Melongok Masa Lalu Sebagai Pilihan Tempat Rekreasi

#30harimenulis, Day 2:


Sore ini saya ingin membicarakan soal tempat rekreasi.

Menurut KBBI (versi online :p) rekreasi adalah:

[n] penyegaran kembali badan dan pikiran; sesuatu yg menggembirakan hati dan menyegarkan spt hiburan, piknik: kita memerlukan — setelah lelah bekerja

Berasarkan definisi tersebut, maka saya simpulkan, tempat rekreasi adalah suatu tempat dimana kita bisa untuk kembali gembira dan  kembali segar setelah lelah bekerja. Beberapa orang memiliki tempat-tempat rekreasi langganan yang selalu mereka kunjungi setiap kali mereka merasa suntuk atau membutuhkan hiburan. Mungkin teman-teman yang tingga di kota besar seperti Jakarta memilih mall atau pusat perbelanjaan serupa sebagai tempat rekreasi mereka, beberapa orang memilih untuk menghabiskan waktu mereka di club-club untuk menikmati minuman dan dentuman musik, beberapa lainnya mungkin memilih menghabiskan waktu mereka di cafe, lounge, bar, atau restoran-restoran sambil berbincang dengan teman-teman mereka.

Seperti mungkin banyak orang, saya memilih bioskop sebagai tempat rekreasi saya. Saya menjadikan film sebagai hiburan yang dapat membuat saya senang, kembali segar, sekaligus juga memberi saya pelajaran. Selain bioskop, akhir-akhir ini saya baru menyadari bahwa saya senang bepergian ke museum.  Banyak teman saya yang tidak bisa menikmati kunjungannya ke museum karena menurut mereka itu sangatlah membosankan, lagipula, museum di Jakarta tidak terurus dengan baik, menurut mereka. Untuk pendapat yang kedua saya cukup setuju. Walaupun demikian, saya tetap senang mengunjungi museum. Saya senang menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan melihat-lihat koleksi pajangan yang terdapat di setiap museum. Hal ini mungkin juga sebagai akibat dari kebiasaan yang diterapkan oleh orangtua saya sejak kecil yang lebih senang mengajak anaknya bepergian ke tempat-tempat bersejarah dibandingkan membelikan mainan atau mengajak pergi ke toko-toko.

Mungkin terdengar tidak umum, namun saya menikmati waktu-waktu saya menyusuri ruangan-ruangan di museum. Dengan membaca dan mengamati setiap koleksi yang terdapat di sana saya merasa belajar mengenai suatu bentuk kehidupan yang berbeda dengan kehidupan sehari-hari yang saya jalani. Saya belajar beragam cara hidup dan saya belajar bahwa cara hidup seperti itu ada, atau setidaknya pernah ada. Lewat mengunjungi museum pula saya belajar menghargai asal-usul yang menyebabkan segala sesuatunya dapat menjadi seperti sekarang ini. Saya punya kebiasaan meromantisasi penelusuran saya di museum dengan membayangkan betul-betul bahwa benda-benda tersebut pernah menjadi pihak yang terlibat sesuatu yang mengubah sejarah umat manusia. Saya membayangkan bahwa benda-benda antik tersebut menjadi saksi bisu segala sesuatu yang tidak terekam oleh alat apapun selain memori manusia yang kita sama-sama tahu, banyak kekurangannya.

Setiap kali berkunjung ke museum, waktu seolah berhenti dan semua kehidupan yang serba cepat di masa sekarang ini seperti tergantikan dengan bayangan-bayangan sejarah yang saya sendiri juga tidak tahu apakah betul-betul ada. Menarik sekali. Seolah saya dibiarkan beristirahat dari waktu yang terus memburu untuk menoleh ke belakang dan belajar dari apa yang pernah terjadi. Selain itu, museum juga menjadi tempat yang ideal untuk duduk berlama-lama dan bengong, hal favorit saya.

Oleh karena itu saya senang sekali ketika tahun 2010 ditetapkan sebagai tahun berkunjung ke museum dan beberapa museum tampak lebih baik kondisinya setelah direnovasi, Museum Wayang yang berada di kompleks museum Taman Fatahillah dan Museum Nasional (Museum Gajah) yang berada persis di seberang Monas, adalah beberapa diantaranya. Saya banyak berharap bahwa pemerintah kota Jakarta dapat meningkatkan pelayanan dan juga memperbaiki kondisi museum-museum yang tersebar di kota ini.  Selain itu, beberapa tahun belakangan ini juga semakin marak bermunculan komunitas-komunitas yang memberi sarana bagi teman-teman sesama penikmat mengunjungi museum untuk saling berkumpul dan berbagi kegiatan. Karena menurut saya, penting untuk mengenalkan sejarah kepada adik-adik yang usianya lebih belia dibanding saya, agar mereka belajar mengenai asal-usul kehidupan yang mereka jalani seperti sekarang ini.

“If you would understand anything, observe its beginning and its development”.
( Aristotle)

 

– D! –

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s