Pertemanan Itu Ikhlas, Namun Nyaman Itu ‘Mahal’

“Pertemanan kok dibikin kayak sekolah. Dipenuhi berbagai peraturan yang kalau dilanggar bisa mengakibatkan perdebatan panjang.

Pertemanan itu apa adanya.

Tahu tidak? Pertemanan dengan berbagai rules itu sebenarnya cupu. Segitu takutnya pertemanan itu pecah sehingga harus dibentuk rules.

Pertemanan itu ikhlas.

Semua masih merupakan individu yang memiliki privasi sendiri-sendiri.

Persahabatan itu tidak perlu dibatasi.

Karena jalan hidup tidak akan sesuai dengan yang diharapkan.”

(Keinda Fauri, 2010)

 

Sedikit banyak saya setuju dengan pendapat tersebut.

Pertemanan itu ikhlas, dalam arti saya asumsikan bahwa pertemanan yang betul-betul pertemanan seharusnya tidak ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan terselubung yang ada di baliknya. Pertemanan saya asumsikan terjadi  tanpa paksaan dari salah satu pihak. Seharusnya pertemanan bukan sesuatu yang sifatnya mengkungkung individu yang terlibat di dalamnya. Namun, seperti dalam konteks lain, ikhlas juga bukan berarti pasrah. Dengan demikian, bagi saya, pertemanan tidak kemudian terjadi dengan sendirinya tanpa adanya ‘usaha’ dari pihak-pihak yang terkait.

 

Pertemanan itu ikhlas, namun nyaman itu ‘mahal’.

Walau tidak ada rules atau kesepakatan yang dibentuk di awal seperti layaknya proses pacaran atau bahkan perjanjian formal pun, proses memperoleh kenyamanan dalam berbagai bentuk pertemanan tidak serta-merta terjadi dengan sendirinya. Biar bagaimanapun suatu bentuk pertemanan yang terbangun terdiri atas kepribadian-kepribadian yang bisa sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Kepribadian tersebut terbentuk dari pengaruh latar belakang dan lingkungan setelah sekian lama. Adaptasi dalam bentuk hubungan pertemanan tidak dapat dikatakan sebagai lebih mudah dibandingkan adaptasi dalam hubungan romantis.

Sebagian besar orang mungkin tahu (yah kalaupun tidak tahu dengan membaca tulisan ini toh jadi tahu) bahwa saya tidak menggunakan istilah ‘sahabat’ untuk menyebut teman-teman saya, yang terdekat sekalipun. Paling tidak, saya sangat berhati-hati dalam menggunakannya. Selama beberapa tahun terakhir saya belajar bahwa rasa nyaman agar dapat dikategorikan sebagai sahabat itu merupakan sesuatu yang tidak tiba-tiba terbangun begitu saja. Sebut saja saya pengecut, commitment phobic atau apapun. Satu hal yang jelas, saya belajar bahwa bahkan dalam hubungan pertemanan yang umumnya lebih santai pun terdapat ekspektasi-ekspektasi yang ‘memberatkan’. Sama seperti setiap bentuk hubungan yang ada, dalam pertemanan pun, sepanjang proses adaptasi yang terjadi, timbul kekecewaan-kekecewaan dan rasa sakit hati. Namun dalam pertemanan pula kita belajar dari pengalaman yang mendewasakan diri.

Dalam perjalanannya, saya dan teman-teman terdekat saya mungkin telah belajar satu sama lain untuk saling bertumbuh dan saling memahami. Kami sama-sama mencoba mencari nyaman. Kalau kata teman saya Disa, nyaman, seperti pada wangi udara usai dipeluk hujan. Nyaman, bagi saya, berangkat pula dari rasa aman. Dalam setiap hubungan, rasa aman merupakan suatu elemen krusial yang dicari-cari. Sesuatu yang seringkali kita anggap sepele begitu kita dapatkan.

Pernahkah teman-teman terpikir,  dalam setiap awal hubungan apapun, termasuk pula hubungan pertemanan, berapa banyak waktu (dan tenaga, dan uang, mungkin) yang teman-teman habiskan dalam rangka investasi rasa aman?

 

Rasa aman terhadap apa? Teman-teman bertanya.

Tentu saja rasa aman terhadap kebebasan untuk mengekspresikan diri. Rasa aman untuk mengupas identitas yang tersembunyi.

Rasa aman untuk membuka hati.

 

Bagi saya, sebetulnya dalam setiap hubungan, baik hubungan pertemanan maupun hubungan apapun, rasa aman yang kemudian melahirkan nyaman merupakan sesuatu yang ‘mahal’ untuk didapatkan. Dan untuk itu pula, saya bersyukur terhadap semua rasa aman dan nyaman yang saya dapatkan dari teman-teman terdekat saya (yang rela tidak saya sebut dengan penghargaan ‘sahabat’). Saya bersyukur atas pengertian mereka terhadap tingkah laku saya yang seringkali arogan dan keras kepala. Saya bersyukur atas pemakluman mereka terhadap rasa khawatir saya yang berlebihan. Saya bersyukur atas tawa mereka untuk lelucon saya yang tidak selalu bisa dibilang lucu.  Saya bersyukur atas segala sesuatu yang mereka beri.

Saya bersyukur atas untuk mereka yang tetap ada, dengan mengetahui segala kekurangan saya.

Saya bersyukur atas pertemanan yang ikhlas yang saya dapatkan dari mereka.

– D! –

One comment

  1. Keinda Fauri

    Wooohhhoooooo seneng nya quote gue dipakai. *bellydance

    Pertemanan ikhlas namun tetap butuh usaha. Benar.

    Saya setuju dan tetap menjunjung tinggi istilah Childish untuk rules pertemanan. haha

    Nice blog dhea! gue jadi sering2 baca blog lo deh akhir2 ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s