Langka.

Kapan terakhir kali saya betul-betul berkomunikasi dengan orang lain?

Saya kemarin sempat kepikiran pertanyaan ini sekilas. Mungkin pemikiran seperti ini muncul karena saya terlalu sering bengong di tempat umum (faktanya, saya terlalu sering bengong di mana saja). Kalau sedang menunggu bus, sedang menunggu giliran periksa di dokter, menunggu datangnya teman di foodcourt, bengong nunggu pembimbing skripsi di depan ruangannya, bengong sore-sore di kanlam, bengong di sepanjang perjalanan ke mana saja (terbukti aktivitas bengong ini membuat saya berhasil nyasar dari Harmoni sampai ke Kedoya, padahal tujuan awal adalah Pasar Baru), dan bengong-bengong lain yang dapat dilakukan di mana saja.

Nah, omong-omong soal bengong, kemarin itu baru terasa oleh saya, bahwa selama ini, kalau saya sedang tidak menghabiskan sebagian besar waktu menunggu saya untuk bengong, maka biasanya saya memilih untuk mainan handphone, entah itu untuk membuka-buka situs microblogging, seperti Plurk dan Twitter jika saya sedang tidak membawa bahan bacaan apapun. Kalau tidak yah sekedar berbincang di dunia maya dengan teman-teman melalui Yahoo Messenger atau yang lain. Padahal di sekitar saya banyak sekali hal lain yang bisa saya amati, atau saya kerjakan. Dimana kegiatan tersebut umumnya melibatkan orang lain dalam bentuk interaksi nyata, bukan melalui suatu media apapun. Saya kemudian membayangkan masa di mana semua alat dan teknologi ini belum terciptakan dan manusia ‘terpaksa’ harus mau untuk saling bertegur sapa satu dengan lainnya untuk sekedar saling mengetahui cerita dan sedikit latar belakang masing-masing orang-orang yang mungkin sering kita temui ketika kita berangkat bekerja dan sekolah. Masa dimana kita bisa saling peduli dan peka terhadap kejadian yang sebetulnya kita temui setiap harinya, jika saja kita tidak terlalu sibuk dengan urusan dan tuntutan hidup masing-masing. Masa sebelum teknologi memberikan jasanya untuk menghilangkan jarak dan memudahkan komunikasi, mempercepat semua proses dengan mengatasnamakan tuntutan globalisasi. Semoga saja tanpa mengurangi esensi dari bentuk komunikasi itu sendiri.

Sekarang ini yang banyak saya lihat di tempat-tempat umum, orang-orang (termasuk saya) cenderung tampak sibuk menunduk atau justru menengadah memegangi handphone-nya masing-masing, atau mendengarkan musik dengan earphone di telinga, tanpa menghiraukan apa yang lewat di depan kita. Tidak ada bentuk komunikasi antara satu orang dengan orang lainnya dalam satu tempat yang sama. Tidak ada ekspresi dalam wajah antara satu orang dengan lainnya. Semuanya terlalu sibuk berlalu lalang dalam pikiran masing-masing, atau minimal terlalu sibuk dengan gadget masing-masing (jika pikirannya sedang tidak memikirkan apapun, walaupun secara teknis tidak mungkin pikiran kita tidak memikirkan apapun).

Memang, banyak orang bilang sekarang jamannya globalisasi, semua dituntut untuk berlangsung serba cepat. Informasi berlalu lalang dengan mudah melalui bantuan semua media online. Semua proses terjadi begitu cepat dalam suatu gerakan yang sistematis dan terprogram. Pergi ke loket-membeli tiket-menunggu di halte-naik bus-turun dari bus, semua terjadi seolah seperti otomatis, tanpa adanya selingan interaksi di dalamnya. Semua demi efektivitas dan efisiensi, katanya.

Sekarang ini dengan mudahnya informasi dapat kita dapatkan dari mana saja. Sebut saja berita tentang SMI menjadi Managing Director untuk Worldbank maupun berita gempa di Aceh menyebar hanya dalam hitungan beberapa menit saja di antara kita, melalui media microblogging maupun situs networking sosial yang ada. Demikian pula kabar tentang teman-teman kita yang terpampang dengan gamblang melalui status Facebook, YM, BBM ,atau Twitternya. Masing-masing orang sibuk mem-follow dan di-follow oleh banyak orang, dalam 2 menit saja ada sekitar hampir 30-an update status kegiatan teman-teman kita yang masuk dalam timeline. Ditambah lagi kita juga mencantumkan update status terbaru dari kita baik untuk sekedar memberikan komentar pada teman lainnya, atau justru ‘bercerita’ tentang kegiatan kita. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar membaca dan peduli pada itu semua? Ataukah semua yang masuk ke dalam otak kita maupun semua komentar kita hanya sebatas sampai ketikan jari semata tanpa kita pahami betul-betul maknanya?

Kapan terakhir kali kita betul-betul saling mendengarkan dan saling berbicara?

Kapan terakhir kali kita saling bertegur sapa dan mengobrol sedikit (walaupun dibaluti dengan embel-embel basa basi pada awalnya) dengan teman yang kita temui di jalan. Kapan terakhir kali kita berusaha berbincang dengan supir taksi yang mengantarkan kita ke tempat tujuan masing-masing, mendengarkan pengalamannya saat bekerja dengan taksinya. Kapan terakhir kali kita berbincang dengan bapak satpam yang ada di kampus sewaktu kita harus menunggu datangnya jemputan, atau ketika hujan turun dan kita tidak bisa langsung pulang. Kapan terakhir kali kita berbincang dengan sesama orang yang menunggu giliran untuk periksa ke dokter. Kapan terakhir kali kita menghampiri seorang teman yang duduk dan menanyakan kabar terbarunya, dan kemudian menghabiskan waktu bersama. Kapan terakhir kali kita mau meluangkan waktu dan rasa ingin tahu pada hal-hal kecil di sekeliling kita?

