Term 2 : Autis

Beberapa di antara kita mungkin terbiasa untuk mendengar kata-kata ‘autis’ dipergunakan dalam perbincangan sehari-hari, umumnya ketika kita hendak bercanda atau memperolok teman kita yang terlihat terlalu sibuk dengan aktivitasnya sendiri, sehingga tidak memedulikan teman yang lain, atau justru untuk menyebut seorang anak di kelas kita yang selalu terlihat menyendiri dan enggan bergaul dengan teman-teman sekelas yang lain. Kata ini seolah identik dengan makna ‘keterasingan/mengasingkan diri dari lingkungannya’, namun, apakah benar demikian makna sebenarnya?

Sebagian besar dari kita yang menggunakan kata-kata ‘autis’ sebetulnya mungkin sama sekali tidak pernah melihat seperti apa sesungguhnya autisme itu, apalagi berinteraksi langsung dengan orang-orang yang mengalami autisme. Saya sendiri juga belum pernah berinteraksi dengan mereka, walaupun sempat beberapa kali melihat langsung anak-anak dengan gangguan autisme yang ada di klinik kampus. Lalu apa sih sebenarnya autism itu? Autistic disorder pertama kali berhasil diidentifikasi pada tahun 1943 oleh seorang psikiater dari Harvard, Leo Kanner. Kemunculan autistic disorder biasanya dimulai sejak masih kecil, dimana anak-anak dengan autism memiliki karakteristik-karakteristik khusus terutama menyangkut interaksi dengan orang lain.

Ciri yang umumnya paling menonjol terlihat pada anak-anak dengan gangguan autisme adalah kesukaan mereka untuk menyendiri dan tidak terlibat dengan orang lain, termasuk juga kesulitan dalam membuat kontak dan berhubungan dengan orangtua mereka masing-masing. Anak-anak dengan gangguan autisme umumnya jarang sekali menunjukkan perilaku sosial, seperti menyapa orang lain, tersenyum, dan membuat kontak mata; selain itu mereka juga seringkali tidak merespon orang-orang yang mencoba membuat kontak dengan mereka. Bahkan, mereka pun merasa tidak nyaman ketika dipeluk oleh orangtua atau kerabat terdekatnya, mereka bisa berteriak-teriak dan menangis jika disentuh oleh orang lain (Kring, dkk., 2007).

Anak-anak dengan gangguan autisme juga mengalami gangguan dalam kemampuan berbahasa, dan sejak usia yang sangat dini kemampuan bahasanya akan terlihat sangat tertinggal bila dibandingkan dengan teman-teman sesusianya. Ciri unik dari anak-anak ini adalah mereka seringkali melakukan pengulangan dari kata-kata yang diucapkan oleh orang lain terhadap mereka, hal ini biasa disebut juga dengan echolalia, misalnya, ketika ditanya oleh orang “kamu mau kue ini nggak?” maka anak akan menjawab dengan, “kamu mau kue ini nggak?” tanpa mengetahui makna dari kalimat ini. Namun, anak-anak ini tahu bahwa kalimat tersebut berhubungan dengan cara untuk mendapatkan kue. Selain itu, ciri unik lainnya dalam berbahasa pada anak autis adalah, mereka seringkali merujuk diri mereka sendiri sebagai orang ketiga, misalnya,

Orangtua : kamu lagi ngapain Risa?

Anak : dia di sini

Atau

Orangtua : eh, kamu seneng nggak di sini?

