Soal Pasangan, Dalam Pikiran Perempuan Dewasa Muda

(continued)

Ayah dan ibu (alm) saya sendiri merupakan dua pribadi yang sangat-sangat berbeda, mulai dari visi-misi, gaya hidup (sejak kecil), dan etos kerja. Ayah saya datang dari sebuah keluarga yang cukup berada yang selalu menerima kemudahan dalam mencapai segala sesuatu yang dibutuhkannya, terutama soal materi. Sementara ibu saya datang dari keluarga yang tidak begitu mampu sampai-sampai beliau harus ikut tinggal dengan keluarga kakak kedua-nya (ibu saya 7 bersaudara) agar bisa disekolahkan sampai tingkat perguruan tinggi. Otomatis, karena yang satu selalu mendapatkan fasilitas memadai, sementara yang lain hanya bisa ‘menumpang’ fasilitas terbatas yang diberikan oleh kakaknya (yang juga punya anak-anak seumuran dengan ibu saya dengan kebutuhan yang sama), gaya hidup dan etos kerja keduanya berbeda sejak awal.

Ayah saya lebih banyak bersenang-senang selama masa kuliahnya, berpindah-pindah dari satu universitas negeri satu ke universitas negeri lainnya, curangnya, beliau selalu lolos tes masuk. Ayah saya lulus terlambat. Ibu saya, mahasiswa yang aktif berorganisasi, lulusan cumlaude di angkatannya. Ayah saya sangat santai, lebih suka menggambar di kelas dibanding mendengarkan kuliah. Ibu saya pekerja keras sejak kecil. Ayah keras hati, lambat dalam mengambil keputusan karena banyak sekali pertimbangan, beliau tidak ambil pusing apa kata orang, dan orang yang introvert juga tertutup. Sementara ibu, ibu sangat terbuka dalam membicarakan perasaan-perasaannya dan dalam menyampaikan pendapat, senang berbagi dengan banyak orang, mudah panik, dan cenderung meledak-ledak (menurut saya ibu agak neurotik). Menurut keterangan ibu saya, ayah dulu sering mencemooh teman-teman yang datang dari daerah, dan cenderung menggampangkan segala sesuatu, ada kesombongan di situ. Sementara menurut ayah, ibu terlalu serius dalam menanggapi segala sesuatu, tidak bisa bersenang-senang menikmati hidup.

Yet they fall in love with each other.

Jujur, saya sampai sekarang masih nggak paham bagaimana hal tersebut bisa terjadi.

Namun, kata ibu, beliau jatuh cinta pada selera humor ayah, ketenangan ayah, juga tulisan-tulisannya yang ‘dingin’ namun mengayomi (kata-kata ini merupakan kutipan langsung dari ibu, saya nggak mengerti bagaimana sesuatu bisa bersifat ‘dingin’ namun sekaligus mengayomi), ibu juga suka cara ayah yang dekat dengan perlahan, seolah tidak butuh, namun ternyata selalu ada di situ. Sementara ayah tertarik sejak awal dengan bagaimana kecerewetan ibu dalam menyampaikan argumen, keterus-terangan, kerja keras ibu dalam melakukan sesuatu yang disukainya, terutama bagaimana ibu mengajarkan beliau soal kesederhanaan.

Orangtua saya menikah selama kurang lebih 20 tahun. Sepanjang ingatan saya (yang kebetulan pendek), belum pernah ada konflik yang sangat fatal terjadi di antara keduanya, paling tidak, sepanjang yang saya ingat dan saya tahu.  Saya tidak pandai bicara soal cinta, atau hubungan romantis, dan mungkin tidak akan pernah pandai. Namun teman saya, yang juga merupakan senior di kampus, Kak RR pernah bilang,

sebuah hubungan, (cinta) adalah tentang perjuangan,  adalah komunikasi, adalah toleransi. Soal memahami, menerima, dan memaafkan.

Hal ini membuat saya berpikir, mungkin benar adanya persamaan dan kesesuaian akan memudahkan di berbagai aspek dan kesempatan. Namun orang bilang, hidup bukan semata-mata soal bagaimana kita mendapatkan kemudahan dalam perjalanan kita, namun bagaimana kita mengolah kesulitan yang kita hadapi menjadi sesuatu yang bermakna.

It’s a never-ending topic to discuss, I know.

Bagaimana menurut kalian?

– D! –

11 comments

  1. iin

    hwaa they’re perfect for each other ya dhe, saling melengkapi. gue personally merasa sbg org yg introvert, so somehow gw berharap bisa berjodoh dgn orang yg ekstrovert, yang lebih “hidup” dan meriah dibanding gue (walopun sometimes gue neurotik juga), tapi itu duluuuu.. dan sekarang, semakin kesini, semakin pasrah sih hikikikik.. tapi malah jd pengen punya cowok yg lebih sama ama gue, semakin banyak similarities, maka semakin bagus (di settingan yg gw bayangin sih gitu0..

    cuma karena blm ada hasil konkritnya, well jadi yaa gatau deh which one is better, (yg sifatnya bertolak belakang, atau yg sifatnya sama).. i guess let time answer y question, then hehehe

  2. Roro

    Melihat pola hubungan Ayah-Ibu mu, seperti berkaca deh Dhe. :)
    Bedanya, pasangan saya tetap bisa lulus tepat waktu walau santainya minta dilindes pakai traktor.

    Cinta itu 2 orang yang mau berjuang Dhe. kalo yang berjuang cuma 1 pihak, namanya Romusha.
    Semoga mendapatkan si dia yang mau berjuang bersama ya.. :):)

  3. vienz

    huaa,, so sweet bgt deh orang tua lo, dhe. dan gw mengambil tulisan ini secara personal krn sifat kedua orang tua lo yg bertolak belakang mirip bgt kondisinya sama gw dan pacar. sama bgt, cowo gw selalu bilang gw terlalu serius memandang suatu masalah, sementara gw beranggapan dia terlalu menggampangkan segala sesuatu. haha. semoga gw bisa belajar mentoleransi perbedaan itu.. krn sifat yg sama sekali berbeda rawan bgt untuk clash. butuh kesabaran dan perjuangan ekstra keras untuk membuka pikiran satu sama lain. thanks dhea..

  4. vienz

    btw. maksudnya ibu kamu neurotik itu gmn? soalny dari deskripsi ‘sangat terbuka membicarakan perasaan, mudah panik, dan meledak-ledak’ itu gw bgt.. is it a bad thing? being neurotic? cuz I think I am.. huhu. gmn cara ngatasinya yah dhe? (loh, jd konsultasi…)

    • dheasekararum

      hahahah soal neurotik itu sebetulnya nggak segitunya juga sih ibuku Vien, aku cuma berlebihan aja, tapi memang ada orang-orang yang cenderung lebih temperamental dan ekspresif dalam menunjukkan emosinya, aku termasuk salah satu di antaranya. Selama itu tidak mengganggu dirimu atau orang-orang di sekitarmu, berarti itu masih dalam tahapan normal kok. No need to worry :)

  5. Keven

    It is the things in common that make relationships enjoyable, bit it is the little differences that make them interesting =)

    Cinta emang sesuatu yg ga akan pernah bisa habis kalo dibahas
    Bagaimana jodoh mempertemukan dua insan yg mempunyai kehidupan masing2 yg berbeda hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bersatu dalam ikatan kasih…itulah keagungan Sang Pencipta

    Gua udah nulis puluhan blog tentang cinta sejak tahun 2005, tapi topik yg satu ini tetep ngetrend sampe sekarang, hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s