Darah Tinggi atau?

#30harimenulis, Day 1:

Sore ini saya mengalami sebuah kejadian yang menurut saya mengherankan, sekaligus lucu, namun sekaligus membuat saya prihatin. Ceritanya, saya dan keluarga (ayah dan kedua adik) baru saja pulang dari bepergian dengan mobil ketika kami mendapati bibi asisten rumah tangga kami berdiri di depan garasi rumah. Saya merasa sedikit heran melihat beliau berdiri sedemikian rupa, karena tidak biasanya beliau demikian.

Ketika saya turun dari mobil segera ia menghampiri saya dengan wajah yang saya persepsikan sebagai ekspresi kebingungan, ia berkata seraya menunjukkan telapak tangannya kepada saya, “Non, ini tangan saya kenapa ya Non merah-merah begini?”. Saya tidak segera memperhatikan apa yang beliau maksud dengan ‘merah-merah’ namun saya melihat kedua telapak tangannya gemetaran. Saya memandang wajahnya dan ekspresi wajahnya tampak seperti orang bingung dan ketakutan. Lalu saya segera mengalihkan pandangan kembali ke telapak tangannya, “yang mana Bi?”. Beliau menunjukkan dengan lebih dekat telapak tangannya, “ini Non, ini tangan saya tiba-tiba merah-merah begini kenapa ya Non? Saya sakit apa ya?”.  Waduh.  Ada apaan nih? Pikir saya sambil memerhatikan tangan beliau.

Sejenak saya mengamati sambil saya genggam tangannya, namun saya tidak melihat ada tanda-tanda yang aneh selain di jari-jari kedua belah telapak tangannya terdapa noda-noda merah yang saya asumsikan sebagai bekas spidol snowman yang kecil. Saya asumsikan beliau telah memegang suatu benda, entah pakaian, entah apa yang membuat beliau kelunturan warna merah di telapak tangannya. Saya bertanya, “Bibi tadi habis pegang apa?”. Beliau tampak kebingungan, tangannya masih gemetaran di genggaman saya, “tadi saya habis megang jarum Non, apa ketusuk apa kenapa ya? Saya sakit apa ya Non?”. Lalu saya jadi ikut bingung dan berusaha menjelaskan pada beliau bahwa kemungkinan beliau kelunturan sesuatu, namun beliau tampaknya tidak percaya dengan ucapan saya karena beliau masih menengadahkan telapak tangannya dan menunjuk-nujuk tangannya. “Apa ini darah tinggi ya Non? Apa saya ke puskesmas aja sekarang Non?”

Walau saya mencoba menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang berbahaya dan beliau tidak sakit apa-apa, Bibi itu tetap bersikeras ada sesuatu yang salah. Menyerah, saya mencoba membujuk beliau untuk mencuci tangannya dengan sabun, saya bilang, “itu kalau hilang setelah dicuci pakai sabun berarti bukan apa-apa Bi, itu kelunturan”. Beliau setuju. Setelah menggosok-gosokkan tangannya dengan sangat kuat menggunakan sabun, akhirnya raut ketakutan di wajah beliau tampak berkurang perlahan-lahan. Saya menepuk pundak beliau pelan, “tuh kan bener Bi, itu kelunturan sesuatu, buktinya bisa hilang kan?”. Beliau tersenyum lega.

Belakangan saya baru tahu bahwa ternyata beliau kelunturan warna merah yang terdapat di benang yang sebelumnya beliau pegang karena hendak menjahitkan kancing baju adik saya yang lepas.  Melalui kejadian sederhana ini saya mendapatkan satu hal yang membuat saya penasaran. Bayangkan saja, si Bibi yang saya sebutkan dalam cerita saya tersebut bisa mengira beliau terkena suatu penyakit, beliau sangat khawatir bahwa dirinya terkena darah tinggi, atau suatu penyakit berbahaya lainnya. Setelah akhirnya diketahui bahwa tangannya hanya kelunturan, memang teka-teki warna merah itu terpecahkan. Namun, teka-teki yang lebih besar belum terpecahkan.

Sebetulnya sejauh mana sih pengetahuan kesehatan yang dimiliki oleh masyarakat kita secara umum?

Teman-teman yang sudah lebih tahu mengenai penyakit darah tinggi tentu tertawa dan menganggap kejadian ini luar biasa konyol. Saya sebetulnya juga ingin tertawa, namun rasa penasaran saya lebih besar lagi. Jika memang sebegitu sempitnya pengetahuan masyarakat kita (terutama masyarakat menengah ke bawah) mengenai kesehatan (termasuk juga menyangkut gejala-gejala dari beberapa penyakit tertentu), tentu hal ini patut ditindaklanjuti. Setelah mengalami hal ini, saya tidak heran jika mengetahui angka kematian di Indonesia akibat beberapa penyakit seperti diare, malaria, demam berdarah; maupun angka kematian ibu setelah melahirkan dan angka gizi bayi dan balita sangat lah rendah. Pendidikan mengenai kesehatan sangat penting untuk diketahui oleh semua pihak, karena pemenuhan kesehatan yang baik dapat menjadi modal agar kita dapat tumbuh menjadi individu yang optimal sehingga dapat menjalankan fungsi-fungsi kita dengan baik sehari-harinya, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat sosial (oke saya mulai terdengar seperti sedang berpidato, tapi saya rasa memang demikian, kesadaran akan kesehatan sangat penting adanya).

Setelah mengetahui hal ini, saya jadi betul-betul bertanya-tanya, seperti apa pendidikan kesehatan yang diajarkan oleh guru-guru ataupun lingkungan kita? Sejauh mana pendidikan tersebut berhasil dalam menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya hidup bersih dan sehat?

– D! –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s