Reason(s).

Kadang saya memikirkan seberapa berartinya kehidupan dan keberadaan saya di antara seluruh umat manusia yang ada di dunia ini, yah mungkin tidak perlu di seluruh dunia, minimal di antara lingkungan sekitar saya. Hal apa yang dapat saya berikan bagi dunia, apa yang saya miliki dan dapat saya sampaikan sehingga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitar saya, dan pada akhirnya bertanya-tanya seberapa cepatnya saya dilupakan oleh orang-orang ketika nanti saya sudah tidak ada.

Ketika saya berpikir demikian, maka saya merasa sangat kecil dan sangat biasa-biasa saja. Saya merasa tidak memiliki maksud keberadaan di dunia ini selain karena orangtua saya ingin memiliki anak pertama yang kebetulan lahirnya perempuan. Kalau tidak salah, saya juga pernah menuliskan mengenai betapa saya merasa bahwa saya adalah pribadi yang biasa-biasa saja, tidak pintar, tidak memiliki kemampuan khusus, sama sekali tidak kaya, tidak cantik, ataupun terkenal. Saya bosan menjadi biasa-biasa saja. Saya minder karena apa yang saya anggap sebagai kelebihan saya pun toh dimiliki oleh banyak orang lain. Intinya, saya tidak spesial. Insignificant.

Biasanya apa yang teman-teman pikirkan atau lakukan untuk merasa lebih baik kalau sedang seperti ini?

Kalau saya,  ketika saya berpikiran demikian, saya menjadi lelah membandingkan diri saya dengan orang-orang lain di sekitar saya. Lalu saya berpikir bahwa setiap orang (semestinya) setiap orang sama, dalam arti sama-sama berbeda bagi satu sama lain.  Setiap orang memiliki komposisi yang unik dan tersusun sedemikian rupa rumitnya antara satu dengan lainnya hingga tidak ada dua orang di dunia yang betul-betul sama persis. Tidak ada orang yang dilahirkan untuk menjadi sama dengan orang lain.

Saya mencoba percaya bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyentuh hidup orang lain yang ada di sekitarnya. Setiap orang punya peran yang signifikan bagi kelangsungan kehidupan orang lain, bahkan tanpa mereka sadari sekalipun. Misalnya, seorang supir metromini umumnya  tidak peduli dengan kehidupan dan tujuan hidup masing-masing penumpangnya yang bergantian menaiki mobil metromini dengan rute yang itu-itu saja setiap harinya. Tanpa sang supir sadari, di dalam metromini tersebut terdapat orang-orang yang menggantungkan nasib dan masa depan mereka pada kelihaian dan ketepatan cara sang supir metromini tersebut mengendarai mobilnya. Di dalamnya, terdapat para sarjana baru yang terburu-buru hendak menghadiri wawancara kerja yang mereka harapkan akan menjadi sumber penghidupan mereka nantinya, ada para siswa sekolah yang belum sempat mengerjakan PR-nya semalam sehingga berniat untuk menyontek milik temannya di sekolah nanti, ada mahasiswa baru yang akan ikut ospek kampus, ada seorang pemuda yang setiap pagi berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyatakan cinta pada wanita yang selalu memilih posisi duduk dekat pintu keluar metromini, ada pengamen-pengamen kecil yang mencoba mencari uang untuk sarapan, dan banyak kehidupan lain yang ada di dalamnya beserta bermacam harapan-harapan milik pemiliknya masing-masing yang terbalut di dalamnya.

Katakan saja suatu hari si supir lengah dalam mengendarai mobil, lalu terjadi kecelakaaan. Kalau kecelakaan yang terjadi kecil, hal paling buruk yang mungkin terjadi adalah mesin rusak, semua orang marah-marah, jadwal terlambat dan segalanya jadi berantakan. Mimpi-mimpi bisa hilang berterbangan begitu saja. Jika kecelakaan yang terjadi adalah kecelakaan besar, konsekuensinya adalah penumpang terluka, paling buruk, meninggal dunia. Sekali lagi, mimpi-mimpi bisa hilang berterbangan. Keluarga-keluarga akan kehilangan satu orang anggota keluarga masing-masing, bisa saja ayah sebagai tulang punggung, ibu sebagai cahaya dalam rumah, seorang anak tumpuan dan harapan keluarga, seorang guru yang ditunggu oleh murid-muridnya, dan masih banyak lagi jiwa yang harus merubah keseluruhan hidupnya.

Semua terjadi ‘hanya’ karena kelalaian seorang supir metromini dalam mengendarai mobilnya yang sebelumnya mungkin tidak pernah berpikir bahwa di pundaknya ia memikul begitu banyak beban harapan dari orang lain.

Itu hanya salah satu contoh dimana suatu hal kecil yang tidak disadari oleh masing-masing pihak ternyata  saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. Setelah berpikiran demikian, biasanya saya kembali tersadar, di dunia ini tidak ada hal yang tidak berarti keberadaannya bagi orang lain. Setiap orang punya alasan dan tujuan masing-masing kenapa mereka berada di tempat mereka berada sekarang ini. Oleh karena itu yang dapat saya lakukan adalah berusaha untuk mengingatkan diri sendiri bahwa yang terpenting adalah memberikan apa yang terbaik dari kita, lalu biarkan orang menilai dengan cara mereka sendiri-sendiri, dan mekanisme dunia yang akan mengatur sisanya.

Seperti apa yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang percaya Tuhan, do your best, let God do the rest.

(FYI, saya percaya Tuhan lho. Saya memang tidak bisa menerima konsep bahwa agama saya lebih baik dari agama lain, atau bahwa ada suatu agama yang lebih baik dari agama lain, tapi, saya percaya Tuhan itu ada)

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s