Bagaimana Rasanya Tidak Punya Tuhan?

Setelah kejadian bencana alam gempa yang menimpa Jepang, saya membaca beberapa tweet orang-orang yang berseru #prayforjapan dengan prihatin dan lantang. Saya paham, #prayforjapan dilontarkan orang-orang sebagai wujud rasa prihatin, untuk menunjukkan empati mereka. Saya tidak urus orang-orang yang hanya melontarkannya sebagai wujud konformitas.

Mudah-mudahan teman-teman tidak salah kaprah, tapi bagi saya, doa saja tidak cukup.

Bagi saya, doa tidak menolong kita untuk menyelesaikan masalah atau dalam hal bencana ini, doa tidak dapat menaklukannya. Namun memang terus terang, doa menolong kita, manusia, untuk mengatasi ketakutan-ketakutan kita. Membantu kita menenangkan diri untuk kemudian tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya jika sedang berada dalam situasi-situasi yang sulit.  Mungkin juga doa penting bagi kita untuk menaklukan diri yang seringkali terbawa emosi. Saya seringkali berdoa, terhadap Tuhan tentu. Tapi bagi saya, doa bukan bentuk pengalihan tanggung jawab irasional ke tangan-Nya. Bukan, bukan seperti itu.

Bicara tentang Tuhan, saya menjadi bertanya-tanya, apa yang dirasakan oleh orang-orang yang tidak punya Tuhan saat mereka sedang berada dalam suatu keadaan sulit?

Saya percaya Tuhan dan meyakini bahwa Tuhan ada. Namun saya sendiri tidak mengerti bagaimana cara menjelaskan keberadaan-Nya, dan bagaimana Ia senantiasa mengawasi dan menjaga saya. Beberapa teman saya yang atheis berujar bahwa Tuhan adalah tokoh rekaan manusia yang membutuhkan tempat bersandar untuk menguatkan diri. Itu pendapat mereka, mungkin juga benar, mungkin juga tidak demikian.

Bagi saya hal ini adalah sesuatu yang sifatnya sangat pribadi dan personal sehingga sulit untuk diperdebatkan. Definisi Tuhan bagi setiap orang pun berbeda-beda. Ada yang menganggap Tuhan itu tunggal; atau percaya pada beberapa Tuhan sekaligus; dan ada pula yang menganggap alam semesta ini adalah Tuhan, demikian pula sebaliknya; Memang, jika hidup di lingkungan yang penuh dengan intelektualitas, akan sulit memungkiri bukti-bukti yang menyatakan ketidakberadaan-Nya. Namun, apa mau dikata, bagi saya, (memilih untuk) memiliki Tuhan adalah suatu perasaan yang luar biasa. Sebut saja saya lemah dan selalu butuh tempat untuk bersandar, mungkin juga saya tidak berani mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan saya.

Namun, bukankah demikian adanya manusia?

Saya sama sekali tidak bermaksud menghakimi apalagi menggurui, saya hanya ingin berbagi. Betapa saya senang masih memiliki tempat mengadu saat tidak ada lagi manusia lain yang bisa diajak bicara, tempat menumpahkan segala sesuatu saat tidak ada makanan apapun yang bisa memperbaiki perasaan saya. Saat saya terlalu lelah untuk berpikir. Yang dapat mengingatkan saya, yang adakalanya butuh diingatkan bahwa saya tidak sendiri. Yang dapat mengingatkan saya, yang seringkali sombong dan lupa diri.

Sekali lagi saya sekadar ingin berbagi, dan akan sangat senang hati bila kalian juga.

Jadi, ada yang bisa memberi tahu saya bagaimana rasanya (memilih) untuk tidak punya Tuhan?

– D! –

3 comments

  1. Keven

    Tapi anehnya, di negara yg tidak punya Tuhan seperti Jepang, orang2nya hidup dengan lebih peduli terhadap satu sama lain. Mungkin karena mereka tidak punya Tuhan, jadi mereka menggantungkan hidupnya terhadap sesama.

    Gua banyak baca kisah mengharukan seputar tsunami kemarin, bagaimana mereka saling tolong menolong satu sama lain, bahkan ada yg rela mengorbankan nyawanya demi orang yg belum mereka kenal. Padahal mereka ga punya agama lho.

    Bandingin sama Indonesia, gua pernah menyaksikan kejadian yg miris. Jadi ceritanya ada satu toko baju yg kebakaran. Api berkobar di lantai 2, sementara sang pemilik dengan tergopoh2 mengeluarkan barang2 yg masih dapat diselamatkan di lantai 1.

    Apa yg dilakukan oleh masyarakat sekitar?
    1. Nonton
    2. Foto2
    3. Ambilin baju2nya, terus dibawa kabur alias ngejarah

    Lah orang udah kena bencana kok masih bisa2nya dijarah sih? Ga punya hati apa?

    Btw ini ada artikel menarik seputar Indonesia, Jepang, dan masalah agama :
    http://suamigila.com/2011/03/16/akar-masalah-negara-ini/

  2. sumarsono

    Tidak punya Tuhan membuat orang takut, dasarnya lahir di indonesia diiringi agama_jadi pengetahuan tentang ajaran Tuhannya mengikat_untungnya tidak ada agama melarang agama lain, tidak punya Tuhan dilarang diindonesia, ttpi jika kamu memiliki Tuhan kamu sendiri itu bisa jadi syah bedasar kpd kTuhanan YME, maka jika kamu tidk s7 pd satu agama silahkn agama ato kprcyaan yg lain, tidak punya Tuhan? siapa tao aja ada ajaran kita bagian dari Tuhan , jdi g ush bragama juga otomatis kita brTuhan, agamanya ya nafas itu sendiri hee..g ada ya, ( y Tuhan ampuni aku).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s