Belajar Mendengarkan

Mungkin beberapa diantara teman-teman merasa judul di atas lucu, untuk apa kita belajar mendengarkan? Bukankah semua manusia sudah dilengkapi kemampuan penginderaan dasar untuk mendengarkan? Tidakkah lebih penting belajar bagaimana bicara dengan baik dan benar, belajar bagaimana menyampaikan pendapat kita dan bicara di depan umum, belajar untuk berbicara dengan baik terhadap orang-orang di sekitar kita dalam rangka menunjang kesuksesan kita? Hemm, saya rasa memang seringkali mendengarkan menjadi sesuatu yang terjadi begitu saja, sesuatu yang terabaikan, sesuatu yang tidak perlu dipelajari karena kebanyakan orang menganggap mendengarkan merupakan suatu kegiatan yang sifatnya pasif. Sesuatu yang seringkali istilah bahasa asingnya, taken for granted.


Seringkali kita lupa bahwa agar berhasil menciptakan suatu hubungan sosial yang berhasil, langkah awal yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan. Bagi saya, menjadi pendengar yang baik merupakan hal yang tidak mudah. Dalam mendengarkan pun ada beberapa hal kecil yang bagi saya penting untuk kita perhatikan. Salah satu hal penting yang perlu kita pertimbangkan adalah menyangkut apa yang hendak kita dengarkan? Coba kita lihat, dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu sering dihadapkan pada begitu banyak stimulus yang menuntut kita untuk memilih yang mana yang akan kita dengarkan, simak, lalu cerna. Pertanyaan mengenai apa yang hendak kita dengarkan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan kita dalam mendengarkan sesuatu. Apakah kita mendengarkan hanya untuk sekedar ingin tahu, apakah kita mendengarkan untuk kemudian memahami?

Saat kita mendengarkan dengan tujuan untuk memahami apa yang disampaikan orang kepada kita, akan ada begitu banyak variabel yang harus kita pertimbangkan. Di sini, kemampuan mendengar aktif sangat kita perlukan. Mendengar aktif berarti berusaha mendengarkan sambil menempatkan diri di posisi orang yang menyampaikan informasi. Hal ini cukup sulit, berhubung individu-individu terlahir dengan begitu banyak keunikan, latar belakang, dan kemudian nilai-nilai yang berbeda, rasanya sangat sulit untuk betul-betul menempatkan diri di posisi orang lain. Tanpa kita sadari, yang kita lakukan adalah memilah-milah informasi mana yang kita dapatkan dari sumber yang paling sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang, atau yang paling serupa dan dekat dengan latar belakang kita masing-masing. Kita memilih mana yang mau kita dengar, mana yang mau kita buang. Kita tidak betul-betul mendengar dan menyimak apa yang disampaikan oleh orang yang sedang bicara dengan kita. Kita tidak berusaha untuk mengerti lebih jauh apa yang melandasi hal-hal yang disampaikan oleh teman bicara kita, sehingga ia sampai merasa harus menyampaikannya kepada kita. Respon seperti apa yang ia butuhkan, dukungan seperti apa yang ia cari, saran seperti apa yang ia minta.

Hal yang seringkali terjadi, setidak-tidaknya pada saya adalah, saya mendengarkan apa yang disampaikan oleh teman cerita saya sebagai penggalan-penggalan informasi yang sudah saya sesuaikan dengan skema-skema yang sebelumnya sudah terpatri di benak saya. Belum lagi jika saya sudah memiliki stigma dan stereotipe tertentu mengenai hal yang disampaikan, maupun mengenai narasumber itu sendiri. Lalu kemudian saya kemukakan pendapat dan respon saya berdasarkan penggalan-penggalan informasi yang saya (kira) sudah pahami tersebut. Sebetulnya hal ini sangat lumrah, karena manusia memang terlahir dengan mekanisme penyederhanaan ide-ide yang ditangkap lalu mengkategorisasikannya sesuai dengan skema-skema yang sudah dimiliki sebelumnya. Seolah informasi-informasi yang masuk sudah memiliki tempat dalam box-box tertentu yang saling berbatasan di dalam otak kita. Ini memang cara kerja kognisi manusia, karena kalau tidak demikian, dunia akan terlihat semrawut.

Namun, sepertinya kita jadi sangat malas dan menyerahkan semuanya pada mekanisme ini tanpa mau berusaha lebih. Setidaknya yang saya alami, karena saya hanya memasukkan informasi (baca : curhatan) teman saya sepotong-sepotong sesuai dengan mana yang paling sesuai dengan nilai-nilai yang saya yakini, saya jadi tidak tahu sebetulnya apa yang benar-benar ia sampaikan pada saya. Sepertinya lebih sering saya mendengarkan demi kepentingan saya sendiri dibandingkan kepentingan teman bicara saya. Seringkali saya terpancing untuk menanggapi cerita teman saya dengan apa yang menurut saya baik,  bukan apa yang baik untuk dia. Seolah-olah saya yang paling tahu segalanya. Saya tidak tahu bagaimana dengan teman-teman yang lain yang membaca tulisan ini, tapi saya akhir-akhir ini merasa sulit sekali dalam betul-betul mendengarkan apa yang orang coba sampaikan pada saya. Oleh karena itulah saya ingin belajar untuk mendengarkan, jauh lebih ingin daripada saya ingin belajar untuk berbicara, karena saya tahu itu adalah hal yang paling saya butuhkan sebagai seorang calon psikolog, secara khusus, juga sebagai teman yang baik, secara umum.

Dalam psikologi sendiri, ada suatu ungkapan :

seringkali,  mendengar adalah lebih pada soal apa yang tidak terucapkan

Bukan sekedar soal apa yang terucapkan’

– D! –

One comment

  1. vienz

    ada alasannya Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut… :)
    dan aku setuju bgt sama pernyataan terakhir, ‘seringkali, mendengar adalah lebih pada soal apa yang tidak terucapkan, bukan sekedar soal apa yang terucapkan’.

    makasih yaa… hrs lebih banyak belajar mendengar nih! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s