Instan.

#30harimenulis, Day 4:

Semua berawal dari cerita salah satu teman terdekat saya,Cantika Marlangen, mengenai tempat kerjanya yang sekarang. Cantika bekerja di suatu LSM milik Bupati di wilayah Sota, Merauke, Papua. Pekerjaannya sehari-hari, katanya, adalah mngajar, memberantas buta huruf, mengenalkan pentingnya membaca bagi anak-anak di sana. Menurut Cantika, dengan meningkatkan pendidikan di sana maka masyarakat Papua akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik. Mereka akan menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Lalu saya sadari betapa saya iri.

Saya iri dengan pengalaman-pengalaman yang dihayati Cantika sementara ia tinggal di sana. Mendengar cerita-ceritanya mengenai permainan tradisional yang dimainkan anak-anak di sana. Mengenai kesulitan mencari koneksi internet dan sinyal telepon. Bagaimana ia menyusuri jalanan yang becek melewati pepohonan sehabis hujan. Bagaimana ia dan beberapa temannya menyusun suatu pertunjukkan teater bersama anak-anak di sana. Juga mengenai Musamo, rumah sarang rayap. Atau mengenai senja yang temaram hangat, menghadirkan gradasi warna matahari yang indah, yang disaksikannya sambil menyusuri jalanan dengan mengayuh sepeda menuju arah kota Merauke.

Satu hal yang saya paling membuat saya iri adalah bagaimana di sana tampaknya kita dapat belajar banyak untuk menghargai hal-hal kecil. Bagaimana ia bisa belajar dari kesederhanaan. Dengan segala sumber daya yang terbatas di sana, Cantik mengutarakan betapa ia belajar mengenai ‘mengambil secukupnya’, dan tidak mengeksploitasi. Ia juga bercerita bagaimana ia belajar dari kebijaksanaan alam mengenai bagaimana hidup berdampingan dengan sesama manusia, belajar mengenai hukum adat yang mengajarkan untuk berbagi. Belajar untuk berpikir dan mendengarkan hati nurani. Pelajaran yang tampaknya sulit didapatkan di kota-kota besar yang selalu menuntut segala sesuatunya untuk berlangsung dengan cepat, efisien.

Saya bukannya tidak bersyukur, saya paham setiap orang punya jalannya masing-masing.

Saya pun suka akan kerlip lampu jalanan ibu kota dan papan-papan reklame yang ada di sepanjang jalanan. Setiap detiknya menjajakan mimpi-mimpi untuk jadi besar. Saya suka suasana dinamis dan bersemangat yang ada di sini. Saya terbiasa bangun pagi dan dihadapkan dengan suara klakson yang menderu dan panjangnya antrian mobil yang menunggu untuk berlalu. Saya sudah maklum dengan penuhnya daftar kegiatan yang harus saya kerjakan setiap harinya di agenda saya. Atau menghirup asap kendaraan, menikmati teh hangat dari cangkir plastik, bahkan makan di atas selembar gabus styrofoam.

Namun saya yakin ada kalanya kita jenuh, atau mungkin lelah menatap nanarnya kerlipan lampu, dan berharap menggantikannya dengan cahaya bintang yang redup namun jernih. Ada kalanya kita bosan berada di tengah orang-orang yang lebih suka  menatap layar telepon genggam masing-masing daripada benar-benar saling berbicara. Ada kalanya saya ingin mengayuh sepeda dengan pemandangan matahari terbenam. Ada kalanya saya bersyukur dengan ketiadaan koneksi internet. Ada kalanya kita rindu dengan suasana di mana hiburan yang tersedia bukanlah kotak layar datar yang mendengungkan kampanye mimpi. Ada kalanya kita ingin menghabiskan waktu dengan membaca dan menghidu aroma setiap lembar halaman buku yang balik. Di mana berita yang terpampang di editorial koran pagi bukanlah tentang negeri kita yang penuh dengan joki.

Mungkin ada kalanya kita lelah dengan segala sesuatu yang instan.

– D! –

One comment

  1. vienz

    saya jg iri dengan teman kamu Cantika itu. tp pertanyaannya kadang, seberapa beranikah saya untuk mengambil keputusan sebesar yang Cantika ambil? meninggalkan ibukota dan sejuta jalan yg bs saya tempuh untuk mengejar mimpi-mimpi saya? dan kalaupun itu terwujud, akankah saya bahagia? saya iri mendengar cerita2 dari para pengajar muda.. tp di saat yg bersamaan tak tahu apakah saya cukup berani untuk mengambil jalan itu, apalagi pastinya sulit dapat izin dari orang tua.

    menakjubkan bagaimana dari hal-hal yang sederhana pun manusia dapat bahagia. biasanya kita mengira bahagia bisa didapat dengan meraih, meraih, meraih. bayangkan betapa mengejutkannya bahwa berbagi bisa buat kita jauuh, jauh lebih bahagia. :)

    anyway, gw udh lama pgn mulai #30harimenulis juga. tp ga tiap hari ada ide apa yg mau ditulis. hohoho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s