Who Am I to Judge?

Beberapa orang mungkin berpikir bahwa mengetahui lebih banyak hal dibandingkan orang lain merupakan hal yang penting, sejujurnya sebelumnya saya juga berpikir demikian. Entah karena dibesarkan dalam keluarga yang mendidik saya untuk memiliki sifat kompetitif atau memang saya sendiri sejak awal cenderung memiliki sifat tersebut. Untuk waktu yang sangat lama saya merasa bahwa memiliki pengetahuan lebih dari orang lain dan menjadi pintar adalah suatu hal yang penting.

Oleh karena itu, berhasil diterima sebagai mahasiswa di salah satu universitas negeri yang cukup terpandang di Indonesia, dulu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi saya, berhubung seleksi penerimaannya dinilai oleh sebagian besar orang di sekitar saya saat itu cukup ketat dan jika berhasil lolos kita bisa diakui sebagai orang yang pandai. Demikian hari-hari saya selama 4 tahun belakangan diisi dengan beragam aktivitas yang saya hayati sebagai sesuatu yang menakjubkan, juga bertemu sekian banyak orang pandai dan berprestasi di bidangnya masing-masing. Hal ini tentu membuat saya sangat bersemangat, menyadari kemampuan saya juga dapat terlatih dan pengetahuan saya terus meningkat.

Saya sendiri sejujurnya menyadari bahwa, jika dibandingkan dengan saat saya masih duduk di bangku SMA, pengetahuan saya sudah bertambah entah berapa puluh kali lipat, dan saya tanpa sadar telah sempat menjadi besar kepala akan hal tersebut. Saya ingat, ada masa-masa dimana saya mengalami rasa bosan atau ‘gemes’ kalau menyimak suatu materi atau obrolan dengan orang lain yang saya anggap sudah pernah saya dapatkan sebelumnya. Sejujurnya, ada masa-masanya saya bersikap sombong (walau di dalam hati) dan merasa lebih tahu dari orang lain mengenai suatu isu sehingga rasanya tidak tahan jika mengobrol dengan teman-teman dengan ritme santai (baca : sedikit lebih lamban). Seringkali saya mengomentari dengan pedas semua acara di stasiun televisi nasional kita, atau mencibir tajam soal semua hal yang menurut ‘standard saya’ ‘salah’, baik itu saya temukan di media massa, di saluran televisi nasional, dan terutama di situs microblogging. Satu hal yang membuat saya frustrasi, ada masa-masanya saya ingin mengoreksi semua omongan orang atau menambahkan informasi jika saya mengetahu informasi yang lebih tepat, lengkap dengan sumbernya. Saya sering bersikap menjadi smart-ass, padahal saya paling sebel sama orang-orang seperti itu.

Percaya deh, orang-orang terdekat saya tahu pasti bahwa saya sebetulnya orang yang sangat menyebalkan dan nyinyir, karena seolah-olah ‘bitching around’ telah menjadi hobi saya. Untuk saya sendiri, hal tersebut sangat melelahkan rasanya. Bagaimana tidak melelahkan, ketika segala sesuatu yang ada di sekitar saya tidak sesuai dengan ukuran saya, dan bagaimana tidak frustrasi ketika orang-orang di sekitar kita bicara mengenai suatu hal namun informasi yang mereka bagi tidak tepat, rasanya ingin membenarkan semuanya. Lalu saya berubah menjadi orang yang takabur, cenderung menyepelekan orang lain dan sombong. Walau mungkin tidak banyak orang yang mengetahui soal ini.

Hal ini terus berlangsung hingga akhir-akhir ini. Sekarang-sekarang ini semua tindakan saya tersebut  terasa sangat lucu, nyaris menggelikan, lebih tepatnya memalukan. Ada satu titik yang membuat saya kembali memikirkan untuk apa itu semua, memangnya saya ini siapa? Apa yang sudah saya berikan pada orang banyak sampai saya merasa punya hak untuk menghakimi itu semua? Ketika saya melihat kepada orang-orang yang sudah ‘besar namanya’, terutama yang paling dekat dengan lingkungan saya, misalnya ayah saya dan dosen-dosen saya, saya merasa malu, malu sekali. Mereka tidak perlu mengomentari dan mengeluarkan pendapat mereka dengan cara menghakimi setiap isu untuk menunjukkan bahwa mereka pintar. Untuk para dosen khususnya, mereka dengan sabar menyesuaikan ‘frekwensi’ untuk membimbing para mahasiswanya, yang tentunya bila dibandingkan dengan mereka masih minim informasi. Itu baru di dalam lingkup kampus. Menilik pada apa yang sudah mereka lakukan untuk lingkungan di luar kampus dan terjun ke masyarakat luas yang belum tentu tingkat pendidikannya sama semua, bayangkan seperti apa regulasi emosi yang mereka terapkan untuk berhadapan dengan berbagai macam kalangan.

Lalu saya pun sadar bahwa saya bukan apa-apa dan tidak berhak menghakimi siapa-siapa. Saya pun seperti diingatkan bahwa hal yang penting bagi setiap orang berbeda, dan tidak semua orang butuh dan mau tahu soal hal-hal yang saya anggap penting. Tidak semua orang senang ‘dikoreksi’, dan belum tentu yang saya koreksi itu merupakan hal yang tepat menurut orang lain. Saya pun paham bahwa sesungguhnya saya tidak tahu apa-apa, sehingga tidak berhak ‘menyerang’ dan ‘menyinggung’ siapa-siapa. Saya juga tahu bahwa saya tidak lebih pintar dari siapapun, karena setiap orang punya bidangnya masing-masing, sehingga saya tidak berhak bersikap sombong terhadap siapapun. Saya seperti ditunjukkan secara tidak langsung bahwa jika belum bisa memberikan apa-apa, sebaiknya tidak terlalu banyak berkomentar tentang apapun kalau ujungnya toh nanti hanya berhenti sampai sekedar berkomentar saja.

Saya pun belajar bahwa, seringkali, menjadi bijak jauh lebih penting daripada menjadi pintar.

For some people say, the difference between a smart person and a wise person is that a smart person knows what to say and a wise person knows whether or not to say it.

– D! –

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s