Musik yang Bagus Itu Seperti Apa?

Mungkin teman-teman pernah mendapati diri teman-teman terlibat dalam sebuah diskusi atau perbincangan mengenai musik, atau lagu terbaru dari seorang penyanyi maupun grup band tertentu. Dalam perbincangan tersebut tidak jarang terlontar perbandingan-perbandingan antara preferensi orang yang satu dengan orang lainnya dalam musik. Perbandingan-perbandingan tersebut biasanya seputar teknik memainkan alat musik, susunan kord dalam lagu, lirik lagu, dan sebagainya. Biasanya kemudian akan muncul pernyataan setuju maupun tidak setuju mengenai musik yang bagus dan yang tidak itu seperti apa.

Bicara tentang musik bagus atau tidak, saya pribadi seringkali bertanya-tanya, seperti apa sih musik yang bagus itu? Umumnya, orang akan mengatakan bahwa musik yang bagus adalah musik yang dapat dinikmati oleh  banyak orang. Semakin banyak yang suka, berarti musik tersebut semakin enak didengar, dapat diterima dan dinikmati, serta berarti pula semakin bagus.  Jika memang demikian adanya, maka mengapa akhir-akhir ini band-band yang berada di bawah naungan major label Indonesia seringkali dicap sebagai sesuatu yang ‘pasaran’, atau ‘murahan’, bahkan ‘alay’ (whatever that means) ?

Sebagian orang menolak pendapat mengenai semakin banyak orang yang dapat menikmati suatu musik tertentu, maka semakin bagus musik tersebut. Orang-orang ini menyatakan bahwa musik yang komersil dan memiliki banyak pendengar tidak lantas menjadi musik yang bagus. Bagi mereka, musik memiliki aturan-aturannya sendiri, suatu ‘racikan’ dan ‘rumus-rumus’ yang diatur dalam komposisi tertentu sehingga akhirnya menjadi sesuatu yang indah dan dapat dinikmati. Jika memang demikian adanya, maka mengapa musik klasik seolah sulit mendapat tempat di hati banyak orang? Seolah jenis musik ini memiliki pangsa pasar tersendiri karena terlalu ‘rumit’ untuk dicerna. Dan mengapa pula band-band indie yang tidak mau (atau tidak bisa) bergabung dengan major label Indonesia seringkali dianggap membawakan musik-musik yang ‘aneh’ dan tidak dapat dimengerti padahal beberapa tokoh musisi di negeri ini telah mengakui kepiawaian personel-personel band-band tersebut dalam bermusik?

Beberapa orang mengatakan bahwa para major label secara tidak langsung cenderung membentuk trend seperti apa musik yang bagus itu bagi masyarakat melalui standar-standar yang mereka tetapkan kepada band-band baru yang hendak bergabung. Namun beberapa orang menyebut major label tidaklah menciptakan trend seperti apa musik yang bagus itu, namun justru hanya mengikuti selera pasar atau masyarakat, jadi sebetulnya masyarakat telah memiliki ukuran sendiri mengenai musik. Dalam hal ini, belum jelas mana yang mempengaruhi yang mana dan seperti apa hubungannya. Dan apakah komersialitas atau dapat diterimanya musik oleh banyak orang lebih penting dibandingkan menghasilkan suatu karya bermutu melalui proses bermusik dengan metode-metode tertentu, atau sebaliknya?

Lantas, seperti apa musik yang bagus itu?

Bagi saya yang tidak mengerti barang sedikitpun mengenai musik, sulit rasanya menilai musik yang bagus berdasarkan teknik bermusik, kombinasi nada yang terkandung di dalamnya, maupun hal-hal lain yang bersifat teknis. Walaupun mungkin terkesan terlalu menyederhanakan proses bermusik yang terjadi dalam penggarapan suatu karya, bagi saya musik yang bagus adalah musik yang dapat memberi makna saat mendengarkannya. Di sinilah menariknya seni. Karena seni bukanlah science, seni seolah memberi penikmatnya semacam keleluasaan untuk menganalisis dan menginterpretasi stimulus yang tersaji tanpa terpaku pada aturan dan hukum-hukum yang biasanya menjadi patokan science dalam usahanya mencoba menjelaskan tentang dunia.

Musik yang bagus adalah musik yang dapat membangkitkan cerita-cerita yang ada di balik setiap pribadi individu. Cerita-cerita yang pastinya memiliki makna sendiri-sendiri bagi mereka yang mengalaminya. Dengan demikian bisa saja buat kita musik yang bagus adalah musik yang ada pada lagu-lagu Bruno Mars , atau Sufjan Stevens, dan lain-lain memiliki suatu pemaknaan yang sangat berarti karena sesuai dengan kisah hidup kita, membangkitkan emosi tertentu dalam diri kita, menghadirkan kelebat memori dalam benak kita, atau bahkan menginspirasi kita untuk menghasilkan suatu karya. Namun, bagi teman kita lagu tersebut justru tidak bisa dinikmati, teman kita lebih senang mendengarkan SORE, atau White Shoes and The Couples Company karena musik mereka memberi semangat dan arti. Beberapa teman mungkin menganggap bandband seperti ST12 norak dan tidak pantas, namun diam-diam berharap bisa menyatakan segala sesuatu dengan lugas dan sederhana seperti lirik-lirik mereka.

Bagi saya, semua itu sah adanya.

Bagi saya musik yang bagus adalah yang memberi makna. Musik yang bagus dalam titik-titik tertentu menjadi media bagi kita untuk memaknai kembali peristiwa yang telah terjadi, atau mungkin sedang terjadi dalam diri kita. Dengan cara yang unik bagi setiap individu.

Kalau buat kamu, musik yang bagus itu yang seperti apa?

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s