Ilmu Padi

saya tahu seharusnya saya sudah mengepos-kan tulisan tentang cerita perjalanan saya ke Malang, tapi apa daya, foto-foto untuk ilustrasi belum semuanya terkumpul, ditambah lagi Adobe Photoshop saya sudah lewat masa trial dan saya belum dapat installer untuk terbarunya (curhat dulu lah sedikit). Akhirnya, beginilah,  saya memutuskan untuk menuliskan tulisan ini terlebih dahulu, semoga layak baca :)

Ilmu padi,

Teman-teman mungkin sudah semuanya tahu mengenai istilah ilmu padi ini. Suatu istilah yang sudah ada dari dulu, dan kita kenal melalu buku-buku pelajaran bahasa indonesia sewaktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar. Istilah yang mengajarkan filosofi padi, dimana tanaman padi biasanya semakin berisi akan semakin merunduk.
Saya rasa ini bukan hal yang baru bagi kita semua, karena toh dari dulu kita selalu diajarkan untuk selalu bersikap sederhana dan tidak sombong. Saya pun diajarkan demikian. Namun, harus saya akui implementasi dari filosofi padi ini baru benar-benar saya rasakan beberapa tahun belakangan ini, tepatnya ketika saya sudah duduk di bangku perkuliahan. Di bangku perkuliahan ini saya bertemu dengan banyak orang dari bermacam-macam daerah, dengan berbagai macam latar belakang, membawa kebiasaan, pengetahuan, serta prestasi mereka masing-masing.

“Semakin banyak kita tahu semakin merasa kecil kita” (diucapkan oleh adik saya,  Tya Kusumaratri)

Adik saya benar (bisa pinter juga kadang-kadang anak itu)

Kalimat tersebutlah yang paling tepat menggambarkan perasaan saya akhir-akhir ini. Mengetahui terdapat begitu banyak orang-orang yang hebat yang ada di sekitar saya, dan merasa saya sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka. Bukannya dari dulu saya merasa bahwa diri saya hebat juga sih, hanya saja sebelumnya saya sudah merasa cukup dengan apa yang saya ketahui dan saya miliki selama ini. Namun semakin ke sini saya semakin disadarkan bahwa saya samasekali tidak pintar, apalagi bijak.

Mungkin teman-teman juga pernah mengalami perasaan serupa. Tidak perlu menyangkut pengetahuan ataupun prestasi yang besar, katakanlah saja pengalaman teman-teman ketika duduk di bangku SMP atau SMA menjadi siswa unggulan dan berprestasi, atau siswa yang mendapatkan peringkat tinggi di sekolah, kemudian ketika memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi kemudian harus dihadapkan dengan banyak orang yang memiliki kemampuan setara, bahkan melebihi diri kalian. Sama saja ketika kita mengikuti suatu lomba nyanyi misalnya, kita boleh saja menjadi juara satu di tingkat RW kita, namun ketika kita dipertemukan dengan lawan yang lebih banyak di tingkat Kelurahan, atau Kecamatan, bisa saja menjadi finalis pun tidak. Atau pengalaman seorang mahasiswa baru yang tadinya di SMA-nya menjadi senior yang berkuasa dan sering ‘menindas’ juniornya, ternyata harus menjadi pihak yang ditindas ketika ia masuk ke dalam dunia perkuliahan. Mulai lagi dari tangga yang paling bawah.

Hal-hal seperti itu lah yang selalu mengingatkan saya bahwa tidak ada alasan untuk bersikap sombong terhadap siapapun, menyangkut hal apapun. Karena semakin banyak hal yang kita pelajari, prestasi apapun yang kita dapat, sebanyak dan seberagam apapun orang yang kita temui, seluas apapun pengetahuan yang kita dapat, sepenting apapun posisi kita, semua itu hanya akan mengantarkan kita kepada dunia yang lebih luas lagi, dimana dunia tersebut akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang lebih hebat lagi, ilmu dan pengetahuan baru yang lebih banyak lagi untuk dipelajari, kemampuan-kemampuan yang lebih banyak lagi untuk dikuasai, dan semakin banyak pula pelajaran hidup yang harus dihayati.

Dengan begitu saya rasa  filosofi padi jadi ada benarnya. Ketika dunia kita semakin luas, secara tidak langsung kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang belum kita capai, kita akan tahu posisi kita, dengan demikian tidak ada alasan untuk bersikap sombong. Setidak-tidaknya, itu lah yang saya rasakan. Semakin banyak orang yang saya temui, maka saya semakin menyadari bahwa saya hanya bagian kecil dari dunia yang sedemikian besarnya ini.

Well, I’m not trying to preach anyone here but myself.

Saya sendiri juga masih belajar untuk semakin merunduk sambil terus memperkaya diri.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s