah, mengurus administratif rumah tangga (hal-hal yang sebagian besar orang anggap sepele di jaman sekarang, namun buat saya masih penting untuk bekal menjadi seorang istri suatu hari nanti). Saya seringkali bingung bagaimana menghadapi adik-adik saya, mulai dari prestasi sekolah, mengambil rapot, mendengarkan mereka curhat, menghadapi emosi remaja mereka, mencoba meningkatkan rasa percaya diri mereka setiap kali mereka menghadapi kesulitan, dan pelajaran-pelajaran hidup lain yang mereka butuhkan untuk tumbuh dewasa.

Selain hal-hal teknis itu, terkadang ada juga perasaan-perasaan khawatir yang mungkin tidak dimiliki teman-teman yang mempunyai orangtua yang lengkap. Perasaan khawatir terhadap ayah saya yang tidak terbiasa menceritakan perasaan-perasaan maupun kesulitannya kecuali kepada ibu saya. Rasa khawatir yang seringkali berlebihan terhadap rencana pensiun ayah yang tidak kunjung jelas (yah mungkin karena beliau memang tidak terbiasa membicarakannya dengan anaknya). Rasa khawatir yang berlebihan terhadap kesehatan ayah yang tidak kunjung berhenti merokok dan malas berolahraga, sehingga untuk jogging saja harus setengah dipaksa (itu pun belum tentu berhasil). Perasaan tidak cukup berhasil menjadi contoh yang baik ataupun tempat bercerita bagi adik-adik. Dan kekhawatiran lain yang saya sebetulnya juga tahu bahwa seringkali munculnya secara berlebihan.

Apakah kondisi itu membuat kondisi saya lebih buruk dari teman-teman sebaya saya?

Saya kurang setuju. Walaupun kadang keadaan bisa berbeda dengan yang dialami oleh teman-teman saya, saya tahu saya tidak boleh mengeluh, dan memang saya juga tidak ingin mengeluh. Karena mengeluh justru menjustifikasi bahwa keadaannya memang buruk, padahal toh tidak buruk.

Saya selalu berusaha memandang posisinya seperti ini, anggap saja saya ini sedang latihan dalam menghadapi kehidupan *tsaaah*. Seperti yang teman-teman tahu, yang namanya kehidupan itu kan semakin lama akan menemui halangan yang semakin riweuh. Dulu, waktu SMP yang dipikir hanya gimana teman-teman bisa dapat nilai ulangan yang bagus atau bisa menang main CS waktu deadmatch lawan teman yang jago, sekarang harus mulai berpikir jenjang karir yang diminati dan menghidupi diri sendiri, belum lagi masalah cari jodoh. Semua itu adalah proses yang bertahap, dimana setiap tahapan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Namun, di sisi lain, dengan adanya latihan dari pengalaman yang sudah dilewati, disitulah persenjataan dan kemampuan kita juga semakin meningkat. Nah saya ini sedang latihan dengan program latihan yang agak sedikit berbeda dengan teman-teman yang memiliki orangtua yang lengkap. Otomatis, jenis pengalaman dan pelajaran yang didapat mungkin akan berbeda pula.

Kalau teman-teman bisa bertanya semua hal yang tadi saya sebutkan di atas itu kepada satu orang (ibu masing-masing), mungkin saya harus berusaha sedikit lebih keras dan mengumpulkan informasi dari berbagai pihak, misalnya tanya-tanya teman yang lebih berpengalaman, tanya ke orangtuanya teman, tanya ke saudara, tanya ke ayah (dengan cara yang sedemikian rupa), atau ya sok kreatif aja menyelesaikan sendiri. Lagipula, saya merasa banyak hal yang saya dapatkan kok dari pengalaman-pengalaman saya yang seperti ini. Sebelumnya, saya tidak pernah tahu sifat ayah saya itu seperti apa, namun sekarang, kurang lebih saya mulai paham sedikit-demi sedikit. Sebelumnya saya tidak pernah tahu rasanya stres melihat nilai orang lain jelek, sekarang saya bisa tahu rasa cemasnya kalau adik saya dapat nilai jelek. Sebelumnya, saya tidak tahu administrasi rumah tangga, sekarang sedikit-sedikit saya mulai tahu, walaupun belum mampu menerapkan.