Anak : (mengangguk) dia tahu kok

Yang tidak diketahui oleh orang pada umumnya adalah, walaupun ciri perilaku yang tampak pada anak-anak dengan gangguan autisme secara umum mencakup perilaku menyendiri ataupun kesulitan dalam berbahasa, namun sebetulnya, hal yang paling menghambat anak-anak tersebut untuk dapat berinteraksi dan membuat kontak sosial dengan orang lain seperti orang pada umumnya adalah ketidakmampuan mereka untuk memahami bahwa orang lain memiliki keyakinan, intensi, keinginan, hasrat, dan emosi yang berbeda dengan dirinya. Kemampuan yang biasa disebut juga sebagai theory of mind ini (Gopnik, Capps, & Meltzoff, 2000; Sigman, 1994; dalam Kring, dkk., 2007)) merupakan sesuatu yang sangat berguna dalam membentuk interaksi sosial yang berhasil. Singkatnya, anak-anak ini kesulitan untuk menumbuhkan empati mereka terhadap orang lain. Mereka tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain dan tidak memahami mengapa orang bereaksi tertentu untuk suatu kejadian. Pada anak-anak autistik ringan (high-functioning autism), kemampuan mereka hanya sejauh ‘mengenali’ emosi orang lain, namun mereka tidak pernah bisa memahami emosi tersebut (Capps, Yirmiya, & Sigma, dalam Kring, dkk. 2007). Anak-anak ini tidak memilih untuk bersikap cuek terhadap orang lain, namun pada dasarnya mereka memang tidak dapat mengerti mengapa kita peduli terhadap orang lain.

Anak-anak dengan gangguan autisme juga seringkali mencintai rutinitas dan bisa sangat marah jika ada sesuatu yang berubah dalam rutinitas dan lingkungan sehari-hari mereka, misalnya perubahan interior rumah, atau waktu makan yang bergeser. Mereka juga memiliki kecenderungan untuk menujukkan perilaku yang berulang, misalnya mengepakkan tangan saat berjalan, berjalan dengan berjinjit, memutar-mutar jari di depan wajah, dan seringkali sangat terobsesi pada suatu benda mati yang memiliki gerakan berulang, seperti kipas angin, setrika; mereka kemudian sering tanpa sengaja menyakiti diri mereka sendiri karena perilaku ini. Misalnya, salah satu orangtua yang memiliki anak autis menceritakan bahwa karena ketertarikan anaknya terhadap setrika yang sedang ditinggalkan oleh asisten rumah tangganya dalam keadaan panas, anaknya kemudian meletakkan setrika tersebut di atas tangan mereka tanpa mereka tahu itu dapat menyakitinya hingga tangan anaknya melepuh kepanasan.

Seperti gangguan psikologis lainnya, autisme tidak dapat disembuhkan, namun terapi-terapi yang ada selama ini lebih berfokus untuk mengurangi tingkah laku yang tidak biasa pada anak-anak autis, juga berusaha untuk meningkatkan kemampuan sosial dan kemampuan berkomunikasi mereka. Terapi untuk anak-anak dengan gangguan autisme mencakup keseluruhan aspek kehidupan mereka, melibatkan pelatihan intensif pula bagi orangtua, guru, maupun pengasuh mereka, serta diberikan setiap hari sepanjang waktu-waktu mereka tidak tidur. Umumnya, terapi ini juga disertai pemberian obat-obatan yang dapat membantu mereka melakukan interaksi sosial. Mereka juga memiliki pantangan dalam soal makanan, misalnya, mereka tidak boleh makan terlalu banyak gula (berarti anak-anak itu tidak diperbolehkan makan-makanan manis seperti permen, es krim, dan kue), terlalu banyak protein hewan, dan makanan instant karena zat-zat yang terkandung di dalam jenis makanan-makanan ini dapat mempengaruhi struktur kimiawi otak anak-anak tersebut yang memang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Keseluruhan bentuk terapi ini biasanya diberikan kepada anak-anak dengan gangguan autisme untuk seumur hidup mereka.

Berdasarkan pemaparan di atas, mungkin kita bisa melihat bahwa kesulitan-kesulitan yang dialami oleh anak-anak dengan gangguan autistik ini tentu saja berkaitan pula dengan orangtua dan orang-orang terdekat mereka, mengingat usaha dan waktu yang mereka keluarkan dalam menjalani terapi-terapi tersebut bagi anak mereka terlihat tidak akan mudah dan pasti tidak murah. Lalu, bagaimana dengan sebutan ‘autis’ yang biasa digunakan sehari-hari secara umum?

Apakah mengetahui sedikit informasi mengenai gangguan autistik ini menjadi sebuah pertimbangan bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan kata-kata yang tidak begitu kita pahami artinya?

Bibliography :

Kring, et. al. 2007. Abnormal Psychology (10th edition). United States of America : John Wiley & Sons, Inc.

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s