On Failures, Goodbyes, and Pain, in Love

Kira-kira beberapa hari yang lalu saya baru baca notes Facebook teman saya, Cantika Marlangen yang berjudul Refleksi (Karena Cinta Tidak Sempurna). Di dalamnya ia mengemukakan alasan mengapa ia belum mau berpacaran lagi sampai sekarang, yaitu karena ‘tidak mau merasa disakiti lagi’ atau setidak-tidaknya mungkin belum mau untuk disakiti lagi. Kemudian juga ia berkata bahwa ia juga ‘tidak mau menyakiti orang lain lagi’. Dan ia juga bercerita mengenai betapa disakiti oleh orang lain rasanya sudah sangat tidak enak, namun kemudian menyadari bahwa kita telah menyakiti orang lain yang kita sayangi (setidaknya pada saat itu) rasanya jadi dobel tidak enak.

Saya kemudian ingat masa-masa dimana saya beberapa kali mengalami patah hati atas segala jenis hubungan romantis yang pernah terjadi, tentu saja sebetulnya saya tidak punya banyak referensi. Bahkan sebetulnya hubungan romantis dalam arti berpacaran yang pernah saya miliki hanyalah satu kali saja. Satu kali. Hanya satu kali, namun kalau mau bicara sejujur-jujurnya, saat itu lumayan membuat saya kehilangan sepersekian persen dari harga diri saya ketika hubungan itu gagal. Saat itu, perasaan disakiti yang saya rasakan justru terasa karena saya sadar bahwa saya telah menyakiti orang yang saya sayangi (waktu itu). Saya rasa yang paling buruk dari sebuah perasaan patah hati adalah rasa kegagalan yang kemudian menyebabkan kita menyalahkan diri sendiri. Perasaan dimana kita sadar bahwa kita telah menyakiti orang lain, sehingga orang tersebut memutuskan untuk keluar dari lingkaran terdekat kita.

Saya sempat berpikir bahwa ketika seseorang memutuskan untuk keluar dari lingkaran terdekat kita, itulah saat kita menjadi tidak berharga. Bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan yang tidak termaafkan, bahwa kita sudah gagal. Bahwa orang tersebut membenci kita, dan bahwa kita tidak berharga. Semuanya yang ada pada kita begitu buruk sehingga orang tersebut untuk menjauhkan diri dari kita.

Sempat ada masa-masanya saya berpikiran seperti itu setiap saya gagal dalam menjalani segala bentuk hubungan romantis, entah itu berpacaran, entah hanya sebatas gebetan, entah itu tanpa status, entah itu hanya flings sekilas. Karena setiap kali mengalami kegagalan, pasti terselip rasa ‘tidak diinginkan lagi’ yang muncul dalam hati kecil saya. Setidak-tidaknya itu yang saya rasakan. 

Namun akhir-akhir ini saya berpikir, bahwa dalam setiap hubungan yang diawali dengan niat yang baik, pasti tidak ada salah satu dari pihak pasangan tersebut yang dengan sengaja ingin menyakiti pihak yang lain. Atau, mungkin, seperti yang dituliskan oleh Cantika dengan kata-kata yang lebih bagus :

“…saya teringat akan satu hal yang sering dilupakan oleh banyak pasangan: bahwa kami pernah saling mencintai, dan kami pernah saling berjanji untuk tidak saling menyakiti, dan kami tidak pernah membayangkan akan berpisah. Kami pernah saling peduli dan saling mempermasalahkan tindakan masing-masing. Dan jika sekarang hal-hal itu tidak berlaku lagi, bukan berarti itu tidak mungkin terjadi…”

There were good times in every kind of  failed-relationships I’ve had.

Saya juga mulai berpikir bahwa bahkan sebuah perpisahan yang di-inisiasi oleh salah satu pihak pun belum tentu merupakan suatu bentuk ‘penyingkiran’ terhadap pihak yang lain. Seorang teman pernah mengatakan pada saya bahwa perpisahan dengan orang lain (dalam bentuk apapun), bukan berarti kita membenci atau menjauhkan orang tersebut. Perpisahan merupakan salah satu bentuk penyelesaian konflik yang dipilih oleh manusia. Perpisahan itu sendiri dapat dipandang sebagai suatu bentuk pembaruan dari suatu hubungan yang sebelumnya sudah terlalu banyak mudharat-nya dibandingkan dengan manfaat-nya. Dan saya berpikir, mungkin ada benarnya. Bahwa jika hubungan romantis dengan orang tersebut tidak berhasil, mungkin saja hubungan dalam bentuk lain dengan orang tersebut dapat berhasil. Walau rasanya sulit sekali mengingkari perasaan-perasaan yang dulu pernah bercokol walaupun hanya sejenak. Sebuah perspektif baru yang ditawarkan bagi saya yang sulit memaafkan, terutama memaafkan kegagalan diri sendiri. Resiliensi saya harus dilatih lagi.

Saya harus belajar bahwa seiring perjalanannya, dalam sebuah hubungan akan ada masa-masanya dimana menyakiti dan disakiti adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Konflik adalah sesuatu yang tidak terhindarkan jika kita terlibat dalam hubungan dengan orang-orang yang kita pedulikan. Bagaimana kita memandang konflik, perpisahan, dan rasa sakit yang ditimbulkannya merupakan suatu tantangan bagi kita yang terlibat di dalamnya. Kembali mengutip notes dari Cantika,

“..mungkin ketika kita memang memutuskan untuk mencintai seseorang, maka kita harus menerima bahwa akan ada saatnya kita tersakiti. Kita harus bisa mengakui bahwa orang yang kita cintai tidaklah sempurna. Cinta itu sendiri tidak sempurna. Bisa hilang, lenyap, muncul lagi, berkelip, meledak, berwarna, terbang dan melesat, lalu padam dan menjadi sekam. Kita harus menyadari bahwa kita juga bisa menyakiti orang yang kita cintai. Sakit sedikit atau terlalu banyak merasa sakit tidak lagi relevan, karena kita memang tidak bisa menghindarkan diri dari rasa sakit ketika berani jatuh cinta. Dan jika kita memang tidak bisa menghindar dari rasa sakit itu, paling tidak ada satu hal yang bisa kita lakukan: tidak menyakiti pasangan kita dengan sengaja..

Sakit sedikit atau terlalu banyak merasa sakit tidak lagi relevan, karena kita memang tidak bisa menghindarkan diri dari rasa sakit ketika berani jatuh cinta.

Kata-kata yang bicara dengan sangat lantang.

Bagi saya, menempatkan diri dalam sepatu orang lain, memandang setiap rasa sakit dari sepotong (apa yang orang-orang sebut sebagai) cinta melalui sudut pandang yang berbeda merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi ketika kecemasan dan ketakutan ikut-ikutan meramaikan segala sesuatu dan semakin mempersulit segalanya. Saya sendiri tidak tahu sejauh mana saya bisa merealisaskikannya. Karena, yah mungkin benar, cinta tidak sempurna, cinta sulit menjadi sederhana, atau mungkin itu semua karena kita manusia, yang terbatas daya akalnya. Yang jelas, dari semua rasa sakit yang (pernah) ada, saya ingin belajar bagaimana menjadi perempuan tangguh yang hatinya membentang seluas samudra (frase “hati membentang seluas samudra” ini dipinjam dari tulisan Tasaro GK, yang berjudul “Perempuan” ).

Karena,

“Pain is inevitable, suffering is optional”

(Haruki Murakami)


– D! –

*penulis sedang PMS waktu sedang menulis post ini. Catat, PMS lebih parah daripada mabuk. Jadi jangan terlalu diambil hati :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s