Saya ingat,

Ada waktu-waktu dimana saya ikut PsyCamp (suatu kegiatan berkemah yang diadakan oleh Badan Ekstekutif Mahasiswa di kampus saya). Di camp site memang tidak disediakan listrik, kecuali untuk penerangan secukupnya, sehingga kami ‘terpaksa’ tidak dapat menggunakan telepon seluler kami masing-masing karena selain batere kami tidak dapat diisi ulang, sinyal juga sangat lemah di sana. Kami bisa saja menuju ke rumah penduduk di sekitar camp site untuk sekedar menumpang mengisi ulang batere telepon seluler kami, namun kami memilih untuk duduk berdekatan di depan tenda dan menyaksikan langit Sagalaherang yang penuh dengan bintang. Baru kemudian kami dapat saling terbuka dan bercengkrama, baru kemudian kami dapat benar-benar saling berbagi, berbicara, dan mendengarkan cerita.

Atau waktu dimana saya dan teman-teman yang tegabung dalam SUMA (Suara Mahasiswa, suatu badan otonom pers mahasiswa Universitas Indonesia) ‘terdampar’ malam-malam di Pulau Sempu, tanpa tenda, tanpa penerangan, tanpa baju hangat. Di sana kami duduk saling berjejer, bergerombol dan berdekat-dekatan. Sambil menikmati nasi bungkus kami bercengkrama di tengah gelapnya suasana, mencoba menghangatkan diri dengan apa yang ada. Di situ saya baru tahu mengenai perjalanan teman-teman saya bisa sampai menjadi dirinya yang sekarang ini, berbagi cerita mengenai keluarganya, berbagi kesulitan dalam masalah cinta, atau sekedar bercanda sambil berharap hujan tidak turun terlalu deras dan mengguyur kami semua. Hampir semua telepon selular kami kehabisan batere atau kehilangan sinyal. Satu-satunya hal yang bisa kami lakukan hanyalah saling berbicara, sambil diam-diam merasa ketakutan kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk mengingat kami terdampar di tengah laguna yang dikelilingi tebing dimana di baliknya adalah Samudra Hindia. Saat itu saya merasa sangat dekat dengan teman-teman saya, padahal sebelumnya kami sudah sering menghabiskan waktu bersama, walau hanya untuk bekerja setiap bulannya untuk menerbitkan buletin Gerbatama.

Saya ingat pula, masa-masa dimana saya tidak punya pulsa dalam suatu perjalanan pulang dari kampus, batere juga mau habis, lalu saya mendengarkan cerita seorang ibu-ibu mengenai anaknya yang hendak masuk SMA. Dimana sang ibu merasa takut untuk membiarkan anaknya memasuki kehidupan SMA yang konon ia dengar lebih hingar bingar dari kehidupan anaknya sebelumnya sewaktu di SMP. Saya mendengarkan ketakutan dan kekhawatirannya, tentang takutnya ia bahwa anaknya nanti akan terlibat tawuran dan akan berakhir bodoh, tanpa berhasil membawakan apa-apa untuk orangtua. Saya dengarkan pula rasa senangnya bahwa anaknya berhasil meraih nilai yang tinggi ketika lulus SMP. Saya berusaha mendengarkan itu semua,  berusaha menyerap itu semua, sambil sesekali bertanya. Saya merasa seolah-olah paham bagaimana perasaan ibu ini, seolah-olah saya turut beratnggung jawab terhadap keadaan anaknya nanti di bangku SMA ketika saya diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaannya, untuk berbicara, menyampaikan perasaan dan pendapat saya.

Serta waktu-waktu sempit dimana saya berkesempatan menghabiskan waktu dengan keluarga, atau teman-teman terdekat saya, tanpa diselingi interupsi dari bunyi notification atau sms dari gadget kami masing-masing. Tanpa dikejar-kejar batas waktu pengumpulan tugas maupun pekerjaan. Waktu dimana kami betul-betul berbicara, dan saling bercanda. Waktu dimana kami saling mengerti dan peduli.

Saat-saat itu terasa sangat berbeda. Setidak-tidaknya, bagi saya, ada sesuatu yang lebih tulus terjalin di dalam situasi yang melibatkan bentuk komunikasi nyata. Sesuatu yang masuk jauh ke dalam, lebih dari sekedar permukaan dari setiap apa yang disampaikan oleh pribadi pelakunya. Sesuatu yang terasa lebih jujur dan tidak mudah untuk dibohongi atau dicurangi. Sesuatu yang datang lebih dari hati. Saat-saat seperti itu adalah saat-saat yang seringkali saya lupakan. Seringkali saya tinggalkan, ketika saya lebih memilih untuk menghabiskan waktu saya untuk menatap layar komputer atau handphone saya.

Saat-saat yang sepertinya sangat langka dan mahal untuk dapat kita nikmati sekarang-sekarang ini.

“Ah teknologi, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”

(pepatah yang sedang populer di sekitar kita sekarang)

– D! –

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s