Sebelumnya, saya selalu menganggap ayah saya adalah pahlawan yang bisa melakukan semua hal, saya tidak pernah tahu bahwa beliau hanya manusia biasa yang bisa bingung juga seperti saya, seorang laki-laki dewasa yang sudah jadi ayah ternyata bisa minta diurusin juga, dan saya yang harus belajar untuk sabar dan mengalah. Walaupun seringkali saya masih sering mengomel dan mengeluh di belakangnya. Selain itu, saya juga jadi bisa (dan harus) tahu dimana ibu saya menyimpan semua perabot rumah tangga, seperti piring, kristal-kristal, dan sebagainya.

Perlahan, saya mulai belajar untuk lebih menghargai keluarga. Saya yang dulu tidak peduli dengan ritual keluarga dan selalu menganggap itu hanya bagian dari tradisi keluarga yang sebetulnya tidak penting-penting amat kemudian (harus) belajar untuk melihat lebih dalam apa makna dalam setiap tradisi keluarga tersebut. Saya yang sebelumnya jauh lebih egois dalam berkeinginan, belajar untuk lebih empati (terutama terhadap adik2) dan bersabar dalam pemenuhan kebutuhan pribadi saya dan dunia tidak berputar di sekeliling saya saja. Selalu ada orang lain, dengan kebutuhannya masing-masing.

Intinya, saya merasa saya banyak belajar hal-hal yang tidak akan bisa ditemukan dalam text-book kuliah manapun. Pelajaran yang hanya tumbuh dari pengalaman. Sesuatu yang mengajarkan saya untuk selalu berusaha bersyukur seperti apapun keadaannya. Dengan begitu saya percaya bahwa semakin banyak kita bersyukur, entah kenapa sebetulnya semakin banyak yang datang ke kita. Terdengar klise mungkin, tapi yang saya rasakan sih seperti itu. Mungkin semacam self fulfilling prophecy?

Selain itu, saya merasa orang-orang di sekitar saya selalu baik sekali sama saya. Saya dikelilingi orang-orang yang mengerti saya, dan sabar menghadapi saya. Keluarga inti saya contohnya, saya tahu, bahwa walaupun kami semua terkesan cuek satu sama lain dan becandaan orang rumah selalu absurd dan aneh, namun masing-masing dari kami memiliki misi untuk berusaha melakukan yang terbaik, dan mengeluarkan yang terbaik dari kami. Entah untuk siapa, mungkin bagi ayah saya, mungkin bagi adik-adik saya, mungkin bagi kita semua, mungkin bagi diri sendiri juga. Saya sendiri merasakan ikatannya semakin kuat antara satu sama lain, saya tidak tahu deh apakah adik-adik saya merasakan hal yang sama atau tidak.

Orang-orang yang baik ada di sekitar saya, saya ada di tengah-tengah teman-teman yang sangat menyenangkan, baik di saat susah maupun senang. Saya tergabung dalam PoPS dan SUMA, yang walaupun iklimnya berbeda, namun orang- orang di dalamnya  memberi saya pelajaran-pelajaran yang berharga. Bukan hanya soal teknis, namun juga konsep, dan juga soal hidup. Belum lagi keluarga besar saya, dan orang-orang lain yang nggak bisa saya sebut satu-satu.

Setiap keadaan hanyalah variasi bentuk yang ada di dunia. Di luar sana, masih ada teman-teman yang memiliki keadaan yang berbeda-beda dengan saya, dengan usaha yang berbeda-beda pula, lebih sedikit, maupun lebih banyak usaha yang dikeluarkan oleh mereka. Lagi pula sedikit atau banyak itu ukurannya siapa?

Pada akhirnya, saya bertanya pada diri sendiri, kenapa saya harus merasa tidak utuh?

Ketika saya ditanya bagaimana rasanya memiliki keluarga? Menurut saya, rasanya ya utuh saja, seperti apapun bentuk keluarga kita. Optimalkan saja apa yang sudah ada, raih kesempatan yang ada, buat kesempatan itu datang, kalau perlu (sebuah kalimat yang sampai saat ini masih saya coba pelajari dan terapkan dalam kehidupan nyata).

Mengingat usia saya dan teman-teman saya yang menginjak 20 tahun-an ini, saya hanya ingin bilang, jika kalian punya sebuah keluarga yang lengkap, utuh, dengan kedua orangtua dan adem ayem saja, just please, be grateful for that. For not every one of us gets the opportunity to do so.

with love,

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s